Buku Yang Saya Baca 2018

Tahun yang sibuk, sebenarnya sebelumnya juga baca banyak sih tapi ga kuhitung. Baru tahun 2018 saya coba hitung, karena baru punya HP Ok dan instagram yang mulai aktif, jadi catatan ini saya ambil dari ig: lazione.budy sebagian sudah ulas di blog ini, sebagian besar lagi masih menunggu antrian. Sudah kususun pula Best 14 nya. Berikut buku yang kutuntaskan baca tahun lalu:

32 buku yang kubaca Januari ada di sini.

#33. The Last Song – Nicholas Spark
Cerita cinta yang mudah sekali ditebak. Kisah cinta putri sulung kepada ayahnya dan persembahan ‘Lagu Terakhir’ yang dicipta. “Karena kau hanya menyinggungnya sambil lalu selama beberapa minggu terakhir dank au tak pernah ngobrol dengannya di telepon, tidak sulit mengambil keputusan ada sesuatu yang terjadi.”

#34. Ratu Sekop – Iksaka Banu
Kumpulan cerpen yang absurd. Penyuka seni, sad ending, menyisakan tanya dan pilihan judul yang unik. Twist!

#35. Pesta Remeh Temeh – Milan Kundera
“Keremehtemehan kawanku, adalah esensi dari eksistensi. Semua itu ada di sekitar kita. Dan di mana-mana serta senantiasa. Anak-anak tertawa tanpa tahu sebabnya, bukankah itu indah?” Kehebatan buku ini terletak pada penempatan kata-kata yang pas, membawakan kisah tanpa tergesa dan hal-hal kecil remeh temeh dijadikan lelucon seru.

#36. Kelir Slindet – Kedung Darma Romansha
Baru tahu arti telebuk dari sini. Campuran kearifan lokal Indramayu dari dangdut, kasidah, miras sampai pelacuran. Gelar haji yang terbeli dan seabreg hal-hal klenik. Liar, dendam dan saling tempar teluh.

#37. Three Sisters – Anton Chekov
“Jadi menurut Anda, bahkan hanya memimpikan kebahagiaan saja itu tidak ada gunanya? Bagaimana kalau aku sekarang sedang bahagia?” Penikmat teater wajib baca, penikmat fiksi pasti suka detail-detail seperti ini. Jadi seberapa pelik permasalahan tiga saudari Olga, Marsha dan Irina?

#38. Potret Diri – Atasi Amin
Kumpulan puisi yang menyasar berbagai tema, dari potret diri akan kenarsisan sang penyair “… mari bersama atasi. Amin” sampai beragam tema dari hal sepelemacam kegiatan cacing, suara suara sampai narasi aneh Punokawan.

#39. Kealpaan – Milan Kundera
“Prediksi hanyalah satu dari sekian kepastian yang ditangguhkan kepada umat manusia.” Dua karakter emigrant yang terasing, Irena ke Prancis, Joseph ke Denmark lalu keduanya mudik ke Ceko tahun 1989 dan bagaimana mereka mengenang hal-hal yang sudah disapu waktu.

#40. Kaas – Willem Elsschot
Awalnya kukira bakalan klise tentang motivasi pekerja yang resign untuk memulai usaha keju, tapi ternyata enggak sehampar yang kusangka. “Maka kulakukan hal itu seperti orang sakit yang diam-diam ke dukun, tanpa sepengetahuan dokter.”

#41. Smokol – Cerpen Kompas Pilihan 2008
Tumben yang njelimet kisahnya yang dipilih hanya sebagian kecil. Biasanya cerpen Kompas butuh telaah lebih. Untuk cerpen yang terpilih sebagai judul, Smokol adalah pesta makan absurd yang ironi.

#42. Klop – Putu Wijaya
Kumpulan cerpen yang masuk kandidat Kusala Sastra, sayangnya pengalaman pertamaku dengan sang sastrawan senior ini berakhir biasa sekali. Sebagian besar klise, kritik Pemerintah yang ambigu, tak banyak kejutan. “Aku jadi takut berharap, aku jadi takut merasa senang, aku jadi tak berani melakukan perubahan. Karena kau tahu semua sudah diterapkan.”

#43. Laut Bercerita – Leila S Chudori
Maaf ya, dengan menyebut Pramoedya, Gabo, The Beatles sampai Tan Malaka tak otomatis keren. Cerita yang utama, harus tetap kuat dan membuat pembaca tetap semangat. Sayang sekali buku pertama Leila yang kubaca berakhir membosankan. Drama penculikan 1998 terpendam, ekspektasiku ketinggian.

#44. Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali – G. Sunarto & J. Sumardianta
Buku yang penuh kutipan cerita, tapi setelah menelusur kisah using kita dipertemukan cerita pengalaman pribadi yang laik dinikmati. John C. Maxwell mempelajari proses seseorang menjadi pemimpin: 5% akibat krisis, 10% dari karunia alam, dan 85% karena pengaruh pemimpin sebelumnya.

#45. Never Let Me Go – Kazuo Ishiguro
Luar biasa, buku perenungan kelas satu. Manusia sudah bisa dikloning, organ didonorkan, dengan sudut pandang Kathy sang perawat kita diajak berpetualang dalam cinta, persahabatan, eksistensi manusia yang emosional.

#46. The English Patient – Michael Ondaatje
Novel yang butuh kesabaran tingkat tinggi. Semua rumit: alur, karakter, pembawaan cerita, konflik. “Beri aku sebuah peta dan aku akan membangun sebuah kota untukmu. Bari aku sebatang pensil dan aku akan menggambar sebuah kamar untukmu di Kairo Selatan, bagan gurun di tembok, selalu ada gurun di tengah kami.”

#47. Semusim dan Semusim Lagi – Andina Dwifatma
Premis bagus hanya di tengah, bagian awal mengingatkanku pada The Last Song-nya Nicholas Spark, di tengah sok filsafat dengan mengutip banyak Penulis Besar tapi langsung terperangah saat ada ikan koki yang ngajak bicara, jelang akhir langsung kedodoran, drop. “Atas nama demokrasi, pura-puranya setiap orang dapat bebas mengemukakan gagasan. Tapi jika gagasanmu tak sesuai harapan orang maka kau bersalah.”

#48. My Irresistible Earl – Gaelen Foley
Di abad 19 Prancis sedang bermusuhan dengan Inggris dengan menyusupkan mata-mata untuk saling merongsong pemimpin lawan. Ada adegan bagus saat adu strategi hingga sang agen rahasia tewas, sayangnya novel ini lebih ke kisah cinta ala Harlequin. Cinta pertama Jordan kepada Mara yang mudah ditebak. “Kau adalah malaikat kiriman Tuhan untukku.”

#49. Gempa Waktu – Kurt Vennegut
Mopery! “Ilmu pengetahuan tak pernah membahagiakan siapa pun. Kebenaran tentang situasi manusia terlampau mengerikan.” Mari kita mundur sepuluh tahun ke 1991.

#50. Anna Karerina – Leo Tolstoy
Kejamnya cinta. Saya malah tak setuju dengan pendapat, “Cinta tak selalu membutuhkan pertanyaan mengapa.” Apalagi statusnya adalah seorang istri yang terikat janji suci pernikahan dengan suami penyayang dan ideal. Ini adalah cetakan Gradien Mediatama, versi yang dipadatkan.

#51. Trilogi Insiden – Seno Gumira Ajidarma | 1 | 2 | 3
Kumpulan cerpen, novel dan kumpualn esai. Bagaimana SGA menentang Orde Baru terkait insiden di Timor Timur. Tahun 1990an sebuah era peralihan.

#52. Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer – Pramoedya Ananta Toer
Buku ini kubeli dan baca karena efek buku Trilogi Insiden, di bagian akhir disinggung kisah Perawan Remaja ini. Sayangnya kisah yang disajikan sebagian bukan karya asli Pram tapi saduran, kutipan dari wawancara atau perjalan hidup orang lain dalam telusur di Pulau Buru. Kejahatan perang saat Jepang menginvasi Indonesia.

#53. Mary Poppins Is Back – P. L . Travers
Sekuel Mary Poppins yang fenomenal. Sayangnya nyaris semua adalah pengulangan, kayak pertama kita makan es cream, rasanya sungguh lezat, kedua kalinya biasa. Formula sang nany mengasuh anak-anak keluarga Banks.

#54. A Mercy – Toni Morison
Buku pertama Penulis Amerika yang menyabet Nobel Sastra yang kubaca. Narasinya juara, tentang perbudakan Negeri Paman Sam tahun 1690an. Arti kesepian dan esensi bertahan hidup.

