Rage Of Angels #8 – Sidney Sheldon #7

image

…Hai Cimon, beritahulah kami tentang tokoh-tokoh kejahatan yang tersembunyi…” | Nama-nama mereka mungkin pantang disebut nyaring karena akan menodai bibir karena mereka keluar dari kegelapan yang kotor dan menyerang surga, namun mereka terusir oleh amukan para malaikat…” – dari Dialoges of Chios

Ini adalah kisah yang saaaangat menyentuh, tentang seorang wanita tangguh dalam menghadapi kerasnya dunia pengadilan. Dunia pengacara tipu sana-sini, berkat buku ini saya jadi tahu betapa busuk dunia hukum betapa seluk beluk proses peradilan menjadi begitu memikat. Banyak buku sudah berkisah tentang sidang pengadilan dan ditulis dengan membosankan. Ini lain. Ini buku istimewa dan saya jadikan acuan betapa beruntungnya saya telah membacanya sehingga detail sidang jadi tahu, benar-benar buku yang bervitamin. Beberapa bagian akan membuatmu menangis karena ada karakter penting dimatikan dengan sangat menyentuh. Beberapa bagian akan membuatmu bersimpati akan kerasnya kehidupan dunia ini. Beberapa bagian pastinya akan membuatmu mengutuk ketidakadilan yang terjadi. Serba serbi perasaan ini dibuat dengan sangat memikat. Kekurangan utama kisah sang malaikat keadilan, eksekusi ending yang dramatis itu seakan ingin membuat semua Pembaca bahagia. Menurutku harusnya tetap membumi saja, mau respon apapun lebih bagus apa adanya.

Kisah sedari awal sudah memcoba mengecoh pembaca. Dengan setting New York, 4 September 1969. Sebuah sidang akan digelar dengan terdakwa seorang mafia kelas kakap. Gedung pengadilan kriminal di pusat kota Manhattan, ruang sidang nomor enam belas. Michael Moretti adalah seorang kriminal yang sudah lama diincar, kini kesempatan emas untuk menjebloskannya ke dalam penjara terbuka lebar karena sebuah kasus pembunuhan. Yang penuntut adalah Robert Di Silva, jaksa negeri senior yang sudah malang melintang yang berambisi suatu hari kelak akan ada kesempatan menduduki jabatan penting Pemerintah. Garisnya adalah Camillo Stela, anak buah Michael yang tertangkap basah dalam suatu pembunuhan sehubungan kasus perampokan. Camillo ditunjuk sebagai saksi, kunci perkara ini. Nah di sidang kelima muncullah asisten jaksa, di hari pertama itu Jennifer Parker lulusan hukum terbaik bersama lima anak muda lainnya. Hari itu sedari pagi ternyata berjalan buruk buat Parker, alarm jamnya tak berbunyi sehingga bangun dalam ketergesaan. Lalu kuncinya tertinggal di dalam ketika ia sudah siap berangkat, rencana naik bus sesuai kondisi keuangannya eh ga sempat akhirnya terpaksa taksi dimana sopirnya cerewet, nggambleh terus betapa kiamat sudah dekat. Sampai di gedung pengadilan, ia terlambat lima belas menit membuat kesal orang-orang. “Saya tak peduli maafmu itu. Jangan pernah terlambat lagi!”

Saya tahu mengapa kalian di sini. Anda sekalian akan tetap di sini sampai kalian berhasil menjiplak otak saya dan mempelajari beberapa rahasia ruang sidang, lalu bila kalian merasa sudah siap, kalian akan pergi dan menjadi pengacara kriminal yang hebat. Tetapi mungkin ada salah satu di antara kalian – barangkali – yang cukup pandai untuk menggantikan saya kelak.” Di Silva mengangguk memberi isyarat kepada asistennya, “Ambil sumpah mereka!”

Jennifer Parker sudah mempelajari pekerjaan ini di rumah. Dia tahu bahwa kejaksaan negeri membawahi empat biro – pengadilan, perkara banding, pemerasan, penipuan – Parker adalah seorang lulusan fakultas hukum dengan status terbaik kedua. Cerdas dan percaya diri diapun memasuki ruang sidang. Dan di sinilah kehebatan Sidney dalam menyusun plot. Mencengangkan. Luar biasa indah detailnya dipetakan. Setelah dengan kepercayaan diri tinggi Parker dihempaskan, dari seorang lulusan mahasiswi terbaik dengan masa depan gemilang menjadi pecundang hanya dalam dua halaman. Dia ditangkap, diborgol dan diringkus layaknya seorang penjahat. Pagi buruknya terus berlanjut.

