Doctor Strange: Dormammu Kita Perlu Berunding

image

The Ancient One: You want to know what I see in your future? Possibility.
Kesan pertama kelar nonton adalah film ini weird, wild, trippy, amazing dan tentu saja jawdropping. Coba tontonlah dalam versi IMAX, sepertinya akan semakin membuatmu berdecak kagum atau malahan pusing? Film terbaru Marvel yang kutonton semalam benar-benar film Marvel yang tak biasa. Pertama kalinya mereka menggunakan sihir dalam cerita. Kisahnya dibuka dengan bagus guna membuat first impress penonton melonjak. Seorang pustakawan dikerumuni rampok, dipenggal lalu para rampok mengambil sebuah buku dan merobek selembar. Aksi itu diketahui, adegan berikutnya mereka berkejaran. Bukan aksi biasa. Lubang api ‘pintu kemana saja’ dibuat. Kota dilipat. Tembok layaknya sedatar lantai buat bergelut. Sampai aksi saling lempar mantra sihir seperti kisah-kisah Harry Potter. Dan tentu saja ini pembuka yang sangat menjanjikan. Kalau kalian beruntung dan teliti kalian akan melihat salah satu gedung yang dilipat adalah gedung Starks Avengers di Manhattan.
Setelah opening scene tanpa teks sama sekali, tanpa judul. Kita langsung diajak ke New York, Amerika menemui Doctor Stephen Vincent Strange (Benedict Cumberbatch) seorang dokter ahli bedah terkemuka, ia sedang melakukan operasi dengan alunan musik ‘Feels So Good’. Dialog kocak tentang tahun rilis album tahun 1977 ataukah 1978 memberi bukti bahwa Strange adalah orang cerdik dan teliti, bukan hanya di bidang kedokteran namun di aspek pengetahuan umum. Seorang pasien yang dinyatakan meninggal oleh dokter lain pun bisa diselamatkan setelah operasi pengambilan peluru di kepala. Dibantu dokter Christine Palmer (Rachel McAdams) sekaligus kekasihnya.
Suatu malam dalam perjalanan dengan mobil mewahnya dia mendapat telpon dari rumah sakit, bahwa ada pasien luka parah. Beberapa ditolak karena berbagai alasan, sampai akhirnya salah satu yang mungkin bisa ditangani. Salah seorang yang pasien yang mungkin ditanganinya adalah seorang kolonel US Army yang terluka saat mencoba armour. Jelas ini adalah link ke serial Iron Man. Namun sayang sekali, dia kehilangan fokus menyetir sehingga terjadi kecelakaan fatal. Mobilnya terguling luluh lantak masuk jurang. Kecelakaan itu mengubah hidupnya. Luka yang diderita sangat parah. Berbagai operasi menghasilkan keputusan final, jari tangannya tak bisa disembuhkan, jarinya tak bisa digerakkan sempurna. Jari yang sangat berharga bagi seorang dokter bedah, kiamat.
Palmer menghiburnya, namun karena emosi mereka bertengkar. Dia teringat seorang pasien Jonathan Pangborn (Benjamin Bratt) – kalian pasti pangling, di sini Bratt terlihat sangat tua dengan uban — yg dulu ditolaknya karena luka yang mustahil disembuhkan. Nyatanya kini ia berhasil pulih. Penasaran Strange menemuinya. Dengan merendahkan ego ia memohon info, kuncinya ada di Kamar-Taj, di kaki gunung Himalaya, Nepal. Sebuah perjalanan jauh ditempuh. Dengan wajah brewok dan kumal, ia mencari harapan terakhirnya. Di sebuah kampung yang sepi dia dibegal, karena tak beruang begal meminta jam yang ia kenakan, jam kenang-kenangan dari Palmer. Dia diselamatkan oleh Karl Mordo (Chiwetel Ejiofor), namun sayangnya jam Palmer rusak. Diantarnya Strange ke padepokan.
Di sana ia bertemu the Ancient One (diperankan dengan sangat bagus oleh Tilda Swinton). Dijelaskan berbagai metode yang rasanya mustahil di dunia kedokteran ala Barat. Pengobatan tradisional mulai dari akupuntur, metafisik, refleksi, spiritual heal sampai kerokan (mungkin). Tentu saja Si Strange tak percaya. Lalu the One kasih hentakan ke tubuhnya yang membuat roh Strange melayang di dimensi lain. Melayang di langit, terjatuh, terjerebab. Hentakan yang membuka matanya, ada dunia lain selain dunia kita. Bahwa ada ilmu kasat mata yang luar biasa. Ada keajaiban bahwa kepercayaan diri itu sangat penting dalam penyembuhan. Ketika akhirnya ia takjub dan memohon, ‘Teach me!’, sang dokter didepak keluar pintu. No!
