Tempat Asing dan Misterius

Negeri Senja by Seno Gumira Ajidarma

“… Ada satu masa dalam hidupku di mana aku selalu memburu senja ke mana-mana, seperti memburu cinta. Aku memburu senja ke pantai, memburu senja ke balik gunung, memburu senja yang membias di gedung-gedung bertingkat. Namun itu sudah lama sekali berlalu…”

Novel yang melelahkan, membosankan, menjadikan bacaan yang terengah-engah di awal, tengah, sampai akhir. Penjelasan setting tempat yang bertele-tele, penjelasan karakter yang berputar, aturan mainnya kurang cantik, bahkan saat sampai halaman 200 yang berarti mendekati garis finish, detail penjelasan tempat masih berlangsung. Ya ampun… bagaimana sebuah buku bisa menjadi begitu berliku dan lelah sekadar mencoba ikuti alur.

Kisahnya dibuka dengan sebuah penipuan. Dalam Kitab tentang Kejadian yang Akan Datang bahwa Penunggang Kuda dari Selatan menguasai bahasa Negeri Senja tingkat tiga yang sudah langka. Sang Musafir sempat ditanya, oh bukan dia. Lalu ada yang datang dan mengaku sebagai The One tersebut, dibawa ke Guru Besar, ternyata penipu, maka massa langsung membantainya. “Negeri Senja adalah tempat yang berbahaya.”

Lalu kita diajak mengenal negeri asing di tengah gurun tersebut. Waktu seolah terhenti. “Aku tidur pada senja hari dan bangun pada senja hari.” Jadi di sini sepanjang waktu adalah senja: pagi, siang, malam, semuanya sama. Di Negeri Senja, orang mati tidak pernah benar-benar pergi. Kenapa tidak, di sebuah negeri di mana matahari termungkinkan untuk tidak pernah tenggelam. Kisah tentang lempengan matahari raksasa yang berjuang keras untuk terbenam namun tak pernah berhasil melewati cakrawala dan semesta bergetar karenanya. Di sebuah negeri yang selalu tenggelam dalam keremangan, sekilas cahaya sangat banyak artinya dan keping-keping mata uang emas yang sangat jarang terlihat itu memang akan berkilat-kilat meski ditimpa cahaya yang hanya sedikit saja.

Seperti Sukab yang mengirim surat pada Alina, kali ini sang Musafir mengirim surat untuk Maneka. Mengisahkan petualangannya. Apakah yang bisa dilakukan untuk menghalangi datangnya masa depan yang penuh dengan perubahan menggelisahkan?

Ia penyendiri, ia datang ke sana sebagai sang musafir. Ia menjaga jarak, tak memihak pihak penguasa atau para militan bahwa tanah. Seorang pengembara dalam sunyi sangat sering terkecoh perasaan sendiri, sehingga dengan perempuan mana pun aku bergaul, selalu kujaga jarakku dari suasana hati yang semu. Diperintah oleh rezim ganas. Sejarah kekuasaan Tirana adalah usaha menindas kebebasan pikiran itu, karena dengan pikiran kita bisa menolak kekuasaan. Sekarang aku mengerti, kebisuan dan kegelapan adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan di Negeri Senja – yang tak memahaminya tak ambil bagian dalam permainan ini.

Sang Pengelana lalu mencoba memahami posisinya. Ia di kedai turut dalam kekhawatiran warga, ia turut pula dalam bisik para detektif yang mencoba menggulingkan kekuasaan yang sudah lama lalim. Hatiku gundah dan gulana. Puan Tirana Sang Penguasa yang tak pernah terlihat wajahnya dan Buta telah menghamburkan kekejaman begini rupa, namun Tuhan Mahabaik seperti tidak berbuat apa-apa. Tirana barangkali bisa membaca pikiran, namun bagaimana jika pikiran yang dibacanya sengaja dikacaukan? Bisakah ia membaca pikiran di balik pikiran?

Sudah banyak percobaan penggulingan, tapi selalu gagal. Bayangkan, lawan kita adalah makhluk yang bisa membaca pikiran bak anggota X-Mens! Gerakan bawah tanah terbesar melawan tirani adalah Perhimpunan Cahaya yang dipimpin oleh Rajawali Muda. Terdapat lima golongan lain yang besar, (1) Gerak Kesadaran; (2) Kerudung Perempuan; (3) Sabetan Pedang; (4) Wira Usaha; (5) Lorong Hitam. Selain itu masih ada kelompok remeh, golongan kecil yang terburai.

