Seni Lukis dalam Frame Horor Mengelabuhi

Rumah Hujan by Dewi Ria Utari

Bagaimana mungkin aku tidak menyayangi ibu dari anakku.”

Kubeli Senin (9/12/19), kubaca kilat dua hari berikutnya (10-11/12/19) langsung kelar. Salah satu ciri buku bagus memang memberi penasaran pada pembaca. Mencipta kengerian – dalam tanda kutip, sehingga terhanyut dalam pusaran problematika sang protagonist. Sebuah dunia itu berupa kamar fantasi tempat semua benda-benda melayang.

Buku ini juga membuatku ketakutan akan fakta, bahwa salah satu karakter menurut kepercayaannya melakukan ritual, sebelum pada hari bertuah tepat pada jam satu malam, berkeliling rumah sambil menabur garam sambil mengucap mantra. Mengingatkanku pada (almarhum) ayahku Poncowirejo yang setiap magrib mengelilingi rumah, menabur garam dan membaca doa di depan pintu. Bahkan ayahku tak peduli sekalipun cuaca badai, hujan lebat. Pernah kutanyakan langsung apa yang dilakukan, beliau hanya jawab, ‘ritual jaga rumah dan penghuninya menurut Islam Kejawen.’ Karena memang doa yang dibacakan adalah doa yang dinukil dari ayat Al Quran. Sampai sekarang rumah joglo di kampungku masih asri, masih nyaman buat kumpul keluarga tiap Lebaran, dan hubungan semua saudaraku sangat baik. Ga pernah ada cekcok, ga pernah ada rebutan warisan, bahkan ketika kakakku minta garis tanah warisannya ditarik lebih lebar dari bagiannya, kita santuy saja. Saya sendiri tak terlalu peduli warisan, kita semua merasa berkecukupan. Tanah di Palur, dan rumah Joglonya asri.

Kisahnya tentang Dayu, pelukis yang sedang mencari rumah inspirasi buat mencipta karya. Dia mendapat informasi ada rumah bagus, ideal akan sepi dan murah. Rumah joglo di daerah Purwodadi itu milik janda yang baru meninggal. Sempat akan dirubuhkan, tapi sayang sehingga ketika sahabatnya Nilam menawarkan langsung diambil. Alasan Dayu mengingin joglo sendiri terlihat sentimental. Melalui manajernya Ariaji proses pembelian berjalan cepat dan lancar.

Kisah lalu begulir ke masa lalu, bagaimana Dayu menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia begitu mirip dengan ibunya, Anjali. “Dayu? Wah kamu… sangat mirip ibumu.” Kata Cakra, yang lalu mengisi hari-hari remajanya. Cakra ternyata mencintai ibunya, tapi cinta itu tak menyatu. Ia adalah sahabat Mahesa, pamannya yang juga menghubungkan bisnis perkebunan dan segala alur asmara ini. “Dengan apa lagi kamu mengukur kesuksesan jika kamu tidak menilainya dengan uang yang kamu dapatkan?” Mungkin kalimat klasik orang tua kepada anak, hal yang sama disampaikan ayah Cakra yang lebih ingin mewujudkan impian jiwa mudanya ketimbang melanjutkan usaha keluarga. Namun cintanya pada ibu Dayu memang sangat besar, sehingga ketika ada kemiripan padanya ia jatuh hati. Dayu sendiri menyambutnya dan terjadilah percumbuan. Shock itu ketika Cakra ternyata sudah bertunangan dan gadis pilihan orang taunya yang menang. Diam adalah cara Cakra untuk membiarkan semuanya terurai oleh waktu meski selalu ada desakan kuat dalam diri Dayu untuk menjadi perempuan yang diinginkan, dikejar, dirayu. Ia sebenarnya gugup apakah ia cukup berani untuk melihat kesedihan di mata perempuan itu.

Mahesa sendiri sama saja, ingin mengikuti kata hati dengan merantau ke Bali membuka toko surfing ketimbang bersentuhan dengan perkebunan. Mana pernah aku peduli sama aturan baku atau yang mainstream. Ah… jiwa muda yang menggelora.

