(review) Unbroken: What A Waste Time Of Great Story

Butuh dua kali nonton ini film untuk menyelesaikannya. Pertama saat pulang kerja setelah Isya, saya tonton. Namun gagal, ga ada 30 menit saya tertidur. Kedua saat libur Sabtu kemarin, pagi-pagi bangun tidur langsung coba menikmatinya. Sukses sampai selesai walau dengan perjuangan 2 gelas kopi, durasi 2 jam lebih. Well, Sabtu dan Minggu pagi adalah waktu luang berhargaku dan saya membuangnya sia-sia kali ini. Unbroken adalah film yang membosankan.

Berdasarkan kisah nyata, Louis Zamperini (Jack O’Connel) adalah atlet Olimpiade yang wajib militer di Perang Dunia II. Film dibuka dengan sebuah serangan udara Amerika ke Jepang, lalu adegan kembali ke masa kecilnya. Menyaksikan lomba lari di bawah tribun penuh penonton. Louis dikira mengintip rok wanita, dan kepergok. Ketakutan dia lari terbirit-birit masuk ke lapangan lari dan diluar duga larinya lebih kencang dari pada para atlit cilik. Dari situ, Louis terlihat punya bakat untuk menjadi atlit.

Adegan berikutnya, dalam serangan udara pesawat Louis tertembak dan jatuh di samudra Pasifik. Yang selamat hanya 3 orang, namun terapung-apung di perahu karet. Louis, Mac dan Phil yang terluka di kepala mencoba bertahan hidup dari menangkap ikan, menjerat bangau serta menghemat persediaan air tawar. Hujan adalah berkah sekaligus musibah, air tawarnya menyejukkan dan bisa menambah persediaan namun bersamaan hujan dapat badai. Hari demi hari dilewati tanpa ketidakpastian. Perlu diketahui, sebelum mereka bertiga pernah ada yang bisa bertahan hidup terombang-ambing di atas samudra selama 23 hari. Dan bertiga mereka berhasil melewatinya. Sampai akhirnya salah satu dari mereka akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ini satu-satunya adegan yang membuatku menitikkan air mata.

Suatu hari, sebuah kapal perang Jepang menemukan mereka. Entah harus syukur atau sedih, berdua akhirnya jadi tawanan Jepang. Lalu film menyoroti kekejaman selama ditahan. Bersama tahanan lainnya, mereka mencoba bertahan hidup. Bagaimana akhir kisah Louis Zamperini berikutnya? Bagi masyarakat Amerika tentu tak terkejut akhir kisah ini, Louis ini legendaris sebagai atlit yang terjebak perang.

Dengan cast nyaris tanpa bintang, film ini flop sukses bikin menguap. Awalnya saya mau memberi nilai 1 bintang, namun 5 menit terakhir sungguh menyegarkan bahwa masih ada harapan di tengah keterpurukan. Apalagi saat diperlihatkan foto-foto asli Louis Zamperini sampai akhirnya dia membawa obor Olimpiade di Tokyo. Namun secara keseluruhan Jolie melakukan banyak scene kosong yang membosankan. Padahal screenplay oleh duo Coen bersaudara. Adegan saat di tahanan pun dibuat biasa, padahal Takamasa kabarnya sangat kejam. Dan nilai plusnya adalah O’Connel bermain memikat. Sayangnya hanya itu yang membuatku bertahan. Tagline: If you can take it, you can make it mungkin salah satu tagline terbaik 2014. Sama A moment of pain is worth a lifetime of glory yang catchy dan pas diteriakkan. Terkahir, saying sekali Jolie yang menahkodai film ini. Kisah yang bagus namun salah eksekusi. What a waste of a great story by Jolie, membuat saya berandai-andai sutradara yang lebih pengalaman yang membuatnya. Sayang sekali. Ada yang tahu arti judul unbroken ini? Saksikan sendiri ya, takut spoiler.

Unbroken | Directed by: Angelina Jolie | Screenplay:  Coen Brother | Cast: Jack O’Connel, Domhnall Gleeson, Garrett Hedlund, Jai Courtney, Takamasa Ishihara | Skor: 2/5

(review) Dallas Buyers Club: Watch What You Eat And Who You Eat

Gambar

Film dibuka dengan adegan Ron Woodroof (Matthew McConaughey) sedang bercinta, dengan background sebuah pertandingan rodeo, koboi menaklukan banteng dengan menaikinya. Beberapa saat kemudian dia tergeletak di rumah sakit dengan kondisi sekarat, menuju maut. Dr. Sevard (Dennis O’hare) mendiagnosa hidup Ron tinggal 30 hari karena mengidap virus HIV. Marah dan tak percaya dia malah memaki dokter yang asal menganalisa. Sang koboi jagoan dari Texas ga mungkin mengidapnya. Dia menolak dirawat dan kalau benar hidupnya tinggal hitungan hari, dia mau bersenang-senang. Lalu film ini dihitung per hari saat dia divonis. Day 1, dia menghabiskan waktu dengan Tucker (Steve Zahn), temannya yang seorang polisi bersama dua pelacur, mereka pesta narkoba. Namun Ron tak ikut serta dalam hubungan badan, walau marah dengan sang dokter dia merasa ada yang tak beres dalam tubuhnya sehingga secara tak langsung harus mencegah penularan. Hari berikutnya, dia menemui dokter di rumah sakit untuk meminta penjelasan lebih rinci. Namun dia malah ditemui wanita dokter Eve (Jenifer Garner) karena Dr. Sevard sedang tak ada di tempat. Dari situ dia tahu ada obat pengurang rasa sakit, namun obat tersebut ilegal, belum dapat izin edar oleh FDA (Food and Drug Administration). Obat AZT kata dokter tak bisa membuatnya hidup lebih lama, karena berfungsi hanya untuk mengurangi rasa sakit.

