Sherlock: A Scandal In Belgravia – Power Play

image

Mycroft: We are in Buckingham Palace, the very heart of the British nation. Sherlock Holmes, put your trousers on!
Season dua episode satu. Ending yang menggantung itu langsung disambung. Saat seharusnya keputusan diambil apakah Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) menembak bom di depannya untuk mati bersama Jim Moriarty (Andrew Scott). Tiba-tiba HP Jim berdering dengan nada musik ‘Staying Alive’ – nya The Bee Gees. Sebuah telepon penting yang menghubungkan ke kasus berikutnya, seorang wanita bernama Irene Adler (Lara Pulvet) bersama Yang Mulia dengan gambar tersamar. Sepertinya Jim mendapat ‘penawaran yang lebih baik’. Jreng jreng… lalu muncullah nama-nama cast and crew dengan skoring khas yang sudah akrab di telinga itu.
Berkat kepiawaian Dr John Watson (Martin Freeman) mengolah kata di blog kini Sherlock terkenal dan jadi fenomena internet. Setiap kasus yang berhasil dipecahkan dikisahkan ulang dalam blog, klien Sherlock mengantri panjang. Dari kasus sepele tentang abu orang mati, suami yang selingkuh, istri yang membosankan, anak-anak rindu kakeknya yang meninggal sampai The Geek Interpreter. Sherlock yang masih meragukan apakah ada yang mengunjungi blognya, disinggung John bahwa website Sherlock yang isinya ‘240 jenis abu tembakau’. Mana ada yang tertarik?  DI Lestrade (Rupert Graves) menjelaskan kemarin ada kecelakaan pesawat di Dusseldoff, diduga serangan teroris. Seorang pria yang seharusnya ikut dalam penerbangan malah ditemukan tewas di bagasi mobilnya di Southwark. Pelarian yang beruntung?
Semua kisah itu menyita perhatian sehingga duo kita mencoba menutupi identitas saat banyak wartawan mengambil foto. Ketika mereka keluar gedung secara reflek Sherlock mengambil dua topi, masing-masing dikenakan untuk menutupi kilatan kamera. Jebret jebret jebret.. foto-foto dengan Sherlock dan Watson dengan topi detektif itu akhirnya jadi ciri khas. Yah, seperti yang ada di cerita-cerita.
Kasus pertama yang sesungguhnya kisah ini akhirnya digulirkan. Seorang pria gendut datang ke Baker Street menemukan kasus ajaib. Ketika mobilnya mogok di tempat sepi di pinggir sungai, ia melihat ada pria dengan pakaian olahraga memandang birunya langit sendirian. Percobaan untuk men-stater mobil malah meletuskan knalpot, detik berikutnya pria yang dilihatnya tergeletak tak bernyawa. Siapa yang membunuhnya? Secepat kilat, padahal dipastikan tak ada orang lain di situ dan tak ada peluru di mayat korban.
Watson sampai di TKP dan menyambungkan chat. Jadi Watson memperlihatkan sekeliling dengan laptop sementara Sherlock di flat di jam 6 pagi? Saat pemecahan kasus dalam tahap penyelesaian, masuklah orang-orang berjas yang diantar Mrs Hudson (Una Stubbs) dan mereka memaksa Sherlock ikut, menutup koneksi dan memintanya berpakaian. Ya, Shelock masih mengenakan selimut. Bersamaan dengan itu Watson didatangi petugas sambil bicara di HP. “Dr Watson, this is for you”. Watson mengulurkan tangan. Oh tidak, bukan teleponnya tapi helikopter. WTF! Script istimewa ini. Keren keren keren.
Lebih istimewa lagi, mereka ternyata dibawa ke istana Buckingham, pusat negara Inggris. Tentu saja mereka kebingungan, ada masalah apa ini? Sang kakak Mycroft Holmes (Mark Gatiss) ada di sana dan menjelaskan duduk masalah. Sherlock masih mengenakan selimut tidur dan diminta lebih sopan. Dan tadaa… muncullah pangeran Harry. Mereka meminta bantuan Sherlock untuk mengambil file dari tangan wanita bernama Irene Adler. Sampai di sini kita tahu arti adegan pembuka yang sepintas itu. File berisi foto-foto skandal yang khawatir disalahgunakan.
Irene Adler diceritakan punya skandal politik. Janda seorang novelis terkemuka. Julukannya ‘The Woman’ atau lebih dikenal sebagai ‘Dominatrix’, menyediakan layanan panas dengan kekerasan di dalamnya. Dalam adegan-adegan sepintas ketika Sherlock mengamati foto-foto Adler, Adler juga melihat-lihat foto-foto Sherlock di blackberry. Foto-foto kiriman ‘sang misterius’. Ada koneksi menuju pertemuan pertama mereka.
Dan pertemuan itu diluarduga Sherlock. Adler tak mengenakan sehelai pakaian, sehingga ia gagal ‘men-scan’ tubuhnya. ‘I like detective stories, and detective!’. Adu cerdik itu menghasilkan alarm yang meraung karena Watson membakar kertas dengan asap yang terdeteksi ke sensor. Akhirnya tahu kan maksud Sherlock meminta korek kepada pangeran Harry? Bersamaan dengan itu file yang ada di brangkas terkuak, datanglah segerombolan mata-mata CIA, ah Amerika apa urusan kalian. Ikut berebut foto-foto Yang Mulia? 322434.
Salah satu adegan keren itu muncul ketika Sherlock teriak ‘Vatican cameos’. Bak bik bug, seru dalam iringan skor pas dan slow-mo menawan. Sherlock berhasil mengantongi ponsel yang berisi file namun dia lengah. Ponsel terkunci, ‘I Am _ _ _ _ Locked. Sherlock ditaklukkan Adler, dan ponsel itupun ikut dibawa kabur. Pengungkapan mayat di tepi sungai itu dituturkan dengan seksi. Kini kasus direset. File masih di tangan Adler, mereka kembali ke rutinitas. Mycroft marah dan khawatir. Jelang Natal dengan iringan permainan biola Sherlock.
Ponsel Sherlock sendiri ‘dibajak’. Ringtone kini adalah desahan wanita ketika menerima pesan dari Adler. Malam Natal itu mereka berkumpul di Baker Street, termasuk Miss Molly Hooper (Loiuse Brealey), karakter favoritku. Berdandan cantik, membawa kado dan surat. Oh cinta, betapa kata misteri ini begitu menyentuh dan menyakitkan. ‘Kau selalu mengatakan kata-kata mengerikan. Setiap kali. Selalu’. Sementara kini Watson bersama Jeanette, waaa kemana dokter Sarah?
Kejutan. Sherlock menerima kado berisi ponsel yang ternyata ponsel Adler dengan kesempatan 4 kali percobaan memecahkan kode. Malam itu Adler ditemukan ‘tewas’. Dengan kondisi ponsel di tangan Sherlock, tentu saja Mycroft dan mengajak Watson serta Mrs Hudson untuk mencoba mengambilnya. Flat diacak-acak. Bagian ketika Mrs Hudson menangis dan bilang ‘Inggris bisa jatuh’ itu luar biasa. Absurb dan mimik Watson yang faceless.
Pagi harinya Watson ‘diculik’ yang dikira Mycroft malah ketemu Adler di gedung kosong. Ternyata Adler memalsukan kematiannya, mengirim ponsel itu ke tangan yang tepat agar aman dan punya misi rahasia. Percobaan pertama Sherlock membuka kode gagal. Bukan angka kunjungan blog yang dibajak. Percobaan kedua, tentang hal-hal konyol. Gagal lagi. Bukan sebuah alamat rumah. Percobaan ketiga, ketika ditemukan Adler tidur di kamar Sherlock dan menjelaskan maksud kedatangannya. Ponsel palsu diberikan dan coba dibuka, Sherlock tersenyum. Dan percobaan ketiga-pun gagal bahkan dari tangan yang membuat kode itu! Adu cerdik tingkat tinggi. Saat Sherlock-Adler menatap mesra tiba-tiba si dokter nyeletuk ‘Hamish’. Haha…, nama tengah John Watson.
Trivia menarik muncul ketika Adler memperlihatkan sebuah email ‘007 confirmed allocation’. Berisi sebuah kode angka yang panjang dan kecil. Yak, ini tentang Mr Bond. Kalian tak salah baca. Sherlock mencoba menyelamatkan 007-Bond. Dalam penerbangan yang dibajak teroris. Well, kejutan tak sampai di sini. Karena Adler lalu mengirim pesan kepada tuannya. Hufh, berhasilkah Mr Bond selamat? Bagaimana Sherlock dan Mycroft mengakali sang teroris? Lalu percobaan membuka kode di kesempatan terakhir itu berhasilkah? Fakta pemecahan kode tentang Coventry sendiri berdasarkan kisah nyata, seperti yang dituturkan di film ‘The Imitation Game’. Di mana kode itu dipecahkan dalam Enigma Code oleh Alan Turing yang luar biasanya diperankan oleh Benedict Cumberbact! Bukan sebuah kebetulan tentunya. Endingnya sendiri terlihat ironi ketika Sherlock menatap keluar jendela dengan bergumam lirih ‘the woman…’ Jadi sekali lagi, dimana Moriarty?
Dari judulnya kita tahu ini diadaptasi dari cerita ‘A Scandal in Bohemia’. Dimana Sherlock diminta untuk mengambil foto-foto pribadi sang raja Bohemia, Grand Duke of Cassel-Falstein dan Irene Adler. Perubahan dari Grand Duke ke Yang Mulia. Kelar nonton yang saya lakukan pertama adalah googling kata ‘Belgravia’. Dari wikipedia, Belgravia adalah sebuah distrik di London pusat yang terletak di City of Westminster dan Royal Borough of Kensington and Chelsea. Sebagian besar distrik ini terletak di barat daya Istana Buckingham dan berbatasan dengan Knightsbridge di sebelah utara (nama jalan, bukan distrik), Grosvenor Place dan Buckingham Palace Road di timur, Pimlico Road di selatan dan sloane Street di barat.
Saya benar-benar terpesona sama sang kreator, Mark Gatiss dan Steven Moffat yang bisa membuat kisah ini begitu bernyawa tanpa meninggalkan poin-poin penting dari buku klasik. Setiap adegan penting jadi kita tak dibiarkan melewatkan tiap menitnya. Judul-judul blog Watson sendiri adalah judul-judul cerita karya Sir Arthur Conan Doyle dengan beberapa penyamaran. ‘The Speckled Blonde’ dari ‘the Adventure of the Speckled Band’, ‘The Six Thatchers’ dari cerita ‘The Adventure of the Six Napoleons’ dan ‘The Geek Interpreter’ dari judul yang sama. Hebat ya.
Angka 1895 yang di blog Watson juga bukan sembarangan pilihan. Angka itu dipilih karena seorang fan Sherlock Holmes bernama Vincent Starrett membuat puisi di tahun 1942 dengan kalimat akhir, ‘Here, though the world explode, these two survive / and it is always eighteen ninety-five’.
Dengan empat film yang sudah saya lahap dan dapat rate nyaris sempurna semua dariku. Sampai sejauh mana serial ini akan terus mempesonaku? Duh! Deg-degan juga menuju episode tiga di air terjun yang dramatis itu.
Sherlock: A Scandal In Belgravia | Director Paul McGuigan | Screenplay Mark Gatis, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Rupert Graves, Una Stubbs, Louise Brealey, Vinette Robinson, David Nellist, Jonatahn Aris, Phil Davis, Mark Gatiss, Andrew Scott, Lara Pulvet | Skor: 5/5

