Kisah Dalam Satu Jam

Dunia yang palsu, mengapa pendanganmu menyilaukan kami.”

Kumpulan cerpen Penulis dunia. Nama-namanya sudah mendunia, sebagian besar sudah akrab di telinga. Pas memutuskan beli ya karena karya mereka adalah jaminan kualitas. Jarang saya beli kumpulan cerpen dengan sistem keroyokan gini, iseng ambil pas di Zona Kalap IIBF 2018.

#1. Kerangka – Rabindranth Tagore
Kisah pembuka yang luar biasa. Kisah sederhana di tangan Tagore menjadi wow. Tentang balas dendam, tentang cinta yang tak sampai. Ditulis dengan halus, tanpa menggebukan amarah arti kesumat itu sendiri. Ada ruang berisi kerangka, dengan sudut orang ketika kita disajikan cerita berlapis bagaimana kisah tragis menjadi dahsyat. “Apakah kau masih di sini?

#2. Kasus Pembunuhan – Graham Greene
Pembunuhan ganjil dengan sebutan ‘Kasus Peckham’. Di dini hari yang remang pembunuhan terjadi. Menghadirkan beberapa saksi salah satunya Nyonya Salmon yang melihat jelas dari sibak tirai jendela. Begitu sidang pengadilan telah berjalan dan niscaya Anda pun akan berpendapat pastilah si penjahat, Adams akan dihukum gantung. Namun sebuah bukti lain mengejutkan sehingga segala yang tampak yakin menjadi kabur. Kisah dengan cerdas melontarkan pilihan ketiga, dan ending yang mengerikan. “Anda lihat orang itu sekarang ada di sini.”

#3. Perkampungan Indian – Ernest Hemingway
Orang Indian akan menyukai sesuatu jika diberi kesempatan. Tentang persalinan di seberang dermaga. Nick dan ayahnya dijemput orang Indian untuk membantu kelahiran, pasangan sang ibu hamil kemarin sakit parah sehingga saat persalinan berlangsung ia mendekam dalam kamar dengan erangan sakit tiada tara. Lebih nyaring dank eras ketimbang proses persalinan itu sendiri. Akhirnya sendiri menyedihkan. Ironi bagaimana sang Penulis akhirnya malah berakhir dengan bunuh diri. “Apakah banyak manusia yang bunuh diri?

#4. Burung Bulbul – Marxim Gorky
Cerita keempat tetap luar biasa, bagaimana siulan burung bulbul menjadi penanda. Bagaimana orang dengan teknik khusus bisa mencipta siulan burung bulbul. Trik dan segala keahlian itu mengecoh para penumpang kapal. Kesedihan merambat di atas sungai yang tampak lesu. “Ketika saya sudah mahir meniru kicau burung, orang-orang desa mengatakan kepada saya. Teruskan bersiul, Misha…” Kita telah mendengar kicau burung bulbul, burung yang menjadi mahsyur karena penyair, bukan karena anak desa penjiplak tadi. Ternyata mengetahui kenyataan tak lebih indah dari ilusi.

#5. Kisah Dalam Satu Jam – Kate Chopin
Bagaimana dengan kita, akankah kita ke surga nanti?” Sebagai cerita yang diambil sebagai judul utama, kisah ini benar-benar keren. Tragis, unik dan sungguh diluar duga. Nyonya Mallard yang mengidap penyakit jantung diberi tahu dengan tenang oleh Josephine, adiknya bahwa Brently Mallard sang suami ada dalam daftar orang ‘meninggal’ dalam musibah. Mereka mengatakan mencoba sehalus mungkin. Sedih, dan mencoba menyangkalnya Nyonya Mallard menyendiri dalam kamar. Ia muda dan cantik, kesedihan ini tak bisa dibiarkan berlarut, sampai akhirnya kisah menemui titik kejut yang dahsyat. “Bebas, bebas, bebas.”

#6. Rumah Di Jalan Buntu – Mahesh Bhargava
Empat Sekawan: Biman Guha, Paritosh Sen, Mayank Cahtterji dan Surajit Gangguly selalu tampak bersama di kampus sebagai para penikmat seni, sastra dan cerita petualangan. Keempatnya melakukan perjalanan ke Calcuta, mereka harus istirahat bermalam di sebuah rumah di jalan buntu. Dan sesuatu yang tak terduga terjadi. “Jika sungai Gangga melimpah airnya, orang-orang miskin yang tinggal di sepanjang tepi-tepinya akan kehilangan barang-barang dan tempat tinggalnya.”

#7. Sumur Thakur – Prem Chand
Cerita klasik dari Banaras. Gangi yang membutuhkan air bersih untuk minum Jokhoo yang lemah, hanya tersedia air lumpur. Ada sebuah sumur di keluarga kaya tuan Thakur. Kebimbangan, kenekadan, atau sebuah tindakan buruk dalam menentukan pilihan? Malam itu Gangi melakukan sesuatu yang sungguh liar. “Kami hanya berpikir lebih baik bekerja keras dan mandiri.”

