Kawitan #12

Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu

Segala yang silam, dirimu yang lalu / terperangkap dalam liang gua / pada sebuah buku yang terbuka di perpustakaan / Dulu pernah ada semak buah beri / di mana seekor musang menyelinap / bersembunyi dari tangan mungil sang waktu / tubuhnya ringan menyelusup / jauh hingga ke pucuk bayang sehelai daun / Dan pada pukul enam sore / semuanya lingkap bagai kata-katamu / bagai cahaya di belantara raya / tersamar pekik liar burung-burung malam

Sebelum dini hari di bawah mimpi pohon kastanye / siapa dari kalian yang menyamar bajak laut Arabia / menghunus belati kayu, membuka semua pintu / mencari jalan rahasia menuju dongeng yang lain:
Kisah tentang sebuah kota di mana benda-benda / selalu bercerita dari mana muasal mereka / sebelum agama melenakan mereka / bahkan sebelum tuhan ada

Atau tentang benua yang perlahan tenggelam / dan orang-orang terlambat menuliskan namanya di sana / Tapi seekor kucing yang lelap di teras rumah / sekilas tampak terjaga, memandang kalian / mengeong seakan tengah mengigau / Cakarnya yang tumpul / tadinya membias cahaya bulan yang entah
Kini tak ada ayunan di kuil taman puingmu / tak ada sarang burung yang terjatuh / menyimpan telur-telur yang sebentar akan menetas
Dan pada buku ini, di perpustakaan ini / gambar-gambar masa lalu / telah kabur warnanya

Saya nukilkan judul terbaik dalam buku ini, berjudul ‘Kuil Taman
Menikmati puisi masih menjadi hal yang sulit bagiku. Masih kurasakan hal yang sama dari satu bait ke bait lain, kumpulan puisi yang kupilihpun tak sembarangan, rata-rata menjadi pemenang atau kandidat dalam Kusala Sastra Khatulistiwa pun Dewan Kesenian Jakarta. Kawitan dan rangkaian panjang yang kucoba hirup tiap katanya.

Seperti janjiku, tahun ini saya akan menikmati 12 buku kumpualn puisi. Buku kedua, buku bulan Februari. Buku ini kubeli Selasa lalu (12/2/19) di Gramedia Karawang bersama May dan Hermione sembari beli sampul buku dan pop toy dan refreshing, kubaca kilat Kamis (14/2/19) pulang kerja. Ga sampai satu jam selesai. Dibaca nyaring, lirih, dan beberap berulang sekalipun di ruang meeting Priority kantor.

Ada dua bagian: pertama Muhibah Tanah Jauh, kedua Kampung Halaman. Buku ini dihimpun dari berbagai sumber media massa dari tahun 2007 dalam ‘Naga Banda’ di Bali Post sampai tahun 2016 dalam ‘Doa Puisi’ di Harian Indo Post, yang membuktikan sang penyair sudah sangat berpengalaman, bahkan di sampul ada stempel ‘Pemenang II Sayembaya Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015’.

Saya selalu kesulitan mengulas puisi euy, narasinya tak runut sehingga saya tak tahu mana awal mana ujung, cerita yang dituturkan acak, random seolah ngasal, maka saya mending nukil yang menurutku menarik ya lalu sedikit berkomentar. Saya ketik dalam dua kali kesempatan duduk, pada 16 Februari sempat mengendap di folder, saya selesaikan 16 Juni hari ini, sore hari bersama serangkaian musik jazz. Sekalian saya masukkan dalam event tahunan saja.

Dalam puisi ‘Tanah Baru Di Adiwena’ ada bait yang bagus: Seekor laba-laba merambati bebatuan / Kumbang bercinta di sela wangi hujan dini hari / Dan kadal tak jemu memanggil-manggil / Kadal-kadal kecil yang lain. | Sebab adanya waktu, bagaimana dirayakan / Adanya yang tiada, bagaimana lagi mesti dilupakan?

Bagian yang kuanggap bagus adalah bait bercinta di sela wangi hujan dini hari. Laba-laba, kumbang, kadal, para binatang itu merayakan pagi dengan meriah!

Dalam judul ‘Perpustakaan Kampus’ kutemukan: Di dalam tidur diam-diam jiwaku meminta. Berdoa / Mengikat janji pada maut / agar abadi dalam dunia fana ini / Aku berjalan dari rumah ke rumah / Di sana tak ada ibu yang menunggu menyambutku / Bagai anak hilang abai tak pulang / aku berharap bisa mengembara | Mendayung sampan di hutan-hutan.

Bagian mendayung sampan di hutan-hutan menurutku unik, kita tahu maksudnya adalah mendayung di sungai yang mengalir membelah hutan, tapi dalam baitnya kita malah disodori langsung tanpa detail. Ibarat bilang mengusap air di pipi, tanpa keterangan itukah air mata?

Dalam judul ‘Aku dan Jiwaku’ menawarkan absurditas di mana fisik dan jiwa adalah dua entitas yang saling bersapa: Aku dan jiwaku berbaring berdampingan / kami telanjang | bagai dua kanak remaja / Kami saling menatap / seolah lama tak jumpa.

Di judul ‘Rumah Jean’ mari kita kutip: Apa yang dipikirkan pohon-pohon ketika tiba musim gugur; / Maut yang pias di wajah ibu atau nujuman masa depan yang tersamar kabu? | Apa yang dibayangkan pohon-pohon ketika melihat dahannya yang hijau / sarang kecil seekor pelatuk yang kuyup oleh hujan / atau lenguh kerbau di padang luas?

Menjadikan tumbuhan berpikir dan bisa membayangkan keadaan sekitar, menjadikan mereka makhluk hidup yang mengamati sekeliling, menjadikan hidup yang hidup dengan nalar dan perasaan.

Judul ‘Bunga Untuk Sitor’ ada bagian: Apakah bisa wangi dupa / mengantarkan doa-doa kepada para dewa? | Apakah bisa seorang ibu demam semalaman / terbaring di ranjang / seketika tersembuhkan / oleh sentuhan tangan tuhan?

Ga perlu diperdebatkan sih, wangi dupa sebagai sarana ibadah, sarana reliji tapi kurasa disini mereka seolah hidup sehingga bisa jadi tukang pos doa untuk para dewa. Walau sang penyair malah menambah tanda tanya(?). Mereka dicipta dengan api, melayangkan asap mistis dan menyentuh hati malaikat demi kesembuhan orang terkasih.

Sebatang pohon ara, empat pina / tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu | segala yang silam, dirimu yang lalu / terperangkap dalam liang gua / pada sebuah buku yang terbuka / di perpustakaanmu.

Bait ini ada di pembuka judul ‘Kuil Taman’ yang menarik adalah menjadikan buku terbuka sebagai perangkap, menjadikan gua, puing yang berserak menyambut para makhluk. Lalu di judul yang sama terdapat bait bagus, mungkin malahan menurutku paling bagus: Kisah tentang sebuah kota di mana benda-benda / sellau bercerita dari mana muasal mereka / sebelum agama melenakan mereka / bahkan sebelum tuhan ada.

Nah, kota yang sangat tua yang mencipta segalanya, sebelum agama dan tuhan turut!

Satu lagi, dalam judul ‘Matoa’: Kubayangkan matoa yang ini / Terusir dari tanah leluhur / Cuma berkawan membagi hidup / Bersama segugusan pakis dan rumput | yang pelan-pelan melayu / melapuk jadi rabuk akar dahan / lalu tumbuh kembali / sebagai pakis dan rumput yang lain / yang tak dikenalinya.

Suka bagian dalam pelan-pelan melayu, melapuk jadi rabuk yang nantinya akan bangkit, seolah semua siklus ini, siklus hidup mati adalah tarikan napas, bukan takdir alam yang perlu dipikirkan.

Demikian ulasan singkat dariku, sangat menanti respon kalian para penyair, para pengunjung setia blog, para penyuka puisi untuk memberi masukan. Cara menikmatinya, cara mengulasnya, cara benar-benar merasuki keindahan rima dan bait.

Sungguh sajak adalah barang mewah yang sulit kujangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

Kawitan | Oleh Ni Made Purnama Sari | GM 616202022 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Copyright 2016 | Ilustrasi sampul Natisa Jones | Setter Nur Wulan Dari | ISBN 978-602-03-2788-4 | Skor: 3.5/5

Karawang, 160219 – Sherina Munaf – Primadona || 160619 – Dave’s True Story – Ned’s Big Dutch Wife

#Day12 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami #7

“Ia memang laki-laki aneh. Hampir seharian ia sendirian di taman kota ini. Sebentar bediri, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Pandangannya tajam selalu menatap ke arah depan seperti tidak peduli pada orang di sekitar. Dan tiba-tiba mereka hanya mendnegar tubuhnya ambruk.”

Buku kedua bulan Juni tahun ini sengaja saya membaca buku non mainstream, mencari dari terbitan kecil, setelah lelah dari lebaran, mudik dan rangkaian panjang libur, pengen santai. Ada beberapa pilihan yang ada di rak, beberapa terjemahan, malah ketemu yang penulis lokal. Bacaan terjemahan penulis Dunia sudah sangat banyak, maka buku tipis ini saya pilih. Dua hari selesai, dibaca santai di kala setelah subuh, jelang tidur atau jeda istirahat kerja. Yang paling unik kubaca di teras rumah kala tidak dibukakan pintu di malam Sherina ulang tahun. Tema-tema yang ditawarkan sederhana, sebagai lulusan pesantren sang penulis memang banyak mengambil tema reliji, walau ga semilitan jadi buku agama, cerpen yang lumayan seru. 14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek.

