Okja: Cinta Kasih Gajah Babi

Well, former CEO Nancy is my sister, but uuh… we’re very different people. We have very different ways of being. We have very different business ethics…” – Lucy

Jenis film fantasi yang tak biasa. Babi sebesar gajah, menjadi komoditi pasar tapi sang babi seperti memiliki jiwa, persahabatan dengan remaja itu kuat, memiliki cinta kasih, dan menuntut perjuangan melangkah jauh. Lihat posternya, babi dengan pabrik mengepul di punggungnya. Ada sesuatu yang bernilai di sana, artinya Anda masih memiliki harapan. Mengundang komunitas pecinta binatang turut serta memerjuangkan. Dari pegunungan desa ke Seoul, dari Seoul ke New York, dan di sebuah pabrik jagal titik akhir juang.

Lucy Mirando (Tilda Swinton) mengepalai perusahaan warisan ayahnya, ingin menghapus image sang bapak dan saudara kembarnya Nancy Mirando (diperankan juga oleh Tilda Swinton), ia memiliki proyek ambisius tentang pengembangan binatang guna mendukung industri makanan. PT. Mirando melakukan percobaan mencipta babi super, dengan sample 26 babi yang beda mengirimkannya ke berbagai Negara agar dirawat oleh petani lokal, proyek itu akan memakan waktu 10 tahun. Sebuah penantian yang lama… tapi ia pede dengan mengatakan, ‘rasanya sangat lezat’

Di Korea Selatan, sepuluh tahun berselang. Remaja 14 tahun. Mija (diperankan imut sekali oleh Seo-Hyun Ahn) sedang angon babi super (baiklah, saya menyebutnya gajah babi sahaja karena penampilannya mirip gajah) bernama Okja. Mereka hidup di pegunungan bersama kakeknya, hidup damai nan asri. Agar tampak dramatis, Mija mengalami meusibah terperosok di jurang, Okja seolah adalah hewan yang bisa berpikir. Melakukan penyelamatan dengan heroik. Jelas ada ikatan special di antara mereka, bukan sekadar tuan dan binatang peliharaan. Rasanya gemes sekalia meluk gajah imut.

Suatu hari datanglah utusan Mundo, seorang host tv terkenal channel Zoologist, Dr. Johnny Wilcox (dimainkan gilax oleh Jake Gyllenhaal), dengan krunya melakukan rekaman. Perjalanan ke gunung yang melelahkan, dan hasil monitor rasanya Okja adalah babi favorit untuk menang kontes. Untuk mengalihkan perhatian Mija, kakeknya mengajak ke makam orang tua dan menunjukkan babi emas, dan bilang Okja akan dibawa ke New York. Tentu saja marah, saat sudah kembali ke rumah, sang gajah babi sudah ga ada. Pengejaran rasanya percuma, maka malam itu iapun memecah celengan, membawa bekal seadanya, dan nekat berangkat mengejar binatang kesayangan. Inti kisah adalah ini, menyelamatkan binatang peliharaan istimewa dari penjagalan menjadi santapan.

Di Seoul, di kantor cabang Mundo ia datang dengan keren. Setelah dicuekin, ia memecah kaca kantor, berteriak mencari Okja, dikejar petuga, adegan kucingan, sampai ke truk yang bersiap berangkat. Bak seorang jagoan, Mija bergelayut di truk yang melaju ke bandara. Ternyata ia tak sendirian dalam misi penyelamatan ini. Sebuah organisasi penyayang binatang, muncul truk lain yang mefet dan seperti misi-misi mustahil Fast and Furious, Okja coba dibajak. Mengacaukan banyak sekali hal-hal di depannya, masuk mal dengan derap, menghancurkan segala yang menghadang.

