November2022 Baca

Karena kau perempuan, Nduk. Cah ayu yo kudune menikah, punya suami lantas mengabdi. Kuwi kodrate wong wedhok.” – Tabula Rasa, Ratih Kumala

Bulan Anniversary ini dilewati dengan banyak degub mengkhawatirkan. Pekerjaan menuntut untuk keluar kota hampir setiap minggu. Piala Dunia sudah dimulai, kini memasuki partai-partai akhir grup, hingga kesibukan di rumah yang memang butuh perhatian. Yang paling menyedihkan, teman istriku divonis sakit parah, #GWSAbu sakit kepalanya ternyata tak sekadar sakit kepala.

Lalu keputusan mengambil sepeda listrik (4.4 juta tunai, dari koperasi) merupakan langkah maju untuk membantu transpotasi, tapi langkah mundur dengan cicilan sejutaan di koperasi, makin banyak utangnya.

Dan hilangnya Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2022, setelah kepergiaan Richard Oh, belum ada yang meneruskan. Sehingga November yang biasanya rekap baca buku lokal melimpah, kini sedikit sekali. Saat menyadarinya, baru baca fiksi lokal 21 buku. Jauh dari rekap tahunan, makanya Desember ini saya fokus mengejarnya. Namun tetap, semuanya mengalir sahaja…

#1. A Dash of Magic by Kathryn Littlewood

Kisahnya tampak klise. Kompetisi masak Internasional di Paris dengan sihir menyertai, dan peserta finalnya adalah saudaraan. Kemungkinan seperti itu sangat amat kecil terjadi di dunia nyata. Seperti kompetisi catur dunia, apakah pernah terjadi final dalam satu keluarga? Atau mungkin satu Negara? Sekalipun fiksi, tetap pijakan utama adalah kehidupan kita. Sekalipun sihir, tetap logika kehidupan harus dijadikan acuan. Dan banyak sekali trik yang disampaikan juga tak se-majic yang diagungkan, atau seseru buku satu. Trik-trik curang demi menjadi nomor satu, disajikan dengan plot kanak-kanak. Cara pemilihan pemenang juga begitu sederhana, tak serumit kompetisi Chef memasak tingkat RT, apalagi tingkat TV Nasional yang lebai. Jelas, kisah di buku ini sebuah penurunan. Dengan bekal kata, “Mengalir saja”, semuanya memuncak di Paris yang glamor. Nyaris tak ada kejutan berarti. Mungkin keunggulan utama buku ini adalah cover yang ciamik. Enak dipandang mata saat disusun rapi di rak.

“Kita selesaikan masalah satu-satu, Mi Hermana, pertama kita dapatkan bunyi lonceng dulu.”

#2. How the World Works by Noam Chomsky

Lega. Itulah perasaanku setelah bertahun-tahun coba menyelesaikan baca buku ini. Kubeli tahun 2015, sempat menggebu membaca di awal. Down di tengah jalan,. Tahun 2016 sempat pula coba kulanjutkan, dan kembali tertunda. Dan begitulah, tertimbun buku-buku lain. Terlupakan. Memang bukan buku yang santuy, bahasannya berat. Politik, dan begitu kritisnya banyak ungkapan-ungkapan yang bikin pemerintah panas.

“Ada kasus yang sangat solid untuk didakwa setiap presiden Amerika sejak Perang Dunia Kedua bertanggung jawab atas berbagai peristiwa berdarah di seantero dunia. Mereka semua merupakan penjahat perang atau setidaknya dalam kejahatan perang yang serius.”

#3. Marxisme, Seni, Pembebasan by Goenawan Muhammad

Penuh dengan kutipan. Sampai-sampai tak tahu mana pemikiran asli penulis, mana kutipannya. Buanyaaaak banget. Aneh rasanya membaca kutipan bertumpuk-tumpuk dalam satu paragraph panjang. Menelusur masa lalu dengan Marx sebagai pusatnya, didedah dan diuji ketahanannya oleh masa. Dan setelah lebih seabad Marx rasanya abadi, dilihat dari sudut manapun, layak didiskusikan. Sosialisme mengklaim, reliji juga, seni, ideology hingga manzhab lebih tinggi terkait tafsirnya sungguh liar. Dan buku ini hanya sebagian kecil darinya. Apalagi saya sedang baca Teori Sosiologi Modern, di mana Marx menyita halaman (otomatis perhatian) sangat tinggi.