#1. Lelaki Izrail
Tentang Pak Ulak Ulu, lelaki yang bisa (secara tak mengaja) meramalkan kematian. Awalnya njeplak otomatis, menasehati seseorang agar lebih banyak beramal, banyak ibadah karena usia tak ada yang tahu. Ternyata esoknya beneran tewas. Kejadian yang dikira hanya kebetulan itu, terulang lagi, dan lagi sehingga diapun didapuk lelaki peramal kematian.

#2. Matilda
Perempuan hebat di bawah lima tahun, pembaca sastra dunia, rakus melahap buku dan tampak aneh. Tentu saja otomatis kita akan menyebut Matilda, karakter terkenal karya Roald Dahl yang punya daya telekinetis menggerakkan benda ala Profesor X. Di sini lebih sederhana, sebuah keluarga mendapat kunjungan anak asing bernama Picataka setiap Senin-Jumat sore hari untuk numpang baca. Buku-buku tebal dilibas, remaja putri empat tahun yang aneh itu ternyata tak senyata yang terlihat karena suatu hari iseng diikuti, rumah tempatnya tinggal adalah rumah kosong. Lho?

#3. Percintaan Firdaus dan Janneti
Asmara anak pesantren. Sang aku adalah semacam pujangga pondok ‘Raja Kata-kata’, menuliskan surat cinta dengan biaya traktir. Maka Firdaus yang siswa senior suatu hari jatuh hati dengan siswa pondok sebelah ketika beli sayuran. Janneti yang dikirimi surat ‘cinta’ oleh Firdaus menjawab dengan berbunga. Maka disepakati hari untuk bertemu, untuk mengklaim kakak-adik. Sang aku ikut senang, surat buatannya bisa membantu mewujud kisah cinta cinta itu, hingga hari H yang harusnya berbunga menjelma petaka.

#4. Migrasi Para Hantu
Kisah hantu turun temurun dari ayah sang pencerita lalu dituturkan ke anaknya. Kisah hantu yang sudah umum, lazim di kampung halaman dikisah ulang kepada anaknya. Bagaimana hantu-hantu masa silam suka iseng menampakkan diri. Sang anak diluar duga malah antusias, dan meminta izin untuk ke kampung halaman. Untuk mencari bukti? Yah, anak muda zaman sekarang, ajak teman-teman mereka berencana jadi semacam ghost buster. Duh!

#5. Seorang Perempuan di Masjid Kami
Perempuan aneh yang menginap di masjid kita. Tanpa banyak tanya, tanpa basa-basi. Agamanya yang bagus, tingkahnya yang baik membuat warga menerima dengan terbuka. Musafir yang bijak, mengikuti kajian, ibadah bagus, membantu sesama. Lama-lama membuat tanya identitas sesungguhnya. Siapa gerangan yang menebar ilmu dengan teladan ini?

#6. Pa’aliran Caran
Cerita tentang pawang buaya yang legendaris. Adalah Caran yang menjadi penakluk buaya, bisa bertahan berjam di dalam air, bisa mencari hal gaib di air. Sebagai pawang buaya senior, suatu hari ada anak tenggelam gara-gara acara mancing yang awalnya dilarang. Sudah lama Caran tak melakukannya, dan iapun kembali menyelam mencari kebenaran di dasar sungai.

#7. Libur ‘Aisya
Cerita mencari tempat liburan yang tak biasa. ‘Aisyah yang anak kota akan liburan musim panas, beberapa opsi disodorkan. Dari yang umum dari buku panduan wisata sampai kampung desa yang ada di pelosok, tapi apa istimewanya? Maka sang aku pun menawarkan liburan di pesantren, belajar agama? Wuihh… ide bagus. sebulan dua bulan ‘nebeng’ belajar agama, apa respon ‘Aisya?

#8. Perempuan Pembunuh Terang
Tentang perempuan sakti yang mematikan semua cahaya malam, lampu-lampu ditembak, semua cahaya dimatika. Dengan kuda laiknya seorang pengelana, jagoan yang meminta kembali menjaga kekhusukan malam. Warga yang takut bergegas mematikan lampu, dan derap kuda yang menakutkan itu selalu terdengar bagi mereka yang berani menyalakan cahaya. Hingga akhirnya usul menembak bulan agar pekat tercipta itu mewujud.

#9. Oleh-oleh
Seorang cucu yang galau liburan ke Bali, pertentangan reliji. Terlahir dari pasangan agama Islam dan seniman, sang aku tampak bimbang mau ke arah mana kehidupannya. Darah seni menciptanya ingin melukis, Bali jadi detinasi, dapat pertentangan dari kakeknya yang kolot. Hingga akhirnya oleh-oleh baju khas agama Hindu itu diberikan, menjelma baju koko untuk ibadah ke masjid. Lega?!

#10. Teratai Kota
Ini mungkin kisah terbaik, tentang perenungan lelaki yang menyendiri di taman kota. Melihat, terpana, dan berdiskusi dengan bunga teratai kota. Bunga yang tumbuh liar, sebuah anugrah dari Tuhan ataukah makhluk buangan? Hingga kahirnya ia ditemukan di sebuah kamar rumah sakit. Nasehat aneh dari penjual madu.

#11. Rumah di Samping Kuburan
Membangun rumah di samping kuburan. Tentu banyak pertimbangan. Tentu saja ekonomi jadi alasan utama, sang Aku yang masih lajang awalnya ditentang keluarga, tapi ia keukeh membangun rumah dengan jendela menghadap kuburan. Tiap ada prosesi pemakaman, ia menyapa, tiap ada yang ziarah ia ikut berdialog. Hingga suatu hari ia melihat penampakan yang menjadi pertanda. Serigala kenapa tampak jadi ikon korupsi ya?

#12. Perempuan Kafe Senja
Perempuan dengan empat kekasih, kekasih di hari kerja, kekasih di akhir pekan, kekasih di malam hari dan yang satu entahlah. Perempuan tanpa nama itu sering kali nongkrong di kafe sepulang kerja, hingga sang aku menyapa dan memulai menjalin kenangan.

#13. Kubur Penuh Cahaya
Agak aneh bagaimana bisa kubur warga biasa, penjual minyak luar kota bisa memancarkan cahaya? Desa yang awalnya biasa menjelma riuh. Jadi keramat, jadi tempat ziarah, jadi sakral. Mencipta hal-hal gaib, cahayanya memang tak muncul terus, hanya sesekali, tanpa teknologi ya. sampai kapan?

#14. Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin!
Tentang penangkapan terduga teroris. Pak Atin kena ciduk juga, padahal beliau terkenal sebagai orang alim yang tak neko-neko. Maka kisah dirunut bagaimana bisa. Ternyata bermula dari tiga pemuda yang menitipkan jual buku, buku-buku aliran radikal yang menyeret pak Atin jua. Walaupun dalam prosesnya ia kembali bebas, setidaknya benar adanya hidup itu tak mudah.

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami | Oleh Hairus Salim HS | Desain sampul Rahman | Tata letak Gapura Omah Desain | Ilustrasi Rahman | Penerbit Gading | Cetakan satu, September 2012 | x + 130 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-16776-1-5 | Skor: 3.5/5

Karawang, 130619 – James Ingram – I Dont Have The Heart

#Day7 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

A Simple Favor: Gone Girl Yang Jenaka

Stephanie: “Five days ago. Emily went missing.”

Film dengan ending mengecewakan. Dari mula sampai pertengahan sungguh seru. Keren sekali, seksi dan merumit dalam bermain pikiran. Namun semenjak setelah pengungkapan bahwa sang istri tidak mati, tapi menghilang, bah alur langsung melemah dan rontok tak terkendali. Sempat digadang-gadang sebagus Searching yang sama-sama mencoba mengungkap sebuah kasus hilang/matinya seseorang, Searching berhasil menjaga tempo, bermain serius, dan memiliki twist yang bagus. A Simple Favor gagal mempertahankan gairah itu. Malah, adegan segitiga yang dinanti-nanti itu jatuhnya kayak sinetron klise yang tayang tiap malam di SCTV atau RCTI, ah sama saja buruknya. Astaga, saling silang tunjuk ujung pistol, tembak dan ah cuma bercanda, lalu sebuah mobil menghancurkan segala plot itu. Sayang sekali film dengan bintang besar Blake Lively dan Anna Kendrick berantakan. Gone Girl yang jenaka.

