The Sound And The Fury – William Faulkner

The Sound And The Fury – William Faulkner

Kalau kalian bisa langsung paham ketika di kesempatan baca pertama,  kalian luar biasa. Kalau kalian sukses baca sekali duduk, walau rentang waktunya sehari, kalian luar biasa. Kalau kalian tak pusing ketika di tengah baca, kalian luar biasa. Ini adalah jenis buku depresif menantang nalar. Setiap lima kalimat yang kuselesaikan, saya ulang sebagian besar. Buku yang tak nyaman dinikmati sembari duduk manis sama kopi dan alunan musik klasik. Aliran katanya benar-benar butuh alat pencerna, butuh ketaklaziman nalar untuk benar-benar masuk ke dalam narasi yang memang sengaja dicipta rumit. Saya sendiri membacanya lebih dari sebulan dengan pengorbanan waktu extra.

Kisahnya tentang keluarga terpandang yang memasuki akhir sebuah era. Di Jefferson, keluarga Compson dengan keruwetan hidup itu dituturkan dalam tiga sudut pandang keluarga, dan satu sudut pelayan sebagai eksekusi akhir. 

Bagian Satu: 7 April 1928 – Saya baca sehari di masjid Depok, 10 September 2017

Benjamin ‘Benjy’ Compson yang mengalami keterbelakaan mental. Melalui pikirannya kita akan tahu betapa ia mencinta Caddy, kakaknya dan Dilsey, pelayan negro yang punya dedikasi kasih terhadap keluarga. Karena tak bisa ngomong, selama jalinan kisah kita hanya seakan mengamati kejadian sekeliling. Benar-benar membiarkan orang-orang itu ngoceh tak jelas. Potongan-potongan dialog yang seakan sekelebat lewat, kita tak tahu mana poin penting dan mana yang yak guna. Hebatnya buku ini, bagian paling rumit taruh di depan sehingga yang belum klik akan merasa berat (termasuk saya). Butuh kesabaran, butuh perjuangan. Lima kalimat baca, ulangi sepertiganya. Tak heran butuh waktu empat jam lebih hanya di bagian ini. Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, tapi kita dipaksa terus maju. “Aku takkan bertaruh untuk tim manapun yang beranggotakan Ruth, bahkan kalaupun aku tahu tim itu akan menang.”

Bagian Kedua: 2 Juni 1910 – Saya baca sehari di masjid Depok, 24 September 2017

Quentin Compson yang seorang Havard, satu-satunya jenius dalam keluarga tapi justru ditempatkan dalam posisi paling sulit. Untuk kuliah keluarga ini jual tanah. Bagian ini adalah yang paling menakjubkan. Gaya penceritaan tak lazim, kalimat panjang sekali tanpa tanda baca, kalimat langsung yang menghilangkan kutip sampai kejadian yang kita hadapi ini nyata atau hanya bayangan Quentin? Benar-benar nalar ditantang. Ia mencintai saudaranya Caddy, obsesi kesucian dan kasih sayang tak terhingga. Kaum perempuan tidak pernah perawan. Kesucian adalah keadaan negatif dan karenanya bertentangan dengan alam. Ke-alamiayan-lah yang menyakitimu, bukan Caddy. Terjebak di jalanan Cambridge, niat menolong seorang gadis yang tersesat malah diseret ke pengadilan karena dituduh menulis,  ‘Aku memanjat tembok lalu gadis kecil itu menyaksikanku turun, sambil mengepit buntal roti di gaunnya.’, menikmati senja di sungai, ‘Air terbelah membentuk silinder-silinder panjang yang bergulung-gulung’, sampai kegemaran menghirup aroma pohon-pohon, ‘aku mencium aroma honeysuckle pada pagar air, udaranya seakan-akan diperciki suara parau jangkrik-jangkrik sebuah subtansi yang bisa kau rasakan’.

Sayangnya sebagai jenius harapan keluarga, ia melakukan pilihan yang buruk karena patah hati. Caddy hamil diluar nikah, menikah dan pergi. Quentin terluka. Ketika aku turun cahayanya meredup perlahan-lahan, tapi juga tanpa mengubah kualitasnya, seakan-akan akulah yang berubah alih-laih cahaya itu, menyusut walaupun kau masih bisa membaca koran ketika jalanan memanjang ke dalam pepohonan. Non fui. Sum. Fui. Non sum – dulu aku tidak ada. Sekarang aku ada. Dulu aku ada. Sekarang aku tidak ada.

