Minus Gol Poin Maxi

image

Verona – Lazio memetik 3 poin penting dalam lawatannya ke kota Verona. Bermain dengan 10 pemain sejak menit 81 setelah Mauricio dikartu merah, Lazio justru bermain lebih menggila. Memasuki pekan keenam dengan hati ketar-ketir di laga tandang setelah takluk 4-0 lalu 5-0, skor 6-0 dalam bayang-bayang otak-atik-gatuk. Melawat di stadion angker Marc Antonio Bentegodi, Pioli memainkan strategi ofensif 4-2-3-1: Basta di bek kanan, Mauricio dan Gentileti di tengah, Lulic di bek kiri. Parolo di kanan, Biglia di sektor kiri. Felipe penyerang kanan, Kishna mengisi kiri , Savic penyeimbang dengan ujung tombak Djordjevic. Minus Klose dan Candreva, inilah komposisi terbaik Lazio.
Strategi ini rasanya sangat pas untuk mengurung lawan dan berjalan baik. Terjadi gol pembuka menit ke 5, sayang gol tersebut dianulir. Seperti biasa, Lazio bermain ofensif. Bola mengalir dari kaki ke kaki, nyaris tak ada bola lambung. Perpaduan Savic-Felipe sungguh keren, lini kanan sangat dominan dalam membombardir bek Hellas. Ciri khas sedari musim lalu, bola secepatnya dioper ke Felipe dan syukurlah sejauh ini pemain baru kita, Savic sangat-sangat-sangat pas dalam skema menyerang. Nantinya ketika Candreva fit, saya tak berani membayangkan betapa dahsyatnya skuat ini. Mauricio adalah titik lemah Lazio musim ini dan saya heran kenapa Pioli selalu memainkannya padahal Radu dan Hoedt siap di bangku cadangan. Benar saja ini bek dapat kartu kuning karena pelanggaran konyol. Catat: kalau ada kuis tebak kartu masukkan pemain ini, persentase melanggar lawan sangat besar. Keasyikan menyerang, Lazio justru kebobolan menit 31 melalui bek Jerman Filip Helander. Melalui skema bola mati, percobaan tendangan pertama menerpa mistar dan Helander dengan cerdik melompat di antara kerumuman pemain untuk menyundul si kulit bundar. 1-0.
Sampai babak pertama usai, Lazio tertinggal 1 gol. Statistik menunjukkan kita menguasai pertandingan, namun shot on goal-nya 0 sementara Hellas 1 dan itu berbuah skor. Bek tengah jadi titik lemah. Posisi ini harus secepatnya ditambal. Babak kedua dengan komposisi yang sama, Lazio langsung melangkah maju. Namun masih buntu juga, menit 61 Pioli melakukan double-sub mengganti Kishna dengan il capitano Mauri dan Djordjevic  dengan Keita. Tak butuh waktu lama, Keita kasih andil. Bayangkan, masuk menit 61, menit 62 dapat pinalti. Harusnya wasit Serie A lebih jeli mengenali kebiasan pemain. Pemain ini memang sering bikin kesal karena saat memegang bola sangat egois dan sering jatuh saat drible. Namun kali ini posisi jatuhnya membuat saya bersorak karena membuka asa. Biglia is big player, menunaikan tugasnya dengan bagus. Pinalti Biglia sebenarnya mudah ditebak: selalu tengah karena kalau dia coba ambil sisi lain (baik kanan atau kiri) seringnya bola keluar. Nyatanya Rafael terkecoh juga, 1-1. Harusnya kiper Serie A lebih jeli mengamati kebiasaan pinalti kicker lawan.
