The Hunt: Maka Marilah Merenungkan dengan Jernih Perasaan Setiap Orang

Lucas: “Tatap aku! Apa yang kau lihat? Apa yang kau lihat? Tak ada apa-apa. Apapun. Jangan ganggu aku.”

Di tengah-tengah perjalanan hidup ini, aku mendapati diriku di sebuah hutan lebat; aku tersesat. The Hunt adalah film untuk para penyabar dan para simpatisan kasih sayang. Ini tentang guru Taman Kanak-kanak yang kena fitnah pelecehan seksual anak. Seorang pemburu yang kena apes bertubi, sebab ia memang tak melakukannya. Senapannya menyalak balik dengan sungguh keras. Ia kena penghakiman warga. Kasus pencabulan anak jelas kasus kelas berat. Ia dikucilkan, dihujat, dihajar (dalam arti nyata), diredam lumpur terdalam. Bak pendosa dalam lapis paling hitam. Bahkan anjing keluarga bernama Fanny, teman berburunya dibunuh. Begitulah, tak di Indonesia tak di Eropa, apalagi Zimbabwe; fitnah memang luar biasa kejam gemanya.

Kisahnya bermula di bulan November yang dingin, bapak-bapak sedang lompa terjun ke danau demi kesenangan dan uang taruhan. Lucas (Mads Mikkelsen) tampak menikmati har-hari, ia duda anak satu. Anaknya Marcus (Lesse Fogelstrom)  tinggal bergantian sama mantan istrinya, ada kedekatan di antara anak-ayah ini; dalam sebuah adegan yang bisa mencipta anak sungai air mata, Marcus membela dengan membabi buta atas keyakinannya. Seorang guru TK yang dekat sama anak-anak, wajar juga dekat dengan segala lapisan warga. Apalagi ia tampan, dan hidup terasa sempurna bersama orang-orang dalam kasih, dalam rutinitas. Pedesaan Taastrup di Denmark yang tenang nan menghanyutkan. Kesenyapan jalanan di Gereja Hoje Taastrup yang dipagari pohon-pohon elm menuli. Ini rutinitas yang jamak untuk hati yang tenteram, tak heran Lucas dengan kekuatan supernya bersikukuh tetap tinggal.

Hingga suatu hari, seorang anak didik Klara (Annika Wedderkopp) bercerita kepada gurunya bahwa alat kelamin Lucas keras dan pernah memperlihatkan padanya dibeberkan. Satu klik yang mencipta gelombang kolektif, sebab dari menit inilah Hunt menjadi liar. Kasus ini menjadi besar dan semakin meluas bak api kena daun kering. Menjejakkan langkah pertama ke adegan pengungkapan, mencipta gemetar dan gelisah.

Guru-gurunya melakukan rapat, para orangtua/wali murid diajak urun rembug untuk memutuskan bahwa ini harus dibawa ke ranah hukum. Orangtua Klara, Theo (Thomas Bo Larsen) yang merupakan sahabat dekat Lucas melakukan apa-apa yang memang harus dilakukan untuk melindungi putrinya.

Marcus turut menjadi korban, ia juga dikucilkan warga akibat fitnah dosa ayahnya. Bahkan di sebuah swalayan, ia mendapat ancaman untuk disampaikan ke ayahnya agar tak berbelanja di situ lagi. nantinya Lucas kena hajar akibat nekad, tapi ia memang punya harga diri. Kaca mata boleh pecah, muka boleh berdarah, yang jelas ia wajib meninggalkan toko dengan berdiri tegak.

Lucas lalu diamankan polisi, interogasi yang menentukan besok untuk bebas atau ditahan sementara. Marcus komplain ke rumah Klara, malah dapat bogem mentah karena merasa mengintimidasi. Keadaan rumit dan runcing, pada sumbu pendek semua. Marcus mengumpat balik dengan keras, walau ekpresinya mengangguk sedih, tetapi jelas keyakinan di wajahnya tidak menghilang: ayahnya tak bersalah. Benar saja, saat kepolisian memutuskan bebas, intimidasi tak berhenti.

Fanny dibunuh setelah jendela rumahnya dilempar batu. Marcus dipindahkan ke rumah ibunya. Lucas menghadapi pengadilan sosial langsung oleh tetangga, sahabat-sahabatnya, rekan kerja, dst padahal sudah dilepas merdeka dan tak bersalah. Hingga suatu malam Natal, di Gereja Lucas nekad datang dalam misa, terjadi rusuh akibat kemarahan yang lama dipendam. Darah dan kata-kata meluap bersamaan.

