Investasi Waktu

Gambar

Hello hello, teman-teman WP yang saya rindukan. Dua bulan sudah saya vakum dari blog tercintah ini. Alasan klasik karena kesibukan kerja membuat konsistensi menulis saya terganggu. Apakah ada yang merindukan tulisan saya? Eheem… Sebenarnya saya jarang nulis ya karena sudah pindah kerja dan modem di rumah tewas jadi koneksi ke internet (blog) terputus.

 Di tempat kerja baru, setiap pagi ada briefing sekitar 15 menit. Briefing yang lebih mengedepankan motivasi layaknya Mario Teguh bertutur bijak terhadap pendengarnya. Briefing dipimpin oleh factory manager yang dihadiri semua karyawan office. Awalnya saya lebih melihat acara tersebut hanya untuk membuat malu teman-teman yang datang terlambat. Karena dilakukan di jam 08:15 di depan pintu masuk kantor jadi yang suka datang terlambat akan malu ga bisa mengikutinya. Namun ternyata saya salah. Briefing ini lebih kepada sharing sesama rekan kerja untuk lebih termotivasi. Beneran salam super!

Sudah dua minggu berjalan, dan hari ini tema yang diangkat adalah investasi waktu. Dibuka dengan pertanyaan, apa yang kalian lakukan setelah pulan kerja sampai dengan menjelang tidur. Satu orang menjawab: makan bersama keluarga, ngeteh sambil nonton tv, lalu sensor… (hahaha, seisi ruangan tertawa). Satu lagi menjawab: makan sama teman-teman karena kemarin gajian, baru pulang ke kos, becanda sama mereka sampai larut malam, Isya’ lalu tidur. Dari penuturan random cerita tersebut kita tahu bahwa semua orang punya kegiatan masing-masing yang berbeda.

Contoh sebuah kasus, ada seorang satpam main catur dengan seorang pemuda yang saat itu belajar di pelatihan GM Utut Adianto. Apa yang kita tangkap dari kegiatan tersebut? Jelas kegiatan yang dilakukan mereka sama yaitu sama-sama main catur, tapi sudut pandang tujuan main catur akan jauh berseberangan. Pemuda tersebut main catur untuk mengasah kemampuannya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi atlet catur sedangan sang satpam main catur hanya untuk iseng membuang waktunya. Jadi sang pemuda sebenarnya sedang menginvestasikan waktunya untuk masa depan.

Mulai sekarang mari kita investasikan waktu kita. Rumus kecepatan adalah jarak dibagi waktu. Bila ingin segera mewujudkan keinginan maka yang dipangkas adalah waktunya. Kita buat rencana kedepan mau apa? Kita catat impian kita apa saja dan buat jalan mewujudkannya. Seperti kecepatan, Impian adalah usaha dibagi waktu.

Investasi waktu bisa dengan banyak cara, tergantung minat dan prospek yang ada. Di dalam pekerjaan, contohnya yang simple saja. Kita luangkan waktu 5-10 menit untuk ngobrol dengan rekan kerja, terutama yang beda departemen. Mulai dari hal sepele dan sederhana, untuk mengakrabkan. Secara tak sadar kita sebenarnya menjalin komunikasi baik. Karena suatu saat kita butuh dia, kalau komunikasi terjalin maka kita akan lebih mudah meminta tolongnya.

Bagi saya, membaca adalah investasi waktu. Karena saya percaya apa yang kita baca suatu saat pasti berguna.

Di kantor NICI – Karawang, 260614

Hargai Waktu Mereka!

Gambar

Sebagai HRD recruitment saya termasuk orang yang mencoba selalu menghargai waktu. Kalau saya janjian sama pelamar besok akan test jam 10:00 maka besok jam 10:00 saya jamin test dimulai. Ini adalah respon kekecewaan saya di masa lalu.

Dulu saya pernah test di sebuah Perusahaan percetakan. Melalui telpon HRD Perusahaan tersebut membuat kesepakatan untuk test wawancara jam 08:00 keesokan harinya. Sesuai yang kita sepakati, saya datang 30 menit sebelum wawancara dimulai. Dari resepsionis saya menyampaikan maksud kedatangan saya. Resepsionis, wanita cantik berbaju Merah tersebut mempersilahkan saya duduk menunggu di lobi. Di sana sudah ada dua orang yang ternyata juga diundang untuk wawancara untuk posisi yang sama, jadi ini seteru saya nantinya. Sembari menanti waktu yang disepakati, saya mengobrol dengan mereka. Tanya rumahnya di mana, lulusan mana, pengalamannya apa, sebuah basa-basi ala kadarnya untuk menunjukan kesopanan.