Kejadian itu benar-benar mengguncang Parker – dan pembaca tentunya – sehingga diapun dipecat bahkan belum genap sehari berjalan. “Saya mungkin bersalah karena saya bodoh, tapi hanya itulah kesalahan saya. Tak seorang pun menyuap saya berbuat sesuatu…” Beberapa televisi menurunkan berita dengan headline ‘Parker Yang Salah Langkah’.

Setelah kejadian mengerikan itu kita pun diajak mengenal lebih dekat Jennifer Parker. Tentang latar belakangnya dari keluarga yang taat dan kemauan kuat sang ayah untuk kuliah di hukum, sayang ayahnya keburu meninggal. Ibunya kabur dengan wanita muda yang membuatnya marah. “Wanita jalang!” seumur hidup dirinya akan membenci wanita perusak keluarga. Nantinya itu akan jadi ironi hidupnya. Merangkak dari bawah untuk bertahan hidup di kerasnya kota New York. Bangkit dari keterpurukan. Membalikkan prediksi banyak orang yang bilang karirnya habis sebelum benar-benar dimulai. Parker awalnya bak malaikat. Membantu orang-orang kecil menyelesaikan perkara, bahkan banyak yang tanpa dibayar. Dirinya benar-benar tulus membantu. Berjalannya waktu diapun mulai terkenal. Dengan kegigihan dan kerja keras, kemenangan demi kemenangan perkara diraih, membuatnya melambung. Dari membuka lembaga bantuan hukum kecil sewa ruko, kini dirinya menjelma menjadi asosiasi yang besar. Suatu ketika bahkan akhirnya dirinya berhadapan dengan Di Silva, mentornya dan Jennifer yang sekarang bukanlah Jenni lugu yang dulu. Semua perkara dilibasnya tanpa ampun.

Nah dengan kecantikan dan kecerdasannya, banyak pria mendekat. Seorang politikus bermasa depan cerah, Adam Warner. Mereka saling membutuhkan, saling mencinta. “Jadi kita akan makan siang bersama satu kali sebulan. Itu tak kan merugikan siapapun.” Jenni salah. Adam sudah menikah, walau pernikahan mereka hambar tapi tetap saja status Adam adalah suami orang. Seperti yang saya sampaikan di depan, inilah ironi. Jenni mengutuk ibunya yang kabur bersama pria lain meninggalkan ayahnya dalam penderitaan. Kini dirinya malah jadi penggangu rumah tangga orang. Seperti yang bisa ditebak, mereka saling mencinta. Apalagi yang bisa diharapkan ketika sepasang manusia saling mendamba, saling memuji, saling menginginkan. Akhirnya suatu siang kala mereka makan di hotel, magnet cinta itu melekatkan mereka ke tempat tidur. Penuturannya sadis, bergelora, khas Sidney.

Bencana datang, Jenni hamil. Adam merayu, “Apapun yang terjadi, aku ingin kau tahu satu hal – kaulah satu-satunya wanita yang kucintai dengan setulusnya.” Weleh gombal. Saat itulah rasa sakit itu datang. Jenni menuntut Adam menikahinya. Merekapun bertemu dengan Mary Beth, istri Adam. Dengan dingin Mary mengizinkan, namun ternyata semua berjalan kacau. Adam sedang menuju puncak karir politik, perceraian akan menghancurkan citra. Segala siasat dibuat Mary, Jenni kelimpungan antara maju terus atau mundur dengan posisi berbadan dua. Keputusan diambil, perceraian akan dilakukan pasca pemilu Senator agar suara Adam tak rusak.

Jennifer merasa kasihan pada Adam, karena dia tahu betapa besarnya arti pemilihan itu bagi Adam. Tapi lama-lama tentu Adam akan lupa juga. Ia akan mencoba lagi kelak, dan Jennifer akan bisa membantunya. Adam masih muda. Dunia terbentang di hadapan mereka berdua. Di hadapan mereka bertiga. Well, sekali lagi Jenni salah. Salah besar. Kejutan itu membuatnya shock, membuat pembaca kaget setengah mampus. Segalanya amburadul.