Kita memang ditempatkan sebagai pembaca/pendengar dongeng Sang Pengelana. “Apa yang kuceritakan itu hanyalah suatu susunan tambal-sulam dari berbagai cerita yang kudengar di kedai, di pasar, dan di jalanan.” Maka mencipta kisah satu arah yang tentu saja kita harus menerima apapun yang dicerita. Debar degub sesekali muncul, tapi memang sudah kuyakini Sang Protagonist aman.

Seperti ada kesunyian yang kosong dan memberikan perasaan terasing di mana cahaya yang tersisa dalam senja bisa terdengar sebagai bunyi yang sepi – seperti denging, tapi bukan denging, seperti gumam, tapi bukan gumam, seperti desah, tapi bukan desah, hanya sapi, tapi berbunyi. Mungkinkah itu bunyi kekosongan?

Semangat perlawanan yang telah lama tergalang bagaikan seribu satu mata air yang membentuk anak sungai kecil di berbagai tempat dan menemukan arus serta gelombangnya dalam pembahasaan para pelajar… bergabung menjadi debur ombak dan hempasan gelombang. Tirana yang berkuasa, yang mampu membaca pikiran, memenjarakan roh, dan menentukan takdir, bagai tuhan yang jahat, bagaimana tidak akan tertawa melihat usaha perlawanan terhadapnya?

Endingnya sendiri horor. Menakutkan membayangkan pembantaian yang dicipta. Darah di mana-mana, jalanan dijadikan ajang saling tikam, nyawa menjadi begitu murahnya. “Kota yang hancur luluh dengan mayat-mayat memenuhi ruang, kurasa aku tidak pernah akan tahu apakah suatu hari duka ini akan pupus.”

Lalu apa gerangan maksud Sang Pengelana memasuki negeri antah yang mengerikan ini? Hanya sekadar mampir lewat ataukah menjadi juru selamat?
Untuk mendendangkan dongeng dalam satu wilayah, kita disuguhi lima bagian, belum termasuk prolog dan epilog plus lampiran tentang visual dan proses menggambarnya. Menjelaskan bagiamana akhirnya novel ini bermula dari cerita bersambung, lalu dibukukan, lalu menang KSK, lalu dibuatlah ilustrasi para tokoh. Bagus sih, tapi bagiku yang utama adalah cerita. Mau digambar semewah Ernest H. Shepard yo monggo, mau dibuatkan semegah komik DC ya silakan, tetap saja yang utama cerita. Kisah buku ini merumit sendiri, bingung sendiri, mengajak pembaca turut bingung dan sekali lagi, melelahkan. Lampiran akhir ada enam lembar, itu adalah draf pilihan. Hasil akhir ada di pembuka, menggambarkan bentuk karakter di buku.

Epilognya dimulai dengan pengakuan; kesalahan penulis adalah memandang dunia ini sebagai suatu cerita. Nah kan. Absurd! Nama Seno Gumira Ajidarma (SGA) sudah besar sejak saya masih kecil. Namanya lekat atas sastra berkualitas, baru beberapa yang kunikmati. Beliau juga serba bisa, kumpulan esai ada, kumpulan cerpen ada, novel-pun ada, yang belum nemu dan belum kubaca kumpulan puisi. Namun pernah lihat di youtube, cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, dinukil dan dibacakan bak barisan bait, mungkin karena pembawaannya yang keren, dan juga – eheem…- yang membawakan sekelas Dian Sastro Wardoyo makanya terlihat powerful!

Sebuah tempat asing dan misterius, Negeri Senja adalah negeri yang sulit diterima akal, negeri ini seperti puisi, hanya bisa dipahami jika dihayati. Yah, persis seperti itulah kisahnya. Sengaja mencipta bosan, sengaja mencetak bait dalam rengkuhan samar. Ada benarnya juga kalimat di kover belakang, “Roman petualangan, tentang cinta yang berdenyar di antara kilau belati, cipratan darah, dan pembebasan iman.”

Negeri Senja | by Seno Gumira Ajidarma | KPG 59 15 01044 | 2003 | Cetakan kedua, September 2015 | Desain sampul Rully Susanto | Tata letak Wendie Artwenda | Ilustrasi isi Margarita Maridina Chandra | Rancangan Busana Poppy Dharsono | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | xx + 244 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 979-979-91-0930-9 | Skor: 3.5/5

Cerita kecil Untuk almarhumah Ibu: Poestika Kusuma Sudjana (1923-2002)

Karawang, 120421 – Ronan Keating – Everything I Do (Do it For You)

