The Sitter: Unfunny and Drama Unwelcome

Noah: I know you’re a little kid, and I know I’m not supposed to say this kind of stuff to you, but f**k you. F**k you so much. You’re a douche.

Gara-gara salah bajak nih, saya salah nonton film. Di sampul dvd bajag-an tertulis ‘The sisters’ dengan embel-embel berdasarkan buku karya Anton Chekov. Saya langsung minat untuk nonton filmnya karena beberapa hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan baca salah satu buku Anton. Eh pas diputar, adegan pembuka isinya Jonah Hill sedang merayu cewek. Tapi karena sudah klik ‘play’ ya lanjut terus. Tagline-nya unik dengan tulisan ‘Need a sitter?’ dengan poster pose kepala Jonah Hill menatap hampa.

The Sitter (pengasuh) mengenai Noah Griffith (Jonah Hill) yang terpaksa mengasuh tiga anak yang ditinggal orang tuanya ke pesta. Noah adalah pemuda hopeless, anak kuliahan yang klontang-klantung. Suatu hari dia diminta menjadi baby sitter tetangganya, menjaga Slater Pedulla (Max records), Blitte Pedulla (Landry Bender) dan Rodrigo (Keven Hernandez). Ketiganya tampak aneh. Satu gay bermasalah dengan teman sekolahnya, satu anak adopsi dari Spanyol yang suka mainin bom. Beneran bom, hobinya meledakkan toilet. Satu lagi cewek centil yang dewasa lebih cepat, hobinya berdandan dan menari. Dari awal saja segalanya tampak rusuh. Dan malam itu seakan dunia berkonspirasi melawan Noah.

Berawal dari telpon Marisa Lewis (Ari Graynor), cewek nakal yang meminta narkoba dari Noah dengan iming-iming diajak bercinta, Noah yang awalnya bergeming berubah pikiran. Noah diminta menemui Karl (Sam Rockwell) untuk bertransaksi. Karena sedang mengasuh, jadinya Noah mengajak ketiganya memulai petualangan malam yang panjang. Traksaksi narkoba yang seharusnya hanya sebentar berubah jadi kacau saat Rodrigo mengambil ‘telur naga’ yang berisi bubuk narkoba. Bubuk istimewa tersebut malah berhamburan ketika diminta Noah, dan telpon dari Karl untuk mengembalikannya segera atau mengganti uang membuat makin rumit. Petualangan yang seru, mulai dari mobilnya dicuri, minta tolong kepada ayahnya yang sudah menikah lagi, bertemu teman lama yang dulu bermusuhan, sampai kejar-kejaran menghindar polisi. Malam yang runyam itu, berhasilkah Noah dan anak asuhnya selamat?

Well, kisahnya klise. Ketebak. Ga lucu, menjurus ke kasar. Tokohnya memang anak-anak namun ga bagus ditonton anak-anak. Film ini khas banget Jonah Hill, typecast dari karakter-karakter sebelumnya yang pernah ia perankan. Tak ada kejutan berarti, banyak plot hole, dan yah ga bisa diteima logika. Film ini memang untuk fun, sekali tonton segera dilupakan.

The Sitter | Director: David Gordon Green | Screenplay: Brian Gatewood, Alessandro Tanaka | Cast: Jonah Hill, Ari Graynor, Sam Rockwell, JB Smoove | Year: 2011 | Skor: 2/5

Karawang, 050615

Iklan

The Vow: Weak Take And Just So So

Leo: How do you look at the woman you love, and tell yourself that its time to walk away? 

Menikmati film drama cinta-cintaan itu gampang-gampang susah. Banyak faktor, salah satunya mood saat menonton. Berawal dari rekomendasi teman kerja yang bilang ini film superb sekali saya ‘dipaksa’ menontonnya. Karena ini film (katanya) romantis maka saya ajak si May nonton bareng. Ceritanya sederhana, namun ternyata berdasarkan kisah nyata jadinya ikut terharu atas apa yang menimpa sang tokoh.