“… keindahan yang benar-benar, yang tertinggi adalah keindahan yang dijumpai oleh manusia di dalam dunia kenyataan dan bukanlah keindahan yang diciptakan seni.” – Chernishevski

#4. The Hundred Secret Sense by Amy Tan

Ini jelas lebih mudah dicerna ketimbang The Joy Luck Club yang plot-nya berlapis. The Hundred Secret Senses sekalipun menyertakan dunia yin yang absurd dan mengundang arwah untuk berdiskusi, mengunjungi hantu-hantu masa lalu untuk membantu memahami masa kini, setidaknya alurnya masih runut. Sudutnya fokus pada Olivia, yang lainnya hanya sempalan, atau kalaupun keluar jalur, hanya mencerita detail yang menunjang. Kwan jelas begitu dominan menemani, sebagai kakak-nya yang paling setia, Kwan justru tokoh terpenting, terutama aspal cerita yang padat, dan eksekusi kunci di endingnya yang tak terduga.

“Janji mengajakku ke bioskop atau kolam renang akan mudah terhapus dengan dalih lupa, atau lebih buruk lagi, variasi-variasi licik mengenai apa yang dikatakan dan dimaksud.”

#5. The Art of Novel by Milan Kundera

Kundera menulis dengan semangat merayakan lelucon. Dari judul-judulnya sudah terlihat. Harus membaca buku-bukunya dulu untuk bisa menikmati secara maksimal buku ini. Saya baru membaca empat: Pesta Remeh Temeh, Kitab Lupa dan Gelak Tawa, Identitas, dan Kealpaan. Dan itu tak cukup. Selain mengupas novel-novelnya, kita juga diajak bersafari ke novel-novel hebat sebelumnya. “Kita sering mendengar trinitas suci novel modern: Proust (belum baca), Joyce (Ulysses belum baca), Kafka (sudah baca). Menurut saya, trinitas itu tak ada. Kafka memberikan orientas baru, yaitu orientas post-Proustian. Caranya memahami diri sungguh-sungguh mengejutkan.” Ya, ketiganya sangat dominan dikupas, ditambah Cervantes (belum kubaca), Schweik (sudah kubaca), hingga Balzac. Sayangnya, hanya sebagian kecil yang kunikmati. Ada tiga kebijakan utama yang wajib dikembangkan manusia: toleransi, humor, dan imajinasi.

“Novel memiliki kekuatan untuk menggabungkan puisi dan filsafat, bukan sebaliknya.”

#6. Menyingkap Rahasia Akhirat by Al Ghazali

Luar biasa. Karena ini hal yang baru, saya terpesona. Alam akhirat yang misterius itu dijelaskan dengan gamblang, bagaimana kehidupan setelah kematian. Dari mulai detik-detik kematian, hingga putusan akhir penghakiman pada-Nya. Ini versi Islam, artinya segalanya bersumber pada Al Quran dan Hadist sehingga, diluar itu tak disinggung sama sekali.

“Tak ada yang bisa menyingkap rahasia-rahasia akhirat kecuali orang yang menguasai ilmu-ilmu keakhiratan.”

#7. Tabula Rasa by Ratih Kumala

Kisah sedih di Rusia, kisah sedih di Yogyakarta, kisah sedih di Kanada. Asmara yang yang melilit para karakter. Temanya berat, sebab melibat homo dan lesbi serta kematian-kematian orang terkasih. Mainnya jauh, sampai Benua Amerika dan Eropa. Bagi jelata macam saya, jelas tak relate. Banyak kejanggalan, atau mungkin tak nyaman dinikmati orang kebanyakan. Mahasiswa pintar yang mengikuti kemanapun ayahnya ditempatkan bekerja, tak main-main antar kota, tapi sudah melintang ke Rusia. Dan sesuai catatan sejarah di awal 1990-an terjadi perebutan kekuasaan yang mengambil banyak nyawa warga, termasuk sang kekasih. Lalu masa merentang sedasawarsa di Yogya, kini ia sudah dewasa dan menjadi dosen. Menemui rasa cinta lagi kepada salah satu mahasiswinya. Gayung seolah disambut, tapi enggak juga sebab, sang kekasih memiliki penyimpangan seksual. Dan begitulah, aliran kisahnya berkutat di masalah hati, dan tindakan. Mengikuti kata hati ataukah menjadi warga kebanyakan yang legowo?

“Kamu jangan mondar-mandir aja, kayak setrikaan.”

#8. Jejak Sufi Modern by Abu Fajar Alqalami

Lucu. Mungkin tak seberat buku-buku sufi kebanyakan, mungkin pula dan sak-klek sama aturan Islam yang kaku. Ini malah jadi sejenis diskusi, seorang awam agama, bertanya kepada pendiri pondok pesantren. Rasanya tepat, sebab biar ahlinya yang menjawab. Maka kiai Badrun memberi petuah-petuah hidup, yang mungkin bagi kita sudah umum (atau malah usang). Dasar agama, tuntunannya, hingga rasa syukur. Yang menarik, diskusi itu mengalir nyaman, dan apa adanya.