Iklan

Ruby Sparks – Writer’s Block Imagination

image

Calvin: Ruby Sparks. Twenty six years old. Raised in Dayton, Ohio.
Tahun 2009 saya membuat daftar 100 Film Paling Berpengaruh Sedunia. Nomor satu – kalau kalian ingin tahu, adalah Little Miss Sunshine. Kejutan? Bagi yang sudah mengenal saya pastinya ini sebuah kejutan, karena sang juara bukan dari film dengan budget raksasa, bukan film summer yang menggelegar atau film-film berat kelas Oscar. Sebuah film indie. Kenikmatan dalam menonton film bisa didapatkan dengan segala syarat di film yang dibuat oleh duo Jonathan Dayton – Valerie Faris. Abigail Breslin masih imut, dikelilingi sekumpulan orang stress dalam perjalanan panjang menuju klimak cerita.
Nah film terbaru yang saya tonton semalam dibuat oleh duo tersebut. Dalam poster dengan mentereng menulis ‘From director of Little Miss Sunshine’, bukti bahwa film ini mengagumkan sehingga dijual. Dari grup film yang rata-rata bilang ini film bagus, dari Wewa teman kerja yang bilang ini film keren, dan dari dia juga saya mendapat copy file filmnya. Oiya, hari ini (29/7), kebetulan Wewa mundur dari NICI sehingga perpisahan yang semalam harusnya nonton Ghostbuster dirubah jadi makan-makan di Resto Kita. Yah, harusnya film tersebut yang akan dikenang sebagai farewell dia, eh malah si Ruby ini yang saya tonton setelah sampai rumah.
Filmnya ternyata biasa. Mungkin karena ekspektasiku yang ketinggian. Mungkin karena terlanjur kepalaku dijejali review yang bilang bagus, sehingga ketika akhirnya Scott dalam pelukan Ruby yang saya rasakan malah kehambaran.
Too good to be true, adalah kalimat pertama yang terlintas ketika film usai. Walau mungkin film ini terdengar romantis, ide memunculkan seseorang dari buku bukanlah ide baru. Dalam Inkheart saya sudah menjelajah dunia literasi dimana tokoh-tokoh fiktif bisa keluar dari buku dan ‘real’ di depan kita. Bedanya di Tinta Emas, sang tokoh keluar dengan cara dibaca, nah di Ruby keluar setelah dicipta dalam proses mengarang. Kisahnya Calvin Weir-Fields (Paul Dano) adalah seorang penulis muda berbakat yang sukses menerbitkan novel perdana yang digandrungi. Dirinya adalah jomblo akut, anti-sosial, berkonsultasi ke psikiater Dr. Rosenthal (Elliot Gould) dan menceritakan kehidupannya dengan gamang. Kakaknya Harry (Chris Messina) selalu mencoba membantunya keluar dari bayang-bayang kesendirian. Pernah berpacaran dengan Lila (Deborah Ann Woll), seorang gadis yang awalnya terlihat ideal namun putus juga karena egoism Calvin.
Calvin sedang proses penulisan buku keduanya. Ia mengetik masih dengan mesin ketik, cerita terbaru yang dibuatnya tentang seorang gadis cantik asal Dayton, Ohio. Bertemu dalam mimpi. Bermasalah dengan keluarga, kehidupan pribadinya penuh gejolak. Namun dibuat ideal sebagai pasangan Calvin. Adegan pembukanya sendiri memperlihatkan Ruby Sparks yang kehilangan sepatu dan menyapa sang penulis sehingga terbangun. Kesokan harinya Scott –anjing nyeleneh yang namanya diambil dari Penulis F. Scott Fitzgelard – membawa sepatu tersebut. Berikutnya dia bermimpi lagi, kali ini kutangnya ada di laci meja. Calvin masih bingung, bagaimana benda-benda itu bisa ada di sana. Nah puncaknya suatu malam, antara mimpi dan nyata ia duduk di pinggir kolam bercengkrama dengan Ruby sampai menuntaskan dahaga cinta. Keesokan harinya, tiba-tiba Calvin mendapat telepon untuk segera ke kantor. Dengan ketergesaaan, ia berbicara sambil bergegas dan tadaaaa…. Ruby ada di dapur sedang memasak telur. Menyapa dan bilang betapa menyenangkannya semalam. Tentu saja Calvin shock. Tokoh rekaannya muncul di hadapan, apakah ini halusinasi? Seperti orang sakit jiwa. Ruby lalu ingin ikut keluar, linglung dalam perjalanan ia sesekali melirik ke sampingnya, dia meyakini Ruby hanya imaji.
Sampai akhirnya saat Calvin dan makan di café dengan cewek lain, Ruby mendatangi dan marah-marah karena Calvin selingkuh. Si cewek ternyata juga bisa melihat Ruby. Waaa…. kaget. Ruby ternyata asli, tercipta real. Betapa bahagianya. Pacar idaman itu nyata. Karena Ruby adalah tokoh rekaan yang sesuai keinginan Calvin tentu saja sangat cocok, awalnya. Adegan ketika pertama berkenalan dengan Harry bisa jadi adalah salah satu yang terbaik. Mengetes dengan Bahasa Perancis, caranya setiap Calvin menulis di kertas yang akhir draft novel semua yang diketiknya tentang Ruby menjelma nyata. Luar biasa. This is insane.
Dikenalkannya sang pacar ke ibu dan ayah tirinya di Big Sur. Porsi menit aktor sebesar Antonio Banderas dan Annete Bening sayangnya kecil. Segalanya berjalan lancar sesuai rencana. Ruby yang seorang pelukis sangat cocok sama calon mertua, cieee. Ya iyalah, lha yang ditulis Calvin yang bagus-bagus sesuai kriteria cewek idealnya. Namun masalah sebenarnya muncul sekembali ke apartemen. Ruby mulai bersosialisasi. Mengikuti kelas seni, pergi ke klab malam bersama teman-teman, ngopi di kafe. Kehidupan baru Ruby membuat Calvin kesepian, dan iri. Malam itu, malam ketiga dirinya sendiri ia memutuskan merubah sifat Ruby. Ingat, setiap yang diketiknya menjadi nyata. Enakmen yo. Merubah Ruby jadi mencinta, sangat mencinta Calvin sehingga tak mau jauh. Merubahnya lagi jadi Ruby is Ruby. Pokoknya Calvin seperti memiliki kekuatan gaib yang bisa membentuk karakter pasangan sesuka hati. Sayangnya memang tak semua berjalan sesuai harapan. Apa yang terjadi?
Well, eksekusi endingnya standar sekali. Tak banyak kejutan. Dasar film memang komedi romantis, namun tetap tak harus happy ending kan? Buku legendaris Catcher in the Rye karya JD Salinger disebut. Buku yang brilian tentang seorang pemuda galau yang isi kepalanya revolusioner. Bisa jadi inspirasi utama film ini adalah buku karya Salinger. Di Catcher segalanya hanya imaji. Hanya bayangan Holden Vitamin Coulfield. Di Ruby jelas mewujudkan apa yang ada di kepala keluar. Beberapa Penulis besar jua disinggung. Trivia menarik.
Naskahnya ditulis sendiri oleh Zoe Kazan, pemeran Ruby. Tak heran, Zoe mempunyai darah orang-orang hebat di balik layar. Kakeknya Ella Kazan menulis film klasik On The Waterfront, ibunya Robin Swicord menulis naskah The Corious Case of Benjamin Button – duh jadi ingat buku F. Scott Fitzgelar ini, siapa yang pinjam ya? Belum dibalikin woy! Ayahnya Nicholas Kazan menghasilkan Reversal of Fortune. Zoe adalah pacar asli Paul Dano sehingga chemistry mereka bagus. Paul Dano, aktor nyentrik ini memang favorit memerankan karakter aneh. Di Little Miss dirinya tak punya dialog, sampai akhirnya di penghujung cerita menjerit tak terkendali. Di sini ia sekaligus menjadi produser. Waaa… curang ya. Ntar kalau punya duit saya mau memproduseri film dengan saya sebagai pemain utama Lazio yang mencetak gol tunggal kemenangan ke gawang Roma. Biarin!
Bisa jadi film yang rilis 2012 akan dikenang unik untuk 10  atau 20 tahun lagi. Namun bagiku film ini bagiku terlalu manis. Please, jangan bandingkan dengan kehebatan masterpiece Little Miss, jauh. Sangat jauh.
Ruby Sparks | Year 2012 | Director Jonathan Dayton, Valerie Faris| Screenplay Zoe Kazan| Cast Paul Dano, Zoe Kazan, Chris Messina, Annete Bening, Antonio Banderas, Toni Trucks, Aasif Mandvi | Skor: 3,5/5
Karawang, 300616 – Michael Learn To Rock – Strange Foreign Beauty