Dan kekonyolan Mauricio kembali terjadi, 9 menit menjelang bubaran waktu normal, saat Hellas melakukan serangan balik dia dengan bodohnya mengangkat kaki terlalu tinggi untuk mengganjal laju bola yang justru mengenai kaki. Seperti Onazi, ini pemain tinggal tunggu waktu ditendang dari skuat. Belajar dari Ledesma, Januari ini harusnya dilepas karena kesalahan-kesalahan mendasar seperti ini tak seharusnya terjadi. Untuk kejar Scudetto jangan sia-siakan poin. Pioli gerak cepat, menarik Felipe mengganti bek Hoedt. Bukti Pioli bermental teri dengan tak berani perjudian, mengganti playmaker dengan bek, dianggapnya 1 poin di laga tandang cukup. Untuk jadi juara, kita harus mengambil resiko besar. Semakin besar resikonya semakin besar peluangnya. Walau dengan 10 pemain kita tetap dominan, harusnya lebih ngotot kejar gol kemenangan dengan memasukkan pemain pendobrak, Morison sudah menunggu.
Tetapi memang skuat Lazio saat ini sangat prima dan bermental juara. Gol kemenangan itu datang juga, setelah lagi-lagi Keita menjatuhkan diri di depan garis pinalti. Tendangan bebas tepat di depan gawang di menit 86. Kita punya dua free kicker handal: Biglia dan Parolo. Setelah pagar betis dibentuk, Biglia di kiri Parolo di kanan. Peluit terdengar, saya sempat mengira bola akan ditendang kencang Biglia, eh ternyata hanya disentuh dikit ke kanan untuk di-shoooot Parolo. Bola mendasar itu melewati kaki-kaki pagar betis dan bersarang mulus di pojok kanan gawang. Gol yang melegakan. Karena skor 1-2 bertahan sampai akhir. Luar biasa, tak mengira kunjungan ke kota Verona menghasilkan 3 poin.
Ada momen mengharukan di menit 77 Hellas Verona melakukan pergantian, Hallfredsson keluar diganti Matuzalem. Seperti yang kita tahu, Matuzalem adalah eks Lazio. Hellas walau selalu menyulitkan adalah tim-saudara seperti Inter Milan yang selalu bermain ‘damai’. Sehingga saat dia masuk dengan tepuk tangan seluruh penonton Marc Antonio Bentegodi langsung bergemuruh meneriakkan namanya. “Matuzalem… Matuzalem… Lazio… Lazio…” Merinding mendengarnya.
Jadwal Serie A di pekan-pekan awal musim ini sungguh horor. 5 dari 6 partai lawannya tim jinx yang sulit ditaklukkan. Partai kandang dilewati dengan sempurna, Bologna 2-1, Udinese 2-0, Genoa 2-0. Partai tandang kalah Chievo 4-0, Napoli 5-0. Ini adalah kemenangan perdana tandang, dengan modal 2-1 ini selisih gol Lazio adalah 8-11= minus 3. Poin kita 12, untung besar.
Partai berikutnya adalah lawan tim promosi Fro-apa-tuh setelah bermain di Liga Malam Jumat. Rasanya tak sulit mendulang angka. Dengan kesuksesan melibas tim-tim sulit ini serta menghasilkan 12 angka, rasanya sisa laga bisa kita ratakan. Silakan sebut tim apapun, kita tak takut. Waspadalah, penantang serius Scudetto telah kembali! Insieme siamo piu porti, avanti Lazio. #ForzaLazio #GrandeLirk #NonMollareMai
Verona 1-2 Lazio (Helander 31′; Biglia 63′ (pen), Parolo 86′
Verona: Rafael; Pisano, Moras, Helander, Souprayen; Greco (Bianchetti 61), Viviani, Hallfredsson (Matuzalem 77); Sala, Gomez Taleb (Wszolek 55), Jankovic
Lazio: Marchetti; Basta, Mauricio, Gentiletti, Lulic; Biglia, Parolo; Felipe Anderson (Hoedt 82), Milinkovic-Savic, Kishna (Mauri 61); Djordjevic (Keita 61)
Karawang, 270915 – Kedai 05

