Bumi Manusia #27 – Pramoedya Ananta Toer #2

image

Klimak to the maxxx. Amazing. Bombastis. Specchless. Luar biasa. Two thumbs up. Wonderfull. Brilian. Buku gila! Silakan sebut kata pujian yang pernah tercipta di dunia ini untuk menyatakan kekaguman tak terperi terhadap sebuah karya sempurna. ‘Bumi Manusia’ adalah kosa kata baru untuk sebuah puja-puji seorang kutu buku yang takjub saat selesai melahab lembar-lembar fenomenal Penulis Besar. Beginilah sebuah buku harusnya diramu dan dituturkan, jelas novel ini tidak ditulis dengan tinta. Warisan Indonesia untuk dunia ini digurat dengan goresan emas penuh ketelitian seorang maestro. Buku kedua Pram yang saya nikmati ini sekaligus menasbihkan sebagai buku terbaik sepanjang masa untuk kategori lokal. Tiap kalimatnya berdenyut seolah Pram bercerita tepat di hadapan kita, berkisah zaman dahulu kala di era cikalbakal nation Indonesia. Berlebihan? Tidak! Jelas seri pertama tetralogi Buru ini sebuah masterpiece tak terbantahkan.

Inilah buku baca target Ramadan 2016 yang pertama kuhabisi. Kisahnya runut. Kalau mau jeli Pram sudah memaparkan ending di pembuka, namun tersamar. Keseluruhan kisah adalah kumpulan catatan pendek sang tokoh utama lalu setelah tiga belas tahun, catatan itu dibacai dan dipugar menjadi cerita penuh gejolak. Minke (baca Mingke) adalah pemuda yang dikagumi di sekolah H.B.S Surabaya, sekolah setara SMU di zaman Belanda. Hanya orang-orang dari Eropa yang bisa sekolah di H.B.S. atau para priyayi atau anak Bupati. Nah Minke ini istimewa, mengaku orang biasa yang dititipkan untuk belajar di sana. Seorang pribumi di sekumpulan orang asing, di tanah Jawa, tanah kelahirannya.

Dengan setting awal abad 20 dimana dunia dihadiahi penemuan-penemuan spektakuler. Mesin cetak yang bisa membuat ratusan gambar dalam sehari. Kereta api yang bisa menghubungkan Betawi-Surabaya dalam tiga hari. Listrik yang asing. Segalanya tampak mewah dan megah. Minke, tentu saja terpukau akan dahsyatnya zaman itu. Sungguh merugi generasi sebelum aku – generasi yang sudah puas dengan banyaknya jejak langkah sendiri di lorong-lorong kampungnya itu. Betapa aku berterima kasih pada semua dan setiap orang yang telah berjerih-payah untuk melahirkan keajaiban baru itu. Era modern telah tiba.

Suatu hari Minke diajak teman sekolah Robert Suurhof ke Boerderij Buitenzog, sebuah Perusahaan Pertanian di Wonokromo. Orang mengenal tempat itu milik tuan Mellema yang mempunyai gundik – nyai Ontosoroh. Perusahaan ini dijaga oleh pendekar Madura bernama Darsam dan pasukannya. Robert mengajaknya ke sana, awalnya sekedar main naik dokar dan berkenalan dengan putra Mellema yang bernama Robert juga. Nah berikutnya bagian ketika Minke terpesona itu dituturkan dengan sangat indah, nan memikat.

…suasana baru tergantikan: di depan kami berdiri seorang gadis berkulit putih, halus, berwajah Eropa, berambut dan bermata pribumi. Dan mata itu, mata berkilau itu seperti sepasang kejora; dan bibirnya tersenyum meruntuhkan iman. Kalau gadis ini yang dimaksudkan Suurhof, dia benar: bukan saja menandingi malah mengatasi Sri Ratu, dari darah dan daging, bukan sekedar gambar. “Annelies Mellema,” ia mengulurkan tangan padaku, kemudian pada Suurhof. Suara yang keluar dari bibirnya begitu mengesani, tak mungkin dapat kulupakan seumur hidup. – halaman 13-14

