Ford County – John Grisham

Segelas minuman untuk sarapan merupakan cara terbaik untuk memulai hari.”

Wow. Benar-benar wow. Kota kecil memang hebat. Kota kecil Karraway disebut, namanya mirip dengan kotaku tercinta. Orang bilang kita menulis apa yang kita ketahui. Mungkin karena saya jarang menikmati cerita-cerita pengadilan dan sejenisnya, mungkin karena ini karya awal Grisham yang kubaca sehingga belum terbentuk pola. Mungkin. Yang jelas sungguh nikmat sekali kisah-kisah di sini. Kumpulan cerpen pertama Grisham, berisi tujuh cerpen yang lumayan panjang. Sesuai judulnya, semua kisah bermuara di Ford County, Missisippi, Amerika, tempat yang sama dengan novel pertama beliau A Time To Kill, belum kubaca. Buku pertama yang kunikmati adalah A Paint House, dan langsung terpesona gaya ceritanya. Kesempatan kedua, lebih hebat lagi. A Short Story.

#1. Perjalanan Berdarah
Pembuka yang sangat bagus. Pemicunya adalah Bailey yang cedera saat bekerja di Memphis, petugas rumah sakit dan mandor menelpon ibunya di Missisippi. Kehebohan terjadi di kampung itu, laiknya tetangga yang peduli sesama. Banyak spekulasi terkait musibah yang terjadi, salah satunya kebutuhan darah sang korban. Saat itu malam Jumat, Wayne ‘Aggie’ Agnor mengajukan diri dengan mobil bak terbukanya. Ia adalah pemuda yang sudah punya pacar, punya pekerjaan lumayan mapan dan tampa pamrih mencoba bantu. Awalnya tak ada respon dengan siapa ia akan ke sana, orang-orang saling tunjuk dan tuding. Pada akhirnya Calvin dan Roger menemani. Calvin yang polos dan masih sangat muda, seorang pemuda pengangguran dan keinginan pertama kali melihat Mephis dengan bermobil. Sedangkan Roger ialah seorang pencandu obat terlarang, tukang mabuk dan benar-benar hopeless. Dia tak mengajukan diri, tapi ayahnya yang menunjuk. Maka perjalanan yang seharusnya makan waktu dua jam itu berantakan. Seperti judulnya, perjalanan ini berdarah. Niat mau menyumbang darah untuk rekan mereka berubah menjadi petaka, mulai dari berkendara sambil mabuk, kencing di rumah orang, baku tembak di pelataran parkir rumah sakit sampai puncaknya iseng ke klub striptis yang berakhir rusuh.

Secara cerita jelas, kisah dibawakan dengan luar biasa indah. Tak mengawang-awang, realistis begitu dekat dengan sekeliling kita, seolah templatenya diubah dari Karawang ke Jakarta menjadi perjalan dua kota di Amerika. Satu orang normal, satu orang polos dan seorang perusak. Benar-benar enak dikunyah, mengalir dengan nyaman sampai akhirnya sebuah tonjokan menutup cerita absurd ini. “Ini senter, mungkin kau bisa melihat apa yang kau tembak.”

#2. Menjemput Raymond
Dia hadir ketika dilahirkan, dan akan hadir ketika mereka dikalahkan. Kisah kedua sama manakjubkannya, tentang perjalanan jua, kali ini sungguh misterius. Pembaca tak diberitahu sedari awal mereka mau ngapain. Hanya percikan-percikan narasi bawah Leon si sulung, Butch anak nomor dua dan ibunya Nyonya Inez Graney sedang menuju pernjara Parchman untuk menjenguk Raymond, ataukah menjemput dalam artian lebih luas, Si bungsu yang bermasalah. Perjalanan yang sedih, seolah memberitahu kita keluarga ini dalam dilematis. Awalnya Pembaca digiring, mereka ke penjara untuk membawa pulang si anak Bengal, lalu di tengah terdapat tikungan berubah arah, ke sana untuk banding pengadilan, lalu mendekati akhir berubah lagi, ternyata masalah yang dihadapi sungguh pelik. Surat-surat itu melelahkan dirinya. Lirik lagunya membuatnya mengantuk. Novel-novel itu membuatnya migrain. Puisinya tidak bisa diselami.
Endingnya mengejutkan.