#8. Glushenko Dan Bunga Aster – Hellen Melpomene Brown
Tentang dialog-dialog panjang di meja makan. Para bangsawan Ukraina, Prancis dan beberapa utusan menikmati malam dengan santai sampai akhirnya bunga aster yang dimaksud butuh ‘pertolongan’. “Pernahkah kau membaca kisah Star Rover karya Jack London? Pengalaman-pengalamannya di penjara.” Mereka selalu bilang jangan habiskan untuk pesta pernikahan atau jangan habiskan uang untuk pemakaman. Walau begitu, ayahku bukanlah seorang ahli kayu, melainkan seorang ahli sihir.

#9. Pendosa – Sherman Alexie
Tentang mimpi buruk Jonah akan perang. Kepanikan melanda, sebagian menyangkal, sebagian peduli dan bersiap. Ini kisah anekdot sebelum perang saudara pecah di Amerika, dan seperti yang sudah kita ketahui, pertempuran akhirnya terjadi, mimpi Jonah benar. “Ibu, akan terjadi perang.” Kami memasuki cahaya terang, aku memasuki cahaya terang.

#10. Bayi Dalam Bak Sampah – Donne Bartholomew
Cerpen dari Singapura dengan judul asli, ‘The Baby in the Rubish Bin’. Seorang anak yang selalu menghindari bak sampah saat pulang karena sebal ada Froggy, kodok berisik. Namun suatu hari ia menemukan bayi dalam bak sampah, dan esoknya koran-koran memberitakan penyelamatan itu. “Seorang pahlawan.

#11. Kain Kafan – Prem Chard
Pasangan miskin yang aneh, Madhava dan Budhiya. Budhiya sakit keras. Lalu Gheeso sang pengerajin kulit, memberi saran pada sobatnya agar menengok istrinya. Madhava yang juga aneh keberatan. Mereka melarat dan sungguh menderita. Bahkan saat Budhiya esoknya meninggal mereka ga kuat beli kain kafan. Sumbangan datang, terkumpul dan mereka pun mencoba mencari kain ke pasar. Sungguh mengejutkan uang receh itu malah habis buat mabuk. “Kita bilang saja uangnya jatuh dari sarung yang kita pakai. Mereka tak akan percaya, tapi mereka akan memberi kita uang lagi.” Duh, berengsek!

#12. Selembut Tangan Ibuku – Robert Fontaine
Suami istri tua yang masih saja terkejut akan tingkah pasangannya. Hidup memang untuk dinikmati, tetapi apa yang kita impikan lagi jika sudah berumur 80 tahun dan sudah menikah lebih dari 50 tahun. Bukankah semua jalan sudah dilewati, semua laut sudah diseberangi? Sang aku, sang anak menjadi pencerita bagaimana kedua orang tuanya dengan tingkah aneh melewati malam. Ayahnya pergi dan tak kembali, kekhawatiran melanda, dan pencarian terjadi. Esoknya saat ayah mereka pulang, dengan santai menjawab. “Aku pergi ke bioskop.” Oh. Dan fakta-fakta kasih sayang yang abadi tersaji. Saat dia menggenggam kedua jari tangannya dalam berdoa atau menepuk tangannya, jarak antara bumi dan bulan bisa berubah.

#13. Harta Terpendam – Alberto Moravia
Kisah tak lazim bahwa dari obrolan di rumah makan sebuah penginapan memicu kriminal. Si tua Marinese melontarkan sebuah kabar bahwa ia memiliki emas yang terpendam di pekarangan. “Suatu hari kelak saat tua renta dan tak mampu bekerja, aku akan menggalinya.” Maka sang aku, pelayan dan Remigio merencana merampok, meminta paksa petunjuk tempat penyimpanan emas. Dengan berbekal sekop, linggis dan sepucuk pistol malam itu kejahatan tercipta. “Dan apa yang kau lakukan dengan pistolmu?”

#14. Gadis Pintar – Margaret Bonham
Ia ingin menarik perhatianmu, dan kamu memberinya perhatian.” Penutup yang bagus. Kisah tentang penulis yang mengirim naskah ceritanya ke media. Koran The English Review dipimpin oleh lelaki bernama Stendel, dibantu sekretaris laki-laki Mark Pellini. Suatu hari seorang tukang pos mengantar sebuah kiriman naskah cerita bagus sekali, benar-benar narasinya hebat sampai-sampai apa yang dikisahkan tampak nyata. Sang pengirim gadis introvert yang freak. Cerpen berikutnya ‘Ruang Tunggu’ sama hebatnya, sampai-sampai Stendel terbawa cekam saat naik kereta dan di ruang tunggu seolah muncul karakter cerpen, mengancamnya. Penutupnya nge-twist bagaimana cerpen sang gadis berkisah pembunuhan oleh sopir taksi, siapa korbannya, kalian akan begidik. “Aku tidak bohong Mark! Karangan Nona Anna itu benar-benar terjadi pada diriku.”