Dari perkenalan itulah Minke jatuh hati. Cinta pada pandangan pertama. Ann yang jelita ternyata juga mencinta. Nyai Ontosoroh diluarduga Minke, setuju. Sebagai pribumi yang dimadu meneer dirinya tetap seorang Jawa. Kisah panjang Nyai Ontosoroh pun diungkap dengan alur yang brilian. Bernama asli Sanikem, dipungut dengan paksa di usia belia. Sebagai gundik, pernikahan tak sah walau tuan Mellema pernah mencoba mengesahkannya di pengadilan. Nantinya akan jadi kejutan kenapa mereka tak bisa mendapat akta nikah. Ann ini adalah bidadari sepanjang jalinan cerita. Sebagai anak mami yang manja dan suka merajuk, cintanya pada Minke diperjuangkan dengan pertaruhan besar.

Minke sendiri akhirnya diungkap identitas aslinya ketika ke kota B. Setelah dijemput paksa oleh polisi utusan menyeretnya naik kereta dan tahulah kita, pribadi Minke yang katanya tak jelas asal usulnya adalah bohong. Nama Minke sendiri bukanlah nama asli, tapi nama pemberian seorang guru Meneer Ben Rooseboom ketika ia masih sekolah dasar kelas satu E.L.S. . Sebuah teriakan kasar yang baru diketahuinya saat belajar bahas Inggris, Minke – Mon… hebat. Detail seremeh ini dibuat dengan memikat.

Sekembali dari kota B. Banyak hal berubah. Rutinitas ke Wonokromo, diberi bendi gratis untuk berangkat sekolah dan pulang-pergi berkunjung. Bendi, di zaman itu sangatlah mewah dan setiap siswa memandang takjub. Kereeeen. Mungkin siswa-siswi itu bergosip betapa kudanya gagah, rodanya bertektur lembut dengan akurasi bulat yang presisi. Talinya dicetak dengan pegangan selembut sutra agar sang kusir saat menariknya terasa lunak. Yah, itu imajiku mengira-ira saja percakapan anak zaman pra-kemerdekaan.

Setelah berpanjang lebar penuh makna tiap kalimat, Pembaca akhirnya disuguhkan konflik yang sebenarnya. Sang pemilik Perusahaan, suami nyai, ayah Ann yang jarang pulang akhirnya nongol di rumah mewah saat acara malam. Melihat seorang pribumi di sana, mencak-mencaklah dia. Debat kusir, caci maki, sumpah serapah. Untung Nyai menyelamatkan momen sehingga Minke ga dibedil kepalanya.

Robert Mellema pun membencinya. Robert Suurhof iri padanya. Minke mencurahkan pemikirannya pada koran lokal. Dengan nama samaran Nederland tentunya. Tuan Telinga, sang induk semang tempatnya tinggal mencoba membantu. Temannya dari Perancis, Jean Marais seorang mantan tentara korban perang Aceh yang kini jadi pelukis menasehatinya. Bersama anaknya May yang senang untuk diikuti. Ketika seakan dunia memusuhi Minke, muncullah guru pujaannya sebagai penyelamat, bu guru Magda Peters.

Konflik yang mereda itu tenyata hanya awal. Saat kita sedang terhanyut tenangnya aliran, kita dihentak lagi gelombang kasus yang lebih rumit. Sebuah kejadian memilukan di tempat pelesir Ah Tjong menyeret kisah ini ke pengadilan. Panjang nan berliku, walau akhirnya serasa memenangkan kasus. Sebuah fakta mengejutkan dicipta Pram lagi dan lagi. Saat akhirnya cerita seakan sampai di puncak kegembiraan, semua senyum bahagia (pembaca) langsung pudar bak piring pecah yang dibanting di lantai, dihempaskan dengan kekuatan penuh laksana istri yang marah melihat suaminya main PS mulu. Hancur berkeping-keping, sangat memilukan. Nah, bagaimana akhir kisah Minke pemuda masa kini menghadapi masalah orang dewasa. Pribumi melawan Londo. Berhasilkah ia menyelamatkan satu-satunya yang sangat dicinta? Buku fantastis ini sangat amat layak didongengkan pada anak cucu, dipajang di rak perpustakaan keluarga, dibalut dengan pita manis dan diajarkan di sekolah dari generasi ke generasi. Elok nian buku lokal bisa seperti ini.