Mengerikan. Luar biasa apa yang menjadi factor utama mereka ada di sana. Inilah cerpen terbaik dalam daftar ini. Salut atas jalinan plot yang sebenarnya tak rumit tapi ditata dengan sangat rapi, menyimpan kejutan kecil demi kejutan kecil. Dialog dalam mobil yang padat dan penuh petuah, jaring kenangan dilontarkan pas dan bagaimana sebuah diakhiri dengan ‘manis’. “Sebagian besar biaya yang dikeluarkan Raymond telah dihabiskan untuk membiayai karier sastranya. Kertas, prangko, mengetik, menyalin, mengirim ke New York dan kembali lagi”

#3. Arsip Bau Busuk
Kali ini kita diajak menjadi pengacara di kota sepi ini, jauh dari hingar bingar New York. Mack Stafford adalah seorang lulusan hukum yang menjalani kehidupan membosankan. Mempunyai kantor bantuan hukum, menjadi pengacara-pengacara kasus biasa mulai dari perceraian, kasus kebangkrutan, perebutan hak waris dan seterusnya. Kasus-kasus kecil orang kebanyakan. Kehidupan 17 tahun yang biasa berubah seketika saat dapat telpon dari New York, bahwa sebuah kasus lama yang melibatkan perusahaan Tinzo meminta kasus ini ditutup. Kasus kecelakaan kerja karena mungkin karena kesalahan mesin gergaji. Kasus yang sejatinya sudah terlupa, Mack menjadi pembela dua kasus kecelakaan kerja, arsipnya bahkan sudah berdebu. Telpon itu mengkonfirmasi bahwa pihak tergugat meminta semua berkas ditutup secara rahasia dan tak boleh ada bocoran ke siapapun karena perusahan yang mangakusisi tak ingin ke depannya ada masalah. Biaya yang ditawarkan mencapai setengah juta Dollar, membuat Mack terkejut karena nominalnya jauh melebihi harapan. Maka iapun menyusun rencana. Diberi waktu seminggu untuk memutuskan. Tercenung dan mencoba untuk menganalisis satu-satunya kontak fisik yang bisa diingatnya selama masa dewasanya.

Uang sebesar itu akan ia gunakan untuk: menutup mulut para korban, ada dua masing-masing 20 Ribu dollar dan korban yang jua sudah melupakan karena proses berbelit sakng lamanya dengan senang hati menerima sehingga ketika disodorkan kertas untuk tandatangan dengan gampang diraih. Pecat sekretaris, ceraikan keluarga, dan ia ingin hidup tenang, jauh dari segala kesibukan. Lalu seminggu kemudian saat ia menelpon Marty Rosenberg dari Durban & Lang, semua tampak meragu. Wait

Keinginan Mack untuk melepas segala kesibukan yang memuakkan untuk tenang dengan uang melimpah di tempat tropis adalah harapan kebanyakan para pekerja saat ini, mayoritas! Ya bagaimana ia dengan berani mengambil langkah ini. Salut! Saya sendiri kepikiran langkah yang sama, istirahat di desa dekat Solo dengan uang yang cukup. Yang sulit jelas, memutus hubungan, segala hubungan, padahal keluarga yang bagi Orang Indonesia adalah segalanya. “Aku sudah kehilangan bisnisku sejak lama.

#4. Kasino
Ini cerpen sama gilanya. Dituturkan dengan tenang, bagaimana seorang penjahat Bobby Charl Leach mencipta kasino Lucky Jack. Tempat judi di kota kecil Ford County. Dengan jalan berliku, menjadi warga suku Yazoo, mencipta pengesahan dengan kepala Suku Larry dan proses legal sehingga sebuah kasino akhirnya berdiri. Awalnya berjalan dengan wajar, normal sesuai harapan, menjadi kebanggaan dan uang mengalir. Mencipta undian pelesir yang sudah diatur, membuat jackpot yang sudah diatur dengan orang-orang terdekat, sampai memancing warga untuk membuang uang di sana. Dapur tidak sebersih yang kubayangkan dan aku mulai membuat catatan di dalam hati.

Sampai akhirnya cerita terpecah dengan keluarga biasa, Sidney Lewis dan istrinya yang hidup membosankan. Saat istrinya minta cerai, dan melanjutkan mimpi, Sidney yang klontang-klantung mencoba membalas dendam. Sang istri kini menjadi selir Bobby, dan ia pun melancarkan aksi ke kasino dengan brilian. “Aku datang ke sini dengan membawauang tunai dan aku akan pergi dengan membawa uang tunai.”

#5. Kamar Michael
Luar biasa, lagi. Saya terkesan. Ini kisah diluar batas, bagaimana sebuah amarah mencipta cerita berkualitas. Dengan template jadul, balas dendam kisah ini digulirkan dengan lembut, awalnya. Sampai ditengah kita dihentakkan fakta-fakta mengerikan. Bagaimana hasil persidangan yang tak adil, menyeret seorang pembela menemui sidang di kamar Michael. Stanley Wade, pulang larut sesuai kepenatan bekerja, ia dititipi istrinya untuk beli makanan beku. Tak disangkanya, ia diculik. Dengan sebuah mobil dan todongan senjata, Wade dibawa ke sebuah rumah pengap. Sejatinya ia pasrah, mencoba bertahan hidup dengan belas kasih, ketika nyawa sudah di ujung dengan mulut pistol di dahi, ternyata kata-kata maaf bisa menjadi penyelamat.
Dengan intensitas cepat, walau settingnya sederhana kita disuguhi persidangan kecil. Pengacara yang dulu membela orang kaya, Wade benar-benar mendapat hikmah kehidupan. “Wah, pekerjaanmu busuk Wade, karena melibatkan berbohong, menggertak, mengganggu, menutup-nutupi, tidak menunjukkan belas kasihan sedikitpun untuk orang yang terluka. Aku membenci pekerjaanmu Wade, hampir sebanyak kebencianku padamu.”

