Norwegian Wood #30

image

Ketika pengumuman pemenang Nobel Sastra tahun 2015 dipublikasi, dan Haruki Murakasi tak menang,  saya adalah satu dari jutaan penggemarnya yang bersedih. Bertahun-tahun dinominasikan dan tahun lalu jadi kandidat kuat namun rontok juga.  Yang muncul adalah momen kecewa kembali. Sampai kapan Penulis Jepang ini bersabar?
Inilah catatan ke 30 dari 30 di bulan Juni 2016. Hufh… selesai juga akhirnya.
Ini adalah buku pertama beliau yang saya baca, yang kedua sudah saya ulas ‘What I Talk About When I Talk About Running’ dan yang ketiga tak sabar akan saya baca ‘Dunia Kafka’. Kini sudah di rak. Novel pertama ini sensasional. Luar biasa, ide liar Haruki dituangkan dengan memikat. Saya bacanya tahun lalu pas Ramadan, beberapa bagian memang vulgar jadi hati-hati saat siang. Sempat menyebutnya semacam bagian kedua dari trilogi: pertama Catcher in the Rye-nya Salinger dengan setting seorang anak sekolah  lalu kedua Norwegian Wood ini dengan setting utama kuliah dan ketiga Down and Fall in Paris and London-nya George Orwell yang bersetting orang bekerja. Ketiganya menurutku merupakan sebuah perjalanan hidup manusia. Sekolah-kuliah-bekerja. Dengan banyaaak sekali persamaan sifat karakter utama. Suka buku, pemikiran praktis dengan banyak perenungan serta seorang pribadi yang kesepian. Kebetulankah?
Kisahnya sangat bagus sedari halaman pertama. Aku Watanabe, 37 tahun sedang berada di bandara Hamburg, Jerman saat terdengar di langit-langit instrumentalia Norwegian Wood nya The Beatless, aku menangis sesenggukan mengingatkannya pada masa lalu ketika kuliah. Mengingatkannya pada Naoko. Mengingatkannya pada pemandangan di padang rumput berselimut debu selama musim panas di bulan Oktober. Ingatan merupakan hal yang aneh. Ketika aku benar-benar ada di sana aku hampir tak memperhatikan pemandangan. Itulah masa ketika apa pun yang kulihat, apa pun yang kurasa dan apapun yang kupikirkan, akhirnya semua kembali lagi pada diri sendiri seperti bumerang. Lebih-lebih aku sedang jatuh cinta dan cinta ini menjebloskan ke dalam situasi pelik. Naoko, gadis di sampingku di padang rumput itu berujar, “sampai kapan pun jangan lupakan aku. Ingatlah selalu keberadaanku.” Memikirkan hal itu aku nelangsa, karena Naoko tidak mencintaiku sama sekali.
Setelah pembuka yang menyentuh hati itu kita dihempaskan ke masa lalu yang diceritkan sepintas tadi. Ditarik jauuuuh ke belakang, 18 tahun lalu. Masa ketika aku di asrama mahasiswa di Tokyo. Masuk ke bangku universitas, penjelasan detail asrama itu mirip penjelasan Holden Vitamin Coulfield di Catcher in the Rye. Mereka yakin bahwa gorden adalah benda setengah abadi yang menjuntai di jendela. Bercerita teman-temannya salah satunya si komando pasukan gerak cepat – kopasgat yang tergila-gila dengan potert pemandangan. Mengambil jurusan geografi dan belajar peta. Anehnya dia selalu tergagap ketika menyebut pe.. pe.. ta. Kalau sudah membicarakan itu semua, sambil tergagap-gagap ia akan terus berbicara sampai satu atau dua jam, sampai yang mendengarkan tertidur atau meninggalkannya. Rutinitasnya tiap pagi jam setengah tujuh ia bersenam membuatku terbangun dengan gerakan loncat yang mengganggu.
Lalu kisah sesungguhnya dimulai, tentang Naoko teman masa SMA yang memiliki pacar bernama Kizuki. Naoko bersekolah di SMA putri misionaris yang ekslusif, sekolah berkualitas. Bertiga menjadi teman akrab, sering jalan bareng walau kelihatannya aneh juga tapi kenyataannya itulah suasana ternyaman dan berjalan lancar. Namun sebuah tragedi terjadi membuat persahabatan ini buyar. Kematian bukan lawan kehidupan. Tapi ada sebagai bagiannya. Di dalam kehidupan, semuanya dan segalanya berputar mengitari kematian.
Lalu Naoko dan aku mulai akrab. Jalan bareng, ngopi di kafe, banyak cerita dan bisa berjalan di samping gadis secantik dia bukanlah sesuatu yang buruk, tanpa tujuan sering berdua berjalan mengelilingi kota Tokyo, mendaki tanjakan, menyeberangi sungai, melintasi rel, dan terus berjalan tanpa henti. Dan bagiku melihat wajah Naoko tersenyum sungguh menyenangkan. Ketika ia memeluk lenganku aku merasa yang ia cari bukan lenganku melainkan lengan seseorang. Yang ia cari bukan kehangatanku melainkan kehangatan seseorang. Aku jadi diriku entah mengapa menjadi malu.
Aku senang membaca buku. Suka membaca berulang-ulang buku yang kusukai seperti karya Truman Capote, John Updike, Scott Fitzgelard, Raymond Chandler. Wow sangat berkelas Watanabe iki. Kadang-kadang hanya dengan memejamkan mata, menghirup aroma, dan menyentuh halaman buku aku sudah merasa bahagia. Dan berprinsip, “Kalau laki-laki membaca Great Gatsby sampai tiga kali rasanya bisa menjadi temanku.”
Salah satu orang itu adalah Nagasawa-san. Sebagai pembaca ia bukan tandinganku tapi ia tak pernah mau mengambil buku karya pengarang yang belum 30 tahun meninggal dunia. “Aku hanya percaya pada buku-buku seperti itu,” katanya. “Bukan berati aku tak percaya pada sasta modern. Aku hanya tak mau menghabiskan waktuku yang berharga sia-sia membaca buku karya orang yang belum dibabtis oleh waktu. Hidup ini pendek.”
Penggemar Balzac, Dante, Joseph Conrad, Dickens. “Watanabe, kamu tahu? Di asrama ini orang yang bisa dianggap manusia itu hanya aku dan kamu. Yang lainnya, semua kertas sampah belaka.”
Orang keren. Sayangnya sejak melihat Nagasawa-san bertindak sangat tidak sopan kepada seorang gadis karena mabuk, aku bertekad untuk tidak membuka hati terhadap laki-laki ini. Dari lelaki aneh inilah aku mendapat pengalaman banyak dengan perempuan. Hidup memang berputar dan berpusat pada banyak omong. Persetan dengan uang.
Ketika Naoko berulang tahun kedua puluh ia berujar, “Umur 20 tahun itu rasanya konyol juga ya. Aku samasekali tidak siap memasuki usia ke-20 ini. Rasanya aneh sekali. Seperti didorong-dorong secara paksa.”
“Tidak ada orang yang suka sendirian. Cuma tidak mau merasa putus asa saja. Kalau kamu membuat otobiografi, kamu bisa menggunakan kata-kata itu.” Itulah perkenalan awal dengan mahasiswi bernama Midori – hijau. Nama kakaknya Momoko – Pink. Teman kuliah di kelas drama ini nantinya akan menjadi karakter penting di sela Naoko dan temannya Reiko-san. Sangat berliku dan membuat frustasi (pembaca) menatap masa depan.
Lalu bagaimana akhir dari perjalanan Watanabe sehingga setiap saat mendengarkan lagu Norwegian Wood bisa membuatnya menangis? Bagaimana nasib Naoko yang frustasi, apakah bisa sembuh dari trauma? Bagaimana nasib Midori yang cocok dengan Watanabe namun sudah punya pacar? Apakah Nagasawa-san bakalan berubah sifatnya setelah diterjang waktu? Bagaimana nasib pacar Nagasawa, Hatsumi-san yang cantik dan lembut itu? Semuanya tersaji dengan sangat memukau. Sungguh buku yang menakjubkan.
95 persen orang-orang yang ingin jadi birokrat adalah sampah. Ini betul. Mereka tak bisa membaca huruf dengan baik. – 80
“Ya sampai-sampai aku ingin memberimu sedikit waktuku agar kamu bisa memanfaatkannya untuk tidur.” – 86
“Kamu ini sungguh aneh. Wajahmu tak menunjukkan suka bercanda, tapi bercanda juga ya.” – 103
Semua orang terlihat bahagia. Apakah mereka betul-betul bahagia, atau hanya kelihatannya seperti itu, aku tak tahu. – 118
Kemudian aku mengingat-ingat lagi kejadian semalam satu per satu secara beruntun. Semuanya terasa aneh, samar tak nyata, seolah-olah di situ ada dua-tiga helai lempengan kaca yang menghalangi, namun semua itu benar-benar telah terjadi padaku. – 125
Entah mengapa, begitu aku terbaring di ruangan ini, kejadian-kejadian dan perasaan-perasaan masa lalu yang tak pernah kuingat satu per satu bermunculan di benakku. Ada yang menyenangkan ada pula yang menyedihkan. – 152
“Sepertinya tempat ini bukan dunia yang sesungguhnya deh. Orang-orang, pemandangan di sekeliling, semua rasanya bukan dunia sesungguhnya.” – 251
Pagi-pagi mencuci pakaian, lalu menjemurnya di balkon gedung asrama sebelum sore saya angkat, lalu menyetrikanya. Menyetrika bukan pekerjaan yang membosankan. – 280
Aku berfikir harus berapa puluh kali atau berapa ratus kali menjalani hari Minggu seperti ini. Hari Minggu yang sunyi tenang dan kesepian’. Kucoba mengucapkan kata-kata itu. Hari Minggu aku tidak memutar sekrup hidupku. – 293
“Bagus sekali, sampai-sampai seluruh pepohonan di hutan-hutan yang ada di seluruh bumi ini bertumbangan.” – 378
“Aku suka apa pun yang kamu pakai, yang kamu lakukan, kamu katakan, cara berjalanmu, cara mabukmu, semuanya suka. Aku menyukaimu sebesar harimau-harimau di seluruh dunia yang mencair menjadi mertega.” – 385
Dan betapa pun kita melakukan yang terbaik, seseorang kalau sudah waktunya terluka, akan terluka juga. Itulah hidup. – 391
“Aku ini manusia yang sudah tamat. Yang ada di depanmu sekarang tidak lebih hanya sisa kenangan diriku. Sesuatu yang terpenting yang dulu ada di dalam diriku sudah lama mati, dan sekarang aku hanya bergerak mengikuti kenangan itu saja.” – 416
“Berbahagialah,” katanya kepadaku ketika akan berpisah. – 425
Well, buku sehebat ini sayangnya ditemukan banyak typo, salah ketik. Aneh juga Penerbit sebesar KPG masih banyak kata yang lolos. Bukan pertama saya temukan, di buku-buku lain juga sering ketemu typo. Sebagai PR Penerbit KPG harusnya mengevaluasi lagi pemeriksa aksara. Sayang aja, buku-buku berkualitas tercetak dengan kata-kata yang salah.
Terakhir, kapan ya Haruki meraih Nobel Sastra? Semoga tak seperti Penulis besar kita, Pram yang berkali-kali masuk nominasi namun keburu kembali ke Tuhan tanpa meraih penghargaan prestisius ini. Please… #NobelFor Haruki
Norwegian Wood | by Haruki Murakami | KGP 901 15 0949 | judul asli Noruwei no Mori | copyright 1987 | originally published in Japan by Kodansha Ltd. Tokyo | Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) | Cetakan kelima, Februari 2015 | Penerjemah Jonjon Johana | Penyunting Yul Hamiyati | Perancang sampul Deborah Amadis Mawa | Penata letak Wendie Astwenda | iv + 423 hlm; 13,5 cm x 20 cm | ISBN 978-979-01-0835-7 | Skor: 5/5
Karawang, 300616 – Sherina Munaf – Primadona
#30 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

