Para Priyayi – Umar Kayam

image

Butuh kesabaran untuk menuntaskan kisah panjang 3 generasi Jawa yang melewati masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, kemerdekaan RI, Orde Lama sampai akhirnya menyongsong Orde Baru. Tiga generasi yang dituturkan dengan tempo sedang, bahkan beberapa bagian sangat lambat. Bermula dari sebuah ulasan menarik dari teman di Facebook, Bung Tak memberi gambaran bahwa ini buku yang tak lazim. Buku lokal yang memikat. Ketika saya tanya apakah mirip dengan Bumi Manusia, di mana orang biasa (ternyata Minke menyamar) kemudian menjadi seorang ningrat? Bukan. Buku ini lebih kepada pergolakan pribumi menghadapi perubahan-perubahan zaman. Dan kesempatan itu datang juga ketika Lebaran 2016 novel terbitan Grafiti ini sudah di tangan. Saya mulai baca tepat di HUT RI 71 tahun dan selesai di hari spesial 33 tahun, hari ini. Untuk buku unik semacam ini di mana dalam menyelesaikannya butuh waktu 2 minggu tergolong baguslah. Waktu semakin tipis untuk dibagi.
100 halaman pertama sangat berat. Pemilihan diksi yang tak lazim, sebagian menngunakan bahasa Jawa, yang seharusnya saya pahami namun terbaca aneh. Namun kesabaran itu terbayar, ketika memasuki 1/3 bagian mulai ada titik temu mau ke mana arah kisah ini. Apalagi benang merah asal usul salah satu karakter akhirnya dijelaskan dengan pola maju-mundur sehingga saat tahu nasib sebenarnya seorang karakter penunjang saya langsung bilang, ‘Wah ada twist’. Setelah itu langsung ndelujur terus tak terhenti hingga final.
Kisahnya adalah perjuangan kaum bawah untuk memperbaiki nasib. Bersetting utama di sebuah kabupaten Wanagalih, Jawa Timur. Meletakkan pondasi ceritera (di buku beberapa kata tak baku, contoh ceritera yang seharusnya cerita) yang sangat Jawa. Bagaimana masa Indonesia di zaman Belanda. Struktur Pemerintahan dan pembagian kelas sosial. Di era itu, guru adalah profesi idaman rakyat karena sebagai orang terdidik ia dihormati. Gajinya lebih dari cukup ga seperti sekarang, guru kesejahteraannya ga diperhatikan Pemerintah. Pengajar di zaman itu masuk kasta priyayi, kasta yang begitu diidamkan.
Nah kisahnya di Wanagalih, sebuah wilayah yang jadi saksi Perubahan sebuah keluarga besar. Adalah Soedarsono alias Sastrodarsono, anak tunggal Mas Atmokasan, petani desa Kedungsimo yang berhasil mengantongi beslit guru bantu di Ploso. Menjadi guru yang berarti menjadi orang pertama dalam keluarga besar itu, ia adalah sang Pemula. Pembuka jalan menjadi priyayi untuk keturunan berikutnya. Benar saja, berjalannya waktu ia begitu dipercaya gupermen untuk terus naik posisi yang akhirnya di tempatkan di Wanagalih. Menjadi guru HIS. Menikah dengan Siti Aisah alias Dik Ngaisah, anak mantri penjual candu dari Jogorogo. Proses pernikahannya sendiri sangat klasik. Dijodohkan. Pernah ketemu pas sekolah kelas dua, namun tentu saja sudah lupa. Baru jadi guru bantu di zaman itu sudah dianggap sukses, sehingga orang tua Sastro secepatnya mencari jodoh. Ketemu lagi pas acara nontoni (lamaran). Dengan berkendara dokar menempuh puluhan kilo. Amazing, what the h**l taaruf?
Setelah nikah, rejeki mereka ternyata berjalan lancar. Anak petani yang menjelma priyayi ini kini jadi warga terpandang di daerah Setenan. Mempunyai tiga orang anak yang jatmika. Noegroho sang sulung. Harjono yang cerdas dan si bungsu seorang perempuan Soemini. Saya kasih tahu sedari awal, kisah ini akan sangat panjang karena akan menempuh perjalanan hingga cucu dan cicit Soedarsono.