Cerita dibuka dengan naratif Leo (Channing Tatum) tentang sebuah teori yang seakan bilang ‘aku ini nasibnya apes tenan’. Mereka mengalami kecelakaan di saat salju turun. Naas, sang istri Paige (Rachel McAdams) kepalanya terbentur kaca sehingga sakitnya lebih parah. Leo sudah sepenuhnya sembuh, namun Paige tidak. Benturan di kepala membuat dia menderita hilang ingatan. Memori sebelum kecelakaan terhapus. Saat suami menjenguknya, dia ga mengenali. Keadaan bertambah runyam saat orang tuanya datang dan mereka tak saling mengenal. Paige ragu, siapa yang dipercaya? Seseorang yang mengatasnamakan suaminya atau kedua orang yang mengklaim ayah-ibunya.

Paige mencoba berdamai dengan kenyataan, dia lalu memilih tinggal di rumah Leo. Pendalaman karakter, Leo mencoba kembali menyusun kepingan demi kepingan masa lalu istrinya. Namun bukannya makin percaya Paige malah meragukan atas masa lalunya. Ada tato di punggung. Bukannya kuliah hokum seperti yang dia harapkan malah ke kuliah seni. Studio Leo yang berantakan. Kemudian orang tuanya menawarkan kembali pulang. Pelan tapi pasti terungkap juga akhirnya tanda tanya tersebut. Apa alasan dia pergi dari rumah. Alasan kenapa dia drop out kuliah hukum dan memilih kuliah seni. Alasan kenapa dia menikahi Leo. Alasan kenapa dia bermasalah dengan temannya. Namun semua terlambat, keputusan penting terlanjur sudah diambil dan adakah jalan kembali?

Secara keseluruhan the Vow biasa saja. Tema pasangan yang kehilangan ingatan lalu coba dibuka kembali memorinya, itu bukan barang baru. The Notebook mungkin yang paling keren (bagiku) karena emang yang pertama kutonton. 50 First Dates lebih mengena. Setelahnya biasa. Kelebihan the Vow mungkin adalah ini kisah nyata sehingga lebih terasa menyentuh. Jadi ingat dulu pernah ada tetangga yang mengalami hilang ingatan setelah kecelakaan, orang tersebut bisa pulih setelah diajari dari awal segalanya. Dikenalkan benda-benda. Saudara yang menjenguk coba membantu mengingat Walau ga sepenuhnya ingat namun dia bisa kembali tahu siapa pasangannya, siapa anak-anaknya.

Akting Rachel biasa, Tatum juga biasa. Plot, setting, dan cerita biasa. Semuanya biasa saja. So so.. film ini mudah diingat begitu juga mudah dilupakan. Atau mungkin karena saya nya yang kurang romantis ya?

The Vow | Director: Michael Suscy| Screenplay: Jason Katims, Abby Kohl| Cast: Rachel McAdams, Channing Tatum, Sam Neill | Tahun Rilis: 2012 | Skor: 2.5/5

Karawang, 290515 – Lazio goes to Champion League

The Boy Next Door: A Complete Mess

Noah: A woman like you should be cherished

Siapa yang sudah menonton The Girl Next Door pasti kecewa setelah menonton lelaki ABG sebelah rumah. Melihat teaser poster yang menggoda, sinopsis back-cover yang menggiurkan rasanya wajar saya berharap The Boy akan se-menggairah-kan The Girl. Sayangnya semua serba nanggung. Thriller nanggung, romance nanggung, drama apalagi. Karena serba nanggung itulah The Boy rasanya hambar.

Film dibuka dengan adegan yang menjanjikan. Claire Peterson (Jenifer Lopez) berlari sore hari dengan pakaian seksi, sesuai ciri film ini. Mengenakan pakaian tanpa lengan dan ear-phone terpasang, dia berkeringat. Tubuh seksinya masih (seolah) menjual. Sepintas diceritakan akibat pisah ranjang dengan suaminya, Garret Peterson (John Corbett). Tinggal dengan putra satu-satunya, Kevin (Ian Nelson). Suatu pagi saat Claire sedang mengeluarkan mobil dari garasi, tiba-tiba muncul remaja tanggung nan tangguh Noah (Ryan Guzman) yang membantu memperbaiki pintu garasi yang macet. Noah adalah tetangga barunya, yang membantu menjaga pamannya saat sakit. Dari perkenalan itulah muncul percikan asmara. Tatapan Noah terhadap tante-tante yang mengisyaratkan nafsu. Noah akhir belasan tahun, Claire sudah beranak satu.

