Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat – Mark Manson

Saya merasa sangat buruk, tapi terus kenapa? Apa pedulimu?

Masa bodo atau bodo amat adalah memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan dan mengambil suatu tindakan.

Jika seseorang merasa bahagia, dia tidak akan di depan cermin dan mengulang-ulang ucapan dia bahagia. Dia bahagia, ya bahagia begitu saja. Akhirnya saya berkesempatan baca book of the year. Bukunya cetak ulang tiap bulan, masuk best seller di hampir semua penjual buku daring yang kukenal. Nangkring di rak buku terlaris di Gramedia Karawang, dan gaungnya sungguh mempesona di beberapa grup diskusi buku. Kesempatan baca itu datang lewat teman kantor, Titus Pradita yang membaca status WA. Gambar yang kufoto dari Grmaedia, setelah kubaca dua bab awal itu dikomentari, dikompori dan diwujudkan nyata lewat beli ke Dema Buku. Maka Senin, 3 Des dan keesokan harinya setiap katanya sudah kutuntaskan. Hasilnya? Mari kita kupas. Budaya kita hari ini terlalu terobsesi akan harapan yang mustahil terwujud: menjadi lebih bahagia, menjadi lebih sehat. Menjadi lebih baik. Menjadi lebih pintar. Lebih kaya. Lebih seksi. Lebih populer. Lebih produktif. Lebih diinginkan. Lebih dikagumi. Menjadi sempurna.

Kebahagiaan itu bersifat algoritmis, bisa diotak-atik dan diperoleh dan dicapai seperti masuk sekolah hukum atau membangun set Lego yang sangat rumit. Pada dasarnya, Mark mengarahkan untuk tak sebodo amat yang kita anggap, saya kira kisahnya akan menjerumuskan pembaca untuk teriak ‘cuek is the best’. Enggak seekstrem itu. Cuek memang dianjurkan di era digital, di mana kita mendapat limpahan informasi, kita harus selektif. Tidak ada yang namanya tidak peduli. Kita memilih untuk mempedulikan apa nilai yang kita pilih sebagai dasar tindakan kita? Apakah Anda tahu siapa yang menyandarkan seluruh hidup pada emosi? Balita. Dan anjing. Anda tahu selain balita dan anjing? Tahi di karpet. Kata-katanya mungkin terdengar kasar, tapi memang kita dihantamkan pada kenyataan-kenyataan hidup. Perbaikan diri dan kesuksesan kadang terjadi bersama. Namun itu tidak lantas berarti keduanya adalah hal yang sama. Usaha untuk menyembunyikan rasa malu adalah bentuk malu itu sendiri.

Masa bodo kemanapun Anda pergi, akan ada 300 kilogram kesulitan yang menanti. Dan itu tak apa-apa. Intinya bukan menghindari kesulitan, tapi menemukan kesulitan yang Anda pilih dan nikmati. Ada dua kisah inspiratif bagaimana Metallica dan The Beatles mencipta sejarahnya. Pete Best ada yang kenal? Enggak? Saya juga. Ia adalah anggota band Beatles sebelum didepak dan digantikan Ringo Starr, Best berontak dan frustrasi, walau akhirnya mensyukuri hidup. Ada yang kenal gitaris Dave Mustaine? Ya, penggemar Megadeth pasti tahu, sang gitaris ini awalnya adalah anggota Metallica yang didepak saat akan rekaman, Megadeth adalah bentuk kekecewaan, ingin balas dendam dan pembuktian bahwa Dave bisa. Tapi Dave tetap merasa gagal karena band nya ga sebesar Metallica. Lihat, sungguh dunia penuh ironi bukan? Rasa sakit dan kehilangan tidak dapat dielakan dan kita harus belajar untuk berhenti menolaknya.

