Penyair Midas #27

“Ada sapi terbang!” ujarnya. Puisi penuh logika. Cemburu pada keteraturan kata-kata. Dan penyair? Luka dalam tawanya.

Dengan puisi dia meredam kesakitan, hingga tetap bertahan, dalam kesepian | dia berkata: jika mencintaimu adalah luka, biarlah tak tersembuhkan selamanya. | karena cinta dan luka ada di keping yang sama, maka terimalah sebagaimana adanya. | karena mencinta adalah merawat luka-luka, merawat sepenuh cinta.

Sekali lagi saya mengulas tentang puisi. Buku-buku yang di rakku hanya 5%. Buku hadiah dari teman di Bandung dalam pertaruhan EPL-English Premiere League entah pekan berapa. Bacanya lebih lama, lebih tebal dan panjang ga seperti kumpulan puisi yang biasanya pendek-pendek.

Ada satu baris yang menurutku menggelitik. “Kita pura pura menjadi penyair, karena tak tersisa kamar di rumah sakit jiwa.” Baris ini terasa mengolok sekaligus sombong betapa mereka para Penyaor adalah sekumpulan orang gila. Gila yang bisa jadi ke nada positif.

“Kenapa kamu suka puisi yang aneh-aneh? Apakah hidupmu sudah tidak sangat aneh.” Dia merasa aneh dengan pertanyaan itu.

Dunia kita adalah dunia yang kita beri makna sendiri, dengan rasa percaya dengan cinta yang tak pura-pura | kita belajar pada kehidupan, karena kehidupan memberi segala tanpa kita pinta.

Menembus malam. Dini hari yang temaram. Di sela-sela sorot cahaya. Kendaraan melaju ke mana. Entah. Ke dalam pikiran yang simpang siur. Antara kenang dan kenang. Menembus malam. Menjelajahi riwayat waktu.

Dalam kepalaku ada penyair membaca puisi. Tidurlah. Kata penyair membacakan puisinya di dalam kepalaku yang semakin berat menahan pusing. | Jangan main perkusi di kapalaku! Haha. Malah peta digambar, peta nasib, geografi diri, anatomi pengetahuan.

Yang berderak adalah sumpah. Yang berserak adalah sampah. Teriaklah hingga serak. Geraklah. Gerak. Gertak gemertak. Biar retak biar kerak.

Mungkin engkau akan bisikan segala yang rahasia. Atau kau teriakan segala yang menjadi sesal. Tapi biarkan aku menerjuni arusmu.
Lekas tulis aku, ujar senja. Sebelum malam melumat ke balik kelamnya.

Ulasan singkatku di ig lazione.budy tanggal 28 Januari 2018. ‘Dibaca di Minggu pagi yang gerimis. Saya memang bukanpenikmat puisi. Tak mampu kubaca santai, tak nyaman dibaca nyaring, tak pula enak dinikmati sambil rebahan. #PenyairMidas rasanya sama saja dengan #KumpulanPuisi lainnya yang setiap karya terdiri dari beberapa bait yang bakan ada yang dibaca tak sampai semenit. “Kicau burung. Sisa basah #hujan. Segar udara pagi. Secangkir #kopi. Ah, apalagi yang akan diingkari untuk terus mensyukuri.” #NanagSuryadi membuat kompilasi dengan banyak kata #senja dan rentetetan #rima menambah referensi. Nuhun kang @gangan_januar yang sudah mengirimi buku in. “Gerimis senja, adalah air mata, menghujan kenangan dengan #rindu dan #cinta yang luka.”’

Jika seorang penyair berkata, “Jika aku harus menulis puisi, kata apa yang mesti kutuliskan? Puisi tinggal sepi, pasti tak berdarah lagi.” | Penyair menyaring kata, dari ingatan yang lamat, hingga lumat segala penat, hingga tamat, dengan gelisah yang sama, penyair juga bertanya,

“Bagaimana dapat kurasakan luka dengan penuh senda? Bagaimana dapat kurasakan luka dengan penuh gurau senantiasa? Puisi yang hampa.”

(3)

Kicau burung, sisa basah hujan. Segarudara pagi. Secangkir kopi, ah.

Apalagi yang akan diingkari untuk terus menyukuri.

Dan batas sanggupkah engkau melintasinya? Karena bara api menyala, mendidihkan isi kepala | Ada yang mengaduh, aduhnya samapi ke bulan. Ada yang memendam pedih, mendungnya menutup cahaya matahari.

Untuk yang ini, puisinya jauh lebih padat dan panjang. Lebih bernarasi dan berbobot. Bahkan sebagian seperti bercerita laiknya narasi cerpen, walau tetap gaya-gayanya bacaan rima. Mungkin salah satu kumpulan puisi paling nyaman kubaca, permainan katanya lebih terasa bagus dan asyik diikuti.
Dari Penyair senior kelahiran Serang tahun 1973. Sudah menulis banyak buku puisi ternyata, makanya pengalamannya di dunia syair tak diragukan lagi. Sebagai dosen FEB Universitas Brawijaya dan aktif mengelola fordisastra.com

Penyair Midas | oleh Nanang Suryadi | Editor Irwan Bajang, Indrian Koto | Proof reader Ahmad Khadafi | Layouter Irwan Bajang | Penerbit Hastasurya | Percetakan Indie Book Corner | ISBN 978-602-1599-05-1 | Skor: 4/5

Karawang, 290618 – Sherina Munaf – Click-Clock

#27 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Thx Tuan Gagan Januar, blogger Midas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s