Harbolnas, menikmati Mizan Store

Ditemukan banyak typo, editing yang buruk, layout berantakan. Entah bagaimana semua itu diloloskan untuk dicetak, dan betapa menyedihkan untuk dijual! Sebuah penerbit kecil, penerbit indi sekalipun hal-hal dasar harus tetap diperhatikan. Proof reader, cek and ricek, sumber yang valid dst. Bahkan setiap profil Penulis seharusnya ada foto, ada yang kelewat kosong. Seolah editingnya memang tak tuntas, atau malah mencari foto Penulis ga ketemu? Di era digital gini? Alamak!

Sayang sekali, tulisan sebagus ini dibawakan dengan ala kadarnya. Ibarat makan udang rebus kualitas restoran bintang lima disajikan dalam semangkuk plastik berdebu. Sulit untuk cetak ulang bila sajiannya penuh minor gini. Namun saya percaya, 30, 40, atau 50 tahun lagi buku terbitan kecil gini akan langka dan menjadi cult. Dan saya berpendapat Kisah Dalam Satu Jam bakalan menjelma cult, cocok untuk kolektor!

Kami akan melaksanakan apa yang menjadi tugas kami, dan kami akan melaksanakan tugas dengan cepat dan tanpa menimbulkan rasa sakit.”

Kisah Dalam Satu Jam | Kumpulan Cerpen Penulis Dunia, diterjemahkan dari berbagai sumber | Cetakan I, Februari 2015 | Diterbitkan oleh Penerbit Literati | Penerjemah dan Editor Edi Warsidi | Lay out Rozal Rabas | Desainer sampul M. Shodiq N. | 242 hlm.; 13 x 19 cm. | ISBN 978-602-8740-41-8 | Skor: 4/5

Karawang, 121218 – Nikita Willy – Ku Akan Menanti

Iklan

Satu Hari Bersamamu – Mitch Albom

Aku tidak mau menjadi biasa-biasa saja. Orang yang bisa terlupakan begitu saja.”

Ada begitu banyak hal dalam hidupku yang ingin kuperbaiki. Begitu banyak peristiwa yang ingin kuulang. Poin utama novel ini mungkin adalah kesempatan. Pernahkah kau kehilangan seseorang yang kau sayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika kau mengganggap mereka akan ada selamanya? Bagaimana kalau kau bisa mendapatkan kembali satu hari itu? Menakjubkan bagaimana otak bisa berfantasi demikian jauh. Satu hari bersamamu, ibu.

Kisahnya agak klise, ketebak, dan ini (mungkin karena) bukan buku pertama Mitch Albom yang saya baca maka seolah ini adalah pengulangan. Bagaimana manusia yang menerungi kehidupan di dunia antara, di dunia lain, lalu kita ambil hikmah kehidupan, betapa hidup kita adalah anugerah, syukuri saat ini. SEKARANG. Jadi yah, ga mengejutkan, kisah ini manjadi familiar. Pertama wow, kelima masih Ok deh, kesepuluh dah bosan. Berikutnya standar. Menjadi rata-rata telah dianggap sebagai sebuah standar kegagalan.

Aku ingin memperbaiki banyak hal dengan orang yang kucintai.
Sesuai judulnya, buku ini bercerita dalam satu hari. Dibuka tengah malam, siang, sore dan ditutup malam harinya. Runut, dengan sesekali memainkan pola flash back. Ibuku mengisi penuh hidupku semasa kanak-kanak – memberi saran, mengkritik, segala hal yang biasa dilakukan seorang ibu. Kadang aku bahkan berharap dia tidak merecoki aku.

Awalnya kita diajak sebagai sang Penulis (sudut Albom tentunya), ia sedang menunggu, menghabiskan waktu sendiri di tempat duduk bersama kertas dan alat tulis. Lalu ada seseorang yang nyamperin, menawarkan kisah bahwa ada seorang mantan atlit yang pernah ke World Series, pernah mencoba bunuh diri. Charles ‘Chick’ Benetto mempunyai hidup yang laik untuk diceritakan, maka sang Penulis pun menemuinya. “Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.” Dengan berbekal ingatan akan kenangan ibunya dan segala masa lalu yang mengharu, kita pun memasuki babak sesungguhnya. Masa lalu tidak seharunya menghilang seperti itu.

