The Five People You Meet In Heaven #22

Featured image

Ini adalah novel Mitch Albom pertama yang saya baca, sekitar empat tahun yang lalu saat mencari kado ulang tahun Winda, ponakan saya yang berusia lima tahun. Mampir sebentar di bagian buku dan menemukan novel yang katanya mirip dengan Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Karena saya juga sudah baca karya Tere Liye tersebut. Jelas sekali benang merah-nya sama, ini terinspirasi atau menjiplak?

Lima Orang Yang Kamu Temui Di Surga, kisah diceritakan setelah kematian, lebih tepatnya sesaat setelah sekarat. Anehnya dalam Bahasa Indonesia malah diterjemahkan menjadi Meniti Bianglala, jauh dari arti judul aslinya. Kisah tentang Eddie yang dibuka dengan menit-menit menuju ajal. Kisah yang bermula dari akhir, istilah death is the only beginning.. disajikan dengan khidmat. Eddie lelaki tua, meninggal di tempat kerja Ruby Pier, taman hiburan di tepi samudra besar yang kelabu. Eddie adalah maintenance, tugasnya ‘memelihara’ wahana hiburan agar bisa tetap aman. Sapaannya ‘Eddie Maintenance’, hari itu adalah ulang tahunnya yang ke 83. Terlalu tua untuk seorang pekerja, seminggu sebelum kematiannya dia di-diagnosa dokter, sakit ruam saraf. Dan kematiannya dihitung mundur, takdir-lah yang menghantar wahana Freddy’s Free Fall macet, dan kata ‘mundur..’ menjadi penutup kehidupan di dunia ini.

Kemudian kisah ditarik ke belakang, sama seperti Rembulan, kisahnya mundur lalu menelusuri perjalan hidup. Eddie lalu dihantar ke dunia ‘antara’ dan menemui lima orang yang terkait masa lalunya. Kalau Rembulan berkisah tentang Ray yang menuntut jawab tentang hidup, di sini Eddie diberi jawaban yang semasa hidupnya adalah misteri. Orang pertama yang ditemuinya adalah orang ‘asing’ baginya. Manusia biru yang tak dikenal, jadi kenapa harus menemuinya? Ternyata Albom menarik benang keterkaitan. Orang biru tersebut meninggal karena ‘ulah’ Eddie. Joseph Corvelzchik kisahnya dituturkan sepintas, “jadi kau mengeri sekarang? Mengapa kita ada di sini? Ini bukan surgamu, ini surgaku”. Pelajara pertama, “Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian.”

Berikutnya Eddie bertemu dengan Kapten Michael. Atasannya saat pergi berperang ke Filipina. Eddie bertanya-tanya ada kaitannya apa dengan sang kapten? Sebuah misteri yang tak Eddie tahu saat hidup dikuak, kenyataan yang menyakitkan tersebut membuat Eddie marah besar. Namun dibaliknya ada pelajaran penting, “aku bayangkan seperti Alkitab, seperti yang terjadi pada Adam dan Hawa. Malam pertama Adam di bumi ketika dia berbaring untuk tidur. Dia berfikir, dia tidak pernah tahu apakah ‘tidur’ itu? Matanya terpejam dan dia mengira dia meninggalkan dunia. Tapi ternyata tidak, dia bangun keesokan harinya di depannya terbentang dunia baru yang masih murni menunggunya. Tapi dia memiliki yang lain, dia memiliki hari kemarin.” Sesuatu yang tak ditemuinya di surga.

“Pengorbanan,” kata Kapten. “Kau membuat pengorbanan. Aku membuat pengorbanan. Kita semua membuat pengorbanan. Tapi kau merasa marah atas pengorbanan yang kau berikan. Kau selalu memikirkan apa yang telah kau korbankan” (halaman 97).

Orang ketiga, keempat dan kelima dituturkan dengan lebih menyentuh. Apalagi pas bagian istrinya, itu sungguh mengharukan. Kata-kata, “per l’amaro e il dolce” – “untuk kepahitan dan kemanisan” menjadi perjalanan yang romantis. Sampai masalah dengan ayahnya ditelusuri, “Kau menemui kedamaian setelah kau berdamai dengan dirimu sendiri.”

Ending-nya sendiri terasa manis, saling kait kehidupan disampaikan di epilog dengan pas. Bahwa setiap kehidupan mempengaruhi kehidupan berikutnya. Dan kehidupan berikutnya itu mempengaruhi kehidupan berikutnya lagi. Dan bahwa dunia ini penuh kisah-kisah kehidupan, dan semua kisah kehidupan itu adalah satu.