Organisasi itu ALF (Animal Liberation Front) yang dipimpin oleh Jay (diperankan unik – seperti biasa – oleh Paul Dano). Genk terdiri dari Red (Lily Collins), Blond (Daniel Henshall), Silver (Devon Bostick), dan K (Steven Yeun). K adalah orang Korea jadi sekaligus menjadi penerjemah. Ada adegan bagus ketika Mija ditanya mereka, dan diterjemahkan ya. Padahal K memodifikasi. “Menerjemahkan adalah sakral.” Walau akhirnya gagal, Okja tetap dikirim ke New York, seantero negeri tahu, ada sebuah kekejaman memisahkan remaja imut dengan binatang imut. Fakta ini membuat gusar Lucy sehingga malah berencana membuat acara reuni temu dalam festival yang disiarkan live.

Kita tahu para anggota organiasasi akan mengacaukannya. Perjuangan melawan kekejaman terhadap binatang, itu berjalan dengan intesitas aksi pas ‘sungguh hollywood’ walaupun sineas-nya Korea. Dramatisasi penyelamatan Okja, berlarut-lari dan penampilan saudari kembar Lucy, Nancy (Tilda juga) di London yang lebih berpengalaman demi menyelamatkan Perusahaan turun tangan. Dan di area penjagalan gajah babi, klimaks kisah terjadi. Dengan bonus piglet yang imut, kisah ini happy ending. Dan sedikit merusak keseruan jargon, suram adalah tjoenci. Ada scene after credit di ujung film, kenakan maskermu kawan, perjuangan belum berakhir.

Pasca kegemparan Parasite, film-film Bong Joon Ho sebelumnya diburu. Walau sudah nonton Snowpiercer yang membingungkan karena bertema politik dalam kereta, Okja justru malah menampilkan keanehan. Bagaimana mencipta makhluk babi sebesar gajah? Menaburkan drama di dalamnya, dan akhir yang bahagia malah tak terlampau wow, tetap bagus tapi terasa ada yang janggal. Para organisasi penentang benaran ada, entah kalian setelah menyaksi apakah langgung jadi vegan atau tetap lahap makan daging, bukan hanya babi yang tampak menggemaskan; ayam, bebek, sapi, dst segala hewan ternak yang menggiurkan di meja makan itu juga menggemaskan kalau dirawat dengan cinta. Seolah memang tujuan utama Okja dibuat untuk perjuangan kaum vegetarian.

Suka Tilda sejak jadi Penyihir Putih di Narnia, suka Paul Dano sejak membisu Little Miss Sunshine, suka Jake sejak mendekam di Brokeback Mountain. Dan tentu saja mulai suka Jeong-eun Lee sejak bersahabat dengan Okja.

Translation are sacred.

Okja | South Correa | Year 2017 | Directed by Bong Joon Ho | Screenplay Bong Joon Ho, Jon Ronson | Story Bong Joon Ho | Cast Tilda Swinton, Jake Gyllenhaal, Seo-hyun Ahn, Jeong-eun Lee, Steven Yeun, Paul Dano, Daniel Henshall, Lily Collins, Devon Bostick | Skor: 4/5

Karawang, 130520 – Bill Withers – I’II Be With You

Section 375: Drama Pengadilan Mencipta Kerut Kening Berlapis

Zero tolerance policy for sexual misconduct.”

===tulisan ini mungkin mengandung spoilert===

Film India tak hanya menari dan bernyanyi. Film India juga banyak yang slow dan menantang nalar serta edukasi hidup, inilah salah satu produk unggul sinema tentang drama di pengadilan. Mengingatkanku pada novel-novel John Grisham yang solid, perdebatan mendalam di kursi-kursi panas, mengingat pula kegigihan dan kepahlawanan perempuan di novel-novel Sidney Sheldon, terutama Rage of Angels yang dahsyat. Di sini, perempuan tampak lebih hebat, lebih perkasa, dan menangan. Urusan syahwat, lelaki selalu apes berkonotasi. Alurnya khas Sheldon yang upaya membalikkan keadaan dan dramatis-nya dapat. Section 375 merupakan bagian KUHP yang berlaku di India, yang jadi rujukan ayat kasus pelecehan seksual.

