Bertarung Dalam Sarung – Alfian Dippahatang

Aku mati dibunuh.” // “Dibunuh karena puisi.

Ceritanya hanya berputar di drama keluarga. Dalam masyarakat Bugis memang harga diri sangat penting dalam keluarga. Semua cerpen di sini berkutat di sana. Perseteruan dengan orang tua, adat yang harus ditegakkan, asal usul yang ditentang, jodoh warisan bapak, riwayat tarung Indonesia Timur dalam kemerdekaan sampai agama daerah yang dijunjung, semuanya ngulik di hubungan darah yang mendrama. Saling silang tunjuk mana yang batil dan enggak. Mengangkat isu sosial dan budaya Toraja dan Makassar. Seperti ucapan persembahan, memang sang Penulis menyatakan keluarga adalah pustaka hidup.

#1. Ustaz To Balo
Tentang keunikan seorang yang memiliki bercak aneh berwarna putih berbentuk segitiga yang harus terbuang. Mati atau dilepas di hutan untuk jadi santapan binatang buas. Nyatanya ia bertahan, menemukan seorang pemuka agama, menjalani hidup dalam kebatinan. Saat akhirnya merasa beruntung dapat menikahi putri sang pemuka, anaknya juga memiliki khas bercak itu dan sang istri meminta cerai karena menanngung malu. “Mengapa kau hendak menceraikan Ranti, Nak?”

#2. Nenek Menerawang dan Ibu Memburu
Ibunya kabur, memilih suami baru dan sang anak dalam tangis tak berkesudahan. Pergi kala terlelap sehingga tak diberi waktu pamit. Sang Nenek adalah dukun atau orang pintar yang kali ini kedatangan Tanta Halidang, dimandikan untuk apa? “Dimandikan agar suaminya tidak ke mana-mana, Nak.

#3. Jangan Keluar Rumah Saat Magrib
Kisah selingkuh yang menyakitkan. Dengan sudut pandang sang calon bayi hasil berzina dengan pelaut, sang ibu malah menikah dnegan Basri sang polisi yang juga turut berzina. Sang ibu yang sejatinya lebih mencintai pelaut yang sedang ke Maluku mencoba mengugurkannya dengan keluar magrib agar roh halus memainkan peran. “Jangan keluar saat Magrib, Anri.”

#4. Kelong Paluserang dan Kebohongan Masa Kecil
Ini adalah cerita bohong yang ditanamkan orang dewasa pada anak bahwa ibunya pergi ke Malaysia cari duit. Ayah dan tantenya memberi harap agar ia tetap menjalani kehidupan kecil dengan tanpa beban. Nyatanya ia terus kena bully, Samri lalu meluruskan hal ini kepada anaknya. “Tiga bulan lagi, Nak.

#5. Bukan Sayid
Kisah kasih tak sampai. Keturunan Sayid Opu yang digadang adalah keturunan Nabi Muhammad tak boleh menjalin hubung dengan keturunan lain. Tradisi kafa’ah di Cikoang, ini coba dimentahkan sang aku, Syarifah Atkah Bintang yang menjalin cinta dengan lelaki Sayid Karaeng, Habri. Dianggap kafir bila melanggar tabu. Bintang membujuk Habri membawanya kabur, tapi tak semudah itu ferguso. “Kau percaya cinta?”

#6. Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata
Ini adalah cerpen terbaik. Paling panjang, paling kompleks, paling vulgar. Jelas buku ini kena label 21+ karena kisah Mayat Hidup. Dengan sudut pandang dua orang, ibu dan anak yang terus melakukan komunikasi setelah ibu meninggal, mereka masih bisa komunikasi karena Rungka yang istimewa. Dari sudut Rungka kita tahu, cintanya pada ibu tak terbatas. Ibu selalu melindunginya saat ayahnya Puto marah karena lelaki ga boleh gemulai. Lalu saat sudut berganti ke almarhum, kita tahu ia selingkuh dengan saudara suaminya demi keturunan, seorang pemuka agama Tamrin. Tobat lombok. Sampai akhirnya Rungka menggali kubur ibunya agar bangkit. “Wajahmu terlihat bingung, kau kenapa, Nak?

#7. Ayahku Memang Setan
Mencari cara untuk balas dendam agar tak diketahui orang. Sakir yang suka bully sang aku, tewas akhirnya saat di pinggir sungai kesempatan memarangnya muncul. Ayahnya pergi berjuang untuk tanah air, berperang bak setan sehingga ia disebut anak setan. Hidup memang pilihan, tapi pilihan macam apa yang tersedia sebagai anak tanpa ayah yang menemani masa kecil? Damai? “Kita berharap begitu, Nak.”

#8. Tangan Kanan Orang Toraja
Serabut kisah tentang Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) di tanah Sulawesi Selatan. Pengorbanan, cinta, dan penghiatanan dalam masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia Timur. Perang yang menjadi pilihannya menjadi konsekuensi pahit. “Pergilah, Nak!”

#9. Prajurit Yang Sakit Hati
Setelah beberapa kali dibujuk bergabung akhirnya ia sepakat. Menyatakan persetujuan adalah ledakan, membuka gerbang kehancuran. Mungkin bisa bebas menghirup udara lepas, tapi tak akan leluasa bertindak. Kalimat ayah adalah kekhawatiran sekaligus pengharapan. Ah, pengasingan terjadi juga. “Kau dinanti untuk membungkam segalanya.”

#10. Aku Tak Kemayu Lagi
Hikayat Gerakan Muda Bajeng (GMB) yang dibentuk, dikembangkan lalu membubarkan diri membaung dengan organisasi lain. Ayahnya yang marah karena gemulai, “Kau ini lelaki. Kau ini pejantan.” Menempanya, membangungkan tidurnya untuk bergabung ke dalam pasukan. Selalu ada jalan untuk melihat Polongbangkeng berhenti diinjak-injak.