#55. Siddharta – Hermann Hesse
Buku yang mengulas beliau sebelum jadi Gautama. Terkejut juga apa yang disampaikan, tema perjalanan reliji yang berliku. Bab terakhir terkait pemaknaan hidup yang luar biasa.

#56. Panggilan Telepon – Roberto Balano
Pengalaman kreatifitas sang Penulis dari Cili ke Meksiko. Kumpulan cerpen yang anehnya ketika karakter Roberto Balano pakai nama B dan pasangan atau orang lain dengan inisial X.

#57. Sahabat Sejatiku – Farras Salsabila
Kisah nyata anak SD yang penuh gaya, persahabatan yang diuji dan bukti siapa yang ada di samping kalian saat kalian terjatuh. Lupakan konflik, cerita ini hanya cocok untuk generasi pelajar.

#58. Dover – Gustaaf Peek
Tentang pencarian suaka. Dari Negara-negara Non Barat menuju Prancis, Inggris dan Belanda. Salah satunya adalah warga Indonesia yang terusir akibat tragedi 1998.

#59. Hear The Wind Song – Haruki Murakami
“Dua hal yang seharusnya tidak ada dalam cerita adalah kematian dna hubungan seks sebab cepat atau lambat orang akan mati dan pria akan tidur dengan wanita. Tidak ada kegunaan menulis sesuatu yang niscaya.” – Nezumi

#60. Memorizing Like An Elephant – Yudi Lesmana
Untuk jadi pengingat yang kuat poinnya satu, berlatih, berlatih dan berlatih. Semua teori yang disampaikan hanya sarana. Mengimajinasikan dalam kata dan gambar hanya langkah satu dari banyak cara. Tetap latihan yang utama karena segala yang berulang pastinya akan nempel dalam kepala.

#61. Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup
The Chronicles of Bandar Lamuri. Buku panduan membunuh sang Sultan Nuruddin, anak haram penguasa Durud Dunya. Pertikaian perebutan kekuasaan di ujung Barat Indonesia.

#62. The Cave of Time – Edward Packard
“Pilih sendiri petualanganmu.” Kisah yang tentu saja memainkan waktu, pembaca diberi pilihan masuk ke halaman mana yang dipilih, dan berputar-putar hingga Pembaca berhasil menyentuh garis finish.

#63. Kambing dan Hujan – Mahfud Ikhwan
Gumuk Genjik menjadi saksi persahabatan dua manusia aliran Muhammadyah dan NU semasa remaja, perseteruan merebak dengan banyak unsur hingga kedua anak mereka saling mencinta. Apakah egoistis masih tinggi atau melupa gengsi demi kenangan masa lalu?

#64. Mobil Bekas Dan Kisah – Bernard Batubara
Menjadikan mobil jip sebagai saksi orang-orang sekeliling. Kumpulan cerpen dengan tema variatif. Bagus juga ide sebuah jip menonton diam atas tingkah polah manusia.

#65. The Strain – Guillermo Del Toro & Chuck Hogan
Cerita mayat hidup dengan aturan yang aneh. 1/3 pertama sungguh menjanjikan, pesawat mendarat di bandara JFK hanya menyisakan empat penumpang yang hidup. Taka da tetoris, taka da wabah, taka da pathogen atau virus. Boleh saja kita buat permasalahan yang bombastis, tapi penyelesaian juga harus bombastis bukan antiklimak gini.

#66. Misteri Dian Yang Padam – S Mara GD
Pembunuhan Dian yang diperumit. Pemudi bermasa depan cerah, siapa yang membunuh? Kekasih, mantan kekasih, mantan tunangan kekasih yang marah? Atau tangan lain yang ingin dian itu padam? Kisah Detektif Indonesia zaman dulu yang asyik diikuti.

#67. Seruni Merah Jambu – Pearl S. Buck
Buku dari Penulis The Good Earth, dengan setting Perang Dunia Kedua dan setelahnya Jepang dalam masa transisi setelah luluh lantak. Pemuda Amerika yang jatuh hati dengan gadis Jepang, pertentangan dan segala upaya tak mempersatu dicoba tapi kekuatan cinta mengalahkan segalanya. Jiah, klise ya? Tunggu dulu, ini buku dari Pemenang Nobel Sastra, jelas ada yang sitimewa.

#68. Bidadari Yang Mengembara – AS Laksana
Banyak kiasan, banyak hal mirip dengan kumpulan cerpen Murjangkung. Nama-nama karakterpun sama, Alit dan Seto seolah adalah nama favorit. “Ayah terus menerus mengingatkan aku agar jangan pernah mengumpat dan menyesali nasib, bahkan untuk nasib yang paling buruk sekalipun.”

#69. Sine Qua Non – Marga T
Dancing with the holy spirit. Kumpulan cerpen, Penulis roman legendaris Indonesia dari tahun 1964-5014. Rentang waktu yang lama, cerita-cerita yang dihimpun dari media massa. Perayaan 50 tahun yang mulia. Hebatnya, seluruh royalty buku ini disumbangkan ke Yayasan Nusa Membaca.

#70. Timeline – Michael Crichton
Petualangan Marek, Kate dan Chris, mahasiswa 1990an yang dikirim ke abad 14 untuk menyelamatkan professor. “Kita semua diatur oleh masa lalu, meskipun kita tidak ada yang memahami masa lalu. Tidak ada yang mengenali kekuatan masa lalu. Kalau dipikirkan kembali, masa lalu lebih penting dari masa depan.”

#71. Harimau Harimau – Mochtar Lubis
Para pencari damar di hutan yang diteror harimau lapar. Ketika salah seorang tewas dan mereka terancam, mereka dipaksa mengakui dosa-dosa masa lalu.

#72. The Spirit Of Loving – Emily Hipburn Sell
Kumpulan kutipan saja, ga ada apapun. Buku terburuk tahun 2018, sungguh keterlaluan ada buku berisi hanya kutipan, seolah ini makalah mahasiswa tingkat awal.

#73. Manifesto Flora – Cyntha Hariadi
Kisah-kisah tak lazim yang ada di sekeliling kita. Kegetiran hidup dan segala janji demi masa depan.

#74. Catatan Adam Hawa – Mark Twain
Kehidupan mula manusia yang diturunkan ke bumi dan kisah-kisah lainnya khas Twain.

#75. Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom
Kumpulan cerpen yang bagus sekali. Kafe menjadi tempat pemulaan cerita, masyarakat urban yang mencipta keanehannya sendiri.

#76. Rose Madder – Stephen King
Cerita berliku seorang istri yang kabur dari suaminya. Lukisan hidup yang menjadi sandaran dan tempat pelarian.

#77. Bartleby, Si Juru Tulis – Herman Maville
Satu cerpen dalam satu buku? Terlalu, sekedar lumayan bagus. Dunia saham di abad 19.

#78. Gentayangan – Intan Paramaditha
Sepatu merah yang melalangbuana, pilih sendiri petualanganmu. Seorang gadis yang mengikat diri dengan iblis demi perjalanan dunia.

#79. Tiba Sebelum Berangkat – Faisal Oddang
Bagian tengah, saat arti Tiba Sebelum Berangkat adalah bagian menakjubkannya. Bagaimana manusia istimewa bisa melihat masa depan dan mengaplikasikannya sama.

#80. Sai Rai – Dicky Senda
Kumpulan cerpen dari Indonesia Timur, bahasanya rumit dan bagus. Temanya juga nyeleneh.

#81. Gerimis Di Kuta – Wendoko
Kumpualn cerpen cinta dengan memainkan kata berlebih: gerimis, senja, pantai, Bali. Otomatis romantis.

#82. Ibu Susu – Rio Johan
Pemenang Kusala Sastra tahun ini kategori karya pertama atau kedua yang sungguh mengecewakan. Terlalu berkutat dalam pencarian ibu susu, sungguh monoton.

#83. Sang Raja – Iksaka Banu
Sejarah rokok Indonesia. Mendalami perjuangan hidup penguasaha di era colonial.

#84. Buku Panduan Matematika Terapan – Triskaidekaman
Kerumitan matematika yang diterapkan dalam kehidupan, dengan sudut pandang dua remaja menjelajah dunia.

#85. Biografi Jack Ma – Chen Wei

Cerita yang disajikan kebanyakan masa setelah sukses, kurang dalam karena sang asisten memang dulu adalah muridnya. Tak mendalam mengenai perjuangan sang Godfather.

#86. 1Q84 Book 1 – Haruki Murakami
Fantasi dunia pararel tahun 1984. Dengan dua karakter saling silang. Novel filosofis, membunuh demi keadilan? Mengedit dan menulis ulang naskah untuk sebuah prestis?