Dua ratus kata yang kacau parah setiap hari, cuma itu.”Tim Ferris, novelis. Itu adalah kata-kata sang novelis saat ditanya bagaimana ia bisa produktif menghasilkan 75 novel selama hidupnya. Tampak sederhana, tapi benar-benar nyata. Hanya sedikit binatang di bumi ini yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan meyakinkan diri sebelum melakukan sesuatu, dan kita sebagai manusia diberi keistimewaan untuk berpikir tentang pikiran kita. Sungguh keajaiban kesadaran. Ketika membaca bagian ini saya jadi terobsesi untuk mencurahkan banyak waktu di depan komputer, sekaligus pengen lebih banyak lagi waktu di depan buku, dan ingin lebih sering berdiskusi terkait karya. Masalahnya dari 24 jam yang disediakan Tuhan, bagaimana membaginya? Krisis kita bukan soal materi, namun soal eksistensi, ranah spiritual. Kita punya begitu banyak barang dan peluang, sampai-sampai kita tidak tahu lagi apa lagi yang bisa kita lakukan saat ini. Kitalah yang menciptanya, kitalah yang membentuk dan menjalankan menit-menit kehidupan. Anda tidak akan memenangkannya jika Anda tidak ikut bermain. Duh, hidup ini terlalu banyak agenda, terlalu sedikit waktu tersedia. Hiks, kata Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi…”

Pada intinya, hidup hanyalah rentetan masalah yang tidak ada ujungnya. Solusi terhadap satu masalah hanya akan mencipta masalah lain. Solusi terhadap masalah kita hari ini akan meletakkan pondasi untuk masalah di esok hari, dan seterusnya.” Poinnya ya, nikmati. Tiap pagi, Alhamdulillah di tempat kerja ada briefing inspirasi bersama teman-teman kantor. Momen langka ada acara sehebat ini, selama saya bekerja di belasan Perusahaan baru kali ini menikmati waktu-waktu sebelum aktivitas. Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, kita tidak beranjak dari ‘salah’ menu ‘benar’. Namun kita berangkat dari salah menuju sedikit salah. Kita selalu dalam proses mendekati kebenaran dan kesempurnaan tanpa benar-benar dapat meraih kebenaran dan kesempurnaan itu sendiri.

Kebenaran yang paling agung dalam kehidupan biasanya kebenaran yang paling tidak enak didengar. Saat belia, semua hal terasa baru dan seru, semua tampak begitu berarti. Karena itu kita peduli pada banyak hal. Semakin selektif terhadap perhatian yang kita berikan. Inilah yang kiat sebut kedewasaan. Ini bagus. Kedewasaan muncul ketika seseorang belajar untuk peduli hanya untuk hal-hal yang berharga. “Inilah yang Anda dapatkan jika mencurahkan perhatian pada satu titik.” Kata Bunk Moreland kepada detektif McNulty dalam film The Wire. Nah fokus pada hal-hal yang kita perlukan, peduli akan sesuatu yang seharusnya kita pedulikan. Jadi pengen tutup akun facebook deh kalau mengingat betapa beranda isinya politik yang buang energi. Emosi tidak kekal, apapun yang membuat kita bahagia kini tidak akan membuat bahagia esok, karena biologi kita selalu membutuhkan sesuatu lebih.

Semakin berusaha mati-matian ingin kaya, Anda akan merasa semakin miskin dan tidak bahagia, terlepas dari seberapa besar penghasilan Anda sesungguhnya. Cari duit secukupnya, cari materi ga akan pernah puas. Ayo luangkan waktu lebih dengan keluarga. Alhamdulillah, sepulang kerja saya selalu disambut Hermione dan kecup mesra sang istri. Kebahagiaan sederhana yang tak bisa digantikan apapun. Indahnya pernikahan, indahnya berkeluarga. Ada kemerdekaan dan kebebasan dalam komitmen. Komitmen memberi Anda kebebasan karena perhatian Anda tidak lagi teralih oleh hal-hal yang tidak penting dan tidak karuan. Komitmen memberi Anda kebebasan karena ini mengasah perhatian dan fokus Anda, mengarahkan kepada apa yang paling efisien untuk membuat Anda sehat dan bahagia. Apa pun masalah Anda, konsepnya sama: selesaikan masalah, lalu berbahagialah.

Freud pernah bilang, “Suatu hari, ketika kita mengingat masa lalu, tahun-tahun yang penuh jerih payah akan berbuah menjadi tahun-tahun yang paling indah.” Berjuang bersama, menjalani kehidupan dengan lebih syukur dan sujud padaNya. Orang-orang yang menilai dirinya tinggi pada umumnya menunjukkan kinerja yang lebih baik dan membuat lebih sedikit masalah. Permasalahan-permasalahan kita menghasilkan kebahagiaan kita, seiring dengan masalah-masalah yang naik levelnya, semakin baik. Karena kegembiraannya justru terletak pada pendakian itu sendiri.