“Hujan sudah reda, kita jalan lagi.”

#9. Poison by Sara Poole

Novel renaisans di Italia. Tentang hari-hari menuju penunjukan Paus baru. Ini bisa jadi fiksi di sisian sejarah. Paus lama, yang sudah tua dan sakit-sakitan segera mengeluarkan dekrit yang sama dengan perintah dari Spanyol bahwa warga Yahudi akan dimusnahkan, atau diusir dari negerinya, tapi sebelum dektrit itu dirilis, drama terjadi di dalam istana. Racun menjadi alat bunuh yang umum, dan begitulah Francesca Giordano, ahli racun itu melaksanakan tugasnya. Di Roma yang panas, dan sejarah mencatat Rodrigo Borgia menapaki puncak kekuasaan.

“Apakah kauyakin ingin melakukan semua ini?”

#10. Wasripin & Satinah by Kuntowijoyo

Tak menyangka arah buku ini akan ke sana. Ini adalah novel kedua Kuntowijoyo yang kubaca, setelah Pasar yang fenomenal itu. Yang ini tampak lebih kompleks dengan ending yang lebih berani. Kritik politik dari arus bawah hingga pusaran pusat yang njelimet. Pasangan yang saling mencinta, dengan segala kekurangan dan segala kehebatan masing-masing, di puncak ketenaran dan kegemilangan, segalanya berbalik. Wasripin yang bak nabi, dan Satinah yang secantik merak, akhir yang tak terduga. Benar-benar dibawakan dengan sangat bagus, mengalir dengan sangat nyaman dan begitu rapinya. Ah, rasa itu, kenapa terlambat disampaikan, dalam lamaran aneh dengan hasil pancing di pantai sepi ikan, dan jelmaan indah, lantas dihempaskan.

“Ah, pasti kura-kura dalam perahu.”

#11. Logika Falus by Tomy F Awuy

Kumpulan cerpen dari penebit Metafor yang legendaris. Temanya lebih banyak menelusup di area psikologi. Dari hubungan lesbi, pemikiran liar para lelaki, hingga kehidupan malam para Jakartan. Sebagai cerpen yang diambil judul, Logika Falus justru malah yang paling biasa, di mana dua pria mendebat seorang penyanyi kafe yang elok. Lalu berjudi, dan bagaimana diakhiri dengan antiklimaks.

“Ayahmu converso. Apakah kau tidak tahu itu?”

#12. Ranah 3 Warna by A. Fuadi

Buku lanjutan Negeri Lima Menara yang sungguh biasa sekali. Sebuah penurunan drastis, ini seperti orang yang menceritakan pengalaman hidupnya, dari lulus pesantren hingga meraih impian keluar negeri. Kuliah di jurusan Hubungan Internasional, ke Kanada impian itu diwujudkan. Tersebab saya sudah membaca Laskar Pelangi dan lanjutan, seolah ini pengulangan. Dan, karena ini lebih mapan, lebih tampak menjaga image. Artinya, orang pesantren yang alim ini tak banyak mencipta konfliks, sungguh main aman. Jadi tentu saja, membaca novel dengan minim konfliks adalah sebuah pengalaman standar.

“Logika bahasa penutup kau tidak jalan, terlalu lemah. Tapi yang lain sudah baik.”

#13. Prey by Michael Crichton

Keren banget. Partikel dan bakteri dicipta, dengan kamera berukuran nano, dan jadilah penemuan dahsyat. Awalnya jinak, lalu lepas, dan pada akhirnya mereka dengan cepat beradaptasi, menjadi makhluk hidup yang menuntut eksistensi. Di sebuah lab di tengah gunung, Jack sang perancang program, seorang IT expert itu tercengang sebab kode yang ia cipta kini menjadi liar dan mengancam umat manusia. Ternyata penyebabnya justru istrinya sendiri yang juga seorang penemu, Julia yang beberapa hari tak waras. Pasangan ini saling silang, dan sebelum makhluk itu membunuh orang lebih banyak, harus dimatikan, harus dimusnahkan.

“Jadi kesimpulannya sederhana. Mengelompoklah dan jangan menonjol.”

#14. Sepotong Hati di Sudut Kamar by Pipiet Senja

Buku harian yang jadi buku. Luar biasa. Kita tahu kehidupan pribadi Pipiet Senja yang menderita leukemia. Namun detail bagaimana kehidupannya dari kecil, remaja, hingga awal mula meraih impian membuat buku, jelas tak banyak yang tahu, kecuali lingkar pertemanan/saudaranya. Nah, dari buku inilah kalian akan menemukan banyak hal pribadi beliau. Kehidupan keluarga, percintaan awal, hingga perkenalan dalam dunia teater, sandiwara nulis novel, dst. Di era Orde Baru yang minimalis, konvesional, di mana karya ditulis tangan atau diketik di mesin ketik, perjuangan seorang penderita leukemia menjadi penulis sungguh sangat inspiratif.