Sebelum memutuskan tonton, saya kena sedikit spoiler bahwa dua bintang utama akan ciuman. Catat. Saya juga kena bocoran bahwa film akan laiknya detektif, pencarian orang hilang. Catat. Selebihnya ngalir. Kisah dibuka dengan menyenangkan, bahwa Stephanie Smothers (Anna Kendrick) yang seorang Vlogger tentang cara memasak ala ibu-ibu kosmopolitan. Ia adalah orang tua tunggal dari putra semata wayang Miles Smothers (Joshua Satine). Kegiatan rutin menjemput si buah hati suatu hari berubah ketika teman main Miles, Nicky Nelson (Ian Ho) mengajak dolanan sepulang sekolah dan sang ibu yang seksi bak model Emily Nelson (Blake Lively), mengizinkan. Adegan kala Lively turun dari mobil, gerimis mengundang, dengan desiran angin disertai musik riuh benar-benar menggambarkan betapa ia istimewa. Betapa nyata eksplorasi kecantikan sang megabintang.

Di rumah Emily yang megah dengan dinding kaca lantai atas dengan view menawan jelas mereka dari keluarga terpandang, lalu mereka saling mengenal dan bergosip. Stephanie yang polos, mengungkap beberapa rahasia. Suaminya tewas kecelakaan mobil bersama saudaranya, ia pernah melakukan zina dengan saudaranya, ketika ayahnya meninggal sang ipar yang tampak reinkarnasi sang ayah membuat jatuh hati. Nantinya ini jadi kejutan pengungkapan fakta. Sementara Emily mengungkap rahasia, pernah main threesome. Wait. MML? Nope, MFF. Waduh… dan sang suami Sean Townsend (Henry Golding) ternyata adalah penulis buku Catenbury Tales, buku yang istimewa di mata Stephanie karena pernah dibacakan di klub buku, menjadi bahan skripsi dan dibedah khusus dalam diskusi. Pasangan ini bahkan tampak mesra, berciuman mulut di depan tamu! Betapa gairah dan norma menjadi samar. Stephanie memandang dengan tatapan damba. Asem.

Alur menjadi sesuai prediksi, ketika Emily meminta Stephanie untuk menjemput anaknya karena ia ada perlu, yang ternyata terdata ke Miami. Menjadi pengasuh sementara, saling bantu teman, sementara sang suami Sean sedang ke London menemani ibunya yang sakit. Dan misteri pertama dilemparkan ke penonton. Setelah beberapa hari, Emily dinyatakan hilang. Melalui vlog-nya Stephanie mengungkapkan kesedihan. Laporan ke polisi, melacak keberadaan yang memungkinkan Emily kunjungi. Bahkan sang protagonist lalu menjelma bak detektif ketika masuk ke kantor tempat kerja Emily, mencuri berkas, membuka fakta kecil yang tak disangka. Dan ketika penyelidikan seolah menemui jalan buntu, sebuah temuan menyedihkan diungkap. Emily ditemukan tewas di danau, mobil sewa tunai ditarik, mayatnya diotopsi, sakaw gara-gara heroin, dan tiket perjalanan itu palsu. Di sini jelas, arah pikiran penonton pasti sama. Sang ibu tunggal, penggemar bukunya Sean yang kini jadi ayah tunggal. Berhari-hari menjadi pasangan saling melengkapi. Sean bekerja sebagai dosen, Emily menjelma ibu rumah tangga idaman dengan masakan istimewa. Dan kalau mereka akhirnya tinggal seatap, mencoba membangun hubungan adalah keniscayaan. Happily ever after? Nope! Ini film thriller, eh film yang mencoba thriller gan.

Pesan-pesan rahasia Emily disampaikan seolah ia menjadi arwah gentayangan. Memberi sang anak Nicky sebuah amplop berisi gambar saling silang dengan tulisan Brotherf*ker. Mencoba mengirim sinyal keberadaan. Bahkan suatu saat Stephanie mendapat telpon langsung dari almarhum. Wow, kamu mulai menggila! Kamu sudah stress tingkat atas, orang mati menelpon! Film ini mau ke film horror? Tak terima dikatakan gilax, Emily lalu menelusuri kehidupan masa lalu ‘sang arwah’. Saya sudah bilang dari awal bahwa Emily ternyata tak mati, kok bisa? Padahal kita sudah melihat dengan gamblang mayatnya dikebumikan. Yup, sampai disini cerita memang bagus banget. Tapi penelusuran lebih lanjut terhadap identitas almarhum menjadi plot jenaka. Silakan ketawa.

Seperti Baby Driver yang hebat dari awal sampai pertengahan, A Simple juga luar biasa mengesankan. Baby menjadi luluhlantak berkat, eksekusi konyol betapa mudah senjata diangkat dan dar der dor dalam adegan balap bak fast and furious. A Simple terjun bebas ketika kemunculan plot lain yang lalu sampailah adegan segitiga itu. Apalagi motifnya cuma itu. Duh, maaf sekali. Duet perdana dua aktris istimewa sebagai dua peran utama Lively dan Kendrick berakhir bencana. “Anna and Blake are forces to be reckoned with.” Moga ada lagi film mereka berdua sebagai pasangan utama. Jangan kapok yes.

Sisi positifnya adalah, cerita detektif akan memudahkan plot dengan menemukan mobil yang diperosokan ke danau, catat jua dengan sengaja. Searching juga gitu. Bahkan ini kejadian nyata, sang ratu cerita criminal Agatha Christie kita tahu, beliau memainkan peran nyata sandiwara hilangnya demi meraih simpati, atau lebih tepatnya meraih perhatian dari kekasih tercinta karena kekecewaan hidup. Jadi kalau mau bikin cerita penyelidikan, coba taruhlah mobil dalam danau, pastinya menarik perhatian pembaca, pers dan sel-sel kelabu.

Cerita ditutup bak sebuah kasha nyata dengan menampilkan tilisan singkat nasib para karakter utama. Credit title-nya kreatif sekali, layak dinikmati sampai ujung walau tak ada adegan apapun. Selama tulisan berjalan ke atas, potongan adegan, foto-foto karakter sampai sekelumit gambar warna-warni ditampilkan dengan gaya slash miring dan potongan garis yang indah. Siapa yang bisa menolak keseksian Lively? Siapa yang ga penasaran selipan foto-fotonya? Coba kalau credit title film-film dibuat gini, pastinya banyak yang bertahan hibngga detik akhir. Ditambah soundtrack-nya bagus-bagus. Dari Mambo #5 (A Little Bit of…) dari Lou Bega, Les Passants nya Zaz sampai Bonnie and Clyde nya Brigitte Bardot dan Serge Gainsbourg. Meriah.

Berdasarkan novel karya Darcey Bell dengan judul yang sama yang merupakan novel debut, bukunya belum rilis saat film sudah sepakat dibuat. Walau akhirnya beberapa hal diubah, seperti Sean yang sebenarnya kerja di Wallstreet di film menjadi dosen. Atau untuk penyederhanaan, dalam novel Stephanie bukan Vlogger tapi Blogger, dst. Salah satu konsep uniknya adalah pembuatan martini, Blake Lively bahkan berlajar langsung dan mendemonya saat CinemaCon.

Mungkin agak terselamatkan di ujung sekali ending, kala vlog-nya Stephanie menyentuh view sejuta. Sungguh bahagia, menyampaikan cerita yang bisa dinikmati banyak kalangan, apalagi ini hanya dari seorang ibu rumah tangga. Hati-hati saat sobat kamu nanya, apa hal paling gila yang pernah kamu lakukan, rahasia biarkan tetap menjadi rahasia. Ssstttcan You keep A Secret?

Well decent, until it wasn’t. The movie was quite enjoyable for the longest time. Well and tricky. Then the conclusion happened. Drop till the end, so disappointed. Is it a joke baby? Hufh… gone girl gone bad. Nah… nah… nah…

A Simple Favor | Year 2018 | Directed by Paul Feig | Screenplay Jesicca Sharzer | Cast Anne Kendrick, Blake Lively, Henry Golding, Ian Ho, Joshua Satine | Skor: 3.5/5
Karawang, 170419 – Nikita Willy – Ku Akan Menanti – 190419 – Andre Previn, Herb Ellis, Ray Brown, Shelly Mann – I Know You So Well

#PemiluDay #TheGoodFriday

Bleach: Ketika Monster Raksasa Meluluhlantakkan Kota Muncullah Sang Petarung

Ichigo: “I am not so noble to risk my life for strangers or so low to desert people in trouble.”

Cerita penjaga perdamaian kota, menghantar arwah-arwah penasaran untuk ke soul society, dan memburu para hollow (monster) agar dunia kembali tenang. Fantasi yang menggairahkan.

Dibuka dengan tragedi di mana ada ibu dan seorang anak yang mencoba memberi payung pada gadis yang menangis di pinggir danau yang ternyata adalah jelmaan, menewaskan Masaki Kurosaki (Masami Nagasawa). Tahun melompat dan kini Ichigo Kurasaki (Sota Fukushi) adalah seorang pelajar, ia bisa melihat hantu. Keistimewaan itu suatu hari memberinya kesempatan menjadi petarung. Di kamarnya tiba-tiba muncul seorang cewek berkimono dengan pedang dan kecurigaan menatap sekeliling, Rukia Kuchiki (Hana Sugisaki) adalah seorang shinigami yang tugasnya berburu hollow, si Rukia yang terkejut bahwa keberadaanya diketahui manusia yang kemudian malah menjadi manusia karena kekuatannya secara tak sengaja tersalur ke Ichigo. Dalam sebuah kesempatan langka yang mendesak, ia sepenuhnya mentransfer tenaga dalamnya. Rukia terjebak, yang lalu menyamar sebagai murid baru pindahan, mengambil tubuh gigai (tiruan). Ichigo yang bisa melihat hantu ternyata memiliki kekuatan spiritual besar.