Hidup ini sendiri adalah bentuk penderitaan, orang kaya menderita karena kekayaannya, orang miskin menderita karena kemiskinannya, orang yang tak punya keluarga menderita karena ketidakpunyaan keluarga, orang mengejar kenikmatan menderita karena kenikmatan duniawi. Orang yang tak merasakan kenikmatan duniawi menderita karena tidak pernah merasakannya. Kata Nicky Astria, dunia ini panggung sandiwara. Kita hanya makhluk yang memerankan adegan demi adegan.

Tindakan Anda sebenarnya tidak berarti banyak bagi perjalanan sejarah.” Anda boleh saja ngiler dengan ide tentang kehidupan yang bebas dari masalah, penuh dengan kebahagiaan yang tidak pernah berakhir dan kasih abadi, namun di bumi ini masalah tidak pernah berakhir. Psikolog kadang menyebut konsep ini sebagai, ‘treadmill hedonis’, bahwa kita selalu bekerja keras untuk mengubah situasi hidup, namun sebenarnya kita tidak pernah merasa berbeda. Sadis, tapi yah inilah fakta. Ngomong-ngomong, jika setiap orang luar biasa, artinya tidak ada seorang pun yang luar biasa. Menjadi rata-rata telah dianggap sebagai sebuah standar baru kegagalan.

Anda dan semua orang yang Anda kenal akan meninggal suatu saat. Dan dalam waktu singkat antara di sini dan di sana, perhatian yang Anda miliki sangat terbatas. Sangat sedikit, bahkan. Dan jika Anda memedulikan setiap hal dan setiap orang tanpa pertimbangan atau pilihan yang matang – well, hidup Anda tentu akan sangat kacau. Kematian adalah satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti. Dan karenanya, itu harus menjadi kompas yang dapat kita gunakan sebagai petunjuk arah dari nilai dan keputusan kita lainnya. Jadi ingat kata-kata Bukowski, sang novelis yang mengajak kita untuk ‘jangan berusaha’. “Kita semua akan mati, semuanya. Menakutkan bukan? Alasan itu saja seharusnya membuat kita saling mencintai, tetapi tidak. Kita diteror dan digilas oleh hal-hal yang remeh dalam hidup, ditelan kehampaan.”

Cuek dan masa bodoh adalah cara yang sederhana untuk mengarahkan kembali ekspektasi hidup kita dan memilih apa yang penting dan apa yang tidak. Usaha untuk mengembangkan kemampuan ini mengarah pada suatu yang saya pikir bisa menjadi semacam ‘pencerahan praktis.’ Ingat, tak seorangpun yang mengklaim dirinya bahagia, masih perlu berdiri di depan cermin dan berulang-ulang berkata pada dirinya sendiri kalau dia bahagia.

Dia akan membuat kita lebih kuat dengan membuat kita menangis, mencerahkan, masa depan kita dengan menunjukkan kepada kita seperti apa kegelapan. Mendengarnya akan sepertui menonton sebuah film di mana sang pahlawan mati di akhir cerita: Anda akan semakin menyukainya meskipun Anda merasa tidak karuan, karena itu nyata. Tetapi saya tidak jatuh cinta pada prosesnya, dan karena itu saya gagal. Berulang kali. Sial, bahkan kegagalan itu pun bukan hasil dari perjuangan saya.