Dalam keterpurukan itulah seseorang membantunya. Hidupnya dibayangi dua orang pria. Keduanya orang hebat dan keduanya amat mencintainya. Adam sang senator dan kepala mafia, satu-satunya tempat berpaling dalam keadaan krisis. Bagaimana akhir kisah Jennifer Parker ini? Sidney benar-benar membuat pembaca mabuk kepayang untuk terus membuka lembar demi lembar penuh tanya. Sampai kalimat terakhir berbunyi, “Namun masa lalulah yang tampak olehnya, dan dia mencoba mengingat-ingat kapan masa bahagianya berakhir.”

Buku ini nyaris sempurna. Ya, nyaris. Di antara puja-puji itu ada dua hal yang mengurai skor sempurna itu. Pertama fakta hasil pemilu agak berbelok dari kisah ini sehingga sedikit menggangu. Kedua eksekusi endingnya sedikit tergesa ketika Jenni bimbang diantara pilihan sulit. Harusnya Sidney berani membuat pilu seperti eksekusi berani mematikan karakter penting di tengah. Walaupun keberanian mematikan sang tokoh itu suatu ketika mendapat protes pembaca karena sungguh kejam, tapi memang itu salah satu keberanian dalam memacu andrenalin penikmat novel.

Dalam biografinya, The Other Side of Me, Sidney menulis: Dalam Rage of Angels aku membiarkan seorang mati dan aku mulai menerima surat bernada benci. Seorang wanita menyuratiku dari timur memberiku nomor telepon dan berkata, “Teleponlah aku, aku tidak bisa tidur. Mengapa kau biarkan dia mati?” Aku mendapat begitu banyak surat serupa sehingga ketika aku mengerjakan miniserinya, karakter itu kuhidupkan.

Luar biasa ya. Betapa buku bisa mengubah banyak kehidupan. Bahkan di biografinya itu Sidney berujar, “Para perempuan telah memberitahuku bahwa mereka telah menjadi pengacara karena Jennifer Parker, pahlawan wanita dalam Rage of Angels!” Wow…

Malaikat Keadilan | By Sidney Sheldon | Diterjemahkan dari Rage Of Angels | copyright 1980 | Alih bahasa Suwarni A.S. | GM402 97.621 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kelima belas, Desember 2006 | 616 hlm; 118 cm | ISBN 978-605-621-6 | Buku ini dipersembahkan untuk Mary tercinta, ekajaiban dunia yang kedelapan | Skor: 4,5/5
#7/14 #SidneySheldon Next review: The Stars Shine Down

Karawang, 080616 – Nikita willy – Tafakur
#8 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Naked Face – Sidney Sheldon #2