Iklan

Kutukan Genoah Dipatahkan

image

Rabu malam saat takbir bergema seantero dunia, sebagian Laziale gelisah. Lawan untuk tanding pekan ke-6 Serie A adalah Genoa. Tim yang sulit ditumbangkan oleh Lazio. Laga lawan Genoa adalah bukan laga buat Laziale berjantung lemah. Seperti yang terlihat digambar sebelum hari ini, 5 pertemuan 5 kekalahan, tak peduli main di mana Genoa selalu menang. Maka jargon “laki fearless berani nonton Genoa langsung kick off 01:45 Wib” digalakkan. Prediksi yang digelar para pundit football, poin maksimal Lazio adalah seri, menang rasanya berat.
Saat gema takbir masih terdengar di sebagian masjid untuk begadang, pertandingan dimulai. Was was, namun ternyata Pioli berani bermain menyerang. Babak pertama ditutup sebiji gol dari Djordjevic. Belum aman, Felipe akhirnya mengamankan 3 poin lewat gol pertamanya di Serie A musim ini. Kemenangan 2-0 itu sekaligus mematahkan kutukan Genoah. 3 poin penting untuk merebut Scudetto. Sejujurnya laga ini Lazio bermain standar, terbantu oleh kartu merah lawan sehingga kalau ga menang kebangetan.
Jadwal Lazio musim ini sungguh mengerikan, 5 dari 6 pekan awal adalah tim jinx yang sulit ditumbangkan. 9 poin dalam 5 laga ga buruk amat, Hellas Verona menanti akhir pekan ini. Menang berarti kita bisa bersaing juara. Setelah Hellas kita optimis bisa ratakan sisanya.
Karawang, 240915

Mourinho Butuh Gerakan Perubahan

Sejujurnya saya tak terkejut atas start buruk Chelsea musim 2015/2016. Empat laga empat poin dengan permainan yang tidak mencerminkan sebuah tim juara bertahan. Laga ke 100 Mourinho di Stanform Bridge di English Premiere League (EPL) semalam ternoda oleh hentakan menawan Palace lewat skor 1-2. Alan Pardew membuktikan bahwa memetakan posisi pemain dalam permainan lebih penting ketimbang penguasaan bola. Kekalahan ini membuat rekor kandang Mou jadi 2 kali setelah April tahun lalu di tempat yang sama Sunderland menang.
Setelah 45 menit pertama yang tak enak dipandang, kecuali double save McCarthy atas shoot Pedro dan Cecs, awal babak kedua sudah memberi sinyal buruk buat tuan rumah. Tak perlu penguasaan bola sia-sia untuk membuat Palace memimpin. Setiap serangan gagal the Blues, bola langsung bergulir cepat ke depan. Seolah-olah ada feeling yang kuat antar pemain, 11 personil seperti ada di mana-mana, setiap pemain Chelsea langsung di-cover pergerakannya. Gol itu lahir lewat serangan balik nan jitu, umpan matang tepat di depan gawang Courtois yang gagal disapu Cahill membuat Sako leluasa menceploskan bola. Mou merespon dengan memasukkan Falcao dan langsung memberi andil menit 79 lewat sundulan gol setelah menerima umpan dari kiri. Gol yang mencerahkan setelah 7 bulan hampa. Gol yang sempat memberi asa kebangkitan, karena semenit kemudian Chelsea mendapat peluang perak. Namun dari peluang perak yang gagal itulah Palace kembali unggul. Lagi-lagi serangan balik cepat, melalui lima sentuhan yang indah. Gol kemenangan yang disusun dengan penempatan pemain yang tepat. Dari sisi kiri, umpan lambung itu ditanduk Sako ke tengah gawang yang diteruskan dengan sekali sentuh Ward. Gerakan cepat itu membuat bek Chelsea seakan baru sadar bahwa bola sudah merobek jala mereka. Skor 1-2 memberi siksaan Trueblue di 10 menit akhir. Kekalahan kedua sebelum September tiba adalah langkah jeblok untuk bersaing mempertahankan gelar. Sebagai pembanding, pesaing utama city mengkonversi empat laga dengan poin sempurna.
Ingat musim lalu, City gagal mempertahankan piala EPL di lemari mereka gara-gara tak melakukan banyak perubahan skuat setelah juara. Lebih jauh di era 90an, Blackburn Rover memalukan musim berikutnya pasca juara gara-gara tak melakan gerakan perubahan. Di era digital di mana informasi dengan mudahnya didapat, formula juara dengan cepat ditemukan formula anti-nya. Tak seperti Catenacio yang bertahan lama di Italia era 90an, tiki-taka dipatahkan Mourinho hanya semusim setelah bergabung dengan Madrid. Formula anti yang lalu banyak ditiru banyak tim itu memaksa Barcelona melakukan perubahan di era Luis Enrique. Ironisnya Chelsea yang kini ditukangi penemu sang-master-formula-anti itu justru jadi pesakitan.  Laga-laga pra-musim sudah memberitahunya, namun hanya keegoisan Mou-lah komposisi itu bertahan. Setelah mendapatkan Begovic, belanja Chelsea sudah selesai. Hasilnya? Gugup dengan Swans, amburadul oleh City, nyaris dipermalukan West Brom (walau akhirnya dapat kemenagan) dan yang terbaru dipecundai Palace. Pasca di-luluhlantak-kan City mereka mendatangkan Pedro untuk mengisi pos penyerang setelah lobi panjang MU yang gagal. Tindakan tepat. Lalu melepas Cuad dengan mengambil Kenedy. Langkah pas. Apalagi semalam Kenedy tampil prima. Dua transfer bagus itu tinggal dilanjutkan di posisi bek tengah. Entah siapa yang bakal didatangkan Mou di periode panic buy ini, Chelsea butuh pemain besar untuk membantu Terry. Stones? Bisa jadi pilihan tepat, namun the Blues butuh kepastian setelah negosiasi panjang nan berbelit. Patut ditunggu siapa bakal datang jelang penutupan pintu transfer yang tinggal dua hari ini. Saatnya Abramovic merogoh kantong lebih dalam.