Saya pikir saya memerlukan sesuatu, padahal kenyataannya tidak. Habis perkara. Teknologi telah menyelesaikan masalah ekonomi di masa lalu dengan memberi kita masalah psikologi baru. Internet bukan hanya sumber informasi yang dapat diakses oleh siapa saja, ini juga menjadi sumber ketidaknyamanan, keraguan diri dan rasa malu bagi siapapun. Ayo ramai-ramai block akun-akun provokatif, kita buang hal-hal ga guna di dunia maya. Pilpres yang memecah belas sungguh tidak dewasa. Nikmatnya pertemanan yang simpel, menciptakan sesuatu, membantu seseorang yang membutuhkan, membaca buku bagus, tertawa bersama seseorang yang Anda sayangi. Terdengar membosankan bukan? Mungkin karena hal-hal semacam ini biasa saja. Namun juga karena satu alasan: itulah yang benar-benar berarti.
Dan karena memiliki arti, mereka mampu menanggung derita itu, atau bahkan menikmatinya. Mereka akan menyadari bahwa pilihan mereka hanya sekedar untuk mendapatkan sensasi kelegaan sesaat, bukannya melahirkan kebahagiaan yang sejati. Semakin tidak nyaman sebuah jawaban, semakin itu mendekati kenyataan yang sebenarnya. Dia memanfaatkan kemarahan menjadi bahan bakar ambisnya, balas dendam menjadi perenungannya.

Pertanyaannya adalah bukan apakah kita mengevaluasi diri kita berdasarkan pencapaian orang lain, namun pertanyaannya adalah dengan standar apa kita mengukur diri sendiri? Kenikmatan adalah tuhan palsu. Kalau orang-orang yang memfokuskan energi mereka pada kenikmatan akan berakhir cemas, lebih tidak stabil secara emosional dan lebih tertekan. Kenikmatan adalah kepuasan hidup yang paling dangkal, makanya sangat mudah diraih, begitu mudah hilang.

Korelasi kebahagiaan dan kesuksesan mendekati nol. Ada ungkapan ‘apa pun yang terjadi, tetaplah optimis’, sejatinya kadang hidup menyebalkan dan yang paling sehat untuk dilakukan adalah mengakuinya. Terus-menerus bersikap positif justru merupakan pengelakan akan masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
Jika Anda merasa sedih dengan situasi Anda saat ini, kemungkinannya adalah karena Anda merasa ada sebagian hal yang berada di luar kendali Anda – bahwa ada masalah yang tak kuasa Anda selesaikan. Ketika kita memilih sendiri masalah yang kita hadapi, kita merasa lebih berkuasa. Tanggung jawab dan kesalahan sering tampil bebarengan dalam budaya kita. Kita bertanggung jawab atas hal-hal yang bukan merupakan kesalahan kita. Inilah bagian kehidupan. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas keadaan Anda kecuali diri Anda sendiri.

Jika pacar Anda bersikap egois dan tega melukai Anda, maka sejatinya Anda pun demikian, Anda hanya tidak menyadarinya. “Lakukan, atau jangan lakukan. Tidak ada ‘bagaimana?’” Keyakinan kita bisa dipengaruhi, dan ingatan kita tidak bisa diandalkan. Ketidakpastian merupakan akar dari semua kemajuan dan pertumbuhan. Seperti bunyi salah satu adagium kuno, manusia yang yakin dirinya mengetahui semuanya, tidak akan mempelajari sesuatu pun.

Perbaikan dalam segala bidang, dilatarbelakangi oleh ribuan kesalahan kecil, dan besarnya kesuksesan Anda berdasar pada berapa kali Anda gagal melakukan sesuatu. Kita membutuhkan semacam krisis eksistensial yang memaksa kita untuk melihat secara objektif bagaimana kita telah mendapatkan makna hidup kita, lalu mempertimbangkan untuk mengubah arah.

Tanpa konflik, tidak ada kepercayaan. Konflik muncul untuk menunjukkan kepada kita siapa yang ada untuk kita tanpa syarat dan siapa yang hanya ada untuk mendapatkan keuntungan. Konflik bukan saja normal, namun sangat penting untuk memelihara suatu hubungan yang sehat. Kepercayaan adalah bahan baku paling penting dalam segala jenis hubungan. Faktor lain untuk mendapatkan kembali kepercayaan setelah hancur sangatlah gampang: rekam jejak.

Sesungguhnya kita sering merasa lebih bahagia dalam situasi berkekurangan. Semakin banyak pilihan yang diberikan, kita akan semakin kurang puas atas apa pun yang kita pilih, karena kita sadar akan semua pilihan lain yang mungkin sekali kita coba. Pertama kali minum di sebuah pesta, itu terasa luar biasa, keseratus kali terasa menyenangkan, kelima ratus kali terasa seperti akhir pekan yang biasa saja, dan keseribu kali terasa membosankan, tidak penting.
Jika memang tidak ada alasan untuk melakukan sesuatu pun, tidak ada alasan pula untuk tidak melakukan apa pun. Kematian seseoranglah yang memberi alasan saya untuk hidup.