image

Buku kedua Sheldon yang selesai kubaca di bulan ini. Setelah kurang menghentak di A Stranger in the Mirror buku kedua ini ternyata sama datarnya. Apakah ekspektasiku yang ketinggian? Dengan nada bombastis: Jago Cerita kelas dunia, lebih dari 200 juta eksemplar bukunya sudah beredar di pasaran dan diterbitkan dalam 73 bahasa di 100 negara, sebenarnya harapan tinggi yang kucanangkan seharusnya wajar.
Tentang dekektif. Mendengarnya saja sudah senang, saya suka semua buku Agatha Christie terlebih Sir Arthur Conan Doyle. Kisah-kisah detektif tiada duanya. Maka ketika di adegan pembuka, disebutkan sesorang dibunuh di tengah kerumunan lalu dua detektif menyelidikinya, saya langsung sumringah. Ada benang tipis yang menggelitik setiap baca kisah tebak sana-sini. Sayangnya untuk Wajah Sang Pembunuh, saya bisa menebak dan ternyata sampai halaman terakhirnya tebakan saya tepat. Sheldon kurang jeli menyembunyikan pelaku. Terutama sekali adegan di pemasangan bom di mobil korban, jelas itu blunder. Walaupun tebakan saya sudah tepat sejak awal, namun pas temuan bom mobil itu penegasan.
Kisahnya maju terus tanpa menengok ke belakang. Tentang seorang psikoanalis, Judd Stevens yang diburu. Dua orang dekatnya tewas dibunuh dengan sadis. John Hanson, pasiennya yang homoseksual suatu pagi ditusuk di punggungnya di tengah jalan yang ramai. Di bulan Desember yang dingin jelang Natal, John yang pulang dari terapi dengan Dokter Judd menyisakan tanya apakah motif sang pelaku? Hari itu juga datang dua detektif dari kepolisian setempat, McGready dan Angeli. Keduanya membawa jas hujan sang korban yang ternyata milik dokter. Judd bilang pagi itu jas hujannya dipinjam Hanson. Korban kedua muncul petang harinya, Carol Roberts sekretaris Dokter Judd dibunuh dengan keji di kantor saat dirinya sedang memberitahu keluarga Hanson. Saya justru mengapresiasi cara bercerita Sidney tentang latar belakang Carol yang runut enak dibaca. Carol adalah ramaja kulit hitam, seorang pelacur 16 tahun yang diselamatkan hidupnya. Disekolahkan, dididik untuk menata kesempatan kedua. Malam itu, akhirnya muncul kesimpulan bahwa target sesungguhnya adalah Dokter Judd. Hanson dan Carol adalah korban pembuka dan salah sasaran.
Paginya semua surat kabar memberitakan kasus ini. Lalu Judd menganalisis kemungkinan-kemungkinan pelaku. Dimulai dari para pasien. Pertama, Teri Washburn seorang wanita yang haus seks. Menikah berkali-kali, melakukan terapi untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Mantan bintang Hollywood yang pernah membunuh selingkuhannya karena selingkuh itu selalu menggoda Judd. Kedua Harrison Burke, pasien yang mengalami paranoid. Seorang wakil presiden sebuah Perusahaan besar yang merasa bahwa orang-orang di sekitar selalu mencoba membunuhnya. Dia selalu takut setiap interaksi dengan karyawan, kalut kalau-kalau ada orang akan menembaknya. Dia merasa dijegal sehingga ga bisa promosi jadi nomor satu. Ketiga  Anne Blake, pasien yang cantik. Judd jatuh hati pada istri orang. Suaminya seorang pengusaha kontruksi yang sukses, baru menikah 6 bulan. Setiap kebutuhan materi Anne terpenuhi, namun keadaan jadi janggal karena Anne yang datang ke kantor Judd tanpa buat janji, tanpa tahu masalahnya, tanpa detail profil dan selalu membayar cash setelah berobat. Bayar tunai yang memunculkan dugaan agar tak terlacak identitasnya? Masuk akal kan. Keempat Skeet Gibson, pelawak yang dicintai Hollywood. Pernah ke rumah sakit jiwa, hobinya berkelahi di bar-bar karena dia bekas petinju.