Selain ketiga anaknya, ia juga menampung anak-anak saudara di rumah Setenan itu untuk dididik. Nah dari beberapa anak petani saudaranya itu ada satu nama yang akan menjadi polemik panjang. Anak yang ngeyel dan susah diatur itu bernama Soenandar. Selepas sekolah ia menjadi guru bantu di Wanalawas, sekolah yag didirikan dengan jerih payah Soedarsono. Sayang ia salah langkah. Ia menitipkan Nandar ke rumah seorang janda Mbok Soemo beranak satu. Remaja bernama Ngadiyem itu kemudian hari ketahuan hamil, benih cinta terlarang itu mengguncang Setenan. Sayang sekali, Nandar bukannya tanggung jawab malah kabur.
Pencarian besar-besaran tak membuahkan hasil. Malah kabar buruk yang akhirnya tiba. Nandar bergabung dengan gerombolan perampok Samin Genjik, suatu hari kelompok kriminal ini tersudut oleh warga di sebuah rumah. Warga yang geram membakar rumah itu, membunuh semua yang ada di dalamnya. Yah, hidup memang keras. Tak ada yang mudah menghadapi tantangan.
Sastrodarsono berjanji akan merawat dan memberi bantuan kepada keluarga Soemo. Anak yatim itu akhirnya terlahir, diberi nama Wage. Nantinya ia akan bernama Lantip. Sebagai anak seorang penjual tempe keliling ia adalah seorang pekerja keras. Menjalani hidup layaknya anak desa penuh keceriaan. Segala cinta dari nenek dan ibunya tumpah kepadanya. Sesekali ia bertanya ‘di mana ayah?’ Ngadiyem selalu bilang, ‘bapakmu pergi jauh untuk mencari duit.’ Rahasia ini nantinya dibongkar dengan pilu. Maka tak heran sesekali ia kena bentak namun tak terlalu paham. Makian , ‘bedes, monyet, goblok anak kecu, gerombolan maling…’
Hebatnya buku ini. Fakta itu disimpan. Penuturannya bukan seperti yang kalian baca. Penuturannya dengan pola bolak-balik. Dari pengenalan Wanagalih, lalu Lantip, kemudian ditarik jauh ke belakang ke masa lalu Soedarsono lalu ditemukan dalam satu titik pengungkapan identitas ayah Lantip. Nah, untuk menuju ke sana butuh kesabaran karena memang dibuat acak. Dbuat terus bertanya kok bahasannya njelimet. Hebat. Dengan sudut pandang orang pertama dan sudut pandang selalu berubah tiap ganti bab.
Bergabungnya Lantip dalam keluarga besar Setenan memberi banyak warna. Ketiga anak Soedarsono sukses secara finansial. Keturuan priyayi ini mewujudkan harapan keluarga. Noegroho mengajar di Yogyakarta. Harjono mendapat tugas di Wonogiri, Jawa Tengah. Karena nantinya ia hanya punya anak satu, maka Lantip-pun diajaknya ke sana. Sedang Soemini melanjutkan pendidikan di Solo hingga akhirnya menikah dengan Hardoyo, anak priyayi yang bekerja di Pemerintahan.
Namun segalanya berubah dengan perubahan era di negara kita. Ketika Jepang akhirnya memaksa Belanda menyerah, sistem pendidikan dirombak. Mengaku sebagai saudara tua, Jepang yang awalnya disambut gegap gempita ternyata malah memperosokkan rakyat. Penjajahan ini memberi pilu. Soedarsono pensiun karena memang ga sreg untuk hormat matahari tiap pagi. Noegroho malah direkrut untuk jadi tentara Peta (Pembela Tanah Air), Harjono pindah kerja ke Mangkunegaran di Solo untuk mengabdi kepada raja Kasunanan Surakarta. Soemini dan keluarga kerja di Jakarta.