A Very Yuppy Wedding #29

image

Buku ini saya baca tahun 2008, tiga tahun kemudian ketika akan menikah saya berikan kepada May, calon istriku untuk dibaca. Untuk dimengerti bahwa hari-hari menjelang menikah itu penuh cobaan dan godaan. Tak hanya di novel atau cerita-cerita fiksi, kenyataan memang menjelang hari H kita akan sangat sibuk dengan berbagai problematika dari yang remeh sampai yang perlu menghitung ulang uang besar. Begitulah, tahun 2011 bulan 11 tanggal 11 akhirnya menjadi A Very Yuppy Wedding, dan buku ini layak digunjingkan sekedar referensi bagaimana degub jangung pasangan berdebar.
Merupakan novel perdana Ika Natassa dan jadi novel pertama dia yang kubaca. Sebagai bankir jelas apa yang ia ceritakan adalah pangalaman pribadi dibalut khayal sana sini dan jadilah buku ini. Kisahnya runut, walau banyak bagian yang super-duper-lebai. Kepanikan dikejar EO nikah itu bagian yang yah, sederhana namun dibuat pusing sendiri. Judulnya spoiler berat, karena segala tanya apakah pernikahan itu akan jadi ga-nya hanya metafora. Emang tak ada konflik berarti, tapi kalau dibaca para lajang masih layak. Terutama cowok yang biasanya cuek bebek.
Adalah Andrea, wanita karir di sebuah bank swasta terbesar di negeri ini. Berpacaran dengan Ajie yang satu atap Perusahaan. Peraturannya jelas, karyawan tak boleh menikah dengan teman satu Perusahaan. Jadi mereka pun backstreet, menjalin kasih di antara kesibukan kerja. Andre seorang account manager kredit bersama bos Karen, pak Utomo dan Ajie tentunya sedang meninjau sebuah kebun kelapa sawit ke Pekanbaru. Sekembali ke Jakarta pekerjaan menumpuk. Namun ini adalah situasi kerja kelas jetzet. Di jam kerja bisa jalan-jalan ke salon. Makannya di J.Co bukan mie ayam pinggir jalan. Mau jalan tinggal panggil sopir. Yah, kehidupan perlente. Kerja di bank, kantoran. Tak akan ada betapa tiap akhir bulan mie instanadalah makanan lezat penyambung hidup. Tak ada kepanikan sekedar masalah bayar kos, tak ada kepenatan menunggu angkot datang atau waspada copet di metromini. Kehidupan kaum hedon, bankir bro bankir.
Ajie adalah pacar posesif, minta perhatian mulu, suka cemburu. Sama anak bu Karen si Ryan yang suka nelpon dia sensi, cowok paranoid, takut Andre kanapa-kenapa. Memiliki nick name 5 o’clock shadow, jambangnya mungkin sekeren Wolverine. Andre memang jatuh hati sama godek-nya yang cool. Mereka sering hitung sana-sini karier ke depan bagaimana nanti saat menikah. Siapa yang resign mungkin untuk kerja di bank saingan, siapa yang melanjutkan karier. Segalanya penuh resiko, Andre berpendapat wanita perlu berkarier karena hobi belanjanya yang tinggi. Adjie berpendapat, sebagai laki ia harus mampu menafkahi keluarga jadi percaya saja.
Mantan Andre, Radit pernah ketemu tak sengaja di Bintan. Saat kunjungan kerja berdua sama Adjie, mereka sempat grogi karena baru putus, cepat sekali mendapat ganti. Fakta ini tentu saja bisa jadi acuan Andre seperti cewek kebanyakan alias tak istimewa, pacar adalah hal penting. Jadi siap-siap saja sifat cewek yang hobi shopping, ke salon, jalan-jalan, makan es cream atau ngambek akan kita temui sepanjang buku. Adjie? Sama saja. Ya, pasangan kita adalah cerminan diri sendiri jadi memang jodoh.
Jadi bagaimana lika-liku menuju hari H mereka menikah? Well, saya membacanya dalam posisi lajang jadi dulu asyik saja, namun kalau dibaca ulang ilfill banget. Bacaan ga berbobot. Memang semakin dewasa seseorang maka semakin susah membuat takjub dari sebuah karya. Mungkin tua dan kualitas adalah garis lurus sehingga A Very Yuppy Wedding jelas cerita biasa dengan penuturan biasa. Beberapa bagian menggunakan bahasa Inggris, dulu kayaknya bagus dikutip tapi sekarang hadeeeh ternyata jelek. Kutipan simpel kayak gitu dengan mudah dibuat dan sebenarnya ga terlalu menunjang cerita. Apalagi pasangan ini memperlihatkan peluk dan cium seperti hal yang biasa, jadi rasanya ga bagus dibaca anak remaja.
Selang seling English emang jadi kebiasaan Ika. Buku-buku berikutnya templatenya sama. Dulu sih saya masih mau beli dan baca, sekarang nggak! Ika emang pernah sekolah di Amerika. Oooo pantas. Ga heran. Karena saya besar di Jawa, maka kalian pastinya tak heran saya ngomong diselingi bahasa Jawa. Jadi yah emang ga ada istimewanya. Melihat daftar bacaanku yang sekarang, jelas ini buku kebanting. Bahkan sekedar di jejer-pun jangan.
Dan aku teringat John Lennon pernah berkata, “Sebelum saya bertemu Yoko, aku dan dia belumlah manusia utuh. Pernah dengar mitos bahwa manusia itu terlahir hanya separuh jiwa, dan separuhnya lagi ada di langit? Di surga atau di sisi lain dunia ini, atau dalam bayangan cermin. Aku dan Yoko adalah dua bagian dari separuh yang telah bersatu.”
A Very Yuppy Wedding | oleh Ika Natassa | editor rosi@gramedia.com | GM 401 07.039 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Design dan ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan ketiga, Oktober 2008 | 288 hlm; 20 cm | ISBN-10: 979-22-3181-1 | ISBN-13: 978-979-22-3181-6 | Skor: 3/5
Karawang, 300616 – Sherina Munaf – Ku Mau Kau Tahu
#29 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