#87. Matinya Seorang Penulis Besar – Mario Vargas Llosa
Kumpulan esai yang fantastis. Seluk beluk proses kreatif sang Penulis mencipta karya dan bagaimana Llosa melihat dunia literasi.

#88. Gadis Pantai – Pramoedya Ananta Toer
Novel yang melawan kemapanan di era kolonial. Gadis pantai dan masyarakat yang ‘kalah’ dalam mengarungi kehidupan melawan kuasa.

#89. Pulang – Leila S Chudori
Mengejutkan. Bagaimana bisa kisah biasa gini menang Kusala Sastra kategori prosa? Tentang orang-orang terbuang, Indonesia tahun 1965 dan orang-orang kiri harus tersingkir. Dengan judul Pulang kita pasti tahu mereka akan kembali-kan?!

#90. The Trial – Franz Kafka
Inilah buku terbaik tahun 2018. Joseph K yang diadili atas kejahatan yang jelas. Karena merasa tak bersalah, menjalani sidang dengan pede-nya, hingga fakta demi fakta terungkap, bagaimana sidang pengadilan seolah sandiwara radio.

#91. For One More Day – Mitch Albom
Cerita yang biasa banget, lama-lama membosankan membaca Labom, malah jatuhnya kayak
Tere Liye yang mencoba membuat petuah, tapi flop.

#92. Pedro Paramo – Juan Rulfo
Satu-satunya novel karya Juan Rulfo. Bahasa tingkat tinggi, butuh pemahaman lebih. Harus baca untuk ‘dong’ di beberapa poin.

#93. Mycroft Holmes – Kareem Abdul Jabeer & Anna Water
Kisah saudara Sherlock Holmes, sang detektif. Asal mula bagaimana sang kakak masuk dalam lingkaran istana. Merentang jauh ke Trinidad dalam pengungkapan kasus pembunuhan anak-anak di pantai.

#94. Fathers And Sons – Ivan Turgenev
Perjalanan hidup manusia atas kebanggaan kasta. Rusia yang berwibawa dan tanggung jawab moral. Ah hubungan erat ayah-anak yang sungguh menyentuh. Ah cinta…

#95. Cerita Cinta Tanpa Cinta – Rayya Indira Dkk.
10 cerpen yang mengaduk emosi. Tak kusangka melebihi ekspektasi, Rayya Indira dkk membuat cerita tanpa satu kata cinta pun di dalamnya. Cinta di sekeliling kita.

#96. Ford County – John Grisham
Grishman sejauh ini selalu memuaskan. Cerita khas berkutat mengenai pengadilan, dan kumpulan cerita pendek yang tak pendek ini sungguh bervitamin.

#97. Kisah Dalam Satu Malam – Kumpulan Cerpen Penulis Dunia
Kumpulan cerpen dari orang-orang termasyur. Karya-karya besar yang dicetak penerbit kecil.

#98. 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia – Michael H. Hart
100 orang hebat disusun dan dirangking, sungguh buku kaya nutrisi. Kita tinggal menikmati rangkuman jasa dan ‘jasa’ orang-orang terdahulu yang legendaris.

#99. American Gods – Neil Gaiman
Kisah Dewa-dewa Amerika yang galau, dengan gabungan mitos dan legenda mereka jelang perang besar, akankah bisa dicegah?

#100. Sihir Perempuan – Intan Paramaditha
Buku keseratus adalah Sihir Perempuan. Dimulai baca di Rawa Monyet, Karawang dan bagaimana cerita hantu tak melulu soal setan gentayangan.

#101. The Art of Giving F*ck – Mark Manson
Book of the year versi para penjual buku tentunya, cetak ulang berulang kali, nangkring di banyak toko buku. Buku motivasi dari seorang blogger. Bodo amat…

#102. Lelaki Tua Yang Membaca Kisah Cinta – Luis Sepulveda
Novelet dari Penulis Cili yang mengingatkanku pada Harimau Harimau-nya Mochtar Lubis. Bagaimana seorang tua yang mencoba menikmati buku kisah cinta mencoba adaptasi dengan lingkungan hutan baru dirambah.

#103. Matinya Burung-Burung – Fiksi Mini Penulis Amerika Latin
Ternyata tulisan satu dua paragraph bisa disebut karya. Benar-benar simpel, genre fiksi mini yang mendua. Yang paling bagus adalah cerita pesawat jatuh, bagaimana dua penumpang berdialog.

#104. Mata Malam – Han Kang
Tuhan akan memaafkan dosa kami, seperti kami memaafkan mereka. Aku tidak memaafkan dan dimaafkan siapapun. Buku dari Korea Selatan, bagaimana sebuah rezim melindas segala hal di depannya tanpa perasaan.

#105. Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan – Umar Kayam
Kekuatan ngobrol. Manusia-manusia rantau yang kesepian di Amerika. “Tetapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Aku kira Manhantta tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau sudah salah satu pemilik pulau ini capek berbicara? Kalau dua orang yang terdampar satu pulau, mereka akan terus berbicara hingga kapal tiba, bukan?”

#106. The ABC Murders – Agatha Christie
Pembunuhan dengan korban bernama huruf ABC dan tempat kejadian perkara berawal huruf ABC, lalu pola rusak saat seharunya D malah E. Ada sesuatu yang janggal dan Poirot membongkar kebusukan sang pembunuh.

#107. Ibu Mendulang Anak Berlari – Cyntha Hariadi
Kumpulan puisi tentang keluarga. Ibuku melahirkanku. Sebagai seorang anak. Anakku melahirkanku. Sebagai seorang ibu.

#108. A Man Called Ove – Fredrik Backman
Si tua penggerutu, Ove adalah warga Negara Swedia yang mengeluhkan segalanya. “Seluruh jalan berubah menjadi rumah sakit jiwa. Kekacauan total.” Dan Saab.

#109. Christ The Lord – Anne Rice
Jesus kecil yang banyak tanya akan kekuatannya. “Simpan apa yang akan kukatakan ini dalam hatimu, akan tiba saat kaulah yang akan memberi jawabannya pada kami.”

#110. Originals – Adam Grant
“Ciri khas orisinilitas adalah menolak status quo dan mencari pilihan yang lebih baik. Titik awalnya adalah keingintahuan.” Buku penutup tahun adalah hadiah dari Noura.

Karawang, 310119 – Nikita Willy
Inter 1-1 Lazio. (Lazio wins 4-3 penalti)

Iklan

Ups! – Rieke Diah Pitaloka

“luapkan | limpahkan saja itu selagi nafas berhenti | atau | maut tiba-tiba menjemput dan suaramu menghilang | tertimbun tanah | ayo | tanggalkan | lepaskan semua ikatan yang membalut | mari kita bersenang-sennag saja | segera mulai permainan | pura-pura jadi adam dan hawa | cengkrama di taman eden | ayo | tak udah malumalu atau lamalama | waktu kita hanya sesaat tak perlu pikir kata sesat | mari purapura saja jadi adam dan hawa | yang jalankan hasrat ciptaan tuhan | ups! | alarm berbunyi | saatnya kita pulang | mari kenakan kedok purapura | biar suamiku, suamimu tetap percaya | cinta dan tubuh kita | hanya untuk mereka | ups!” – puisi penutup dalam buku Ups!

Buku kumpulan puisi pertama yang kubaca tahun ini, sesuai menyelesaikan memoar-nya Pablo Neruda saya berusaha menikmati satu buku puisi tiap bulannya untuk mengejar ketertinggalan. Ups! menjadi pembuka, yang sayangnya terlahap biasa. Berisi 40 puisi dengan sebuah ulasan panjang 29 halaman di bagian akhir oleh Eka Budianta, seorang penyair dan pengulas sastra. Justru review bung Eka lebih bagus, walaupun sedikit dibantu dorong menuju arah positif, tapi jelas secara keseluruhan buku ini gagal. Saya sih sepakat, penyair dan penulis kita masih dominan laki-laki. Pandangannya bahwa perempuan mungkin butuh perjuangan lebih untuk menyeruak di dunia literasi bisa saja hanya paparan umum dan tak sepenuhnya bisa jadi pegangan, tapi lihatlah keadaan sekarang. Semua kesempatan, semua peluang terbuka lebar tanpa memintas genjer. Ga sepenuhnya sepakat, ada kalimat hiperbolis yang beliau kemukakan, “Seharusnya seluruh dunia terguncang membaca sajak itu (tentang dua kematian: Munir dan M. Yusuf). Mengapa? Sebab pembunuhan yang disengaja adalah tragedi klasik manusia.” Yup, yang ga kusetujui adalah kata-kata, ‘seluruh dunia terguncang!