Kota Karakura yang butuh seorang shinigami untuk menjaganya dari serangan hollow, memaksa Rukia melatih Ichigo. Ia tinggal di kamar Ichigo, dan menjadi bagian kehidupan manusia. Secara keseluruhan sejatinya Bleach memang menceritakan hubungan mereka berdua. Fokus yang tepat. Bermain pedang, ditembaki bola tenis, mengangkat beban, ketahanan fisik. Tumbuh benih cinta, wajar. Rukia yang seorang shinigami yang menyamar menjadi menusia malah jatuh hati dalam keseharian, dan ini adalah dosa. Kesalahan. Ichigo yang memiliki love interest Orihime Inoue (Erina Mano), terlihat cemburu tapi Bleach ga jatuh dalam roman drama remaja, hanya kisah sempilan. Seorang murid freak, Uryu Ishida (Ryo Ishizawa) menambah rumit keadaan karena dengan panah saktinya ia ternyata adalah seorang Quincy. Quincy adalah makhluk langka yang memiliki dendam terhadap shinigami, maka hubungan Uryu dan Ichigo menjadi lawan-teman. Dan jadilah Ichigo seorang shinigami pengganti.

Sementara dari seberang, sepasang shinigami kakap Renji Abarai (Taichi Saotome) dan Byakuya Kuchiki (Miyavi) dari dunia 6 meminta Rukia untuk kembali, ia terlalu lama menjadi manusia. Renji adalah teman masa kecilnya, dan Byakuya adalah kakaknya! Di sini jelas Byakuya tampak sangat keren, semua kalimat yang diucapkan tenang tapi menohok, khas seorang antagonis bengis yang seolah tak terkalahkan. Mereka meminta Rukia membunuh Ichigo agar kekuatannya kembali, Rukia yang jatuh hati tentu saja menolak. Bahkan sampai diultimatum bila tak segera mengeksekusinya, keduanya akan dibunuh. Ichigo meminta kesempatan, ia akan berlatih lebih keras guna membasmi The Grand Fisher, hollow raksasa paling dicari yang digambarkan mengerikan dengan wajah bak topeng badut keji dan banyak lengan panjang berburu (bayangkan!). Seolah monster-monster Ultraman adalah barbie. Maka dalam adegan puncak, kota Karakura luluh lantak diterjang monster, Ichigo menjadi shinigami guna bertarung menumpasnya, sang Quincy membantu dengan panah, dan sajian dahsyat makhluk raksasa menjelma tornado tersaji epik. Mungkin kelemahannya hanya kurang lama adegan pertaruhannya, ga sampai berdarah-darah, adu kuat itu malah menjadi rentan. Jadi siapa yang akhirnya menyerah? Rukia yang meminta kekuatannya kembali? The Grand Fisher yang ternyata adalah pembunuh ibunya akankah bisa dimusnahkan? Uryu yang menaruh dendam kesumat kepada shinigami? Ataukah akhirnya Byakuya yang tampak amortal membumihanguskan semuanya? Rekomendasi tonton!

Skoringnya sangat pas, musik rock yang menghentak ketika mengiringi pertarungan, wow keren, gitar eletrik yang menyayat-nyayat hati ala Mad Max. Lagu “News From the Front”dari Bad Religion diselipkan di tempat yang semestinya, bukan sekadar iringan tapi juga menampilkannya dalam poster kamar. Panel manga dipindahkan dalam live action, mencoba sesetia mungkin, dalam sebuah mega adu pedang yang rupawan, bahkan ada adegan duel di atas dua bis di mana pedang bisa memanjang dan mebelit bak ikat tali. Tambal sulam beberapa bagian wajar, tapi secara keseluruhan sudah dalam arah yang tepat. Ceritanya mudah dipahami, untuk penonton awam sekalipun langsung klik sedari awal pengantar dunia Soul Society. Eksekusi ending, cerita jagoan dengan pedang besar menjadi sangat logis, sangat pas sekali. Rasanya sekuel hanya menanti waktu. Adaptasi sesukses ini jelas menuntut kelanjutan.

Tak perlu jadi pengikut manga-nya (termasuk saya) untuk bisa menikmati sajian live action yang seru ini, apalagi fan beratnya pasti jingkrak-jingkrak. Seperti inilah seharusnya anime menjelma nyata, sedih sekali menyaksikan Dragon Ball di-evolution-kan Amerika sepuluh tahun lalu. Luluh lantak, Bleach jelas di jalur yang sangat tepat. Poin pentingnya jelas, melibatkan kreator aslinya Tite Kubo dalam proses film. Kesuksesan ini jelas memicu anime lain untuk mewujud nyata, Naruto menjadi sangat mungkin, One Piece? Sherina Munaf pastinya gemetar menanti. Tak perlu warna-warni berlebih laiknya kartun, tak perlu efek sangat berlebih untuk menyuplai cerita, Bleach justru tampak seakan lebih sederhana, monsternya ga seglamor hollywood, efek CGInya ga senyata IMAX, tapi justru inilah nilai lebihnya. Kuat dalam bercerita, melaju dalam kecepatan konstan, dan aksi perang dengan porsi yang imbang. Banyak karakter, seolah tancap gas di opening, wajar. Anime memang selalu memberi banyak sekali tokoh dengan keistimewaan masing-masing, Bleach dengan cerdik menyajikan pengenalan itu dengan tulisan singkat dan durasi tepat. Bahkan ada sebentar adegan penjelasan dunia fantasi yang terpecah dua dengan title card kartun, bagaimana hollow harus diburu dan roh-roh gentayangan harus dikembalikan ke masyarakat jiwa. Jagoan kita berambut orange dengan model anak milenial, tampak nyentrik dan gaul. Karakter Yasutora ‘Chad’ Sado adalah contoh bagus, bagaimana muncul seketika, menitnya tak signifikan tapi bisa memberitahukan penonton bahwa ia adalah teman dekat sekaligus partner sang protagonis, bahkan di adegan yang tak lebih dari tiga menit di pertempuran saat di restoran, ia bisa menghalau lemparan benda padat dengan satu tangan, jelas ia punya keistimewaan juga bisa melihat kehadiran arwah tapi memang sengaja tak terfokus. Mustahillah berjilid-jilid series itu dipadatkan semua dalam durasi movie. Mungkin kahadiran Kisuke Uraha yang kurang eksplore, tapi tetap Ok. Mungkin untuk kelanjutan akan lebih detail. Kita semua tahu adaptasi manga dan anime mayoritas menjadi hancur, hampir semuanya: Dragon Ball, Full Metal Alchemist, Attact on Titan, Ghost in the Shell, Death Note, dst. Bleach kembali menaruh harapan itu.

Film rekomendasi Huang, teman grup Bank Movie, yang kilat kuunduh, kutonton langsung tuntas dalam gerimis malam libur, dan puas. Rasanya wajib kumasukkan dalam daftar film terbaik 2018 yang besok kudata. Apakah kesuksesan ini akan menghantarku (kembali) menjadi penikmat anime? Enggak, waktu menjadi kendala utama. Kecuali mini seri, rasanya film berpuluh-puluh bagian dengan ratusan karakter kayak gini sudah ga cocok kunikmati. Cukuplah sekali tonton selesai. Cukuplah saya tahu Dragon Ball, Naruto, One Piece, Crayon Shincan dan segelitir panel manga. Bleach yang mempesona datang terlambat, para hollow sudah menyebar dan memporakporandakan kota. Dan saya tetap duduk tenang membaca novel.

Bleach always be bleach

Bleach | Year 2018 | Directed by Shinsuke Sato | Screenplay Tite Kubo (Manga), Ardwight Cahmberlain, Shinsuke Sato, Daisuke Habara | Cast Sota Fukushi, Hana Sugisaki, Ryo Yoshizawa, Miyavi, Taichi Saotome, Erina Mano, Yu Koyanagi, Seiichi Tanabe, Yusoke Eguchi, Masami Nagasawa | Skor: 4/5

Karawang, 300319 – Sheila on 7 – Tunjuk Satu Bintang

Kumpulan Budak Setan

Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?

Saya mengenal Abdullah Harahap belum lama, tiga tahun lalu lewat novel mistik Kolam Darah. Cerita peseteruan keluarga terkait warisan dan keturunan yang dibalut kengerian saling serang sihir dan lempar tuah. Andai ga baca tulisan kover belakang yang mengandung inti cerita bisa jadi ceritanya akan lebih resep. Mitisme lokal dengan jimat, dendam, hingga jualan kengerian darah yang membuncah. Status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khasanah sastra. Edisi kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan ini ternyata dipersebahkan untuk beliau. Berisi dua belas cerita, ditulis tiga Pengarang handal tanah air dari komunikasi tiga kota. Eka dan Intan sudah mengenal beberapa karyanya, untuk Ugoran, ini adalah buku pertama beliau yang kunikmati. Saya berstrategi membacanya ga berututan dari halaman satu beriring runut terus sampai akhir buku, tapi satu cerita dari satu penulis, lalu cerpen berikutnya ganti penulis lain, lanjut lagi dan kembali muter. Jadinya gaya bercerita yang kukhawatirkan monoton karena dari tangan yang sama dapat dihindari, dan alhasil sukses. Sungguh bagus kisah-kisah di buku ini. Tema variasi, tapi tetap hal-hal gaib menyelingkupi semuanya.