Sherlock: The Great Game – One Of The Best TV-Shows That I’ve Ever Saw

image

Sherlock Holmes: Catch you. Later.
Catatan ini mungkin sedikit mengandung spoiler. Namun saya usahan tak di poin penting.
“Tak ada yang menarik di surat kabar, Watson? Pelaku kriminal di London benar-benar menjemukan.” Ini adalah kalimat pembuka dalam buku ‘Salam Terakhir’, salah satu cerita pendek yang diadopsi di episode ketiga season satu ini.
Edisi ini adalah salah satu serial tv terbaik yang pernah saya tonton. Brilian adalah kata yang sering diucapkan Watson ketika melihat pemecahan masalah yang dilakukan Sherlock diluar nalar. Dan yah, kata itu akan saya pakai untuk mengungkapkan betapa film ini sungguh brilian. Enak sekali permainan yang disuguhkan dalam cerita, bisa mengecoh, memanipulasi dan membuat penonton geram sekaligus takjub.
Kisah dibuka dengan sebuah kasus di Minsk, Belarusia. Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) menemui seorang tahanan, menanyainya beberapa hal. Ada beberapa gramar English yang dikoreksi oleh Sherlock. ‘weren’t a real man’ seharusnya ‘wasn’t a real man’, ‘learn’, sampai kata ‘hung’ yang seharusnya ‘hanged’. Lalu dia pergi (dari mimiknya kelihatan) dengan kecewa. Kenapa? Ga bisa memecahkannya? Ga bisa membantu tawanan tersebut kabur? Bukan! Karena ternyata itu kasus sederhana. Tak menarik. Duh sombongnya.
Sekembali ke Inggris, dia dirundung bosan. Menembaki tembok seperti orang stress tak ada kerjaan. Bosan. Bosan. Bosan. Join clan COC – Clash Of Clan kami aja Sher, ‘bandanoantrindo’. Kita war setiap saat lho. Mau dengerin lagu-lagu Sherina, Sher? Saya punya album komplitnya lho? Atau main catur sama saya yuk Sher, ajari saya strategi bayangan. Yup, ceritanya Sherlock bosan tak menemukan kasus berat untuk mengasah otaknya. Datanglah Dokter John Watson (Martin Freeman), dia kaget di kulkas ada kepala manusia. Apakah wajar mendapati potongan mayat di freezer, di rumah? Hii… lalu Watson keluar lagi untuk menginap di rumah pacarnya, Dokter Sarah (Zoe Telford). Ketika bu Hudson (Una Stubbs) – hooo karakter ini muncul lagi dan komplain temboknya rusak, ‘akan saya masukkan ke tagihan sewa anak muda’, Sherlock nyengir dan booooom flat 221B Baker Street meledak.
Paginya Watson baru tahu lewat berita di tv. Bergegas pulang mengkhawatirkan teman sekamarnya. Sesampai di flat, eh malah disuguhi kecerewetan kakak-adik. Mycroft datang meminta tolong ada urusan besar menyangkut kepentingan negara. Sherlock bergeming, Mycroft meminta tolong Watson membujuknya. Sambil lalu, saling tebak tempat tidur macam apa yang dipakai Watson semalam. Haha.. afu tenan iki dua saudara. Lucux.
Sebelum pergi Mycroft menyerahkan berkas kasus kematian Andrew West, seorang pegawai negeri sipil meninggal di rel stasiun Battersea pagi tadi dengan kepala pecah. Kecelakaan, jatuh dari kereta? Melompat? Seorang petinggi negara tentunya tak akan pergi ke seorang detektif kalau kasus sesepele itu. Yup, departemen pertahanan sedang mengerjakan sistem pertahanan yang baru dengan nama Bruce-Partington program yang disimpan di memori. Salinannya ada di tangan Westie, file tersebut hilang. Takut jatuh ke tangan yang salah, Sherlock diminta membantu abangnya. Berkas itu diserahkan kepada Watson. Oke, sampai di sini saya ngakak terus. Keren bingit plot film ini disusun. Cerdas dan sangat menghibur. Speechless.
Kenapa Sherlock berbohong sedang sibuk padahal dia seharian duduk bosan. Sambil memainkan biola mendengar keluh kesah Watson ada telepon masuk, dari DI Lestrade (Rupert Graves). Nah ini baru kasus menarik. Dia-pun ke keluar rumah mengajak Watson. ‘Aku akan tersesat tanpa Blogger-ku…’
Dari kantor polisi Lestrade memberi sebuah amplop bertuliskan nama Sherlock Holmes. Sgt Sally Donovan (Vinette Robinson) yang suka bilang Sherlock ‘freak’ jua muncul. Amplop berisi handphone berwarna pink. HP yang sama dengan yang di seri satu? Bukan, namun dibuat semirip mungkin. ‘Lima sinyal Greenwich’. Pesan pertama berisi sebuah gambar perapian tua. ‘Blocked’. Sherlock cuma menatap hampa dan tahu itu adalah ruang bawah tanah flat 221C Baker Street. Langsung meluncur pulang, mereka mendapati sepasang sepatu. Bersamaan dengan itu HP pink berdering mendapati seorang perempuan menangis dan memberinya sebuah puzzle yang harus dipecahkan dalam waktu 12 jam kalau tidak dirinya ‘nakal’. Wow, tirai sudah dinaikkan. Permainan Seru baru benar-benar dimulai.
Di laboratorium rumah sakit Sherlock menguji tanah, menganalisis sepatu tadi. Muncullah karakter favoritku Molly Hooper (Loiuse Brealey) bersama kekasih barunya. Seperti biasa Sherlock ‘memuji’ Molly, berat badannya naik bisa ditebak tepat. Wanita kan kalau diperhatikan detail gitu jadi tersanjung. Namun dia masuk lab bersama kekasih barunya seorang IT. Office roman, seorang gay bernama Jim. Jim yang aneh, perkenalan berlangsung kurang enak. Watson kesal Sherlock membuka fakta di depan orangnya langsung dan itu tak baik, maksudnya tidak sopan. Sherlock mana peduli hal ginian. Jim pergi, Molly pergi, berdua mengotak-atik sepatu yang menghantarnya pada memori masa lalu, pemuda bernama Carl Powers kasus pertama Sherlock. Carl meninggal di kolam renang, semua jejak dicari namun satu barang bukti hilang. Sepasang sepatu yang anehnya kini dikirm kepadanya. Ide cerita brilian. Sampai di bagian ini saya dan saya yakin mayoritas penonton melewatkan bagian terpenting di lab rumah sakit itu. Saya tak mau bilang apa itu, eh atau maksudnya siapa itu. Hehe..