Untungnya bab penutp buku ini lumayan bagus, penutup yang menyadarkan kita akan petuah, ada akhir dari segala perjalanan hidup ini. Karena kita mampu mengonsep fakta dengan versi lain, kita juga satu-satunya hewan yang mampu membayangkan sebuah realita tanpa perlu ada kita di dalamnya. Semakin kita berkawan dengan kegelapan, hidup akan semakin bercahaya, dunia semakin sunyi dan perlawanan bawah sadar terhadap apa pun teras semakin mereda.

Overall, biasa saja bukunya. Akan membuat wow untuk pembaca yang kurang motivasi menjalani hidup, buatku yang sudah fokus pada titik-titik penting, punya tujuan esok mau ngapain, lusa ngerjain apa, berikutnya mau baca buku apa, next mau nonton film apa jadinya Sebuah Seni biasa saja, bagiku. Ga banyak hal baru, nasehat-nasehat monoton, ngelantur aturan baku kehidupan, kepastian mati semua makhluk, dst.

Kabar hebatnya adalah Mark Manson ternyata seorang blogger aktif. Ini buku debut, dan langsung sukses besar. Grasindo sebagai pemilik hak alih bahasa jelas ketiban durian. Pilihan yang jitu, sampai Oktober lalu sudah cetakan kesebelas, entah update saat ini. Sebuah respon luar biasa untuk buku perdana. Blognya sudah mempunyai dua juta pembaca (sayangnya ga dicantumkan di buku sehingga saya ga tahu – kecuali mau googling ya), mendorongnya untuk mencipta karya. Dalam sebuah bagian, Manson pernah menantang diri sendiri membaca 50 buku non fiksi dalam 50 hari. Terwujud. Hiks, jauh banget sama saya. Blogger sepi pengujung, dan bacanya novel mulu – non fiksi hanya sesekali, termasuk ini. Buku-buku non fiksi masih sangat jarang kunikmati karena memang melahap sastra/fantasi/cerpen sungguh sangat nikmat. Kenikmatan dunia.

Buku ini tidak mengajari Anda bagaimana cara mendapat atau mencapai sesuatu, namun lebih pada bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi. Untuk membuat invetaris kehidupan Anda dan menyortir hal-hal yang paling penting saja. Mengajari Anda untuk memejamkan mata dan percaya bahwa Anda bisa menjatuhkan diri ke belakang dan baik-baik saja. Ini akan mengajari Anda peduli lebih sedikit. Ini untuk mengajari Anda untuk ‘jangan berusaha.’

Dia, dengan bantuan terapis, sebenarnya menciptakan sendiri memori tersebut. Meski saya terus mefantasikan ini lebih dari separuh usia saya, dalam kenyataannya, hasilnya tidak pernah terwujud. Fantasi ini bisa menghanyutkanku selama berjam-jam. “Apa yang ingin Anda nikmati?” Pertanyaan relevannya adalah, “Rasa sakit apa yang ingin Anda tahan?” jalan setapak menuju kebahagiaan adalah jalan yang penuh dengan tangisan dan rasa malu.

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat | By Mark Manson | copyright 2016 | Terbit pertama kali di New York, AS oleh Penerbit HarperOne | Diterjemahkan dari The Subtle Art of Not Gving a Fuck | ID 57.18.4.0004 | Penerbit Grasindo, Februari 2018 | Cetakan VI: Agustus 2018 | Editor Adinto F. Susanto | Alih bahasa F. Wicakso | sampul wesfixity@ gmail.com (memodifikasi desain asli karya Joan Oslon | Tata isi wesfixity@ gmail.com | ISBN 978-602-452-698-6 | Skor: 3.5/5

Karawang, 05061218 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah
Thx to Titus Pradita.

Ini cetakan keenam, dan masih ada beberapa typo ditemukan: untuk untuk – halaman 64; Hiroo Onoda – 80; mengtakan – 80; dari Sesutu – 136; asuranis – 162; menengokkan kepala – 222; mengindar – 226; opresi selama – 230.

Iklan

2 thoughts on “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat – Mark Manson

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s