(1).Eka Kurniawan
#1. Penjaga Malam
Kisah para peronda yang ditikam kesunyian pekat. Bagaimana mereka menjaga kampung, mengawasi segala yang potensial membahayakan warga, badai menambah menakutkan diseling mati listrik dan sesekali mengerjap. Lalu satu per satu menghilang. Sebuah tindakan beresiko yang mengabai keselamatan. Pace-nya memang lambat tapi nikmat diikuti karena memang kekuatan utama ketenangan malam yang disaji. Gelap pekat membuat kita serasa dikubur hidup-hidup.

#2. Taman Patah Hati
Untuk memutuskan kekasih harus sampai ke Jepang. Memang sulit untuk mengakhiri hubungan, lebih mudah memulai. Keputusan berat yang terpaksa diambil itu melibatkan keberanian, mitos dan pengorbanan yang tak sedikit. Kita bertemu lagi dengan karakter bernama Ajo Kawir, tokoh penting di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas. Mia Mia yang dan danau di taman Inokashira.

#3. Riwayat Kesendirian
Salah satu yang terbaik. Seorang ilustrator yang sudah memiliki pacar, mendapat tugas menjaga temannya teman, dititipi untuk numpang tidur di apartemen. Awalnya tak ada rasa, tapi riwayat kesendirian mencipta drama saat kedua insan terpisah. Sang gadis bernama Ina Mia, dari nama perempuan Chairil Anwar, ia dipaksa kawin sama pilihan orang tuanya, dan sebuah telpon untuk janji temu meluluhlantakan bata lego yang disusun. “Bolehkah aku bertemu denganmu?”

#4. Jimat Sero
Menurutku ini yang paling bagus. Pembukanya mengupas kulit bawang paling luar, lalu kupasannya perlahan sekali, menarik minat pembaca sampai akhirnya saat sampai di inti, ternyata kupasan terbaik ada di permukaan! Ga nyangka. Seorang penakut yang kena perisak di sekolah, dibantu Rohmat, seorang anak yang istimewa, siapa saja yang memukulnya akan kena damprat. Sekembali dari kampung melanjutkan hidup, segala takdir berubah lurus dan nyaman berkat jimat sero. “Tak ada yang perlu kamu risaukan.” Benarkah?

(2). Intan Paramaditha
#5. Goyang Penasaran
Tak pernah mabuk judi atau mabuk minuman, tetapi mabuk janda ternyata lebih berbahaya. Kisah yang keras dan berdarah-darah. Jelas kover buku diambil dari cerita ini. Penyanyi dangdut yang mencoba insyaf, terusir dari kampung dan saat kembali sudah mengenakan hijab. Sebuah taktik dendam disusun, kepala desa yang baru sang pengagum itu dituntun dalam goyang penasaran di tepi jalan. Keras. Sadis. Mencekam. Hal hal remeh cenderung meruap dari ingatan. Zina yang sering tak kita sadari wahai kaum muslimin dan muslimat adalah zina mata.

#6. Apel dan Pisau
Kisah nabi jelita Yusuf yang membuat para wanita menggoresi tangan mereka dengan pisau. Pesona gossip, arisan keluarga dan ketamvanan yang haqiqi. Apel yang matang, perempuan-perempuan yang matang, dan Yusuf yang memukau. Sinisme kaum hawa yang pandai bergosip laiknya kena batu. Cik Juli dan magnet sihirnya. “Apelnya memang enak.”

#7. Pintu
Keluarga terpandang, kaya, dan kematian tragis dalam sebuah mobil kutukan, Mercy Tiger merah metalik tahun 1982. Cerita tragis sebuah keluarga pasangan Bambang dan Ratri mencoba kembali menurut fakta saling silang selingkuh. Namun ternyata asmara dan dendam arwah menghantar pada kepahitan lain. “Mari, temani aku jalan-jalan.”

#8. Si Manis dan Lelaki Ketujuh
Ini yang paling aneh. Wanita buruk rupa sedang mencari mangsa, lelaki yang diperbudak seks dengan imingan gaji menggiurkan. Seorang penganggur yang sudah berkeluarga dengan berat hati menerima tawaran, gaya bercinta ala kisah sang putri salju dan tujuh kurcaci di mana drama sandiwara penculikan dicipta, scenario itu berantakan saat titik didih sudah di puncak. “Karena aku menyukai eksperimen.”

(3). Ugoran Prasad
#9. Penjaga Bioskop
Cerita hantu di bioskop yang angker, sang penjaga bioskop Rusdi yang menjadi saksi dari awal sekali gedung dibuat smampai akhirnya esok dirobohkan. Saat film terakhir selesai diputar, sang penjaga mengenakan pakaian terbaiknya dan mengucapkan salam perpisahan. Ternyata tak seperti yang tampak di permukaan. Sebuah rekaman suara memberi kengerian di balik kabar angin kesereman gedung. “Aku datang. Aku di sini terus. Aku menemanimu terus.”

#10. Hantu Nancy
Cerita balas dendam yang tak biasa. Pembunuhan sang gadis salon yang merentet kematian demi kematian semua orang yang terlibat. Hikayat hantu di kampung Kebon Sawah yang menguar kengerian di udara. Zulfikar dan bau rambut terbakar. “Aku mimpi ketemu Nancy. Dia bilang mau balas dendam.”

#11. Topeng Darah
Level kekerasan kelas satu, satu tingkat di atas Goyang Penasaran. Sadis, tragis, dan tak berperi. Sebuah iklan aneh yang menjual barang langka, sebuah topeng abad 19 dengan harga tak masuk akal, Iskandar iseng, berbuntut panjang dan penyesalan. Percobaan demi percobaan itu seperti candu.

#12. Hidung Iblis
Sang lelaki belang yang membantai lelaki belang dengan pemacing hasrat istrinya sendiri, Mirna yang jelita. Berkelit masalah ekonomi, petualang cinta, setia kawan atau pengianat, sampai drama saling ancam dalam penyelesaian proses kriminal. Endingnya twist. “Seberapa sering kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisika?”

Sejatinya semua ini bermula dari Gentayangan. Novel pertama Intan Paramaditha yang masuk lima besar Kusala Sastra 2018 ini membuatku penasaran karya lain, Sihir Perempuan menjadi buku ke 100 yang kubaca tahun lalu. Dan dari komentar teman di sosmed bahwa ada kumpulan cerpen Intan kolaboratif, bilang cerpennya yang paling menawarkan kengerian, maka jadilah kunikmati juga buku ini. Eka Kurniawan jelas adalah salah satu Penulis besar yang masih hidup saat ini. Penghanggaan demi penghargaan internasional adalah bukti, ia memang Penulis jempolan. Terbukti lagi, di sini. Empat cerpennya kurasa yang terbaik. Ketenangan bernarasi menjadi kekuatan utama, menyimpan rapat kejutan masih menjadi andalan, hingga fakta itu dibuka di penghujung. Riwayat Kesendirian itu luar biasa lho, tak ubahnya sebuah lipatan origami yang menghasilkan angsa terbaik. Ina Mia dan kesedihan takdir yang tercipta. Ugoran ternyata jua penulis hebat, empat cerpennya sudah cukup untuk bekal mengarungi cerita-cerita lain beliau.

Kuhirup udara seolah-olah aku ingin memasukkan seluruh udara di dalam ruangan ke dalam tubuhku, dan siapa pun yang bersembunyi di balik udara, akan tersirap dan mendekat ke arahku. Dan sebagaimana budak sejati, kami juga berada di tengah-tengah: antara keinginan untuk merdeka dan kesetiaan yang tak terjelaskan.

Kumpulan Budak Setan | Oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad | GM 616202044 | Desain sampul eMTe | Setting Sukoco | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, 2016 | ISBN 978-602-03-3364-9 | Skor: 5/5

Untuk Abdullah Harahap

Karawang, 070319 – 160319 – Ronan Keating – I Hope You Dance

Nyepi Day – Undian 8 besar UCL – Liga Sparing

Bajak Laut Popcorn – Alexander McCall Smith

“Kita bisa melemparkan sebuah botol yang berisi pesan di dalamnya. Mungkin akan ada seseorang yang menemukan dan mengambilnya, lalu datang menyelamatkan kita.”

Cerita anak-anak memang selalu menyenangkan saat kamu menempatkan diri juga ke posisi sudut pandang anak-anak. Dari Penerbit Buah Hati yang memang melabeli diri sebagai childre’s book, kisahnya jelas sangat ringan, renyah bak popcorn yang meletup riang di lidah dan ternyata asyik jua. Bajak laut, popcorn, petualangan, serta terutama nama duo karakter Hermione dan Lucy. Buku mungil ini jelas nikmat dilahap. Kubaca Januari tahun lalu, dalam sekali duduk di Bus Taka Taman Kota Galuh Mas, Karawang saat menemani Hermione main ayunan, prosotan, bersama segelas es teh dingin dalam udara sore yang sejuk.