The Worry Tree # 28

image

Buku asal Aussie yang diluarduga bagus. Ide cerita memang bisa dari mana saja. Dari hate-love kakak-adik yang childish pun bisa. Dibalut dengan imaji sebuah pohon yang seakan mendengar segala keluh kesah kita, ya ya hal sepele bisa jadi cerita yang bagus kalau dituturkan dengan luwes. The Worry Tree adalah sebuah novel tipis dari ide yang sederhana namun ternyata memikat. Terkadang ketika saya menatap dinding kamar dan mengajaknya berbicara, saya membayangkan the Worry Tree meresap segala curhatan kita. Aneh?
Jadi kisahnya, Juliet Jennifer Jones adalah anak sepuluh tahun yang merasa mudah cemas. Dalam keadaan seperti itu ia akan merasa gatal. Adiknya Ophelia selalu menggoda membuat iseng dan senang sekali menyanyikan ‘lagu menyebalkan’ ke arahnya. Tak cukup banyakkah masalah yang harus dipikirkannya? Dad selalu sibuk sendiri, Mum bekerja sepanjang hari, Nana tak mau mengenakan alarm keselamatannya. Sulit sekali mengurus keluarga dengan kesibukan sendiri-sendiri.
Juliet ketika bete-nya memuncak akan menyortir. Itu yang ia lakukan untuk menenangkan diri. Sementara orang lain menyalakan lilin, mendengarkan musik, berendam air panas, Juliet menyortir koleksi-koleksi unik yang ia simpan di kamar tidur. Dari koleksi penghapus, koleksi kulit jangkrik kering, sebuah buku berisi daftar plat nomor, pita hadiah sampai koleksi tiket bus. Dan biasanya Oaf – panggilan adiknya- akan menggangunya yang berujung pada pertengkaran. Mum adalah seorang psikolog, sehingga paham sekali konflik dan perseteruan saudara kandung. “Berteriak dan dan menjerit-jerit tidak akan menyelesaikan masalah. Kurasa sekarang waktunya kita bertiga duduk bersama dan membicarakan masalah.”
Ketika seakan masalah benar-benar tak bisa ditahan Juliet, dia akan melampiaskannya pada benda-benda sekitar. Nah suatu ketika Nana, neneknya mengajaknya membuka masa lalu. Kamar tidur Juliet adalah kamar tidur Nana sewaktu masih kecil. Dari kamarnya itulah ia melihat tulisan kutipan dari Thomas Edison tergeletak kusut di lantai, “Untuk menemukan sesuatu kau perlu …” sisa tulisannya tersembunyi dari pandangan. Dia pun merobek pelapis dinding yang ada. Selembar demi selembar.
Sobekan-sobekan kertas bergelung bertumpuk di lantai seperti sampah rautan pensil yang sangat besar. “Lihat ini, ada binatang-binatang di atas cabang-cabangnya. Aku melihat wombat, merak, anjing, babi, kambing, dan bebek.” Gambar di balik pelapis dinding itu adalah sebuah pohon dengan enam binatang di atas rantingnya. Di bawahnya di bagian akar tertulis Pohon Cemas.
Sihirkah? Bukan. Hanya karena bukan sihir belum tentu sesuatu itu tak ajaib. “Gantungkan kecemasanmu di setiap cabangnya setiap malam sebelum tidur. Coba kau pikirkan sesuatu yang membuatmu cemas. Mungkin ada seseorang yang kau kenal yang membuat hidupmu susah.” Hugh Allen. “Bayangkan kecemasanmu itu ada di atas telapak tanganmu seperti ini.” Nana menengadah, “bayangkan tali tali yang tak terlihat mengikat bagian tengahnya dengan simpul di atas. Lalu ambil simpul itu  dengan ibu jari dan telunjukmu. Gantungkan dia di salah satu cabang pohon cemas. Dan binatang-binatang pohon cemas akan mengurus kecemasanmu sampai pagi. Artinya merekalah yang mencemaskanmu saat kau tidur.”
Wow. Simple tapi sangat menyentuh. Keenam binatang itu ternyata bernama dan memiliki keahlian masing-masing. Wombat bernama Wlfgang yang mengurusi segala khawatir tentang teman. Anjing Dimitri memikirkan masalah keluarga. Babi Petronella memikirkan masalah sekolah. Kambing Gwyneth tentang saat sakit. Merak si Piers memikirkan barang-barang yang hilang. Dan terakhir bebek putih bernama Delia mengatasi segala kesulitan perubahan. Ada lubang hitam di bagian bawah pohon. Tugasnya adalah menampung segala masalah bila para binatang tak bisa menyelesaikannya.
Terdengar unik-kan. Butuh imajinasi tinggi untuk curhat pada gambar di dinding. Sebenarnya gambar ini adalah turun temurun dari buyutnya. Namuan saat sampai di Nana, ayahnya menutupi dinding itu. Ada kisah harus di baliknya. Well, dengan kembali terbukanya misteri itu Juliet melaksanakan nasehat Nana, kini Pohon Cemas itu miliknya. Dan mulailah ia setiap malam sebelum tidur berbincang dengan dinding, mencurahkan segala keluh kesah. Berhasilkah ia mengatasi masalah-masalah kerumitan anak 10 tahun?
Well, unik. Nyeleneh. Dan seru. Sebenarnya secara ilmiah pohon memang bisa menyerap keadaan sekitar. Pernah dengar dalam sebuah diskusi, bahwa pohon kalau dimaki-maki setiap hari akan mati karena didera energi negatif. Beda sebaliknya, pohon akan subur dan berkembang bila kita tanam kata-kata menyenangkan. Percaya? Silakan coba. Saya sendiri terkadang ‘curhat’ pada pohon Pucuk Merah di depan rumah saat langit malam cerah. Sedikit banyak ada beban yang terangkat dan lepas setelah kita ngomong. Sisanya biar keajaiban alam yang menyelesaikan. Sayangnya pohon di kebun depan rumah itu ditebang sama May ketika saya sedang kerja tahu-tahu pulangnya itu pohon sudah hanbis. Hiks,. Jadi walau konflik yang disodorkan biasa, masalah anak-anak buku ini tetaplah sukses mempesonaku. Hebat, cerita sederhana ini tak terpikirkan bisa jadi cerita.
Buku ini dipersembahkan untuk nenek dan kakekku – Margar, yang suka menceritakan kisah-kisah, dan Jim yang menyemangatiku untuk menuliskan mereka.
The Worry Tree | by Marianne Musgrove | first published Random House Australia Pty Limited, Sydney | Pohon Cemas | Penerjemah Dini Andarnuswari | Pewajah isi Aniza Pujiati | Penerbit Atria | Cetakan I: November 2008 | ISBN 978-979-1411-56-1 | Skor: 4/5
Karawang, 300616 – Sherina Munaf – 1000 Topeng
#28 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