Chelsea 1-2 Palace

Chelsea (4-2-3-1): Courtois; Ivanovic, Cahill, Zouma, Azpilicueta (Kenedy 68′); Matic (Loftus-Cheek 73′), Fabregas; Pedro, Willian (Falcao 66′), Hazard; Diego Costa.

Crystal Palace (4-2-3-1): McCarthy; Ward, Dann, Delaney, Souare; McArthur, Cabaye (Ledley 82′); Zaha (Bolasie 55′), Puncheon, Sako (Chung-yong 84′); Wickham
Karawang, 300815

Terbenam Dan Tersingkir Di BayArena

Mimpi itu semu. Kita kembali ke Liga Malam Jumat. Laga amburadul tadi pagi (27/8), sepenuhnya salah Pioli. Strategi buruk yang diterapkannya selama pra-musim dengan menggunakan 3 bek sejajar, 3-4-3 justru dipakai di laga yang krusial. Padahal kita tahu, selama jeda musim Lazio menuai hasil minor. Lazio kembali ke pakem 4-3-3 semenjak kualifikasi Liga Champion tengah pekan lalu yang menghasilkan sebuah gol Keita. Lalu kembali digunakan saat menumbangkan Bologna di pembuka Serie A. Maka, entah ada setan apa di kepala Pioli, saat bertandang ke BayArena, saat penentuan jadi tidaknya kita berlaga di kompetisi elite justru Pioli mengacak-acak skuad-nya sendiri.

Pioli beralibi, “Babak pertama cukup berimbang, tapi secara keseluruhan Leverkusen membuat lebih banyak peluang, menekan lebih keras dan pantas menang. Kami belum siap untuk level ini, tapi juga kami ingin terus berkembang dan kami masih bisa melakukan lebih baik lagi di Serie A, Liga Europa dan Coppa Italia.”

Leverkusen yang harus menang langsung menyusun serangan-serangan bagus sedari awal. Gol tercipta jelang turun minum melalui Calhanoglu memanfaatkan bola liar di kotak pinalti. Aggregat sama kuat 1-1 Laziale gregetan. Onazi tampil buruk, seakan-akan kembali membuka lubang yang musim lalu dibuat Ledesma. Seharusnya saat imbang gini, Pioli langsung menariknya dengan striker murni. Sayangnya terlambat, Leverkusen akhirnya leading 2-0 saat pemain Biancocelesta baru menarik nafas. Gol cepat yang menghancurkan mental pemain muda. Mehmedi memaksa Pioli bertindak dengan memasukkan Kishna. Heleh telat! Namun saat gol yang ditunggu ga juga hadir, Mauricio malah membuat Lazio bermain dengan 10 pemain menit 68. Makin berat. Laziale langsung lunglai menjelang akhir laga dengan gol ketiga Leverkusen. Sah! Kita lolos ke Europa League!

