Sherlock: A Study In Pink – GREATNESS

image

Sherlock: Shut up | Lestrade: I didn’t say anything | Sherlock: You were thinking. It’s annoying
Kata-kata yang terdengar kasar. Yah seperti itulah Sherlock, dia adalah orang hebat yang bisa menganalis seseorang dan situasi dengan detail mengagumkan. Sepanjang film akan kalian banyak temui sindirannya kepada orang sekitar. Rasanya gatal, namun sayangnya semua nyaris benar.
Satu kata untuk menggambarkan seri pertama kisah ini: Greatness! Dengan kesabaran tingkat tinggi untuk meredam segala bocoran, akhirnya kesempatan menikmati serial heboh Sherlock terpenuhi. Dari Wewa teman kerja, saya mendapat copy seluruh file film dan baru sempat saya tonton semalam. Setelah tanya di grup Bola – FOC urutan serinya biar runut, dimulailah petualangan detektif sinting ini.
Study In Pink jelas adalah adaptasi bebas dari Study In Scarlet, rekaan Sir Arthur Conan Doyle. Karena saya sudah membaca lama buku itu jadi tahu runutan maksud awal kisah ini digulirkan. Bukunya sendiri sangat hebat, salah satu novel paling berpengaruh sepanjang masa. Saya mengagumi debut Sherlock, sampai novelnya saya sampul dengan kecup cinta di setiap lembarnya. Pernah saya jadikan kado ke teman dekat. Dan selalu memujinya ketika kita singgung kata detektif. Sebuah acuan, jadi siapapun yang berani mengadaptasinya akan dapat pandangan sinis dan was-was.
Study In Pink dimulai dengan sebuah fakta Dr. John Watson (Martin Freeman) yang trauma perang. Ia pensiun dini, mengenakan tongkat serta bermasalah dengan saudaranya di London sehingga sedang mencari teman untuk berbagi flat. Kebetulan bertemu teman lama, Mike Stamford (David Nellist). Dari situ ia pun memperkenalkannya dengan Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) karena ia pun sedang mencari teman berbagi kos. Melalui penuturan yang sangat unik, Holmes hebat dalam deduksi dan analisis orang. Tanpa banyak kata, ia tahu detail Watson. Hanya dengan mengamati warna kulit, cara berjalan, HP yang dipinjam ia bisa bicara panjang lebar orang yang baru ditemuinya. Ibaratnya Sherlock men-scan seseorang dan muncullah hasil scan dengan kata-kata brilian. Dia sering menggunakan teknik pengambilan memori yang sering disebut metode lokus, atau ‘istana pikiran’. Di kamar bedah itu ada karakter bernama Molly Hooper (Loiuse Brealey) yang secara gesture cinta Holmes, ia digoda dengan menyenangkan diamati. Mudah-mudahan karakter ini bisa berkembang nantinya. Asyik aja melihat wajah Molly memerah malu. Walaupun hebat, Sherlock suka sekali menyinggung perasaan seseorang. Seperti yang saya bilang diawal, terdengar kasar. Di seri pertama ini ia terutama sekali suka ‘mengejek’ Anderson, Lestrade dan Donovan.
Induk semang 221B Baker Street adalah Mrs Hudson (Una Stubbs) yang lucu. Dalam sebuah adegan Sherlock mencium pipinya sebagai cinta, dalam draft skenario tak ada. Itu adalah spontanitas Benedict yang bilang Mrs Hudson layaknya seorang ibu. Dan mudah-mudahan juga karakter ini berkembang di seri berikutnya. Sherlock menyebut dirinya konsultan detektif pertama di dunia. Menangani kasus-kasus yang tak wajar, semakin sulit dipecahkan semakin bergairah dirinya. Kesempatan itu datang ketika kepala polisi DI Lestrade (Rupert Graves) datang memberitahunya bahwa telah terjadi ‘bunuh diri’ beruntun. Setelah tiga kali dan membuatnya frustasi, dalam konferensi pers dirinya terlihat idiot. Dalam visul setiap orang membuka HP dengan kata ‘Wrong’. Kini korban keempat, seorang wanita berbaju pink. Ditelaah oleh Holmes dengan kocak menelanjangi Sgt Sally Donovan (Vinette Robinson) yang sinis sama Sherlock, menyebutnya freak dan ahli bedah yang skeptis Anderson (Jonathan Aris). Dan dari detail yang rasanya remeh dimata kita jadi petunjuk penting membongkar kasus.