#11. Mayat yang Menceritakan Kematiannya
Riwayat Anda Ruapandewi, penyair yang tewas dibunuh. Dalam alam kuburnya ia dikagumi mayat lain, yang juga menulis puisi, tapi sekadar iseng. Ah syair…, bahasanya sederhana pun selalu butuh tafsir. Dengan kesenangan akan makanan coto, dengan pengagum yang setia bersama. Ada sesuatu di baliknya, sama-sama mati dibunuh tapi ada kaitan. “… kau akan dikenang dengan desas-desus yang tak mengenakan.” Mungkin ini cerpen yang paling ga OK di daftar ini.

#12. Cahaya Gaib
Cerita istri yang tak bisa menghasilkan keturunan, lagi. Kali ini istri kedua, ia lalu berkeluh kesah pada Nenek-nya. Langkah meminta cerai, meminta tolong karena suaminya kembali ke istri pertamanya yang hamil lagi. Lalu datanglah sebuah mobil yang selalu menawar beli kebun Nenek, tetap ditolak hingga jalan keluar itu ia malah melamar anaknya yang masih dalam proses cerai. Well, di sini Nenek adalah orang tua laki-laki di masyarakat Konjo. Sempat membuat bingung karena, Nenek kok disapa Pak. “Yang namanya manusia, tidak pernah puas memiliki satu barang, Nak.”

#13. Orang-orang Dalam Menggelar Upacara
Di Kajang, kauserap pasang – petuah nenek moyang, hutan adalah sakral. Tak boleh ada yang menebang sembarangan. Harus ada ritual, harus ada izin, harus ada pengganti. Sang aku mendapat wejangan. Bila ada pohon yang ditebang sembarangan maka ada adat upacara yang harus dilaku untuk mencari pelaku dengan ujung linggis yang membara diinjak, yang bukan pelaku tak akan mempan. Ketika beberapa orang sudah dilakukan aman, tiba giliranmu. Dadamu sudah berhenti bergemuruh. “Kita bergantung dari hutan. Manfaatnya begitu besar untuk kehidupan, sekaligus penting merawat segala isinya.”

#14. Takdir Mala
Saling silang keluarga menentukan jodoh Mala. Orang tua cerai, menikah lagi dengan janda beranak sehingga tampak saling mengisi. Hingga masa dewasa jodoh ditentukan. Ibu tiri, dan kemarahannya. “Ini musibah, Nak.

#15. Bertarung dalam Sarung
Akhirnya sampai juga di judul buku. Adat tarung dalam sarung yang mematikan, dua laki-laki bersenjata Kawali dalam satu sarung, duel lelaki Bugis atas nama kesetiaan, atas nama harga diri keluarga. Tarung dan Bombang dan segala kekuatan yang tersisa. “Nak, aku paham hatimu mungkin berkata, Bugisku sudah rontok…”

#16. Bissu Muda
Untuk menjadi bissu orang harus mengalami mimpi gaib ditemui Dewata. Tak semua lelaki yang berlagak keperempuan bisa diangkat menjadi bissu, pendeta agama Bugis Kuno. Menjadi bissu memang bukan cita-cita, tapi panggilan hati petunjuk Dewata. Kali ini kita mendapati pemuda, sudah lama anak muda tak menjadi bissu. “Orangtuaku menolak keras. Aku dianggap keperempuanan jika jadi bissu.”

#17. Panggilan Gaib
Dua lelaki melambai bersahabat, saat salah satu diangkat jadi bissu yang satunya lagi curiga mimpi dan panggilan gaib itu hanya omong kosong, kebohongan dan akting saja. Ada dendam dan kasih lama yang menguar. “Apa belum jelas? Kau bissu dan aku calabai biasa.”

Kubaca dalam dua kali kesempatan duduk. Semalam saat pergantian hari ketika mati listrik dan pagi ini di libur Sabtu cerah dengan kopi dan musik The Legacy of Jazz. Kesan pertamaku selepas menyelesaikan baca adalah, ini kuda hitam Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. Banyak hal yang mirip dengan Tiba Sebelum Berangkat-nya Faisal Oddang yang tahun lalu kuperkira rontok di daftar panjang, nyatanya masuk final. Namun jelas, Tiba Sebelum jauh lebih nyaman, lebih bagus dan mendalam. Bertarung Dalam temanya terlalu pendek, pengembangan kisah ga ada. Urusan keluarga mulu, pertentangan dengan ayahnya, padu dengan istri, ketidakharmonisan dengan anak. Bahkan kisah satu dengan yang lain mirip, beberapa pengulangan dalam lingkup sama padahal ini kan tak bersangkut, cerpen terpisah. Coba hitung berapa kata ‘Nak’ yang diujar? Andai ga ditutur dengan baik, malah seperti cerita sinetron, untungnya tata bahasa dan pilihan diksi bagus sehingga tak perlu menjadi suku Bugis untuk bisa menikmati alur.

Prediksi: rasanya buku ini masuk ke daftar prosa terpilih saja sudah prestasi, tak akan juara. Mustahil menjadi nomor satu. Tiba Sebelum yang terasa utuh dan menghebat di tengah pergolakan bissu saja kalah, apalagi ini. Masuk daftar pendek kalau terjadi, hanya keberuntungan.

Bertarung Dalam Sarung | Oleh Alfian Dippahatang | KPG 59 19 01604 | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penyunting Udji Kayang | Perancang sampul Harits Farhan | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | ISBN 978-602-481-100-6 | viii + 151; 13.5 cm x 20 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 210919 – Matchbox Twenty – Unwell