Ketika jam sudah menunjukan angka Delapan, sang HRD belum muncul juga. Lalu saya tanya ke resepsionis, saya diminta untuk menunggu. Jadi kami kembali duduk, saya memainkan HP untuk membunuh waktu. Mulai browsing, game sampai sms ke teman lama. 5 menit, 10 menit, 15 menit belum ada informasi. Setengah jam berlalu belum ada tanda-tanda dipanggil. Salah seorang ’seteru’ akhirnya gantian mendatangi si gadis Merah. Jawabnya masih sama. 40 menit, 50 menit dan satu jam akhirnya lewat. Saya mulai bosan sama HP. Saya keluarkan novel detektif yang baru saya beli beberapa waktu yang lalu. Saya baca lembar demi lembar untuk melewati masa penantian. 80 menit, 90 menit, satu setengah jam berlalu. Sang ’seteru’ yang lain kembali mendatangi si gadis Merah. Lagi-lagi mendapat jawaban yang sama. Kami bertiga mulai bosan. Satu bab, dua bab, tiga bab. Akhirnya dalam kebosanan tingkat dewa, waktu sudah menunjukan pukul 11:00. Tiga jam lebih yang sia-sia ini kami mulai frustasi. Saya benar-benar marah, saya datangi lagi resepsionis dan minta dihubungkan dengan extension ruang HRD. Dia menolak, dan tetap berusaha sopan, ”Maaf pak, ini bukan wewenang saya untuk memastikan waktu wawancara. Saya hanya menjalankan apa yang menjadi tugas saya. Selama Bapak X (sang HR) belum memberi informasi bapak dipersilakan untuk menunggu.”

Kami yang bersikeras menunggu tiga jam itu sudah diluar batas kewajaran, saya meminta si Merah untuk kembali menginformasikan ke bapak X sekali lagi di depan kami. Jadi dia-pun akhirnya mau menelpon di depan kami. Dari ekspresi dan jawaban sepatah dua patah kata yang kami dengar, seperti kami diminta menunggu lagi. Benar saja, setelah gagang telpon diletakan dia memberi informasi untuk lebih bersabar.

Saya benar-benar bosan dibuatnya. Jam istirahat tiba, bel berbunyi dan akhirnya si gadis Merah mempersilakan kami untuk istirahat dulu, nanti jam satu diminta datang lagi. Alamak! Bagaimana bisa sejak pagi kita terlantar hingga waktu dhuhur tak ada kejelasan. Salah satu seteru mengajak saya makan bareng, yang satu lagi menyalami kami berdua. Dia menyerah katanya, dia ada keperluan sehingga tak bisa lanjut wawancara. Kami tertawa, lanjut wawancara? Kita bahkan belum mulai. Jadi setelah Sholat dan makan, tinggal kami berdua. Jam satu siang tepat kami sudah kembali duduk di lobi, kami sampai kehabisan bahan untuk ngobrol. Jadi setelah 30 menit berlalu saya putuskan mengikuti seteru satu untuk mundur saja. Saya berjalan menuju si gadis Merah dan sesampai di resepsionis saya mau bilang pulang saja. Tapi sebelum saya membuka mulut, dia sudah bicara duluan.

”Bapak X baru saja menginformasikan, berhubung hari ini ada meeting yang tak bisa ditinggalkan maka wawancara ditunda besok di jam yang sama.”

”Alamak!”

Saya kesal sekali, saya sebenarnya ingin ga datang besoknya tapi karena saya dalam posisi yang membutuhkan kerja, besoknya di sana lagi. Tapi saya belajar dari kejadian kemarin, jam delapan yang dijanjikan tapi saya datang jam sepuluh. Di sana dua seteru ternyata sudah datang. Saya heran, kok yang satu bisa tahu. Seteru satu memberitahu seteru dua untuk datang lagi. Oh, jam delapan mereka menanti dan sudah lebih dari dua jam mereka belum dipanggil juga. Wah minta dihajar nih HR.

Jam sebelas ditengah kepasrahan akhirnya kami baru mulai wawancara.

Walau tiga hari kemudian saya yang dipilih menjadi pegawai di Perusahaan tersebut, pengalaman ’menunggu’ tersebut ga bisa saya maafkan.

Belajar dari pengalaman tersebut, sekarang kalau saya membuat janji buat pelamar saya akan mati-matian untuk disiplin waktu. Saya ga akan membuat pelamar menunggu lama. Dan sejauh ini lumayan berhasil. Pernah suatu ketika jam 10:00 yang kami sepakati untuk test, tiba-tiba ada meeting karena ada trouble sama planning kerja. Jadi sebelum saya mulai meeting, saya temui para pelamar, saya persilakan duduk di sebuah ruang senyaman mungkin. Lalu saya sebarkan test tertulis dan isi aplikasi calon pekerja. Walau kemarinnya jadwalnya hanya wawancara, saya sampaikan bahwa kami ada sesi tambahan test tertulis. Pintar-pintar kita ngeles saja. Jadi mereka tetap dihargai waktunya.

Pernah juga suatu ketika user wawancara ternyata tidak masuk, jadi harusnya wawancara ditunda. Saya tidak mau kembali menyuruh mereka pulang, jadi setelah isi aplikasi wawancara berjalan hanya dengan saya. Sehingga waktu mereka tetap dihargai.

Marilah kita hargai waktu mereka. Seberapa-pun besarnya mereka butuh bekerja, mereka sudah mengorbankan waktu untuk kita. Sesibuk apa-pun waktu kita bekerja, tolong sempatkan waktu untuk tetap mencoba disiplin. Hidup memang harus saling mengisi(kan).