Ketika waktu menyisakan 3 jam Sherlock berhasil memecahkan puzzle. Kematian Carl di kolam renang disebabkan oleh sesuatu yang ada di sepatu sehingga pembunuh menyimpannya. Ditulisnya di web dan HP pink pun berbunyi. Pip pertama selesai. Wanita yang menghubungi Sherlock itu dievakuasi dengan bom di tubuh, duduk dalam mobil dan membacakan pesan di pager. Dengan titik merah di dada. Yah, bukan hanya Sherlock yang bosan. Ada orang gila di luar sana yang juga bosan dan mengajak bermain nyawa.
Permainan kedua langsung dimulai. HP berbunyi pip empat kali dan memunculkan gambar mobil. Bersamaan dengan itu ada telpon dari seorang pria yang ketakutan. Dia dipasangi bom, berdiri di tengah kebisingan kota. Kasus pertama bisa dipecahkan 9 jam, kini sherlock diberi waktu 8 jam. Ian Monkfond, seorang bankir menyewa mobil dengan bayar tunia dari kota London. Tubuh Ian tak ditemukan, darahnya ada di dalam mobil. Istrinya menangis. Dari penyelidikan singkat, jelas ada yang tak normal kenapa menyewa mobil ketika sudah punya mobil? Tak bayar pajak? Ah Ian selalu begitu. Tidak juga. Check! Mereka mengarah ke Janus Car, penyewaan mobil yang kartunya ditemukan di dashbord.
Bertemu Mr. Ewart pemilik rental. Hanya dalam sekejap melalui pigura Jags, kulit tangan, gatal di lengan dan sekilas lihat isi dompetnya Sherlock sudah berhasil tahu kasus ini menemui titik temu. Ueedan. Darahnya beku. Janus adalah nama dewa dalam mitologi Yunani. Mr. Ian dalam kesulitan finansial. Pip kedua tuntas. “I am on fire!” Sherlock dan Watson berjalan menjauh melewati lorong dengan lampu satu per satu mati. Cool!
Pip ketiga berisi gambar seorang wanita. Yang tentu saja tak dikenali Sherlock, namun penggemar tv tahu. Ia adalah Connie Prince, 54 tahun, seorang master make-up yang acara tv nya laris. Ia meninggal dalam misteri. HP pink berdering, seorang nenek memberi instruksi dan memberi waktu 12 jam untuk memecahkan teka-teki. Pembunuhan kali ini terdengar mudah, typical. “Kamu yakin?” Dan setelah jawaban diposting, HP pink berbunyi. Kali ini lebih rumit dari yang diduga Sherlock.
Pip keempat sebuah gambar pemandangan sungai Thames. South bank, diantara tempat Southwark dan Waterloo. Kali ini Watson agak ngambek seakan kecewa mereka memainkan permainan dengan taruhan nyawa sementara Sherlock terlihat santai. Tapi atas bujuknya Watson luluh. Di tepi sungai ditemukan mayat Alex Woodbridge, hanya sekejap Sherlock teriak, ‘lukisan Vermeer yang hilang itu palsu’. Nah apa hubungannya? Kau pernah dengar tentang Golem? Hehe pertama dengar di kisah Bartimaous lalu di game COC. Bahwa itu makhluk dari tanah liat dari cerita bangsa Yahudi. Golem juga seorang assasin, nama aslinya Oskar Dzundza. HP pink belum mengkonfirmasi via suara sejauh ini, tapi Sherlock tahu harus secepatnya mengejar si Golem. ‘terlalu berbahaya langsung melompat ke konklusi, kita perlu data’.
Kali ini memang tak ada klu dari penelpon. Ketika pemilik galeri Miss Winceslas ditanyai bertiga karena akan menjual lukisan palsu seharga 30 juta Pound barulah HP pink berdering, jawaban yang diberi salah dan Sherlock hanya diberi tambahan waktu 10 detik. Suara anak-anak. klu utama ternyata ada di lukisan dan fakta bahwa ‘bintang yang meledak, hanya muncul di langit tahun 1858’. Kalau begitu kenapa bisa dilukis tahun 1640-an?
Semua ini kental dengan nama Ceko, apakah final pip mengarah ke sana? Namun pip kelima tak kunjung terdengar karena pemecahan kasus malah kembali ke awal tentang program rudal Bruce-Partington. File itu sudah ketemu dan menawarkan kepada musuh utama untuk ketemu di kolam renang tengah malam. Jadi semua ini tentang perebutan file program itu? Haha… kejutan besar di eksekusi ending. Gottle o’ gear. Gottle o’ gear. Saksikanlah persembahan hebat kisah detektif paling memukau. Sekarang! Jadi di mana Moriarty?
Endingnya sendiri menggantung. Akan membuat fan menggerutu karena harus menunggu lama season dua tayang. Kalau saya sih nanti malam lanjut langsung juga bisa. Haha. Saya sudah membaca seluruh kisah rekaan Sir Arthur Conan Doyle jadi tahu bahwa plot utama seri ini adalah cerita pendek ‘The Adventure os the Bruce-Partington Plans’ dalam buku ‘His Last Bow’. Well, season dua dan seterusnya bakal menarik karena jadi tanya kisah mana lagi yang bakal diadopsi. Kuharap ‘Misteri hilangnya Lady Frances Carfax’ bakalan dipilih karena jadi salah satu favoritku.
Karawang, 240616 – Raihan – Demi Masa
Sherlock: The Great Game | Director Paul McGuigan | Screenplay Mark Gatis, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Rupert Graves, Una Stubbs, Louise Brealey, Vinette Robinson, David Nellist, Jonatahn Aris, Phil Davis, Mark Gatiss, Andrew Scott | Skor: 5/5