Harus ada yang bertindak, harus ada yang meluruskan. Kita harus mengambil tindakan agar tidak menyesal kelak di kemudian hari, demi persahabatan, demi keadilan. Tak lain, yang berdiri tegak itu adalah ayah Klara, setelah kena damprat, ia datang langsung ke rumah Lucas, membawa makanan dan sebotol bir, dan menyajikan kata-kata maaf yang tertunda sekian lama. Saat waktu direntang setahun, kita tahu keadilan orang baik itu masih ada, setidaknya masih ada harapan. Hingga akhirnya dalam perayaan usia dewasa Marcus, ia mendapat senapan berburu dari bapaknya, senapan yang juga dari kakeknya, dan kakek buyutnya, kini ia diwarisi tradisi itu. Perasaan lega kolektif. Namun sekali lagi, benarkah hal-hal yang abu-abu itu sudah diputihkan? Setidaknya kunjungan Theo ini perlu dirayakan. Laiknya mengocok botol-botol anggur paling langka dan keras.

Apa yang bisa aku ulas? Tak banyak, tonton saja dan buktikan. Ceritanya hanya berkutat di desa asri dengan orang-orang yang semestinya damai dan saling menghormati. Pace-nya lambat, sungguh lambat, setrika bolak-balikku bahkan terasa lebih cepat dan ritmis. Menit digulirkan dengan tenang seolah aliran air dalam selokan dalam. Gaya filmnya menjulang seturut temanya, dan mengembang laiknya air pasang dan alurnya yang berpanjang-panjang menggugah penonton, mengalirkan keraguan dan kekhawatiran. Kehidupan warga yang damai, hanya sesekali muncul meriah festival: adegan di toko, adegan di Gereja, adegan di rumah Theo, adegan ‘door!’ di ujung. Apalah arti empat adegan ini jika dibanding dua jam duduk melotot. Bahkan setrika bajuku, jauh lebih panas ketimbang baku hantam yang ditawarkan. Insiden fantasi Klara sejatinya adalah picu, dan seharusnya bisa diredam saat putusan sudah dipalu. Namun itulah manusia, hukum sosial memang berbuntut panjang dan sangat keras. Ada kekesalan, ada kemarahan kolektif, bahkan setelah setahun berselang. Padahal sepanjang film kita tahu, dan yakin Lucas tak salah. Mungkin di tengah film kalian masih ragu, tapi jelas aku dengan percaya diri bilang dia orang baik. Apa buktinya? Banyak sekali, bertebaran sepanjang film. Kalau orang normal saat dipojokkan, dihujat, bahkan dipukuli para tetangga, paling mengepalkan tangan balik dan ujung bisa jadi paling pindah; atau yang keras bisa malah membalas brutal atas perlakuan tak menyenangkan. Namun tidak, Lucas adalah sosok istrimewa. Ia memperjuangkan haknya, ia meyakini bahwa apa yang benar harus dijunjung. Sebuah fakta sederhana: hidup adalah pertaruhan.

Sempat terbesit pula dalam pikiranku, andai Lucas habis sabar apakah ia akan mengangkat senjata membalas orang-orang yang menyakitinya. Sebab tampang Mads Mikkelsen memang cocok jadi penjahat, image villain Bond dalam Casino Royale selalu membekas di otakku, atau jadi pemimpin penjahat dalam Dr. Strange yang itu. Namun balik lagi, di sini ia jadi guru TK yang baik hati dan tidak sombong. Hunt mengangkat tema umat manusia, bukan seorang manusia. Bisa jadi ini kisah hidup Lucas, tapi jelas ini tentang kehidupan manusia yang beragam.

Satu klu istimewa kenapa Klara menyampai kebohongan kecil itu, kita bisa tarik kesimpulan ia jatuh hati sama Pak Lucas. Lihat, ia lebih suka diajak jalan pas pulang sekolah sama dia ketimbang misal dijemput ibunya, atau saat ia dengan hati berbunga berkunjung mengajak Fanny jalan sore, ia bahkan meyakini sosok Lucas adalah ayah ideal. Maka akibat, fatamorgana kecil saat di laut perasaan, ia tergelincir.

Bohong kalau kalian tak merasakan simpati. Kita dihadapkan keadaan sesak nan memilukan. Seandainya aku memiliki seribu lidah, aku takkan mampu melukiskan penderitaan fitnah yang luar biasa ini. Gambaran utama Lucas yang teguh, melawan balik kepahitan hidup, dan sosok anaknya yang terus meyakini ayahnya tak bersalah, membela hingga titik maksimal. Dunia Hunt adalah dunia yang mungkin kurang ideal, tapi tetap mencoba adil. Endingnya membuktikan bahwa, sehebat apapun kamu mencoba membersihkan luka-luka keadaan, kamu tak kan bisa. Ada saja orang yang akan membencimu, bahkan sekalipun kamu suci bak malaikat. Inilah strukturasi gejala sosial, ekonomi, kultural, dan politik yang kemudian membentuk kondisi modernitas dunia kita. Dengki adalah anak kandung fitnah yang kadang bertanya, “dapatkah kita hidup di suatu dunia di mana tak ada apa pun juga yang kita anggap menghakimi?” Kalian yang semestinya menjawab.