Waktu bergulir, suatu akhir pekan saat suaminya sedang mengajak Kevin untuk berlibur panjang guna merayakan ulang tahunnya. Noah mengundang Claire untuk ke rumahnya, membantu memasak kue. Claire yang sedang mabuk setelah acara makan malam yang kacau datang. Terjadilah apa yang terlihat di trailer, menambah gelora dibumbui hujan rintik. Adegannya masih soft, tak ada gelora nafsu yang diperlihatkan secara vulgar. Wajar saja, Lopez ternyata adalah salah satu produser-nya jadi masih punya hak untuk ‘menjaga’ tubuhnya yang polos dari sorotan kamera. Saat pagi menjelang dan Claire sudah sadar sepenuhnya, dia sadar bahwa hubungan ini terlarang dan seharusnya tak terjadi. Namun Noah tak peduli, dia terlanjur cinta. Cinta mati penuh obsesi.

Cinta sebelah tangan ini akhirnya berbuntut panjang. Noah mengancam akan menyebarkan video panas mereka, yang ternyata di kamarnya dipasang cctv. Menyebarkan foto mesum di sekolah tempat Claire mengajar, dan ancaman mengerikan untuk membunuh bagi siapa yang menghalangi hubungan mereka. Rumit, psikopat, naif, sayangnya nanggung. Berhasilkah Claire menyelamatkan karir dan keluarganya dari ancaman ABG stress ini?

Secara keseluruhan The Boy jauh sekali kualitasnya dari The Girl. Setelah selesai menonton saya sempatkan diri menonton trailer-nya secara utuh. Dua menit yang sebenarnya sudah membuka benang merah cerita. Sayangnya film ini tak berani membunuh karakter utama, tak berani menampilkan sad ending, tak berani menampilkan bahwa fakta hidup dalam bayang-bayang nafsu itu pahit. Untuk sebuah film psikopat, kurang mencekam. Untuk film adult, jauh dari kata menggelora. Untuk film drama, tak ada sisi yang menyentuh. Akting Lopez tak bagus, akting Guzman kaku dan kurang mengintimidasi. Dan kita takkan pernah mendapatkan klimak (cerita) itu.

The Boy Next Door | Directed by: Rob Cohen | Written: Barbara Curry | Cast: Jenifer Lopez, Ryan Guzman, Ian Nelson, John Corbett | Skor: 2/5

Karawang, 120515

Biutiful: The Ugly Beauty Of Life

Uxbal: Look in my eyes, look at my face. Remember me, please. Don’t forget me, Anna. Don’t forget my my love, please.  

Film nominasi Oscar 3 tahun lalu ini akhirnya ketonton juga. Ternyata filmnya dark, ga ada cantik-cantiknya. Beberapa scene bahkan menakutkan, jadi ngeri lihat cermin di malam hari. Dengan menggunakan Bahasa Spanyol, film ini ngalir dengan lancar. Opening scene adalah ending-nya. Tenang ini bukan spoiler, kerahasiaan cerita tetap terjaga.

Tentang seorang duda frustasi yang divonis penyakit kanker, hidupnya hanya tinggal beberapa bulan. Uxbal (Javier Bardem) memiliki dua orang anak, Ana (Hanaa Bouchaib) yang penurut dan memimpikan keharmonisan keluarga dan Mateo (Guilermo Estralle) yang masih sering ngompol. Kehidupan Uxbal sudah rumit sedari awal. Bekerja sama dengan pengedar narkoba dari warga Afrika, yang akhirnya dideportasi sampai menerima suap untuk sebuah usaha jahit warga Tionghoa yang diserahkan ke polisi. Namun berakhir tragis.

Sembari bertahan hidup, Uxbal juga sering berselisih paham dengan mantan istrinya Marambra (Maricel Alvarez) yang frustasi kesulitan keuangan. Adik Uxbal semakin memperuncing masalah. Konflik yang dihadirkan sungguh komplek, kumpulan orang-orang frustasi. Eksekusinya pas. Uxbal sendiri akhirnya menerima kenyataan takdir, hanya kedua anaknya yang jadi prioritas seandainya dia pergi selamanya. Sampai kapan Uxbal bertahan hidup?