Misteri Narpati yang sering muncul di mimpinya perlahan namun pasti dikuak. Para penghuni rumah hujan, begitu akhirnya Dayu menyebutnya dituturkan dengan sudut yang nyaman dituturkan. Penampakan di studio lukis, jenis lukisan Dayu yang semakin hari semakin menakutkan – dalam artian artistik – sehingga makin laku di pameran-pameran, banyak dorongan mencipta karya istimewa, dan memori hubungannya dengan Cakra kembali timbul di rumah itu.

Dayu yang sering tak sadarkan diri, tampak menikmati luka. Justru ia merawatnya dengan intens. Arwah Narpati menawarkan sesuatu, dari alam bahwa sadar ia meminta semacam ‘kesalahan’ masa lalunya dituntaskan. Karena doa pada dasarnya mantra dan mantra melindungi rohnya. Memori alam gaib yang misterius itu menjelma dalam seni gambar di atas kanvas. Hanya kesadaran yang bisa mencegah tubuh kita dimasuki unsur lain. Dayu malah menemukan titik ilham ketika dalam tak kesadaran, di dunia antara. Yup, sekali lagi Doa itu sebenarnya sama dengan mantra. Ada teori yang meyakini bahwa harapan yang ketika diucapkan berkali-kali, seperti dalam doa, akan menjadi semacam mekanisme peringatan yang membentengi diri kita dalam bentuk medan magnet. Dayu harus berpacu untuk menyelesaikan permintaan Narpati atau korban-korban orang terdekatnya akan kembali terjatuh.

Selalu ada batas tipis antara menjaga diri khas dengan keenganan untuk melakukan terobosan yang bisa beresiko tidak diterima pasar. Sebuah karya, entah dalam bentuk apapun setelah dilepas ke pasar adalah milik publik untuk dinilai. Lukisan sendiri terlihat agung karena memang terbatas. Hanya kalangan elit yang bisa membeli karya terbatas yang aduhai. Kelas jelata jelas hanya mampu membeli, mengoleksi lukisan umum. Bahkan kalau kalian perhatikan, kaum jelata yang coba memasuki area kolektor lukis, tampak norak. Karya sederhana yang lebih murah, dan yang paling parah lukisan cetak yang dipajang di dinding ruang tamu. See…, seni ya gitu. Kita membeli keotentikan karya, sadis sih tapi faktanya seni lukis memang mahal. Alasan seni sering kali digunakan orang untuk menjelaskan keanehan orang.

Kalimat yang jleb salah satunya adalah ini: “Sudah jadi sifat manusia yang takut akan sesuatu yang tidak mereka pahami.” Benar banget, terutama generasi tua yang menghadapi banyak perubahan zaman. Perubahan digital itu menakutkan, percepatan teknologi sungguh luar biasa. ‘Dunia butuh perlambatan’, kata Bli De Coy sahabatku. Saya jelas sepakat. Penemuan-penemuan baru terus bermunculan dengan gagah dalam dua dekade ini. Manusia akan mendapat yang sepadan dengan yang diharapkan ketika ia mengatur hidupnya sedemikian rupa untuk mencapai harapannya tersebut.

Waktu dini hari yang sakral, sepertiga malam sering disebut di sini. Terutama jam tiga pagi sampai subuh karena menurut kepecayaan, itulah saat-saat roh kita sangat rentan. Buku ini terbagi dalam tiga bagian utama, O sebagai pembuka lalu sebelum, ketika dan setelah hujan. Setelah itu ada lima cerita pendek lagi. Pantas saja sub judulnya bertulis: ‘sebuah novel dan cerita-cerita lainnya.’ Dan syukurlah, cerpen yang disaji juga horor berkualitas. Puas.

Saya bukan penikmat cerita horor, baik medium buku atau visual gerak. Ga banyak kisah menakuti yang kuikuti, Rumah Hujan pun saya beli bukan karena genre itu, tapi lebih kepada sang penulis yang beberapa kali muncul di beranda sosmed, dan buku ini merupakan pengembangan dari cerpen ke novel. Beberapa buku yang kunikmati dari pengembang itu, mayoritas memuaskan, asal penulis sendiri yang mengembangkannya. Gentayangan, Kura-Kura Berjanggut, sebagian contoh sukses. Rumah Hujan, ternyata masuk ke golongan sukses itu. Daya pikat yang ditebar sepanjang halaman, mencekam gigil dengan interaksi pembaca, endingnya keren bagaimana jati diri seorang seniman yang dijual adalah seni dengan tanda langka, megah dan tak bisa dijelaskan. Sukses mengelabui pembaca, sukses mengelabui para kolektor seni lukis tentunya.

