Anniversary Wedding 3 Years: Orange County

“Because it’s what you do after high school”

11-11-11 – 11-11-14, 3 tahun sudah kita menikah. Waktu memang cepat sekali berjalan, tak terasa. Selasa, 11 November 2014 kemarin saya sengaja mengambil cuti untuk ‘merayakannya’ bersama keluarga kecil kami. Ada banyak cara untuk memperingatinya, saya memilih untuk menghabiskan waktu 24 jam bersama walau dalam kesederhanaan. Ulang tahun pernikahan pertama kami lewatkan di rumah sakit. Ulang tahun kedua kami lewatkan makan malam di restoran Resto Kita lalu ditutup dengan menonton film romantis ‘About Time’. Tahun ini ada si kecil Hermione yang sehari ini ceria sekali. Umur Hermione tepat 3 bulan, sudah bisa guling-guling dan tiap malam ngoceh ga jelas. Selalu tumbuh semangat keceriaan saat melihatnya.
Saat jam menunjukkan tengah malam, Meyka sudah tertidur, Hermione masih segar matanya saya temani ngoceh sampai subuh dan saya bacakan bab 1 novel Harry Potter dan Batu Bertuah. Saya punya janji, sebelum umur 5 tahun, Hermione akan saya bacakan 7 buku Harry Potter dan tanggal 11 November 2014 adalah watu yang tepat untuk memulainya. Saat subuh tiba, saya mulai lelap. Bangun siang jam 9 saat istri sedang di dapur memasak. Masakan special ampela ati, saya sempat komplain katanya hari ini mau makan ke Resto kenapa malah masak? Alasannya hari ini cuti terakhirnya, libur 3 bulannya sudah habis jadi pengen masak untuk menguji belajar masaknya selama ini. Hhhmmm…, enak juga.
Setelah beberes rumah dan Dhuhur jamaah, jam 1 kami ke Bank BII untuk mengurus rekening koran yang bermasalah. Hermione diajak karena memang di rumah ga ada orang, sekalian jalan-jalan ke KIIC. Jam 2 kami mampir ke toko bunga, kali ini koleksi Anggrek bertambah 1. Setiap ada momen khusus saya selalu menyempatkan diri beli bunga walau hanya 1 pot. Seperti pas ulang tahun jadian kami beli bunga mawar, ulang tahun Najwa kita tanam Melati. Atau pas momen tahun lalu yang sama, beli anggrek.
Karena belum terlalu lapar, kita makan yang sederhana saja: Mie Ayam Bakso. Sampai Asar, kami pulang. Menghabiskan petang dengan mendengarkan musik dan teh sambil ngobrol ngalor-ngidul sampai adzan Mahgrib menjelang. Setelah jamaah, sisa hari ini kita habiskan dengan nonton film di rumah. Setelah pilih-pilah kita putuskan nonton film ‘Orange County’. Kaset film lama yang sampai berdebu belum ketonton. Setelah makan malam dan Isya, we play! Hermione terlelap di tengah kita.
Film bercerita tentang seorang anak SMU yang hobi main selancar bernama Shaun Brumder (Colin Hanks) yang tinggal di kota Orange, California. Bersama teman-teman sekolah, Kyle Howard (Arlo), RJ Knoll (Chad) dan Lonny (Bret Harison) mereka menantang ombak. Tragis, saat ada ombak geDhe, Lonny meninggal. Shaun yang sedih menerung di pantai, secara tak sengaja menemukan buku karya Marcus Skinner. Dari buku tersebut dia tergugah untuk merencanakan hidup, saya ingin keluar dari kota kacau Orange ini dan menjadi Penulis! Lalu dia menulis cerita, setelah selesai diminta first reader Lance kakaknya. Naskahnya malah hancur, maklum pemabuk. Lalu ke pacarnya, Ashley terlalu subjektif menilai hanya kata-kata postifi yang keluar dari mulutnya. Lalu akhirnya dia nekat mengirimnya ke penulis Skinner untuk mengetahu respon tulisannya.