Seusai melahapnya, saya masih belum bisa ‘masuk’, masih menggantung menikmati sajak-sajak yang (mencoba) satir, menyindir Pemerintah, penguasa. Menyitir perang, keluh dan kritik terhadap perang Irak dan penderitaan akibatnya. Menyinggung pembunuhan Munir, sang pejuang HAM sampai hal-hal remeh terkait memandang purnama atau cinta dua remaja.

Puisi ditulis antara tahun 2003 – 2005 di berbagai tempat, terlihat dominan di Kukusan. Dengan front huruf yang variatif, diksi yang melimpah, ukuran yang fleksibel dengan selingan gambar ilustrasi yang catchy. Komentarku masih saya, maaf susunan puisi seperti ini dengan mudah dibuat. Semua orang bisa, hanya perlu menyediakan waktu barang lima sampai sepuluh menit duduk di kafe, dalam perjalanan luar kota atau bahkan sedang duduk di kakus, kata-katanya yang tak beraturan bisa dengan mudah disusun. Hurufnya bisa dipetik seketika tanpa perlu banyak pemiliran pencarian ilham. Sejauh ini saya belum terpesona satu buku kumpulan puisi-pun. Buku Aku Djuman Djaya yang berdasarkan hidup Chairil Anwar, itu bukan sajak murni, namun lebih seperti biografi dengan prosa yang kental.

Keke, panggilan akrab sang Penulis lebih kita kenal dalam sitcom Bajaj Bajuri sebagai Oneng yang berakting bodoh, istri cantik yang pikirannya loading. Saat menulis Ups! Keke adalah seorang asisten dosen lulusan magister ilmu filsafat, seorang aktivis yang lumayan vocal terhadap kesetaraan dan tentu saja artis. 13 tahun berselang, kita tahu di masa antara itu beliau adalah politikus sebuah Partai dari oposisi menjadi Partai penguasa, semasa Pemerintahan SBY begitu vocal menyuarakan rakyat, menjadi calon pejabat sehingga wajahnya lebih sering menghiasai media massa sebagai tokoh publik bukan sebagai penyair atau penulis buku. Tentu hal-hal itu tak terbentuk serta merta, Keke sudah menempanya sedari dulu. Dari puisi-puisi ini terlihat beliau memang mewakili suara-suara kegeraman warga kebanyakan. Seperti serangan AS ke Irak tahun 2003, saat itu saya masih sekolah, mengikuti perkembangan lewat media massa, bahkan deadline waktu yang diminta Amerika itu saya ikut mengawasi jam saat pelajaran berlangsung. Geram, kesal terhadap perang, Keke membingkainya. Banyak. Kita semua benci perang, tapi perang malah terus saja terjadi. Seolah adu kekuatan adalah hobi. Kritik Keke yang nyalang berbunyi “sampai kapanpun kehidupan lebih berharga dari politik busukmu.” Akankah masih relevan dengan masa sekarang saat beliau sendiri adalah politikus?

Yang paling kusuka dalam kumpulan Ups! adalah puisi ‘Aku – Ramadhan – Ibu’ yang ditampil sederhana tapi mengena. Saya tulis ulang di sini:

ruasruas sahur setiap ramadhan | mengingatkan pada ibu | saat aku kanakkanak | selepas subuh aku ditemani suara mesin jahit ibu | menelusuri kain bungabunga yang kami beli di pasar | “biar kamu bisa pakai baju baru,” katanya | saat aku gadis | selepas subuh aku ditemani gumam ibu | menghitung untung dagangan yang kami jual keliling kampung | “biar kita bisa buat kue!,” katanya | saat aku dewasa | selepas subuh rindu ibu tak pernah pupus | “……….” | bu sebentar lagi lebaran | seperti biasa, | setangkai sedap malam akan kutaruh di pusaramu – kukusan, ramadhan 2004

Puisi yang berhasil adalah puisi yang bisa menghantar pembaca/pendengar terlibat, bisa merasakan sentuhan itu secara langsung. Walaupun dalam pengalamanku adalah alm. Ayah, puisi ini bisa menyatu dan menyentuh setiap individu sebagai anak yang selalu merindu kebiasaan setiap Ramadan. Rutinitas tiap tahun yang didamba selepas subuh itu akan terkenang, akan selalu menjadi bayangan indah. Ah memori…

Sayangnya, puisi yang berhasil macam gini ga banyak. Lebih banyak yang mengawang, lebih malesi yang bertema cinta remaja, perumpamaan adam hawa, kerinduan seorang kekasih, dan sindiran yang tak mengena. Seperti kata Eka Budiana dalam ulasan di buku ini, “Pembacaan sajak oleh penyair sendiri oleh Keke, rata-rata sukses besar. Mengapa? Sebab Keke sebagai artis, pandai menghidupkan kata-kata dalam puisinya. Tetapi, kalau puisi itu tercetak dan dipersilakan ‘jalan sendiri’ ke pembaca yang terjadi bisa sangat berbeda.Penyair dituntut memberi jiwa pada kata dan huruf yang ditulisnya, agar hidup dan bebas merambah berbagai sudut dunia sastra. Sebagai teks, setiap puisi Keke dituntut bisa menembus latar belakang bahasa, budaya, sejarah, dan menawarkan nilai-nilainya sendiri.”

Saya sendiri bukan penggiat literasi yang rajin ngumpul mendengarkan penyair menyuarakan kata-kata langsung, bahkan kalau mau diingat ke belakang, saya tak pernah mengikuti komunitas puisi manapun. Hanya komunitas baca, dan jelas kebanyakan novel. Dalam WAG, Bank Buku puisi juga nyaris tak tersentuh. Kita lebih sering membicarakan novel, sejarah, filsafat hingga perkembangan terbaru dunia perbukuan. Jadi wajar, butuh waktu lebih bagiku untuk bisa menikmati sajak.

Tugas penyair adalah mendewasakan bangsanya. Bagaimana kalau masyarakat tidak mau didewasakan dan ingin tetap seperti kanak-kanak? Jadi mari biarkan waktu menempa, mau ke arah mana perahu rima ini berlayar. “Ah, samudra ini bagai tanpa tepi. Aku bagai sebuah perahu diombang-ambing ombak tanpa henti.” – Hari Itu.

Ups! | Oleh Rieke Diah Pitaloka | GM 201.05.021 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Desember 2005 | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | ISBN 979-22-1774-6 | Skor: 2/5
Karawang, 300119 – Nikita Willy – Pernikahan Dini

1Q84 Book 1 – Haruki Murakami

Dunia ini berisi pertarungan yang tak ada habisnya antara satu ingatan melawan ingatan yang lain. Di dunia ini, bisa dikatakan tak ada orang yang tak tergantikan. Bagaimanapun tingginya pengetahuan atau kemampuan seseorang, biasanya ada yang mampu menggantikannya di suatu tempat.

Ini dunia sirkus, Palsu segala-galanya, Tapi takkan jadi khayalan belaka Andai kamu percaya padaku. – “It’s Only Paper Moon” (E.Y. Harburg & Harold Arlen).

Kumulai baca di Cibodas, Bogor disela pelatihan SM (10-11/10), kuhabisi tengah pekan ini (17/10). Buku yang wow, saya terpukau. Terlalu banyak tema, terlalu banyak hal rumit yang ingin disampaikan. Ini adalah buku pertama dari tiga. Dan sejauh ini, Haruki Murakami sungguh mencipta narasi brilian karena semua lima bintang, termasuk ini. Norwegian Wood, Dunia Kafka, What I Talk About Running, Dengarkan Nyanyain Angin, dan ini. Seorang pencerita imajiner terbaik yang masih hidup saat ini. Setelah dibuka kutipan dari E.Y. Harburg & Harold Arlen yang ternyata tepat mewakili 1Q84 kita diajak berkelana bersama dua karakter utama kisah ini, seorang pembunuh berdarah dingin dan editor buku yang nyentrik. Kisah diambil dari sudut pandang mereka berdua, sampai akhir buku satu mereka belum bertatap muka walau ada benang yang menyambungkannya. Mungkin di seri berikutnya, tapi ngeri juga apa yang kan terjadi mengingat isi kepala mereka berdua sungguh berbahaya. Apa yang terjadi setelah ini, aku pun tak tahu. Tentu saja ada resiko. Tapi resiko adalah bumbu kehidupan.

Laba-laba tidak memiliki keahlian istimewa selain memasang jaring, juga tidak punya pilihan lain dalam pola kehidupannya kecuali menunggu diam-diam. Ini memang bukan buku filsafat tapi petuahnya sungguh menggugah. Barangkali sesuatu telah masuk melalui celah sempit dan hendak mengisi kekosongan dalam dirinya. “Aku tidak memberi nama kepada kupu-kupu. Aku bisa membedakan kupu-kupu yang satu dari yang lain dengan memperhatikan pola sayap dan bentuknya.