Karawang, 020713

Lima Waktu

Sebuah kewajiban. Itulah yang pertama terlintas ketika ditanya kenapa kamu Sholat? Sholat lima waktu yang terbagi dalam lima masa dalam satu hari. Pagi, siang, sore, petang dan malam. Sebuah rutinitas yang biasa bagi seorang muslim. Sholat bukan sama dengan sembahyang. Sembahyang bisa secara arti adalah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kata sembahyang bisa dipakai oleh semua agama. Orang ke Gereja, orang berdoa ke Wihara atau orang ke Klenteng semua bisa diartikan sembahyang. Sholat itu lebih spesifik, karena hanya dipakai oleh orang Islam. Saya yakin orang non-muslim punya nama yang lebih spesifik terhadap sembahyang. Mungkin semacam misa untuk orang Kristen, atau menaruh dupa di Klenteng. Saya belum tahu.

Saya membuat catatan ini setelah beberapa waktu yang lalu saya lihat di sebuah picture profile seorang teman di BB yang menaruh sebuah doa dalam Sholat beserta artinya. Hal yang membuat saya tertonjok keras, karena saya yang tak bisa Bahasa Arab ini ternyata tak tahu arti setiap doa yang saya panjatkan setiap hari. Dalam gambar tersebut terpampang doa ‘duduk diantara dua sujud’ beserta artinya. Saya yakin setiap muslim pasti hafal namun banyak yang tidak tahu artinya.

DOA DUDUK ANTARA DUA SUJUD
“Rabbighfirli” – Tuhanku, ampuni aku
“Warhamni” – Sayangi aku
“Wajburnii” – Tutuplah aib-aibku
“Warfa’nii” – Angkatlah derajatku
“Warzuqnii” – Berilah aku rezeki
“Wahdinii” – Berilah aku petunjuk
“Wa’Aafinii” – Sehatkan aku
“Wa’fuannii’ – Maafkan aku

Coba baca dengan seksama dan hayati artinya. Luar biasa. Saya yang muslim sejak lahir saja ternyata tak mengetahui setiap arti doa dalam sholat terlebih di bagian ‘duduk diantara dua sujud’ ini.  Dulu saya pernah ikut kajian Bahasa Arab yang membahas tiap doa dalam sholat. Namun saya terhenti di bagian Ruku’ karena kesibukan sehari-hari.

Doa duduk diantara dua sujud tersebut menurut saya sangat dahsyat artinya. Doa yang wajib juga kita lafadz kan setiap waktu yang munajat seperti 1/3 malam, selesai Sholat, doa diantara dua khotbah Jumat, atau tiap pagi dan sore. Tuhanku ampuni aku, jelas ini pasti terucap tiap doa. Sayangi aku, sama ini juga sudah umum diucapkan. Di bagian ketiga, Tutuplah aib-aibku. Ini yang membuat saya begidik. Semua orang pasti punya kesalahan di masa lalu, di mana kesalahan tersebut tentu tak semua orang tahu. Bahkan seorang selebritis pun pasti punya aib yang tak terbongkar di media, apalagi kita yang hanya masyarakat umum. Bagian keempat, angkatlah derajatku. Ini juga doa yang jarang kuucap seusai sholat yang ternyata tiap hari kulafadz-kan tanpa sengaja. Derajat yang tiap orang pasti menginginkan tinggi. Lalu bagian lima, berilah aku rezeki. Doa yang sangat umum tentunya, mengingat kita hidup di Indonesia dengan ekonomi seperti ini. Bagian enam sampai selesai, berilah aku petunjuk, sehatkan aku, dan maafkan aku, kurasa masih umum dipanjatkan.

Yang lebih istimewa dalam doa ini menurut saya adalah semua terlafadz untuk individu tiap pribadi yang menjalankan sholat karena ber-objek ‘aku’. Dalam doa biasanya saya lebih memohon untuk keluarga, untuk teman, untuk sesama muslim atau orang-orang terkasih. Walau sesekali pasti pernah untuk diri sendiri. Namun ternyata secara tak langsung saya berdoa untuk diri sendiri, tak sadar. Saya bersyukur, sangat bersyukur telah mengenal Islam sejak kecil. Dalam keluarga yang mengajarkan bahwa ‘kamu harus Sholat!’ setiap hari. Saya bersyukur telah berusaha menjalankannya semaximal mungkin. Saya mungkin puasanya bolong, infa’ yang ala kadarnya, dan belum bisa ber-haji. Tapi Sholat dengan kondisi apapun Wajib, tidak boleh tidak.

Saya jadi teringat lagi dulu pernah ditanya temanku yang kini sudah jadi ustadz muda. Dia bertanya, kamu sholat buat apa? Saya reflek menjawab menjalankan kewajiban. Dia tersenyum dan menepuk pundakku lalu berujar, “Suatu saat kuharap kamu menjadikan Sholat sebuah kebutuhan”.

Karawang, 100613 (no sara, please)