Bumi Manusia #27 – Pramoedya Ananta Toer #2

image

Klimak to the maxxx. Amazing. Bombastis. Specchless. Luar biasa. Two thumbs up. Wonderfull. Brilian. Buku gila! Silakan sebut kata pujian yang pernah tercipta di dunia ini untuk menyatakan kekaguman tak terperi terhadap sebuah karya sempurna. ‘Bumi Manusia’ adalah kosa kata baru untuk sebuah puja-puji seorang kutu buku yang takjub saat selesai melahab lembar-lembar fenomenal Penulis Besar. Beginilah sebuah buku harusnya diramu dan dituturkan, jelas novel ini tidak ditulis dengan tinta. Warisan Indonesia untuk dunia ini digurat dengan goresan emas penuh ketelitian seorang maestro. Buku kedua Pram yang saya nikmati ini sekaligus menasbihkan sebagai buku terbaik sepanjang masa untuk kategori lokal. Tiap kalimatnya berdenyut seolah Pram bercerita tepat di hadapan kita, berkisah zaman dahulu kala di era cikalbakal nation Indonesia. Berlebihan? Tidak! Jelas seri pertama tetralogi Buru ini sebuah masterpiece tak terbantahkan.
Inilah buku baca target Ramadan 2016 yang pertama kuhabisi. Kisahnya runut. Kalau mau jeli Pram sudah memaparkan ending di pembuka, namun tersamar. Keseluruhan kisah adalah kumpulan catatan pendek sang tokoh utama lalu setelah tiga belas tahun, catatan itu dibacai dan dipugar menjadi cerita penuh gejolak. Minke (baca Mingke) adalah pemuda yang dikagumi di sekolah H.B.S Surabaya, sekolah setara SMU di zaman Belanda. Hanya orang-orang dari Eropa yang bisa sekolah di H.B.S. atau para priyayi atau anak Bupati. Nah Minke ini istimewa, mengaku orang biasa yang dititipkan untuk belajar di sana. Seorang pribumi di sekumpulan orang asing, di tanah Jawa, tanah kelahirannya.
Dengan setting awal abad 20 dimana dunia dihadiahi penemuan-penemuan spektakuler. Mesin cetak yang bisa membuat ratusan gambar dalam sehari. Kereta api yang bisa menghubungkan Betawi-Surabaya dalam tiga hari. Listrik yang asing. Segalanya tampak mewah dan megah. Minke, tentu saja terpukau akan dahsyatnya zaman itu. Sungguh merugi generasi sebelum aku – generasi yang sudah puas dengan banyaknya jejak langkah sendiri di lorong-lorong kampungnya itu. Betapa aku berterima kasih pada semua dan setiap orang yang telah berjerih-payah untuk melahirkan keajaiban baru itu. Era modern telah tiba.
Suatu hari Minke diajak teman sekolah Robert Suurhof ke Boerderij Buitenzog, sebuah Perusahaan Pertanian di Wonokromo. Orang mengenal tempat itu milik tuan Mellema yang mempunyai gundik – nyai Ontosoroh. Perusahaan ini dijaga oleh pendekar Madura bernama Darsam dan pasukannya. Robert mengajaknya ke sana, awalnya sekedar main naik dokar dan berkenalan dengan putra Mellema yang bernama Robert juga. Nah berikutnya bagian ketika Minke terpesona itu dituturkan dengan sangat indah, nan memikat.
… Suasana baru tergantikan: di depan kami berdiri seorang gadis berkulit putih, halus, berwajah Eropa, berambut dan bermata pribumi. Dan mata itu, mata berkilau itu seperti sepasang kejora; dan bibirnya tersenyum meruntuhkan iman. Kalau gadis ini yang dimaksudkan Suurhof, dia benar: bukan saja menandingi malah mengatasi Sri Ratu, dari darah dan daging, bukan sekedar gambar. “Annelies Mellema,” ia mengulurkan tangan padaku, kemudian pada Suurhof. Suara yang keluar dari bibirnya begitu mengesani, tak mungkin dapat kulupakan seumur hidup. – halaman 13-14
Dari perkenalan itulah Minke jatuh hati. Cinta pada pandangan pertama. Ann yang jelita ternyata juga mencinta. Nyai Ontosoroh diluarduga Minke, setuju. Sebagai pribumi yang dimadu meneer dirinya tetap seorang Jawa. Kisah panjang Nyai Ontosoroh pun diungkap dengan alur yang brilian. Bernama asli Sanikem, dipungut dengan paksa di usia belia. Sebagai gundik, pernikahan tak sah walau tuan Mellema pernah mencoba mengesahkannya di pengadilan. Nantinya akan jadi kejutan kenapa mereka tak bisa mendapat akta nikah. Ann ini adalah bidadari sepanjang jalinan cerita. Sebagai anak mami yang manja dan suka merajuk, cintanya pada Minke diperjuangkan dengan pertaruhan besar.
Minke sendiri akhirnya diungkap identitas aslinya ketika ke kota B. Setelah dijemput paksa oleh polisi utusan menyeretnya naik kereta dan tahulah kita, pribadi Minke yang katanya tak jelas asal usulnya adalah bohong. Nama Minke sendiri bukanlah nama asli, tapi nama pemberian seorang guru Meneer Ben Rooseboom ketika ia masih sekolah dasar kelas satu E.L.S. . Sebuah teriakan kasar yang baru diketahuinya saat belajar bahas Inggris, Minke – Mon… hebat. Detail seremeh ini dibuat dengan memikat.
Sekembali dari kota B. Banyak hal berubah. Rutinitas ke Wonokromo, diberi bendi gratis untuk berangkat sekolah dan pulang-pergi berkunjung. Bendi, di zaman itu sangatlah mewah dan setiap siswa memandang takjub. Kereeeen. Mungkin siswa-siswi itu bergosip betapa kudanya gagah, rodanya bertektur lembut dengan akurasi bulat yang presisi. Talinya dicetak dengan pegangan selembut sutra agar sang kusir saat menariknya terasa lunak. Yah, itu imajiku mengira-ira saja percakapan anak zaman pra-kemerdekaan.
Setelah berpanjang lebar penuh makna tiap kalimat, Pembaca akhirnya disuguhkan konflik yang sebenarnya. Sang pemilik Perusahaan, suami nyai, ayah Ann yang jarang pulang akhirnya nongol di rumah mewah saat acara malam. Melihat seorang pribumi di sana, mencak-mencaklah dia. Debat kusir, caci maki, sumpah serapah. Untung Nyai menyelamatkan momen sehingga Minke ga dibedil kepalanya.
Robert Mellema pun membencinya. Robert Suurhof iri padanya. Minke mencurahkan pemikirannya pada koran lokal. Dengan nama samaran Nederland tentunya. Tuan Telinga, sang induk semang tempatnya tinggal mencoba membantu. Temannya dari Perancis, Jean Marais seorang mantan tentara korban perang Aceh yang kini jadi pelukis menasehatinya. Bersama anaknya May yang senang untuk diikuti. Ketika seakan dunia memusuhi Minke, muncullah guru pujaannya sebagai penyelamat, bu guru Magda Peters.
Konflik yang mereda itu tenyata hanya awal. Saat kita sedang terhanyut tenangnya aliran, kita dihentak lagi gelombang kasus yang lebih rumit. Sebuah kejadian memilukan di tempat pelesir Ah Tjong menyeret kisah ini ke pengadilan. Panjang nan berliku, walau akhirnya serasa memenangkan kasus. Sebuah fakta mengejutkan dicipta Pram lagi dan lagi. Saat akhirnya cerita seakan sampai di puncak kegembiraan, semua senyum bahagia (pembaca) langsung pudar bak piring pecah yang dibanting di lantai, dihempaskan dengan kekuatan penuh laksana istri yang marah melihat suaminya main PS mulu. Hancur berkeping-keping, sangat memilukan. Nah, bagaimana akhir kisah Minke pemuda masa kini menghadapi masalah orang dewasa. Pribumi melawan Londo. Berhasilkah ia menyelamatkan satu-satunya yang sangat dicinta? Buku fantastis ini sangat amat layak didongengkan pada anak cucu, dipajang di rak perpustakaan keluarga, dibalut dengan pita manis dan diajarkan di sekolah dari generasi ke generasi. Elok nian buku lokal bisa seperti ini.
Apa peran Minke untuk kemerdekaan tak dijabarkan di sini. Mungkin akan dikisahkan di sekuel Anak Semua Bangsa. Karena Minke menggunakan nama samaran, kita pasti ikut menerka liar siapa sebenarnya karakter ini. Apakah salah satu pahlawan Nasional kita? Apakah salah satu penggerak Boedi Oetomo? Ataukah tokoh antah tak tersebut di buku-buku sejarah di sekolah dasar kita? Pastinya segala tanya itu akan nikmat ketika diketahui sendiri dalam bacaan tanpa bocoran dari siapapun.
Setiap lembar Bumi Manusia ini layak kutip dan patut di pajang di dinding-dinding kafe anak gaul. Namun rasanya tak mungkin diketik ulang semuanya kan. Paling bijak memang, adalah kalian baca sendiri dan nikmati sensasinya.
Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan atau satu kelemahan. – halaman 57
“Mas!” itulah untuk pertama kali ia memanggil aku – panggilan yang mendebarkan, menimbulkan suasana seakan aku berada di tengah keluarga Jawa. – 65
Aku harus tabah, kubisikkan pada diri sendiri. Takkan ada yang menolong kau! Semua setan dan iblis sudah mengepung aku. – 87
Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan jadi apa-apa. – 99
Kursi goyang adalah peninggalan terindah dari kompeni sebelum mengalami kebangkrutannya. Aduhai, kursi goyang kau akan jadi saksi bagaimana aku harus menghinakan diri sendiri untuk memuliakan seorang bupati yang tak kukenal. – 131
Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah tak pernah melihat kitab dalam hidupnya tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan. – 233
Dunia, alam, terasa hilang dalam ketiadaan. Yang ada hanya dia dan aku yang diperkosa oleh kekuatan yang mengubah kami jadi sepasang manusia purba. – 267
Uh Darsam, seribu orang seperti kau dengan dua ribu parang sekaligus tak akan mampu menolong kami. Bukan soal daging dan baja, Darsam. Ini soal hak, hukum dan keadilan. Tak dapat kau lindungi dengan silat dan parangmu. Tiba-tiba datang bantahan: kau harus adil sudah sejak dalam pikiran, Nyo! Jangankan Darsam yang berparang dan pendekar, batu-batu bisu pun bisa membantumu – kalau kau mengenal mereka. Jangan sepelekan kemampuan seseorang, apalagi dua! – 379
Oiya saya menuntaskan baca buku di kantor di tempat duduk saat istirahat kerja. Ketika lembar-lembar terakhir dalam angan jam masuk kerja sudah datang. Bersamaan muncullah rekan kerja buku ini kelar. Saya menangis tersedu malu dilihat sahabat. Saya membanting buku ini di meja saking sedihnya. Teman-teman terheran dan menyindir, betapa laki-laki menangisi akhir cerita. Sembari mengambil tisu saya berceloteh, betapa bangganya saya sebagai Indonesia memiliki penulis bernama Pramoedya Ananta Toer.
Bumi Manusia | oleh Pramoedya Ananta Toer | editor Joesoef Isak | Kulit depan Si Ong (Harry Wahyu | Design buku Marsha Anggita | Penerbit Hasta Mitra – Lentera Dipantara | Edisi ketujuh, Februari 2001 | ISBN 979-8659-12-0 | Skor: 5/5
Karawang, 230416 – #Sherina Munaf – Dua Balerina