Maka kitapun mendapat sajian cerita kenangan, mulai dari sangat awal. Sudut pandang berganti ke sang mantan atlit. Terlahir dari keluarga bahagia, Chick sangat mencintai ibunya, ayahnya selalu mendorong untuk menjadikannya atlit softball – impian ayahnya yang dilanjutkan ke anak. Sedari kecil para ibu membangun ilusi tertentu tentang anak-anaknya, dan salah satu ilusiku adalah aku menyukai diriku sendiri, karena ibuku menyukaiku. Ketika dia meninggal, pemikiran itu ikut menghilang. Dan begitulah yang terjadi saat orangtuamu meninggal, kau serasa berangkat berperang seorang diri, setiap kali, tak ada lagi yang mendukungmu. “Pohon menghabiskan harinya memandangi Tuhan.”

Chick memiliki seorang adik yang sangat penurut dan seolah bisa dibentuk sesuai kehendak orang tua. Keluarga ini seolah tiba-tiba berantakan – padahal beneran berantakan, tapi karena dari sudut pandang anak kecil, kita tak tahu sejatinya apa yang terjadi, awalnya. Ketika suatu malam ayah Chick pergi dan tak kembali kecuali saat-saat akhir pekan sesuai jadwal kunjungan. Anak sekecil itu tak tahu bahwa orang tua mereka cerai. Kenapanya akan terjawab di akhir kisah, sejatinya ini akan jadi kejutan utama cerita ini. Tapi jelas, saya tak terkejut karena memang tertebak. Cerai, palingan ada orang ketiga dan yah, selurus. Nah hari-hari berikutnya sungguh perjuangan. Ibunya yang janda menjadi gunjingan. Dan yang lebih parah, ibu masih muda dan cantik. Maka bagi para wanita dia adalah ancaman, bagi para pria dia adalah kesempatan, dan bagi anak-anak keanehan. Kalau kupikirkan lagi, tidak satu pun pilihan bagus.

Sebagai single parent dari keluarga menengah ke bawah, jelas masalah ekonomi pada akhirnya muncul. Aku percaya itu. Perceraian mengubahmu, membawamu pergi dari segala sesuatu yang kaupikir kau tahu dan segala sesuatu yang kaupikir kauinginkan, dan mengantarmu ke dalam berbagai macam hal yang lain, seperti diskusi tentang korset ibumu dan apakah dia seharusnya menikah lagi dengan orang lain. Ibunya memilih membesarkan buah hatinya sendiri, mulia tanpa dibagi dengan pasangan baru. Dengan kasih sayang sepanjang masa. Dia menyayangiku saat datang dan pergi, pada saat-saat terburuk dan terbaik. Dia memiliki sumur rasa sayang yang tak berdasar buatku. Ibuku beranggapan mengklakson orang adalah tindakan tidak sopan; pada tahun-tahun sesudahnya dia selalu mengingatkan adikku bahwa anak laki-laki yang tidak mau datang mengetuk pintu depan rumah tidak pantas menjadi pria yang dikencani.

Yang terjadi saat impianmu menjadi nyata adalah kesadaran yang perlahan luruh bahwa impianmu tidaklah seperti yang kaubayangkan. Impian Chick untuk menjadi atlit pro akhirnya terwujud, namun ada efek yang sungguh menyakitkan. “Charley, aku sangat bangga padamu.” Itu adalah titik tertinggiku. Aku berhenti kuliah, setahun kemudian. Itu adalah titik terendahku. Siapa yang pantas disalahkan? Uang kuliah yang diperjuangan ibunya seakan menguap percuma demi ambisinya menjadi olahragawan, yang pada akhirnya juga sungguh biadap, ternyata dia tak setangguh pemain pro yang diharapkan, segala usahanya menembus pemain hebat gagal bertahan lama, ia tak maksimal. Dan menjadi tak terdengar adalah dasar bagi seseorang untuk menyerah, dan menyerah adalah titik awalmu melepaskan diri. Sedih bagian ini, ibunya bekerja dobel shift, menjadi pembantu, menjadi penjaga toko menjadi apa saja asal halal demi pendidikan sang buah hati, namun semua terhempas seketika saat Chick memutuskan mengundurkan diri dari kuliah demia karir olahraganya, tanpa minta pertimbangan, tanpa kabar lebih lanjut. Sedih sekali. Hal yang manjdai karma, balasan saat putri Chick menikah tanpa minta restu. Hiks, tak diundang di acara pernikahan anak, hanya dikasih tahu dia sudah menikah. Huhuhuhu…

Anak yang merasa malu karena ibunya, hanya anak yang belum terlalu lama menjalani hidup.”
Dalam berkeluarga, Chick juga akhirnya berantakan. Perceraian, bahkan anaknya pun berontak, dia biasa lari ke arahku setiap kali aku pulang kerja, dengan lengan terulur, berseru “Ayah, gendong aku.” Sekali ini, putri kecilku tak akan meraih tanganku dan menenangkanku, dia milik orang lain sekarang. Ironi kehidupan ataukah memang hal semacam ini garis hidup yang biasa dalam keluarga berantakan? Aku tidak ditanyai. Aku hanya dikabari. Kesepian dan alkohol menjadi pelarian. Walau kau ingin mati, kau terselamatkan. Siapa yang bisa menjelaskan itu?