*) Thx to Ari Naicher (Rindang Buku), Klaten

**) Kubaca dalam satu hari saat cuti tahunan di Masjid Peruri Karawang pada 12 Maret 2021

***) Hari ini mendapat kabar sedih dari keluarga; Sabar, Tawakal, Iqtiar. Allah bersama orang yang sabar.

****) Selamat datang Ramadan 2021

Sepotong Senja Untuk Pacarku #24

Sepotong Senja Untuk Pacarku by Seno Gumira Ajidarma

Waktu meninggalkankan jejak, begitu pula saat-saat yang dilaluinya bersama dia. Segenap makna perjumpaannya meresap ke dalam hatinya dan ia tidak bisa melupakan dia. – hal. 107

(Prolog) Seiring bersama alunan bunyi seruling di lembah sunyi di sana kududuk seorang diri menjelang malam hari teringat ku akan seorang kasihku yang telah pergi entah ke mana oh angin sampaikanlah salamku kunanti ia di lembah sunyi seindah alunan seruling senja begitu cintaku padanya begitu cintaku padanya. – syair dan lagu karya Vivekananda Leimena, Seruling di Lembah Sunyi (1965)

Saya sah menjadi fan Seno Gumira Ajidarma (SGA) setelah menuntaskan Trilogi Insiden, tiga genre yang dirajut: novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan esai. Jelas, saya sudah menikmati cerpen ‘Sepotong Senja Untuk Pacarku’ berkali-kali baik dari sebaran grup WA, sosmed, atau di sebuah web yang menyaji cerpen Koran Minggu. Maka keputusan membeli buku ini adalah melengkapi jawab kelanjutan Alina. Saya bacakan ke Hermione (lima tahun) jelang tidur, kena komplain mulu. “Mana bisa langit dipotong…”, “Kalau aku jadi Alina, enggak mau nerima senja, enggak bisa dimakan, mending dibawain cokelat…”, “Memang di gorong-gorong ada pantai?”, dst. Oh baiklah, anak kecil tukang protes. Sampai di sana saja, selanjutnya saya tuntaskan sendiri, mungkin fantasi SGA ga cocok buat balita.

Menatap senja adalah suatu cara berdoa yang langsung menjelma, perubahannya dari saat ke saat meleburkan diri seseorang ke dalam peredaran semesta. Senja adalah janji sebuah perpisahan yang menyedihkan tapi layak dinanti karena pesona kesempurnaannya yang rapuh. Dunia senja yang sempurna bagi siapa pun yang memburu senja di pantai seperti memburu cinta yang selalu berubah setiap saat, meraih pesan-pesan dari kesementaraan terindah seantero semesta…

Buku kumpulan cerpen ini terdiri tiga bagian: Trilogi Alina (3), Peselancar Agung (10), dan Atas Nama Senja (3) jadi totalnya 16 cerita.

#1. Sepotong Senja Untuk Pacarku (1991)
Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis…

Kalau ngomongin senja, yang pertama terlintas jelas cerita ini. Kalau ngomongin cerpen legendaris Indonesia, jelas cerpen ini harus masuk daftar. Ketenaran Alina yang dihadiahi Sukab sepotong senja memang tak terbantahkan. Ini adalah cerita Sukab mengirimi surat berisi potongan masa di pergantian siang ke malam, dengan latar pantai sejuk, burung-burung mengepakkan sayap, pohon kepala yang melambai. Gambaran idaman santuy itu diperoleh dengan gigih di dimensi lain, di bawah tanah. Dikirim dari tempat paling sunyi ke ujung dunia.

#2. Jawaban Alina (2001)
Sukab yang malang, goblok, dan menyebalkan…

Setelah bertahun-tahun akhirnya saya tahu apa yang terjadi dengan potongan senja itu. Jadi tak seindah yang kukira. Butuh waktu sepuluh tahun untuk sampai ke tangan Alina, mencipta bencana, membuat segalanya berantakan. Dan bahwa Alina tak mencintai Sukab, bersikap baik bukan berarti sayang. Ternyata benar tebakan Hermione, potongan senja itu ditolak, eh lebih tepatnya justru bikin marah. Senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia. Surat balasan ditulis di puncak Himalaya dengan kepungan air bah laiknya kisah Nabi Nuh As. Saya sudah kena spoiler ketika di timeline twitter muncul video pembacaan puisi oleh Dian Sastro Wardoyo. Betapa Bahagianya Penulis, tulisan dibaca dan didokumentasikan seorang bintang secemerlang Disas!