Ketika akhirnya Indonesia mendeka. Keluarga ini tentu saja dipaksa kembali menyesuaikan diri. Pasca Proklamasi, Belanda yang mencoba kembali harus dihalau. Perang di mana-mana. Salah satu karakter nantinya jadi korban. Pergolakan internal lebih mencekam. Percobaan kudeta terjadi beberapa kali. Salah satunya seperti yang kita baca di buku sejarah, di tahun 1948 di Madiun PKI (Partai Komunis Indonesia) ditumpas. Namun dengan sudut pandang yang lebih inten, kita tahu konflik itu bermula. Puncak segalanya tentu saja pemberontakan G30SPKI 15 tahu berselang.
Begitulah terus berjalan. Keluarga ini hidup di era Indonesia di zaman peralihan. Nantinya, anak tunggal Harjono bermasalah karena bergabung dengan Kesenian Lekra. Suami Soemini berselingkuh dan anak Noegroho hamil di luar nikah. Lantip-lah penyelamat nama besar keluarga ini. Anak jadah saudara jauh Soedarsono ini tampil sebagai hero. Dialah yang menunjukkan dengan caranya sendiri makdan kata ‘priyayi’ dan ‘kepriyayian’ itu.
Well, ini adalah pengalamn pertama saya membaca karya Umar Kayam. Luar biasa. Bagus sekali. Bahasa yang ditampilkan tak lazim. Aneh, namun sarat makna. Saya tersendat di awal, namun ketika kejutan itu diungkap, setelahnya buku ini tak bisa lepas. Nikmat sekali melahapnya. Bangga ada buku lokal sebagus ini. Saya pastikan tiga buku yang lain beliau masuk daftar baca berikutnya: Mangan Ora Mangan Kumpul (1990), Jalan Menikung (1999), dan Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (2003).
Sejauh apapun anak merantau ia akan kembali juga ke asalnya. Jalan Setenan di Wanagalih ada sebuah pohon nangka yang hidup dari Seoadrsono kecil sampai ajalnya. Menjadi saksi bisu perubahan era. Memberi manfaat bagi semua orang di sekeliling. Ketika pohon nagka itu akhirnya tua dan tumbang, berakhir pula dinasti Soedarsono.
Kisah panjang seperti ini mengingatkanku pada buku Sidney Sheldon: The Master of the Game. Dari generasi kere dari Eropa, menjelajah Afrika Selatan hingga menjadi konglomerat di New York, Amerika. Mengingatkanku pada kisah panjang buku The Good Earth-nya Pearl S. Buck. Dari keluarga kere petani, mengolah sawah sepetak mengakusisi tanah majikan hingga mencapai puncak kejayaan di Cina. Yang membedakan adalah ini buku lokal. Ini buku karya anak bangsa. Sangat layak dijadikan bahas ajar. Sangat layak masuk legenda besar Umar Kayam ini. Walau kelasnya masih jauh dari legenda Pramoedya Ananta Toer, namun jelas Umar punya kelas. Setidaknya beliau juga punya legacy untuk kita dan generasi yang akan datang. Para Priyayi tinggal tunggu waktu untuk diadaptasi ke layar lebar. Kuharap nantinya saya jadi saksi segala lika-liku keluarga Sastrodarsono di gambar bergerak. Semoga.
Para Priyayi | oleh Umar Kayam | Pertama terbit Mei 1992 | Penerbit Pustaka Utama Grafiti | Cetakan XIV, Oktober 2012 | Terbitan No. 211/92 | Editor naskah Eko Endarmoko | Tata letak Sijo Sudarsono | vi, 337 hlm; 21 cm | ISBN 978-979-444-186-2 | 305 52F | Skor: 4,5/5
Note: Buku ini selesai baca tanggal 3 Sep 2016 dan langsung saya ulas, tapi baru sempat diedit dan diposting hari ini.
Karawang, 070916 – The Adams – Pahlawan Lokal

Iklan

3 thoughts on “Para Priyayi – Umar Kayam

  1. Huhuhu seringkali ngiler kalo liat orang ngeresensi fiksi sejarah terbitan lama, kayaknya asyik gitu. Tapi nggak pernah nyambung sama tulisan-tulisan lama, baca Pramoedya dan Max Havelaar aja nggak ngerti 😦

  2. Umar Kayam ini salah satu yg aku suka cara menulisnya. Apalagi kesan romantis yg dia punya bs saya nikmati. Meski kadang kisahnya sedih/tragis, tp ttp terkenang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s