Kalau Anda memimpikan bakal melihat gambar-gambar yang cantik penuh warna, salah besar. Tak ada indah-indahnya yang ditampilkan, suram dari awal sampai akhir. Kata biutiful yang dijadikan judul sendiri muncul saat Anna menanyakan kepada ayahnya cara mengeja ‘beautiful’. Lalu dijawab, “Like that, like it sounds.” Yang saya maksud serem saat lihat cermin adalah, Uxbal ternyata bisa indra keenam. Bisa melihat orang yang meninggal yang ‘masih’ tinggal di bumi. Beberapa scene tampak menyeramkan, terutama saat bayangan cermin memperlihatkan penampakan wajah tanpa ekspresi.

Judulnya sendiri sangat pas. Dibuat ambigu atas fakta pahit, lalu muncul harapan. Apakah worth it to watch? Jelas. Dua jam lebih yang menghibur. Dari orang yang sudah memukau kita lewat Babel, 21 Grams dan kemudian Birdman yang Februari lalu menang Oscar. Inarritu adalah salah satu sutradara terbaik saat ini. Film-filmnya selalu nyeleh. Bermain-main dengan kematian. Sehingga tak heran akhirnya beliau menang Oscar. Hanya tinggal tunggu waktu. If I’m depressed because I’m depressed. Hurt but true. Bravo Javier!

Biutiful | Directed by: Alejandro Gonzalez Innaritu | Screenplay: Alejandro Gonzalez Innaritu | Star: Javier Bardem, Maricel Alvarez, Hanaa Bouchilab | Skor: 4/5

Karawang, 21042015

Who Can Stop US Now – 7 Wins a Row in Serie A, In Finale Copa and Impressive!

Featured image

Sebuah gol dari pemain pengganti Senad Lulic di menit 79 sudah cukup untuk mengantar Lazio the Great ke final copa Italia 2015. Setelah seri 1-1 di leg pertama, Napoli hanya butuh skor 0-0 untuk melaju. Hal itu membuat skuat asuhan Benitez lebih bermain aman. Setelah sepasang peluang emas di babak pertama gagal berbuah gol, babak kedua Lazio mulai mencoba membongkar pertahanan lawan dengan lebih inten. Dimasukkannya sang kapten Mauri, hasilnya langsung terasa. Sebuah umpan lambung berhasil disundul il capitano, sayangnya masih bisa dimentahkan. Selanjutnya Lulic masuk menggantikan Candreva. 11 menit sebelum waktu normal habis, dia berhasil cetak gol. Melalui serangan dari sisi kanan, Felipe Anderson mengirim umpan silang dan langsung dihajar Lulic. Gol yang membuat jagat lini masa social media gempar. Tak lama setelah gol itu, Lulic lagi-lagi menyelamatkan Lazio. Melalui serangan balik cepat, Insigne mendribel bola dari tengah lapangan. Mauricio yang mulai kelelahan berhasil dilewati. Pasukan Elang Biru langsung turun semuanya, Insigne lalu mengecoh 2 bek dan langsung berhadapan dengan Berisha. Disepaknya bola menyilang ke gawang yang sudah kosong, dan duuuerrr… tiba-tiba Lulic sudah di depan gawang untuk menyapu bola yang 99% masuk tersebut. Selamatlah gawang the Great. Sisa menit begitu mendebarkan, senam jantung, namun Lazio memang bermain cantik malam ini. Begitu peluit panjang wasit terdengar. Seluruh Laziale bersorak, “Hooorreeeee… kita ke partai puncak!”

Kemenangan yang berarti sangat banyak untuk kita. 7 partai tanpa pernah menang lawan Napoli kita patahkan. Hebatnya lagi terjadi di San Paolo. Tiket final ini juga layak kami dapat, setelah melalui pekan demi pekan yang luar biasa. 7 partai Serie A dilibas dengan sempurna. Ketujuh partai tersebut kita lalui dengan permainan impressive. Salah satunya saat menumbangkan Fiorentina yang saat itu lagi dalam top performa 4 gol tanpa balas. Tiket final ini seperti de javu 2 tahun lalu saat di final kita menumbangkan Roma lewat gol semata wayang Lulic!