Bagian Ketiga: 6 April 1928 – Saya baca seminggu di Green Village selesai 3 Oktober 2017

Jason Compson adalah satu-satunya harapan keluarga setelah semuanya berantakan. Anak kesayangan mama, mencoba mengurus rumah yang menuju keruntuhan. Ibunya yang sakit keras yang merasa jadi korban kesalahan urus, “Kesehatan yang buruk adalah alasan utama dari semua kehidupan. Diciptakan oleh penyakit, dalam pembusukan menjadi kebusukan.”, Ponakan yang bengal “Sekali pelacur tetaplah pelacur, itulah yang kukatakan.”, Benjy yang pasif,  “Bicaramu mengenai kesialan telah memasukkan gagasan Memphis ke dalam kepala Vesh.” Dan upaya memutar uang untuk segalanya termasuk mengurus pelayan keluarga “Lelaki hidup mana pun lebih baik daripada lelaki mati mana pun tapi tidak ada lelaki hidup atau mati mana pun lainnya.” Dengan setting sehari setelah narasi Benjy, kalau kalian jeli akan menemukan benang merah tersembunyi yang menyambungkannya. Bekerja di toko Earl, ia adalah seorang yang oportunis, karakter paling memuakkan tapi memang berpangku pada realita – realita hampa. Uang segalanya, obsesi materi dunia yang justru nantinya menjerumuskan. Aku tak akan mau menerima alat pancing itu, aku akan menerima uangnya saja. Karena suatu Sabtu pagi saat tahu jendelanya dirusak, harapan yang dipupuknya bertahun-tahun lenyap. Untunglah kelurga kita tidak pernah punya raja dan presiden; kita semua akan berada di Jackson sana mengejar kupu-kupu.

Uang bukan milik siapa pun, jadi untuk apa mencoba menimbunnya. Uang hanya menjadi milik orang yang bisa memperoleh dan mempertahankannya. Seperti seorang profesor universitas yang tidak pernah menghasilkan sepasang kaus kaki yang memberitahumu cara menghasilkan uang sejuta dolar dalam sepuluh tahun, sedang seorang perempuan yang bahkan tidak bisa mendapatkan suami bisa selalu memberitahumu cara membina keluarga.

Bagian Keempat: 8 April 1928 – Saya baca tiga hari dini hari di Green Village selesai 10 Oktober 2017

Dilsey adalah pelayan keluarga Compson. Di Minggu pagi pasca kejadian menghebohkan rumah majikannya, ia ke Gereja mengajak anak majikan Benjy ke Gereja untuk warga kulit hitam? Banyak yang mencibir, kenapa justru yang sakit mental yang dibawanya? Dari sudut pandangnya, kita akan diajak menuju klimak perseteruan Jason dan Quentin. Dan saat kereta kuda menuju kuburan Quentin, seikat bunga menjadi begitu berharga untuk diungkapkan.

Kalau kalian berharap akhir yang jelas, kalian akan kecewa karena memang sengaja menggantung untuk diejawantahkan sendiri oleh pembaca. Saya sempat limbung saat tahu ada makam Quentin yang minta dikunjungi Caddy namun beberapa kalimat kemudian muncul lagi Quentin yang cadas dan menantang dunia, tapi dengan kenekad-an tuntas akhirnya muncul juga jawabnya. Hufh, asem. Alur sudah rumit, malah ada karakter ‘ditumpuk’ dalam era yang berurut. Dengan matahari dan segalanya di mataku dan darahku mengalir cepat, aku terus berfikir kapan kepalaku meledak dan selesailah sudah, dengan semak-semak berduri dan lain-lain yang mencengkeramku, semua menghilang.

Hanya sangat disayangkan, lampiran cerita ditaruh di depan. Andai tak membacanya dulu mungkin kejutan kisah akan membuat shock, spoiler berat. Sebagai ending sudah kita ketahui bahkan sebelum cerita dimulai. Harusnya taruh belakang atau malah dihilangkan saja, orang tak perlu penjelasan gamblang untuk memahami sebuah kisah, biarkan pembaca menafsirkan sendiri sehingga terkesan hidup. Seni untuk seni.

Kover yang bagus, jilid yang sempurna. Terima kasih Serambi. Salut sama terjemahannya, benar-benar unik. Cara kerja tata bahasa yang tak lazim itu dialihbahasakan dengan sukses, jelas ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Nyeni, nyeleneh, njelimet tapi nyenengke.

The Sound and The Fury | by William Faulkner | diterjemahkan dari The Sound and The Fury | Penerbit Serambi Ilmu Semesta | Penerjemah Ingrid Nimpoeno | penyunting M. Sidik Nugraha | pewajah isi Eri Ambardi | cetakan I, Januari 2014 | ISBN 978-979-024-419-1 | Skor: 5/5

Karawang, 121017 – The Cranberries – Ode To My Family

Iklan

One thought on “The Sound And The Fury – William Faulkner

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s