The Hunt yang luar biasa, dapat kita simpulkan bahwa simpati adalah sebuah hadiah, maka marilah merenungkan dengan jernih perasaan setiap orang.

The Hunt | Tahun 2012 | Judul asli Jagten | Denmark | Directed by Thomas Vinterberg | Screenplay Tobias Lindholm, Thomas Vinterberg | Cast Mads Mikkelsen, Alexandra Rapaport, Thomas Bo Larsen, Annika Wedderkopp | Skor: 5/5

Karawang, 140921 – Cassandra Wilson – I’ve Grown Accustomed to his Face

The Hunt masterpiece, Terima kasih referensinya Om Lee

– Buds –

Rabbit Hole: Apa Obat Trauma yang Paling Mujarab?

Somewhere out there I’m having a good time.” – Becca

Rencana mau ambil film Jennifer Lawrence yang mengantarnya menang Oscar, malah keklik ini. Salah unduh film. Namun ga masalah, ternyata bintang Kidman masih sangat cemerlang di sini. Ternyata dia masuk nominasi best actress, kalah sama Black Swan di tahun yang sama. Tahun 2010, hhmm… berarti ini pasca serangan alien yang rumit itu. Masa masih merdeka, sepuluh tahun lalu. Kisahnya tentang trauma menghadapi kematian anak, rasa kehilangan itu menghantui keluarga kecil ini dari awal menit sampai benar-benar akhir. No debate, jelas sedih sekali, cara menata kembali keadaan itu sulit, sangat sulit, berdamai dengan kenyataan pahit, dan benda-benda lama yang selalu mengingat. Rasanya memang berat sekali, dan akting pasangan Eckhart – Kidman luar biasa. Duka kedua orang tua dan kandungan kepedihan di tiap tetesnya.

Becca Corbett (Nicole Kidman) dan Howie Corbett (Aaron Eckhart) menjalani hari dengan suram, film dibuka dengan Becca menata kebun, menampakan kandang anjing yang kosong, diundang makan malam tetangganya, menolak, mungkin suatu saat nanti. Howie pulang kerja, makan pancake bersama, dan malamnya mereka istirahat dalam keheningan. Waktu sudah berjalan sekitar delapan bulan, dan duka itu masih benar-benar menggelayuti. Putra tunggal mereka, Danny meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas di depan rumah saat mengejar anjing, Tex. Becca ingin membuang segala kenang Danny, Howie ingin memiliki anak lagi, istrinya belum siap. Keluarga ini sepertinya sudah akrab dengan duka, ibu Becca, Nat (Diane Weist) juga kehilangan anaknya karena overdosis. Namun Becca menolak disamakan. Kata Virginia Woolf Aku merasa kita tak mampu melewati satu lagi periode mengerikan itu.”

Lalu mereka bergabung dengan grup sharing is caring, yang berkumpul membentuk lingkaran, duduk kemudian bercerita. Berkenalan dengan keluarga Gabby (Sandra Oh), berpasangan. Para orang terluka ini berbagi kisah pilu, kehilangan anak, dan bagaimana mengatasinya. Becca ternyata ga klop, karena ada yang cerita kematian anaknya untuk menjadi malaikat Tuhan, ia menyanggah. ‘kenapa tuhan tak menciptakan saja malaikat lain?’ maka mereka keluar.

Suatu kali Becca bertemu dengan sosok yang mencipta kesedihan. Di jalan, ia tak sengaja melihat Jason (Miles Teller) di bus sepulang sekolah. Mengikutinya, memantaunya. Untuk apa? Entahlah. Ke perpustakaan mengembalikan buku, terlambat kena denda. Dan buku itu tentang dunia Pararel, Becca berniat meminjamnya. Kegiatan memantau Jason berlangsung terus, dan akhirnya kepergok. Mereka lalu duduk di bangku taman, bertukar kata. Maaf selalu jadi kata yang sulit ketika pilu menerpa. Maaf untuk saat itu karena berkendara terlalu kencang, maaf untuk segala hal yang telah lewat. Ia kini sedang membuat komik berjudul Rabbit Hole, saat ini belum usai. Baik, Becca berniat membacanya. Janji temu dan bertukar kata dengan pelaku kecelakaan ini berjalan tanpa sepengetahuan suami. Banyak cara untuk menyembuhkan hati.