Dengan skuat sebagus ini, gagal mewujudkan mimpi tampil di UEFA Champion League jelas dosa besar mengingat target kita scudetto kinerja Pioli perlu dievaluasi. Bayangkan, dia dengan berani memainkan Mauricio, Onazi dan Radu yang tampil kurang prima sebelumnya sebagai starter! Di barisan depan pemain egois Keita dan Candreva tampil bareng, dan puncaknya tak ada striker predator di depan. Kishna, Klose, Djorjevic, ketiga striker hebat ini bersama Laziale hanya bisa termenung. Blunder bos. Perjuangan semusim penuh dihancurkan hanya dalam semalam.

Ah sudahlah, inilah dosa Pioli untuk serie A. Dengan makin terpuruknya klub-klub Italia di Eropa, makin tergeruslah pamor kita bernaung. Masakan yang lezat memang bermula dari racikan yang pas.

Leverkusen 3-0 Lazio (aggt. 3-1)

Bayer Leverkusen: Leno; Hilbert, Papadopoulos, Tah, Wendell; Kramer, Bender; Bellarabi (Ramalho 89′), Calhanoglu (Kruse 80′), Mehemedi (Brandt 76′); Kiessling

Lazio: Berisha; Mauricio, De Vrij, Radu (Kishna 56′); Basta, Onazi (Morisson 82′), Parolo, Lulic; Candreva, Keita, Felipe Anderson (Gentiletti 70′)

Karawang, 270815

Pamer Gaya Dua Kiper

Sebuah umpan silang di depan gawang Arsenal, disambut dengan sontekan tipis Benteke. Sebuah peluang yang kata komentator lebai, “ahai… peluang emas 99% gol” itu dibarengi dengan lonjakan kegembiraan sang arsitek Liverpool, Brendan Rodgers. Separo isi Emirate bergemuruh, namun tunggu dulu. Di depan Cech, bola sepak itu seakan kucing jinak sehingga berhasil dihalau. Sungguh sebuah penyelamatan gilang-gemilang. Bukan hanya sekali, eks kiper Chelsea itu jungkir balik pamer gaya di depan pendukungnya belasan kali. Babak pertama memang Arsenal mendominasi tapi total attempt mutlak milik Liverpool. Entah kenapa barisan belakang Arsenal macam orang linglung, yang untungnya di bawah mistar bukan Szczesny lagi. Cech mengubah papan skor yang seharusnya 1-4 menjadi 0-0. Yak, saya bilang 1 karena sebenarnya bola sempat menggetarkan jala Mignolet namun gol Ramsey dianulir.

Babak kedua dimulai, Arsenal lebih ofensif dengan mendorong Ozil lebih ke depan. Strategi bagus itu membuahkan peluang lebih banyak ketimbang interval pertama. Sewajarnya saya bilang, “Babak pertama Cech dibombardir tapi gol masih 0. Babak kedua giliran Mignolet, gol tinggal tunggu waktu.” Namun baru beberapa menit berjalan, Simon seakan menertawakan pikiran saya, dia melakukan penyelamat super! Bola kotak-katik di dalam kotak pinalti sampai akhirnya jadi bola liar di depan gawang, Giroud yang melihat situasi memungkinkan membuat Arsenal memimpin, segera saja menjatuhkan diri guna menyonteknya, sepakan tipis itu berhasil mendorong si kulit bundar menuju sasaran, saya sudah tepuk tangan. Akan tetapi edian, Mignolet berhasil menepisnya! Teriakan “goal….” yang seharusnya keluar dari mulut berubah jadi gumaman, “goal kick”. Masa-masa selanjutnya giliran kiper Liverpool unjuk kebolehan.