Shaun mempunyai seorang ibu yang galak Cindy (Catherine O’hara), ayah tiri yang sakit, Bob (George Murdock). Kakak pemabuk yang aneh, Lance (Jack Black), pacar nyeleneh Ashley (Schuyler Fisk) dan sederetan orang-orang unik di sekelilingnya. Shaun yang jenius mempunyai impian untuk lanjut ke universitas favorite Stanford, tempat penulis pujaannya profesor Skinner mengajar. Namun dalam perjalanan waktu dunia seakan berkonspirasi untuk menggagalkannya.
Dimulai saat pengumuman penerimaan mahasiswa, Shaun menerima surat penolakan. Kaget, karena nilai akademi nya tinggi, langkah pertama dia lalu komplain ke guru pembimbingnya, Ms. Cobb (Lily Tomlin). Dari situ kita tahu, ternyata terjadi salah data. Nama Shaun tertukar, marah dia nyaris bertengkar dengan gurunya. Shaun yang setiap hari berdoa agar keterima di Stanford, mencoba mencari kebenaran. Dari penuturan pacarnya, ternyata dia malah berdoa sebaliknya. Karena Ashley ingin Shaun tetap dalam 1 kampus. Namun demi kebahagian kekasihnya, Ashley lalu luluh dan akan membatu sebisa mungkin.
Langkah kedua: meminta bantuan ayah kandungnya Bud (John Lithgow) yang kaya raya agar dirinya bisa dimasukkan ke Stanford. Ternyata justru terjadi seteru, di mata ayahnya uang adalah segalanya. Kerja kerasnya selama ini untuknya, tapi bagi Shaun sukses adalah menggapai cita-cita. Bud menilai jadi penulis tak akan membuatnya kaya dan jagoan kita pun bersedih.
Langkah ketiga: meminta bantuan Tanya (Carly Pope), teman sekolahnya yang punya koneksi ke Stanford untuk menjelaskan kesalahan data. Orang tua Tanya lalu berkunjung ke rumahnya untuk survey. kunjungan yang berakhir kisruh. Karena seakan seisi rumah yang diminta Shaun untuk tampil ‘normal’ malah tampak kacau.
Langkah keempat: bersama kakak dan pacarnya pergi ke kota Palo Alto, tempat kampus Stanford berada. Perjalanan 3 jam, sampai di sana sudah malam. Di kampus yang sudah tutup, mereka ketemu admin. Terjadi cekcok, mereka diusir. Shaun malah bertengkar dengan pacarnya, Lance yang coba membantu dengan berniat mencuri kunci malah tak sengaja membakar kampus. Benar-benar kacau.
Langkah kelima: mendatangi Don Durkett (Harold Ramis) rektor Stanford, untuk menjelaskan duduk perkara kesalahan data. Profesor Don yang setuju karena salah minum obat, malah mengubah kesepatakn setelah melihat kampus yang terbakar. Sang pemadam kebakaran, Ben Stiller tampil cameo lalu melacak tersangka. Saat sepertinya kocar-kacir, Shaun bertemu sang pujaan, penulis Mr. Skinner (Kevin Kline). Dari situ dia langsung menghentikan langkah sang profesor, dan menanyakan nasib naskah buku yang dikirimnya. Diluar dugaan, sang penulis memuji karyanya. Tinggal ending ceritanya mau kemana. Ending cerita yang ternyata mencerikan dirinya sendiri di kota Orange. Luar biasa twist-nya. Pertanyaan apakah Shaun akhirnya bisa masuk ke Stanford dengan merantau kuliah ataukah memilih mengejar mimpinya menjadi penulis dengan kuliah di kotanya sendiri? Temukan jawabnya di film berkelas ini!
Anniversary wedding yang berkesan!
Orange County
Director: Jake Kasdan | Cast: Colin Hanks, Jack Black, Ben Stiller | Scipt: Mike White | Skor: 4/5
Karawang, 121114