Oiya satu lagi yang membuat Meniti Bianglala sama dengan Rembulan adalah tokoh utamanya tak memiliki keturunan. Jadi apakah ini sebuah kebetulan?

The Five People You Meet In Heaven | by Mitch Albom | copyright 2003 | alih Bahasa Andang H Sutopo | Meniti Bianglala | G 402 01 11 0044 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan keenam: Desember 2012 | 208 hlm; 20 cm | ISBN: 978-979-22-7002-0 | Skor: 4/5

Karawang, 230615 – Audit lancar

#22 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Berjuta Rasanya # 15

image

Sekali lagi, Tere Liye mengecewakan saya. Setelah novel dan kumpulan sajak, kini giliran kumpulan cerpen yang saya coba baca. Hasilnya? Sama saja, tak ada yang baru. Semuanya tambal-sulam dengan modifikasi halus di beberapa bagian. Entahlah, apa yang membuat beliau bisa begitu mudahnya membuat buku best seller. Berisi 15 cepen, Berjuta Rasanya bertutur tentang lika-liku cinta dari berbagai genre. Di pembuka sudah diperingatkan, “Cerita dalam buku ini fiksi. Beberapa di antaranya ditulis ulang, terinspirasi dari cerita-cerita lain yang telah ada.” Duh harusnya kalimat ini dipasang di cover atau belakang, sehingga tak ‘menipu’ calon pembeli yang sedang menimang buku tersegel.

1. Bila Semua Wanita Cantik

“Ya Tuhan kuruskanlah aku. Aku mohon.. atau kalau Kau tidak berkenan membuatku kurus, maka buatlah gendut seluruh teman-temanku… aku mohon! Biar kami sama… biar kami sama…”

Menyamakan yang beda, menyetarakan kata Cantik. Maka malam itu, sempurna sudah langit terbolak-balik. Doa itu bagai lemparan sebutir  dadu dengan seluruh enam sisinya sempurna bertuliskan kata “ Amin!” Dan sim salam bin, semua wanita ingin terlihat gendut!

2. Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku

Dibagi dalam 5 bagian kejadian. Cewek yang ke-GR-an ini mencurahkan curhatnya, bahwa Putri seperti anak ABG yang suka lebay urusan cowok. Dan si Tin ini akhirnya terjebak rasa, senasib dengan Putri. Ahh tema yang sederhana sekali. Mungkin penyampaiannya yang agak lucu. Dasar Rio ga peka.

3. Cinta Zooplankton

Cerita cinta sejati. Ayu coba disadarkan, bahwa Topan cowoknya itu buaya darat. Gombal sana-sini, pandai bicara, sok romantis, rayu banyak cewek, dan Ayu dengan kegigihannya tetap percaya bahwa Topan adalah cnta sejati. Keteguhan hati yang luar biasa seperti cinta Plankton kepada Karen?

4. Cintanometer

Di kota kami, walau terletak di tengah-tengah gurun pasir maha luas, hujan bukanlah barang langka. Jika penduduk kota ingin merasakan hujan, maka tinggal bilang ke balai kota. Seperti kemarin, anak tetangga sebelah rumah, rindu berat berlari-lari di atas gelimangan lumpur, di bawah atap langit yang mencurahkan beribu-ribu bulir air kesegaran. Maka orang tuanya memesan hujan, selang dua belas menit kemudian, awan hitam datang berarak. Guntur dan petir saling sambar-menyambar. Tak lama turunlah hujan sesuai pesanan.

Paragraf pembukanya bagus. Sayangnya konflik yang diciptakan biasa sekali.

5. Harga Sebuah Pertemuan

Cerpen terburuk dari semua daftar. Ini jelas kisah yang disadur dari luar. Karena saya pernah baca di sebuah majalah terjemahan. Dari cerita korban 1, saya sudah bisa menebak arah yang dituju Tere. Sayang sekali, kisah saduran seperti ini dikutip tanpa sumber. Tentang seorang psikopat yang jatuh cinta. Sederhana.

6. Kotak-Kotak Kehidupan Andrei

“Nak apakah ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan kehidupanmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu?”

Nasehat yang bijak, tentang pilihan-pilihan hidup dan cinta. Namun hidup takkan seperti itu kok, Andrei.

