Alice Through The Looking Glass: You Must Have An Imagination To Enjoy This Trip

image

Cheshire Cat: When the day becomes the night and the sky becomes the sea. When the clock strikes heavy and there’s no time for tea.
Alice, nama itu akan dikenang oleh penggemar fantasi sebagai karakter imut yang terjebak di dunia aneh bawah tanah. Karena saya baru membaca satu buku karya Sir Lewis Carrol maka saya tak tahu detail selanjutnya nasib Alice Kingleigh sekembali ke dunia nyata. Dari trailer yang saya lihat, Alice Through The Looking Glass sepertinya dibuat lebih berani penuh petualangan ala Sherlock. Dengan iringan lagu Pink, Alice terbangun di rumah sakit jiwa dengan pertanyaan ‘di mana saya?’. Muncul sang villain Sherlock, Andrew Scott tapi Alice berhasil kabur dengan melompat dari atap gedung, mencuri kereta kuda dan masuk ke cermin setelah diberi petunjuk oleh kupu-kupu biru, dengan suara khas Profesor Snape, errhh… (alm) Alan Rickman. Di dunia fantasi itu sang  Waktu marah karena Alice membawa terbang sebuah benda untuk mengubah masa lalu.
Sempat berharap Jim Moriarty akan mendapat peran banyak, hapus itu. Sempat berharap Alan Rickman akan tampil dalam wujud nyata bukan sekedar seekor kupu dan memberi petuah, coret jua. Sempat pula berharap menyaksikan karakter kecil-kecil dunia aneh ini mendapat peran penting dari Absolem, Bayard, White Rabbit, March Hare, si kembar Twedle sampai Cheshire Cat, tak terwujud. Fokus cerita masih berkutat ke Alice yang mencoba menyelamatkan Mad Hatter dengan menjelajah waktu bersama kisah seteru dua bersaudara White dan Red Queen.
Setelah logo Disney tampak, muncul senyum Cheshire Cat di atas istana dimiringkan dan membentuk bulan sabit. Bulan sabit pengantar prolog itu menjelaskan Alice Kingleigh (Mia Wasikowska) kini menjadi seorang kapten kapal dan situasi yang disodorkan kepada penonton adalah mereka dalam kejaran bajak laut di Straits of Malacca tahun 1874. Dengan ketegasan dan keberanian seorang pemimpin, Alice yang diminta asisten untuk menyerah saja karena mustahil bisa kabur tidak mau. Alice yang menjadi pemimpin ekspedisi kapal ayahnya The Wonder bertanggung jawab penuh atas keselamatan. The only way to archieve the possible is to believe it’s possible. Lalu judul utama muncul.
Di London setelah perjalanan Alice mengarungi samudera banyak perubahan. Ayahnya meninggal, warisan itu tinggal menyisakan kapal The Wonder. Dan kapal itu kini akan dijual kepada Hamish Ascot (Leo Bill), calon suami Alice di seri pertama namun gagal menikah sehingga ia kini menikah dengan gadis lain. Situasi sulit ibunya itu memaksa satu-satunya warisan almarhum dijual untuk diganti dengan rumah. Tentu saja Alice marah kepada ibunya, ia adalah seorang penjelajah sejati. ‘The last thing I want is an end like you’. Kalimat ini nanti akan jadi ironi. Bersamaan dengan itu ia diikuti seekor kupu-kupu biru – Blue Butterfly – jelmaan Caterpillar Absolem (disuarakan oleh alm Alan Rickman) yang bilang: ‘Kamu pasti  Alice’, dan memberitahu situasi di dunia bawah tanah sedang ga bagus sehingga memintanya untuk ke sana. Melalui cermin ajaib, Alice kembali ke dunia fantasi. Di balik cermin dirinya jadi kecil, bertemu dengan karakter bidak catur yang hidup. Dan saat melangkah keluar pintu ia terjatuh dari langit. Adegan inilah yang terbaik. Memasuki dunia tak terbayangkan layaknya mimpi yang kabur. Ketika akhirnya mendarat di bunga dan bertemu teman-teman lamanya, dialog terbaik tersaji dengan nikmat. Beruntun teman-temannya teriak.
Bayard (Timothy Spall) bilang ‘Alice!’, disusul White Rabbit: ‘Akhirnya kamu di sini.’ Si Kelinci mendekat lalu mengusap wajah penuh sayang. March Hare menyahut: ‘It’s that girl again!’ Tweedledee menyahut, ‘Kamu kembali’. Dan Bandersnatch mengaum yang mengakibatkan sang Kelinci terhempas. Auman sapa itu dikomplain oleh Mallymkum (Barbara Windsor): ‘Don’t be nice to her. She’s late.’ Alice yang tampak senang sekaligus ragu tentu saja bertanya, ‘Apakah saya datang di waktu yang buruk?’ Lalu setiap karakter seperti berebut cerita bahwa kini Hatter Tarrant Hightopp  alias Mad Hatter (Johnny Depp) seperti orang gila. Frustasi. Lha bukannya emang dia gila? Yup. Kali ini ia benar-benar gila karena menyalahkan masa lalu. Denies himself laughter. Diskusi aneh ini ditutup oleh si Cheshire Cat (Stephen Fry) yang bilang, ‘We rather hope you might help us save him.’ Adegan demi adegan ini mungkin terlihat biasa buat sebagian orang, namun bagiku luar biasa. Amazing scene. Binatang-binatang itu berdebat layaknya manusia. Dunia antah yang menakjubkan.