#3. Tukang Pos dalam Amplop (2001)
Dari semesta air ini, aku tidak melihat sesuatu yang merupakan jalan keluar…

Ini dari sudut pandang sang pengantar. Luar biasa perjuangannya untuk menyampaikan potongan itu. Tempat tujuan ada di Ujung Dunia. Dengan kayuh sepeda dan derai tawa anak-anak, semacam terjebak ke dalamnya, beda dimensi beda durasi waktu, di sini sepuluh tahun di dunia Senja Sukab tak linier, menjelma manusia ikan yang mengarungi laut, sungguh aduhai. Perumanan hidup manusia yang ada di akuarium, terjebak di kotak dan mencoba keluar dengan melakukan banyak penelitian dunia antah sungguh sebuah gambaran manusia, makhluk fana mencoba jelajah luar angkasa.

#4. Jezebel (1999)
Kisah seseorang yang berjalan di pantai penuh mayat bergelimpangan. Hanya terdengar suara ombak dan angin. Ombak yang mendesah dan angin yang berbisik. Desah yang membawa keluh dari seberang bumi yang lain. Bisik yang terlalu pelan dan terlalu perlahan dalam angin sehingga tiada pernah menjadi jelas siapa kiranya di sana telah berbisik kepada angin menyampaikan pesan entah kepada siapa entah di pantai mana entah pula kapan sampainya. Sebuah bisikan betapa pun lemahnya tiada akan hilang bukan?

#5. Ikan Paus Merah (1996-1999)
Ini cerita paus merah yang legendaris, paus yang kena tombak dan terluka sepanjang waktu merah darahnya menyertai. Sang Aku bukan pelaut, hanya musafir, baru mengetahui kisahnya ketika di Afrika Selatan. Menikmati senja di pantai, siapa tahu Ikan Paus Merah muncul dari dalam laut, melompat seperti terbang dengan panah menancap di punggungnya…

#6. Kunang-kunang Mandarin (2000)
Cerita kunang-kunang yang tercipta dari kuku mayat disaji dalam peternakan Sukab. Di daerah ini ada yang mengembangbiakan binatang kerlap-kerlip itu, di kota yang pelanginya tak pernah pudar. Konon dari kuku mayat keturunan Mandarin yang dibantai. Seorang sarjana yang sudah keliling dunia, seorang Mandarin yang penasaran datang untuk memastikan, dan malam yang sunyi ketika Sukab bersenandung, golok-golok diacungkan, sementara si Mandarin terkepung.

#7. Rumah Panggung di Tepi Pantai (2000)
Rumah panggung Sukab yang menghadap laut, biasanya rumah tepi pantai selalu memunggungi pantai. Seorang anak Bolong menjaganya selama Sukab berlayar seorang diri, sementara Balu yang penasaran menanyakannya. Dunia yang aneh, sementara cakrawala tampak seperti garis putih yang tipis sekali. “Kamu juga memandang senja?”

#8. Peselancar Angung (2000)
Lautan adalah jingga yang rata dengan perahu layar meintas matahari di cakrawala. Senja semacam inilah yang membuat setiap orang merasa harus jatuh cinta, yang membuat orang-orang memburu cinta, dan akhirnya membuat orang-orang menjajakan cinta di pantai segalanya telah menjadi keemas-emasan. Peselancang keren, tukang kibul. Para Penungggu menganggap bahwa kemunculan Peselancar Agung itu akan memberikan suatu pencerahan. Senja yang sempurna cuma sekejap, hanya melintas sepintas seperti kebahagiaan, sehingga mereka perlu datang langsung segera dan secepatnya.

#9. Hujan, Senja, dan Cinta (2000)
Bagaimana bisa hujan menjadi penanda bahwa di situ ada cinta? Dengan sudut dia dan ia sebagai pelakon, terkadang memang kita harus merelakan kekasih dengan cinta lama yang bersemi kepada orang lain. Dingin hujan itu dirasakannya sebagai dekapan hangat kekasihnya. Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka.

#10. Senja Hitam Putih (2000)
Dunia menjelma dua warna: hitam dan putih, yah terkadang kelabu. Warna-warni seolah dihapus dari ingatan dan dunia sehingga tampak kata dan ungkapan asing. Seluruh kata yang menjelaskan warna telah menguap dari dalam kamus, melayang seperti asap kemenyan, disambar cahaya mentari yang putih menyilaukan, lantas habis sama sekali diterbangkan angin. Dunia yang berubah ataukah aku telah menjadi gila?