Dia bilang aku pintar dan bahwa pintar itu berkat, dan dia berkeras supaya aku membaca satu buku seminggu, dan mengantarku ke perpustakaan untuk memastikannya. Mereka melihat diri sendiri sebagai beban dan bukan sebagai jawaban doa.

Nasehat ibunya selalu terpatri. Kau harus mengusahakan bersama-sama, dan kau harus mencintai tiga hal: 1). Satu sama lain 2). Anak-anakmu (kalau kau sudah punya! Tahu maksudku, kan?). 3). Pernikahanmu. Sebuah pengalaman pahit itu, sayangnya bukannya terhindar malah terulang. “Kembali menjalani yang pernah kautinggalkan itu lebih sulit daripada yang kaukira.”

Saat turun, karena saat kau mendaki memusatkan perhatian sepenuhnya untuk mencapai puncak, kau menghindari semua kesalahan. “Punggung sebuah gunung adalah peperangan melawan tabiat manusia. Kau harus hati-hati dengan hidupmu saat menuruninya, sama saat kau menaikinya.” Maka suatu hari saat ia menjalani rutinitas kerja yang tak ideal itu, ayahnya menghubunginya bahwa ada pertandingan amal, pertandingan eksebisi para mantan pemain pro dan kebetulan salah seorang tak bisa hadir. “Kalau kau tak berani menanam uang, kau tidak akan mendapatkan uang.” Ayahnya mengusahakan, mendorong Chick untuk ambil bagian, mencoba kembali eksis, diminta mendekati orang-orang itu, carilah koneksi! Mencoba segala cara agar sang putra tetap ada dalam lingkup olahraga. Padahal saat itu hari Minggu, Chick punya acara lebih penting dengan keluarga dan ibunya. Dia punya pilihan dan harus memutuskan. “Menyia-nyiakan waktu itu sungguh memalukan, kita selalu berfikir kita punya terlalu banyak waktu.”

Aku menyadari, betapa sifat orangtuamu diteruskan melewati dirimu kepada anak-anakmu, entah kau menyukainya atau tidak. “Aku melakukan apa yang penting bagiku, aku menjadi seorang ibu.” Pilihan hidup terkadang terlihat salah, Chick pastinya menyesali pilihan itu, tapi bisa apa? Dia menunduk. Aku menghembuskan napas. Semakin kau membela kebohongan, semakin marah kau jadinya. Kau punya satu keluarga, kau tak boleh menukarnya. Tidak boleh mendustainya. Kau tidak bisa menjalani dua dalam waktu bersamaan. Berpindah-pindah dari satu ke yang lain. Waktu tak bisa diulang?!

Percaya, kerja keras, cinta – kalau kau punya hal-hal ini, kau bisa melakukan hal apapun.” Banyak hal berubah saat kau tak lagi dalam bahaya. Dan kesampatan satu hari yang Chick peroleh menghabiskan hari bersama ibunya, tampak nyata, tampak benar-benar bisa menemui orang terkasih yang sudah meninggal, bisa menyampaikan banyak hal yang tertunda. Bercerita dalam tawa, berbagi. Nostalgia. Tapi akhirnya apa? Dunia antara, dunia yang ditawarkan malaikat itu semu. Hal-hal yang sudah terjadi tak bisa diubah, waktu terus meluncur linier, Chick hanya bisa mengubah masa depannya. Termasuk kita – pembaca.

Rahasia-rahasia, hal itu akan menghancurkanmu.”

Satu Hari Bersamamu | By Mitch Albom | Copyright 2006 | Diterjemahkan dari For One More Day | 6 16 1 86 013 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Olivia Gerungan | Sampul Orkha Creative | Cetakan kelima, September 2016 | 248 hlm; 20 cm | Skor: 3/5

Karawang, 111218 – Nikita Willy – Pernikahan Dini


Kubaca dalam dua kali kesempatan duduk. Minggu pagi mudik 4-Nov-18 di Palur saat mudik dengan kopi mengepul dan Pulang kerja di Rabu malam seusai lari sore sembari menunggu hujan reda.

(review) The Amulet Samarkand – Buku Satu Trilogy Bartimaeus: Runs Wild Your Fantasy!

Gambar

Catatan: Ini adalah tulisan pertama dari tiga review yang akan saya posting. Tentang sebuah cerita fantasi yang luar biasa.

Inilah buku yang selama ini saya cari. Setelah tergila-gila dengan Harry Potter yang berakhir sudah kisahnya tahun 2007, belum ada lagi novel yang bisa mengisi hatiku sampai sekarang selain The Hobbit yang kubaca tahun 2009 dan novel Jonathan Stroud ini. Kisahnya gila, luar biasa imajinasinya. Dunia ini memang terbagi banyak dimensi (dalam kisah ini disebut plane), dan saya percaya itu. Kalau Anda pun sepakat maka buku ini sangat layak Anda sikat!