Kisahnya imajinaf, bahwa dalam peta Jamaika ada empat titik pulau di sebelah selatannya. Mereka terlalu kecil untuk dinamai, tapi sebenarnya titik-titik ini adalah kepulauan popcorn. Tak ada yang tinggal di sana, kalaupun ada kapal-kapal yang tersesat, terdampar, maka itu hanya sementara, karena kapal penyelamat akan datang dan membawa mereka keluar. Kakek Lucy mengubahnya.

Kakek Lucy melakukan penemuan hebat, menanam jagung (popcorn) di pulau itu dan sukses besar sehingga mereka kini menjadi keluarga petani popcorn. Awalnya nama pulau itu adalah Pulau Besar, Sedang, Kecil dan Mungil. Ini kisah tentang Lucy, saudaranya Sam dan temannya Hermione dalam mengarungi lautan melawan para perompak. Saat musim panen, kapal pengangkut datang. Sang kapten bernama Foster dengan anjing penjaga Biscuit. Sehari setelah kapal bermuatan popcorn diisi mereka berangkat.

Lucy dan Hermione yang bertetangga suka main lampu sorot untuk komunikasi, mereka akan saling kasih kode dari kedua jendela saat malam tiba. Dan esoknya kabar buruk tiba, kapal kapten Foster dirampok bajak laut. Dari sang kapten kita tahu, para bajak laut sungguh lihai. Kejadian pertama ini pastinya bukan pula yang terakhir. Besok mereka akan melakukan pelayaran lagi, kekhawatiran perampokan terulang kini membayangi.

Hermione memiliki ide bagus, mereka akan ikut berlayar esok. Lucy dan Sam juga turut serta, perjalanan beresiko tapi orang tua mereka mengizinkan. Pelayaran dimulai, “Kuharap kita takkan bertemu dengan bajak laut. Aku merasa sedikit ketakutan.” Namun demi keseruan cerita, tentu saja hal itu tak terwujud. Mereka berangkat sore harinya, saat malam menjelang laut begitu tenang, dan mereka berjaga bergantian.

Malam terlangsung damai, tak ada hal-hal yang mencurigakan terjadi.

Setelah sarapan mereka berpapasan dengan kapal pengangkut pisang dari Florida menuju Kepulauan Cayman. Kirain akan ada hal penting terjadi dengan kapal lain ini, ternyata bukan cuma selingan. Yang ditakutkan terjadi setelah siang harinya, ada kapal dari samping yang dicurigai kapal bajak laut. Dan benar saja mereka mendekat, rencana pun dijalankan. Anak-anak serta Biscuit lalu masuk ke dalam karung, untuk diam. Sang Kapten menyambut para perampok. Bajak laut itu bernama Bert dan Stinger. Saat penggeledahan, karung-karung yang bermula disampaikan kosong, mereka percaya sampai akhirnya Biscuit menggonggong. Mereka kini menjadi tawanan, Kapten Foster diikat dan kapal kembali melaju.

Mereka mempekerjakan Hermione dan Lucy di dapur menjadi asisten Miss Bert, Sam menjadi petugas galangan kapal, memanjat tiang, menjadi petugas cleaning sampai menjaga arah layar. Empat bajak laut lainnya kini kerjanya malas-malasan: Charlie, Bill, Ed dan Tommy. Jangan berharap ketegangan disampaikan, walau kini mereka jadi tawanan tapi kisah disampaikan dengan jenaka. Bagaimana Sam mengelabuhi para perampok dengan adanya kapal yang mendekat, tapi nyataya tak ada.

Rencana sesungguhnyapun dijalankan. Lucy yang tahu para penjahat itu malas dan serakah, memberi usul agar besok siang mereka memasak pocorn dan dengan tanpa curiga mereka setuju. Besok paginya kompor ditaruh di tengah dapur, berkarung-karung bahan disiapkan. Setelah minyak dipanaskan, popcorn-pun ditaruh. Tepat tengah hari, butiran popcorn-pun mulai melakukan tugasnya. Awalnya sedikit yang mengembang, menjalar dan kemudian ‘pop’ banjir popcorn terjadi. Begitu banyak popcorn yang mengembang, meletup, meledak bagiakan ratusan kembang api kecil, hingga luber ke tepian bak mandi aluminium sampai memenuhi kapal! Para bajak laut tertawa, dapur penuh popcorn, tapi saat akhirnya membludak, meluber hingga melewati batas, mereka terjebak dalam kepungan makanan! Lalu dengan mudahnya penjahat ini balik ditangkap.

Selesai.

Sederhana sekali bukan? Ya. Petualangan anak-anak melawan bajak laut, menang dan mereka kembali. Kapal bajak laut, menjadi milik para penyelamat. Para perompak, dipenjara lalu tobat. Menjalani hidup lurus, dan kisah ini ditutup dengan kejadian biasa. Segalanya kembali normal di pulau popcorn. Oh indahnya hidup. Semua penuh hati yang baik, masyarakat pemaaf dan damailah dunia.

Alexander McCall Smith lahir di Zimbabwe pada tanggal 24 Agustus 1948. Penulis cerita anak yang produktif, sudah mencipta lebih dari 50 buku termasuk serial Ladies Detective agency yang laris di banyak Negara. Tahun 2004, Alexander McCall Smith meraih British Book Awards dan Bestseller Association Author. Alexander McCall Smith tinggal di Inggris bersama istri, memiliki dua anak bernama Lucy dan Emily. Beliau ternyata juga seorang musisi pemain bass yang tergabung dalam RTO ( Really Terrible Orchestra).

Bajak Laut Popcorn adalah serial buku anak, kisah lainnya juga sudah diterjemahkan Lentera Hati. Buku anak-anak, dibaca orang dewasa yang cocoknya memang untuk didongengkan kepada anak-anak. Sepakat.

Bajak Laut Popcorn | By Alexander McCall Smith | Diterjemahkan dari The Popcorm Pirates | Copyright 1991 | Penerbit Buah Hati | imprint dari Penerbit Lentera Hati | Penerjemah Harisa Permatasari | Penyunting Herlina Sitorus | Penata letak Lulu Triardhian Helmy | Desain kover Farid Noor Fadillah | Ilustrasi isi Farid Noor Fadillah | Cetakan pertama, April 2010 | ISBN 978-979-18832-8-3 | 140 hlm.; 19 cm | Skor: 3/5

Karawang, 250219 – Helen Merril – Baby Ain’t I Good To You

Oscar Day 2019 – Thx to Bustaka Taman Kota Galuh Mas

Christ The Lord: Out Of Egypt – Anne Rice

Saat Tuhan menciptakan dunia, Pengetahuan Tertinggi ada di sana seperti tukang kayu yang ahli dan kalau Pengetahuan Tertinggi bukan Tuhan, apakah Pengetahuan Tertinggi itu? “Yerusalem, tempat Tuhan berdiam di Bait Allah.” Tuhan ada di mana-mana dan Tuhan ada di Bait Allah.

Ini adalah kesempatan pertama saya menikmati karya Anne Rice, saya sudah jadi penggemarnya semenjak Sherinaku bilang menyukai An Interview With Vampire di web sherina-online.com tahun 2006 (jangan dibuka ya, web wajib doeleo tiap buka kompuer di warnet). Buku yang bervitamin. Baca dengan kepala jernih dalam tiga hari ini, pada dasarnya saya adalah pembaca segala rupa. Tahun ini saya tahu sejarah Sidartha Gautama karya Herman Hesse yang mengejutkanku. Tahun lalu saya tahu sejarah Nabi, istri dan sahabat Nabi yang beberapa juga mengejutkanku. Hari ini saya selesai baca Yesus Muda, yang tentu saja banyak hal baru kuketahui, dan juga mengejutkanku. Yesus memiliki kekuatan supernatural di usia muda. Menghidupi dan mematikan, menyembuhkan orang buta hingga mencipta burung layang-layang dari tanah liat. Sedari awal ia tahu, seorang malaikat telah mendatangi ibunya. Malaikat. Yesus bukan putra Yusuf.

Kisahnya dibuka di Alexandria, Mesir. Yesus bin Yusuf berusia tujuh tahun. Saat bermain sama anak-anak sebaya, tak sengaja ia menewaskan temannya Eleazar, Yesus yang ketakutan karena tak tahu mengapa, dilindungi keluarga, massa merangsek dan marah-marah menuntut. Lalu dalam ketenangan yang membuncah, ia menghidupkan kembali temannya. Kejadian itu membuat geger warga, Filo dan para guru yang tahu Yesus punya sesuatu yang istimewa memintanya untuk bertahan di Mesir dan menjadi muridnya, tapi tidak. Yusuf sudah memutuskan, semua keluarga pulang kampung ke Nazaret. Ada sesuatu yang disembunyikan, maka dengan kapal mereka meninggalkan Mesir. Ibuku dan Yusuf melindungiku dari sesuatu, tapi aku tak mau dilindungi terus. Jangan pernah bicara ini pada orang lain. Kau tak boleh bicara tentang kita dari mana saja dan mengapa, dan simpanlah semua pertanyaanmu dalam hatimu, dan pada saat kau sudah cukup dewasa nanti, aku akan menceritakan apa yang seharusnya kamu ketahui. “Rumah kita di Nazaret, kau punya banyak sepupu di Nazaret. Sarah menunggu kita di sana, dan Yustus. Mereka kerabat kita. Kita akan pulang.”