Scene berikutnya kita tahu, ternyata The One pernah kecewa terhadap murid yang membelot. Kaecillius (dimainkan dengan luar biasa oleh musuh James Bond di Casino Royale– Mads Mikkelsen yang berkuncir dan maskara hitam di sekeliling matanya) dan kawan-kawan. Dialah pasukan yang ada di adegan pembuka. Namun kali ini kenapa ga dicoba? Apalagi kali ini sang tamu sampai 5 jam terpekur di depan pintu, memohon. Bukan sembarangan orang tentunya sampai punya tekad baja gitu. Kesempatan itu datang juga, Strange diterima. Ditunjukkan kamar lalu diberi selembar kertas bertuliskan ‘Shamballa’. Bingung, ‘kertas opo iki?’, semacam mantra? Haha.. penonton ketawa. Password wifi ternyata. Asem! Yup, kata itu diambil dari serial komiknya berjudul, ‘Into Shamballa’.
Karena pada dasarnya ia cerdas, maka proses belajarnya sangat cepat. Buku-buku tebal dilahap dengan rakus. Belajar ketenangan, mediasi sampai pembentukan lingkaran ‘pintu ke mana saja’ yang awalnya dirasa rumit muncul percikan doang, perlahan ia berhasil mencipta. Saat percikan yang dia buat belum 100% jadi, The Ancient One mengajaknya ke puncak Efferest, sambil ngobrol bahwa pemandangan di sana sangat indah dan dingin. Hanya butuh waktu kurang dari sejam untuk membuatmu beku dan tewas. Lalu the One masuk ke lingkaran dan menutupnya, meninggalkan Strange dalam kesendirian dan memaki dia belum siap. Di kuil The One dan Mordo menunggu, awalnya mereka mulai cemas juga karena sang dokter ga muncul-muncul, bahwa kipas sudah siap dikibas untuk menjemputnya, namun taadaaa… Strange muncul dari lingkaran dengan tubuh menggigil. Yes, he did it!
Mulailah ia belajar lebih intens, brewoknya dicukur, jambangnya dibersihkan. Menyisakan kumis tips dengan dua garis ke bawah. Saya langsung nyeletuk, wah gmana kalau brewokku dibuat gitu juga. Kebetulan besok mau cukur menyambut ‘No Shave November’. Sang pustakawan baru, Wong (Benedict Wong) menjelaskan bahwa Kaecillius mencuri selembar kertas dari kitab terlarang. Perkenalan dengan Wong sendiri berisi joke yang aneh, menggelitik. Tak ada tawa, padahal sang dokter suka melucu. Orang-orang terkenal dengan satu kata disebut Eminem, Beyonce, dll. Ah tahu saja Marvel cara bercanda. Walau jayus tetap saja sukses membuat penonton tergelak. Dari penjelasan dan buku-buku yang dia sikat, ia tahu ada tiga kuil suci di dunia ini yang perlu dijaga: Hongkong, London dan New York. Ada musuh besar yang coba dibangkitkan Kaecillius dan kawan-kawan. Dread Dormammu yang abadi, timeless.
Saat malam hari ia menyelinap masuk (mengingatkanku pada kebiasaan trio Harry Potter yang suka kelayapan malam di Hogwarts), di perpustakaan itu juga akhirnya Doctor Strange menemukan Eye of Agamotto, sebuah benda kuno yang bisa memajumundurkan waktu. Masuk ke dunia looping time. Apel yang ia gigit bisa kembali utuh, kroak lagi, utuh lagi, somplak lagi, utuh lagi. Wow! Kini ia punya kekuatan sihir. The Sorcerer Supreme. Buku yang kertasnya dicuri pun bisa dicipta dalam bayang, dan tahulah ia rencana busuk Kaecillius. Mengincar hidup abadi dan waktu dihentikan.
Tarung itu terjadi, terlempar ke London. Saling sikat, saling kejar dan adu taktis. Di kuil London itulah Si Strange bertemu jubah merah yang ikonic itu, mengingatkanku pada jubah gaib Potter. The Cloak of Levitation yang bisa membuatnya terbang. Jubahnya sendiri seperti bisa berfikir. Pertarungan itu ditampilkan dengan dahsyat. Kota-kota dilipat, dinding buat lari-larian, jalanan digebrak. Bagian terbaik film ini ada di sini. Inception what? 3D-nya juara sekaligus bikin pusing. Kamera diputer-puter melawan gravitasi. Gedung-gedung seakan dihadapkan cermin sehingga jungkir balik. Sampai mereka terlempar ke sebuah bus dengan seorang penumpang tua sedang membaca buku ‘The Doors of Perception’ karya Aldous Huxley – yup Penulis fenomenal The Brand New World, bapak tua Stan Lee berujar ‘ini sungguh menggelikan’. Dan saya tepuk tangan, keren!