#6. Quiet Haven
Kisah luar biasa lagi. Motif utama disimpan, di rumah pensiunan, di tempat kakek-nenek yang renta, di panti jompo sebuah rutinitas membosankan mencipta drama. Seorang perawat laki-laki melamar untuk sebuah kesenangan. Dia dan aku sama-sama tahu bahwa aku akan mendapatkan pekerjaan ini karena iklan tersebut telah dipasang selama dua bulan. Pilihan aneh bagaimana menyusun kesenangan bersama orang-orang tua terlupa? Gilbert Griffin memang sudah ganjil bernarasi sejak mula. Ia berlalu bertendesi bahwa kedatangan seakan iseng, bahwa rencananya tak lama, menyusun sebuah kejahatan terstruktur. Kukira bakalan klise, mencuri sebuah benda kuno? Mengambil barang penting di panti? Atau membuat kegaduhan dendam lama yang perlu dituntaskan. Oh tidak, Grisham dengan hebat mementahkan spekulasi. Membuat lonjakan kejut yang mengerikan. “Putus cinta di Tupelo, aku membutuhkan suasana baru.
Kami menari-nari melalui omong kosong biasa tentang bagaimana keadaanku, apa yang kupikirkan tentang pekerjaan ini, bagaimana hubunganku dengan karyawan lain.

Di rumah pensiunan Quiet Haven, ia menjadi perawat kesayangan orang-orang renta, membuat impress yang manis dengan para staf, membuat terkesima para pekerja lain, bonusnya ia pun akrab dengan sang induk semang tempatnya menyewa kamar. Benar-benar tampak anak manis yang sempurna. Jumlah orang, terutama panti jompo, yang tidak pernah repot-repot menuliskan surat wasiat sangatlah menakjubkan. Mr. Spurlock yang ganjen di usia tuanya menjadi teman akrabnya. Mengajak nonton bioskop, menemani bermain catur, sampai pada suatu titik bahkan mendatangkan pelacur. Perawat yang unik dan diluar batas kewajaran. Sampai akhirnya motif utama Gilbert diungkap. Wow. Jika memang wanita kulit hitam memasak di sini, maka aku tahu bagaimana cara mendapatkan gosip. Sanjungan tidak akan berhasil, karena wanita seperti ini dapat mencium omong kosong dari sekian kilometer. “Aku merasa terhormat. Mari kita pergi.”

#7. Anak Yang Aneh
Akhir yang tragis, trenyuh. Anak orang kaya yang kena Aids, menyepi di rumah jelang akhir hayatnya. Mungkin ini hanya sifat orang-orang selatan. Kita semua pada akhirnya akan pulang kampung. Di rumah wanita keling pelayan Emporia, ia dijanjikan hak atas rumah dengan mengurusi sang tuan rumah. Tetapi persepsi adalah segala-galanya. Beberapa saudara dan saudari Anda di sini berpikir Anda sudah gila karena malakukan hal ini dan mereka takut. Tetangga, warga sekitar yang tahu bahwa Adrian penyakitan pada menjauh, antisipasi untuk tak bersentuhan. Sebuah paranoid berlebih. Endingnya sendiri sangat menyentuh hati. Bagaimana masa muda memang membuat banyak orang mabuk kepayang, dan segala tingkah berlebih itu membuat penyesalan tak berujung. Mengidap penyakit bukan kejahatan, ya kan?

Namun poinnya bukan itu. Adrian yang di ujung kehidupan tinggal tulang dibalut kulit memberitahu kita, sebuah perenungan mendalam. Ia menghabiskan menit-menit akhir dengan membaca semua karya William Faulkner. A fable, Requiem for a Nun, The Unvanquished mungkin yang paling rumit. The Sound and Fury yang luar biasa itu juga mempesonanya. Di akhir ia memberi novel pas As I Lay Dying.Lihatlah rumah tua ini, mereka terlalu miskin untuk mengecatnya dan terlalu sombong untuk menjualnya.”

Setiap ulang tahun mungkin menjadi yang terakhir, tetapi kurasa hal itupun berlaku bagi kita semua. Namun hal itu lebih terasa bagi beberapa orang.

Ford County | By John Grisham | Copyright 2009 by Belfry Holding, Inc. | GM 402 01 12 0066 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Fahmi Yamani | Editor Yosef Bayu Anangga | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Cetakan pertama, Juni 2012 | 416 hlm.; 18 cm | ISBN 978-979-22-8584-0 | Skor: 5/5

Karawang, 201118 & 041218
Nikita Willy – Maaf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s