Melalui rekaman-rekaman percakapan pasien, Judd mencoba menelaah semuanya. Namun selain mereka muncul dugaan lain, bisa jadi detektif McGready sendiri yang melakukannya. Bisa jadi dia punya motif balas dendam karena pernah mengirim Ziffren ke rumah sakit jiwa. Ziffren adalah pembunuh partner McGready beberapa tahun lalu. Padahal bisa saja Ziffren dihukum mati, hal ini membuat marah McGready. Angeli juga perlu dicurigai, sebagai partner baru McGready tingkah lakunya ganjil. Sakit flu, izin ga dinas tapi ternyata keluyuran. Selain nama-nama itu, Dokter Peter bisa juga masuk pusaran, sebagai sahabat terbaik tentunya tahu seluk beluk dokter Judd. Peter dan istrinya selalu mencomblangkan Judd dengan gadis-gadis cantik agar Judd menikah lagi. Semua karakter bisa jadi tersangka. Kepada siapa Sheldon akhirnya menjatuhkan antagonis sesungguhnya?
Well, separuh awal kisah digulirkan dengan enak sekali. Detail-detail yang memanjakan mata, pengenalan karakter yang membuka imaji, sampai tatanan ruang kejadian yang asyik diikuti. Sayang sekali Sheldon terpeleset, sebuah kisah detektif akan jadi seru kalau bisa mengecoh pembaca. Kenapa Sherlock begitu memukau? Karena pola pikirnya yang out the box tak bisa diikuti kebanyakn orang. Dengan brilian diceritakan partner-nya dokter Watson, pembaca nyaris selalu berhasil ditipu. Di kisah Wajah Sang Pembunuh, Sheldon memaparkan kemungkinan-kemungkinan motif daftar karakter yang sayangnya tak ada back-up kemungkinan kedua sehingga pembaca dengan leluasa menebak tersangka dengan mudah. Lubang plot paling besar adalah mematikan karakter detektif Moody yang sebenarnya masih bisa berkembang, Sheldon dengan gegabah menceritakan rencana liburan Judd kemudian membatalkannya dengan gamblang seolah-olah menunjuk ini dia pelakunya.
Ending-nya sendiri akan lebih menarik seandainya dibuat sedih. Dokter Judd diburu sekaligus dirinya memburu, setiap detik berharga. Ketika akhirnya diungkap pelakunya lalu menuju klimak cerita, sayang sekali pelaku utama yang terdengar bengis dan cerdik justru berlaku konyol. Cara mengakhiri orang ketika ada pistol di tangan adalah tembak kepalanya dalam jarak dekat. Bukan malah ngerumpi seolah-olah ketemu teman lama yang ngajak ngopi. Keputusan Anne di kala genting juga penting untuk menentukan hasil akhir. Sangat disayangkan ini kisah happy ending.
Namun Sidney tetaplah Sidney. Bagian pengungkapan Don Vinton itu ide cemerlang, tak terpikirkan akan dipecahkan dengan unik sambil lalu. Lalu karakter paranoid Harrison Burke itu mantab. Suka dengan orang yang menganggap dirinya istimewa, over confident, nyeleneh. Walau tampil sepintas, jelas sifat Judd akhirnya terduplikat darinya. Judd Stevens harus bisa menanggalkan topeng wajah tak berdosa yang dikenakannya dan menelanjangi gejolak-gejolak emaosinya yang paling dalam, ketakutan dan kengerian, dambaan, nafsu dan dengan demikian menampilkan wajah sang pembunuh. Berhasilkah?
Wajah Sang Pembunuh | diterjemahkan dari The Naked Face | copyright 1970 by Sidney Sheldon | alih bahasa Anton Adiwiyoto | GM 402 96.034 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kesembilan, Oktober 1996 | 328 hlm; 18 cm | ISBN 979-403-034 | Untuk wanita-wanita dalam hidupku: Jorja, Mary dan Natalie | Skor: 3/5
#2/14 #SidneySheldon Next: Master of the Game, pencarian berlian di Afrika Selatan. Cover hitam yang terlihat cantik, tebalnya 764 halaman. Semoga seru.
Karawang, 221015 – Guardate che ha fatto il don vinton
E molto bene di ritornare a casa | Si, d’accordo | Signore, per piacere, guardatemi | Tutto va bene | Si, ma… | Dio mio, dove sono i miei biglietti? | Cretino, hai perduto i biglietti | ah, eccoli