Detik berjalan lebih mencekam ketimbang saat menonton film Goosebump. Sanchez mulai frustasi. Ramsey gigit jari. Detik berubah jadi menit, menit lalu mengkonversinya menjadi jam. Skor masih kaca mata. Setelah belum juga gol terjadi Wenger merespon situasi dengan memasukkan dua pemain enerjik guna mempertajam serangan: Walcott kemudian Chamberlian. The Gunners terus berupaya membongkar pertahanan, Mission Impossible 5 kali Ozil dkk menembak 5 kali pula mereka memegang kepala geram tak berdaya. Sampai akhirnya memasuki menit-menit akhir upaya terakhir Meriam London pun sia-sia. Justru Liverpool harusnya bisa mencuri gol melalui skema serangan balik cepat. Sayangnya saat tiga pemain Reds tinggal menghadapi dua pemain belakang Gunners itu tak dimanfaatkan secara baik. Benteke yang sudah menyamping membuka ruang lalu meminta bola, tapi tak mendapatkannya, bola terus saja digocek Milner untuk mengelabui lawan. Sayangnya Milner bukan Felipe sehingga gocekannya dengan mudah disapu bersih.

Kedua tim sampai peluit panjang terdengar, gagal memecah kebuntuan. Keseruan laga tak tercermin di papan skor. Nyaris tiga lusin tendangan ke gawang tercipta, sama-sama bermain terbuka dan jual beli serangan tersaji dengan mendebarkan. Aduh, aku deg-degan. Bisa saja skor akhir 5-5, andai kipernya kiper Roma: Szczesny. Namun mau 0-0 atau 5-5 tetap poin yang dibagi satu sama. Yang membedakan adalah, Liverpool sampai tiga laga masih clean sheet. Keren deh, Cech tampil brilian itu sudah biasa. Tapi melihat gawang Mignolet tetap perawan itu luar biasa. Yang pasti hari ini kita puas melihat penampilan mereka yang sedang pamer gaya. Cech jelas jadi man of the match, rasanya tak sabar menantinya bertemu kawan lama lagi. Kami tunggu kau di Bridge, dan tetaplah gagah!

Arsenal 0-0 Liverpool

Arsenal (4-2-3-1): Cech; Bellerin, Chambers, Gabriel, Monreal; Coquelin (Chamberlain 81′), Cazorla; Ramsey, Ozil, Sanchez; Giroud (Walcott 73′).

Liverpool (4-3-3): Mignolet; Clyne, Skrtel, Lovren, Gomez; Can, Lucas (Rossiter 76′), Milner; Firmino (Ibe 63) , Benteke, Coutinho (Moreno 87′).