The Incredible Journey #26

image

Berani taruhan, kalian (mayoritas) belum baca buku ini. 9 dari 10 pecinta buku bilang tak tahu ini buku tentang apa. Padahal bukan buku snob, bukan buku cult atau sebuah karya illegal. Ini buku sederhana cetakan Gramedia yang umum. Tapi kenapa banyak yang belum baca padahal ini novel sudah diadaptasi ke film dengan judul Homeward Bound: The Incredible Journey. Dengan embel-embel seri klasik harusnya buku ini masuk jajaran hebat, sudah melewati waktu sampai lebih dari lima dekade. Namun untuk kali ini saya kurang suka kisahnya. Tentang perjalanan binatang-binatang: Luath, anjing Labrador muda bermata cokelat. Tao, si kucing Siam yang cantik dan Bodger, anjing Bull Terrier yang tua dan mata kirinya nyaris buta.
Ketiga sahabat ini melintasi hutan belantara dan berjuang mencari jalan pulang kepada orang-orang yang mereka cintai. Luath yang setia dan pemberani selalu berjalan di sisi kiri Bodger untuk menandunya. Budget sangat menyukai manusia, terutama anak-anak dan meski sudah tua dia masih tetaplah anjing petarung yang tak kenal takut. Sedangkan Tao, meski bertahan hidup sendiri dia tak mau meninggalkan kedua anjing itu dan kehadirannya sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.
Buku dibuka dengan sebuah kutipan dari Leaves Grass, “Song of myself”, 32 karya Walt Whitman: Kurasa aku bisa pindah dan tinggal dengan binatang, mereka begitu tenang dan mandiri. Aku berdiri memperhatikan mereka lama sekali. Mereka tak ribut dan berkeluh kesah tentang kondisi mereka; Mereka tak berbaring nyalang dalam gelap dan meratapi dosa-dosa mereka; Mereka tak membuatku muak dengan celotehan tentang kewajiban kepada Tuhan; Tak satu pun tidak puas, tak satu pun kerajingan materi; Tak satu pun tunduk pada yang lain atau pada leluhurnya yang hidup ribuan tahun lalu; Tak satu pun terbebani atau giat menguasai bumi.
Sebuah patokan bahwa kisah ini akan memperlihatkan para binatang bisa berfikir dan mengambil tindakan. Sebuah fabel? Ternyata bukan. Kisah ini tetap mengacu pada fakta bahwa para binatang itu tetaplah hewan dengan segala nalurinya. Jadi, tetap mengacu pada habit. Perjalanan ini terjadi di wilayah Kanada di provinsi Ontario yang membentang lebar. Wilayah itu dipenuhi hutan lebat serta aliran danau-danau dan sungai-sungai yang tak putus. Ribuan mil jalanan-jalanan desa, jalur pengangkutan kayu serta jalan-jalan setapak penuh ilalang yang mengarah ke tambang terbengkelai, lintang-melintang di wilayah itu.
John Longridge tinggal beberapa mil dari salah satu kota kecil, dengan rumah batu tua milik keluarganya dari generasi ke generasi. Lajang berusia 40 tahun seorang Penulis. Rumahnya diurus oleh pasangan Mrs. Oakes dan suami Bert yang tinggal di pondok kecil sekitar 1 kilometer. Mr. Longridge memiliki dua anjing dan satu kucing. Suatu hari ia akan melakukan perjalanan jauh, sebagai penulis yang butuh riset lokasi ia sering bepergian. Ia menelpon Mrs. Oakes untuk memberitahunya, sayang jaringan telpon sedang bermasalah dan suara yang disampaikan kurang jelas serta terputus sebelum semua maksud tersampaikan.
Mr. Longsridge akan melakukan perjalanan ke Danau Heron yang sepi. Sebelum berangkat ia menulis pesan di buku memo kecil. “Dear Mrs. Oakes tolong pesan kopi dan ganti makanan kaleng yang kuambil. Aku akan membawa anjing-anjing (dan tentunya Tao)…” Kertasnya habis dan Longridge melanjutkannya di kertas memo lain, “….keluar untuk lari-larian sebelum aku pergi, dan jangan memberi makan mereka. Jadi jangan biarkan teman putih rakus kita mengaku kelaparan! Tidak usah terlalu repot mengurusi mereka – aku tahu mereka akan baik-baik saja.”
Dia meninggalkan kertas itu di meja, di bawah pemberat kertas dari kaca. Esoknya ia berangkat meninggalkan peliharaannya. Ia tak pernah mengkhawatirkan mereka karena percaya bahwa Mrs. Oakes bisa menjaganya selama pergi. Ketika pergi ia melambai pada para binatang dan merasa sedikit konyol melakukannya, “Memangnya aku berharap mereka berbuat apa? Balas melambai? Atau berteriak ‘Selamat tinggal’? Masalahnya aku sudah terlalu lama tinggal sama mereka dan menjadi terlalu tergantung dengan mereka.” Mungkinkah ini sebuah pertanda ia akan berpisah sama perliaharaan tercinta?
Setelah beberapa saat berlalu. Si anjing muda berjalan keluar, diikuti si tua. Dan Tao, si kucing setia mengekor. Mereka bertiga berjalan melakukan petualangan mencoba mengikuti tuannya menuju Danau Heron. Kita semua tak tahu apa yang ada di pikiran para binatang karena memang kita hanya akan mengikutinya dalam Bahasa ‘meong’ dan ‘guk guk’. Permasalahannya Mrs. Oakes menemukan catatan memo itu hanya di lembar pertama yang bertuliskan, “…Aku akan membawa anjing-anjing (dan tentunya Tao)…” jadi dia cuek saja saat mengurus rumah tak menemukan satu binatang pun. Dengan pemikiran Mrs. Oakes bahwa binatang dibawa tuannya dan Mr. Longridge berfikir peliharaan ditinggal, miss komunikasi ini memberi konsekuensi trio ini sepertinya terabai. Nah kisah ini menjelaskan perjalanan panjang mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, berpetualang bersama kawan. Berhasilkah mereka menemui tuannya? Dengan selamat? Ataukah ada yang tewas? Tersesat? Kelelahan terutama di tua Bodger.
Template cerita sih bagus, sayangnya tak banyak konflik yang membuat jantung berdebar. Beberapa bagian mengingatkanku pada kisah anjing Hachiko yang setia pada taunnya, beberapa membuatku ingat peliharaanku si Brown, anjing masa kecilku. Beberapa lagi datar dan tak memberi daya kejut. Yah, standar kisah hewan-hewan manis yang tersesat.
Satu kutipan yang bagus layak dibagikan: Pada tengah malam, si anjing tua duduk tegak dan gemetar hebat karena kedinginan. Ia mengangkat kepala tinggi-tinggi dan melolong, melantunkan duka cita serta kesepiannya ke arah langit yang menangis, dan sampai akhirnya si anjing muda bangkit dengan berat dan memimpinnya menjauh dari sungai melintasi bukit ke arah barat, jauh sebelum fajar tiba. – halaman 68
Yang hebat dari buku ini based on true event, artinya segala tindakan cinta kasih hewan itu nyata. Mereka bahu membahu, saling setia saling manjaga. Luar biasa. Jadi ide cerita bisa dari mana saja, sudut pandang aja saja, bahkan dari persahatan binatang. Ingat, ini bukan fabel jadi tetap manusialah yang menghidupkan alur, ketika kisah diambil dari sudut pandang binatang, Tao misalkan kita hanya bisa mengikuti gerak-geriknya tanpa tahu apa yang ada di dalam kepalanya. Hhhmm… hebat juga ya. Sayangnya secara keseluruhan kisahnya klise, tak banyak letupan tak ada yang wow dalam jalinan kisah. Yah, setidaknya tak ada blunder konyol si Bodger tua berdansa dan bernyayi ala film-film Madagaskar, kan?!
The Incredible Journey | by Sheila Burnford | copyright The estate of Sheila Burnford, 1961 | Diterjemahkan ke Perjalanan Pulang | Alih Bahasa Rosemary Kesauly | GM 402 01 12 0033 | Design ilustrasi sampul Satya Utama Jadi | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Juni 2012 | 144 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-8171-2 | Skor 3/5
Ruang HR NICI – Karawang, 290616 – Sherina Munaf – Sing Your Mind
#26 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