Dibuka dengan ditangkapnya seorang sutradara terkenal Rohan Khurana (Rahul Bhat) atas tuduhan pemerkosaan disertai kekerasan terhadap desainer kostum yang membidani filmnya, Anjali Dangle (Meera Chopra). Tampak sangat meyakinkan kasus ini, pendulum salah memberat pada laki-laki kalau mengenai syahwat. Pengacara yang ditunjuk adalah pengacara senior Tarun Saluja (akting hebat Akshay Khanna) berupaya sebaik-baiknya mendampingi, melawan jaksa penuntut umum muda ambisius, mantan anak didiknya Hiral Gandhi (Richa Chadda), bisa jadi ini adalah kasus besar pertamanya yang berarti bisa untuk mendongkrak karier. Segala daya dikerahkan demi kemenangan sang korban. Kemenangan menjadi hal mutlak yang harus diraih walau mengorban kemanusiaan, rasa empati diredam di lumpur terdalam.

Kasus yang tampak mudah ini lalu mengabu, meragu, luruh dengan berjalannya menit, sangat mengingatkan film noir 12 Angry Men di mana, para juri berubah haluan perlahan dengan terungkapnya fakta-fakta baru dalam selidik. Section 375 mengupas perlahan detail perkara, tak lurus bernarasi tapi jelas dipikat dengan gaya menegangkan. Khurana seorang public figure, sehingga mengundang lalat perhatian, ia dicerca dengan dalih menggunakan kuasa sutradara film dengan melaksana pelecehan. Membakar emosi nitizen. Sampai muncul demo berjilid-jilid meminta terdakwa dihukum seberat-beratnya, atau sebijaknya dibilang seadil-adilnya? Sejujurnya adegan demo-nya kelihatan banget palsu. Property massa dan lembar bendanya kaku, tak digarap dengan intens. Khurana ditengah tekanan publik tampak tenang, tak menggebu, tampak sangat bersalah – ya, tampak menyembunyikan poin penting – ya, pertaruhan aib dan mertabat. Aib seorang lelaki, dan martabat pekerja seni. Anjali sebagai korban juga pasif, menampil perempuan lemah yang dirugikan – ya, menjaga emosi tetap tertahan – ya. Yang jelas ada sesuatu yang disembunyi mereka berdua. Menempatkan diri sebagai designer yang tak bernama di kancah Bollywood, tapi ketika menit mula kedatangannya di apartemen diungkap, kita tahu ada yang janggal.

Ia hanya seorang rekomendasi, ia seorang fan, ia seorang posesif akut!

Anjali datang ke apartemen Khurana untuk menunjukkan kostum filmnya. Pembantu diminta keluar, lalu kasus itu terjadi. Kejanggalan pertama muncul, rambut Anjali ada di kasur padahal pertemuan di ruang tengah. Apakah ada paksaan masuk kamar ataukah sukarela? Kejanggalan berikutnya, memar luka di selakangan, andai ada kekerasan fisik, kenapa ada di kedua sisi dengan bekasnya kena benda keras. Tak ada barang bukti ditemu, tak ada benda keras yang ditemukan di TKP. Lalu CCTV dan rekaman coba dibuka, booom! Menarik sekali. Adu cerdik ini menemui titik akhir yang mengejutkan. Menggemaskan. Kasus pemerkosaan ini lebih suram dari yang dikira.

Jelas ini adalah salah satu film pengadilan terbaik, angka penjualan tiket bioskop mengecewakan – mungkin karena tema drama merenungnya, tapi secara ulasan sangat positif – jelas, ini kisah drama roller coaster. Penampilan terbaik Akshay Khanna, turut gereget, ikut sedih tapi tak sampai nangis. Menampilkan perjuangan hingga titik keringat terakhir, tampak lelah sekaligus semangat membara dalam sorot mata harap. Keyakinan, memang sekalipun benar terkadang menampar umatnya. Simbol pengadilan menampil wanita dengan mata ditutup kain dengan memegang timbangan, yah begitulah. Telaah Section 375 membutuhkan kemampuan Kognitif Elliot yang terdiri atas kecerdasan, ingatan, dan perhatian. Produk hukum tak ada yang sempurna, bisa dimanipulasi dan disalahgunakan. Menikmati jenis film drama semacam ini butuh konsentrasi dan sejumput kesabaran.

