Satu Tahun Najwa Saoirse

Gambar

Hari ini satu tahun yang lalu putri pertama kami, Najwa Saoirse Budiyanto terlahir sehat. Saat itu malam Jumat, 8 November yang gerimis. Sepertinya semua berjalan sesuai rencana. Melalui operasi Caesar yang dilakukan saat adzan Isya’ sampai satu jam berselang. Tangisnya pecah, saya mengumandangkan adzan dan iqomat di kedua telinganya. Orang pertama yang mengucapkan selamat adalah ayah mertua, saya pun kembali mengucap selamat kepada beliau akhirnya punya cucu. Sanak family mulai ke rumah sakit untuk mengucapkan selamat, sms mulai berdatangan. Ibu ku telpon, “selamat le, wes dadi ayah”. Saya menangis terharu.

Jam 10 malam saya meninggalkan ruang bayi menuju kamar istriku berbaring. Saya kecup keningnya. Di sekeliling banyak keluarga yang berjaga, menengok sambil membawa makanan dan buah. Sekitar jam 11 saya tertidur, mungkin kelelahan sebab beberapa hari sebelumnya kurang tidur karena tegang.

Jam 1:30 pagi dini hari saya dibangunkan oleh ibu, katanya perawat memanggil saya untuk segera ke ruang bayi, ada masalah dengan Najwa. Awalnya saya masih tak berprasangka apa-apa. Tapi melihat kepanikan dokter dan para perawat saya mulai pucat. Kejadiannya begitu cepat, saya seperti dalam pusaran angin ribut yang merontokan benda apa saja di sekelilingnya. Dalam ruangan itu ada tiga bayi, satu bayi dalam tabung yang tertidur pulas, satu bayi dalam ruang khusus dengan banyak kabel yang menjuntai dan Najwa yang saat itu ditangani. “jantung bayi Anda lemah harus kita beri penanganan khusus, berdoalah!” Deg! Saya kaget, segala doa terbaik saya rapal. Air mata ku mulai menetes. Dunia rasanya berhenti.

Pukul tiga lebih lima belas seluruh tulangku seperti lolos dari persendian ketika kudengar dokter bilang, “jantungnya berhenti berdetak”. Saya menangis, benar-benar menangis. Sekali lagi segala doa kupanjatkan, namun Tuhan tak mengirim keajaiban. Dalam pelukan adikku saya menjadi manusia paling tak berdaya dengan derai air mata. Najwa Saoirse Budiyanto dinyatakan meninggal dunia. Putri pertama kami, bidadari kecil kami hanya hidup dalam waktu tujuh jam di dunia. Pada tanggal 9 November 2012 adzan Subuh tubuhnya yang lemah saya bawa kepada istriku.

Saya paling sedih melihat orang terkasih saya sedih. Sepanjang hidupku, saya belum pernah mengalami kesedihan seperti ini. Bisa jadi ini adalah titik nol, titik  terendah dalam hidupku. Tiga hari menjelang anniversary satu tahun pernikahan kami, Najwa ternyata tak bisa menemani orang tuanya. “dia tak mau digendong”. Biarkan Najwa menjadi Cahaya kelak, menjadi tabungan buat kita. Dia masih suci, polos dan tak dikotori kerasnya dunia. Awalnya berat, namun dengan berjalannya waktu, kami ikhlas. Tuhan maha tahu segalanya.

Mungkin raga Najwa sudah tak bersama kami tapi jiwa Najwa akan tetap hidup buat kami, selamanya. Sebagai penyemangat, sebagai motivasi, sebagai cinta.

Selamat ulang tahun nak, tenang di sana. Kami mencintaimu.

Karawang, 081113

Catatan:

Status dunia maya istri saya hari ini: Tanggal8 November tahun lalu aku sedang berada di meja operasi, dan pada pukul 19:20 tepat saat ini lahirlah seorang anak perempuan cantik dari rahimku, wajahnya sangat menentramkan hatiku yang sedang menjalani operasi. Tepat tahun ini setahun sudah usiamu anakku! Semoga Allah selalu memberikan yang terindah buatmu – Amien.

Iklan