Tak usah khawatir tentang rahasia. Kami menuju Yerusalem. Pada hari Sabat semua orang Yahudi menjadi filsuf dan orang terpelajar. Begitu juga di Nazaret. Perjalanan berhari-hari itu berlabuh di Dermaga Jamnia lalu melanjutkan naik keledai setelah bermalam di penginapan. Mereka menuju Yerusalem dulu untuk berdoa, “peziarah, semua orang menuju Yerusalem. Seluruh dunia”. Pada hari ketiga, untuk pertama kalinya kami bisa melihat Kota Suci dari lereng perbukitan tempat kami berada. Kami anak-anak melompat-lompat senang. Kami bisa melihat semuanya, tempat suci yang selalu ada dalam doa kami, hati kami, lagu-lagu kami sejak kami lahir. Di sana sedang dalam kondisi kacau karena raja lalim, tapi mengapa Herodes membakar hidup-hidup dua guru Taurat? “Karena mereka menurunkan patung elang emas yang dipasang Herodes di atas Bait Allah, itulah sebabnya. Kitab Taurat mengatakan bahwa tak boleh ada gambaran makhluk hidup di Bait Allah kita.” Setelah memanjatkan doa, mereka pun menuju kampung halaman. “Tak seorangpun kecuali Tuhan yang berhak memerintah kami! Katakan itu pada Herodes, katakan itu pada kaisar.”

Cerita bergolak Yesus muda yang bertanya-tanya banyak hal. Kegelisahannya, memikirkan keganjilan. Lebih baik aku tidur sebab semua orang tidur, lebih baik hanyut oleh rasa kantuk seperti mereka terhanyut kantuk mereka. Lebih baik percaya mereka percaya. Aku berhenti mencoba untuk tetap bangun dan memikirkan semua itu. Aku mengantuk, sangat mengantuk, sehingga aku tak bisa berpikir lagi. “Kau jauh lebih bijak dari usiamu.
Di Nazaret, Yesus menemukan hal-hal baru. “Semuanya mungkin dilakukan Tuhan. Tuhan menciptakan Adam dari debu, Adam bahkan tak punya ibu. Tuhan juga bisa menciptakan anak tanpa ayah.” Sekolah, belajar kepada tiga rabi: Rabi Berekhaiah bin Fineas, Rabi Sherebiah, Rabi Yasimis. Ketiganya memiliki keunggulan yang meletakkan dasar-dasar ajaran Taurat. Yohanes telah dipersembahkan pada Tuhan sejak lahir. Dia tidak akan pernah memotong rambutnya, dan tak akan pernah membagi anggur makan malam. “Ya Rabi, seorang tukang kayu akan membangun rumah sang Raja. Selalu ada seorang tukang kayu. Bahkan Tuhan sendiripun sekarang dan dulu adalah tukang kayu.

Orang-orang bilang begitu. Malaikat datang ke Nazaret? Apakah benar-benar terjadi?” | “Tidak, orang-orang tidak mengatakan itu, tapi aku tahu.” Tanya itu satu per satu terjawab, walau dengan cara tersembunyi. Pada usia dua belas tahun, anak sudah dianggap dewasa untuk bertanggung jawab menurut Taurat.

Bagian ketika di Yerusalem memang rawan diskusi, sebagai kota suci tiga agama semua mengklaim sebagai yang berhak. Baca dengan jernih, semua dalam kasih. Gadis-gadis itu dipilih untuk membuat cadar Bait Allah karena semua hal di Bait Allah harus dibuat oleh mereka yang berada dalam kondisi suci. Dan hanya gadis-gadis di bawah usia dua belas tahun yang benar-benar suci; mereka dipilih dibawah tradisi, dan keluarga ibuku adalah bagian dari tradisi itu. “Bukankah mereka juga keturunan Abraham? Bukankah mereka juga keturunan Daud, keturunan Harun, keturunan suku-suku Israel? Bukankah mereka juga orang-orang saleh? Taat pada Taurat. Kukatakan padamu, mereka akan membawanya ke pedalaman dan di sana mereka akan mendidiknya dan mengasuhnya. Dan dia anakku sendiri, memang menginginkan ini dan dia punya alasan.” Yesus selalu dilindungi dari pengetahuan luar yang mencoba disusupkan. “Tak seorangpun mencarimu di sini. Kau tersembunyi dan akan terus begitu.” Alasan keluar dari Mesir pun terungkap. “Malaikat mengatakan padaku bahwa kekuatan Tuhan akan melingkupiku, lalu bayangan Tuhan akan menghampiriku – aku merasakannya – kemudian pada saatnya muncullah kehidupan dalam diriku, dan itu adalah kau.”

Kau harus tumbuh seperti anak-anak lain ataukah Daud kecil kembali ke kaumnya hingga mereka memanggilnya? Jangan biarkan ibumu sedih. Ya, bagian Yesus harus tetap tumbuh seperti anak-anak lain terus disampaikan. Segala tanya kelak akan terjawab. “Simpan apa yang akan kukatakan ini dalam hatimu, akan tiba saat kaulah yang akan memberi jawabannya pada kami.” Yesus malah tambah penasaran, kenapa ia bertanya malah nantinya ia yang memberi jawab? Dia sendiri tak mengerti beberapa hal, dan saat orang tak mengerti, dia tak bisa menjelaskan. Aku belum merasa takut. Aku masih terpaku, mati rasa. Ketakutan baru akan datang kemudian.

Ini Bait Allah kami, dan ini Rumah Tuhan; sangat mengagumkan karena kami bisa memasukinya dan sangat dekat dengan keberadaan Tuhan. Selama masih ada orang Yahudi di dunia maka akan ada Paskah saat Paskah! Gejolak di sana memang sudah terjadi sangat lama. Seperti ada masyarakat yang menentang. “Mengapa orang itu melemparkan batu, padahal dia tahu tentara itu akan membunuhnya?” dan pertanyaan itu dijawab ibunya, “Itu saat yang bagus untuk mati. Mungkin itu saat yang sempurna untuknya untuk mati.” Terdengar familiar di era sekarang? Ya.

Kenapa hal itu terus terjadi hingga kini? “Kita diasingkan di tanah sendiri. Itulah kebenarannya, karena itulah kita melawan. Mereka ingin mengusir keluarga raja yang menyedihkan ini yang membangun kuil-kuil berhala dna hidup seperti tiran memuja berhala.” Dan dalam sebuah riwayat. “Tuhan menepati janjinya pada Israel tapi bagaimana dan kapan dan dengan cara apa kita tidak tahu.” Terdengar familiar lagi? Ya. Di satu sisi, perang berlangsung dan keluarga Yusuf menggangap. Kita sudah keluar dari Yerusalem, kita sudah keluar dari masalah. “Bagaimana kita bisa tahu? Ada orang Farisi, juga imam, juga Essene. Semua mengucapkan doa, ‘Dengarlah anak Israel, Anak Allah, kita adalah satu.’”

Di mana tanah Israel berawal dan berakhir? Di sana, di mana orang Yahudi berkumpul dan mentaati Taurat. Aku juga melihat transformasi dari dunia kuno karena kemandekan ekonomi dan pengaruh nilai-nilai monoteisme, nilai-nilai Yahudi yang melebur nilai-nilai Kristiani. Dan aku tahu para pria mandi dan memakai baju baru sesuai dengan hukum Taurat, dan mereka tak akan lebih bersih hingga matahari terbenam. Karena itulah mereka tak langsung pulang ke Nazaret hari ini. Mereka ingin bersih saat sampai di rumah.
Seperti kalian satu-satunya yang tinggal di Nazaret. Seluruh kota ini menjadi milik kalian, dan seluruh populasi kota ini berkumpul di halaman satu rumah. Bukankah itu bagus?” Nazaret digambarkan desa yang tenang. “Kita akan segera sampai di perbukitan, jauh dari semua ini. Kau bersama kami. Dan kita akan pergi ke tempat yang damai. Di sana tak ada perang.” Jalanan berbatu dan tak rata, tapi angin bertiup sejuk. Aku melihat pohon yang dipenuhi bunga, dan menara-menara kecil di ladang, tapi tak terlihat seorang pun. Tak ada orang di mana-mana. Tak ada domba yang merumput, tak ada ternak. Hobinya memang menyendiri, menyatu dengan alam, menyepi. Aku berdiri dan keluar, senja mulai turun dan menyusuri jalan menuju perbukitan, dan mendaki tempat yang rumputnya lembut tak terganggu. Ini tempat favoritku, tak jauh dari pepohonan yang sering kudatangi untuk istirahat. Rasanya damai saat Yesus merenungi hidup di bukit dalam kesunyiannya. Aku berbaring di rumput meraba bunga-bunga liar dengan tanganku. Aku memandang di sela-sela ranting pohon zaitun. Aku ingin seperti itu – melihat langit dalam kepingan. Aku bahagia.