5 CM #25

image

Ini adalah contoh sebuah buku yang beruntung. Buku biasa yang sukses mencetak uang, dicetak ulang berpuluh-puluh kali, best seller, diadaptasi film dan banyak dibicarakan banyak orang (awam). Terkadang memang kualitas diabaikan untuk menjadi hit. Entah apa menariknya kisah yang datar, konflik cerita kualitas rendah, penuturan biasa serta susunan yang tak ada kejutan, buku ini bisa menarik Rupiah yang berlimpah. Padahal kalau diperhatikan 5 Cm tak memunculkan hal baru, segalanya ide usang dengan disertakan kutipan orang-orang besar zaman terdahulu, lirik lagu yang berlimpah yang dengan mudah kita cari di internet, hingga hiperbola nan lebai tiap karakter. Yaitu tadi, ini adalah buku yang beruntung. Tak lebih.
Bukunya tebal, untuk ukuran lokal ya lumayan tebal. Saya belinya enam tahun lalu di saat ada bazar buku di Pujasera, Cikarang bareng teman kerja yang waktu itu sedang melanjutkan kuliah sehingga minta ditemani cari buku. Ketika dia mendapat textbook buat memulai sementer baru saya menemukan buku ini dan a modern classic Botchan karya Natsume Soseki. Kukira 5 cm itu apaan, ukuran pensil mata usang? Ukuran xxx? – wah apa ini? Pikir sendiri! Atau panjangnya seekor cacing yang terjebak di laboratorium untuk dibedah sehingga sang cacing yang menunggu maut berfikir bahwa hidup ini singkat? Ternyata bukan. 5 cm ternyata ‘hanya’ semacam pemikiran sederhana, seperti yang dijelaskan di ending. “… 5 cm di depan kening kamu…”
Biar terlihat keren, buku ini menggunakan daftar isi bahasa Inggris. Yang lagi-lagi sebagian kutipan. Sebuah prolog dan sepuluh bab yang didaur ulang laksana pemikiran Penulis. Padahal sedari pembuka kita sudah disuguhi kutipan-kutipan. Bayangkan baru dibuka tiga halaman kita sudah diganjar (minimal) 17 kutipan. Padahal aturan buku yang bagus, kasih pembaca sesuatu yang mempesona tapi ini malah saduran berlimpah layaknya ‘kumpulan nasehat’ yang dibacakan untuk anak SD. Dialog pembukanya juga buruk. Film Before Sunrise-Sunset yang dibintangi Julie Delpy dan Ethan Hawke itu dikutip dan bilang nggak terkenal? Hello… film yang kini ada seri ketiganya Before Midnight sangat terkenal sekali lho –  saya kasih sangat dan sekali diantara terkenanl ini sengaja ya, awas kalau dikira typo, ungkapan ‘film ini tak terkenal’ ketika disodorkan di forum film pasti pada diketawain. Ini film besar yang berulang kali diulas, bukan film snob dengan bahasa asing yang njelimet. Jadi yah, ini pembuka yang buruk.
Ceritanya lima sekawan: Arial yang ganteng, Riani yang pakai kaca mata terlihat pintar (saya revisi dari kata cerdas karena level cerdas tentunya lebih tinggi), Zafran yang suka berfilosofi, Ian yang penggemar bola berbadan gendut, Genta yang dianggap pemimpin gank ini. Ketika bab satu dibuka, kita disuguhi lirik lagu Picture of You-nya The Cure. Wait saya mengingatkan jangan muntah ya, buku ini akan terus dan berulang mengutip lirik lagu. Sesuatu yang buruk, tak menunjang cerita padahal. Hanya memenuhi lembar demi lembar. Sekali-dua kali sih ga masalah, tapi kalau sampai puluhan ya kurang ajar boring-nya. Percayalah mayoritas pembaca pasti langsung skip di bagian itu. Satu halaman dibalik The Cure kita ketemu Frank Sinatra, apakah menurut kalian dengan mengutip dan manukil lirik orang hebat kalian akan terlihat hebat? Nope! Westlife pernah meminta izin menjadi Frank dan biasa aja kan (albumnya)? 2 lembar setelah itu kalian akan ketemu Kenny Loggins. Berikutnya Goo Goo Dools berikutnya Bruce Spingsteen lalu Radiohead dan seterusnya dan seterusnya. Pokoknya sampai mual, Donny hanya meng-copypaste lirik lagu yang tersedia di Google itu. Ya, anak magang kemarin sore juga bisa.
Ceritanya berputar-putar ga jelas dengan pemilihan diksi yang hancur. Kalau ingin berfilosofi rekomendasiku, coba baca buku-bukunya Haruki Murakami, George Orwell, atau Rabindranath Tagore. Itu buku penuh perenungan tanpa banyak kutipan, tanpa banyak terdengar menggurui. Kalau lokal saya lebih suka A.S. Laksana atau Triyanto Triwikromo atau dongeng-dongeng Yusi Avianto Pareanom yang terdengar nyeleneh tanpa banyak lirik lagu. Haha…, lalu apa hebatnya lima sahabat menyelinap di dalam sekolah malam-malam? Kalau mau ngopi mending sekalian di angkringan yang legal dan penuh suasana keakraban.
Di bab dua kalian langsung di hajar lirik lagu lagi. Ampun deh. Finding Nemo, finding Dory, Finding Ian. Belum genap tiga lembar dibalik, disodori lirik lagu lagi, lalu belum juga narik nafas lima menit dikasih lirik lagu lagi. Enggap tahu!
Bab tiga dipembuka dikasih lirik lagu lagi. Ditengah pasti ada lirik lagu lagi. Dan benar saja. Belum puas membuat pembaca frustasi? Di penutup bab tiga kita disuruh nyanyi lagi sama The Cranberries. Haha… buku ini bahkan lebih banyak lirik lagunya ketimbang buku khusus lirik lagu. Ediaaan. Dan seterusnya dan seterusnya. Lho kalau gitu yang di film dengan poster orang-orang naik gunung itu di bagian mana? Sesungguhnya kisah anak-anak Mapala naik gunung itu hanya tempelan. Kisah aslinya ya kumpulan lirik lagu dan kutipan. Eh apa terdengar kasar? Maaf.
Ya udah serius, kisahnya memang lima sekawan ini naik gunung. Ke gunung Mahameru. Maha – besar, meru – gunung. Raja dari gunung, tempat tertinggi di pulau Jawa. Mereka mau bertapa mencari ilham. Finding Ilham? Bukan! Ya kegiatan hura-hura naik gunung, hiking, cari suasana segar. Kalau kalian pernah naik gunung, ya seperti itu kegiatannya. Kalau kalian berharap ada konflik seru kalian tak akan menemukannya. Datar bak jalan tol. Siapa tahu di puncak Mahameru ketemu jin penunggu? Siapa tahu di perjalanan mereka berdebat yang mengakibatkan hilangnya nyawa karakter penting? Siapa tahu mereka bertemu UFO? Bukan. Ga ada. Dan ga pernah ada. Ceritanya lempeeeng aja. Datar seperti mimpiku tiap malam bahwa mencium Sinna Sherina Munaf itu hanya 5 centimeter di depan wajahku. Oh gadisku.
Semua keyakinan, keinginan, cita-cita kamu dan harapan kamu taruh di sini, jangan menempel di kening. Biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu.
“Percayalah pada… 5 centimeter di depan kening kamu.” Berikut saya kutip beberapa ISI buku ini.
I have a dream… – halaman 2
Saya tidak akan memakan buah palapa hingga Nusantara bersatu di bawah bendera kejayaan Majapahit. –  3
… I just brought Indonesia… I fight and work and sacrifice my self for this Indonesia people.. this Fatherland of mine. –    3
I always love tou. Fly me to the moon. –   16
Cogito ergo sum – Aku berfikir maka aku ada –  162
Sebenarnya manusia adalah hewan yang berfikir. –  161
Everyman dies. Not everyman really lives. – 163
Sesuatu yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. –  270
Now this is something that you didn’t see everyday.. – 288
Kalau kalian mengira itu adalah kutipan orang-orang besar, kalian SALAH. Saya MENGUTIPnya dari buku ini.
5 CM | oleh Donny Dhirgantoro | GM 501 05.239 | Editor A. Ariobimo Nusantara | Design dan ilustrasi Bayu Abdinegara | Penata isi Suwarto | Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia – Grasindo | Cetakan keempatbelas, Januari 2010 | ISBN 978-9790-251-762 | Skor: 2/5
Karawang, 290616 – Hanson – This Time Around
#25 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