#11. Mercusuar (2000)
Cerita paling aneh di sini. Mercusuar bayangan yang muncul di kala senja, menaikkan seseorang ke langit, lalu kembali kala gelap. Mercusuar ini tak nyata, sudah ada bersama dengan waktu, ada yang bilang enam ratus tahun yang lalu. Endingnya twist! Aku heran, bagaimana semua ini mungkin? Apakah kita semua boleh percaya kepada sesuatu yang tidak ada? Yang timbul tenggelam seperti mimpi tapi bukan mimpi, sesuatu yang terlihat tapi tak terpegang, terdengar tapi tak terekam, sesuatu yang tidak ada tetapi terabadikan?

#12. Anak-anak Senja (2001)
Cerita horor untuk anak-anak. Ratri yang gembira melihat anak-anak Senja. Bagi Ratri matahari hanyalah dongeng, dan senja adalah suatu impian. Anak-anak Senja telanjang dan tak berkelamin, bermain di pantai lalu turut anak, bisa tak kembali, orang-orang hanya bisa menonton. Mereka selalu berpesta, namun gagal menjadi bahagia. Dunia telah menjadi tempat yang membingungkan.

#13. Senja yang Terakhir (2001)
Kota di mana pelangi tidak pernah pudar, banyak toko menjual ‘Senja yang Terakhir’. Karena rekaman dari berbagai sudut itu sangat eksotis, memikat kaum turis. Apabila Tuan dan Puan memasuki Senja yang Terakhir itu, seolah memasuki dunia baru. Bisa saja betah, masuk dan tak akan keluar lagi. Karena di sana senja berlangsung selama-lamanya. “Brosur pariwisata yang membingungkan.”

#14. Senja di Pulau Tanpa Nama (2005)
Ini cerita rumit karena kosong adalah isi, dan isi adalah kosong. Nihilitas yang merumitkan diri. Apakah masih boleh disebut semacam cinta jika tidak terdapat kebahagiaan padanya meski setidaknya sesuatu seperti kebahagiaan dalam penderitaan? Seperti Kawabata, aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernah ada. Haruskah ada yang lebih indah dari senja – meski tanpa kisah cinta di dalamnya? Tidak ada cinta dan tidak ada diriku. Tiada cerita.

#15. Perahu Nelayan Melintas Cakrawala (2006)
Upaya menangkap keabadian, memperangkap senja di dalam kartu pos. “Katakanlah kepadaku apa yang dipikirkan ikan?” Memang tidak semua orang bisa menjadi penyair, tetapi setiap orang memiliki puisinya sendiri. Waktu membeku dalam kartu pos.

#16. Senja di Kaca Spion (2007)
Ini semacam maut yang mengintai? Senja yang terilhat di tiga cermin mobil: spion kanan-kiri, dan cermin tengah. Melaju ke arah timur memunggungi pegunungan menelan matahari, melaju ke arah kabut dengan kecepatan takterukur. Orang-orang berduyun, seolah malaikat yang menggoda. Di dalam satu dunia yang sama, mengapa suatu hal bisa begitu berbeda? Dari manakah aku datang dan akan menuju ke mana? Juga penyair gaya lama tidak akan mempunyai pilihan lain selain menyebutnya sebagai cahaya kencana.

Dengan tema utama senja, buku ini memang banyak memberi pengaruh anak muda sepanjang 90an hingga kini. Lihat puisi-puisi zaman now, selain kata ‘hujan’ jelas ‘senja’ juga dominan, seolah memandang senja di kala sendiri dalam renung itu keren. Obsesi kecanggihan dalam perburuan keindahan berlebihan. Seperti kita, seperti pula penutup pengantar SGA, “Namun saya tahu, akan selalu terpesona melihat senja.”

(Epilog) Sungai pergi ke laut membawa kubur-kubur laut pergi ke laut membawa kubur-kubur awal pergi ke hujan membawa kubur-kubur hujan pergi ke akar ke pohon ke bunga-bunga membawa kuburmu alina. – Sutardji Calzoum Bachri, dari sajak Perjalanan Kubur (1977).

Sepotong Senja Untuk Pacarku | by Seno Gumira Ajidarma | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 615202014 | Copyright 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistiani | Desain sampul Suprianto | Setter Nur Wulan Dari | Lukisan pada peraangko karya Mansyur Mas’ud | Gambar hal. 33 diambil dari komik Dian dan Boma karya Hans Djaladara yang dimuat di majalah Eres No. 9/1970, hal. 35 | Cetakan keenam cover baru, Mei 2019 | ISBN 978602-03-1903-2 | Skor: 5/5

Karawang, 240620 – Bill Withers – Heartbreak Road

#24 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Thx to TQ Mutiara Hati, dua tahun yang luar biasa untuk Hermione Budiyanto. Hari ini jam 18:28 khatam Al Quran.