Blue paper hats. Sebuah miniatur topi yang mengingatkan masa lalu Hatter itu membuatnya menyesali keadaan. Orang tuanya meninggal dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Sidang para karakter unik ini menghasilkan kesepakatan, Alice harus memperbaiki masa lalu. Menyelamatkan detik-detik yang salah melalui sebuah benda bulat seperti bola pingpong bernama chronosphere.
Alice dikirim Miranda alias White Queen (Anne Hartaway) ke mesin waktu untuk mencuri benda itu dari Time (Sacha Baron Cohen). Masuk ke sebuah almari jam yang di dalamnya ada kehidupan detak detik. Di saat bersamaan ada Iracebeth alias Red Queen (Helena Borham Carter) yang diberi hadiah oleh Time sebuah mechanical device portraying, dimana boneka mini itu terlihat seperti adegan memenggal kepala. Sebuah anekdot terkenal sang ratu: ‘Off with their heads’. Alice berhasil mencuri chronosphere untuk menjelajah. Tentu saja Time marah dan mengejarnya. Chronosphere sendiri benda aneh yang penggunaannya setelah dilempar menjadi semacam kendaraan bulat yang di dalamnya bisa dinahkodai. Persis seperti kapal dalam menjelajah samudera, Alice tinggal memilih waktu mana yang akan ia kunjungi. Waktu mana yang harus ia perbaiki.
Dengan kejaran Time, Alice harus bergegas. Salah satu masa yang coba diperbaikinya adalah ke dunia masa kecil dua bersaudara Queen. Dan dari sana kita tahu alasan permusuhan itu. Kenapa kepala Red besar. Kenapa ada dendam. Tentang kue yang dicuri dan rasa bersalah yang terpendam. Alice bertemu dengan teman-temannya, namun tentu mereka tak kenal Alice yang datang dari masa depan.
Dalam pengejaran itu Time terperosok ke waktu minum teh Mad Hatter dan teman-teman, teriakan kelinci ‘Tea time forever’ itu dibuat lucux dan menggemaskan. Dimana Time marah kepada mereka sehingga waktu minum teh diulang terus selama satu menit, lalu ulang lagi, lagi dan lagi. Haha… nyeleneh. Unik. Not rasional.
Namun petualangan Alice di masa lalu teman-temannya ternyata sungguh rumit. Rasanya mustahil ia bisa menghidupkan orang tua Mad Hatter. Rasanya tak mungkin ia mengubah masa lalu menyedihkan kedua Queen. Rasanya benar-benar sia ia kembali ke negeri Underland. Namun film ini ada kejutan. Karena ini film Disney maka jangan harap kejutan itu mengecewakan penonton. Jelas happy ending. Kejutan apakah itu? Dengan aturan bahwa Alice tak boleh bertatap dengan dirinya sendiri di masa lalu, atau setiap orang yang menggunakan chromoshere tak boleh bertatapan, kalau terjadi tatapan orang yang sama maka dunia bisa hancur. Waktu Alice sangat menipis. Berhasilkah ia menyelamatkan orang tua Hatter? Berhasilkah Alice menyelamatkan kenangan?
Sutradara Tim Burton kini hanya duduk di kursi produser. Nahkoda kini dipegang James Bobin. Nama asing bagiku. Film dengan bertabur bintang ini memang tak maksimal. Andalan utama visualisasi. Dari poster sendiri terlihat janggal. Film tentang Alice, namun yang paling dijual adalah Johnny Depp. Seperti di Alice in Wonderland tahun 2010, di sequel ini sama saja. Mia bahkan hanya berlari di belakangnya, lalu dikelilingi ilustrasi jam dengan beruntun karakter yang diperankan oleh Sacha B. Cohen, Helen B. Carter, Anne Hartaway. Kupu yang disuarakan Alan Rickman dipisahkan tersendiri di ujung atas, kupu yang hinggap di petunjuk waktu. Pun dengan poster resminya. Johnny Depp mendominasi.
Film dengan tema seperti ini adalah genre favoritku. Imajinasi fantasi. Binatang bisa bicara. Mahkluk-mahkluk aneh menghiasi sepanjang film. Aturan waktu yang tak baku. Dunia pararel. Serta fantasi yang liar, jelas duniaku. Jelas genggamanku. Oke, sequel ini memang lebih baik namun beberapa karakter terlihat tak beda. Mulai bosan akting Depp? Bisa jadi. Apapun itu film dengan dunia fantasi seperti ini akan selalu kutonton. Lagi. Lagi. Dan lagi. Mudah-mudahan juri Oscar melirik design kostum Alice ala China yang menyilaukan itu.
Seperti biasa saya adalah penikmat cerdit title. Jangan beranjak ketika Alice berbaju putih tersenyum meninggalkan kita. Nama-nama cast and crew kali ini diiringi lagunya Pink. Muncul kartun-kartun lucu. Ada kupu-kupu kertas. Ada perebutan mahkota duo Ratu. Ada acara minum teh. Ada perpaduan langit dan laut yang indah. Lalu ketika Blue Butterfly terbang menjauh muncul tulisan: ‘Dedicated to our friend Alan Rickman: 1946 – 2016’
Terima Kasih Profesor Snape. True Legend. Tenang di sana.
Alice Through The Looking Glass | Directed by James Bobin | Screenplay Linda Woolverton | Cast Johnny Depp, Mia Wasikowska, Sacha B. Cohen, Helen B. Carter, Anne Hartaway, Alan Rickman, Rhys Ifans, Matt Lucas, Lindsay Duncan, Leo Bill, Andrew Scott, Richard Armitage, Timothy Spall, Stephen Fry, Michael Sheen, Joanna Bobin | Skor: 3,5/5
Karawang, 310816 – Lady Antebellum – Long Strect of Love