Saya sudah mengetahui ini novel (katanya) bagus sejak tahun 2007 saat booming Harry Potter mencapai puncaknya dari seorang teman yang juga suka fantasi. Saat itu dia merekomendasikannya. Sayangnya di kota pinggiran Cikarang tak ada toko buku Gramedia jadi sulit dicari sampai akhirnya nyaris lupa. Tahun 2009 baru saya menemukannya ditumpukan buku diskon di Mal Lippo Cikarang, namun hanya ada satu seri yaitu yang Golem’s Eye. Seri dua yang saat kubaca membuat pening. Yaiyalah, saya ga tahu awal mula perjalanan Bartimaeus tiba-tiba saya sudah dihadapkan perang di kota Praha abad ke-19. Jadinya novel tersebut ikut numpuk dengan buku-berat-belum-baca-lainnya. Baru awal tahun 2014 ini saya berhasil memikikinya via beli online sama teman di Tangerang/Klaten. Setelah dua hari pasca konfirmasi kirim, novel seri satu dan tiga tanggal 26 Januari 2014 lalu sudah di tangan. Dan mulailah saya berpetualang.

Dikisahkan seorang penyihir muda bernama Nathaniel diam-diam memanggil jin berusia 5000 tahun bernama Bartimaeus. Tugas untuk Bartimaeus sungguh berat, ia harus mencuri Amulet Samarkand yang berkekuatan dahsyat dari penyihir culas Simon Lovelace. Adegan dibuka dengan kedatangan Bartimaeus dalam sebuah ruangan gelap yang dipenuhi asap belerang kuning menyesakkan. Bartimaues, jin senior itu dipanggil oleh penyihir muda untuk melakukan sebuah tugas. Butuh mantra yang tepat, tindakan tepat, nama yang tepat untuk bisa memanggil jin level empat. Anak yang berumur 12 tahun tak semuanya bisa memanggilnya, bahkan penyihir dewasa sekalipun. Jadi saat Bartimaues tahu anak kecil yang memanggilnya, dia menyepelekan dan menganggap remeh Nathaniel. Agar terdengar keren Barty memperkenalkan dirinya dengan lengkap: “Aku Bartimaues! Aku Sakhr al-Jinni, N’gorso yang hebat dan sang ular dari Silver Plumes! Aku membangun kembali tembok-tembok Uruk, Karnak, dan Praha. Aku berbicara dengan Solomon. Aku pernah berlari dengan nenek moyang kerbau-kerbau di padang rumput. Aku menjaga Zimbabwae tua hingga hujan batu menghancurkannya dan anjing-anjing memakan tuan-tuan mereka. Aku Bartimaues. Aku tak bertuan maka aku memerintahkan untuk menjawab bocah. Siapa kau yang berani memanggilku?”

Dari situ saja saya sudah terkesima. Ini jin sombong banget, dan kocak. Namun tak disangka dia kena getahnya, Nathaniel ternyata penyihir muda yang istimewa. Gertakkan Barty tak membuat gentar Nat, sehingga dengan lantang dia menjawab: “Dengan lingkaran pembatas, ujung-ujung pentacle, dan rangkaian tulisan kuno, aku tuanmu! Kau akan mematuhi perintahku!”

Barty terkesan dengan jawabannya, dan lebih kaget lagi saat tahu tugas yang menantinya. Sempat berprasangka bahwa penyihir cilik ini dimanfaatkan masternya untuk melakukan kejahatan namun akhirnya dalam perjalanan waktu Barty menyadari ada yang tak beres dalam misi tersebut. Mereka akhirnya terlibat dalam persekongkolan penuh darah, intrik untuk mengkudeta pemerintahan Inggris sampai ancaman kemunculan demon besar.

Misi pertama Barty sukses, walau dalam pencuriannya dia harus berjuang keras karena ternyata Simon adalah orang yang berpengaruh dalam pemerintahan Inggris. Tak disangka olehnya, setelah berhasil membawa pulang Amulet Samarkand, dia diberi perintah kedua untuk menaruhnya di ruang master Nathaniel: “Bartimaeus, aku memerintahkanmu membawa Amulet Samarkand dan menyembunyikannya dalam ruang penyimpanan benda-benda sihir milik Arthur Underwood, menyembunyikannya sehingga dia tak dapat menemukan, dan melakukan hal ini dengan amat sangat lihai sehingga tak seorang pun, baik manusia maupun makhluk halus, dalam plane ini atau plane-plane lain, dapat melihatmu masuk atau keluar; aku kemudian memerintahkanmu segera kembali kepadaku, diam-diam tak terlihat, untuk menunggu perintah selanjutnya”.

Jeder! Permulaan yang bagus untuk sebuah cerita fantasi. Alurnya lalu maju-mundur antara masa lalu Nat dan masa sekarang. Terungkap alasan kenapa Nat mencuri Amulet tersebut dari tangan Simon, yang ternyata benda tersebut menyimpan kekuatan sihir yang besar yang fungsinya dapat untuk menghalau serangan sihir. Dalam sebuah penuturan panjang, terungkap pula asal usul Amulet yang sebenarnya milik pemerintahan Inggris. Perpindahan tangan yang berdarah, sampai akhirnya kita tahu ini semua tentang perebutan kekuasaan. Sebuah misi kudeta menggulingkan Perdana Menteri Inggris. Benar sekali kata Barty bahwa manusia adalah tempatnya ambisi akan kekuasaan, menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri dan pengemis hormat. Hal ini sudah terjadi ribuan tahun sebelum Masehi. Perebutan kekuasaan selalu berputar secara periodik demon-penyihir-manusia. Dalam cerita ini Inggris pemerintahannya diatur oleh penyihir. Manusia ada di bawah untuk mengabdi. Kalau dalam Harry Potter manusia tanpa kekuatan sihir disebut Muggle, maka dalam kisah ini mereka menyebutnya Commoner. Kalau dalam seri Dark Material, kata daemon (atau demon) adalah makhluk yang bisa berubah wujud yang menemani setiap manusia, di mana berubahan wujud akan terhenti saat dewasa. Sedangkan dalam kisah ini kata demon lebih diartikan luas. Demon adalah makluk di dunia lain yang terdiri dari lima tingkatan, dari yang terendah sampai tertinggi: imp, foliot, jin, afrit, dan marid. Lalu terpecah dalam tiap kelas sesuai dengan kekuatannya. Selain kelima tingkatan ada dunia lainnya lagi yang belum terdeteksi. Dalam kisah pertama ini akan muncul salah satu makhluk bernama Ramuthra. Karena sudut pandang kita adalah seorang jin kelas empat, maka diapun tak bisa menuturkan plane yang lain. Commoner hanya bisa melihat plane pertama. Penyihir bisa plane yang lebih tinggi, sedang jagoan kita Barty bisa melihat sampai plane ketujuh. Dan makhluk dunia lain dari dunia lain tersebut ada dalam plane yang lebih tinggi. Rumit? Saya juga bingung mau menjelaskannya. Intinya adalah ada dunia lain di dunia lain.

Lalu ada satu aturan lagi dalam kisah ini. Penyihir harus menyembunyikan identitas nama lahir dari siapapun, karena kalau sampai nama lahirnya bocor diketahui musuh maka habis sudah kariernya. Karena akan digunakan untuk menyerang dia, sihir akan bisa ditangkis dan berbalik menyerang dengan meyebut namanya. Penyihir akan diberi nama resmi saat usianya 12 tahun. Nathaniel resmi memakai nama John Mandrake, nama yang pernah dipakai dua kali sebelum dirinya. Lalu terdaftar secara resmi di pemerintah. Namun sial bagi Nat, saat dalam misi Barty tak sengaja mendengar nama asli Nathaniel sehingga kedudukan master dan pelayan seimbang. Dalam perjalanan mereka berdua malah saling mengisi. Bahkan Barty sempat memuji bahwa Nat ternyata tidak seperti penyihir yang lain, istilahnya masih ‘punya hati’. Namun siapa yang tahu saat usia makin dewasa kan? Bukankah anak kecil yang terlihat imut saat dewasa bisa sebengis singa kelaparan? Menambah kerumitan, ada kelompok Resistan yang bisa anti sihir atau menemukan kekuatan sihir padahal bukan penyihir. Nantinya di seri dua akan lebih dominan dalam perebutan tahta.

Benang merah cerita Amulet Samarkand adalah percobaan kudeta. Perebutan kekuasaan sesama penyihir. Inggris dikisahkan menjadi penguasa Eropa, dan sedang menginvasi Amerika. Namun tak dijelaskan secara pasti apakah terjadi di masa kini (saat novel terbit tahun 2005) atau masa perang dunia kedua. Karena tekhnologi sudah maju, email, pesawat terbang dan telepon sudah ada. Cerita fantasi dipadukan dengan sejarah dunia. Kisah 1001 malam, Willian Glasstone, Romawi, zaman Cina, sejarah panjang Mesir sampai kisah nabi Sulaiman (Solomon) dipadukan dan tampak megah. Yang jelas Stroud sukses membuat kita percaya bahwa ini bisa saja terjadi di dimensi lain di dunia ini.

Satu lagi yang istimewa dalam kisah ini adalah, penuturannya yang mengambil sudut pandang dua karakter. Secara bergantian kita akan ditempatkan pada karakter Nat dan Barty. Bagaimana perasaan mereka dalam menjalankan misi. Menurut saya ini diluar kebiasaan kisah fantasi yang biasanya mengambil sudut pandang orang pertama. Nantinya di seri dua dan tiga bahkan sudut pandang akan lebih variatif bukan hanya Nat dan Barty.