Sementara Howie tetap mengikuti terapi sharing, berlarut. Dan suatu malam, Gabby bercerita telah ditinggalkan suaminya. Tanpa sebab yang jelas, tanpa info yang jelas, kabur saja. Begitulah, duka membuat manusia bertingkah serba aneh. Maka ia menghisap ganja di parkiran, Howie lalu bergabung. Pakai narkotika, bermain fun world lempar bola, tertawa bersama, bercengkerama. Kedekatan mereka menjadi rekat dalam. Sekali lagi, banyak cara untuk menyembuhkan hati.Becca yang masih trauma belum bisa bercinta, belum siap dan belum bisa program anak. Howie yang mendamba perubahan bersikap pening juga, entah bagaimana keluar dari aliran sedih ini. Lalu ide pindah rumah muncul, harus ada sesuatu yang diubah, maka rumah dijual, meninggalkan kenangan, mendesak masa lalu ke belakang, pakaian Danny, mainan, segala barangnya disingkirkan. Trauma ini harus dilewati bersama. Apa obat trauma yang paling mujarab? Banyak hal bisa dilakukan, setiap individu pasti berbeda penanganannya, film ini menggambarkan salah satu opsi. Sepertiga akhir yang luar biasa.

Jason tiba-tiba datang ke rumah memberi buku Rabbit Hole yang sudah jadi. Howie marah karena selama ini istrinya ternyata bertemu dengannya. Sementara Becca juga marah pada suaminya karena kegiatan menghisap ganja dilakukannya. Serasa impas, serasa menyedihkan. Pencarian makna hidup yang merekat, siapa salah? Pertengkaran membutuhkan dua orang yang saling peduli. Dalam eksekusi ending yang bagus banget di mana malam itu Howie keluar rumah untuk mengikuti sharing, malah ke rumah Gabby, perselingkuhan di ambang jadi. Tampak menggoda. Sementara Becca diam-diam berkendara ke rumah Jason, sudah rapid an dandan juga, walau tak betemu langsung, Becca yang menangis sejadi-jadinya, terlelap di mobil hingga pagi menjelang. Keduanya sama, butuh pelampisan duka. Inilah kisah sedih dengan kemuraman akut menyelingkupi, sepanjang menit, sepanjang kisah, selama satu setengah jam yang muram.

Segala-galanya ambyar. Karena suram adalah koetji maka Rabbit Hole jelas sukses besar menampil. Melimpah ruah kesedihan itu, sampai luber menjurus depresi dalam. Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah yang parah. Jason dengan tatapan duka, jelas berhasil diperankan bagus oleh Miller. Seolah memang serba salah, ilustrasi ciptanya memang memberi peranan penting akan keinginan dan khayal di dunia lain. Nicole Kidman jelas melakukan peran istri yang luar biasa, tangisnya di mobil sejatinya adaah luapan amarah dalam lelehan air mata yang menganak sungai seolah berteriak, ‘Tuhaaaan… kenapa kau ambil anakku?’ Tak kalah sangar akting Aaron Eckhart, mengimbangi kedukaan, menyelimuti kehampaan. Tak kecewa rasanya salah unduh film ini. Lubang Kelinci dengan ide kehidupan pararel, adakah jiwa kita juga ‘hidup’ dalam lingkup waktu di sisi sana? Duka juga ataukah, bahagia menggelayuti? Ending di taman usai pesta kebun itu sangat menyentuh, menatap langit biru dan bukan hanya mereka berdua yang laik bertanya, penonton juga turut mengajukan hal yang sama: ‘selanjutnya bagaimana?

Layar Rabbit Hole adalah ejawantah desahan yang penuh penderitaan dan kehilangan. Penderitaan itu semacam permainan ‘gebuki tikus tanah’ yang muncul sesekali lalu kita gebuki berturut dan semakin lama semakin cepat. Seperti itulah derita, setiap kita bisa mengatasi satu derita akan muncul derita lain, dan terkadang muncul raksasa tikus dalam artian kehilangan anggota keluarga terkasih. Hidup akan selalu bersisian dengan derita. Biarlah waktu menyembuhkan luka itu. Harapan dan kesabaran berdamai dengan keadaan. Mau gegas melakukan laiknya Howie atau tetap alon-alon, semua sama saja. Ini kisah pencarian obat duka, dan pemberian maaf atas segalanya. Mendorongmu terjatuh dalam lubang kelinci. Sabar, tawakal, iqtiar.

Hidup yang baik bukan berarti menolak penderitaan, yang sesungguhnya adalah menderita untuk alasan-alasan yang benar.

Rabbit Hole | Year 2010 | Directed by John Cameron Mitchell | Screenplay David Lindsay-Abaire | Cast Nicole Kidman, Aaron Eckhart, Dianne Weist, Miller Teller, Tammy Blanchard, Sandra Oh | Skor: 4/5

Karawang, 200520 – Bill Withers – Family Table