Apa peran Minke untuk kemerdekaan tak dijabarkan di sini. Mungkin akan dikisahkan di sekuel Anak Semua Bangsa. Karena Minke menggunakan nama samaran, kita pasti ikut menerka liar siapa sebenarnya karakter ini. Apakah salah satu pahlawan Nasional kita? Apakah salah satu penggerak Boedi Oetomo? Ataukah tokoh antah tak tersebut di buku-buku sejarah di sekolah dasar kita? Pastinya segala tanya itu akan nikmat ketika diketahui sendiri dalam bacaan tanpa bocoran dari siapapun.

Setiap lembar Bumi Manusia ini layak kutip dan patut di pajang di dinding-dinding kafe anak gaul. Namun rasanya tak mungkin diketik ulang semuanya kan. Paling bijak memang, adalah kalian baca sendiri dan nikmati sensasinya.

Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan atau satu kelemahan. – halaman 57

“Mas!” itulah untuk pertama kali ia memanggil aku – panggilan yang mendebarkan, menimbulkan suasana seakan aku berada di tengah keluarga Jawa. – 65
Aku harus tabah, kubisikkan pada diri sendiri. Takkan ada yang menolong kau! Semua setan dan iblis sudah mengepung aku. – 87

Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan jadi apa-apa. – 99

Kursi goyang adalah peninggalan terindah dari kompeni sebelum mengalami kebangkrutannya. Aduhai, kursi goyang kau akan jadi saksi bagaimana aku harus menghinakan diri sendiri untuk memuliakan seorang bupati yang tak kukenal. – 131

Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah tak pernah melihat kitab dalam hidupnya tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan. – 233

Dunia, alam, terasa hilang dalam ketiadaan. Yang ada hanya dia dan aku yang diperkosa oleh kekuatan yang mengubah kami jadi sepasang manusia purba. – 267

Uh Darsam, seribu orang seperti kau dengan dua ribu parang sekaligus tak akan mampu menolong kami. Bukan soal daging dan baja, Darsam. Ini soal hak, hukum dan keadilan. Tak dapat kau lindungi dengan silat dan parangmu. Tiba-tiba datang bantahan: kau harus adil sudah sejak dalam pikiran, Nyo! Jangankan Darsam yang berparang dan pendekar, batu-batu bisu pun bisa membantumu – kalau kau mengenal mereka. Jangan sepelekan kemampuan seseorang, apalagi dua! – 379

Oiya saya menuntaskan baca buku di kantor di tempat duduk saat istirahat kerja. Ketika lembar-lembar terakhir dalam angan jam masuk kerja sudah datang. Bersamaan muncullah rekan kerja buku ini kelar. Saya menangis tersedu malu dilihat sahabat. Saya membanting buku ini di meja saking sedihnya. Teman-teman terheran dan menyindir, betapa laki-laki menangisi akhir cerita. Sembari mengambil tisu saya berceloteh, betapa bangganya saya sebagai Indonesia memiliki penulis bernama Pramoedya Ananta Toer.

Bumi Manusia | oleh Pramoedya Ananta Toer | editor Joesoef Isak | Kulit depan Si Ong (Harry Wahyu | Design buku Marsha Anggita | Penerbit Hasta Mitra – Lentera Dipantara | Edisi ketujuh, Februari 2001 | ISBN 979-8659-12-0 | Skor: 5/5