Star Trek Beyond: Just Another Day In The Fleet

image

Spock: Fear of death is illogical | Bones: Fear of death is what keeps us alive.
Kebiasaanku sebelum nonton filmnya saya berusaha sekuat tenaga menutup segala informasi jadi saat pertama kali tahu beberapa fakta di dalamnya akan mengejutkan. Satu yang membuatku benar-benar kaget di seri ketiga petualangan Kapten James Tiberius Kirk ini adalah script ditulis oleh komedian Simon Pegg. Hal ini baru kutahu beberapa detik setelah film selesai dan muncul namanya jelang credit title. Inikan film sci-fi yang serius dan butuh kedalaman cerita tapi kenapa job sepenting ini diberikan kepada pelawak yang juga memainkan salah satu karakter di dalamnya? Di tengah gempuran film-film luar angkasa yang kini lebih variatif (Hello Star Wars Story!) dan bersaing ketat memuaskan fan, pilihan Pegg jelas kurang bijak. Star Trek bagus banget. Into Darkness bagus bingit. Beyond yah, sekedar bagus dan jelas merupakan penurunan kualitas. Padahal ini film sebagai anniversary 50 tahun lho.
Bersama teman kerja NICI Rani dan Dewi yang jauh dari Cikampek, Ghofur yang diseret ikut dan bilang: ‘pokoknya kalau mau nonton film-film luar angkasa saya diajak’, serta Rossi yang mengucapkan perpisahan dengan kita. Di tengah guyuran hujan dan kemacetan khas Cidomba, Karawang. Di akhir pekan yang haus hiburan bermutu. Kita menggenggam lima tiket Beyond dengan harapan tinggi. 15 menit sebelum kick-off kita makan di Eat & Eat, saya kayak orang kampung yang tersesat di mal. Bayar pakai kartu? Kaki lima goes to mal? Apalah itu, ternyata cuaca Juli yang dingin, kondisi pulang kerja yang lapar dan bersantap rame-rame terasa lezat. Oke, modal yang pas untuk mengarungi angkasa.
Film dibuka dengan sebuah penawaran perdamaian yang dilakukan kapten Kirk (Chris Pine) kepada sekumpulan alien dengan menawarkan artefak. Tawaran itu ditolak dan para alien yang dikira sebesar manusia itu menyerbu kapten, sebagian penonton langsung tergelak tawa karena ternyata sekumpulan makhluk asing itu seukuran kucing. Tah kalian bisa bayangkan sekumpulan kucing menyerangmu sehingga bajumu sobek-sobek ga jelas. Sebuah prolog yang mencoba melucu. Satu per satu karakter diperlihatkan. Nyaris semua cast penting yang bertahan hidup di dua seri muncul.
Mereka mendarat istirahat di Yorktown Starbase, sebuah gambaran planet futuristik megah dan menawan. Nama Yorktown dipilih karena awalnya itu dalam script original adalah nama asli USS Enterprise. Yah terdengar keren sih, seperti ‘New-York-Town’. Penggambilan gambarnya bikin pusing. Seakan melawan gravitasi, kamera muter-muter memamerkan kecanggihan. Kereta cepat jalur dobel melintas, ‘wuuuuzzzz’ layaknya naik halilintar di Dufan. Teleport, perpindahan manusia dalam sekejap jadi kegiatan umum, bayangkan kita tinggal masuk ke bok telepon lalu ‘cling’, menghilang. Sepertinya kedamaian antar makhluk angkasa sudah dicipta. Banyak berseliweran alien di antara manusia dengan senyum dan keakraban layaknya sahabat. USS Enterprise istirahat dari perjalanan mengarungi angkasa, memuntahkan para awak untuk berlibur. Salah satu adegan yang membuat Ghofur yang duduk di sampingku, nyeletuk ‘lho LGBT’ saat melihat Hikaru Sulu (John Cho) bertemu suaminya dan menggendong putri mereka. Yup, Sulu diceritakan seorang gay sebagai tribute untuk George Takei, pemeran Sulu di film lama.
Lalu USS Enterprise kembali mengudara dengan misi baru. Seorang alien meminta bantuan kapalnya terdampar, dengan bahasa planet ia ditempeli chip penerjemah di leher sehingga bahasa planet itu dirubah ke English. Sebuah gambaran penemuan di masa yang akan datang? Mengingat banyak penemuan yang terinspirasi dari saga film ini, bukan sebuah hal mustahil nantinya kita ngomong dengan bahasa apapun lalu muncul suara terjemahan. Terdengar keren dan saya yakin bisa. Oh dunia masa depan yang gemilang (dan penuh tanya).
Dari koordinat antariksa mereka memasuki area tak terdeteksi Nebula. USS Enterprise mendapati kontak mereka tak ditanggapi ketika ada pesawat di depan. Tiba-tiba mereka diserang membabi buta, tak bisa menghindar, tak bisa kembali. Luluh lantak. Ya, kalian para Trekkie akan melihat pesawat luar angkasa kebanggaan kalian itu hancur lebur. Penggambarannya terlihat megah, karena jumlah musuh yang sangat banyak. Sekumpulan lebah mengerumuninya, memotong sayap, ekor serta leher USS Enterprise. Dalam sekejap benda mewah itu jadi rongsokan yang akan membuat para Madura bertepuk tangan, ‘dapat order!’. Adegan final hancurnya benar-benar dibuat istimewa, mungkin akan membuat sekumpulan Trekkie sejati menangis.
Serangan itu dipimpin oleh Krall (Idris Elba). Wah ini aktor makin laris dapat peran penting ya. Terakhir saya menikmati aksinya di The Jungle Book dan sukses sebagai Shere Khan. Dengan tangan kanan Manas (Joe Taslim). Ini adalah reuni Joe, aktor kebanggan Indonesia dengan Lin setelah Fast and Fourius 6. Pasukan Krall menangkap para awak, mereka bertahan hidup dengan menghisap jiwa dan membunuh manusia. Awak yang selamat kabur dengan kapsul Kelvin mendarat untuk bertahan hidup. Spock (Zachary Quinto) terluka, dibantu Doctor ‘Bones’ McCoy (Karl Urban). Jantung manusia di kiri, jantung Spock di kanan? Sepanjang film dua orang ini adalah joker, lucu menggelikan. Sementara Montgomery ‘Scotty’ Scott (Simon Pegg) bertemu alien Jaylah (Sofia Boutella) yang juga korban. Jaylah adalah karakter baru di francies ini. Kata Jaylah diambil dari nama aktris Jennifer Lawrence di film Winter’s Bones yang berperan sebagai Ree Dolly. Jennifer-Lawrence-In-Winter’s-Bones disingkat Jaylah. Hehe, garing ya. Lieutenant Uhura (Zoe Saldana), Sulu, dan rekan kru ditawan. Kapten Kirk dan Chekov (Anton Yelchin) menelusuri planet asing itu untuk mengumpulkan lagi pasukan. Ternyata di planet itu ada pesawat USS Franklin yang dahulu kala tahun 2060an dinyatakan hilang. Satu per satu awak diselamatkan. USS Franklin diperbaiki dan siap mengudara lagi. Mereka dikejar waktu, karena Krall telah menemukan artefak yang di awal film itu, guna menyerang Yorktown. Menghancurkan Yorktown bersama pasukan lebahnya yang mengerikan. Berhasilkah jagoan kita mencegahnya?
Well, selain adegan mutilasi Enterprise yang memanjakan mata bagian pengungkapan jati diri Krall adalah yang terbaik. Sayangnya Beyond gagal memenuhi ekspekasiku yang kadung tinggi. Kutukan film ketiga? Atau karena ini francies ke-13, angka sial? Script-nya lemah. Plot hole di mana-mana. Kunci utama melawan musuh dengan lagu itu kurasa konyol sekali. Ini film sci-fi bung bukan komedi. Jadi ketika lagu Sabotage yang dinyanyikan Beastie Boys itu berkumandang, saya tepuk jidat. Alamak! Bahkan Rani dan teman-teman HR pastinya mending dengar lagu Sherina Munaf satu album full ketimbang tahu pemecahan masalah sekonyol ini. Beastie who? Lagu Sabotage sendiri pernah muncul di Star Trek tahun 2009 ketika remaja T. Kirk di mobil. Bukan sebuah kebetulan tentunya. Penampilan Joe Taslim yang tertutup make-up juga terasa sia. Wajah Joe muncul sepintas lalu lenyap, ahhh… Manas diperankan Babe Cabita, Saipul Jamil ataupun Mongol pun ga masalah. Yah setidaknya wajah tampan Joe lebih menjual di Hollywood sih.
Ketika kapten Kirk bilang ‘We got no ship, no crew, how’re going to get out of this one?’ Ini pastinya jadi pertanyaan penting semua penonton. Apa yang bisa dilakukan ketika pasukan tercerai berai di medan perang yang asing? Seharusnya bisa jadi film yang lebih brilian karena konflik yang disodorkan sungguh berat. Seakan tak ada jalan keluar. Sayangnya jawaban Spock, ‘we will find hope in the impossible’ itu diurai dengan buruk. Pemecahan masalah didapat dengan cepat dan terasa gampang. Duh! Ditambah lagi karakter-karakter ini tak panik, tak frustasi dan ekspresinya datar sekali ketika masalah dipecahkan. Justin pastinya tak segalak JJ Abrams dalam mengarahkan mainannya. Ini adalah film pertama Justin Lin di ranah Sci-Fi, debut yang gagal memenuhi harap. Membawa template Fast and Fourious ke angkasa? Duh!
Ketika film selesai dan lagu Sledgehammer yang dinyanyikan dengan lantang oleh Rihanna muncul penonton pada keluar. Lagi-lagi hanya saya seorang yang menikmati tulisan bergerak ke atas cast and crew. In loving memory of Leonard Nimoy. For Anton adalah dua kalimat pembuka credit. Leonard Nimoy adalah pemeran original Spock yang meninggal tahun 2015. Ini adalah film pertama almarhum Anton Yelchin pasca kematiannya bulan lalu. Masih ada empat film Anton setelah ini: We Don’t Belong Here, Porto yang rilis tahun ini, Thoroughbred yang rilis tahun depan serta Rememory yang belum ditentukan dilepas kapan. Saya tak tahu apakah Beyond ada scene after credit karena tak tuntas, ketika sampai di second unit saya buru-buru keluar bioskop sebab teringat inikan momen perpisahan Rossi dan saya tak ingin ketinggalan foto-foto. Terima kasih teman, terima kasih Ceu Ceu Cake. Tiramisu pakai saus enak kok. Good luck Rossi. Live long and prosper! – sambil ngacungi tangan membentuk simbol Vulcan. Yeaaah…
Star Trek Beyond | Year 2016 | Director Justin Lin | Screenplay Simon Pegg, Doug Jung | Cast Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban, Zoe Zaldana, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Idris Elba, Sofia Boutella, Joe Taslim | Skor: 3,5/5
Karawang, 230616 – Keane – Maybe I Can Change