The Treasure Island – Robert Loius Stevenson

image

Kisah abadi tentang petualangan Jim Hawkins mencari harta karun di pulau harta karun ini sudah melegenda, turun temurun. Para pecinta fiksi tentunya sudah tahu arah kisah ini. Sedari kecil-pun saya sudah akrab nukilan ceritanya. Treasure Island adalah novel petualangan tentang bajak laut dan harta karun terpendam. Pertama terbit dalam bentuk buku tahun 1883. Awalnya berseri di majalah anak-anak Young Folks antara tahun 1881 – 1882 dengan judul The Sea Cook. Jadi kenapa saya masih juga membacanya? Tentu saja beda, apa yang saya rasakan dengan mambaca utuh, runut dan santai. Dulu saya baca di Perpus kota Solo dengan setengah-setengah, lalu entah ketika sampai di tengah bukunya ga ada di rak. Ga tahu apakah dipinjam pulang orang lain atau hilang. Nah buku ini sekarang ada di rak-ku jadi setiap saat bisa diraih dan kunikmati. Saking menikmatinya membaca kisah sederhana ini membutuhkan waktu sebulan. Bukan. Bukan karena jenuh, hanya sedang padat  jadi dalam sekali waktu membaca beberapa buku dan buku ini kena shift yang paling panjang.
Jadi apa yang mau saya ceritakan? Buku ini dibagi dalam enam bagian. Bagian pertama Bajak Laut Tua. Pengenalan para tokoh, terdiri 7 bab. Lalu bagian kedua Juru Masak Kapal. Masih pengenalan karakter, namun lebih luas hingga permulaan petualangan. Terdiri dari bab 7 sampai 13. Berikutnya bagian ketiga Petualangan Di Darat. Ini sudah memasuki pulau. Terdiri hanya 3 bab. Inilah konflik sesungguhnya. Di mana pertaruhan terjadi. Bagian keempat Benteng Pertahanan adalah bagian yang dikisahkan oleh sang dokter. Bagian kelima Petualangan Di Laut. Kembali Jim bertaruh hidup dan mati. Bagian penutup Kapten Silver adalah puncak kisah ini. Ada beberapa kejutan diatur, namun tetap poin utama sudah kita ketahui sedari masa kecil, bahwa kisah ini happy ending. Jadi apa yang mau saya ceritakan?
Dari pembuka. Ini adalah kutipan yang pernah saya baca di buku Inkheart: ‘Hakim Trewlaney, Dr. Livesey dan para pria itu memintaku untuk menulis seluruh cerita mengenai Pulau Harta Karun, mulai dari awal sampai akhir dengan lengkap kecuali bagian di mana pulau itu berada’. Dari kaliamat pembuka itu kita tahu poin penting kisah ini bahwa tiga karakter selamat: Jim, hakim dan sang dokter. Jadi pastikan prediksi dan perkiraan kalian bahwa mereka sekalipun terancam maut berulang kali, mereka selamat. Bocoran yang berani. Karena cerita dari sudut pandang orang pertama maka Robert Loius adalah dalam bentuk Jim yang mengambil banyak keputusan penting.
Kovernya spoiler. Jim meneropong laut dengan seorang bajak laut berkaki satu memegang pedang di belakangnya. Jelas itu adalah sang koki. Jadi ketika saya sampai di bagian itu saya tak terkejut. Memang beberapa bagian sudah kita ketahui namun cara penuturannya sangat menarik. Kisahnya bermula di sebuah penginapan di pantai, Admiral Benbow yang didatangi tamu seorang pelaut tua, kapten Billy Bones. Pelaut misterius yang gemar berlagu pelaut abadi: ‘Lima belas orang di dalam peti mati. Yo-ho-ho dan sebotol rum! Minumlah dan biarkan iblis beraksi. Yo-ho-ho dan sebotol rum!’ Suatu hari dirinya didatangi sesama pelaut Black Dog. Keduanya rupanya teman lama yang berselisih. Black Dog, orang buta Pew dan gerombolan itu memperebutkan sebuah kertas hitam. Sebuah peta letak harta karun yang terpendam di sebuah pulau. Proses perebutan itu justru berakibat kematian beberapa karakter sehingga tak sengaja kertas itu kini di tangan Jim.
Setelah berdiskusi dengan hakim Trelawney dan dokter Livesey mereka membentuk sebuah tim untuk mengambilnya. Karena mereka orang-orang yang tinggal di kota dan tak tahu seluk beluk pelayaran, mereka merekrut para pelaut. Pertama sang kapten Smollet yang sudah malang melintang. Kedua sang juru masak John ‘Long John’ Silver. Kemudian para kru: Tom Morgan, Israel Hands, Gray, O’Brien, Brandly, Redruth, Joyce, George Merry, Dick Johnson sampai burung kakak tua Flint. Setelah persiapan lengkap mulailah mereka berlayar dengan kapal HISPANIOLA. Saya beritahu sedari awal, ada penghianat di antara mereka. Dengan keserahakan untuk memiliki harta sebanyak mungkin, tim ini terpecah ketika kapal hampir sampai di Pulau Tengkorak, tempat harta karun berada. Kepada siapa harta itu akhirnya berpihak? Siapa Ben Gunn?
Beberapa bagian ada yang klise. Keberanian Jim- seorang remaja pantai –  menantang maut melawan para senior bak sebuah kisah keberuntungan tiada habis. Terus, Jim terus jadi orang yang tepat di tempat yang benar. Pemecahan masalahnya juga dibuat sedemikian rupa sehingga protagonis adalah tokoh bersih dan antagonis adalah kotor. Walau di ending akan ada perubahan, namun tetap saja secara keseluruhan pemetaan itu ada. Yah karena ini buku untuk anak dan remaja jadi jangan harap akan ada banyak kekerasan dengan darah di mana-mana, walau baku tembak dan sabetan pisau mengiringi. Cocok sekali untuk adaptasi Disney.
Sedari awal memang kisahnya dituturkan dengan sangat mendebarkan. Tensi itu terus dijaga sampai klimak cerita. Bukan sembarang buku. Jelas novel ini setara cerita Peter Pan yang beberapa waktu lalu saya baca. Klasik dan abadi. Ini buku kedua Penulis legendaris Robert Loius Stevenson yang saya baca. ketegangannya lebih tinggi ini ketimbang Dr Jeklyn and Mr. Hyde. Karena cakupan kisah melebar ke berbagai karakter bukan fokus ke satu orang sehingga pembaca tak jenuh.
Buku-buku terbitan Atria memang bagus. tahun 2010 ketika semangat baca masih membara, saya pernah membeli lima buku Atria dan kelimanya keren. Selain pada dasarnya buku berkualitas, terjemahannya enak diikuti. Tak asal. Pemilihan kover juga oke. Dan tentu saja buku ini sangat layak dipajang di rak keluarga untuk diwariskan.
“Uangku! Serunya. “Tiga belas rum! Wah sialan, aku lupa uangku!” – halaman 79
“Orang-orang hebat itu seperti ini. Mereka bekerja keras dan mau mengambil resiko, tapi mereka makan dan minum seperti selalu berpesta, dan waktu pelayaran sudah selesai, kantong mereka berisi ratusan Pounds bukan uang receh. Nah, kebanyakan mereka pergi mencari rum dan perempuan, lalu kembali lagi ke laut hanya bermodal baju di badan.” – 102
“Kalau aku berhasil naik kapal,” kataku, “Kau boleh makan keju satu balok.” – 142
Menjadi tentara itu luar biasa, tapi menjadi dokter lebih hebat lagi. Kami tidak punya waktu untuk basa-basi dalam bekerja. Jadi aku langsung memutuskan untuk kembali ke pantai dan melompat di atas perahu. – 156
Tidak seorang pun dari kami bergerak. Sambil menyerukan sumpah serapah paling kasar, dia merangkak di pasir menuju beranda sampai dia bisa mengangkat tubuhnya di atas kruknya. Kemudian dia meludahi mata air. – 195
“Jadi Jim,” kata Dokter dengan sedih. “Beginilah kau. Siapa menabur akan menuai, anakku. Hanya Tuhan yang tahu…” – 306
Seumur hidup belum pernah aku melihat orang-orang yang begitu tidak peduli hari esok. Makan adalah satu-satunya cara menggambarkan cara hidup mereka. – 311
“Celaka! Teman-teman, tapi Flint masih hidup, maka ini adalah tempat yang berbahaya untuk kalian dan aku. Mereka berenam dan kita berenam; dan orang-orang itu sudah menjadi kerangka!” – 320
Dengan sisa satu satu yang yang hidup. Dari tujuh puluh lima orang yang pergi ke laut. – 351
The Treasure Island | by Robert Loius Stevenson | diterjemahkan dari The Treasure Island | Penerjemah Mutia Dharma | Penyunting Ida Wadji dan Pujia Pernami | Pewajah isi Hadi Mahfudin | Penerbit Atria | an imprint Penerbit Serambi Ilmu Semesta | cetakan I: April 2011 | ISBN 978-979-024-465-8 | Skor: 5/5
Karawang, 300816 – Robbie William – Go Gentle