Karawang, 011222 – Bon Jovi – Always

Allah adalah Tuhan kita, Dia adalah Suci dan berada di Atas ‘Arasy

Aqidah Islam menurut Ibnu Taimiyah by Muslich Shabir

“Janganlah anda sekalian ragu tentang adanya Dzat Pencipta. Karena Dia termasuk sesuatu yang tidak akan dapat dicari oleh akal dengan sendirinya. Dia adalah Dzat yang menentukan keadaan ini.” Isaac Newton

Buku agama, ini seperti buku pelajaran sekolah dengan pendahuluan, inti, lalu penutup dengan pertanyaan dari isi bab. Tertata dan terstruktur. Sebagian besar jelas sudah kita dapati sewaktu mata pelajaran Agama Islam. Berisi pokok agama, enam Iman kepada dan rukun Islam. Yang membedakan, ini disarikan oleh Ibnu Taimiyah, seorang sufi ternama dengan penjelasan lebih panjang dan beberapa detail, sekaligus mematahkan aliran menyimpang, di masa itu.

Melimpah ruah hadist pilihan, dan potongan ayat. Enaknya, di sini kita sudah disaringkan. Sudah dipilah, sehingga tingga menikmati saja. Contoh, pokok hari kiamat, apa dasarnya, bagaimana penafsirannya. Atau tentang Allah yang Esa, dijelaskan pijakan utama betapa Allah masakuasa. mahasegalanya. Harshel, seorang ahli falak dari Inggris bilang, “Apabila lapangan ilmu pengetahuan bertambah luas (berkembang) maka bertambahlah dalil-dalil yang rasional lagi kuat tentang adanya Dzat Pencipta yang bersifay azali, tak ada batas dan tidak berkesudahan kekuasaan-Nya (Para sarjana Geologi, Mathemathic, Falak dan Fisika) telah saling tolong-menolong untuk menunjukkan kebenaran ilmu pengetahuan – yakni kebenaran tentang keagungan Allah dengan sendiri-Nya.”

Jadi suatu saat kalau dibaca ulang, atau mencari referensi, tinggal buka. Sebagian sudah hapal, tapi sebagian besarnya lagi hanya tahu.

Sifat Allah Rahmah (penyayang), Magfirah (pengampun), dan Hafidz (penjaga) memiliki tafsir yang berbeda, ketika ditanya mengapa orang non muslim pun tetap sejahtera? Allah menjaga hamba-hamb-Nya dan selalu memperhitungkan perbuatan-perbuatan hamba itu baik yang bagus maupun yang buruk. Baik yang taat maupun yang durhaka, dst. Allah menjaga kekasih-kekasih-Nya dari apa yang membahayakan mereka baik di dalam masalah keagamaan maupun masalah keduniawian.

Firman Allah terbagi 2 yaitu dengan perentara dan tanpa perantara. Yang dengan perantara ada 3 yaitu: 1) Wahyu kepada Nabi dan Rosul, 2) Mimpi, sebagaimana yang disabdakan Nabi Ibrahim kepada putranya Ismail: “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” 3) Ilham, sebagaimana dalam firmannya, “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: ‘Susukanlah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke dalam sungai (Nil). Dan jangalah kamu khawator dan janglah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan meniadakannya (seorangpun) dari para Rasul.”

Yang tanpa perantara yang datangnya dari balik tabir: 1) Seperti firman kepada Nabi Musa, 2) kepada Nabi Muhammad pada malam Isya’ Mi’raj, 3) kepada bapak dan ibu kita Adam dan Hawa.

Aqidah Islam menurut Ibnu Taimiyah | by Drs. Muslich Shabir| Alih bahasa Dr. Muchlich Shabir | Penerbit PT. Almaarif | Cetakan ketiga, 1997 | 139 hlm, 20cm | ISBN 979-400-175-9 | Skor: 3.5/5

Karawang, 270722 – 250822 – Tasya – Hiasan Alam Kuasa Allah

Thx to Sri Wisma, Bandung

Neraca Kebenaran

“Saya tidak tahu apakah saya harus berdoa qunut pada salat subuh atau tidak, juga membaca Bismillah terdengar atau tidak? Sekarang berijtihadlah dengan diri sendiri. Amati para imam (manzhab), siapa diantara mereka yang menurutmu lebih utama, juga yang fatwa-fatwanya lebih pas dengan hatimu. Sebagaimana kamu sakit dan harus ke dokter, karena saking banyaknya dokter di kampungmu… maka begitulah kamu berijtihad dalam beragama. Siapa yang paling mendominasi dalam sangkaan Anda sebagai yang paling utama, maka ikutilah dia.”