Sherlock: The Blind Bankir – China Express

image

Dr John Watson: No. I am Sherlock Holmes and I always work alone because no one else can complete with my massive intellect!
Ketika di depan pintu sebuah apartemen, Watson yang tertinggal di luar meminta Sherlock yang di dalam untuk membukakan pintu. Makian yang awalnya sekedar lewat itu malah jadi klu penting.
Sebuah penurunan tempo. Setelah dibuat terkagum di episode pembuka, seri kedua ini sedikit di bawah ekspektasi. Mungkin karena kasusnya rumit dengan sandi dan angka-angka yang menyeret kebudayaan China sehingga saya mengernyitkan dahi beberapa kali.
Di pembuka film serasa bukan film Sherlock. Namun skoringnya tetap menawan. Memberi penonton untuk mengira mau ke arah mana kasus akan digulirkan. Soo Lin Yao (Gemma Chan) sedang presentasi masalah teko dan cangkir kuno dari zaman dulu dinasti China. Betapa semakin sering dipakai daya pikatnya mempesona. Soo Lin seakan terobsesi dengan benda-benda antik itu. Andy Galbraith (Al Weaver) rekan kerjanya mengajaknya minum di luar, ajakan yang kikuk itu ditolak. Malamnya Soo Lin terkejut ketika museum tutup, ia membuka sebuah tirai yang menutupi patung. Apa yang dilihatnya tak ditampilkan kepada penonton. Namun tak perlu waktu lama, kita akan tahu apa yang ada dibalik tirai itu.
Setelah judul film dan orang-orang yang ada dalam penggarapannya muncul, kita diajak melihat keseharian Dr. John Watson (Martin Freeman) yang bermasalah dengan keuangan, marah-marah di swalayan karena kartunya tak bisa dipakai. Pulang ke flat 221B Baker Street melihat Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) hanya duduk tak melakukan apa-apa. Padahal seperti yang ditampilkan sekilas, ia berjibaku melawan penjahat berpedang. Dimintanya Watson memakai kartunya untuk berbelanja. Nantinya hal sepele ini menjadi klu penting. Untuk bertahan hidup, Watson pun melamar sebagai dokter jaga, diterima dengan senyum oleh Dokter Sarah (Zoe Telford) yang cantik. ‘It or she?’
Sherlock tiba-tiba mengajak Watson ke bank, seperi biasa ajakan tiba-tiba itu tentunya menggugah sebuah masalah. Di bank Sherlock bertemu dengan pejabat sekaligus teman lamanya, Sebastian Wilkes (Bertie Carvel). Aksen Seb bagus banget, British-nya kental dan mimiknya pas. Dari penuturannya kita tahu semalam bank dibobol tanpa merusak sistem keamanan dan pintu masih terkunci rapat, namun tak ada barang yang hilang, yang ada adalah sebuah simbol. Lukisan dicoret dibagian mata, di sampingnya ada simbol seperti pita miring dengan garis di kirinya. Berwarna kuning. Nah. Yang kayak gini favorit Sherlock. Sebastian meminta Sherlock menyelidiki dengan imbalan menggiurkan. Sherlock dengan dingin menolak insentif, Watson tentu saja menyambar cek itu. Haha… lucux.
Dari cctv terlihat coretan berlangsung kilat. Ruangan masih terkunci rapat yang rasanya mustahil orang bisa masuk dan keluar secepat itu. Dari jendela? Bisa jadi. Semacam Spiderman? Ya ya… mungkin. Dari penyelidikan itu, Sherlock ke sebuah rumah dan mendapati mayat karyawan bank, Eddie Van Coon. Ia membawa 5 juta Pound dari bank dan mengembalikannya segera setelah kembali dari bepergian ke China, namun nyawanya ditemukan tewas seakan ini adalah bunuh diri. Yah, lagi-lagi bunuh diri. Setidaknya itu klaim Inspektur DI Dimmock (Paul Chequer). Sherlock lalu menjelaskan khas orang sok tahu namun akurat, bahwa rasanya mustahil seorang kidal menembak kepalanya dengan tangan kanan. Dengan nyinyir bilang, dimana si inspektur Lestrade. Pertanyaan yang sama saya keluhkan.
Tak lama setelah itu muncullah korban kedua. Brian Lukis yang sama pulang dari China ditemukan tewas di apartemennya. Di tempatnya tinggal banyak buku berantakan, salah satunya buku Dan Brown: The Last Symbol. Sebuah klu? Yang pasti keduanya sama, mati dalam kamar yang terkunci rapat. Pulang dari China. Sama-sama ke toko “The Lucky Cat”. Dan buku terakhir yang dibawa pulang Lukis menuntun Sherlock ke sebuah pustaka. Dari seri deretnya, Sherlock dan Watson menemukan simbol yang sama dengan di bank. Simbol seperti pita miring dengan garis di kiri. Berwarna kuning. Simbol China kuno suzhou numeral. Lagi-lagi pembunuh serial?
Penyelidikan berlanjut ke sebuah stasiun, toko survenir China dengan lucky cat-nya. Dan menemukan apartemen kosong dari pengamatan cuaca. Waaa hebat ya. Ternyata itu tempat tinggal Soo Lin. Ya, karakter yang diperkenalkan di awal tadi. Kini sudah menghilang, ia mengundurkan diri mendadak. Rumahnya terkunci, namun jendelanya terbuka. Sherlock masuk, Watson tertinggal di luar. Dalam mengotak-atik ruangan ia bertemu dengan sang penjahat. Perkelahian itu berkahir dengan peringatan di saku Sherlock berisi sebuah origami Black Lotus – Terarai Hitam. Di bawah pintu mereka menemukan memo dari Andy yang menuntunnya ke museum. Di situlah titik temu semua tanya. Apa itu teratai hitam, apa arti simbol dijelaskan Soo Lin namun tak pernah tuntas karena ia keburu bernasib sial bertemu adiknya. Di museum itu kita tahu bahwa ada sindikat yang sedang memperebutkan sebuah benda kuno bernilai jutaan Pound.
Dan laporan Sherlock kepada DI Dimmock awalnya dianggap dingin. Pembuktian ada pergerakaan sindikat di London itu mengarah kepada kedua mayat korban, kita pun bisa bertemu si cantik Molly Hopper (Louise Brealey). Horeeee… Lagi-lagi Sherlock menggodanya. Betapa detail perubahan sigrak rambut bisa membuat wanita tersipu. Benar saja, kedua mayat di telapak kakinya ada tato simbol teratai hitam. Lalu bantuan Dimmock kepada Sherlock adalah pengiriman semua buku di apartemen korban untuk diselidiki.
Muncul juga akhirnya karakter Mrs Hudson (Una Stubbs), horeee. Walau sekedar lewat bilang ada amal buku? Di luar banyak kiriman buku ke Baker Street. Sampai larut berdua menyelidiki satu per satu buku yang ada untuk memecahkan misteri. Di pagi hari Watson harus bekerja, namun keadaan ngantuk berat ia tertidur di klinik. Dokter Sarah membantu dan secara harfiah nan manis mengajak kencan. Malam itu kencan yang direncana berdua rusak gara-gara Sherlock ikut. Malam itu yang seharusnya berakhir seru malah jadi bencana. Watson dan dokter Sarah diculik. Berhasilkah Sherlock menyelamatkan mereka? Lalu apa arti simbol itu? Apa benda kuno yang diselundupkan dan jadi pemicu utama kisah ini? Berhasilkah Sherlock menemukannya? Endingnya sendiri seperti lelucon ketika tahu dimana benda itu diungkap. Haha… asem!
Agak menurun dari yang pertama. Tensi yang pertama sungguh tinggi, trivia-trivianya masih bisa diikuti nah yang ini rumit. Banyaknya angka dan pemecahan simbol rasanya membawa titik jemu. Pengungkapannya juga ga wow. Pemilihan eksekusi akhir tertebak, beda perpektifnya kalau salah satu karakter penting tewas. Ketika Watson ditodong pistol apakah kalian percaya ia akan tewas? Jelas tidak. Ketika dokter Sarah terancam kena peluru permainan, apakah kalian menebak ia akan tewas? Tentu tidak. Ketika Sherlock diberondong tembak di museum dan joke ‘kita diantara benda berusia ribuan tahun, jadi hormatilah’ apakah kalian nebak ia akan tertembak? Tentu tidak. Sayangnya semua kata ‘tentu tidak’ itu terbukti. Eh bocoran ya? Bukan, ini dasar cerita usang bahwa jagoan jangan mati di awal-awal cerita. Dan karena ini episode dua season satu jelas itu bukan poin penting. Harusnya penonton diberi kasus yang lebih asyik. Kisah the Blind Bankir diambil dari perpaduan cerita ‘The Valley of Fear’ untuk konsep simbolnya. Untuk plotnya lebih ke ‘The Sign of Four’. Kemudian kunci adanya tato dari para kriminal tentunya dinukil dari kisah ‘The Five Orange Pips’. Yah, terlalu banyak bukunya yang diaduk jadinya malah jadi sajian yang asam.
Dalam episode ini walau harapanku bahwa dua karakter sempalan Mrs Hudson dan Molly Hooper terpenuhi namun sayang kita tak bertemu kepala polisi Lestrade, saudara Sherlock, Mycroft. Dokter polisi Anderson jua tak kelihatan, padahal ia seperti selingan konyol yang ternyata bisa mencuri perhatian.
Akhir film ini pun kita diberi klu penting. Ketika Shan berchat ria dengan bosnya, seseorang berinisial ‘M’. Chat yang berakhir dengan dot merah dan suara tembakan. Sebuah pengantar untuk episode ketiga ‘The Great Game?’ Mari kita lihat…
Sherlock: The Blind Bankir | Director Euros Lyn | Screenplay Mark Gatiss, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Una Stubbs, Louise Brealey, Zoe Telford, Gemma Chan, Al Weaver, Bertie Carvel, Paul Chequer | Skor: 4/5
Karawang, 210616 – Gorillaz – Dare (DFA Remix)