Ini memang kisah orang berpunya, enggak relate sama saya atau kaum jelata kebanyakan. Dayu terlahir sebagai anak tunggal yang memiliki kelimpahan materi, ga dekat sama ibunya ga bisa curhat nyaman sama ayahnya. Menciptanya sebagai pelukis, ga pelukis kere ya. Gaul sama golongan Kaya. Punya usaha keluarga di perkebunan, punya sahabat-sahabat yang mengisi ketika dibutuhkan. Berlimpah ruah kasih sayang sahabat, dari gambaran Cakra yang mencinta mati saja kita bisa bayangkan betapa tokoh utama kita sangat cantik. Sulit memang mencipta suasana orang-orang kaya mengeluhkan keadaan, sedikit karya cerita orang kaya yang sukses menyentuh penikmatnya. Dan ternyata Rumah Hujan, termasuk yang sedikit itu. Sebuah seni dalam cerita horor yang mengelabuhi.

Kegelapan yang membuatnya mengigil dan meniadakan kesadaran. Kesedihan sering kali melarungkan harapan dalam pelayaran tak bertepi. “Aku baru menyadari bahwa dari semua yang ada di dalam manusia, ingatan adalah hal yang terapuh.”

Rumah Hujan dan Cerita-cerita Lainnya | Oleh Dewi Ria Utari | 6 16 1 75 002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain sampul Lambok Hutabarat | Editor Hetih Rusli | ISBN 978-603-03-2899-7 | 256 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

Untuk almarhum eyang kakung, Siwidodo Sastrodikromo, yang memberiku kenangan akan perjalanan membonceng sepeda ontel, melintasi malam dan kuburan.

Karawang, 141219 – 130120 – Roxette – Sleeping in My Car

(review) Rumah Kopi Singa Tertawa: Aduhai!

Featured image

Buku pertama yang saya baca di bulan Maret, sekaligus buku pertama yang saya selesaikan dari empat buku yang saya beli kemarin. Dalam semalam kumpulan cerpen berisi 18 ini selesai. Yusi ternyata cerpenis handal dalam mengaduk emosi pembaca. Berikut review singkat tiap cerita:

1. Cara-Cara Mati Yang Kurang Aduhai

Tak ada yang abadi di dunia ini. Mati adalah misteri tak ada yang tahu kapan datangnya malaikat maut. Walau beberapa manusia waktunya tiba, narapidana yang divonis hukum mati misalnya. Dalam kisah ini Agus Taswin divonis penyakit adenocarcinomas, kanker pankreas. Namun karena Agus terlambat periksa, penyakitnya kronis dan dokter memperkirakan hidupnya hanya tinggal 6 atau 7 bulan lagi. Tahu usianya ga akan lama lagi, dia-pun menitipkan beberapa wasiat untuk sang adik. Namun siapa sangka, justru Agus bisa bertahan hidup lebih lama sampai akhirnya… Yah, maut itu rahasia.

2. Dosa Besar No. 14

Manik sedang menyusun dosa besar apa saja yang pernah dibuatnya. Gara-garanya sebuah agen asuransi menawarkan jasanya lewat telpon (kita tahu mereka menyebalkan), andai bergabung sekiranya Manik meninggal atau cacat permanen akan ada polis yang GeDhe. Kesal, namun dengan kepala dingin, dia-pun berupaya menutup telpon dengan memberi alamat email sekedarnya. Dari pembuka asuransi itulah, kita diajak ke masa lalu ke dosa besar Manik no. 14 tentang Supriyono.

3. Sebelum Peluncuran

Seorang novelis tanpa nama (menggunakan orang pertama dalam penuturan) dikabari bahwa novelnya Hikayat Abdullah Yusuf Gambiranom akan terbit. Bungah, dia pun mempersiapkan diri. Salah satunya mengurangi berat badan, agar saat peluncuran dia tak tampak terlalu gemuk. Karena masih ada dua bulan sebelum hari H, dia pun berupaya keras ke gym, makan dijaga sampai seabreg tips dilakukannya. Namun setelah sebulan berlalu hasilnya masih jauh dari harapan. Sampai akhirnya dia bertemu M. Kalim, yang dilihat sekilas cerdas karena dia tahu film-film berkelas mulai Godfather sampai Fight Club. Dia pun kasih rahasia, rahasia yang mujarap agar langsing.