7. Mimpi-Mimpi Laila Majnun

Sudah baca cerita Laila Majnun? Saya belum, tapi dari review cerita yang pernah beredar, kisahnya adalah Romeo-Juliet dari Timur Tengah. Nah karena saya sudah baca bukunya William Shakepeare maka otomatis cerpen nomor 7 ini saya sudah punya pegangan. Dan benar saja, ketebak sekali. Inikah yang dimaksud tulis ulang?

8. Kutukan Kecantikan Miss X

Erik rajin mendengarkan curhat temannya, tentang cewek baru yang memukau temannya. “Gile! Sebelas dari nol sampai sepuluh”. Sayangnya dia tak berani berkenalan sehingga menjulukinya Miss X. Erik tentu saja geregetan, dasar cowok penakut. Namun siapa sangka dia kena kutuk cewek cantik jua?

9. Love Ver 7.0 & Married Ver 9.0

Di kota kami, walau terletak di tengah-tengah gurun pasir maha luas, hujan bukanlah barang langka. Jika penduduk kota ingin merasakan hujan, maka tinggal bilang ke balai kota. Seperti kemarin, anak tetangga sebelah rumah, rindu berat berlari-lari di atas gelimangan lumpur, di bawah atap langit yang mencurahkan beribu-ribu bulir air kesegaran. Maka orang tuanya memesan hujan, selang dua belas menit kemudian, awan hitam datang berarak. Guntur dan petir saling sambar-menyambar. Tak lama turunlah hujan sesuai pesanan.

Lanjutan dari Cintanometer, paragraf-nya sama persis. Hanya saja, pikirkan dari sudut pandang yang berbeda.Kalau yang pertama biasa, apa yang bias diharapkan dari sequel-nya?

10. Kupu-Kupu Monarch

Ini mungkin cerpen terbaik dari semua daftar. Ceritanya menyentuh, ceritanya menyayat hati. Menyedihkan sekali cinta sejati dibalas tuba. Tentang Fram dan istrinya. Tentang kesetiaan, tentang pengorbanan. Hidup kadang memang kejam. Kupu-kupu kuning itu datang ke pemakaman secara rutin, bukan kupu-kupu biasa.

11. Joni dan Doni

Jadi ingat dulu pas mau sidang. Joni dan Doni akan sidang skripsi, keduanya meng-SMS teman-temannya minta dukungan. Satu dapat apa yang diharap satu lagi tidak. Ini tentang nasib, ini tentang takdir yang bertolak-belakang.

12. Kutukan Kecantikan Miss X-2

Kalau Cintanometer ada sekuel, kenapa Miss X tidak? Toh ini buku bung Tere yang bikin, pembaca mau senang apa geregetan, ya bodo amat. Sayangnya yang pertama buruk, apa yang diharapkan dari yang kedua? Seakan dunia ingin diajak tertawa tentang nasib apes yang dialami pemuda di bus AC nomor 102.

13. Lily dan Tiga Pria

Waktu adalah lingkaran nasib yang berputar tanpa henti. Siang-malam, pagi-petang, sepanjang tahun tak pernah rehat. Dalam kesempatan putaran nasibnya selalu terjadi tiga kemungkinan. Pararel, bergerak, serentak. Kalimat pembukanya dibuat bak cerita filsuf tentang nasib dan perputaran waktu. Namun intinya tak se-filsuf yang kita harap. Bayangakn dirimu bisa membelah diri jadi tiga pria, lalu kita lihat apa tindakan dari ketiga dirimu tersebut. Dan Lily jadi objek-nya.

14. Pandangan Pertama Zalaiva

Ini sudah ketebak, saya pernah baca cerita yang mirip kalau tak mau dibilang sama. Kalau ga salah setting-nya Eropa. Seorang gadis yang jatuh hati pada ‘pandangan pertama’. Cinta memang kejam, namun cinta juga punya kesetaraan rasa. Hadapi kenyataan dengan kepala tegak Zalaiva!

15. Antara Kau dan Aku

Ah cinta memang aneh. Kayak lagu berjudul ‘Jatuh Cinta’ berjuta rasanya. Dia jauh, kita ingin dekat. Dia baik, kita pura-pura cuek. Nah mungkin ini maksud bung Tere dari kumpulan cerpen ini, dinukil sedikit lirik lagu tersebut lalu cerpen ‘Antara Kau dan aku’ ini bertutur dengan santai nan geregetan. Bergitulah cinta, harus di posisi yang tepat dengan orang yang tepat pula.

Berjuta Rasanya | oleh Tere Liye | Mahaka Publishing, 2012 | Penerbit Mahaka (imprint Republika Penerbit) | Cetakan XV, Juni 2014 | ISBN 978-602-9474-03-9 | vi+205 hal; 13.5×20.5 cm | skor: 2/5

Karawang, 150615 – Your troops ready for battle

#15 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

(review) Rembulan Tenggelam Di Wajahmu: Apakah Hidup Ini Adil?

https://lazionebudy.files.wordpress.com/2014/09/c360_2014-09-15-06-06-59-0061.jpg
Inilah novel kedua Tere Liye yang saya baca setelah “Negeri Para Bedebah”. Novel ini adalah satu dari empat buku hadiah ulang tahun ke 31, di mana kesemuanya adalah karya Tere Liye. Hanya dalam dua hari saya selesaikan baca. Buku cetakan ke tiga belas pada Juli 2014, luar biasa produktif dan best seller. Betapa bangga dan kayanya ini bung (Darwis) Tere Liye, karena nyaris di semua toko buku yang saya kunjungi ada bukunya.
Kisah diawali dengan bagus, di sebuah malam takbir di mana orang-orang bersuka cita merayakan hari kemenangan ada seorang anak di sebuah panti asuhan sedang bersedih. Seorang yatim piatu yang menangis di sebuah ayunan, dia sedih karena tak tahu siapa ayah dan ibunya yang meninggal saat dia lahir. Tetes tangisnya seperti sebuah mantra pemanggil hujan. Cuaca yang sebelumnya cerah dalam gegap gempita takbir di sepanjang jalan tiba-tiba hujan lebat. Seakan mengajak kita ikut bersedih akan tanya, “apakah hidup ini adil?.” Anak kecil bernama Rinai inilah yang akan menjadi garis merah seluruh cerita.
Sementara di masa yang sama di sebuah rumah sakit, tergeletak seorang tua bernama Rehan. Pria 60 tahun yang sekarat sedang dirawat oleh dokter dan tim medis paling ahli agar nyawanya selamat. Seorang konglomerat pemilik kongsi bisnis imperium terbesar yang pernah ada. Saat sepertinya nyawa Ray sudah mustahil tertolong, tiba-tiba seperti ada keajaiban karena organ tubuhnya kembali berfungsi normal. Dan tubuh Ray seperti terhempas di sebuah tempat. Lalu datanglah (malaikat?) dengan wajah menyenangkan yang menepuk bahunya. Di sinilah dijelaskan bahwa Ray mendapat kesempatan untuk menemukan lima jawaban atas pertanyaan hidupnya. Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan? Terdengar familiar? Ya, kalau kau sudah membaca bukunya Mitch Albom.
Ray terhempas di sebuah terminal yang hangat. Lho, bukankah dia tadinya terbaring lemah di rumah sakit? Ternyata dia memulai ‘tur’ untuk mengenang masa lalu bersama Pria Dengan Wajah Menyenangkan. Tur inilah yang akan menjadi kisah panjang dalam novel ini. Ray adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan yang tak menyenangkan. Dirinya kesal dengan sang pengasuh yang sering menghukumnya. Menurut Ray, sang pengasuh adalah seorang munafik yang menghalalkan segala cara untuk bisa menunaikan ibadah haji. Sehingga berusaha mengumpulkan banyak uang, tak peduli itu memeras uang panti dan menyuruh anak-anak bekerja. Hingga pada suatu pagi di hari raya Ray memutuskan kabur membawa box istimewa milik pengasuh panti yang dikira Ray berisi uang. Tersebutlah teman Ray yang setia bernama Diar. Seorang lugu yang mengagumi Ray, sungguh bertolak belakang sifat mereka. Diar yang polos suka membantu Ray yang suka mencuri dan berjudi.
Lalu sebuah fakta yang mengejutkan Ray terkuak. Alasan kenapa dirinya saat berusia 16 tahun bisa terbaring lemah di rumah sakit di ibu kota, padahal sebelumnya dia sedang terbaring lemah di rumah sakit di sebuah kota di timur pulau Jawa pasca dirinya dirampok. Ternyata ada sebuah rahasia besar alasan kenapa Ray yang merasa membuang sia-sia waktu 16 tahun di panti. Itulah sebab-akibat kehidupan, bahwa kehidupan kita saling terkait dengan orang lain.
Kehidupan baru Ray di Jakarta dimulai. Dirinya mencoba melupakan masa lalu kelamnya dengan kembali membuka diri dengan teman-teman barunya di Rumah Singgah. Sebuah rumah di pinggiran kota yang menampung orang-orang dengan masa lalu tak jelas. Ada Natan yang pandai bernyanyi, ada bang Ape yang dituakan yang selalu memberi nasehat penyemangat hidup, ada Ilham yang suka melukis, ada si kembar Oude dan Ouda. “Kalian akan menjadi saudara di manapun berada, kalian sungguh akan menjadi saudara. Tidak ada yang pergi dari hati. Tidak ada yang hilang dari kenangan. Kalian sungguh akan menjadi saudara.” Ray lalu sekolah mengambil kelas kesetaraan. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Saat akhirnya Ray sepertinya menemukan keluarga barunya, sebuah tragedi terjadi. Lukisan Ilham yang akan dibawa ke pameran dirusak sekelompok preman. Ray yang marah menghajar preman-preman tersebut. Celaka, mereka membalas menghajar Natan yang waktu itu masuk 12 besar kontes nyanyi di tv. Dengan amarah dan dendam yang membara Ray memporakporandakan gerombolan preman. Hal yang membuat Bang Ape marah besar. Ray yang membela diri, bahwa kalau ada saudaranya disakiti maka harus dibalas bukannya malah berdiam diri. Ray yang emosional akhirnya memutuskan kabur dari rumah singgah.
Memulai kehidupan baru sendirian di sebuah kontrakan di Selatan ibukota. Kesehariannya mengamen di kereta. Hobi lama memandang bulan di atap rumah dilanjutkan di atap kontrakan dekat tower air. Tower air yang akan menjadi twist di cerita berikutnya. Di sana Ray berkenalan dengan pria misterius bernama Plee. Setelah pendekatan beberapa bulan, akhirnya Plee berterus terang bahwa dirinya adalah seorang pencuri berlian. Dirinya mengajak Ray bergabung setelah melihatnya turun dari tower air dengan lincah. Apa salahnya menjadi orang jahat? Pencurian pertama mereka lakukan di sebuah malam takbir hari raya di sebuah gedung berlantai 40. Pencurian yang awalnya lancar berubah menjadi petaka saat ada kesalahan kecil salah perhitungan memicu alarm. Melalui adegan bak film action, mereka melarikan diri. Naas, kaki Ray tertembak dan mereka terpaksa membalas tembakan yang mengakibatkan dua orang security tewas.
Dalam pelarian, akhirnya terungkap bagaimana Ray bisa lolos sementara Plee tertangkap. Sebuah flash back yang mengharu biru menghantar Plee dihukum mati. Merasa bersalah dan hatinya hancur, Ray memutuskan kembali ke kota kelahirannya dengan naik kereta pertama di hari eksekusi Plee. Di dalam kereta itulah Ray menemukan cinta pertamanya, seorang gadis cantik bernama Fitri. Gadis yang ternyata ada sangkut-pautnya dengan garis cerita panjang ini. Ray yang memulai hidup baru sebagai buruh bangunan bekerja dengan giat. Dengan berjalannya waktu dia naik pangkat jadi wakil kepala mandor. Dengan kecerdasan di atas rata-rata, dia belajar cepat tentang arsitektur. di atas gedung setengah jadi, Ray melanjutkan hobinya memandang rembulan. Bersama anak buahnya Jo, Ray menemukan kembali gadis cantik di dalam kereta. Hingga terkuak sebuah kenangan kelam yang menyedihkan. Namun hal itu tak menghalangi Ray untuk meminang Fitri.
Kehidupan baru Ray yang lebih mapan bersama keluarga ternyata tak berlangsung lama. Enam tahun yang terasa cepat membuat kita ikut bertanya, betapa kejam takdir yang digariskan Tuhan untuk Ray. Dengan kesedihan mendalam, Ray kembali ke ibukota. Menelusuri kenangan dengan berkunjung di Rumah Singgah, kontrakan tower air. Dan akhirnya dirinya memutuskan menjadi pembisnis di bidang arsitektur. singkat cerita Ray kaya raya, tapi hatinya hampa. Dirinya menghabiskan masa tua dengan kesendirian, sampai di usia 54 tahun dimulailah sakit-sakitan.
Di enam tahun akhir hidupnya, Ray menderita. Enam tahun sepertinya menjadi angka yang digariskan dalam hidupnya. Semua dijelaskan oleh sang malaikat untuk menjawab lima pertanyaan Ray. Sampai akhirnya kita kembali ke masa kini, masa saat Ray terbaring lemah di rumah sakit. Apakah Ray sudah meninggal? Belum. Dirinya masih punya hutang yang harus diselesaikan! Lalu apa kaitannya dengan gadis kecil bernama Rinai yang menangis di ayunan? Usianya enam tahun. Dan itu sudah cukup menjelaskan garis merah takdir hidupnya.
Well, saya sudah membaca novel ‘The Five People You Meet In Heaven’ karya Mitch Albom yang anehnya diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi ‘Meniti Bianglala’, nanti saya review juga. Temanya sama, dimana Eddie seorang tua yang sekarat mendapat kesempatan bertemu lima orang yang hidupnya bersinggungan dengannya. Dijelaskan secara runut flash back, persis seperti kisah Ray. Seperti yang saya bilang di review novel Tere Liye sebelumnya. Saya yakin beliau memakai teori ATM – Amati, Tiru, Modifikasi. Jelas bung Darwis sudah membaca bukunya Albom. Karena dari setting waktu pun sama. Orang sekarat, lima hal, flash back kehidupan dari kecil sampai akhirnya kembali ke masa kini. Pertanyaan sama, apakah bung Darwis harus meminta izin kepada Albom untuk menyemi sebagian ceritanya? Seperti Fight Club yang diambil aturannya secara mentah-mentah oleh bung Darwis untuk dua buku “Negeri Para Bedebah” dan “Negeri Di Ujung Tanduk”, jelas cerita “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu” tidaklah original.
Terlepas dari itu, buku ini layak dinikmati untuk menggugah kita bahwa setiap tindakan kita baik atau buruk akan kita tuai hasilnya di kemudian hari. Bahwa segala tindakan kita berpengaruh terhadap nasib orang lain, kehidupan sebab-akibat. Betapa kita harus banyak berkorban dan menebus dosa masa lalu untuk orang lain. Diar berkorban untuk Ray, pengasuh panti berkorban untuk Diar, Ray berkorban untuk Natan, Plee berkorban untuk Ray, dan banyak pengorbanan yang lain saat sang malaikat mengungkap fakta kehidupan yang berputar di antara kita semua. Seperti dua paragraf yang saya nukil berikut:
“Pengorbanan,” kata Kapten. “Kau membuat pengorbanan. Aku membuat pengorbanan. Kita semua membuat pengorbanan. Tapi kau merasa marah atas pengorbanan yang kau berikan. Kau selalu memikirkan apa yang telah kau korbankan.”
“Kau belum mengerti, pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. Harusnya begitu. Bukan sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu yang didambakan. Pengorbanan kecil, pengorbanan besar. Seorang ibu bekerja keras agar anaknya bisa sekolah. Seorang anak perempuan pindah rumah untuk merawat ayahnya yang sedang sakit…”
Bukan. Dua paragraf di atas bukan dari “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu”, tapi di buku “Meniti Bianglala.”
Ruang HRD NICI – Karawang, 150914

(review) Negeri Para Bedebah: Manusia Di Atas Perahu Bocor

Gambar
Kemarin saat nonton film The Raid 2: Berandal bersama May dan teman kuliahnya, saya mampir sebentar di toko buku Salemba di Mal Lippo Cikarang. Baru kali ini saya masuk toko buku dengan kondisi AC mati, siang yang gerah. Karena cuaca di luar saat ini panas, maka kunjungan lihat-lihat buku tak senyaman seperti biasanya. Paling 10 menit saya langsung ke rak novel dan mencari buku, yang siapa tahu ada yang diincar. Di rak novel baru ternyata dipenuhi buku remaja, gila dua rak panjang isinya mayoritas novel teenlit lokal. Beneran, dunia literasi kita makin bergairah. Perkembangan yang menarik, walau saya tak tertarik membelinya. Akhirnya teman-teman yang kepanasan menyerah keluar toko duluan menunggu di kursi mal di luar. Saya yang ga enak berlama-lama segera menyusul, tapi saat akan melewati pintu keluar ada tumpukan cetakan baru novel best seller. Iseng lihat bentar, dan ternyata ada novel karya Tere-Liye bejibun. Semua cetakan baru dengan design sampul baru. Incaran lama saya, Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk ada di sana. Tanpa pikir panjang saya comot keduanya. Namun saat konfirm ke istri untuk belfi dua buku, dia malah manyun yang itu berarti berkata, ‘hemat, beib hemat!’. Apalagi saat ini saya jobless sehingga rasanya egois sekali kalau langsung beli dua buku tebal. Akhirnya mengalah mengambil yang seri pertama, 60 ribu rupiah. Masuk ke antrian kasir yang panjang, yang ternyata gara-gara komputernya mati sehingga belanjaan ditulis manual dengan nota, macam kuitansi pasar loak.
Malamnya saat lelah karena perjalanan Cikarang-Karawang, si May bahkan sudah tidur sebelum Isya’ saya sempatkan baca Negeri Para Bedebah. Ini buku sudah saya incar lama setelah baca review dari teman-teman yang rata-rata bilang buku bagus. Buku yang saya pegang adalah cetakan ke-6 di Desember 2013. 3-4 bulan sekali ini buku cetak ulang, betapa hebatnya sang Penulis selain produktif bukunya banyak yang cetak ulang. Yang pertama kubaca jelas, backcover-nya: Di Negeri Para Bedebah, kisah fiksi kalah seru disbanding kisah nyata. Di Negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah. Tetapi setidaknya kawan, di Negeri para bedebah petarung sejati tidak akan berhianat. Kalimat-kalimat yang bagus yang akan membuat calon pembeli tertarik.
Sebelum masuk ke daftar isi, kita sudah diperingatkan bahwa cerita yang akan saya baca ini hanya fiktif jadi apabila ada kesamaan nama tokoh atau kisah itu hanya kebetulan belaka. Sepertinya Tere akan bermain api dengan cerita yang akan tersaji. Bab pertama, di sini ditulisnya episode 1 berjudul ‘krisis dunia’ pun saya lahap dengan cepat. Kisah dibuka dengan sebuah wawancara seorang konsultan keuangan bernama Thomas bersama wartawan majalah ekonomi mingguan bernama Julia. Wawancara terpaksa dilakukan di atas pesawat karena kesibukan Thom yang luar biasa, bahkan kesibukannya mengalahkan sang presiden. Sindiran ini akan terbukti dalam rentang tiga hari ke depan dia akan luar biasa sibuk. Perjalanan dari London ke Singapura ini menjadi pengalaman yang pertama buat Julia wawancara di atas pesawat kelas eksekutif: “Anda tahu, terus terang saya sedikit gugup. Bukan untuk wawancaranya tapi saya begitu antusias. Ya Tuhan, saya baru pertama kali menumpang pesawat besar. Ini mengagumkan, ini lebih besar dibanding dengan foto-foto rilis pertamanya. Berapa ukurannya? Paling besar di dunia? Tiga kali lebih pesawat biasa, dan saya menumpang di kelas eksekutif. Teman-teman wartawan pasti iri kalau tahu redaksi kami menghabiskan banyak uang untuk membelikan selembar tiket agar saya satu pesawat dengan Anda.”
Permulaan wawancara yang buruk, permulaan perkenalan yang kurang bagus antara dua karakter yang nantinya akan terus bersinggungan. Lalu saat Thomas sampai di Jakarta di akhir pekan, dia disibukkan dengan jadwal yang padat. Jumat malam ini, dia yang seorang petarung di klub petarung. Semacam klub berkelahi di buku ‘Fight Club’ nya Chuck Palahniuk. Premisnya sama, di mana mereka professional berkelahi hanya untuk kesenangan. Lupakan pangkat, lupakan derajat di rutinitas. Siapa saja yang bergabung di klub akan berkelahi di atas lingkarang merah, selesai tanding semua lupakan, tak ada dendam tak ada kemarahan. Benar, aturannya sama dengan fight club, rekrutnya rahasia hanya teman-teman dekat. Bedanya tak ada twist, dua karakter satu tubuh di sini. Saya jadi bertanya, apakah Tere harus meminta izin kepada Chuck untuk mencantumkan sebagian aturan kisahnya ke dalam buku ini.
Dari klub petarung, Thomas berkenalan dengan Rudi sang polisi, Randy sang petugas imigrasi, dan Erik seorang perekayasa data yang ulung. Tiga karakter yang akan sangat membantu menggerakkan cerita. Lalu ada kadek yatch Pasifik, kapal milik keluarga yang cerdas dan setia. Ada Ram, orang kepercayaan keluarga yang mengurus bermacam bisnis. Ada sektetaris cantik yang selalu jadi andalan, Maggie. Antagonisnya, dua orang yang mempunyai dendam masa lalu. Sang jaksa dan seorang polisi bintang tiga. Sementara karakter dalam keluarga ada om Liem yang memimpin bank Semesta di ambang pailit. Opa, yang di usia senjanya menjadi penasehat bijak dengan cerita masa lalunya tentang perjalanan dari Cina daratan menuju tanah yang dijanjikan, Indonesia. Perjalanan laut di atas perahu bocor yang dituturkan berulang kali bagai kaset rusak. Ada sahabat lama dalam bisnis keluarga tuan Shinpei, orang yang dulu bersama saat berjuang di zaman susah dalam memasok bisnis tepung terigu. Semua dirajut dalam cerita tentang kebobrokan Negara ini, plot utamanya adalah penyelamatan bank Semesta dari lukuidasi dengan dana talangan bail out dari pemerintah. Intrik itulah yang membuat Thomas selama tiga hari harus tunggang-langgang dari kebisingan ibu kota sampai ke Yogya dan Bali.
Kisah panjang 48 episode ini dimulai dengan dering telepon tengah malam, Sabtu dini hari di bab 4. Saat itu Thomas sedang istirahat di hotel, pasca bertarung dengan Rudi. Telepon yang menggangu itu, rasanya ingin tak diangkatnya. Namun ternyata telepon sedini ini datang dari keluarganya. Ram, sang pengurus bisnis keluarga memberitahu bahwa tantenya sakit keras, karena om Liem tersangkut kasus. Terpaksa dia bangun dan bergegas ke rumah om-nya yang tak pernah dijumpainya selama 20 tahun. Dari adegan ini sampai dengan titik kalimat terakhir, kalian akan disuguhkan adegan action non-stop. Pelarian ke bandara, lalu ke tempat persembunyian, tertangkap namun bisa kabur lagi. Berlayar tak tentu arah, meeting dengan orang-orang penting di pesawat. Adegan baku tembak, kabur lagi. Suap kepada sipir penjara, tipu-menipu demi kepentingan pribadi. Berlagak jadi kader partai berwarna lembayung, sandera yang berharga sampai akhirnya sebuah ending yang mengapung di atas laut haru-biru. Bak mimpi yang terlihat samar namun terasa nyata, dalam tiga hari itu Thomas terus berlari bagai dikejar monster tak berwujud. Ketika akhirnya dalang dan penghianat ditemukan, ternyata itu hanya ikan teri. Penghianat kelas kakapnya terlepas dari tangkapan, dan buku ini ditutup dengan dendam menuju target utama.
Manarik? Jelas, sungguh bagus ada buku karya anak bangsa sedinamis ini. Walaupun yah harus diakui, Tere tak menyajikan cerita original. Harus diakui pula di dunia ini tak ada yang original, semua pakai teori ATM-Amati, Tiru, Modifikasi. Coba tonton film Fight Club, 21, The Beautiful Mind, The Wallstreet, The Coruptor sampai Crash. Semua dinukil dan dirajut dengan cerita panas korupsi bank nasional yang bail out –nya mewarnai berita selama 5 tahun terakhir. Bahkan terang-terangan Tere menyebut ibu menteri, orang yang ditemuinya bersama Julia yang akan mengubah keputusannya. Juga angka talangannya 7T, walau akhirnya angka itu dimodifikasi Erik jadi hanya 1,5T. Tere bermain-main dengan fakta, dan di sinilah hebatnya dia. Luar biasa, salute bro!
Secara keseluruhan saya sepakat dengan beberapa review bahwa buku ini recommended buat dilahap. Saya membacanya dengan perseneling penuh, cepat sekali. Hanya dua hari di sela kesibukan semu di rumah. Saya bahkan meletakkan sejenak buku The Man Who Loved Book Too Much yang sudah kebaca separo, demi kenikmatannya. Dan sepertinya menyenangkan sekali mempunyai seorang kakek pencerita yang hebat, walau kisah yang dituturkan berulang kali sama layaknya kaset rusak. Di situ selalu ada hikmah. Seperti Opa yang terombang-ambing di atas perahu bocor dengan ketidakpastian, kita semua kini hidup di negeri para bedebah. Kita semua berjudi dengan masa depan. Tahun pemilu dengan segala janji manisnya? Bah!
Karawang, 020414