Lasmi – Nusya Kuswantin

Buku dengan tema berat seperti ini saya suka. Awalnya kukira berat, eh ternyata semakin halaman menipis semakin turun performanya. Alasan kenapa saya memutuskan memasukkan ke rak adalah ini buku lokal dengan fragmen sejarah hitam Indonesia, masa peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Masa di mana kebebasan masih sangat mahal. Ekspekatsiku makin membumbung ketika membaca profil Penulis yang sudah matang di dunia jurnalis. Makin membuncah saat tahu ibu Nusya Kuswantin bilang ‘Lasmi – yang merupakan akronim dari lama sekali mimpinya ini – akhirnya selesai ditulis tahun 2008.’ Dan berujar ‘Novelmu tidak bisa menulis dirinya sendiri’. Dan poin penting bahwa ‘menulis novel yang baik tentulah membutuhkan usia.’ Benar sekali, kita sependapat. Maka tak salah ketika libur Lebaran 2016 saya pilih novel ini dibaca yang pertama dari 9 buku yang saya beli. Dengan waktu luang berlimpah memang dalam semalam selesai lahap. Hasilnya? Buku ini sangat bagus di separo pertama, sempat down di tengah dan akhirnya tergelincir di eksekusi ending. Detailnya adalah bukti bahwa sang Penulis sudah makan asam garam di dunia kepenulisan. Mengenai seluk beluk kebiasaan suku Jawa buku ini harus dikasih jempol. Namun sayang, poin terpenting kisah ini sudah diberitahukan di prolog bahwa Lasmi mati. Titik. Tak ada perdebatan lagi. Jadi apa yang akan kita nikmati kalau kita sudah dikasih tahu ending? Ya jalan menuju ke sana. Ah sempat berharap akan ada twist, namun ternyata tidak. Apa yang dituturkan di pembuka adalah kenyataan tak terbantah.

Kisah dibagi dalam empat bagian. Tahun 1957: Perjumpaan, tahun 1963: Pergumulan, tahun 1965: Pemburuan dan tahun 1965: Perpisahan. Dari sudut pandang seorang laki-laki bernama Tikno, seorang guru yang terkesima pada pandangan pertama kepada gadis bernama Lasmiyati. Saat itu tanggal 29 Juli 1957, Lasmi jadi panitia pemilihan desa. Lasmi digambarkan sebagai gadis desa yang porporsional dengan tubuh ramping, tinggi badan 156-158 cm, kulit sawo matang, rambut digelung dan tatapan yang tampak tegas dan bersahaja. Berwajah bulat telur dengan rahang yang kuat. Dagu dan tulang pipi yang digores luwes. Hidungnya ibarat buah jambu air dibelah dua, sorot mata yang teduh. Tarikan bibir menawan, mengesankan pribadi yang empatik. Lagaknya ga kemayu, tindak-tanduknya juga tak tampak berusaha mriyayeni, tertawa biasa saja dengan bibir terkatub rapat seperti yang diajarkan kaum priyayi. Yang tampak janggal, walau dari keluarga yang berkecukupan ia tak mengenakan subang di kedua daun telinganya dan tak memakai aksesoris apapun. Waaa… luar biasa gadis impian tiap laki ini. Kenapa saya memulai ulasan dengan detail karakter, ya karena ini adalah kisah tentang Lasmi.

Proses bersatunya mereka berjalan dengan cepat. Prosesinya benar-benar ala Jawa. Ga sedetail buku Para Priyayi karya Umar Kayam. Namun tetap bervitamin. Karena saya terlahir sebagai Jawa maka sebagian besar yang disampaikan Nusya langsung paham. Bagian yang saya suka adalah cerita tentang Mak Paini yang update gosip dari kantor pegadaian. Seperti ketika ia berujar, “Wah Mbakyu, kata orang-orang minyak tanah menghilang…” atau, “Tadi ada berlian besar dilelang. Kasihan sekali pemiliknya…” dan seterusnnya dan seterusnya. Mungkin di kisah ini Mak Paini hanya tokoh figuran yang datang dan pergi sambil lalu, namun ia adalah saksi perjalanan sejarah dari masyarakat kebanyakan. Dan itu disampaikan dengan komikal. Sebuah penyeimbang tema berat yang coba disodorkan.

Kemudian ketika keluarga ini akhirnya memiliki anak pertama, semua cinta mengarah pada Bagong Dewandaru. Anak semata wayang. Bagong dari salah satu tokoh Pewayangan Punakawan selain Semar, Gareng dan Petruk. Dewa – kewaskitaan serta kebijakasanaan sedang ndaru – bintang jatuh yang dimaknai sebagai berkah. Anak dengan nama dua kata. Saatnya perubahan setelah orang tua mereka (dan kebanyakan orang kita zaman dulu) hanya memiliki nama satu kata. Kisah kasih orang tua kepada anak disampaikan dengan datar, tak banyak gejolak. Kisah baru benar-benar bergolak ketika situasi politik memanas. Karena Lasmi aktif di Pendidikan lalu merambah ke dunia politik maka ia terseret.

Politik memang dinamis, tak peduli di mana kamu berpijak saat ini karena esoknya bisa jadi pijakan kokoh itu rubuh. Saat itu tahun 1965, tahun penting perjalanan negeri ini. Karena Lasmi adalah ketua Gerwani di desa itu maka ia pun was-was. Gerwani dan Pemuda Rakyat dinyatakan sebagai organisasi terlarang pasca tragedi G30S-PKI. PKI (Partai Komunis Indonesia) dan organisasi lainnya yang menjadi underbouw disapurata. Seperti PGRI non-Vaksentral, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), BTI, IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia), CGMI (Concentratie Gerakan Mahasiswa Indonesia). Seperti Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia), semua disikat oleh Pemerintah.

Pelarian Lasmi beserta Tikno dan Gong dari satu dusun ke dusun yang lain. Sembari menanti kabar dari radio dan gosip perkembangannya. Detail pembasmian disampaikan dengan penuh gejolak. Kejam. Sadis. Dan tak berperikemanusiaan. Bagaimana bisa manusia membunuh manusia lain bisa dengan begitu mengerikannya, padahal manusia terlahir dengan kasih sayang dari orang tua dirawat dengan cinta. Yah, pertanyaan semua orang dari segala generasi. Bagaimana bisa manusia bagai binatang yang memakai naluri membunuh sebagai dasar. Kisah itu ditulis dengan ketar-ketir sampai kapan Lasmi bisa mengelak takdir. Sampai akhirnya di suatu hari ia menyerah. Setelah menghabiskan malam penuh gelora Lasmi memutuskan inilah saatnya tampil. Apalagi pasca tragedy keluarga paling memilukan bagi seorang ibu muda, ia seperti putus harap akan hari depan. Tragedi apa? Bijaknya tak kuceritakan karena ini salah satu keberanian Nusya mengeksekusi cerita. Keberanian yang bagus dengan tampilan konflik yang lebih berat. Sayangnya kunci utama bahwa Lasmi mati, itu sudah dibocorkan di awal jadi tak ada kejutan.

Saya nyaris memberi nilai sempurna. Namun semakin jauh melahap semakin datar. Sempat berujar, ‘Akhirnya ada buku lokal tema berat yang berkualitas’. Sayang separo kedua drop. Jadi harapan itupun ikut terjatuh. Memang usia itu penting dalam menyikapi kualitas, tapi jangan lupakan pengalaman juga jauh lebih penting. Ini adalah debut novel Nusya, wajar penggarapan akhir kedodoran. Patut ditunggu karya beliau berikutnya. Setidaknya Lasmi memberi nafas berbeda di dunia literasi kita. Lasmi memberi warna seru di tengah gempuran buku remaja ga jelas atau buku komedi atau buku cinta blab la bla yang kini membanjiri tooko. Ayo Lasmi semangatmu memberi harap bahwa buku karya anak bangsa juga ada yang patut diperhitungkan.