A Stranger In The Mirror – Sidney Sheldon #1

image

Akhirnya 1 dari 14 novel Sidney Sheldon selesai dibaca juga. Apa yang saya dapat dari novel ini adalah sebuah pengulangan dari kisah biografi Sidney di The Other Side of Me. Tak menemukan sesuatu yang wah, karena memang premis-nya sama. Mencoba sukses di Hollywood berangkat dari bawah, pahit manisnya perjuangan, mencapai puncak lalu menuruninya. Hanya fiksi yang berlebihan yang menjadi benang pembedanya. Dulu pas pertama baca The Other Side saya sempat bilang wah, seru sekali ternyata lika-liku perjalanan di tanah impian Amerika. Tapi untuk A Stranger biasa sekali. Sepertinya saya salah memilih mulai baca.
Kisahnya adalah sebuah impian seorang yang bercita-cita jadi selebritis. Benar-benar merangkak dari bawah, diceritakan dengan sangat detail khas Sheldon. Dibuka dengan prolog yang menjadi ending cerita ini. Walaupun sekilas namun ini jelas langkah salah karena sebuah bocoran utama akan ke mana kisah ini berakhir. Bahwa seorang chief purser Bretagne, Claude Dessard menceritakan pengalamannya menahkodai kapal Perancis SS Bretagne. Suatu hari dia mengalami tragedi besar karena salah seorang penumpangnya adalah Jill Temple, aktris yang sedang dirudung duka. Dalam kisah samar dia bertutur hari itu segalanya berjalan buruk, kapal mewahnya membawa petaka yang tak kan terlupakan oleh seluruh dunia.
Lalu kisah ditarik jauh ke belakang. Detroit, Michigan pada tahun 1919. Sebuah kota industri pasca Perang Dunia I mengalami kebangkitan. Paul dan Freida adalah pasangan Yahudi asal Polandia, segelintir manusia yang berharap perubahan nasib. Paul adalah lelaki kalem yang suka puisi namun kurang tegas sebagai kepala keluarga, Freida adalah wanita taat namun punya keberanian mengambil resiko hidup. Sifat bertolak belakang inilah yang mempengaruhi sifat anak pertama mereka. Toby Temple terlahir dengan anugerah kemaluan dengan ukuran di atas rata-rata. Saat dirinya menginjak remaja, di sekolah dia membuat masalah dengan menghamili teman sekelas. Bersiap tanggung jawab, namun sang ibu diam-diam menolak. Toby punya bakat dalam dunia entertaiment. Kalau dia menikah muda maka impiannya untuk terkenal bisa hancur ditikam kenyataan di kota kecil ini. Maka besoknya Toby berbekal seadanya diminta sang ibu untuk ke kota. Suatu saat ketika sudah sukses Toby diminta kembali membawa serta ibunya. Dan dimulailah petualangan Toby Temple di dunia hiburan.
Sementara itu di Odessa, Texas empat belas Agustus tahun 1939 lahirlah seorang bayi perempuan bernama Josephine Czinki. Melalui kelahiran yang berat, Josephine akhirnya menemui keajaiban untuk hidup. Orang tua Josephine sangat kolot, ibunya seorang religius yang menolak kemewahan dunia. Sehingga di Texas yang terbagi dalam dua kelompok keluarga, kelompok kaya disebut kelompok minyak dan kelompok biasa, non-minyak. Keluarga Josephine di kelompok kedua, ibunya bekerja sebagai penjahit. Namun jiwa petualang Josephine tak bisa bohong. Dirinya yang terlahir sangat cantik dan sering bermain dengan anak-anak orang kaya akhirnya sadar dirinya berpotensi sukses di dunia hiburan. Dia jatuh hati dengan David Kenyon, anak kelompok minyak. Awalnya mereka jalan bareng dan saling mencinta. Sayang, orang tua David tak setuju maka David dijodohkan dengan Cissy Toping yang juga anak orang kaya. Dengan perasaan kalut keesokan harinya Josephine kabur dari kota kecilnya menuju Hollywood.
Sampai di bagian ini saya sudah bisa menebak arah cerita ini. Kenapa? Karena sudah dibocorkan di prolog bahwa Josephine merubah namanya jadi Jill Castle. Nah, cocokkan dengan Toby Temple? Di pembuka sudah dikatakan Jill Temple terdiam menghadap laut lepas dengan pandangan hampa. Jelas sekali mereka berdua nantinya akan menikah. Kesalahan besar Sidney! Diperparah lagi di back-cover dibocorkan bahwa untuk mencapai sukses Jill Castle harus menjual diri karena sulitnya menembus batas glamor kemasyuran. Gadis frustasi bertemu lelaki kesepian, jadilah kisah buku ini. Jadi apa yang dijual buku ini? Ending jelas sudah diungkap.
Secara keseluruhan novel ini bagus. Sekedar bagus, tidak istimewa. Sinetron banget kisahnya, klise konfliknya. Beberapa hal kurang kuat dalam eksekusi keputusan tiap karakter. Dengan mudahnya perubahan-perubahan sifat ditampilkan. Seperti Jill yang tadinya gadis kere yang mudah pindah dari pelukan lelaki satu ke lelaki lain. Bagaimana mudahnya menolak berlian dari rayuan aktor besar? Walau sekedar akting, itu sesuatu yang mustahil. Lalu Toby dengan mudahnya mendapat kritik dan review bagus setiap tampil. Tak semudah itu menjadi komedian, harusnya keterpurukan bukan dari sakit namun dari profesi utama sang aktor. Jelas saya kurang suka kisah menye-menye semacam ini. Sinetron kita sudah memuakkan, jadi ketika ada kemiripan membacanya dari Penulis Besar jadinya bosan. Karakter yang seharusnya bisa digali lebih dalam malah disingkirkan dengan cepat, Alice Tanner misalnya. Setelah kesuksesan pertama Toby dia menghilang. Padahal dia sudah seatap dengannya masak tak ada ikatan emosi. Sam Winter, yang jadi atasannya saat Perang dunia II juga tak berkembang. Hilang dalam hingar bingar Hollywood. Yang paling parah al Caruso dengan Millie yang menyenangkan setiap mengikuti jejak kehidupan, hilang setelah tragedi ketika Toby ke Asia Timur. Musuh utamanya juga terlihat bodoh. Seorang agen bisa dengan mudahnya terjatuh. Klimak cerita ditampilkan dengan datar. Entah kenapa saya tak mendapat sesuatu yang wah dari sini.
Namun tetap, Sidney adalah Sidney. Novel ini tetap layak dilahap di kala santai. Ada beberapa kutipan yang sayang kalau dilewatkan. “Kau tak perlu memakan habis satu kilo kaviar untuk mengetahui enak atau tidak bukan?”. Sebuah nasehat bahwa sesuatu yang luar biasa bisa kita lihat hanya ketika melihat sebagian kecil.
Waktu bukanlah sahabat yang menyembuhkan segala luka, waktu adalah musuh yang mencabik-cabik dan membinasakan masa muda.
“Kau tahu bagaimana caranya agar keledai mau memperhatikan? Pertama kaupukul kepalanya.” Toby ditanya tangan mana yang sering digunakan? Dia jawab kanan, lalu tangan kanannya dihantam dengan besi sampai patah. Pause.
“Apakah aku sudah mendapatkan perhatian?” Toby mengangguk. Edian adegan ini seram sekali, sekaligus yang terbaik yang ditampilkan. Jadi apakah kalian masih akan percaya bahwa ketika bercermin, itu adalah wajah kalian? Ataukah orang asing yang menyamar jadi kalian? Think again!
Sosok Asing Dalam Cermin | diterjemahkan dari A Stranger In The Mirror by Sidney Sheldon | copyright 1976 | Alih bahasa Hidayat Saleh | GM 402 93.780 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan ke sebelas, Februari 2007 | 448 hlm; 18 cm |ISBN-10: 979-511-780-7 | ISBN-13: 978-979-511-780-3 | skor: 3/5
#1/14 #SidneySheldon Next: the Naked Face tentang pembunuhan di malam Natal, kisah detektif yang mengingatkanku pada Agatha Christie. Semoga seru.
Karawang, 191015
Bila kau ingin menemukan diri sendiri. Janganlah mencarinya dalam cermin. Karena hanya bayangan yang kau temukan di sana. Sosok asing… (Silensius, Ode to truth)