Karawang, 230416 – #Sherina Munaf – Dua Balerina

Iklan

The Incredible Journey #26

image

Berani taruhan, kalian (mayoritas) belum baca buku ini. 9 dari 10 pecinta buku bilang tak tahu ini buku tentang apa. Padahal bukan buku snob, bukan buku cult atau sebuah karya illegal. Ini buku sederhana cetakan Gramedia yang umum. Tapi kenapa banyak yang belum baca padahal ini novel sudah diadaptasi ke film dengan judul Homeward Bound: The Incredible Journey. Dengan embel-embel seri klasik harusnya buku ini masuk jajaran hebat, sudah melewati waktu sampai lebih dari lima dekade. Namun untuk kali ini saya kurang suka kisahnya. Tentang perjalanan binatang-binatang: Luath, anjing Labrador muda bermata cokelat. Tao, si kucing Siam yang cantik dan Bodger, anjing Bull Terrier yang tua dan mata kirinya nyaris buta.
Ketiga sahabat ini melintasi hutan belantara dan berjuang mencari jalan pulang kepada orang-orang yang mereka cintai. Luath yang setia dan pemberani selalu berjalan di sisi kiri Bodger untuk menandunya. Budget sangat menyukai manusia, terutama anak-anak dan meski sudah tua dia masih tetaplah anjing petarung yang tak kenal takut. Sedangkan Tao, meski bertahan hidup sendiri dia tak mau meninggalkan kedua anjing itu dan kehadirannya sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.
Buku dibuka dengan sebuah kutipan dari Leaves Grass, “Song of myself”, 32 karya Walt Whitman: Kurasa aku bisa pindah dan tinggal dengan binatang, mereka begitu tenang dan mandiri. Aku berdiri memperhatikan mereka lama sekali. Mereka tak ribut dan berkeluh kesah tentang kondisi mereka; Mereka tak berbaring nyalang dalam gelap dan meratapi dosa-dosa mereka; Mereka tak membuatku muak dengan celotehan tentang kewajiban kepada Tuhan; Tak satu pun tidak puas, tak satu pun kerajingan materi; Tak satu pun tunduk pada yang lain atau pada leluhurnya yang hidup ribuan tahun lalu; Tak satu pun terbebani atau giat menguasai bumi.
Sebuah patokan bahwa kisah ini akan memperlihatkan para binatang bisa berfikir dan mengambil tindakan. Sebuah fabel? Ternyata bukan. Kisah ini tetap mengacu pada fakta bahwa para binatang itu tetaplah hewan dengan segala nalurinya. Jadi, tetap mengacu pada habit. Perjalanan ini terjadi di wilayah Kanada di provinsi Ontario yang membentang lebar. Wilayah itu dipenuhi hutan lebat serta aliran danau-danau dan sungai-sungai yang tak putus. Ribuan mil jalanan-jalanan desa, jalur pengangkutan kayu serta jalan-jalan setapak penuh ilalang yang mengarah ke tambang terbengkelai, lintang-melintang di wilayah itu.
John Longridge tinggal beberapa mil dari salah satu kota kecil, dengan rumah batu tua milik keluarganya dari generasi ke generasi. Lajang berusia 40 tahun seorang Penulis. Rumahnya diurus oleh pasangan Mrs. Oakes dan suami Bert yang tinggal di pondok kecil sekitar 1 kilometer. Mr. Longridge memiliki dua anjing dan satu kucing. Suatu hari ia akan melakukan perjalanan jauh, sebagai penulis yang butuh riset lokasi ia sering bepergian. Ia menelpon Mrs. Oakes untuk memberitahunya, sayang jaringan telpon sedang bermasalah dan suara yang disampaikan kurang jelas serta terputus sebelum semua maksud tersampaikan.
Mr. Longsridge akan melakukan perjalanan ke Danau Heron yang sepi. Sebelum berangkat ia menulis pesan di buku memo kecil. “Dear Mrs. Oakes tolong pesan kopi dan ganti makanan kaleng yang kuambil. Aku akan membawa anjing-anjing (dan tentunya Tao)…” Kertasnya habis dan Longridge melanjutkannya di kertas memo lain, “….keluar untuk lari-larian sebelum aku pergi, dan jangan memberi makan mereka. Jadi jangan biarkan teman putih rakus kita mengaku kelaparan! Tidak usah terlalu repot mengurusi mereka – aku tahu mereka akan baik-baik saja.”