Buku tipis, dicetak mungil. Bagus sekali, saya menemukan cara pandang baru terhadap Al-Qur’an. Makin tertancap yakin. Banyak hal memang tak bisa dilogika, maka terjadilah percakapan antara si Fulan (F) dengan Al Ghazali (G). Fulan dari sekte Syi’ah Batiniyyah. Diungkapkan dengan segala kelemahan dan kelebihannya, mencipta pesona dan sesuai tujuannya, agar kita bisa mengambil manfaat dari dialog-dialog ini dengan merenungkan hal-hal yang lebih tinggi daripada sekadar meluruskan manzhab Ta’limiyyah.

Parameter-parameter timbangan Al-Qur’an pada dasarnya ada tiga: parameter ta’adul (ekuilibrium), talazum (ekuivalensi), dan ta’anud (kontradiksi). Ditambah parameter ekuilibrium yang dipetakan menjadi tiga, akbar (besar), awsat (tengah atau medium), dan asgar (kecil), jadi kalau dihitung semua ada 5 parameter. “Dan jangalah kamu tergesa-gesa dengan Al-Qur’an sebelum disempurnakan pewahyuannya kepadamu, dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu pengetahuan.” (QS. Taha: 114)

Ketika si Fulan semakin paham, ia malah mendukung beberapa argument Ghazali. “Saya tahu sekarang, mengapa orang-orang berbeda pendapat. Mereka tidak mencerdasi kerumitan-kerumitan ini sebagaimana Anda mencerdasinya, sehingga ada yang salah dan ada yang benar.”

Maka dijawab dengan bijak, “Seyogyanya kita tidak mengingkari, dalil-dalil Al-Qur’an, meskipun kita melihat sisi-sisi keraguan pada premisnya, sebab dalil-dalil tersebut, memberikan api penerangan tersendiri bagi orang-orang yang mengakui. Anda bisa belajar menimbang yang betul dan memenuhi syarat. Maka setiap kali ada permasalahan, Anda bisa menimbangnya dengan parameter, lalu mencerdasi syarat-syaratnya dengan pemikiran yang jernih dan jerih payah yang cukup, maka pikiran Anda akan terbuka.”

Lalu Fulan melanjutkan, “Seorang imam yang bisa dianut haruslah memiliki mukjizat atau berargumentasi dengan nass (teks suci) yang turun temurun dari nenek moyangnya. Lalu dimanakah teks suci dan mukjizat Anda?”

Dijawab, “Ketahuilah bahwa orang yang bisa disebut ‘iman’ adalah orang yang belajar dari Allah dengan perantara Jibril. Ini jelas tidak bisa kuklaim untuk diriku. Tapi saat ada yang bilang, ‘Saya hapal Al-Qur’an’ ada tiga orang, mana yang paling kamu percaya? “Buktinya saya akan membaca Al-Qur’an tanpa mushaf.” Saya pikir Anda tahu pasti mana di antara bukti-bukti itu yang paling jelas bagimu, dan mana yang paling bisa dibenarkan.”

Manusia terdiri atas tiga kelompok: pertama, awam, kalangan bodoh yang selamat penghuni surga. Kedua, khawwas (elit), kalangan intelegensia. Dari kalangan inilah muncul kelompok ketiga yaitu pakar debat dan korius yang mengorek-orek kerancuan paham dalam Al-Qur’an untuk menyalakan fitnah. “Agama memiliki susul (wilayah prinsipil, dasar) dan furu (wilayah sub divisi, cabang), dan friksi perbedaan sama-sama ada dalam keduanya…”

Manusia tidak dibebani untuk salat dengan baju suci, melainkan memakai baju yang mereka sangka suci. Manusia tidak dibebani salat menghadap ke kiblat, tapi dibebani untuk salat yang disangka menghadap kiblat dengan pedoman gunung, bintang, matahari.

Kebanyakan penghuni surga adalah orang bodoh, sementara surga-surga illiyyin diperuntukkan untuk para cendekia. Sementara orang-orang yang suka mendebat ayat-ayat Allah, mereka menghuni neraka dan Allah bertindak dengan kekuatan bagi orang yang tidak bisa ditindak Al-Qur’an.

Buku mungil yang nyaman dan layak dikoleksi. Karena sistem dialog maka, muncul perdebatan dan pelurusan. Penyampaiannya juga harus mudah dipahami orang awam. Jika yang satu mampu meragukan (dan melemahkan) argumentasi yang lain maka konsklusinya harus ia terima. Yang diajarkan di sini, bagaimana cara menimbang hal rasional dengan bersandar pada manqul (tekstual) agar ujaran yang ada menjadi mudah diterima. Penalaran dan analogi. Dan terpenting, bila masih ragu juga, nasehatnya jelas. “Ambillah ilmu pengetahuan dari orang yang melalangbuana, mengenal dan meneliti. Serahlah diri Anda pada orang pakar.”

Neraca Kebenaran | by Al-Gazali | Penerbit Pustaka Sufi | Alih bahasa Kamran As’ad Irsyady | Penyunting Sabrur R. Soenardi, Pahrurroji M. Bukhori | Desain sampul A. Sobirin | Tata letak Ataya | Pracetak Abdullah, Rudi Parlin | Cetakan pertama, Januari 2003 | Pencetak Futuh Printika | xvi + 120; 12×18 cm | ISBN 979-97400-0-2 | Skor: 4/5

Karawang, 050722 – 150722 – 210722 – Maroon 5 – Sugar

Thx to Ade Buku, Bandung

Love is Wine: Talks of a Sufi Master in America

“Kedua budakku yang menjadi tuanmu adalah amarah dan tamak.” Kata sang Darwis.

Buku teragung di alam dunia ini adalah hidup ini sendiri. Baca, baca, bacalah, dan ulangi sekali lagi. masa lampaumu adalah bagian terbesar dari buku itu. Buku-buku Tasawuf memang sedang gandrung kubaca, efek menikmati Dimensi Mistik dalam Islam-nya Annemarie Schimmel. Nah, kali ini kita ke seberang Benua. Di Amerika yang asing, seorang guru sufi Syaikh Muzaffer Ozak. Nama asing bagi yang tak mendalami genre ini, tapi ia memang pahlawan sebar Islam di dunia Barat. Bila seseorang benar-benar mencintai Tuhannya, maka Dia akan menuntun tiap episode kehidupan si hamba menjadi semakin dekat pada-Nya, melalui jalan-jalan yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Cinta bagai Anggur bagus banget, banyak menukil kisah-kisah, diselingi humor dan segala adat Islam, tentunya humor sufi. Beberapa terasa kebetulan, padahal ada Tangan Allah yang mengayunkan nasib manusia. Jelas rekomendasi tinggi, beruntung saya mendapatkan anggur ini, beruntung menikmati manisnya tiap teguknya. Agama mengatakan tiadalah yang dapat menghalangi seorang hamba dengan Rabb-nya selain dari dosa yang menggelapkan qalb seorang manusia, yakni rasa, karsa, cipta dan karya yang tidak sesuai dengan kehendak Ilahi; dan tidak ada dosa itu melainkan karena manusia gaga; meredam keinginan syahwatnya atau ia mengikuti kehendak (mempertuhankan) hawa nafsunya.

Buku disarikan oleh sang murid Syaikh Ragip Frager. Ia mengkompilasi apa yang ia terima dari snag guru. Manusia pada awalnya berasal dari ‘sisi’ Allah Ta’ala, di sanalah ia mengenal Ar-Rahman, kemudian dia diturunkan ke dunia ini dalam tiga kegelapan: yaitu Rahim ibu, jasadnya sendiri, dan dunia yang ‘memenjarakannya’. Lalu manusia di dunia ini bergerak mencari Dia yang telah menawan qolb-nya, Keindahan (dengan ‘K’ capital yang berarti Keindahan Ilahiyah) yang mengendap di dalam kesadarannya.

Buku sufi, di mana pun akan banyak menukil para sufi dan nama Ibnu al-‘Arabi ra ada di urutan papan atas, beliau berkata: “Ketahuilah bahwa sesuatu yang dikenali dapat dibagi ke dalam dua macam. Macam yang pertama dapat didefinisikan, dan macam yang lain tidak dapat didefinisikan. Cinta…” begitu juga Rumi, “Apakah Cinta itu? Dahaga yang sempurna. Kemarilah, akan aku jelaskan tentang air kehidupan.”

Ada empat cara untuk menuju keyakinan: Jalan pengetahuan, pemandangan akan sesuatu, berada di dalam sesuatu, dan menjadi (bagian dari) sesuatu. Ibrahim berkata, “Tuhanku adalah yang mengubah segala sesutau dan mengembalikannya. Tuhanku adalah Sesuatu yang berada di balik segala perubahan.”

Membagi dalam 12 bab yang keseluruhannya merupakn dasar-dasar tasawuf. Hanya dengan pengetahuan tentang dirimu sendirilah engkau akan mengerti tentang sifat-sifat tertentu. Hubungan kepada sifat adalah melalui pengenalan diri sendiri/ di luar itu, engkau tidak akan menemukan apapun. Karunia Tuhan sering datang kepadamu melalui tangan orang lain, lewat hamba Tuhan. Maka, Cinta Ilahiyah juga mengekspresikan dirinya di antara manusia.