Karakter utama yang pertama adalah Aomame. Wanita berpenampilan cantik dengan pandangan hidup liberal. Saat ini ya saat ini. Masalah yang timbul di kemudian hari, dipikirkan nanti saja. Aomame serasa kehilangan sensasi terhadap waktu. Tapi kalau masa lalu ditulis ulang, masa kini pasti ikut berubah. Karena masa kini terbentuk dari tumpukan masa lalu. Kisah dibuka dengan kemacetan, Aomame terjebak dalam taksi dengan musik klasik Sinfonietta karya Janacek, simfoni kecil yang tercipta tahun 1926. Berapa orang yang bisa mengenali Sinfonietta dengan mendengarkan bagian awal komposisi musik ini? Barangkali antara ‘sedikit sekali’ dan ‘hampir tak ada’. “Tentang fakta bahwa orang-orang 400 tahun yang lalu juga mendengarkan musik yang sama dengan yang sedang kita dengarkan. Tidakkah itu menurutmu aneh?” Tapi Aomame bisa mengenalinya. Dari halaman pertama saja kita tahu, ini karakter istimewa. Karena kalau masih menanti dalam taksi menanti kemacetan terurai akan membuyarkan jadwal kerjanya, ia terpaksa turun dan masuk ke dalam stasiun kereta jalur Tokyu, Aomame turun dari taksi dan memasuki jalan pintas menuju lorong bawah tanah yang tembus stasiun. Dengan rok pendek, penampilan anggun, ia seakan menemukan sebuah dunia pararel, hembusan angin menerpa wajahnya dan hal-hal ganjil mengitari. Selamat datang di tahun 1Q84. 1Q84 itu nama yang diberikan untuk dunia baru, Q adalah singkatan dari ‘Question Mark’, tanda tanya. Dunia bertanda-tanya. Debar jantungnya menjadi cepat. Sesuatu telah terjadi pada dunia, atau sesuatu telah terjadi padaku. Salah satu dari dua kemungkinan itu. Botolnya yang bermasalah ataukah tutupnya yang bermasalah.

Karakter utama yang kedua adalah Tengo, seorang editor buku yang pengen menulis dan menerbitkan buku debut tapi ga bisa-bisa. Bukankah pengarang seharusnya menemukan cerita yang tersembunyi di dalam dirinya dan mengungkapkannya dengan kata-kata yang tepat? Apa kamu tidak merasa malu, Tengo? Karya sebagus itu mestinya bisa kamu tulis asal kamu benar-benar mau. Begitu pula ketika menulis novel. Dia bisa menulis kalimat yang bagus, juga mampu mengarang cerita yang menarik. Namun karyanya kurang mampu menggedor sukma pembaca. Memiliki bos yang aneh dan nyentrik Pak Komatsu. Dalam sebuah lomba karya sastra, beliau mendapat naskah bagus dari remaja putri bernama Fuka-Eri. Novel berjudul Kepompong Udara itu memang hebat, tak lazim dan luar biasa bagus ceritanya. Persoalannya Fuka-Eri yang hijau menuturkan dengan bahasa acak kadut, maka Pak Komatsu meminta Tengo untuk menulis ulang, memperbaiki diksi, membetulkan EYD, mendaur ulang segalanya. Bahkan nantinya naskah ini bukan hanya untuk lomba tapi ditargetkan untuk yang lebih prestis di penghargaan Nasional. Jelas, ini pelanggaran. “Dalam rahasia ada satu prinsip penting. Yaitu semakin sedikit orang yang mengetahui rahasia itu, semakin baik. Sejauh ini di dunia hanya kita bertiga yang tahu rencana ini. Kamu, aku dan Fuka-Eri. Kalau bisa, aku tidak ingin menambah jumlah itu.”

Nah keduanya saling silang bergantian tiap bab. Aomame adalah perempuan berpikiran merdeka, seks bebas dan bagaimana masa lalunya mencipta dirinya. Kemarahan Aomame bisa meletup hanya dengan memikirkan pandangan dunia mereka yang terlampau picik, perasaan unggul mereka yang angkuh, serta pemaksaan mereka yang tidak berperasaan terhadap orang lain. Menjadi pembunuh bayaran dengan klien seorang perempuan tua yang kaya raya dengan asisten Tamaru. Seseorang menentukannya tanpa sepengetahuanku, dan aku hanya menerima tanpa bisa membantah. Prosedur hukum yang rumit, maka sang orang tua menyerahkan foto target, seorang laki-laki yang melakukan kekerasan rumah tangga untuk dibunuh. Suami yang melakukan tindak kekerasan terhadap anak-istri di rumah pastilah laki-laki pengecut yang berkepribadian lemah. Bukan untuk pembalasan dendam pribadi, melainkan demi keadilan yang lebih luas. Sang orang tua mempunyai kebun kupu-kupu. “Untuk berteman dengan kupu-kupu, pertama-tama kau harus menjadi bagian dari alam. Kau harus tidak terlihat seperti manusia, tidak bergerak, sehingga kupu-kupu percaya bahwa kau adalah pohon, rumput, atau bunga. Meskipun makan waktu lama, begitu merasa nyaman denganku, kupu-kupu dapat berteman dengan sendirinya.” Hal inilah yang membuat Aomame bergairah di masa depan. Fakta inilah yang membuat Aomame bahagia lebih dari apapun. Aku dibutuhkan oleh orang lain.

Tengo seperti gambaran umum seorang kutu buku. “Saya orang biasa-biasa saja. Hanya saja suka membaca buku. Terutama buku sejarah.” Membawa dan membaca buku di setiap tempat ketika ada kesempatan. Tengo mengeluarkan buku bersampul tipis yang dibawanya dan hendak membacanya, namun membatalkan niatnya setelah ragu-ragu sebentar setiap melahap di tempat umum. “Karena mambaca itu makan waktu, kamu tidak membaca buku?” Namun ungkapan ‘makan waktu’ oleh Fuka-Eri tampak mengandung nuansa yang agak berbeda dari generelisasi seperti itu. Tengo memiliki kekasih, istri seseorang yang berkunjung ke kontrakannya tiap akhir pekan. Di sini, sang istri tak disebutkan namanya, seolah memang hanya untuk menampung hasrat sang protagonist. Diatur, dijadwal sehingga perselingkuhan ini bisa berjalan. Pernikahan adalah soal yang amat penting. Bukan sekedar permainan cinta. Seks antara suami-istri itu beda soal, sama seperti pembukuan terpisah. Tak ada kesimpulan yang dapat ditarik. Orang yang hatinya mendua tidak mungkin dapat menarik kesimpulan yang masuk akal. Berkenalan dengan wanita seusianya, jatuh cinta, berhubungan seks, dan dibebani tanggung jawab yang tak dapat diminatinya. Tahap-tahap psikologis yang harus dilalui, isyarat tentang kemungkinan, bentrokan pendapat yang tak terhindarkan… Memiliki ingatan masa balita, bagaimana ibunya selingkuh dan memori itu selalu menghantui. Termasuk masa kecilnya yang membosankan, menghabiskan waktu libur menemani ayahnya menagih iuran tv dari rumah ke rumah. Dia hampir tidak pernah makan kenyang. Bagi orang seperti itu, tugas menagih iuran NHK bukan pekerjaan sulit. Pada hari Minggu, waktu mengalir secara aneh, pemandangan membengkok secara ajaib. Hari Minggu yang panjang dan aneh Tengo telah berakhir.

Konspirasi kejahatan mencipta Fuka-Eri untuk menang penghargaan sungguh riskan. Tidak usah mencemaskan Tengo. Ia tidak punya apa-apa yang kalau hilang akan disesali. Tidak punya keluarga, tidak punya kedudukan sosial, tidak punya masa depan pula. Bukan Tengo yang harus dicemaskan, melainkan Fuka-Eri. Anak itu baru berusia 17 tahun. “Berarti Azami mengirimkan naskah cetak ke panitia sayembara sastra untuk pengarang muda, mungkin tanpa memberitahumu, dan memberi judul Kepompong Udara?” Karena selain sang Penulis yang diajak kompromi, sang professor Ebisuno juga diberitahu, lalu Azami yang mengirimi naskah otomatis tahu juga. Makin panjang, makin beresiko. Fuka-Eri memang berbakat. “Sebesar apapun bakatnya, orang tidak selalu bisa makan kenyang. Tapi jika memiliki naluri tajam, tidak perlu takut gagal mencari makan.” Aku adalah orang yang di belakang layar, tidak cocok dengan sinar matahari.