Sidney Sheldon Month

image

Rani Wulandari, S. Kom teman kerja, tetangga duduk kemarin mau pinjam Trilogi Bartimaeus. Baru dapat seri satu sehingga ingin melanjutkan seri dua. Bagi teman-teman yang mau pinjam buku koleksiku ga masalah, asal saya juga pinjam punyanya. Mengingat kenangan buruk meminjami buku kurasa tukar-pinjam sebagai sandera itu perlu. Karena tak semua orang mencintai buku yang susah payah saya kumpulkan. So saya pinjamkan The Golem’s Eye dengan syarat meminjamkan koleksi buku terbaiknya, Rani punya Sidney Sheldon banyak jadi ya hari ini mau bawa seri apa aja terserah.

Pagi tadi dia bawa seplastik penuh novel Sidney, datang-datang langsung menyodorkan kepadaku sesaat setelah absensi finger print-nya error. Wow, semua dibawa. Kukira hanya satu atau dua. Edian, keren deh! Total ada 15 buku, satu diantaranya sudah bawa, The Sky Is Falling. Jadi kini PR saya menyelesaikan 14 novel Sidney sebelum tahun berganti. Bisa? Optimis mampu!

  1. Windmills Of The Gods – Kincir Angin Para Dewa
  2. Nothing Lasts Forever – Tiada Yang Abadi
  3. The Doomsday Conspiracy – Konspirasi Hari Kiamat
  4. The Stars Shine Down – Kilau Bintang Menerangi Bumi
  5. Rage Of Angels – Malaikat Keadilan
  6. If Tomorrow Comes – Bila Esok Tiba
  7. Master Of The Game – Ratu Berlian
  8. The Sand Of Time – Butir-Butir Waktu
  9. A Stanger In The Mirror – Sosok Asing Dalam Cermin
  10. Tell Me Your Dreams – Ceritakan Mimpi-Mimpimu
  11. Morning, Noon & Night – Pagi, siang & Malam
  12. The Other Side Of Midnight – Lewat Tengah Malam
  13. Memories Of Midnight _ Padang Bayang Kelabu
  14. The Naked Face – Wajah Sang Pembunuh
  15. The Sky Is Falling – Langit Runtuh

Waa, melihat buku sebanyak ini seperti melihat makanan lezat siap santap. FREE lagi. Jangan bosan, minggu-minggu ke depan akan banyak membahas Sidney Sheldon. Hell yeah, open your book runs wild your imagination.

Karawang, 081015 – Missing