Sherlock: A Study In Pink – GREATNESS

image

Sherlock: Shut up | Lestrade: I didn’t say anything | Sherlock: You were thinking. It’s annoying
Kata-kata yang terdengar kasar. Yah seperti itulah Sherlock, dia adalah orang hebat yang bisa menganalis seseorang dan situasi dengan detail mengagumkan. Sepanjang film akan kalian banyak temui sindirannya kepada orang sekitar. Rasanya gatal, namun sayangnya semua nyaris benar.
Satu kata untuk menggambarkan seri pertama kisah ini: Greatness! Dengan kesabaran tingkat tinggi untuk meredam segala bocoran, akhirnya kesempatan menikmati serial heboh Sherlock terpenuhi. Dari Wewa teman kerja, saya mendapat copy seluruh file film dan baru sempat saya tonton semalam. Setelah tanya di grup Bola – FOC urutan serinya biar runut, dimulailah petualangan detektif sinting ini.
Study In Pink jelas adalah adaptasi bebas dari Study In Scarlet, rekaan Sir Arthur Conan Doyle. Karena saya sudah membaca lama buku itu jadi tahu runutan maksud awal kisah ini digulirkan. Bukunya sendiri sangat hebat, salah satu novel paling berpengaruh sepanjang masa. Saya mengagumi debut Sherlock, sampai novelnya saya sampul dengan kecup cinta di setiap lembarnya. Pernah saya jadikan kado ke teman dekat. Dan selalu memujinya ketika kita singgung kata detektif. Sebuah acuan, jadi siapapun yang berani mengadaptasinya akan dapat pandangan sinis dan was-was.
Study In Pink dimulai dengan sebuah fakta Dr. John Watson (Martin Freeman) yang trauma perang. Ia pensiun dini, mengenakan tongkat serta bermasalah dengan saudaranya di London sehingga sedang mencari teman untuk berbagi flat. Kebetulan bertemu teman lama, Mike Stamford (David Nellist). Dari situ ia pun memperkenalkannya dengan Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) karena ia pun sedang mencari teman berbagi kos. Melalui penuturan yang sangat unik, Holmes hebat dalam deduksi dan analisis orang. Tanpa banyak kata, ia tahu detail Watson. Hanya dengan mengamati warna kulit, cara berjalan, HP yang dipinjam ia bisa bicara panjang lebar orang yang baru ditemuinya. Ibaratnya Sherlock men-scan seseorang dan muncullah hasil scan dengan kata-kata brilian. Dia sering menggunakan teknik pengambilan memori yang sering disebut metode lokus, atau ‘istana pikiran’. Di kamar bedah itu ada karakter bernama Molly Hooper (Loiuse Brealey) yang secara gesture cinta Holmes, ia digoda dengan menyenangkan diamati. Mudah-mudahan karakter ini bisa berkembang nantinya. Asyik aja melihat wajah Molly memerah malu. Walaupun hebat, Sherlock suka sekali menyinggung perasaan seseorang. Seperti yang saya bilang diawal, terdengar kasar. Di seri pertama ini ia terutama sekali suka ‘mengejek’ Anderson, Lestrade dan Donovan.
Induk semang 221B Baker Street adalah Mrs Hudson (Una Stubbs) yang lucu. Dalam sebuah adegan Sherlock mencium pipinya sebagai cinta, dalam draft skenario tak ada. Itu adalah spontanitas Benedict yang bilang Mrs Hudson layaknya seorang ibu. Dan mudah-mudahan juga karakter ini berkembang di seri berikutnya. Sherlock menyebut dirinya konsultan detektif pertama di dunia. Menangani kasus-kasus yang tak wajar, semakin sulit dipecahkan semakin bergairah dirinya. Kesempatan itu datang ketika kepala polisi DI Lestrade (Rupert Graves) datang memberitahunya bahwa telah terjadi ‘bunuh diri’ beruntun. Setelah tiga kali dan membuatnya frustasi, dalam konferensi pers dirinya terlihat idiot. Dalam visul setiap orang membuka HP dengan kata ‘Wrong’. Kini korban keempat, seorang wanita berbaju pink. Ditelaah oleh Holmes dengan kocak menelanjangi Sgt Sally Donovan (Vinette Robinson) yang sinis sama Sherlock, menyebutnya freak dan ahli bedah yang skeptis Anderson (Jonathan Aris). Dan dari detail yang rasanya remeh dimata kita jadi petunjuk penting membongkar kasus.
Sepulang dari TKP, Watson ‘diculik’ oleh seorang misterius yang sebagai teman sekamar ia tentunya tahu benyak hal dan memintanya memberitahu kegiatan Holmes dengan imbalan uang. Menolak, Watson kembali ke flat dengan senjata di tangan, untuk jaga-jaga. Nantinya kita tahu yang menculiknya adalah saudara Holmes sendiri. Dengan kocak Sherlock bilang, ‘haduuh kenapa ditolak, kan lumayan duitnya bisa dibagi.’ Haha.. emang stress iki Holmes. Ada trivia menarik ketika Mycroft bertemu Watson, ia berkata, “Most people blunder around this city and all they see are streets and shops and cars.” Ini adalah mirror line dari Doctor Who episode ‘The End of the world’: “You think it’ll last forever. The streets and cars and concrete.” Well, ternyata Steven Moffat dan Mark Gattis juga menulis untuk Doctor Who. Hooo.. pantes.
Kisah ini akhirnya berkembang jauh setelah ia berhasil membawa pulang koper pink sang korban, menganalisisnya dan menjebak sang pembunuh. Melalui HP Watson ia meminta mengirim pesan ke HP korban yang kini ada di tangan pembunuh. Di 22 Northumberland Street itulah sebuah taksi yang dicurigai berisi musuh dikejar. Melalui tingkah diluar nalar, Sherlock bisa menganalisis jalan hanya dalam hitungan detik ia mencegat taksi yang ternyata hanya berisi penumpang turis yang pertama datang ke London. Dari pengejaran itu kita tahu, Watson bisa berlari tanpa tongkat di tangan. Sebuah bukti lagi tebakan Holems benar bahwa pincangnya hanya disebabkan oleh pikirannya sendiri (psikosomatis). Pulang dengan beberapa pertanyaan di kepala, di flat terjadi penggeledehan yang dilakukan DI Lestrade. Nah, secara bersamaan bu Hudson memberitahu ada sebuah taksi menunggu Holmes di luar. Taksi yang berisi tersangka. Bagaimana kasus ini akhrinya dipecahkan? Seberapa hebat adu cerdik Sherlock dengan sang pembunuh ini menghentak? Tontonlah seri pertama Sherlock yang tayang perdana tahun 2010! Hooo…
Mungkin kalian akan mencibir betapa terlambat saya menontonnya. Karena keberhasilan saya menutup telinga dan mata, saya terkejut atas adaptasi ini. Luar biasa. Penggambaran Sherlock bukan di era victoria tapi era sekarang dengan segala gadget dan kemutahiran teknologi. Walaupun pada dasarnya disadur dari buku, tapi Mark Gatis dan Steven Moffat memilih jalan penyesuaian zaman yang diluarduga sangat brilian. Dasar pertemuan berbagi flat, tulisan ‘Rache’, sopir taksi, sampai kejeniusan menganalisis masih relevan dengan buku. Pemindahan era berjalan mulus, fan sejati Sherlock takkan kecewa. Kujamin. Aksen British dan penggambaran William Sherlock Scott Holmes  yang jangkung, kurus dan hidung mancung sedikit bengkok yang cocok dengan novel juga pas di diri Benedict. Penampilan tegas, tenang serta punya selera humor yang asyik. Bandingkan dengan adaptasi yang diperankan Robert Downey Jr., sangat jauh dari citarasa aslinya.
Kali ini saya sepakat dengan teman-teman yang bilang serial ini memukau. Ini baru permulaan, season satu seri satu, dalam minggu-minggu ke depan  saya akan menonton dan mengulas satu demi satu kisah ini. Mudah-mudahan konsisten seru. Seperti kita semua, musuh utama Sherlock adalah bosan. Namun bosan di mata Sherlock jelas tingkatannya tinggi. Jadi saya tahu rasanya betapa frustasinya fan yang menunggu bosan serial ini rilis satu demi satu. Haha.., saya bisa menghajarnya dalam seminggu.
Terakhir yang membuatku melonjak kegirangan, Dokter Watson digambarkan sebagai seorang blogger. Sebuah penyesuaian era dari seorang penulis catatan harian ke sebuah situs. Kurasa sebuah keputusan keren. Ikut senang, ada karakter seorang blogger ditampilkan hebat di tangan Martin Freeman.
Sherlock: Study in Pink | Director Paul McGuigan | Screenplay Mark Gatis, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Rupert Graves, Una Stubbs, Louise Brealey, Vinette Robinson, David Nellist, Jonatahn Aris, Phil Davis, Mark Gatiss | Skor: 5/5
Karawang, 200616 – Keane – Thin Air