Haruki tampak mencipta karakter unik ke semuanya. Tengo yang lajang nakal namun idealis, membuat Fuka-Eri berkomentar, “Tak seperti kelihatan guru matematika ataupun novelis.” Fuka-Eri sendiri freak, tak seperti remaja kebanyakan. Introvert, dan keukeh bahwa cerita yang ditulisnya adalah nyata, tentang makhluk-makhluk kerdil yang mendatanginya. Bahkan di ending yang menggantung, dijelaskan dengan gamblang bagaimana seekor anjing penjaga meledak akibat ulah makhluk tersebut. Fuka Eri menderita disleksia, sama seperti Einstein yang jua menderita disleksia, demikian pula Thomas Edison dan Charlie Mingus. Sama seperti anak-anak penderita Sindrom Savant mampu memasukkan luar biasa banyak informasi yang diperoleh melalui pengelihatan ke dalam ingatan dalam sekejap, maka Fuka-Eri pun demikian. Saat konferensi press, dengan saran mengubah penampilan sehingga menarik, ia bisa memikat hati semua media.

Bahkan karakter samping semacam Profesor Ebisuno pun dibuat bagus, bagaimana masa lalunya mencipta komuni yang memberi kejut dan menarik benang sambung ke pemberontakan di Danau Motosu. Agama baru. Dengan kata yang lebih lugas, sudah menjadi organisasi ajaran sesat. “Ada masalah yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan sesekali melupakan diri.” Para idealis universitas, ah masa muda yang membentang. Ada orang yang suka mengeluhkan apapun. Tetapi perasaan yang murni dan sejati adalah hal yang membahayakan juga. Bagi manusia yang hidup nyata, terlampau sulit untuk menyimpan perasaan seperti itu di dalam dirinya. Dia terlahir sebagai politikus, dan selalu mengutamakan logika. Dia bisa dikatakan punya kebencian alami terhadap agama secara keseluruhan.

Sebagian besar pasien penyakit jiwa juga berkeras bahwa mereka waras dan dunia di sekeliling merekalah yang gila. Di dunia ini, ada juga orang-orang yang berbahagia seperti mereka. Mungkin gini, bukan aku yang bermasalah, melainkan dunia sekelilingku. Bukannya bahwa timbul kelainan dalam kesadaran atau pikiranku, melainkan bahwa suatu daya yang tak jelas telah membuat dunia di sekelilingku berubah. Dunia 1Q84 menyediakan kenibsian, sungguh aneh, dicipta untuk petualangan laiknya Alice yang terjatuh di Wonderland, semakin lama semakin membingungkan. Sesuatu yang hitam dan kecil melintasi angkasa di luar jendela dengan cepat. Mungkin seekor burung, atau nyawa seseorang yang diterbangkan ke ujung dunia.

Novel ini juga menyinggung hal-hal mendasar akan kepercayaan. Menyucikan raga dan melatih jiwa hingga mencapai kedamaian batin dalam kehidupan yang ‘serba sedikit, tapi memuaskan’, itulah tujuan komuni. Orang-orang merasakan kehampaan materialisme dalam masyarakat yang penuh persaingan dan menghendaki poros spiritual yang berbeda dan dalam. Walau memunculkan radikalisme, saling klaim dan akhirnya pemberontakan, jelas dunia pararel itu-pun mengancam. Manusia itu sekedar kendaraan bagi gen, sekedar jalan yang dilewati. Bagaikan menunggang kuda hingga kudanya roboh lalu ganti menunggang kuda lain, gen menunggang kita terus-menerus dari generasi ke generasi. Lihat, betapa filosofis dan absurd bukan?

Memang hal-hal yang logis kadang malah tak berurut nan sejalan dengan kenyataan masyarakat umum. “Kalau ada orang yang bisa kucintai, meski hanya satu orang, masih ada harapan untuk hidup. Walaupun tidak bisa bersatu dengan orang itu.” Harapan akan masa depan selalu menawarkan bayang, selalu dalam rencana yang nantinya dieksekusi oleh waktu. Apa makna kebebasan bagi manusia? Demikian Aomame sering bertanya kepada dirinya sendiri. Kalau pun berhasil keluar dari satu sangkar, orang masuk ke sangkar lain yang lebih besar. Begitulah kenyataan? Aku mau mengandalkan kebetulan, kira-kira atau untung-untungan. Sampai detik terakhir, aku mencari solusi yang kurang drastis.

Pertanyaan hidup, apa itu waktu, sampai hakikat jiwa raga akan selalu muncul tiap generasi. Ingatan kita terdiri dari ingatan pribadi dan ingatan kolektif. Kedua jenis ingatan itu terjalin erat. Dan sejarah adalah ingatan kolektif. Kalau sejarah dirampas, atau direvisi kita tidak bisa mempertahankan kepribadian secara utuh. Perasaan tak berdaya yang sudah menjadi kebiasaan itu merusak dan menghancurkan orang. Dilihat dari jauh, dia nampak seperti patung realis yang terbuat dari bahan istimewa.

Bisa hidup dengan makan sedikit saja, kalau bisa hanya makanan yang bermutu tinggi. Tetapi sejauh mana merupakan kenyataan dan sejauh mana merupakan ilusi, sulit dibedakan. Kelihatannya seperti mitos, atau bisa juga ditafsirkan sebagai alegori yang cerdas. Jepang memiliki banyak Penulis hebat, dan Murakami salah satunya yang masih hidup hingga kini. Nobel Sastra tiap tahun kunanti buatnya. Bersyukurlah kita bisa menikmati karya beliau dengan mudah dan cepat. Jika hal-hal yang belum pernah disaksikan oleh hampir semua pembaca dimasukkan ke dalam novel, butuh pelukisan yang tepat dan serinci mungkin.

Saya jatuh hati sama tokoh Tengo yang pragmatis. Hobi baca bukunya mencipta seorang yang tahu banyak, tapi tak sesumbar. Semestinya waktu seperti itu merupakan waktu yang paling santai baginya di antara segala jenis waktu. Membeli buku baru di toko buku, masuk bar di dekatnya, dan membuka halaman buku itu sambil memegang gelas minuman. Berkat perkembangan otak yang drastis, manusia berhasil menciptakan konsep waktu, ruang dan kemungkinan. Kalau kehabisan buku untuk dibaca, aku selalu membaca filsafat Yunani. Tidak pernah membosankan. Selalu ada yang dapat dipelajari. “Aku hanya percaya pada uang tunai.” Dan ya, saya juga sulit adaptasi sama teknologi yang ‘mulai’ menghapus uang tunai. Dengan berbagai aplikasi yang memudahkan banyak orang, tapi saya tetap bertahan akan keklasikan. Ini tentang pilihan hidup. Mesin ketik elektonik memang sangat praktis untuk menulis cepat dan menyimpan data, tapi dia mencintai kegiatan klasik, yaitu menulis di atas kertas dengan tangannya sendiri. Saya lebih suka baca buku kertas ketimbang e-book atau pdf. Membayangkan sesuatu yang belum pernah disaksikan adalah tugas pengarang.

Dengan segala kerumitan, keindahan bahasa, ide cemerlang, jelas 1Q84 termasuk novel kelas atas. Maksud saya, cerita itu ditulis sangat cermat, realistis dan mendetail. Detail realistis itulah yang memberi kekuatan besar pada novel ini. Menembus angka 500 halaman dan ini baru permulaan. Masuk 10 besar best novel 2018-ku.
Salah satu bagian yang kusuka pas menyinggung Penulis Rusia. Dia mengambil Pulau Sakhalin, karya Anton Chekov yang baru selesai dibacanya minggu lalu. Karena bagian-bagian yang menarik ditandai dengan stiker post-it, ia bisa membacakan bagian-bagian itu saja. Lagipula, mengejar ketepatan adalah salah satu keahlian Tengo sejak lahir. Bakat lainnya memberi tanda baca di tempat yang tepat, juga menemukan rumus yang paling dekat ke jawaban. Menjadi pengarang Rusia akhir abad 19 barangkali sama saja dengan memikul nasib dahsyat yang tak terhindarkan. Semakin keras mereka berusaha melarikan diri dari Rusia, semakin dalam Rusia menelan mereka.

Jadi akankah novel Kepompong Udara bisa ‘aman’ tanpa ketahuan khalayak? Aku merasa segala sesuatunya tidak akan berjalan lancar, dan akan hancur berantakan. Benarkah? Namun bagian-bagian kecil dari cerita itu tampak hidup, dan penuturannya pun penuh warna. Ada kisah yang lucu, ada yang sedih, ada pula yang diwarnai kekerasan. Ada kisah yang begitu luar biasa hingga sulit dipercaya, ada juga kisah yang sulit dipahami walaupun diceritakan berulang kali. Istilah McLuhan, medianya itulah pesannya. Pendek kata, bungkus adalah isi. Seandainya pesawat yang dinaiki jatuh, tidak ada gunanya mengencangakn sabuk pengaman sekuat-kuatnya. Bagaikan roda karma raksasa dalam mitologi India yang melindas dan membunuh semua makhluk hidup yang berada di lintasannya.