4. Edelweiss Melayat ke Ciputat

Mengambil tanggal 10-10-10 sebagai pembuka cerita, Edelweiss adalah janda yang di tanggal cantik itu melihat berita di tv bahwa istri dari mantan suaminya dibunuh secara keji. Dimutilasi oleh kerabatnya sendiri karena menagih hutang. Lalu cerita ditarik kebelakang, masa lalu Edelweiss dengan suaminya. Masa lalu Danae, anak semata wayangnya yang lalu punya adik tiri. Masa lalu dengan Aya, sang korban. Penuh kritik kepada sebuah fanatisme agama, cerita dibalut dengan halus. Sampai akhirnya dia pun memutuskan ke Ciputat untuk melayat.

5. Tiga Lelaki dan Seekor anjing yang Berlari

Raden Mandasia, Loki Tua dan aku (Sungu Lembu) adalh tiga orang dalam pelarian. Melewati gurun dua hari dua malam. Ditemani seekor anjing buruk rupa bernama si Manis. Awalnya mereka membawa kuda beserta bagalnya, dua anjing dan peralatan lengkap musafir. Namun sebuah petaka membuat mereka terpaksa tinggal berempat. Sampai akhirnya di sebuah gubuk yang didiami kakek nenek memberikan mereka kejutan.

6. Telur Rebus Dan Kulit Asam

Ini adalah kisah lanjutan pelarian tiga manusia. Tersebutlah mereka sedang makan kari kepala kambing muda di sebuah warung. Terdengar suara ribut di jalan, “mati, mati, mati…”. Ternyata ada dua maling tertangkap yang sedang diarak ke alun-alun selatan untuk dihukum mati. Di Kotaraja Pintu Agung memang terkenal akan hukuman mati yang kejam. Namun ternyata tujuan mereka bertiga beresiko mati. Sampai akhirnya mereka menemukan jalan keluar melalui Kasim U.

7. Penyakit-Penyakit Yang Mengundang Tawa

Ada tiga cerita yang akan menuturkan karakter utama mengalami sakit yang unik (namun ga membaut tertawa juga bung), membuat terenyuh akibat penyakit itu. Pertama, seekor kalajengking tertular sakit cacar saat usianya udah dewasa 41 tahun, tertular dari anak bungsunya. Cacar air adalah penyakit yang akan diderita setaip orang, biasanya saat masih kecil. Saya dulu kena cacar air saat kelas 4 SD. Cerita kedua tentang sang raja Majapahit, Jayanegara atau Kalagemet yang sedang kena bisul di pantatnya. Pemberontakan selalu gagal, mulai dari Ranggalawe, Lembu Suro, Nambi sampai Ra Kuti. Dari dari sini, kita akan tahu (entah sejarah ini benar atau ga) alasan sebenarnya bagaimana sang raja lengser. Cerita ketiga adalah seorang santri Timur kena penyakit Gondongan, kelenjar ludah sampai atas leher bengkak. Suatu hari wartawan barat mengajaknya wawancara, apa yang terjadi?

8. Rumah Kopi Singa Tertawa

Dari sudut pandang seorang kasir sebuah rumah makan cerita tanpa narasi ini bergulir. Hanya dialog dari meja ke meja, dari satu permasalahan ke permasalahan yang lain. Pembaca diminta menganalisa sendiri makna cerpen ini, karena semua dialog beda meja tak ada sangkut pautnya. Ini bukan cerpen yang terbaik dari 18 yang ada, namun judulnya memang menjual.

9. Kabut Permata

Gone Girl ala Indonesia. Permata kabur dari rumah meninggalkanku dan putri tercinta kami, Bungah. Menghilang tanpa alasan yang jelas, “aku pergi, aku titip anak kita. Aku pergi, tak perlu kau cari”. Tiga hari, sebulan, tiga bulan, setahun, dua tahun… dan saya menjadi pendongeng yang bagus buat Bungah.