Karawang, 250815

Treble Bayern #30HariMenulis

Saya bukan pendukung Bayern Muenchen, dan juga bukan pembencinya. Jadi saya ada di tengah untuk klub terbesar Jerman tersebut.
Pagi ini Bayern Muenchen meraih treble winner setelah mengalahkan Stuttgard 3-2. Gelar ini melengkapi gelar Bundesliga dan Champions, menjadikan Bayern sebagai klub pertama Jerman yang bisa meraih tiga gelar bergengsi dalam semusim. Raihan prestisius ini jelas adalah pelampiasan kegagagalan musim lalu. Dua tahun dipecundangi Dortmund di liga, kalah di final DBF pokal dan yang paling menyakitkan jelas ditumbangkan klub Inggris, Chelsea di final Champions League yang digelar di kandang sendiri. Tahun lalu mereka merengkuh treble runner up!
Di Liga Jerman perjalanan Bayern sudah terlihat mulus dari awal. Bayern membantai lawan-lawannya dengan banyak skor mencolok. Selisih gol dan kemasukkannya pun timpang. Jadi tak heran Dormund sudah ngos-ngosan mengejar dan Bayern menjadi juara Liga premature ketika sisa pertandingan masih panjang. Mereka sudah memastikan juara saat menumbangkan Augsburg 3-0 di Stadion Allianz Arena pada 11 Mei 2013.
Di Liga Champions perjalanannya juga nyaris mulus. Menjadi juara grup Bayern tak terhadang sampai final. Paling hanya Arsenal yang sedikit mengejutkan, karena The Gunners bisa mengalahkan mereka di Allianz Arena. Yang paling sensasional tentu saja memporak-porandakan juara Spanyol di semi-final, Barcelona dengan aggreget 7 gol tanpa balas. Jumlah gol yang mencolok, yang membuat malu Spanyol. Jelas tak ada yang menyangka Barcelona akan menyerah dengan gelontoran gol semudah itu. Ada kejadian lucu, ketika Barca ketinggala empat gol di Allianz pemain Barca membuang-buang waktu. Bukannya mencoba untuk mengejar atau setidaknya mengecilkan kedudukan. Terlihat di layar kaca pemain Barca ketakutan skor makin membesar. Hal tersebut sekaligus sebagai tanda bahwa ini-lah tahunnya Bayern, ini-lah masa yang ditunggu pendukung FC Hollywood. Dan benar saja, di final yang dihelat di stadium Wembley, Inggris. Bayern mengukuhkan juara Liga Champions untuk yang kelima kalinya.
Perjuangan Bayern sungguh luar biasa. Menghadapi seteru senegara Dormund, Robben hampir saja merusaknya seperti tahun lalu. Berkali-kali playmaker Belanda tersebut membuang peluang emas di depan gawang. Terlihat egois karena ketika Robben sudah head-to-head dengan kiper dan melihat ada rekan yang berdiri bebas seharusnya melakukan passing. Babak pertama berakhir 0-0 dan menjadikan pertunjukan para kiper.
Gol yang ditunggu pun akhirnya hadir ketika Robben memberi assist matang ke Mandzukic dan menyelesaikannya dengan mudah. 1-0. Asa untuk juara kembali jatuh ketika Dante melakukan pelanggaran konyol dan skor pun sama 1-1. Mengingatkan final musim lalu yang akan dilanjutkan ke perpanjangan waktu setelah skor sama kuat selama 2×45 menit. Tiba menit-menit terakhir kemelut di depan garis penalti Dormund, Robben menyabet bola liar dan mendribbelnya memasuki kotak terlarang. Melihat kipernya maju, Arjen Robben melakukan tendangan ringan untuk menjadikannya pahlawan. Skor 2-1 bertahan sampai akhir dan Muenchen-pun resmi menerima piala estafet dari Chelsea. Robben dari pecundang final menjadi pahlawan.
Yang mengesalkan adalah tahun ini Liga Champions disiarkan oleh SCTV, dan seperti yang kita tahu SCTV adalah rajanya iklan kala menyiarkan bola. Seperti Liga Europa ketika Chelsea juara seminggu sebelumnya, SCTV men-skip perayaan juara. Hal yang membuat jengkel penggemar sepak bola seantero Indonesia.
Juara Champions ini ternyata bukan puncaknya, karena hari ini tanggal 2 Juni 2013 WIB Bayern Muenchen mengukuhan treble winner. Pertandingan DBF pokal melawan Stuttgard, Bayern sempat nyaman dengan skor 3-0 melalui gol penalti Mueller dan 2 gol Gomez. Namun kenyamanan skor buyar setelah Stuttgard mencetak 2 gol sampai 10 menit jelang berakhir. Sisa menit yang membuat deg-degan fan Bayern dan yang mengherankan termasuk saya. Di detik terakhir Neuer melakukan penyelamatan setelah sundulan terakhir di pertandingan tersebut bisa diamankan. Dan ketika peluit panjang nyaring terdengar, pecahlah pesta FC Hollywood.
Perpisahan yang manis dari Jupp Heynkes, dia meninggalkan Bayern dengan tepuk tangan meriah. Hal ini sekaligus menjadikan beban yang sangat berat buat pelatih baru mereka musim depan, Pep Guardiola. Zona nyaman Bundesliga yang awalnya terlihat enak kini malah menjadi beban karena Jupp malah mewarisi skuat juara.

Gambar

Danke Jupp, Anda luar biasa. Setelah musim lalu mereka treble runner-up maka Gelar ke-16 DBF Pokal ini melengkapi treble Bayern.
Treble winners in European history: Ajax 1972, PSV 1988, Manchester United 1999, Barcelona 2009, Inter Milan 2010, Bayern 2013.
Karawang, 020613