Dengan permainan yang indah dari kaki-ke-kaki, segala peluang sungguh berpotensi gol. Sundulan, terobosan, bola mati, tendangan spekulasi jarak jauh, sampai one-two segalanya pernah. Target kini adalah menumbangkan Juventus di Olimpico dan menjungkalkan Roma dari posisi kedua. Target yang sangat sangat sangat realistis. Felipe Anderson dalam 14 pertandingan terakhir telah mencetak 8 gol dan 9 assist. Sangat luar biasa. Pemain terbaik Eropa saat ini bukan Messi atau Ronaldo, tapi Felipe. Selama Felipe ada dalam skuat, siapapun bisa kita kalahkan. Musim depan menumbangan Barca di Liga Champion, tandang kandang? Kenapa tidak? Kita pasti bisa! Forza Lazio!

Karawang, 090415

The Drop: Classic Suspence

Perlu diketahui, penulis naskah film ini adalah orang yang sama telah memukau kita lewat The Mystic River dan Shutter Island. Premis penyampaian cerita ga jauh beda, jadi kalau kalian suka dua film tersebut kalian juga akan suka film ini.

Bob: He gonna hurt our dog

Film dibuka dengan deskripsi ‘drop’ yang ada di judul. Seorang bartender kesepian, Bob Saginowski (Tom Hardy) bersama sepupunya Marv (James Gandolfini) yang bekerja di bar milik Chovka (Michael Aronov) mengalami perampokan. Dua rampok menggondol uang dari meja kasir. Seorang petugas bar Rardy (Michael Esper) terluka di kepala. Dua perampok yang mengenakan topeng, teridentifikasi salah satunya mengenakan jam tangan rusak. Detektif Torres (John Ortiz) berusaha menyelediki kasus ini.

Dalam perjalanan pulang kerja, Bob menemukan seekor anjing yang meringkik terluka di tong sampah di komplek perumahan. Mencoba menyelamatkannya, sang pemilik rumah Nadia (Naomi Rapace) menghampirinya. “ngapain ngulik-ulik tong sampah gue?” anjing jenis pitbull tersebut akhirnya akan dirawat Bob. Anjing yang akan jadi sebab utama konflik film. Pitbull yang dikasih nama Rocco tersebut beberapa hari kemudian sudah sembuh dan jadi anjing yang imut. Pada suatu hari ada pria asing yang menyapanya saat jalan-jalan di taman, “anjing yang cantik”. Eric Deeds (Matthias Schoenarts) ternyata adalah pemilik Rocco, dia lalu meminta kembali atau Bob harus membayar mahal.

Sementara sang pemilik bar yang marah, meminta uangnya dilacak dan ditemukan. Saat pagi yang bersalju, di samping bar ditemukan potongan tangan (dengan jam tangan mati) dalam kresek. Kresek yang berisi duit hasil rampokan. Dalam penuturan akhirnya kita tahu bahwa perampokan tersebut sebenarnya sudah dirancang oleh mereka sendiri lalu hasil rampokan akan dibagi. Marv yang merasa resah dan bersalah akhirnya mengambil tindakan, tindakan yang sangat beresiko.

Tom Hardy menampilkan pesona yang luar biasa. Dari tatapan diamnya saja sudah menyiratkan banyak makna. Bisa jadi karakter Bob adalah satu penampilan terbaiknya. Rada aneh juga membayangkan seorang Bane di Batman yang bad-ass dan tangguh namun di sini freak dan takut sama penjahat kelas teri. Begitu juga saat melihat Naomi, sang gadis bertato naga tersebut rapuh sampai menitikan air mata. Dan ini mungkin adalah penampilan terbaik James Galdolfini. “I had something once. I was respected. I was FEARED”. Menghentak ngeri, You’re got it sir, dialog yang bagus. Dituturkan dengan meyakinkan.

Secara keseluruhan film ini bagus. Walau tensi menurun dari dua script yang saya sebut di awal, tapi tetap layak tonton. First thing first: story. Dan The Drop memenuhi ekspektasi itu.

The Drop | Director: | Screenplay: | Cast: Tom Hardy, Naomi | Skor: 4/5

Karawang, 130315

(review) The Interview: Not Funny And Embarrassing

Kim Jong-un : You know what’s more destructive than a nuclear bomb?… Words.