Ingatlah jangan pernah mengangkat tanganmu untuk mempertahankan diri atau memukul. Bersabarlah. Kalau kau harus bicara, bicaralah sederhana.” Ajaran-ajaran tanpa kekerasan juga muncul di banyak bagian. Kalau manusia ingin berperang, mereka akan mudah mencari alasan. Tidak ada yang bekerja, semua orang menghormati Sabat, tapi mereka berjalan pelan. Kegelapan mencoba menelan cahaya, dan kegelapan tak pernah bisa menelan cahaya. Dalam setiap diri kita, ada kisah menyeluruh tentang siapa kita. Kita pernah tinggal di Mesir seperti bangsa kita dulu, dan seperti mereka kita akan pulang juga.
Bukan masjid, bukan pula gereja atau pura. Tempat ibadah mereka adalah sinagoga. Air suci ini dibuat dari abu sapi betina merah yang disembelih dan dibakar di Bait Allah sesuai aturan Taurat untuk diambil abunya, dicampur dengan air hidup dari sungai di dekat sinagoga di ujung desa. Diberkatilah semua yang takut pada Tuhan, mereka yang taat padaNya. Aku akan keluar ke dunia dan melakukan apa yang menjadi takdirku.

Ada bagian yang membuatku tersenyum saat sepintas lewat menyebut “Eli sang imam”, menelusur imajiku ke film The Book of Eli yang berkisah tentang perjalanan menyelamatkan buku (kitab) dibintangi Denzel Washington. “Malaikat datang di mana saja, ke mana saja, kapanpun mereka mau.” Film itu adalah misi penyelamatan Injil, dan twist-nya adalah bukan buku fisik yang dibawa, tapi si Eli sendiri! “Aku datang ke sini dan berpikir, dan pikiranku berubah menjadi doa.” Hebat. Saya sampai terkejut, saat Eli terluka tapi dia dengan damai mendikte kitab untuk diarungi agar tak punah. “Aku tak mau tidur, aku akan melihat mereka kalau bermimpi.” Hal terpenting yang dilakukan Imam Besar adalah memasuki Ruang Maha Kudus di Bait Allah, tempat Tuhan menunjukkan beberadaan-Nya; tempat yang hanya boleh dimasuki Imam Besar. Apakah ending kisah di perahu itu Eli ada di Timur Tengah?

Dan sebuah ramalan bahwa akan lahir raja baru di Betlehem membuat raja Herodes berang, maka orang-orang majusi yang melihat bintang turun. Raja memerintahkan mencari anak itu, tapi Yesus sudah diselamatkan, pergi jauh ke Afrika. Kaukira mukjizat-mukjizat kecilmu itu akan membantu orang-orang bodoh ini? Kukatakan padamu, kekacauanlah yang berkuasa. Dan aku adalah Pengeran Kekacauan. Raja berang dan melakukan tindakan biadab, sekitar dua ratus anak dibunuh dalam kegelapan malam menjelang fajar, anak-anak dibawah dua tahun. Demi mencegah ramalan terwujud. Seram, sadis, kejam. Sepertinya seluruh dunia memelukku. Mengapa aku pernah berpikir aku sendirian? Aku ada dalam pelukan bumi, pelukan mereka yang mencintaiku, tak peduli yang mereka pikirkan atau pahami, pelukan bintang-bintang. “Wahai Tuhan seluruh alam, pencipta anggur yang kami minum, pencipta gandum untuk roti yang kami makan. Kami bersyukur karena kami akhirnya tiba di rumah dengan selamat, dan jauhkan kami dari marahabaya. Amin.”

Bagian kilas balik cerita ibunya juga bagus sekali dituturkan. Kamar itu dipenuhi cahaya begitu saja, terjadi tanpa suara. Cahaya itu ada di mana-mana. Semua benda-benda di ruangan masih ada, tapi dipenuhi cahaya. Cahaya yang tidak menyakiti mataku, tapi sangat terang benderang. Kalau kau bisa membayangkan matahari dan matahari tak melukai matamu, maka kau bisa membayangkan cahaya itu. Dia mengirimkanmu kepada Yusuf bin Yakub, si tukang kayu dan tunangannya Maria dari keturunan suku Daud di Nazaret bersama kami.

Endingnya bagus sekali. Bab terakhir itu sungguh lezat diikuti, menjawab tanya Jesus memberi detail hari di mana ia lahir. Yah, walaupun mungkin untuk sebagian besar umat itu bukanlah hal baru. “Kota itu sangat penuh malam itu, Betlehem, dan kami tidak bisa menemukan tempat menginap – kami berempat, Kleopas, Yusuf, Yakobus, dan aku… dan akhirnya penjaga penginapan mengizinkan kami bermalam di kandang. Kandangnya berupa gua yang terletak di sebelah penginapan. Sangat nyaman menginap di sana, karena hangat dan Tuhan menurunkan salju.”

Seluruh tubuhku sakit – bahu, pinggang, lutut – tapi aku bisa tidur. Aku bermimpi. Untuk pertama kalinya bagiku, tidur seperti sebuah tempat yang bisa dituju. Dan dari mimpi-mimpi itulah terjadi komunikasi dengan malaikat. “Kau berdoa agar turun salju, nah kau punya salju sekarang. Berhati-hatilah akan apa yang kau inginkan.”

Anne Rice terinspirasi buku karya Fredsiksen yang dengan indah menggambarkan kembali suasana Yahudi tempat Yesus kemungkinan tumbuh di Nazaret, dan kemungkinan Yesus pergi merayakan Paskah ke Bait Allah di Yerusalem bersama keluarganya. Fredriksen menekankan bahwa Yesus adalah orang Yahudi. Maka kisah ini utamanya ya saat-saat Yesus muda di sana. Bagian Mesir cuma tiga bab awal, setelahnya kita terus disuguhi petualang di kampung halaman dan sesekali ke Yerusalem.

Di bagian akhir Anne Rice memberi catatan bagaimana buku ini terwujud. Beliau adalah Kristiani taat, di sekolahkan dengan ajaran agama yang ketat. Sampai usia 18 tahun di masa kuliah ia berubah. Dipenuhi orang-orang baik dan orang-orang yang membaca buku terlarang untukku. Aku membaca Kiekergaard, Sartre dan Camus. Menikah dengan ateis Stan Rice yang berpedoman tulisan kami adalah hidup kami. Menikah empat puluh satu tahun, terpisah karena maut tahun 2005. Stan mendorong Rice untuk menulis kisah ini setelah ia terserang tumor otak. Lalu di New Orleans tempat lahirnya, Anne Rice kembali menemukan jalan. Bahwa buku berikutnya adalah tentang Yesus, maka riset dilakukan dengan berbagai cara bertahun tahun. Bibliografi tak ada akhirnya, perdebatan kadang menimbulkan dendam. Aku tak menyarankan adanya sensor, tapi aku menyarankan adanya sensitivitas, terutama bagi mereka yang membaca buku-buku religi. Aku beruntung hidup dalam lingkupan kasih sayang mereka, aku benar-benar diberkati. Dan jadilah Chist The Lord yang kita nikmati.

Apa yang kudapat seusai menikmati Young Messiah ini? Dengan sepenuh hati, ayolah baca karya-karyanya. Masih ada jutaan halaman dari seluruh buku-buku karya para Penulis yang harus kubaca, dan kubaca lagi. Masih banyak sekali bahasan tentang Josephus, Filo, Tacikus, Cicerio, Santo Paulus sampai Julius Cesar yang harus kubaca. Dari dulu saya ingin memulai Sartre, hiks mungkin tahun 2019 terwujud. Banyak sekali pemenang Nobel Sastra yang belum kulahap, banyak sekali karya klasik yang seakan tiba-tiba mengantre untuk kukejar. Banyak sekali buku-buku agama lain yang juga pengen kupelajari. Sungguh dunia ini maha luas, ilmu pengetahuan begitu banyaknya, kita beruntung di era digital karena buku-buku itu kini lebih terjangkau.

Aku terus belajar, aku terus membaca siang dan malam. Aku membaca, membaca dan membaca. Kadang aku pikir aku sedang di Lembah Kematian, saat aku membaca. Tapi aku terus membaca, siap mempertaruhkan segalanya. Semakin saya banyak membaca buku, semakin merasa bodoh. Banyak sekali hal-hal di luar sana, buaaanyaaak sekali ilmu pengetahuan yang tersebar di semesta buku, kita hanya tinggal menikmatinya, memilahnya, melahapnya. 100 buku per tahun takkan cukup hingga usia 100 tahun!

Jadi, “berdoalah!”, mari mengangkat tangan dan berdoa untuk kemakmuran bangsa, untuk saling menghormati kemajemukan Indonesia dan selalu dalam lindunganNya.

Terima kasih Sherina Munaf yang telah merekomendasikan, Terima kasih Anne Rice atas segala yang dicurahkan dan terima kasih Gramedia Karawang yang memberiku kesempatan menikmati karya ini. Aku belajar sesuatu dari setiap buku yang aku baca.

Kristus Tuhan: Meninggalkan Mesir | By Anne Rice | Diterjemahkan dari Christ The Lord: Out Of Egypt | Copyright 2005 | 6 16 86 005 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2006 | Alih bahasa Esti Ayu Budihapsari | Desain sampul Satya | Cetakan kedua, April 2016 | ISBN 978-602-03-2732-7 | 392 hlm.; 20 cm | Skor: 3.5/5
Untuk Christopher

Karawang, 251218 – Nikita Willy – Surat Kecil Untuk Tuhan