Ingat sekali saya, akan kefanaan dunia yang pernah dibeberkan panjang di buku Dimensi Mistik. Di alam yang akan datang engkau akan berada bersama-sama dengan mereka yang engkau cintai. Maka bagian mimpi menurut saya adalah bagian terbaik. Pepatah lama, Ada dua jenis mimpi bermakna. Yang pertama adalah mimpi yang benar dengan kandungan pesan literal. Kedua adalah mimpi simbolik yang butuh penafsiran. Ketika jenjangmu berubah, maka kewajiban-kewajibanmu berubah, dan berubah pula doa-doamu.

Saat kita tidur, nafs keluar dari jasad, tanpa kehilangan hubungannya dengan jasad, seperti cahaya yang keluar dari senter. Di dalam diri seseorang terdapat tujuh tingkat najs yang berbeda, yakni nafs bersifat mineral, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, malaikat, rahasia, dan nafs yang bersifat rahasia dari rahasia. Memang sulit untuk berpikir dalam bahasa simbolik yang kita temukan dalam mimpi dan wahyu. Pengalamnmu tentang realitas bergantung kepada jenjang maqam atau kesucian dari nafsmu. Sesungguhnya, engkau benar-benar sedang tertidur di sini. Apa yang engkau lihat di dunia ini adalah sebuah mimpi. Saat kematian barulah engkau akan terbangun dan melihat realitas.

“Bersihkan mukamu, dan jangan sibuk menyalahkan cermin.”

Pada tingkatan seperti kita sekarang, seringkali kita tidak langsung menerima undangan dari Allah. Kita sering menunggu, mempertimbangkan dan merenungkannya. Apakah engkau harus keluar dari kebenaran untuk melihat suatu kebenaran? Mungkin Allah Al-Haqq, suatu saat akan menampakkan kebenaran-Nya kepadamu.

Pertanyaan keberadaan Tuhan juga diulas pandang lebar. Pengalaman tentang Dia, datang dari qalbmu sendiri. Tuhan akan muncul kepadamu sesuai dengan potensimu, sesuai dengan kapasitasmu. Dan pengalaman setiap orang berbeda-beda.

Begitu pula kesederhanaan hidup orang-orang terpilih. Nabi Isa as, pada akhirnya, hanya ada dua buah benda yang dimilikinya sebatang sisir yang biasa ia pakai untuk menyisir jenggotnya, dan sebuah gelas yang dipakainya untuk minum. Dan saat melihat orang yang menyisir dengan tangan, minum dengan tangan, ia pun membuang keduanya. Selama engkau tidak menceraikan dunia dan keduniawiannya, engkau tidak akan pernah bertemu dengan Tuhanmu. Kefakiran material bukanlah inti persoalannya. Mereka hanya mengekspresikan kehendak Allah.

Para pemegang kuasa di dunia, materi selalu melekat. Apabila engkau menjadi seorang penguasa di alam dunia ini, orang-orang tidak selalu puas atau sepakat dengan pengaturanmu. Menatap saja tidaklah cukup, engkau harus melihat. Mendengar saja tidaklah cukup, engkau harus memahami. Kerajaan, kekayaan dan kekuasaan, busana dan gelarnya merupakan hijab-hijab di antara dia dan Tuhannya.

Baiklah, saya kutip beberapa kalimat bagus yang ada di buku ini sebagai rekap. Yang jelas sungguh rekomendasi dinikmati.

Bagaimana pun juga engkau harus merasakan penderitaan dan kesakitan dari alam dunia ini agar meningkatlah tingkat kesucian nafsmu.

Orang-orang yang mengalami ujian yang paling berat adalah orang-orang yang dicintai Allah – para nabi, wali dan mursyid. Mereka adalah simbol kemanusiaan yang nyata, yang tugasnya adalah untuk menunjukkan kepada yang lain tujuan kita di bumi.

Tidak mungkin aku menerima apapun dari seseorang yang selalu mengharap lebih banyak.

Ibrahim bin Adham ra menjawab, “Qalbmu mati karena sepuluh keburukan. Allah tidak menerima doa dari orang yang mati qalbnya.”

Pada dasarnya, mimpi adalah informasi yang berasal dari pengetahuan Ilahiyah yang terkandung pada kitab induk, yang terefleksikan pada layar yang dibaca nafs ketika kita tidur. Penafsiran mimpi adalah sesuatu yang mungkin bagi mereka yang memiliki intuisi dan kearifan, dan bagi orang-orang yang menerima anugerah kemampuan untuk memahaminya.

Ia mencoba membuat kita bingung, melahirkan keraguan dan membuat kita takut untuk memenuhi kehendak-Nya.