Malam harinya dia pesta gila lagi di sebuah klub malam, di sana dia bertemu seorang peminum yang wajahnya familiar. Ternyata dia adalah office boy (OB) di rumah sakit tempat dokter Eve bekerja. Dari perkenalan itulah Ron meminta bantuan untuk mencuri AZT dan menggantinya dengan uang yang layak. Hari demi hari dilalui dengan pesta menuju kematian. Sampai akhirnya di day 29, sang OB memberitahunya bahwa AZT kini terkunci rapat di lemari sehingga transaksi tersebut adalah yang terakhir. Namun dia memberi sebuah alamat dokter yang bisa memberinya AZT melimpah di negara Mexico. Setelah siuman dari pingsannya, dan menuju deadline hari h, dia memegang alamat yang diberi oleh sang OB di dalam mobilnya. Ron menangis sejadi-jadinya. Nah ini scene haru-biru yang membuat Matthew patut dinominasikan best actor tahun ini. Rasanya hopeless belum siap menghadapi kematian. Usaha terakhir pun dicoba, dia ke Mexico untuk mendapatkannya.

Di Mexico saat bertemu Dr. Vass (Griffin Dunne), di rumah prakteknya dia melihat banyak pengidap dan merasakan wajah-wajah sedih senasib. Pulang dari Mexico dia membawa banyak obat ilegal. Melewati perbatasan dengan berbohong sebagai seorang pendeta, namun terdeteksi juga. Di ruang interogasi, dia berbohong bahwa obat-obatan tersebut tak akan diperjualbelikan.

Deadline hidup 30 hari terlewati, dia masih bisa bernafas karena obat tersebut ternyata mujarab dan mampu membuatnya bisa bertahan. Akhirnya dia pun mencoba mendistribusikannya kepada orang-orang yang mengidap AIDS. Dari situ dia berkenalan dengan seorang transgender bernama Rayon (diperankan dengan luar biasa oleh Jared Leto). Mereka membuat perjanjian bagi hasil atas usaha penjualan AZT. Berawal dari kecil dan kenalan terdekat, komunitas mereka menjadi booming, obat yang oleh FDA dianggap ilegal dan tak memenuhi persyaratan layak secara medis tersebut banyak peminat sehingga Ron dan Rayon kewalahan. Impor ilegal tersebut juga membuat saham Perusahaan yang memproduksinya melonjak naik. Saking sulitnya Ron sampai harus terbang ke Jepang.

Perjuangan untuk melegalkan AZT akhirnya berbuah manis. Walau masih dilarang, FDA akhirnya mengumumkan bahwa para penderita AIDS dibebaskan untuk memilih apakah mau mengambil resiko dengan mengkonsumsinya karena obat AZT masih dalam tahap percobaan. Sebuah kemenangan yang membuat Ron diberi applause oleh member-nya. Dan diantara orang-orang tersebut dokter Eve salah satu yang mengucapkan selamat, Ron layak disebut pahlawan.

Well, film ini lebih bagus dari perkiraan saya. Ceritanya masuk dan mencerahkan, tema bertahan hidup, perjuangan pengakuan publik, sampai kepedulian antar sesama. Akting para bintangnya juga mantab. Matthew bisa jadi menang best actor atas totalitasnya memerankan Ron. Dia menguruskan tubuhnya sampai kerempeng, mengingatkanku pada Christian Bale di film The Fighter, tapi yang paling mencuri perhatianku adalah Jared Leto yang dengan luwes memainkan seorang waria. Jared saya jagokan menang. Aksi sebagai waria yang meyakinkan begitu sulit, dia bermain cantik. Jenifer Garner bukan hanya sebagai pemanis di antara para pesakitan. Dia juga main bagus, respon saat dia diminta mundur dari rumah sakit, namun menolak sangat membekas, scene ini favorite saya, dia membalas permintaan bosnya dengan berkata: “aku tak akan mundur, silakan pecat aku!” lalu keluar ruangan. Begitulah cara keluar dari tempat kerja yang gentle.

Di akhir film dijelaskan nasib Ron dalam epilog singkat. Komunitas yang diburu kepolisian namun bermanfaat bagi warga penderita AIDS tersebut tersebut diberi nama ‘Dallas Buyers Club’.

Dallas Buyers Club

Director: Jean-Marc Valle – Screenplay: Craig Berton, Mellisa Wallack – Cast: Matthew McConaughey, Jared Leto, Jenifer Garner, – Skor: 4/5

Karawang, 270214