10. Kabut Suami

Gone Girl ala Indonesia II dengan versi kebalikan. “Suami saya hilang”. Kata Rosamund. Kalau kalian sudah membaca novel karya Gillian Flynn, yah ini versi cerpennya. Dengan sudut pandang istri kehilangan suami. Dengan ending sedikit dirubah ala petak umpet (namun tak rujuk) karena memang Sulaiman tak seperti Nick. Yang jadi pertanyaan, kapan cerpen ini dibuat? Kebetulan dalam versi film karya David Fincher, Amy diperankan oleh aktris Rosamund Pike. Sebuah kebetulan ataukah film sudah post-credit production saat cerpen dalam proses? Hanya bung Yusi dan Tuhan yang tahu.

11. Sengatan Gwen

Namanya Gwendoline, karyawati baru yang menggegerkan seisi kantor. Bertubuh atletis, rambut hitam sebahu, matanya teduh, hidung bangir, bibir dengan senyum merekah, jarinya runcing dan berhati ramah. Seorang gadis yang sempurna, semua orang terpikat padanya termasuk aku, Sam. Kisah seperti ini sudah sering dibuat, sudah sering kubaca. Namun sayangnya saya tertipu (lagi) kali ini. Sebuah kalimat penutup berisi kejutan yang yah, selalu nikmat cerita ditutup dengan penafsiran unik.

12. Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih

Anwar Sadat, pemuda asal Semarang ke Jakarta untuk menemui calon istrinya. Seorang janda tanpa anak yang dijodohkan denganya. Di hari pertama ia menjejakan kakinya di ibu kota, dia meninggal. Lena Mareta, seorang gadis sedang marah pergi dari kamar pacarnya Jamal karena gusar. Esti, saudara kembar Reni, orang pernah berjasa kepada Lena. Lalu cerita ditarik ke belakang, karena segala kebetulan itu tak ada. Segala kejadian ada sangkut pautnya, ada sebab akibatnya. Ada benang merah dari masa lalu.

13. Durma Sambat

Kisah epic perang besar Baratayudha dari sudut pandang seorang Durma aka Kumbayana. Detail kisah wayang yang mungkin luput dari perhatian. Durma adalah seorang anak dari petapa Resi Baratmadya, suatu hari kedatangan murid baru Raden Sucitra. Kenangan, bagaimana sebenarnya ia bergerak? Masa kecil Durma dan Sucitra yang akrab dan penuh persaudaraan, saat dewasa tak ada rasa itu. Siasat, dari trubus macam apakah dia berasal?

14. Dari Dapur Bu Sewon

Pasangan suami-istri mengontak rumah di bu Sewon yang hobi masak. Tiap masak, dia akan selalu berbagi. Masalahnya masakan bu Sewon jauh dari kata enak. Sebuah anugrah atau musibah buat sebuah keramahtamahan? Utamanya saat bualn puasa, karena barangsiapa memberi makan orang buka puasa, maka dia akan peroleh pahala. Hingga pada suatu malam bu Sewon terjatuh di kamar mandi…

15. Tiga Maria dan Satu Mariam

Ada empat cerita: satu Maria Gregoria Setyorini, 29 tahun, Zurich – 2005. Dua Siti Mariam, 35 tahun, Cot Keng, Pidie – 2003. Tiga, Maria Larasati Tunggaldewi, 18 tabhun, Semarang-Jogya – 1988. Dan keempat, Maria Donita Projowati, 22 tahun, Jakarta-Dresden-Edinburg – 2000. Memang tak ada sangkut paut keempatnya secara langsung, tapi ada sebuah benang yang bisa ditarik, sebuah kehilangan yang masih memberi harapan. Bukankah kita semua hidup dari berharap?