1984 #24

image

Novel-novel Eric Arthur Blair atau lebih kita kenal sebagai George Orwell sangat menghantuiku beberapa tahun terakhir. Satu per satu saya bacai. Pertama Animal Farm yang luar biasa, sangat ambigu. Kedua Down and Out in Paris and London yang sangat sarat makna kehidupan pribadi sang Penulis. Dan ketiga adalah ini, 1984 yang revolusioner. Kagum akan pemikiran beliau yang jauh ke depan. Anehnya ini adalah buku pertama Orwell yang saya ulas. Ketiganya saya beri rate sempurna, ada sedikit rasa was-was kalau membuat review buku pujaan. Makanya malah berlarut, tahu-tahu udah di penghujung perjalanan #30HariMenulis. Maka dengan kerendahan hati, setelah taraweh yang singkat dan malam tanpa bola Euro di prime time, diiringi lagu-lagu Yusuf Islam di album The Best Of – Footsteps in the Light, perkenankan saya memulai mengulas buku hebat ini.
Kisahnya dibagi dalam tiga bagian yang sangaaaat panjang plus sebuah lampiran penjelasan kaidah newspeak. Butuh seminggu lebih untuk menyelesaikan baca. Beberapa bagian tanpa rancu, buku ini sempat sobek bagian bawah bagian sampul depan karena dimainkan Hermione yang waktu itu berusia 6 bulan. Saat saya baca dan ketiduran, Hermione yang terbangun terlebih dulu menggigiti dan menarik-narik buku ini sehingga robek. Lalu ketika membaca di percobaan pertama gagal selesai, terbengkelai karena tertumpuk buku lain yang lebih ringan. Namun dengan kegigihan dan perjuangan akhirnya kelar juga. Mungkin ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Sangat rekomendasi buat pecinta sastra, layak ditelaah dan digunjingkan seratus atau seribu tahun lagi.
Winston Smith sepanjang hidupnya adalah warga negara yang baik dengan mematuhi segala atuarn partai meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walau begitu Winston tak berani melakukan perlawanan terbuka, kenapa? Karena Polisi Pikiran, teleskrin dan mikrofon tersembunyi yang membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan sejarah ditulis ulang sekehendak hati oleh Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.
Cerita dibuka dengan sebuah pengenalan setting waktu dan tempat di mana Winston berada. Di bulan April yang cerah dan dingin di tahun 1984, sebuah tahun imaji di masa depan Negara dalam keadaan kacau dipimpin oleh BUNG BESAR yang diktator dan semena-mena. Dengan slogan aneh bertuliskan: “Perang adalah damai. Kebebasan ialah perbudakan. Kebodohan ialah kekuatan.” Negara diatur dalam empat kementerian: Kementerian Kebenaran mengurusi berita, hiburan, pendidikan, dan seni. Kementerian Perdamaian mengurusi bidang perang. Kementerian Cinta Kasih mengurusi hukum dan ketertiban dan yang terakhir Kementerian Tumpah Ruah yang bertanggung jawab dalam masalah-masalah perekomonian. Masing-masing dalam bahasa newspeak: Minitrue, Mimipax, Miniluv dan Miniplenty. Unik, aneh dan sangat nyeleneh-kan. Nama-nama kementerian bernuansa hujatan, artinya sengaja memutarbalikan fakta. Perdamaian tugasnya menyerang, kebenaran malah berbohong, cinta kasih malah menyiksa dan tumpah ruah menyelenggarakan paceklik dan kelaparan.
Tepatnya tanggal 4 April 1984, dengan kepanikan dan sembunyi dari teleskrin ia menuliskan diari. Tentang betapa dokrin partai menghantuinya, memporakporandakan pikiran manusia penuh propaganda. Film-film dokumenter perang penebar kebencian. Dia menghina Bung Besar, dia mengutuk kediktatoran partai, dia menuntut segera berdamai dengan Eurasia, dia memperjuangankan kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan berserikat, kebebasan berfikir, dia meneriakan dengan histeris bahwa revolusi telah dihianati. Tentu saja pemikiran seperti ini berbahaya dan ancamannya mati.
Namun perlahan ia menyadari bahwa Winston tak sendiri. Pemikiran untuk memperjuangkan kebebasan secara sembunyi-sembunyi perlahan mulai dibentuk. Teman-teman sekantornya yang nerd dan mungkin untuk dijalin sepaham pun ditemui.
“Aku di pihakmu,” rasanya O’Brien berkata begitu kepadanya. “Aku tahu persis pemikiranmu sekarang. Aku tahu semuanya tentang kesumatmu, dendammu, muakmu. Tapi, jangan khawatir aku di pihakmu!” Dan kemudian kelipan kecerdasan itu lenyap, dan wajah O’Brien sama kosongnya dengan wajah setipa orang lain. Sepertinya ia mendapat teman seperjuangan.
Dalam kefanaan pikiran tulisan tangannaya tak kaku dan menulis secara otomatis, penanya penuh nafsu syahwat kepada kertas yang halus menorehkan dalam huruf besar dan rapi:
GULINGKAN BUNG BESAR. GULINGKAN BUNG BESAR. GULINGKAN BUNG BESAR. GULINGKAN BUNG BESAR. GULINGKAN BUNG BESAR.
Tapi, kau tidak bisa membuktikan apa-apa. Sama sekali tidak ada bukti dan petunjuk. Hanya satu kali saja sepanjang hidupnya dia pernah menggenggam sebuah bukti dokumenter yang jelas dan pasti mengenai pemalsuan fakta sejarah. Namun memang tugas kementerian untuk mengubah sejarah. Sehingga kepanikan tak terjadi di masyarakat. Pemujaan berlebihan kepada Bung Besar memang sangat tak lazim. Segalanya dikendali dengan keterpaksaan.