Lasmi | oleh Nusya Kuswantin | hak cipta Nusya Kuswantin, 2009 | Cetakan 1, November 2009 | Diterbitkan oleh Kakilangit Kencana 2009.0016 | Design sampul Circlestuff Design | Tata letak Siti Nurlela | Editor Syafruddin Azhar | viii + 232 hlm; 11.5 x 19 cm | ISBN 978-602-8556-19-4 | untuk sutiari | Skor: 3.5/5

Karawang, 260816 – Sherina Munaf – 1000 Topeng

*) spesial review untuk menyambut bulan September 2016

 

Ruang Laktasi

Kamis, 25 Agustus 2016 sore ketika bersiap pulang kerja ada email masuk dari bu Kiki, Head of HR kantor pusat. Email share mengenai aturan Pekerja perempuan yang berhak mendapat ruang laktasi. Karena tujuan utama blog ini adalah berbagi hal yang bermanfaat, walau mayoritas adalah ulasan buku, film dan bola namun kalau ada informasi yang bagus untuk di-posting akan saya lakukan. Dan setiap tulisan yang bukan ketikan saya pasti saya kasih kredit, kecuali sumber-nya ga jelas hanya akan saya sampaikan saya copas-nya dari mana.

Just info: Pekan ASI sedunia yang berlangsung di awal Agustus telah berlalu. Pekan ASI sedunia dapat mengingatkan kita semua bahwa tersedianya ruang laktasi di area kerja akan sangat membantu Pekerja perempuan terhadap kebutuhan laktasinya. Hal ini sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 83 Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan: “Pekerja/buruh perempuan  yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja”

Demikian untuk sekadar menjadi info kita semua. Terima kasih.

Karawang, 260816 – Sherina Munaf – Here To Stay

Bukan Kenangan

Oleh: Lazione Budy

Honey, please…

Aku menghela nafas, ragu. Kupandangi Rita di seberang meja tempat kita duduk berhadapan. Lalu kepalaku tertunduk dan berujar lirih, “Kau sekarang bukan siapa-siapaku, aku tak ingin bertemu denganmu, aku tak ingin berhubungan denganmu. Kau adalah orang asing bagiku”

“Ya aku paham, itu sudah jadi masa lalu kita. Tapi tolonglah kali ini. Kali ini saja. Kumohon. Aku butuh uang. Aku butuh pekerjaan. Setidaknya kebaikanmu ini akan selalu aku ingat. Selalu.”

“Selalu!” bentakku. Kuangkat kepalaku menatapnya tajam penuh emosi. “Selalu. Enak sekali kamu ngomong. Di mana kamu saat aku sedang terpuruk. Di mana kamu saat aku sedang terjatuh.” Nada bicaraku meninggi. “Kau dengan santai meninggalkanku penuh luka, lalu tiba-tiba datang meminta tolong seakan masa lalu kita tak ada apa-apanya! Yang kau lakukan padaku itu jahat”

“Maafkan aku Sigit. Maafkan aku honey…, lupakan masa lalu…”

“Aku tak kan pernah melupakan masa lalu. Kau pernah mengatakannya padaku. Terkutuklah masa itu, dan jangan sebut aku honey lagi!”

***

Selepas lulus kuliah. Kutapaki karir dari bawah. Sebagai lulusan hukum, tentu saja aku ingin berkarir di dunia hukum. Sebagian besar teman-temanku mendaftar di penyelia bantuan hukum, sebagian lagi ke dunia politik, beberapa melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, sebagian lagi mencari kerja di Perusahaan swasta sebagai Personalia. Ayahku ingin aku jadi pengacara agar bisa membantu orang-orang lemah di Pengadilan. Ibuku ingin aku jadi hakim suatu hari kelak, hakim yang bijak dalam memutuskan banyak perkara. Orang tua tentu saja menginginkan anaknya yang terbaik, namun takdir berkata lain. Nilai mata kuliahku yang kurang memuaskan membuatku sadar bahwa aku tak cukup hebat dalam beradu argumen di depan banyak orang. Maka aku putuskan mencari kerja di Perusahaan. Aku diterima bekerja sebagai Personalia Perusahaan otomotif di tanah rantau, kota Bekasi. Kehidupan mandiri jauh dari keluarga, tantangan baru.

Sebagai Personalia, tugas harianku salah satunya adalah merekrut karyawan. Tahapan dalam rekrut: seleksi kandidat, menghubunginya, tes tertulis, wawancara, tes kesehatan, lalu training. Memilih kandidat karyawan sungguh memiliki keseruan tersendiri. Sumber data bisa dari mana saja. Dari email yang setiap harinya mencapai ratusan. Dari surat lamaran yang dikirim lewat pos. Dari referensi karyawan internal yang biasanya menitipkan lamaran. Atau dari yayasan bantuan rekrut yang bekerja sama. Sungguh ga seimbang antara lowongan yang tersedia dengan pelamar yang masuk. Ibaratnya lowongan hanya satu yang mendaftar 1000. Namun ternyata tak semudah yang dibayangkan saat proses seleksi. 1000 itu banyak yang tak masuk kriteria. Harus jeli dalam memilih dan memilah. Harus akurat sesuai permintaan departemen terkait dari backgroud pendidikan, pengalaman, atau usia. Namun di sinilah keseruannya. Sebuah tantangan. Mengelolah sumber daya manusia tentu saja sangat berbeda dengan mengelola mesin. Dalam proses produksi misalkan di mesin kita input angka 1, maka output-nya pasti 1. Kalau manusia, jelas beragam. Kita bisa input 1, yang pasti keluarnya bervasiasi, bisa 1, 2, 3 atau bahkan 0,5. Seperti saat pelatihan. Daya tangkap setiap orang berbeda-beda. Ada yang langsung klik sehingga lebih mudah dalam menanamkan materi, ada yang butuh berkali-kali. Itulah seninya.

Setelah dua tahun bekerja di sana, aku sudah menjadi supervisor sehingga tahapan tes kini dilakukan staf dan saat wawancara barulah aku yang melakukannya. Aku sangat menikmati keseharian bekerja. Kesibukan dari pagi sampai sore itu membuatku bergairah untuk membunuh waktu. Memanggil karyawan bermasalah, meeting satu ke meeting yang lain, bernegosiasi gaji, sampai mengisi training karyawan.

Kesibukan yang menyita sisi asmara. Sampai kini aku masih sendiri. Beberapa karyawan perempuan yang jelas-jelas naksir, aku abaikan. Dengan posisiku aku bisa saja mempunyai kekasih yang mumpuni, namun tidak. Masa laluku dengannya belum bisa kuenyahkan dari kepala. Rita, kekasihku yang berhianat.