Novelis bukanlah manusia yang menjawab pertanyaan, melainkan manusia yang mengajukan pertanyaan. Sejak semula mereka tahu bahwa tempat seindah surga tidak ada di mana pun. Dan sang Penulis favoritku ini mencipta surganya sendiri dalam karya tulis. Di hutan cerita, betapa pun jelasnya kaitan antara segala sesuatu, takkan ada solusi yang pasti. Ini hidup picaresque roman yang gemilang. Dengan membulatkan tekad, mari kita nikmati aroma kejahatan yang kental. Mari kita nikmati lajunya arus yang dahsyat. Dan ketika jatuh dari air terjun, mari kita jatuh bersama-sama secara gemilang. Go Haruki Murakami Go!

1Q84 Jilid 1 | by Haruki Murakami | copyright 200Q | Diterjemahkan dari 1Q84 Book 1| Originally published In Japan by Shinchosha Publishing Co. Ltd., Tokyo | KPG 5Q 16 01182 | Cetakan ketujuh, Januari 2018 | Penerjemah Ribeka Ota | Penyunting Arif Bagus Prasetyo | Penataletak Dadang Kusmana | vi + 516 hlm.; 13.5 cmx 20 cm | ISBN Q78-602-424-005-Q | Skor: 5/5

Jilid 1: April – Juni

Karawang, 1Q102018 – 0201201Q – 2Q01201Q – Sherina Munaf – Lihatlah Lebih Dekat

Nominasi Oscar 2019

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Saya sudah menandai kalender bahwa Selasa, 22 Januari adalah pengumuman nominasi Oscar. Maka satu hari itu saya pantengin timeline Twitter. Paginya saya ada tugas luar kantor ke Jakarta, maka dalam perjalanan saya pantau. Black Panther saya pos, kebetulan sudah review juga karena dari pembicaraan lini masa begitu massive. Benar saja, Si Kucing Hitam menjadi film superhero pertama yang masuk nominasi tertinggi best picture, mendapat total tujuh kategori. Roma memecahkan rekor jua, sebagai film produksi Netflix pertama yang masuk nominasi best picture. Film hitam putih yang menang Golden Globe. Yang mengejutkanku, Lady Gaga debutnya sebagai pemeran utama dalam A Star is Born mendapatkan nominasi best actress menyingkirkan favoritku Toni Collette. Lagu I’ll Never Love Again ga masuk, tapi Shallow. Jadi bagaimana pendapat singkatku?
Dari semua film yang terdata, saya baru menyaksikan tujuh film. Roma, pace terlalu lambat, rasanya terlalu berlebihan untuk menang best picture, untuk cinematografi dan foreign language bisalah. A Star Is Born yang kubilang biasa, mengejutkanku menerima banyak nominasi. Menang original song bolehlah, teknis OK juga tapi di bagian prestise NO, apalagi Gaga, BIG NO. Black Panther yang fenomenal, saya memprediksi satu saja yang menang. Isle of Dog yang hebat, layak sekali menang best animated, tapi saya lebih yakin di Skoring yang main drum dan kicik kicik kicikntya merdu, sembari menunggu waktu buat lihat Spiderman yang katanya hebat. Yang pasti Ralph Breaks the Internet enggak banget. Visual efek, Robin emang kelebihan di situ, Infinity War yang sejauh ini kutabsihkan sebagai film of the year rasanya lebih pantas. Pengumuman pemenang Senin, 24 Februari 2019 pagi waktu WIB. Masih ada waktu kurang dari sebulan untuk mengejar ketertinggalan. Siapa jagoan kalian?

Best Picture:
– Black Panther
– BlackKklansman
– Bohemian Rhapsody
– The Favourite
– Green Book
– Roma
– A Star Is Born
– Vice

Costume Design:
– The Ballad of Buster Scruggs
– Black Panther
– The Favourite
– Marry Poppins Returns
– Mary Queen of Scots

Makeup and Hairstyling
– Border
– Mary Queen of Scots
– Vice

Production Design:
– Black Panther
– The Favourite
– First Man
– Mary Poppins Returns
– Roma

Cinematography:
– Cold War
– The Favourite
– Never Look Away
– Roma
– A Star Is Born

Visual Effects:
– Avengers: Infinity War
– Christopher Robin
– First Man
– Ready Player One
– Solo: A Star Wars Story

Sound Editing:
– Black Panther
– Bohemian Rhapsody
– First Man
– A Quiet Place
– Roma

Sound Mixing
– Black Panther
– Bohemian Rhapsody
– First Man
– Roma
– A Star Is Born

Original Score
– Black Panther
– BlackKklansman
– If Beale Street Could Talk
– Isle of Dogs
– Mary Poppins Returns

Original Song
– All The Stars (Black Panther)
– I’ll Fight (RBG)
– The Place Where Lost Things Go (Mary Poppins Returns)
– Shallow (A Star is Born)
– When A Cowboy Trades His Spurs For Wings (The Ballad of Buster Scruggs)

Film Editing:
– BlackKklansman
– Bohemian Rhapsody
– The Favourite
– Green Book
– Vice

Directing:
– BlackKklansman (Spike Lee)
– Cold War (Pawel Pawlikowski)
– The Favourite (Yorgos Lanthimos)
– Roma (Alfonso Cuaron)
– Vice (Adam McKay)

Adapted Screenplay:
– The Ballad of Buster Scruggs
– BlackKklansman
– Can You Ever Forgive Me?
– IF Beale Street Could Talk
– A Star Is Born

Original Screenplay:
– The Favourite
– First Reformed
– Green Book
– Roma
– Vice

Actor in a Supporting Role:
– Mahershala Ali (Green Book)
– Adam Driver (Blackkklansman)
– Sam Elliot (A Star is Born)
– Richard E Grant (Can You Forgive Me?)
– Sam Rockwell (Vice)

Actress in a Supporting Role:
– Amy Adams (Vice)
– Marina De Tavira (Roma)
– Revina King (If Beale Street Could Talk)
– Emma Stone (The Favourite)
– Rachel Weisz (The Favourite)

Actor in a Leading Role:
– Christian Bale (Vice)
– Bradley Cooper (A Star is Born)
– Willem Dafoe (At Eternity’s Gate)
– Rami Malek (Bohemian Rhapsody)
– Viggo Mortensen (Green Book)

Actress in a Leading Role
– Yalitza Aparicio (Roma)
– Glenn Close (The Wife)
– Olivia Colman (The Favourite)
– Lady Gaga (A Star is Born)
– Melissa McCarthy (Can You Ever Forgive Me?)

Foreign Language Film:
– Capernaum (Lebanon)
– Cold War (Polandia)
– Never Look Away (Jerman)
– Roma (Meksiko)
– Shoplifters (Jepang)

Live Action Short Film
– Detainment
– Fauve
– Marguerite
– Mother
– Skin

Animated Feature Film:
– Incredibles 2
– Isle of Dogs
– Mirai
– Ralph Breaks the Internet
– Spider-Man: Into the Spider-Verse

Animated Short Film
– Animal Behaviour
– Bao
– Late Afternoon
– One Small Step
– Weekends

Documentary Feature:
– Free Solo
– Hale County This Morning, This Evening
– Minding the Gap
– Of Fathers and Sons
– RBG

Documentary Short Subject:
– Black Sheep
– End Game
– Lifeboat
– A Night at the Garden
– Period. End of Sentence.

Karawang, 29012019 – Nikita Willy – Pantas Untukku

Sepenggal Memoar – Pablo Neruda: Kita Para Penyair Memiliki Hak Untuk Bahagia

Buku saya selalu tentang hal yang sama; saya selalu menulis yang sama. Saya harap teman-teman saya akan memaafkan saya, karena dalam kesempatan baru ini dan dalam tahun baru yang dipenuhi dengan hari-hari yang baru ini, tak ada yang bisa saya tawarkan kecuali sajak-sajak saya, puisi baru yang sama.