Hype yang tinggi, rating (dari grup film) yang bagus bukanlah jaminan sebuah film akan asyik dinikmati. Semalam nonton The Interview karya komedian Seth Rogen dan koleganya Evan Goldberg, hasilnya? Hhhmmm…, kecewa. Bukannya mau melawan arus, tapi emang kalau kelar nonton film dan ga puas saya ga terpengaruh review orang lain. Dan The Interview ini benar-benar kacau.

Diceritakan Dave Skylark (James Franco) adalah seorang host acara talk show Skylark Tonight yang sukses. Salah satu bintang yang diundang adalah rapper Eminem. Dalam acara tersebut Eminem dengan sambil lalu bilang, bahwa dia gay. Lalu dengan gaya lebai Dave mengulik lagi fakta tersebut. Boom! Rating Skylark Tonight meledak. Telpon bordering di mana, minta klarifikasi. Rekan Dave, Aaron Rapaport (Seth Rogen) sebagai produser jelas bangga, bintang besar melakukan pengakuan di acaranya. Skylart Tonight akhirnya tembus 1000 episode (10 tahun), sebuah rekor luar biasa, seakan membalik telapak tangan.

Sampai pada suatu hari saat Aaron sedang melobi seorang bintang via telepon, Dave datang dan menginterupsi. Kasian telpon gengamnya dilempar. Dave membawa berita mengejutkan dari Time bahwa presiden Korea Utara, Kim Jong-un (Randall Park) menyukai acara The Big Bang Theory dan Skylark Tonight! Maka disusunlah rencana mereka melakukan wawancara dengan presiden Korut. Setelah melalui lika-liku-lebai, Dave dan Aaron tiba di Korut. Turun di bandara, mereka disambut bak bintang besar, ajudan Presiden seorang wanita aneh bernama Sook (Diana Bang) ada di sana.

Rencananya: CIA yang dikepalai agen Lacey (Lizzy Caplan), memberi racun yang ditempel di telapak tangan Dave. Lalu saat acara, Dave diminta menyalami presiden Kim sehingga racun akan menjalar, 12 jam setelahnya presiden Kim akan mati. Namun saat pemeriksaan, Dave yang menaruh racun pada bungkus permen karet, racunnya malah dimakan oleh pampres. Alamat mati tuh orang, dikunyah lagi. Presiden Kim ternyata welcome, tak segarang yang diberitakan. Korut damai, toko makanan di mana-mana, banyak anak-yang bertubuh gendut yang menandakan mereka makmur. Kim ramah, mengajak Dave berpesta, hingga Dave berubah pikiran. Kita semua dikontrol berita, kita semua ditipu media. Dave mengurungkan niat membunuh presiden, racun yang ada dua masing-masing dipegang Dave dan Aaron, malah dibuang.  Aaron geram, segalanya berjalan kacau. Saat sepertinya mereka mustahil keluar hidup-hidup dari Korut, sebuah kejutan bodoh terjadi. Berhasilkah? Bagaimana akhir dari wawancara yang tayang live Skylart Tonight  disaksikan seluruh dunia?

Sejujurnya saya kurang suka komedi slap stick seperti ini. Terkejut juga film akan berjalan kacau. Yang perlu digarisbawahi, jangan percaya hype. Film ini tak lucu dan memalukan. Salah satu adegan bodoh saat Aaron menerima kiriman racun sebentuk stik yang membunuh harimau, stik tersebut takut ketemu pasukan Kim jadi disimpan di tempat yang tak masuk akal agar tak ketahuan saat digeledah. Seorang ajudan presiden, seorang kepercayaan bisa dengan mudahnya berpindah pihak. Lalu saat live interview, saat sang presiden terpojok masak dengan mudah studio diambil alih. Sungguh buruk. Sebenarnya apa salah Katty Perry?

Overall, ini film komedi yang buruk. Jangan-jangan benar, adegan pembuka saat peluncuran rudal itu emang pantas. Dasar Amrik!

The Interview | Director: Seth Rogen, Evan Goldberg | Screenplay: Seth Rogen, Dan Sterling | Star: Seth Rogen, James Franco, Randall Park, Lizzy Caplan | Skor: 2/5

Karawang, 020315