The Carducci Talent Show: Sesat Kitab Acuan

Jadi tolong ambil napas dalam-dalam dan terakhir, sekarang.”

Kita tak bisa menarik suatu kesimpulan yang absah dari pernyataan yang bersikap rekaan. Kesalahan, tidak selalu dalam kebohongan, tetapi pasti kekeliruan, telah memotivasi kejadian sejarah, mencipta peninggalan yang salah, ini salah satu kitab sesat yang muncul di abad modern. Kita harus bersandar pada kriterium kebenaran. Temanya permainan, tapi taruhannya nyawa. Bukan barang baru. Kesadisan yang ditawarkan juga sudah banyak dibuat. Langsung mengingatkanku pada Ready or Not? Yang mengajak penonton mengikuti petak umpet di malam hari, yang kalah mati. Kalau di sini, permainan dulu dijalankan lalu konsekuensi yang kalah baru diumumkan di akhir. sederhananya, main-main bertaruh nyawa. Mau pakai kitab kuno jenis apa, mau pakai aturan bagaimana, apalah dunia gila komunitas yang salah.

Emma (Saydee Dickonson) memiliki pacar baru, Tony (Johnno Wilson) mengajaknya ke perkumpulan pertunjukan talenta Carducci yang diadakan tiap empat tahun. Tampak Emma adalah gadis cerdas, ia juga berpikiran terbuka. Dikenalkannya kepada teman-teman yang juga mengajak pacar-pacarnya. Mereka ngumpul ngopi buat acara pertunjukan telenta. Sebelum dimulai dibacakan aturannya. Dihitung berdasarkan poin, poin terendah kalah.

Malam itu tampak menarik. Pertunjukannya seru, penampilan main music, menyanyi, sandiwara, pembacaan puisi, dst. Semua menampilkan talenta-talenta terbaik, membuat suasan meriah, dan Emma tertawa ceria. Sampai akhirnya tiba diperhitungan poin. Terjadi skor imbang, dan karena Emma member baru maka ia yang memutuskan siapa yang lolos.

Di sinilah film menjelma gila. Keputusan sederhana yang dibacakan sambil tertawa itu berakhir dalam kesedihan mendalam. Apa yang tampak di depan, yang kita lihat selama belasan menit itu, tak menggambarkan kehitaman cerita, kini malah mengerikan. Dunia ini memang penuh dengan hingar bingar kehidupan makhluk beragam. Dan di antaranya terbagi dalam berbagai komunitas, warga, kelompok. Ini hanya sebagain kecil komunitas gila.

Selama setengah jam kita menyaksi tiga babak: pengenalan karakter di mana semua dikumpulkan, diperkenalkan masing-masing, bersapa setelah lama tak jumpa, lantas membuka kita kuno. Kedua adalah pertunjukkan utama. Setiap karakter menampilkan apa yang bisa ditampilkan, tampaknya bakal jadi film fun kumpulan manusia dewasa yang menghabiskan waktu bersama, melepas kangen, bercerita dan berkumpul makan-makan, ngopi, pokoknya menikmati hari. Nah, bagian ketiga adalah eksekusi makna utama kisah ini. ini bukan sekadar kumpul ngopi, ini adalah kumpulan sekte kuno yang menjalankan ritual. Apapun yang terjadi harus dijalankan, tak peduli betapa kalian bahagia, tak perduli bagaimana dengan segala sisa usia yang terhitung. Pokoknya, mati. Wasiat sudah disiapkan, surat-surat sudah ditandatangani, dan pertunjukkan ditutup. Ini film pendek, semua dipadatkan. Kebosanan ditekan seminim mungkin, begitu juga ketegangan dan aroma thriller, semua dibagi seefektif mungkin. Namun, bagiku tak terlalu mengejutkan.

Pertunjukkan boleh ditonton, dinikmati, ditelaah. Perjalanan hidup setiap individu sudah digariskan takdir. Lantas kalau kebebasan, dan keindividuan setiap orang sudah boleh dipegang, mengapa menjalani hal-hal yang melenceng? Yang perlu kita telaah mungkin adalah kekhasan setiap pedoman hidup, dan apa yang membuat kitab Carducci menjadi Sabda Carducci. Kalian bisa saja hari ini memegang teguh al-kitab, lusa meyakini Tripitaka, tahun depan memercayai Quran. Manusia itu relatif dan terbuka segala kemungkinan, tapi jelas kalian takkan memegang teguh kitab Carducci, kecuali sudah miring otaknya. Perbedaan antara satu talenta dan talenta lain sangat cair, bisa sungguh objektif. Minat tiap peserta pada hobi dan kemampuan menunjukkan talenta tidak berdasarkan penilaian estetis, tapi selera pribadi, seperti halnya hobi main catur atau mengisi teka-teki silang atau misalkan sepakbola. Semua serba relatif dan tak kuat pondasinya untuk mendulang skor, maka jelas ini sesat.

Dalam praktiknya, kita sukar memilih antara sudut pandang sejarah dan sudut pandang kekinian. Ini thriller, juga horror dan drama. Sudut pandang masa lalu dijadikan acuan, sudut pandang modern menyatakan bi’ah. Kitab Carducci harus dibakar, mungkin juga file film ini. Tak nyaman ditonton, tak enak diperdebatkan. Setengah jam kalian terselamatkan dengan tak memilih The Carducci Talent Show sebagai tontonan. Serius!

The Carducci Talent Show | Year 2021 | USA | Short Movie 36m | Directed by Anthony Fanelli | Screenplay Anthony Fanelli | Cast Saydee Dickinson, Johnno Wilson, Sara Fletcher | Skor: 2.5/5

Karawang, 210921 – Peterpan – Kukatakan dengan Indah