CHANGING TIME – Revolusi Industri ke 4 –> Selamat Datang di EXPONENTIAL ERA

image

Baca pelan-pelan buat yang punya cucu, lihat masa depannya: masa depan anak cucu kita 😄😄😇
Hebat – Heboh. Berat banget tantangannya 😁😁 Ini memang panjang, tapi berguna. :oops::oops:
CHANGING TIME – Revolusi Industri ke 4 –> Selamat Datang di EXPONENTIAL ERA
Written by SHAILESH MODI – Managing Director
Dalam 1998, Kodak memiliki 170 ribu karyawan dan menjual 85% dari keseluruhan kertas foto di dunia. Hanya dalam beberapa tahun, bisnis model mereka menghilang dan mereka bangkrut.
Apa yg terjadi pada Kodak, juga akan terjadi padaberbagai industri dalam 10 tahun mendatang dan sebagian besar orang tidak memprediksinya sama sekali.
Apakah Anda pernah mengira di tahun 1998 bahwa 3 tahun kemudian Anda tidak perlu mengambil foto dengan film lagi?
Kendati kamera digital diciptakan di tahun 1975, yang pada saat itu hanya memiliki 10 ribu pixel, tetapi mengikuti Hukum Moore.
Perkembangan teknologi bergerak secara eksponensial, awalnya merupakan produk gagal, namun akhirnya dapat melampaui kamera analog dan menjadi barang umum hanya dalam beberapa tahun.
Hal yang sama akan terjadi juga dengan Artificial Intelegence/AI (Kecerdasan Buatan).
Kesehatan, Mobil Elektrik dan Otonom/Mandiri (Autonomous), Pendidikan, 3D Printing, Agrikultur dan pekerjaan lainnya.
Selamat datang di Revolusi Industri yang ke-4. Selamat datang di Era Eksponensial.
Perangkat lunak akan menggeser industri tradisional dalam 5-10 tahun ke depan.
#Uber hanyalah sebuah perangkat lunak, mereka tidak memiliki armada sendiri, kini menjadi perusahaan taksi terbesar di dunia.
# Airbnb sekarang menjadi perusahaan perhotelan terbesar di dunia, walaupun mereka tidak memiliki properti apapun.
ARTIFICIAL INTELLEGENCE – Kecerdasan Buatan
Komputer secara eksponensial menjadi lebih baik dalam mengerti dunia ini.
Tahun ini, sebuah komputer mengalahkan Go-Player terbaik di dunia, 10 tahun lebih cepat dari perkiraan.
Di AS, pengacara-pengacara muda sudah kesulitan mencari pekerjaan karena IBM Watson, di mana Anda bisa mendapatkan saran mengenai hukum dalam hitungan detik (sejauh ini hanya untuk hal-hal dasar), dengan keakuratannya 90%, dibandingkan jika dikerjakan manusia yang hanya 70%.
Jadi, jika anda sekarang menekuni hukum, berhentilah.
Di masa depan, jumlah pengacara di dunia akan berkurang hingga 90%nya, hanya spesialis yang akan bertahan.
IBM Watson telah menolong perawat mendiagnosa kanker, 4 kali lebih akurat daripada manusia.
Facebook kini memiliki perangkat lunak pengenal pola yang dapat mengenali wajah jauh lebih akurat dari manusia.
Di tahun 2030, komputer akan lebih cerdas dari manusia.
AUTONOMOUS CAR – Mobil Otonom
Thn 2018 nanti, mobil otonom pertama di dunia akan diluncurkan untuk umum.
Sekitar tahun 2020, keseluruhan industri otomotif akan bergeser. Anda akan tdk ingin memiliki mobil lagi.
Anda akan ‘menelpon’ sebuah mobil untuk Anda, yang kemudian akan menjemput dan mengantar Anda ke tujuan.
Anda tidak akan perlu memarkirkan mobil Anda, Anda hanya akan membayar jarak yang Anda tempuh, dan dapat lebih produktif selama perjalanan.
Anak-anak kita tidak perlu lagi mendapatkan SIM atau memiliki mobil sendiri.
Hal ini akan mengubah banyak kota karena akan terjadi pengurangan 90-95% mobil karenanya.
Kita dapat mengalih fungsikan tempat parkir menjadi taman.
1,2 juta orang di dunia meninggal setiap tahunnya akibat kecelakaan mobil.
Sekarang ini kita mengalami 1 kecelakaan per 100.000 km, dengan adanya mobil otonom, angka ini akan turun drastis menjadi 1 kecelakaan per 10 juta km. Ini akan menyelamatkan sejuta jiwa per tahunnya.
Banyak perusahaan mobil akan bangkrut.
Perusahaan mobil tradisional dengan pendekatan evolusinya akan menciptakan mobil yang lebih baik, sedangkan perusahaan teknologi (Tesla, Apple, Google) dengan pendekatan revolusinya akan membangun ‘komputer beroda’
Saya telah berbicara dengan banyak engineer Volkswagen dan Audi, mereka semua sangat ketakutan dengan Tesla.
Perusahaan asuransi akan mendapatkan banyak masalah, karena tanpa kecelakaan, asuransi akan menjadi 100x lebih murah.
Bisnis model asuransi kendaraan akan punah.
Real estate akan berubah, karena jika Anda bisa bekerja dalam perjalanan, orang akan pindah jauh-jauh untuk tinggal di tempat yang lebih indah.
Mobil elektrik akan menjadi barang umum di tahun 2020 nanti.
Perkotaan akan menjadi tidak sebising sekarang mobil sudah menggunakan listrik.
Listrik akan menjadi makin ramah lingkungan dan murah; produksi tenaga surya bertumbuh secara eksponensial selama 30 tahun ini, tetapi baru sekarang-sekarang ini akan terlihat dampaknya.
Tahun lalu, lebih banyak tenaga surya yang dipasang dibandingkan tenaga fosil (migas, batubara).
Harga tenaga surya akan turun jauh hingga semua perusahaan batu bara akan gulung tikar di tahun 2025.
Dengan adanya listrik murah, air akan ikut menjadi murah.
Proses desalinasi kini hanya membutuhkan 2kWh/m3.
Kita tidak akan mengalami lagi kelangkaan air di sebagian besar tempat, hanya mungkin air minum saja yang akan langka.
Bayangkan apa yang mungkin terjadi jika air bersih dapat diakses oleh siapa saja secara gratis.
HEALTH – Kesehatan
Harga Tricoder X akan diumumkan tahun ini.
Akan ada banyak perusahaan yang membangun peralatan medis (nama “Tricoder” diambil dari Star Trek) yang akan bekerja melalui smartphone Anda, memindai retina Anda, mengambil sampel darah Anda, dan mendeteksi nafas Anda.
Alat ini kemudian akan menganalisa 54 tanda-tanda biologis yang dapat mengidentifikasi hampir segala jenis penyakit.
Harganya murah, sehingga dalam beberapa tahun saja, setiap orang di dunia akan mendapatkan akses kedokteran kelas dunia secara hampir gratis.
3D PRINTING – Printer 3 Dimensi
Harga Printer 3 Dimensi semakin murah turun dari $18.000 menjadi $ 400 dalam 10 tahun.
Dalam rentang waktu yang sama pula, kecepatannya menjadi 100 kali lebih cepat.
Semua perusahaan sepatu besar telah mulai mencetak 3 dimensi sepatu-sepatu mereka.
Suku cadang pesawat terbang juga sudah dicetak 3 dimensi di bandara-bandara terpencil.
Bandar udara antariksa pun sekarang memiliki sebuah printer yang mengeliminasi keperluan stok suku cadang yang besar.
Di akhir tahun ini smartphone generasi baru akan memiliki kemampuan memindai 3 Dimensi.
Anda akan dapat memindai 3 Dimensi kaki anda dan mencetak sepatu yang sempurna untuk Anda dari rumah.
Bahkan di China, orang telah membangun gedung 6 lantai dengan 3D Printing.
Pada 2027, 10% barang akan diproduksi dengan 3D Printing.
BUSINESS OPPORTUNITY – Peluang Bisnis
Jika Anda sedang berpikir spesialisasi apa yang akan Anda geluti, tanyakan ini kepada diri Anda sendiri:
“Di masa depan, apakah mungkin kita akan memiliki hal tersebut?”.
Jika jawabannya adalah YA, bagaimana Anda dapat membuatnya hadir lebih cepat?
Jika tidak dapat dilakukan dengan smartphone Anda, lupakan saja ide tersebut.
Dan setiap ide yang dirancang untuk berhasil di abad 20, pasti akan gagal di abad 21.
WORKS – Para Pekerja
70-80% pekerjaan akan hilang dalam kurun waktu 20 tahun ke depan.
Akan ada banyak pekerjaan baru, namun belum jelas apakah akan ada cukup lapangan pekerjaan dalam waktu yang singkat.
AGRICULTURE – Pertanian
Akan hadir robot agrikultur seharga $100 di masa depan.
Petani di negara-negara berkembang akan menjadi manajer dari ladangnya masing-masing dan tidak akan bekerja lagi di ladangnya. Aeroponics akan membutuhkan jauh lebih sedikit air.
Produksi daging premium telah ada sekarang ini dan akan menjadi lebih murah daripada daging sapi di tahun 2018.
Sekarang ini, 30% dari semua lahan agrikultur digunakan untuk memelihara sapi.
Bayangkan jika kita tidak membutuhkan lahan seluas itu lagi.
Beberapa pebisnis baru mulai memperkenalkan protein serangga di pasaran, di mana kandungan proteinnya jauh melebihi daging.
Protein serangga ini akan diberi label “sumber protein alternatif” (karena sebagian besar orang masih akan menolak untuk mengkonsumsi serangga).
Ada aplikasi bernama “Moodies” yang dapat mendeteksi mood Anda saat ini.
Di tahun 2020 akan ada aplikasi yang dapat mendeteksi ekspresi wajah Anda jika Anda berbohong.
Bayangkan jika dalam debat politik, dapat terlihat siapa yang berbohong/jujur.
Bitcoin akan menjadi barang umum dan bahkan mungkin akan menjadi standar nilai tukar cadangan.
LONGEVITY – Harapan Hidup
Saat ini rata-rata umur harapan hidup manusia bertambah 3 bulan setiap tahunnya.
Empat tahun lalu harapan hidup manusia adalah 79 tahun, sekarang 80 tahun.
Angka ini akan terus bergerak naik, dan pada tahun 2036, umur harapan hidup manusia akan mencapai 100 tahun.
Karawang, 190616
Dibacakan oleh Mr Endang Rahmat
Di briefing pagi inspirasi dan motivasi NICI
Pada hari Selasa 12 Juli 2016