Ibadah haji, seluruh jamaah pergi ke Mina dan di sana melemperakan batu kea rah tiga buah pilar. Di sanalah, dahulu Nabi Ibrahim as mengorbankan Nabi Ismail as. Ketiga pilar itu mewakili ketiga penolakan terhadap syaiton oleh Nabi Ibrahim as, Siti Hajar ra, dan Nabi Ismail as. Kepada setiap pilar, tujuh buah batu dilemparkan, mewakili penolakan jamaah haji atas tujuh kualitas yang buruk, yaitu: egois, sombong, munafik, iri, amarah, dan tamak.

Kita diminta untuk mengorbankan bagi Dia apa-apa yang sering kali paling kita cintai – ketertarikan kita pada dunia, kebiasaan-kebiasaan kita, kepongahan kita. Para Pecinta Allah sering menemukan bahwa sekali mereka mampu utnuk melepaskan apapun selain Tuhan, maka mereka memperoleh segalanya – kelimpahan yang bersifat material maupun spiritual.

Apakah awal mula dari kearifan? Jawab Hussain, “Permulaan kearifan adalah meminta pertolongan Tuhan atas segala sesuatu.” Bukan, bukan itu. “Kalau bukan itu, mengucapkan Bismillahirahmanirrahiim.” Tidak, bukan itu. Awal dari kearifan adalah sabar.

Keselamatan terletak pada pembelajaran dan pengalaman hukum-hukum Syariah dan ajaran pensucian nafs.

Latihan olah jiwa tanpa pengetahuan adalah ibarat sebuah taman yang terbuka. Ia mungkin saja menghasilkan buah-buahan dan bunga-bungaan, tetapi tidak ada yang akan mencegah masuknya hewan liar yang melahap buah-buahan dan merusak bunga-bungaan….

Membersihakn aspek lahiriah jauh lebih mudah dibandingkan membersihkan aspek batiniah.

Si Iblis mempunyai semua kualitas yang dimiliki manusia, kecuali satu hal. Iblis tidak mengenal Cinta. Cinta tidak diberikan kepada Iblis. Cinta dikhususkan bagi Adam as.

Teman-teman yang baik membawa perilaku baik,s edangkan teman-teman yang buruk membawa kepada dosa.

Jika engkau sungguh-sungguh ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan burukmu, ubahlah teman-teman di sekitarmu. Yang terpenting berdoalah pada Tuhan untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut. Jangan menyangka bahwa engkau;ah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah sebuah rahmat dari Tuhan. Demikian pula kemampuanmu untuk berbuat menindaklanjuti rasa taubat itu. Jika engkau ingin menjadi orang yang baik, carilah orang-orang yang baik. Jika engkau ingin mencintai-Nya, beradalah bersama mereka yang mencintai-Nya.

Malaikat dan iblis yang lahir dari tindakan kita adalah refleksi dari malaikat dan iblis yang sebenarnya. Itu adalah sebuah tanda bahwa yang menyesatkanmu adalah kata-kata pada lisanmu, inilah racin dari iblis. “Aku akan menggoda mereka dari muka mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka dan dari kiri mereka.”

Jelas makin suka baca-baca buku tentang tasawuf, nama-nama sufi juga menjadi andalanku berburu buku tiap bulan. Saat ini sudah lumayan banyak yang berjejer di rak, dan rasanya akan makin panjang. Sejajar dengan buku-buku filsafat, sosiologi, psikologi, atau bahkan buku-buku politik. Berbagai genre kulahap semuanya.

Kalau dulu saya sering makan fiksi, dua tiga tahun terakhir sudah sangat luas dan bebas. Lebih beragam dan meliar. Semoga ini menjadikan kita makin mencintai-Nya. “Aku mengenalimu berdasarkan tiga jenis pengetahuan. Pertama pengetahuan tentang Syariah, hukum yang telah Tuhan berikan pada kita melalui Nabi-Nya. Kedua adalah pengetahuan tentang ilmu ketuhanan. Ketiga adalah pengetahuan tentang shufisme…”

Cinta Bagai anggur | by Syaikh Muzaffer Ozak | dikompilasi oleh Syaikh Ragip Frager | Diterjemahkan dari Love is Wine: Talks of a Sufi Master in America | Terbitan Threshold Books, 1987 | ISBN 979-96153-0-5 | Penerbit PICTS, Bandung, Juli 2000 | Cetakan kedua, September 2000 | Penerjemah Nadia Dwi Insani | Penyunting Herman Soetomo | Desain sampul MIMESIS Design | Tata letak Deden Himawan | Pracetak Irawan Barnas, Muhammad Sigit Pramodia, Alfathri Adlin, Zaenal Muttaqin, Pepi Saepudin, Kurniasih, Iwan Suryolaksono | Skor: 5/5

Karawang, 200821 – Ida Laila & Mus Mulyadi – Setelah Jumpa Pertama

Thx to Ade Buku, Bandung