Sepulang dari TKP, Watson ‘diculik’ oleh seorang misterius yang sebagai teman sekamar ia tentunya tahu benyak hal dan memintanya memberitahu kegiatan Holmes dengan imbalan uang. Menolak, Watson kembali ke flat dengan senjata di tangan, untuk jaga-jaga. Nantinya kita tahu yang menculiknya adalah saudara Holmes sendiri. Dengan kocak Sherlock bilang, ‘haduuh kenapa ditolak, kan lumayan duitnya bisa dibagi.’ Haha.. emang stress iki Holmes. Ada trivia menarik ketika Mycroft bertemu Watson, ia berkata, “Most people blunder around this city and all they see are streets and shops and cars.” Ini adalah mirror line dari Doctor Who episode ‘The End of the world’: “You think it’ll last forever. The streets and cars and concrete.” Well, ternyata Steven Moffat dan Mark Gattis juga menulis untuk Doctor Who. Hooo.. pantes.
Kisah ini akhirnya berkembang jauh setelah ia berhasil membawa pulang koper pink sang korban, menganalisisnya dan menjebak sang pembunuh. Melalui HP Watson ia meminta mengirim pesan ke HP korban yang kini ada di tangan pembunuh. Di 22 Northumberland Street itulah sebuah taksi yang dicurigai berisi musuh dikejar. Melalui tingkah diluar nalar, Sherlock bisa menganalisis jalan hanya dalam hitungan detik ia mencegat taksi yang ternyata hanya berisi penumpang turis yang pertama datang ke London. Dari pengejaran itu kita tahu, Watson bisa berlari tanpa tongkat di tangan. Sebuah bukti lagi tebakan Holems benar bahwa pincangnya hanya disebabkan oleh pikirannya sendiri (psikosomatis). Pulang dengan beberapa pertanyaan di kepala, di flat terjadi penggeledehan yang dilakukan DI Lestrade. Nah, secara bersamaan bu Hudson memberitahu ada sebuah taksi menunggu Holmes di luar. Taksi yang berisi tersangka. Bagaimana kasus ini akhrinya dipecahkan? Seberapa hebat adu cerdik Sherlock dengan sang pembunuh ini menghentak? Tontonlah seri pertama Sherlock yang tayang perdana tahun 2010! Hooo…
Mungkin kalian akan mencibir betapa terlambat saya menontonnya. Karena keberhasilan saya menutup telinga dan mata, saya terkejut atas adaptasi ini. Luar biasa. Penggambaran Sherlock bukan di era victoria tapi era sekarang dengan segala gadget dan kemutahiran teknologi. Walaupun pada dasarnya disadur dari buku, tapi Mark Gatis dan Steven Moffat memilih jalan penyesuaian zaman yang diluarduga sangat brilian. Dasar pertemuan berbagi flat, tulisan ‘Rache’, sopir taksi, sampai kejeniusan menganalisis masih relevan dengan buku. Pemindahan era berjalan mulus, fan sejati Sherlock takkan kecewa. Kujamin. Aksen British dan penggambaran William Sherlock Scott Holmes  yang jangkung, kurus dan hidung mancung sedikit bengkok yang cocok dengan novel juga pas di diri Benedict. Penampilan tegas, tenang serta punya selera humor yang asyik. Bandingkan dengan adaptasi yang diperankan Robert Downey Jr., sangat jauh dari citarasa aslinya.
Kali ini saya sepakat dengan teman-teman yang bilang serial ini memukau. Ini baru permulaan, season satu seri satu, dalam minggu-minggu ke depan  saya akan menonton dan mengulas satu demi satu kisah ini. Mudah-mudahan konsisten seru. Seperti kita semua, musuh utama Sherlock adalah bosan. Namun bosan di mata Sherlock jelas tingkatannya tinggi. Jadi saya tahu rasanya betapa frustasinya fan yang menunggu bosan serial ini rilis satu demi satu. Haha.., saya bisa menghajarnya dalam seminggu.
Terakhir yang membuatku melonjak kegirangan, Dokter Watson digambarkan sebagai seorang blogger. Sebuah penyesuaian era dari seorang penulis catatan harian ke sebuah situs. Kurasa sebuah keputusan keren. Ikut senang, ada karakter seorang blogger ditampilkan hebat di tangan Martin Freeman.
Sherlock: Study in Pink | Director Paul McGuigan | Screenplay Mark Gatis, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Rupert Graves, Una Stubbs, Louise Brealey, Vinette Robinson, David Nellist, Jonatahn Aris, Phil Davis, Mark Gatiss | Skor: 5/5
Karawang, 200616 – Keane – Thin Air

Iklan

9 thoughts on “Sherlock: A Study In Pink – GREATNESS

  1. Dan blog nya Dr Watson beneran bisa diakses lengkap dengan komen komenan seolah olahnya Holmes dkk.
    Aku habis nonton ini langsung baca ulang Study in Scarlet lagi. Hehe

  2. Oh, kujamin kebahagiaanmu akan meningkat dan terus meningkat, karena episode berikutnya akan tetap memukau. And yes Molly is quite a character, but wait until you see The Woman a.k.a Irene Adler, she will blow your mind!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s