Kaecillius bisa ditaklukkan dengan sturdy gag, sebuah perangkap besi yang mengingatkanku pada perangkap Hannibal Lecter, yang anehnya si Mads juga main sebagai Lecter. Sayangnya Strange terluka. Butuh operasi secepatnya. Ambulan? Oh mereka tak butuh. Tinggal buat lubang di udara lalu cus ke rumah sakit New York dan minta bantuan Palmer. Di rumah sakit itu roh-roh berantem, saling lempar mantra dan adu hebat. Dan tentu saja Strange menang. Setelah segala sedikit mereda, disusun rencana bagaimana mencegah Kaecillius memanggil Dormammu. Namun saat kekuatan sedang dibentuk, Mordo ikut meragu. Ia curiga the One punya rahasia dan mencuri keabadian milik dimensi lain lalu menyimpannya dari semua orang. Tak ada kompromi, kuil-kuil keburu dihancurkan pasukan Kaecillius. Waktu semakin mendesak, berhasilkah ia mengundang dewa kegelapan? Apakah jari sang dokter bisa sembuh? Apakah benar the Ancient One abadi? Bisakah Dormammu masuk ke bumi?
Well, sangat seru. Sekali lagi Marvel berhasil memuaskan dahaga. Film ini laiknya perpaduan Inception untuk permainan grativasi gedung-gedung diputar seperti Magic Square. Bahkan Strange membuat Inception terlihat seperti papan tes beta anak magang. Mirip Batman Begins untuk permainan pikiran. Mirip Iron Man yang sombong akan kecerdikan dan ego lalu bangkit dengan menyusun kekuatan, lihat saja jambang dan kumisnya dah sama si Tony Stark. Mirip The Matrix yang rumit antar dimensi. (Spoilert!!!—– maaf ga nahan buat diketik juga yang ini). Mirip Source Code dan Edge of Tomorrow di mana waktu bisa diputar ulang. Karena tujuan Kaecillius memang melawan waktu. Timeless. Jadi dua film itu wajib disebut. Dan emang jadi kunci penting film ini. Dan tentu saja sangat mirip dunia sihir Harry Potter untuk banyak hal. Mulai jubah gaib, pintu kemana saja, mantra-mantra, sampai niat membangkitkan Lord Voldemort. Hebatnya Scott Derrickson sukses besar menggabungkannya. Sebuah pembuka yang bagus untuk phase tiga Avengers.
The Ancient One aslinya adalah seorang kakek tua, karena digambarkan hidup lama namun dalam film dirubah dan diperankan perempuan tanpa rambut. Saya sih Ok saja, siapa yang bisa menolak Tilda? Saya pertama mengenal Tilda di Narnia: Siang, Penyihir dan Lemari. Karena saya fan berat buku CS Lewis, tentu saja sepak terjang Tilda patut diikuti. Dan syukurlah kali ini ia sukses.
Benedict Cumberbatch sendiri sangat pas memerankan si dokter aneh. Mimiknya memang masih sangat Sherlock, namun gayanya yang slengekan dirasa kocak. Ingat dialog awal sama Kaecillius? Mister? Dokter. Oh Mister dokter. Bukan, dokter Strange. Mister dokter Strange. Terlihat sepele, namun sungguh lucux. Karena pada dasarnya si Strange ini cerdas, orangnya optimis dan sangat arogan. Hal kecil mau dipanggil pak – siapa – gitu ia ga mau. Maunya Dokter Strange. Dan Sherlock Holmes sukses bertransformasi.
Endingnya sendiri bikin greget. Antiklimak. Ga khas Marvel yang ancur-ancuran. Setelah semua babak yang panjang dan melelahkan dalam aksi, film malah diakhiri adegan snob. Layak disebut sebagai ‘WTF moment of the year’. Yah, itulah hebatnya dunia Marvel yang begitu rumit. Namun karena saya bukan pembaca komiknya saya begitu menikmati. Scene after credit tentu saja layak dinanti saat akhirnya film kelar. Saya kok ngerasa film ini singkat, tahu-tahu bubar. Dan tampilan Thor sepintas membuka asa. Menyambung ke Thor3: Ragnarok? Final scene-nya sendiri memastikan Doctor Strange gabung di Infinity War. Makin menggila ini Marvel Cinematic Universe (MCU). Waspadalah, Marvel sedang menguasai dunia!
Doctor Strange | Year 2016 | Directer by Scott Derrickson | based on comic book by Stan Lee and Steve Ditko | Writters Jon Spaihts, Scott Derrickson, Thomas Dean Donnelly, Joshua Oppenheimer | Cast Benedict Cumberbatch, Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams, Benedict Wong, Mads Mikkelsen, Tilda Swinton, Benjamin Bratt, Scott Adkins, Michael Stuhlbarg, Stan Lee | Skor: 4,5/5
Karawang, 011116 – Michael Jackson – You Rock My World
Thanks temans: Deddy Tri, Dewi Nur, Rani Wulandari

Advertisements

One thought on “Doctor Strange: Dormammu Kita Perlu Berunding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s