16. Dua Kisah Pendek Tentang Punakawan

Togog Tejamantri sudah ribuan tahun menjadi punakawan tapi nasibnya sama saja yaitu nasihatnya tak pernah digubris oleh majikannya sehingga dia letih dan minta tukar peran dengan Semar. Namun karena dia tahu Bilung Sarahita yang senasib dengannya tak mengeluh dia luluh, yang penting ada makan enak dan ciu cangkol (Cangkol adalah sebuah desa di daerah Bekonang, deket rumahku di Palur). Petruk mempunyai hidung panjang, ternyata hidung itu punya kekuatan yang luar biasa, namun orang-orang tak suka dengan kesaktian itu sehingga akhirnya beramai-ramai meminta Petruk operasi, why not? Kan di depan rumah kita sering kita jumpai tulisan: “Rukun Agawe Sentosa”

17. Laki-laki Di Ujung Jalan

11 Juni 1983 ada gerhana matahari total, tiba-tiab sebuah ide menyusup ke kepala Sentot. Sejak saat itu dia akan berdiri sepanjang malam sambil bersedekap dan mengoyang-goyangkan kaki kirinya di ujung Timur Kampung Karangapi, Semarang Utara. Ide yang memerintahkannya beritual dari Maghrib sampai Subuh.  Kepercayaan yang harus dibayar mahal, sangat mahal.

18. Hukum Murphy Membelit Orang-Orang Karangapi

Ada yang tahu apa itu Hukum Murphy? Saya baru tahu setelah baca cerpen ini. Beberapa kesialan yang menimpa warga Karangapi dirunut satu per satu. Diawali dari Kemat Tahi bertemu denganku di sana bersama gadis “Xena”. Lalu Jarwono, sang kiper kebanggaan Karangapi kena si Murphy sialan saat berkereta menuju puncak karir. Semoga di kemudian hari saya bisa membaca kisah lain hukum Murphy dari bung Yusi Avianto Pareanom.

Rumah Kopi Singa Tertawa | Yusi Avianto Pareanom | 14 cm, 172 hlm | ISBN: 978-978-1079-26-6 | Penerbit Banana | © Yusi 2011

Karawang, 060315

Rumah Baru

Ketika pertama kali bekerja dalam rantau, saya berharap suatu saat saya kembali pulang dan menetap di kampong halaman. Di kampung, punya banyak kebun. Rumah tinggal bangun. Tanaman sayur dan buah tinggal petik. Udara maish hijau, segar. Apalagi kalau mau belajar dari para senior yang merantau yang membayangkan mencicil rumah di sebuah perumahan selama bertahun-tahun saja waktu saya begidik ngeri.

Sepuluh tahun setelah di negeri orang, semua rencana itu patah dengan sendirinya oleh waktu. Bulan Juni 2013 lalu saya resmi memulai cicil rumah mungil di pinggiran kota. Prosesnya ternyata tak semudah yang saya kira. Berkas yang harus dimasukkan ke developer satu map penuh. Tercatat selama enam bulan baru selesai semuanya dan rumah siap ditempati. Dari akhir tahun 2012 baru selesai Juni ini.

Awalnya saya akan kredit pakai BTN, seperti orang kebanyakan. Ternyata pegawai BTN terhilat sombong dan merasa sangat kita butuhkan. Padahal proses kredit seperti ini semuanya saling membutuhkan, kebetulan saja mereka diatas angin. Setelah dua bulan negosiasi yang sia-sia saya putuskan pindah ke BII.

Dan saya sempat mau mundur karena setelah urusan dengan BII selesai malah di developer-nya gentian bermasalah. Mereka ternyata belum buat MOU dengan pihak bank. So saya biarin saja proses berjalan apa adanya, kalau jadi beli ya monggo kalau cancel sih silakan saja.

Singkat cerita, saya di acc untuk membeli rumah secara kredit. Mulai mencicil bulan Juni 2013 dan akan lunas bulan Juni 2028. Ngeri kan, berarti usia saya 40-an baru selesai. Kalau dibayangkan memang terlihat gila. So jalani saja.

Lebaran hari kedua, tanggal 2 Syawal 1434 H bertepatan hari Jumat, 9 Agustus 2013 kami pindahan. Dibantu orang tua dan saudara, dengan menggunakan mobil box yang 3 kali bolak balik akhirnya resmi menempati rumah baru.

Bagi teman-teman blogger yang mau main atau sedekar mampir berkunjung, monggo. Pintu kami selalu terbuka buat kunjungan kalian.

Gambar

Perumahan Karawang Green Village

Blok V5 / 23 – Teluk Jambe Timur

Karawang Barat

Gambar

(yang pertama saya selamatkan dan ditata adalah koleksi buku)