Dia meninggalkan kertas itu di meja, di bawah pemberat kertas dari kaca. Esoknya ia berangkat meninggalkan peliharaannya. Ia tak pernah mengkhawatirkan mereka karena percaya bahwa Mrs. Oakes bisa menjaganya selama pergi. Ketika pergi ia melambai pada para binatang dan merasa sedikit konyol melakukannya, “Memangnya aku berharap mereka berbuat apa? Balas melambai? Atau berteriak ‘Selamat tinggal’? Masalahnya aku sudah terlalu lama tinggal sama mereka dan menjadi terlalu tergantung dengan mereka.” Mungkinkah ini sebuah pertanda ia akan berpisah sama perliaharaan tercinta?
Setelah beberapa saat berlalu. Si anjing muda berjalan keluar, diikuti si tua. Dan Tao, si kucing setia mengekor. Mereka bertiga berjalan melakukan petualangan mencoba mengikuti tuannya menuju Danau Heron. Kita semua tak tahu apa yang ada di pikiran para binatang karena memang kita hanya akan mengikutinya dalam Bahasa ‘meong’ dan ‘guk guk’. Permasalahannya Mrs. Oakes menemukan catatan memo itu hanya di lembar pertama yang bertuliskan, “…Aku akan membawa anjing-anjing (dan tentunya Tao)…” jadi dia cuek saja saat mengurus rumah tak menemukan satu binatang pun. Dengan pemikiran Mrs. Oakes bahwa binatang dibawa tuannya dan Mr. Longridge berfikir peliharaan ditinggal, miss komunikasi ini memberi konsekuensi trio ini sepertinya terabai. Nah kisah ini menjelaskan perjalanan panjang mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, berpetualang bersama kawan. Berhasilkah mereka menemui tuannya? Dengan selamat? Ataukah ada yang tewas? Tersesat? Kelelahan terutama di tua Bodger.
Template cerita sih bagus, sayangnya tak banyak konflik yang membuat jantung berdebar. Beberapa bagian mengingatkanku pada kisah anjing Hachiko yang setia pada taunnya, beberapa membuatku ingat peliharaanku si Brown, anjing masa kecilku. Beberapa lagi datar dan tak memberi daya kejut. Yah, standar kisah hewan-hewan manis yang tersesat.
Satu kutipan yang bagus layak dibagikan: Pada tengah malam, si anjing tua duduk tegak dan gemetar hebat karena kedinginan. Ia mengangkat kepala tinggi-tinggi dan melolong, melantunkan duka cita serta kesepiannya ke arah langit yang menangis, dan sampai akhirnya si anjing muda bangkit dengan berat dan memimpinnya menjauh dari sungai melintasi bukit ke arah barat, jauh sebelum fajar tiba. – halaman 68
Yang hebat dari buku ini based on true event, artinya segala tindakan cinta kasih hewan itu nyata. Mereka bahu membahu, saling setia saling manjaga. Luar biasa. Jadi ide cerita bisa dari mana saja, sudut pandang aja saja, bahkan dari persahatan binatang. Ingat, ini bukan fabel jadi tetap manusialah yang menghidupkan alur, ketika kisah diambil dari sudut pandang binatang, Tao misalkan kita hanya bisa mengikuti gerak-geriknya tanpa tahu apa yang ada di dalam kepalanya. Hhhmm… hebat juga ya. Sayangnya secara keseluruhan kisahnya klise, tak banyak letupan tak ada yang wow dalam jalinan kisah. Yah, setidaknya tak ada blunder konyol si Bodger tua berdansa dan bernyayi ala film-film Madagaskar, kan?!
The Incredible Journey | by Sheila Burnford | copyright The estate of Sheila Burnford, 1961 | Diterjemahkan ke Perjalanan Pulang | Alih Bahasa Rosemary Kesauly | GM 402 01 12 0033 | Design ilustrasi sampul Satya Utama Jadi | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Juni 2012 | 144 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-8171-2 | Skor 3/5
Ruang HR NICI – Karawang, 290616 – Sherina Munaf – Sing Your Mind
#26 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku