Sherlock: The Blind Bankir – China Express

image

Dr John Watson: No. I am Sherlock Holmes and I always work alone because no one else can complete with my massive intellect!
Ketika di depan pintu sebuah apartemen, Watson yang tertinggal di luar meminta Sherlock yang di dalam untuk membukakan pintu. Makian yang awalnya sekedar lewat itu malah jadi klu penting.
Sebuah penurunan tempo. Setelah dibuat terkagum di episode pembuka, seri kedua ini sedikit di bawah ekspektasi. Mungkin karena kasusnya rumit dengan sandi dan angka-angka yang menyeret kebudayaan China sehingga saya mengernyitkan dahi beberapa kali.
Di pembuka film serasa bukan film Sherlock. Namun skoringnya tetap menawan. Memberi penonton untuk mengira mau ke arah mana kasus akan digulirkan. Soo Lin Yao (Gemma Chan) sedang presentasi masalah teko dan cangkir kuno dari zaman dulu dinasti China. Betapa semakin sering dipakai daya pikatnya mempesona. Soo Lin seakan terobsesi dengan benda-benda antik itu. Andy Galbraith (Al Weaver) rekan kerjanya mengajaknya minum di luar, ajakan yang kikuk itu ditolak. Malamnya Soo Lin terkejut ketika museum tutup, ia membuka sebuah tirai yang menutupi patung. Apa yang dilihatnya tak ditampilkan kepada penonton. Namun tak perlu waktu lama, kita akan tahu apa yang ada dibalik tirai itu.
Setelah judul film dan orang-orang yang ada dalam penggarapannya muncul, kita diajak melihat keseharian Dr. John Watson (Martin Freeman) yang bermasalah dengan keuangan, marah-marah di swalayan karena kartunya tak bisa dipakai. Pulang ke flat 221B Baker Street melihat Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) hanya duduk tak melakukan apa-apa. Padahal seperti yang ditampilkan sekilas, ia berjibaku melawan penjahat berpedang. Dimintanya Watson memakai kartunya untuk berbelanja. Nantinya hal sepele ini menjadi klu penting. Untuk bertahan hidup, Watson pun melamar sebagai dokter jaga, diterima dengan senyum oleh Dokter Sarah (Zoe Telford) yang cantik. ‘It or she?’
Sherlock tiba-tiba mengajak Watson ke bank, seperi biasa ajakan tiba-tiba itu tentunya menggugah sebuah masalah. Di bank Sherlock bertemu dengan pejabat sekaligus teman lamanya, Sebastian Wilkes (Bertie Carvel). Aksen Seb bagus banget, British-nya kental dan mimiknya pas. Dari penuturannya kita tahu semalam bank dibobol tanpa merusak sistem keamanan dan pintu masih terkunci rapat, namun tak ada barang yang hilang, yang ada adalah sebuah simbol. Lukisan dicoret dibagian mata, di sampingnya ada simbol seperti pita miring dengan garis di kirinya. Berwarna kuning. Nah. Yang kayak gini favorit Sherlock. Sebastian meminta Sherlock menyelidiki dengan imbalan menggiurkan. Sherlock dengan dingin menolak insentif, Watson tentu saja menyambar cek itu. Haha… lucux.
Dari cctv terlihat coretan berlangsung kilat. Ruangan masih terkunci rapat yang rasanya mustahil orang bisa masuk dan keluar secepat itu. Dari jendela? Bisa jadi. Semacam Spiderman? Ya ya… mungkin. Dari penyelidikan itu, Sherlock ke sebuah rumah dan mendapati mayat karyawan bank, Eddie Van Coon. Ia membawa 5 juta Pound dari bank dan mengembalikannya segera setelah kembali dari bepergian ke China, namun nyawanya ditemukan tewas seakan ini adalah bunuh diri. Yah, lagi-lagi bunuh diri. Setidaknya itu klaim Inspektur DI Dimmock (Paul Chequer). Sherlock lalu menjelaskan khas orang sok tahu namun akurat, bahwa rasanya mustahil seorang kidal menembak kepalanya dengan tangan kanan. Dengan nyinyir bilang, dimana si inspektur Lestrade. Pertanyaan yang sama saya keluhkan.
Tak lama setelah itu muncullah korban kedua. Brian Lukis yang sama pulang dari China ditemukan tewas di apartemennya. Di tempatnya tinggal banyak buku berantakan, salah satunya buku Dan Brown: The Last Symbol. Sebuah klu? Yang pasti keduanya sama, mati dalam kamar yang terkunci rapat. Pulang dari China. Sama-sama ke toko “The Lucky Cat”. Dan buku terakhir yang dibawa pulang Lukis menuntun Sherlock ke sebuah pustaka. Dari seri deretnya, Sherlock dan Watson menemukan simbol yang sama dengan di bank. Simbol seperti pita miring dengan garis di kiri. Berwarna kuning. Simbol China kuno suzhou numeral. Lagi-lagi pembunuh serial?
Penyelidikan berlanjut ke sebuah stasiun, toko survenir China dengan lucky cat-nya. Dan menemukan apartemen kosong dari pengamatan cuaca. Waaa hebat ya. Ternyata itu tempat tinggal Soo Lin. Ya, karakter yang diperkenalkan di awal tadi. Kini sudah menghilang, ia mengundurkan diri mendadak. Rumahnya terkunci, namun jendelanya terbuka. Sherlock masuk, Watson tertinggal di luar. Dalam mengotak-atik ruangan ia bertemu dengan sang penjahat. Perkelahian itu berkahir dengan peringatan di saku Sherlock berisi sebuah origami Black Lotus – Terarai Hitam. Di bawah pintu mereka menemukan memo dari Andy yang menuntunnya ke museum. Di situlah titik temu semua tanya. Apa itu teratai hitam, apa arti simbol dijelaskan Soo Lin namun tak pernah tuntas karena ia keburu bernasib sial bertemu adiknya. Di museum itu kita tahu bahwa ada sindikat yang sedang memperebutkan sebuah benda kuno bernilai jutaan Pound.
Dan laporan Sherlock kepada DI Dimmock awalnya dianggap dingin. Pembuktian ada pergerakaan sindikat di London itu mengarah kepada kedua mayat korban, kita pun bisa bertemu si cantik Molly Hopper (Louise Brealey). Horeeee… Lagi-lagi Sherlock menggodanya. Betapa detail perubahan sigrak rambut bisa membuat wanita tersipu. Benar saja, kedua mayat di telapak kakinya ada tato simbol teratai hitam. Lalu bantuan Dimmock kepada Sherlock adalah pengiriman semua buku di apartemen korban untuk diselidiki.
Muncul juga akhirnya karakter Mrs Hudson (Una Stubbs), horeee. Walau sekedar lewat bilang ada amal buku? Di luar banyak kiriman buku ke Baker Street. Sampai larut berdua menyelidiki satu per satu buku yang ada untuk memecahkan misteri. Di pagi hari Watson harus bekerja, namun keadaan ngantuk berat ia tertidur di klinik. Dokter Sarah membantu dan secara harfiah nan manis mengajak kencan. Malam itu kencan yang direncana berdua rusak gara-gara Sherlock ikut. Malam itu yang seharusnya berakhir seru malah jadi bencana. Watson dan dokter Sarah diculik. Berhasilkah Sherlock menyelamatkan mereka? Lalu apa arti simbol itu? Apa benda kuno yang diselundupkan dan jadi pemicu utama kisah ini? Berhasilkah Sherlock menemukannya? Endingnya sendiri seperti lelucon ketika tahu dimana benda itu diungkap. Haha… asem!
Agak menurun dari yang pertama. Tensi yang pertama sungguh tinggi, trivia-trivianya masih bisa diikuti nah yang ini rumit. Banyaknya angka dan pemecahan simbol rasanya membawa titik jemu. Pengungkapannya juga ga wow. Pemilihan eksekusi akhir tertebak, beda perpektifnya kalau salah satu karakter penting tewas. Ketika Watson ditodong pistol apakah kalian percaya ia akan tewas? Jelas tidak. Ketika dokter Sarah terancam kena peluru permainan, apakah kalian menebak ia akan tewas? Tentu tidak. Ketika Sherlock diberondong tembak di museum dan joke ‘kita diantara benda berusia ribuan tahun, jadi hormatilah’ apakah kalian nebak ia akan tertembak? Tentu tidak. Sayangnya semua kata ‘tentu tidak’ itu terbukti. Eh bocoran ya? Bukan, ini dasar cerita usang bahwa jagoan jangan mati di awal-awal cerita. Dan karena ini episode dua season satu jelas itu bukan poin penting. Harusnya penonton diberi kasus yang lebih asyik. Kisah the Blind Bankir diambil dari perpaduan cerita ‘The Valley of Fear’ untuk konsep simbolnya. Untuk plotnya lebih ke ‘The Sign of Four’. Kemudian kunci adanya tato dari para kriminal tentunya dinukil dari kisah ‘The Five Orange Pips’. Yah, terlalu banyak bukunya yang diaduk jadinya malah jadi sajian yang asam.
Dalam episode ini walau harapanku bahwa dua karakter sempalan Mrs Hudson dan Molly Hooper terpenuhi namun sayang kita tak bertemu kepala polisi Lestrade, saudara Sherlock, Mycroft. Dokter polisi Anderson jua tak kelihatan, padahal ia seperti selingan konyol yang ternyata bisa mencuri perhatian.
Akhir film ini pun kita diberi klu penting. Ketika Shan berchat ria dengan bosnya, seseorang berinisial ‘M’. Chat yang berakhir dengan dot merah dan suara tembakan. Sebuah pengantar untuk episode ketiga ‘The Great Game?’ Mari kita lihat…
Sherlock: The Blind Bankir | Director Euros Lyn | Screenplay Mark Gatiss, Steven Moffat | Cast Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Una Stubbs, Louise Brealey, Zoe Telford, Gemma Chan, Al Weaver, Bertie Carvel, Paul Chequer | Skor: 4/5
Karawang, 210616 – Gorillaz – Dare (DFA Remix)

Iklan

4 thoughts on “Sherlock: The Blind Bankir – China Express

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s