***

Honey, aku minta maaf. Hubungan kita tak bisa dilanjutkan.” Suatu siang yang terik di sudut kampus. Rita tiba-tiba meminta putus. Aku shock.

“Ada apa sebenarnya?”

“Ada banyak hal di dunia ini yang tak akan kita mengerti. Ada banyak masalah datang dan pergi. Ada jutaan kemungkinan dalam menyongsong detik berikutnya dalam hidup ini. Ada bermacam-macam pikiran muncul dalam menghadapi situasi. Kuharap pikiran yang bijaklah yang kau pilih untuk menentukan arah ke depannya setelah kita berpisah. Aku minta maaf. Aku sangat berterima kasih atas satu-dua tahun terakhir ini. Sungguh waktu yang sangat romantis, menyenangkan dan indah. Waktu yang tak kan pernah kulupakan. Kuharap kau pun tak kan pernah lupa. Sekali lagi maafkan aku.” Rita lalu berpaling dan melangkah pelan meninggalkanku yang masih tak mengerti.

“Rita…,” aku berteriak sambil berjalan menyusulnya. “Aku tak mengerti.”

Dia berbalik, menatapku lagi. “Banyak hal lebih baik tak dimengerti. Banyak fakta yang tak baik di luar sana. Aku hanya minta kau tetap berfikiran positif.”

“Tolong pastikan, fakta apakah itu.”

Rita menghela nafas pelan. Lalu memegang kedua tanganku, menggenggam jemariku erat. Menatapku haru, kita saling berpandangan. Mata cinta yang biasanya aku lihat dikala dia bahagia. Namun kata-kata berikutnya sungguh tajam menikam hatiku. “Bulan depan aku menikah. Dan itu bukan denganmu. Mengertilah, hidup adalah seni mengambil keputusan. Masa depanmu cerah terbentang. Lupakan aku.” Lalu dia-pun pergi dengan air mata terurai meninggalkanku dalam kehampaan.

***

Tiga tahun setelah keputusan pahit itu. Dalam keterpurukan, aku tetap bisa menyelesaikan kuliahku. Walau tertatih, S1 itu harus kuraih. Tak banyak kabar yang masuk ke telingaku setelah Rita menikah. Semakin sedikit informasi semakin baik. Ternyata bohong, siapa bilang waktu bisa menyembuhkan luka. Rita selalu menyelinap dalam kepala kendati aku memutuskan menjauh, pergi ke tanah rantau dan mencoba menyibukan diri. Hati-hatilah dengan pikranmu.

Hingga akhirnya di Senin yang cerah itu. Saat ada seleksi untuk posisi marketing staf, tim rekrutku sudah memilah menyisakan beberapa kandidat karyawan lagi. Ada lima kandidat yang diwawancarai, kita sedang butuh dua karyawan. Aku duduk dalam ruang wawancara bersama Toni tim rekrutku, kubuka berkas pelamar dan kutemukan namanya di sana. Satu dari lima orang itu ternyata membuat jantungku berdegub lebih keras. Rekanku lalu meminta izin memanggil kandidat untuk mulai wawancara. Aku terpaku, masih menatap berkas itu, membolak-baliknya. Rita Wahyuni, status cerai tanpa anak, menganggur 6 bulan yang lalu. Tempat tinggal Cikarang, sebuah rumah yang tak jauh dari tempatku berteduh. Aku menelan ludah.

Sebelum mulai aku bertanya kepada Toni. “Honey, hhmmm maksudku Ri.. Rit..Rita Wahyuni. Bagaimana nilai tes tertulisnya?” Aku bergetar menyebut nama itu lagi.

“Nilainya bagus pak. Di atas rata-rata. Wawancara tahap awal dengan kami juga Oke. Tinggal bapak yang memutuskan akankah bergabung dengan Perusahaan kita atau tidak. Orangnya cantik dan wawasannya tentang seluk beluk marketing luas” Toni terus menjelaskan betapa kandidat ini sangat berpeluang bergabung.

“Baiklah, terima kasih Toni. Persilakan dia masuk.”

“Baik pak.” Toni melangkah keluar ruangan meninggalkanku sendiri. Memanggil kekasih lamaku. Perempuan yang sudah mengusik pikiranku. Seseorang yang begitu kucinta di masa lalu.

Sekian tahun tak bertemu membuatku gugup. Pertama yang kurasakan ketika Rita melihatku adalah terkejut. Menutup mulutnya dengan sebelah tanganku. Menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Menundukkan kepala, menggelengkannya lagi. Lalu melihatku lebih jelas, lebih lama. “Oh honey…”

Bukan sebuah permulaan yang bagus tentu saja dalam wawancara pekerjaan. Aku mencoba tersenyum. Pahit. “Apakah kau akan berdiri terus di depan pintu? Ataukah kita bisa mulai wawancaranya. Silakan duduk, Rita Wahyuni.”

Kulihat dia mulai mencoba mengembangkan senyum, berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman. “Maafkan aku Toni…”

Tangan itu tak kusambut. Kulihat matanya dan berujar, “Silakan duduk. Mari kita mulai wawancara hari ini dengan pertanyaan sederhana. Well, Rita Wahyuni sang mantan apakah kamu bahagia?”

***

“Pak Anton, aku minta hasil final wawancara hari ini. Agar bisa aku follow up segera untuk tes kesehatan.”

“Oh baiklah. Tunggu sebentar.”

Kubuka berkas itu, lalu mulai mengisi form wawancara.

Susi Sulawati. Sikap bagus. Motivasi bagus. Inisiatif kurang. Pengetahuan cukup. Skill kurang. Failed.

Desi Mustika. Sikap bagus. Motivasi bagus. Inisiatif kurang. Pengetahuan bagus. Skill bagus. Accept.

Dina Meyka. Sikap kurang. Motivasi cukup. Inisiatif bagus. Pengetahuan cukup. Skill kurang. Failed.

Rita Wahyuni. Aku gelengkan kepala tak percaya, ini bukan kenangan. Lalu kutulis dengan tangan bergetar. Sikap cukup. Motivasi bagus. Inisiatif cukup. Pengetahuan cukup. Skill kurang. Kutulis dengan tinta merah menyala: Failed.

Rahmawati Suky….

Karawang, 250316 – BvS day

*)judul cerita ‘Bukan Kenangan’ diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Sherina Munaf di album Primadona

The Pearl – John Steinbeck

Inilah buku tanggal 10 Agustus 2016 lalu saya beli di hari spesial ulang tahun Hermione. Buku yang sekali duduk baca selesai. Karena karya seorang peraih Nobel Sastra 1962 maka tak salah harapan saya tinggi. Sayangnya ketinggian, tak bisa meyamai apalagi melampaui karya fenomenal ‘Of Mice and Men’. Walau eksekusi ending-nya sangat berani dan seperti Of Mice yang memberi akhir sedih namun tetap secara runut tak bisa. Buku dengan 142 halaman ini mempunyai selembar bagian fantastis ketika keputusan kepada siapa mutiara itu berpihak.