Ini adalah buku pertama Pablo Neruda yang saya baca, padahal kemasyurannya sudah tak tertandingi – sebagai Penyair. Kata Penulis besar Gabriel Garcia Marquez, Neruda adalah penyair terbesar Amerika Latin abad 20. Neruda memang terkenal sebagai penyair, walaupun beliau juga menulis esai dan novel. Karya pertama diterbitkan saat usia 13 tahun dalam harian La Manana berjudul ‘Entusiasmo y perseverancia’ (“Antusiame dan Kegigihan”). Bernama asli, Ricardo Eliecer Neftali Reyes Basoalto, beliau menggunakan nama Jan Neruda yang terinspirasi dari penyair Ceko, tahun 1920 karena sang ayah yang tak mau anaknya menjadi tukang tulis yang tak menjanjikan masa depan.

Kata George Orwell, Autobiografi hanya bisa dipercaya ketika ia menyingkapkan sesuatu yang memalukan. Orang yang memberikan cerita yang bagus tentang dirinya sendiri mungkin berbohong, karena kehidupan mana pun ketika dipandang dari dalam hanya merupakan seri demi seri kegagalan belaka. Di sini Pablo banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman beliau bersyair, dan mengakui banyak hal terlewat karena ditempa waktu. “Banyak hal yang saya ingat telah mengabur saat saya mencoba mengingatnya ulang, mereka telah hancur menjadi debu, seperti pecahan kaca yang tak mungkin dibentuk lagi.”

Tema utama tentang puisi, tentang perjuangan, dan tentu saja tentang bagaimana relasinya dengan puisi dan para penyair lain. Banyak sekali nama disebut, yang sejatinya tak familiar bagiku. Karena dasarnya memang saya tak rutin melahap sajak, jangankan Amerika Latin, puisi-puisi lokal yang terkenal dari Joko Pinurbo atau Sapardi saja saya belum pernah baca satu buku pun! Nyanyian-nyanyian pada dasarnya membentuk bagian dari cerita berseri yang besar. Makanya dengan buku ini saya mencoba mengakrabi, tulisan prosa tentu saja lebih nyaman bagiku. Sajak adalah panggilan terdalam dari jiwa manusia; dari sajak datanglah liturgy, mazmur, juga kandungan-kandungan agama.

Ada dua jenis penyair: ada milik lapisan kerak bagian atas memperoleh penghargaan karena uang, yang menolong mereka mencapai sah tidaknya sebuah kedudukan dan yang tidak. Bisa kita lihat di sini, Pablo masuk lingkaran mana. Pemberian Nobel Sastra tahun 1971 dijelaskan dengan detail lucu. Bagian ketika beliau ke Swedia, ‘semacam diintai’ sampai kegugupan bertamu di lingkungan kerajaan mungkin jadi pengalaman paling mengesankan dan seru. Saya tak percaya orisinalitas. Itu hanyalah satu lagi berhala yang diciptakan di zaman kita, yang mempercepat badai menuju kehancuran. Saya percaya pada spontanitas terbimbing, untuk itu, penyair harus selalu memiliki cadangan di kantongnya, katakanlah pada saat keadaan darurat.

Membutuhkan waktu tiga puluh tahun bagi saya untuk mengumpulkan sebuah perpustakaan besar. Pablo adalah anggota Partai Komunis di Cili, kematiannya yang misterius dan mendadak banyak menimbulkan spekulasi, karena hanya berjarak dua tahun pasca menang Nobel. Hanya dua minggu pasca kudeta Augusto Pinochet. Memoir ini selesai dibuat hanya sehari sebelum ia ke rumah sakit, bersama Matilda istrinya dan seorang sopir muda Manuel Araya, ternyata menjadi saat-saat terakhir beliau. Apakah Pablo dibunuh? Sang Penyair memang vocal terhadap perang. “Perang… perang… kita selalu menentang peperangan, tetapi ketika kita berjuang dalam perang, kita tidak bisa hidup tanpanya, kita selalu ingin kembali ke sana sepanjang waktu.”

Kunjungan ke hal-hal yang tidak terduga ini senilai dengan seluruh jarak yang ditempuh, segala yang dibaca, segala yang dipelajari… kita harus menghilang di tengah-tengah mereka yang tak kita kenal, sehingga mereka tiba-tiba akan mengambil sesuatu milik kita, dari jalanan, dari pasir, dari dedaunan yang telah gugur ribuan tahun di hutan yang sama.. dan akan mengambil sesuatu yang kita ciptakan dengan lembut… hanya dengan begitu kita akan menjadi penyair sesungguhnya… dalam objek itu, puisi akan hidup…

Salah satu bagian yang mengena bagiku, “Penggemar buku yang memiliki sedikit uang cenderung sering menderita. Buku-buku tidak terlepas tangannya melainkan terbang melewatinya melintasi udara, setinggi burung-burung, setinggi harga-harga.” Ya, untuk bisa menikmati buku di Negeri ini memang mahal. Butuh pengorbanan lebih. Dari bumi, dengan kaki dan tangannya, matanya, suaranya – dia membawakan semua akar, semua bunga-bunga dan semua buah beraroma manis kebahagiaan.

Ada banyak kritikus, seperti tanaman labu merambat yang petunjuknya menembus, arah sulurnya mencari napas paling baru dalam kecenderungan modern, takut bahwa mereka akan ketinggalan sesuatu. Akan tetapi akar-akarnya masih meresap dalam di masa lalu.

Seorang anak yang tidak bermain bukanlah seorang anak, tetapi lelaki dewasa yang tidak bermain akan kehilangan selama-lamanya jiwa kanak-kanak yang tinggal di dalamnya dan pastinya ia akan merasa kehilangan. Sikap seperti penonton pasif yang tidak menggerakkan otot wajahnya sama sekali melainkan menajamkan tatapannya pada Anda.

Penyair yang hanya berpikir irasional hanya akan dimengerti oleh dirinya sendiri dan yang dicintainya, dan ini sungguh menyedihkan. Seorang penyair yang sepenuhnya rasional akan dipahami bahkan oleh para pecundang, ini juga kesedihan yang parah.

Buku asli Memoirs berisi dua belas bab, buku ini hanya terjemahan dari satu bab di dalamnya, yakni bab kesebelas. Jadi otomatis bisa kita simpulkan, Circa berhutang untuk melanjutkan alih bahasa bab lainnya. Ditunggu…

Beberapa memoar sungguh mempengaruhi hidupku langsung. Haruki Murakami mempunyai What I Talk About When I Talk About Running (sudah diterjemahkan oleh Bentang tahun 2015) yang membuatku berlari sore tiga kali seminggu, kini sudah berjalan dua tahun lebih. Di usia kepala tiga gini, ga nambah berat badan saja sudah syukur maka olahraga rutin adalah keharusan. George Orwell punya Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London (sudah diterjemahkan penerbit OAK tahun 2015) yang lebih syukur, betapa kita disodori kehidupan para gelandang dengan detail di era itu, kumal dan papa. Dalam memoar I Am Malala, betapa takjub perjuangan demi pendidikan, kesetaraan hak belajar untuk semua anak. Dalam memoarnya Sidney Sheldon: The Other Side of Me, saya termotivasi untuk banyak membaca buku, Sidney yang dasarnya adalah orang sinema menjelma Penulis karena kekecewaan atas para produser. Membuat film membutuhkan dana besar, selain mencipta setting dan mengarahkan banyak manusia dan itu tak murah, dengan menulis Sidney hanya bermodal mesin tik dan pikiran liar!

Dan memoar ini memberi lecut untukku lebih banyak menikmati puisi. OKlah, fiksi novel dan cerpen sudah lumayan banyak yang kulahap, puisi begitu minim. Membuatku bertarget baca satu buku dalam satu bulan, dimulai Januari ini. Dapatkah seorang penyair tetap menjadi penyair setelah melalui seluruh percobaan api dan es? Sajak, kebenaran, kebebasan, perdamaian, kebahagiaan adalah karunia yang sama dimiliki semua orang. Semoga bisa konsisten. “Kita para penyair memiliki hak untuk bahagia, sepanjang kita tetap dekat dengan masyarakat di negeri kita dan dalam kegigihan perjuangan untuk kebahagiaan mereka.

Ayo, cintailah puisi, bangkitlah dari kaca yang pecah, saatnya telah tiba untuk bernyanyi. Thx Circa.

Puisi, Buku, dan Kerang Laut – Sepenggal Memoar | By Pablo Neruda | Copyright 1974 |Diterjemahkan dari Confieso que he vivido: Memorias (Original) | Memoirs ( English) tahun 1977, hal. 253-328 | Penerjemah Weni Suryandari | Penyunting Cep Subhan KM | Perancang sampul dan isi Agus Teriyana | Penerbit Circa | ISBN 978-602-52645-6-6 | Skor: 4/5

Karawang, 070119 – 29012019 – Payung Teduh – Sebuah Lagu

Typo: saja-sajak – halaman 16; orangdan – 67; kesuastraan – 85; menraktir – 99; anda – 102; terutup – 138.