Saya menyelesaikan baca novel 500 halaman ini dalam seminggu di tengah rutinitas kerja. Sebuah prestasi untuk ukuran orang yang (pura-pura) sibuk ini. Saya setuju sama pendapat kebanyakan orang, ini novel bagus. Eh ralat, ini novel yang sangaaaaaaaaaaat bagus. Karena genre favorite saya di fantasi maka melahap Amulet Samarkand itu ibarat anak kecil yang baru saja menemukan sekotak coklat. Nikmat sampai tetes terakhir.

Jadi berhasilkah kudeta Simon? “Hapuskan cengiran konyol itu dari wajahmu!” dan lalu kita (para pembaca) tertawa terbahak-bahak.

Karawang, 150214

Satu Tahun Najwa Saoirse

Gambar

Hari ini satu tahun yang lalu putri pertama kami, Najwa Saoirse Budiyanto terlahir sehat. Saat itu malam Jumat, 8 November yang gerimis. Sepertinya semua berjalan sesuai rencana. Melalui operasi Caesar yang dilakukan saat adzan Isya’ sampai satu jam berselang. Tangisnya pecah, saya mengumandangkan adzan dan iqomat di kedua telinganya. Orang pertama yang mengucapkan selamat adalah ayah mertua, saya pun kembali mengucap selamat kepada beliau akhirnya punya cucu. Sanak family mulai ke rumah sakit untuk mengucapkan selamat, sms mulai berdatangan. Ibu ku telpon, “selamat le, wes dadi ayah”. Saya menangis terharu.

Jam 10 malam saya meninggalkan ruang bayi menuju kamar istriku berbaring. Saya kecup keningnya. Di sekeliling banyak keluarga yang berjaga, menengok sambil membawa makanan dan buah. Sekitar jam 11 saya tertidur, mungkin kelelahan sebab beberapa hari sebelumnya kurang tidur karena tegang.

Jam 1:30 pagi dini hari saya dibangunkan oleh ibu, katanya perawat memanggil saya untuk segera ke ruang bayi, ada masalah dengan Najwa. Awalnya saya masih tak berprasangka apa-apa. Tapi melihat kepanikan dokter dan para perawat saya mulai pucat. Kejadiannya begitu cepat, saya seperti dalam pusaran angin ribut yang merontokan benda apa saja di sekelilingnya. Dalam ruangan itu ada tiga bayi, satu bayi dalam tabung yang tertidur pulas, satu bayi dalam ruang khusus dengan banyak kabel yang menjuntai dan Najwa yang saat itu ditangani. “jantung bayi Anda lemah harus kita beri penanganan khusus, berdoalah!” Deg! Saya kaget, segala doa terbaik saya rapal. Air mata ku mulai menetes. Dunia rasanya berhenti.

Pukul tiga lebih lima belas seluruh tulangku seperti lolos dari persendian ketika kudengar dokter bilang, “jantungnya berhenti berdetak”. Saya menangis, benar-benar menangis. Sekali lagi segala doa kupanjatkan, namun Tuhan tak mengirim keajaiban. Dalam pelukan adikku saya menjadi manusia paling tak berdaya dengan derai air mata. Najwa Saoirse Budiyanto dinyatakan meninggal dunia. Putri pertama kami, bidadari kecil kami hanya hidup dalam waktu tujuh jam di dunia. Pada tanggal 9 November 2012 adzan Subuh tubuhnya yang lemah saya bawa kepada istriku.

Saya paling sedih melihat orang terkasih saya sedih. Sepanjang hidupku, saya belum pernah mengalami kesedihan seperti ini. Bisa jadi ini adalah titik nol, titik  terendah dalam hidupku. Tiga hari menjelang anniversary satu tahun pernikahan kami, Najwa ternyata tak bisa menemani orang tuanya. “dia tak mau digendong”. Biarkan Najwa menjadi Cahaya kelak, menjadi tabungan buat kita. Dia masih suci, polos dan tak dikotori kerasnya dunia. Awalnya berat, namun dengan berjalannya waktu, kami ikhlas. Tuhan maha tahu segalanya.

Mungkin raga Najwa sudah tak bersama kami tapi jiwa Najwa akan tetap hidup buat kami, selamanya. Sebagai penyemangat, sebagai motivasi, sebagai cinta.

Selamat ulang tahun nak, tenang di sana. Kami mencintaimu.

Karawang, 081113

Catatan:

Status dunia maya istri saya hari ini: Tanggal8 November tahun lalu aku sedang berada di meja operasi, dan pada pukul 19:20 tepat saat ini lahirlah seorang anak perempuan cantik dari rahimku, wajahnya sangat menentramkan hatiku yang sedang menjalani operasi. Tepat tahun ini setahun sudah usiamu anakku! Semoga Allah selalu memberikan yang terindah buatmu – Amien.