Kisahnya memang pilu sedari awal. Sebuah keluarga pelaut miskin di Meksiko yang tinggal di perkampungan nelayan di sebuah gubuk sederhana. Keluarga Kino yang turun-temurun hidup miskin dengan segala problematikanya. Istrinya yang sederhana Juana dan bayi mereka Coyotito. Jangankan perabot rumah, mereka tidur saja di alas tikar. Masak dengan tungku dan batu bara serta ranting kering sebagai korbannya. Keluarga ini di suatu pagi yang cerah memulai aktivitas. Sarapan kue jagung hangat yang dicelupkan ke saus ditemani minuman pulque (minuaman fermentasi yang mengandung alcohol khas Meksiko, dibuat dari beragam tanaman agave). Matahari bersinar hangat seakan memberi harapan baru.

Saat itu lagu tragedi mulai dilantunkan. Di kotak gantung tempat tidur sang bayi, ada gerakan binatang kecil. Seekor kalajengking dengan ekor beracun yang tepat lurus siap melecut setiap saat. Nafas Kino berhembus dari cuping hidungnya dan dia membuka mulut untuk menghentikannya. Raut terkejut dan lagu kejahatan berdesis. Dalam nafasnya Juana mengulang-ulang mantra kuno untuk berlindung dari kejahatan. Dan puncak doanya dia berkomat-kamit melafalkan Salam Maria dengan gigi gemeretak. Upaya cepat menyingkirkan binatang gagal. Kalajengking itu direnggutnya lalu menggosok-gosoknya hingga lekat di tangan kemudian dibanting ke tanah. Kino meninju dan menghancurkan sang binatang hingga hancur sampai tinggal serpihan. Coyotito menangis, jeritannya sampai terdengar oleh para tetangga.

Segera mereka bergegas ke kota untuk berobat. Sempat terbesit memanggil dokter, namun keluarga ini mana bisa membayar? Perkampungan gubuk yang tak akan ditengok orang penting di Pemerintahan. Seperti halnya suasana desa yang punya kebersamaan, para tetangga lalu bersama-sama berarak ke kota. Suatu pemandangan kontras dari rumah-rumah kumuh ke rumah-rumah berplester dan rapi. Arak-arakan ini melewati Gereja, dan para pengemis ikut dalam rombongan. Para pengemis adalah orang-orang yang tahu seluk beluk kota. Orang yang tahu para hamba yang meminta pertolongan dalam mimbar pengakuan. Sehingga ketika tahu ada keluarga miskin akan menemui dokter mereka sangsi. Sang dokter adalah orang tamak yang mengukur segala dengan uang. Apa yang dikhawatirkan para pengemis jadi nyata.

Saat arak-arakan ini sampai di depan pintu rumah sang dokter. Pelayannya menghadap. “Tidak adakah hal yang lebih baik yang dapat kulakukan selain mengobati ‘Indian Kecil’ yang tersengat serangga? Aku bukan dokter hewan.” Sang pelayan hanya mengiyakan. Lalu dokter sombong itu melanjutkan, “Memangnya dia punya uang? Tidak kan, mereka tak pernah punya uang. Aku, akulah satu-satunya di dunia ini yang didesak bekerja tanpa imbalan dan aku lelah dengan hal-hal seperti ini. Lihat dulu apakah ia punya uang!”

Perintah itu tentu saja dilaksanakan dengan gemetar. Kino yang berangkat ke kota hanya memakai pakaian lusuh lalu ‘diusir’, hatinya panas. Kino mendendam, pintu diketuk-ketuk penuh amarah. Untuk waktu yang lama berdiri di depan gerbang dengan Juana di sampingnya, perlahan ia pakai lagi topinya di kepala lalu tanpa basa-basi meninju pintu sampai buku jemarinya robek dan darah mengalir. Ini adalah bagian pertama. Sebuah pembuka yang mengharu, mengajak pembaca marah terhadap ketidakadilan. Marah akan tatanan dunia yang tak berpihak pada kaum papa.

Bagian kedua adalah sebuah harapan. Keluarga Kino dalam kesehariannya melaut dengan kano sederhana dari Nayarit, sebuah negara bagian di Meksiko yang sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Pasifik. Karena buku ini berjudul ‘mutiara’, apa yang ditemukan di laut oleh keluarga ini tentu saja mutiara. Namun ini adalah mutiara istimewa. Mutiara terbesar di dunia. Kilaunya, beratnya, membuat nelayan lain ikut terkagum. Dalam kegembiraan membuncah Kino berteriak kegirangan.

Bagian tiga adalah dilema. Berita temuan mutiara itu menyebar dengan sangat cepat seperti angin. Tetangga Kino ikut bahagia, ada orang miskin di daerah mereka tiba-tiba (bisa) kaya. Para pengemis ikut bahagia, tak ada anugerah yang lebih tinggi bagi pengemis selain mendapati saudaranya bahagia. Sang dokter yang mendengar itu lalu bergegas ke rumah Kino untuk ‘mengobati’. Laksana menjilat ludahnya sendiri. Sang Pendeta ikut datang untuk melihat mukjizat itu. Permintaan Kino sederhana saja, ingin diresmikan pernikahan secara agama di Gereja. Dan seterusnya dan seterusnya. Limpahan itu menjadi magnet semua orang.

“Kemujuran, kalian tahu, biasanya mengajak serta pasangannya, yaitu tragedi.” Di bagian keempat adalah kisah keberanian. Mutiara itu mengundag kawanan pencuri dan berandal. Malam itu Kino berjibaku sampai berdarah melawan orang yang berniat jahat. Paginya Kino, Yuana dan bayinya Coyotito segera bergegas ke kota untuk menjualnya. Sama seperti di bagian awal ketika mereka pergi ke dokter dengan arak-arakan, hari itu mereka berarakan ke pembeli mutiara. Ada rasa was-was orang miskin akan ditipu. Takut harganya dimanipulasi. Kekhawatiran itu sudah dijelaskan John sedari awal. Pada dasarnya pembeli mutiara – emas juga, adalah monopoli seseorang. Memang para pembeli tersebar dengan berbagai gaya, tawaran dan mulut lamis. Tapi semua itu hanya sandiwara. Mereka menawar dengan harga ‘hanya’ 1.000 peso. Jauh dari perkiraan yang diperkirakan oleh Kino yaitu minimal 50.000 peso. “Ini bukan permata, ini benda aneh.” Akting salah satu calon pembeli. Dengan gusar Kino mengambil lagi temuannya dan bergegas pulang. “Aku akan menaikkannya hingga 1.500 peso”, pancing yang lain. Kino tak peduli, ia pulang dengan kepala panas.