Jika ada harapan itu ada di tangan kaum prol. Partai tak bisa digulingkan dari dalam, musuh-musuhnya, kaulah partai yang punya musuh, tidak bisa menggalang diri atau bahkan untuk saling tahu. Pemberontakan berarti kilasan sinar mata, perubahan logat bicara, paling kuat, kata yang kadang-kadang dibisikkan. Kaum prol hanya perlu bangkit dan mengguncang-guncang diri seperti kuda liar mengusir lalat. Disadarinya bahwa hal yang sungguh-sungguh khas pada kehidupan modern bukanlah kekejaman dan ketidakamanannya, melainkan kehampaan, keboyakannya, keloyoannya. Kehidupan jika memandang sekeliling, sama sekali tak mirip, tidak hanya dengan kebohongan yang dibanjiri teleskrin, tetapi dengan ideal-ideal yang berusaha dicapai partai. Ideal yang ditetapkan partai adalah sesuatu yang besar, dahsyat, dan cemerlang menyilaukan – suatu dunia dari baja dan beton, mesin-mesin raksasa dan senjata-senjata mengerikan – suatu bangsa pendekar dan fanatik, maju berbaris rampak dalam kesatuan-utuhan yang sempurna, semua pemikiran pikiran yang sama dan meneriakan slogan-slogan yang sama, tak putus-putus bekerja, berperang, mengalahkan, memburu – tiga ratus juta orang dengan wajah yang sama.
Pada zaman dulu, tanda kegilaan adalah jika orang percaya bumi berputar mengelilingi matahari, sekarang tandanya adalah kalau orang berpandangan masa silam tidak bisa diubah. Mungkin saja dia sendirian yang memegang keyakinan itu, dan jika sendirian, dia seorang gila. Tetapi pikiran bahwa dia seorang gila tidaklah terlalu mengganggunya; yang mengerikan ialah bahwa dia juga mungkin salah. Well, tentu saja Winston tak sendirian. Bagian dua kita pun diperkenalkandengan karakter wanita berambut gelap, suatu siang ketika berpapasan dengannya dan pura-pura terjatuh dekat dengannya si gadis menyelipkan sesuatu yang kecil dan pipih. Ketika melangkah melewati pintu kamar kecil, Winston memindahkan benda itu ke kantongnya dan meraba-rabanya dengan ujung jarinya. Secarik kertas yang dilipat berbentuk bujur sangkar. I love you.
Julia. Gadis itu ternyata memiliki pemikiran yang sama. Berdua mereka merentang bahaya, bercinta dan menentang aturan walau sembunyi-sembunyi. Kekuatan dicoba galang, O’Brien yang memberi tanda pun bergabung. Kesatuan keinginan menentang Bung Besar, berhasilkah misi pemberontakan mereka? Bisakah Bung Besar digulingkan?
Sayangnya cerita sebagus ini diterjemahkan dengan kurang greget. Banyak bagian yang membuat kerut kening terbentuk. Entah apakah aslinya memang rumit atau kualitas terjemahannya yang buruk. Namun Orwell tetaplah Orwell, ga bisa dipungkiri sebuah bayangan masa depan dapat dengan mempesona dari awal sampai eksekusi ending dibuat begitu menakjubkan. Sebuah zaman imaji yang ngeri untuk sekedar jadi maya.
Perasaan nikmat karena dapat meyendiri dengan buku terlarang. Buku-buku terbaik, pikirnya adalah yang mengatakan kepadamu hal-hal yang sudah kamu ketahui. – halaman 149
“Yang aku maksud bukan mengaku. Pengakuan bukanlah penghianatan. Apa yang kau lakukan tidaklah penting: hanya perasaan yang penting. Kalau mereka sampai bisa membuatku berhenti mencintaimu – itulah penghianatan sejati.” – 209
Seluruh penguasa di segala masa telah mencoba memaksakan pandangan keliru tentang dunia kepada para pengikut mereka, tetapi mereka tidak sanggup menghadapi akibat dari penggalakan ilusi yang cenderung merusakan efisiensi militer. – 246
Ada kebenaran dan ketidakbenaran, dan kalau kamu terus memegang teguh kebenaran itu, meski sampai menentang seluruh dunia pun, kamu tidak gila. – 268
Hanya ada enam hal yang dipikrkannya. Rasa sakit di dalam perutnya; sepotong roti; darah dan teriakan; O’Brien; Julia dan pisau cukur. – 286
“Yang mengendalikan masa kini mengendalikan masa depan: yang mengendalikan masa kini mengendalikan masa silam. Lalu dimanakah masa silam itu ada, kalau memang ada?” – 306
Orang-orang mati karena melepaskan kepercayaan mereka yang sejati. Tentu saja segala kemuliaan menjadi milik korban dan seluruh aib tertimpakan pada Inkuisitor yang membakar mereka hidup-hidup. – 313
Ada tiga tahap dalam reintegrasi: pembelajaran, pemahaman, penerimaan. – 321
Kepada masa depan dan masa silam, kepada suatu masa ketika pikiran bebas, ketika manusia berbeda antara yang satu dan yang lain dan tidak hidup dalam kesendirian –  kepada suatu masa ketika kebenaran berdiri tegak dan apa yang telah dilakukan tidak dibatalkan: dari zaman keseragaman, dari zaman kesepian dan kesendirian, dari zaman Bung Besar, dari zaman pikiran-ganda – Salam! – 33
“Anda telah menorehkan watak dan rona yang tak terhapuskan pada kesusastraan Inggris… Anda adalah satu di antara sedikit Penulis yang tak terlupakan dari generasi Anda.”
Oiya sebelum ditutup saya ingin curhat, beberapa waktu setelah saya kelar membaca 1984 saya sempat demam dan sakit kepala sampai susah tidur. Malamnya bermimpi yang sangat aneh dan ambigu. Mimpi itu sudah saya posting singkat di blog, bahwa saya terlempar di masa lalu di mana pendidikan dikekang, sekolah-sekolah dipagari dinding tinggi dengan duri di atasnya. Tentara berbaris rapi dengan badge di lengan kanan dan meneriakan yel-yel kemenangan, saya terpaku di jendela sekolah dengan dagu ditopang melihat pasukan itu. Para guru menentang, kepala sekolah bersekongkol, saya begidik. Saya bangun dengan ngeri, keringat dingin meresapi kepala dan punggung. Mimpi seram yang entah kenapa menghantuiku, fakta buku ini sungguh menggugah dan membayangi isi kepalaku. Dah itu saja. Tahun 1984 saya berusia setahun dan kita semua tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi ketika kita masih berusia 12 bulan bukan?
1984 | by George Orwell | copyright 1949 | diterjemahkan dari Nineteen Eighty-Four | Cetakan ledua, Mei 2014 | Penerjemah Landung Simatupang | Penyunting Ika Yuliana Kurniasih | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah | Pemeriksa aksara Intari Dyah P. | Penata aksara Adfina Fahd | Diterbitkan oleh Penerbit Bentang | viii + 392 hlm; 20,8 cm | ISBN 978-602-291-003-9 | Skor: 5/5
Karawang, 270616 – Yusuf Islam – Angel of War
#24 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!