Iklan

(review) 12 Years A Slave: First You Word, Sir!

Gambar

Seorang sutradara kulit hitam membuat film yang mengekplorasi perbudakan, menunjuk seorang aktor langganannya untuk sebuah peran antagonis. Menghasilkan sebuah film drama yang menyayat hati, tentang sebuah era di mana warna kulit masih menjadi sebuah kendala utama. Berdasarkan kisah nyata yang tertuang dalam buku berjudul sama yang ditulis olehnya sendiri tahun 1853. Memoar tersebut lalu disunting dan terbitkan lagi tahun 1968 oleh Sue Eakin dan Joseph Logsdon.

Kisah ini bermula saat Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) terjebak dalam penculikan. Solomon adalah seorang negro, pemain biola yang tinggal bersama istri dan anaknya di New York. Suatu saat dia ditawari untuk bermain biola selama dua minggu di Washington oleh dua orang pria, Brown (Scoot McNayr) dan Hamilton (Taran Killam). Merasa tersanjung dan tertarik dengan bayaran yang ditawarkan, dia menyetujuinya. Saat malam mereka pesta miras Solomon dicekoki hingga tak sadarkan diri dan saat pagi menjelang dia sudah dalam keadaan terantai. Merasa sebagai orang merdeka, dia berontak, namun percuma. Solomon dijual di tempat pembudakan di New Orlean dan diberi nama baru Platt–seorang budak pelarian dari Georgia.

Dari situ dia terjual bersama orang-orang kulit hitam lainnnya kepada William Ford (Benedict Cumberbath). Seorang pemilik perkebunan. Solomon disarankan untuk merahasiakan identitas aslinya oleh sesama budak agar selamat. Solomon bertugas mengangkut kayu di perairan. William digambarkan sebagai master yang baik hati, dalam sebuah scene Solomon dihadiahi sebuah biola. Namun di sana dia dibenci sama tukang kayu John Tibeats (Paul Dano) hingga terjadi perselisihan. Solomon berpindah pemilik guna menyelamatkan hidup yang kebetulan dia lagi berhutang sehingga terpaksa menjual ke seorang juragan kapas, Edwin Epps (diperankan secara brutal oleh Michael Fassbender). Di sini dia bertugas untuk memetik kapas. Di tempat inilah neraka berada, disiksa dan dilecehkan secara keji. Edwin beranggapan bahwa menyiksa budak diperbolehkan Alkitab. Banyak scene yang membuatku tak kuat melihat layar, seram sekali. Bahkan ada adegan Patsey (Lupita Nyong’o), seorang budak perempuan diperkosa oleh Epps. Pandangan Parsey kosong, seperti mayat hidup. Di sebuah titik terendah yang membuatnya menyerah akan hidup, dia minta Solomon untuk membunuhnya. Tentu saja dia tak mau, sekeras apapun cobaan hidup kita harus terus berjuang.

Tak terasa perbudakan yang menerpanya sudah selama 12 tahun sejak diculik tahun 1841. Lalu muncullah seorang malaikat penyelamat, adalah seorang pekerja asal Kanada bernama Bass (Brad Pitt, terserah Pitt mau jadi apa, lha dia kan salah satu produser-nya) dia yang sedang membangun pavilium di rumah Epps merasa ada yang berbeda dalam diri Solomon. Berkesempatan untuk berbincang, akhirnya dia mempercayainya sehingga dia membuka rahasia bahwa dia sebenarnya adalah orang merdeka. Solomon meminta tolong kepadanya untuk mengirim surat ke Saratoga Springs, Bass setuju. Akhirnya pada suatu siang yang terik datangkanlah seorang sheriff untuk mengecek kebenaran. Dia menanyakan beberapa data kehidupan dirinya di New York. Dari situ akhirnya dia dijemput pulang.

Adegan kepulangan Solomon Northup inilah yang paling memorable. Turun dari kereta kuda, dia masuk ke rumah yang sudah bertahun-tahun ditinggalkannya. Bertemu istrinya, memeluk anak-anaknya. Berkenalan dengan memantuanya, dan air mata haru semakin berjatuhan saat dia akhirnya menimang cucu. Penampilan natural yang sangat meyakinkan dari seorang aktor amatir Chiwetel Ejiofor, yang membuatnya mendapat nominasi oscar.

12 Years A Slave

Director: Steve McQueen – Screenplay: John Ridley – Cast: Chiwetel Ejiofor, Brad Pitt, Michael K William, Michael Fassbender, Benedict Cumberbath, Paul Dano, Lupita Nyong’o – Skor: 3.5/5

Karawang, 250214