Bagian kelima dan keenam adalah pengambilan keputusan. Kino berniat ke ibukota untuk mendapat harga yang lebih pantas. Namun segalanya seakan menghalangi. Kanonya dirusak. Pantai dijaga para berandal, perkelahian itu mengakibatkan Kino terluka dan sang perampok tewas. Kewaspadaan ditingkatkan. Akhirnya diputuskan mereka berangkat di tengah malam. Dengan bekal apa adanya, dengan istri di samping bersama sang bayi. Mereka mencoba menantang takdir. Berhasilkah selamat dari hadangan para perampok? Berhasilkah Kino menjadi kaya dan memperbaiki nasib keluarganya?

Well, John Steinbeck terkenal akan keberanian memberi ending yang menyedihkan. Of Mice yang fenomenal sampai dilarang dibacakan untuk siswa sekolah di Amerika saking tragisnya. Jadi apa yang terjadi terhadap keluarga Kino bisa kalian tebak. Sedih, tak ada keadilan yang kaya makin tinggi yang miskin terus terseok. Keputusan di malam di dekat sumber air itu memang berkelas. Ditampilkan dengan sisi imajinasi yang beringas. Sepakat. Andai cerita yang kubuat mentok, mungkin saya akan memberi akhir yang sama. Namun kisah ini terlalu pendek. Kurang berkembang karena fokus terus terpusat kepada Kino.

Musik mutiara mengalun lirih bagaikan bisikan, untuk kemudian hilang memudar.

Mutiara | by John Steinbeck | copyright 1945 | judul asli The Pearl | Penerjemah Ary Kristanti | Editor Bahasa Salififa Zanbihan | Design sampul Bambang Hidayatullah | Tata letak Argo Tutuka | ISBN 978-602-1526-12-5 | Cetakan I, 2013 | Penerbit Liris | Skor: 3.5/5

Karawang, 220816 – Sherina Munaf – Pergilah Kau

Welcome Serie A, Good Luck Lazio

image

Welcome Serie A. Musim ini kita lebih optimis. Lebih percaya diri. Fokus hanya kompetensi lokal. Berikut nomor punggung SS Lazio 2016-2017:

1. STRAKOSHA THOMAS
2. HOEDT WESLEY THEODORUS
3. DE VRIJ STEFAN
4. GABARRON GIL PATRICIO “PATRIC”
6. LUKAKU MENAMA MOKELENGE JORDAN
ZACHARIE
7. KISHNA RICARDO DENNIE
8. BASTA DUSAN
9. DORDEVIC FILIP “DJORDJEVIC”
10. PEREIRA GOMES FELIPE ANDERSON “F.
ANDERSON”
11. MORRISON RAVEL RYAN “RAVEL”
13. FORTUNA DOS SANTOS WALLACE “WALLACE”
14. BALDE DIAO KEITA “KEITA BALDE”
16. PAROLO MARCO
17. IMMOBILE CIRO
19. LULIC SENAD
20. BIGLIA LUCAS RODRIGO “L. BIGLIA”
21. MILINKOVIC SAVIC SERGEJ “SERGEJ”
22. MARCHETTI FEDERICO
25. LOMBARDI CRISTIANO
26. RADU STEFAN DANIEL
27. MINALA JOSEPH MARIE
32. CATALDI DANILO
33. DOS SANTOS MAURICIO “MAURICIO”
34. PEREA VARGAS BRAYAN ANDRES
44. PRCE FRANJO
55. VARGIC IVAN
70. OIKONOMIDIS CHRISTOPHER JAMES
71. TOUNKARA MAMADOU
96. MURGIA ALESSANDRO
97. GERMONI LUCA
99. BERISHA ETRIT

Laga pertama hanya lawan Atlanta. Ah mudah lah.

Perkiraan formasi:
Atalanta : D. Bassi, G. Stendardo, A. Masiello, M. Caldara, A. Conti, R. Gagliardini, G. Migliaccio, R. Freuler, J. Kurtič, A. Petagna, M. Pinilla
Pelatih : G. Gasperini
Lazio : E. Berisha, D. Basta, J. Lukaku,
Mauricio, Patric, Felipe Anderson, D. Cataldi, C. Ikonomidis, M. Parolo, Lombardi, C. Immobile
Pelatih : S. Inzaghi

Kuis Lazio the Great dibuka. Tak ada yang berubah format. Skor, skorer, analisis min 3 kalimat. Skor 0-3 punya ku. Ditutup Minggu jam 15:00. Good luck Foccers!

LBP
0-3
Formasi ofensif Simone Inzaghi akan benar benar diuji setelah dalam beberapa pertandingan pra musim yang biasa. Cidera Balde Keita bisa jadi akan berkah Lombardi yang di pertandingan terakhir lawan primavera cetak hatrik. Rekrutan baru paling dinanti Immobile akan disokong pemain penuh talenta Ricardo Kishna. Tridente maut, target tiga gol terasa kecil.

Joko Gentong
Atalanta 2-0 lajio, pinilla
Main di kandang. Awal yang bagus. 3 poin bungkus.

Huang
Atalanta 1-2 Lazio, Milinkovic Savic
Analisa: Kepergian Antonio Candreva ke Inter patut disesali. Tanpa sang playmaker tim, Lazio bisa saja kehilangan kreatifitas di lini tengah. Belum lagi Klose yang pensiun dan Mbah Lord Konko yang juga dilepas, membuat tim ini seperti merestart kekuatannya sendiri. Beruntung, lawan kali ini cuma Mylanta, calon tim degradasi. Saya pikir, musim ini SS The Great Lazio akan lebih banyak mengandalkan keberuntungan ketimbang kekuatan di atas lapangan sejak setidaknya 10 tim lain memiliki kualitas yang juga pas-pasan.

JJ
Ata 1-2 lajio Immobile
Awal musim. Kualitas pemain baru harus terbukti. Lajio ternyata masih kesusahan.

Aditya
Atalanta vs Lazio Pinilla: 2-1. Lazio pongah. Lazio kalah. Lazio payah.

DC
Atalanta 1-1 Lazio Immobile
Match pertama. Seperti biasa masih mencari cari bentuk. Hasil imbang pas banget.

JK
atlanta 1-1 Lazio, Lulic
Saling bertahan. Susah buat goal. Tipikal permainan serie a umumnya, seri hasil kerja nyata 2 team.

Arif
Atalanta 0-1 Lazio Immobile. Lazio tentu ingin menang di awal musim. Atalanta sulit dikalahkan di kandang. Immobile akan menjalani debut.

Imunk
Atalanta 1-0 lazio, andrea petagna
Hati2 sama patagna. Jebolan primavera milan ini tinggi besar hlo. Barisan bek lazio kan suka kacrut kalo ada bola2 atas. Awas hlo yaaaa.

Rohmad
Atalanta 2 – 0 LAZIO
Putih vs biru langit.
Atalanta ingin mengembalikan masa keemasan. Menjadi pembunuh raksasa.
Lazio bukan raksasa. Lazio bakal di siksa.👍

Widy
Atalanta 3-1 Lazio , Anderson
Pekan 1 serie A dimulai. Lazio laga tandang. Atalanta yg menang meyakinkan.

Bung Tak mana ada kuis nih

Karawang, 210816