Secara naskah juara. Seolah kupas kulit bawang, yang perlahan nan pasti kebenaran adalah inti, selongsong kulit itu diungkap satu per satu, satu per satu, lalu ketika sampai di keputusan ternyata malah menimbulkan air mata kepedihan. Naskah seperti ini sulit dibuat, plot maju-mundur, drama kriminal tanpa tembakan dan ledakan. Mencintai sepi dan kebosanan, laksana perdu puisi. Baca syair melengking nyaring, moral diikat ketat, ruang sidang pengadilan yang menolak gema kebenaran. Simpan argumenmu, jabat tangan di makan malam menjadi fakta pahit ironi kehidupan berikutnya. Lantas, siapa penista pengadilan sesungguhnya?

Endingnya bikin marah penonton. Tak kita kira akhir babak semacam itu. Hakim berkerut kening, penonton berkerut kening, para juri berkerut kening, inilah film yang mencipta kerut kening berlapis-lapis. Pak Pengacara dan Bu Jaksa lalu ngopi bareng. Hahaha… film yang mengajarimu banyak hal. Film yang tak nyaman, mencipta hingar bingar di meja kursi pengadilan.

Contoh nyata, bagaimana sebuah sinema berhasil mengatrol keadaan dan emosi penonton, film tenang yang perlahan nan pasti riaknya menggelombang luapan atensi tinggi. Suatu hari, entah sepuluh atau lima puluh tahun lagi Film Ini akan jadi pembahasan seru para akademisi calon-calon sarjana hukum, dengan dalih yang tampak di permukaan tak seperti yang kamu kira. Beruntung kita sudah mengerutkan kening terlebih dulu. John Grisham bertepuk tangan dengan nyaring di sana. #MeToo

Section 375 | India | Year 2019 | Directed by Ajay Bahl | Screenplay (additional & dialogue) Ajay Bahl | Story and screenplay (dialogue) Manish Gupta | Cast Akshaye Khanna, Richa Chadha, Meera Chopra, Rahul Bhat, Shriwara, Kishore Kadam, Kruttika Desai | Skor: 4/5

Karawang, 130520 – Bill Withers – Lean on Me

Jojo Rabbit: Komedi Satir di Era Nazi

Nothing makes sense anymore.” – Jojo

===tulisan ini mungkin mengandung spoilert===

Idenya gila. Kekejaman dibalut keimutan. Adegan gantung-nya terlihat walau sepintas. Kematian, ditutur bagaimanapun, tetaplah kematian. Cerita anak-anak yang dididik mencintai Nazi sejak dini, mengajarkan Swastika dengan segala keimutannya. Mencipta Hitler khayal yang menemaninya sepanjang tumbuh kembang – lalu menghilang, sehingga seolah pelindung. Setting-nya di era Perang Dunia Kedua, Nazi sedang tinggi-tingginya, sekolah di Jerman mewajibkan kurikulum itu, sampai serangan Sekutu yang mengakhiri segalanya. Film dibuka dengan manis, betapa Jojo di usia imut begitu mendewakan Hitler, ditutup dengan lebih imut lagi, Elsa dan Jojo yang ‘merdeka’ melakukan tari tik-tok artsy. Sejatinya memang ini film anti-perang, dibuat komedi, berton-ton komedi malah yang menikam. Komedi gelap. Lantas kepahlawanan jenis apa yang bisa dipeluk semua umat?

Jojo Betzler (diperankan imut sekali oleh Roman Griffin Davis) adalah remaja sepuluh tahun yang tumbuh di masa kejayaan Nazi, ia begitu mengidola Hitler yang patriotik dan keren. Dalam pendidikan yang ketat dan nasionalis, ketika Jojo membutuhkan pertolongan serta teman ngobrol, muncullah Penampakan Hitler (Taika Watiti) menjelma teman curhat, jadi supporter yang menggelorakan semangat. Bersama teman karibnya yang ndut Yoki (Archie Yates) menjalani kamp pelatihan di sekolah alam. Dikepalai pelatih yang tak kalah aneh, Kapten Klezendorf (Sam Rockwell). Di training kamp tersebut, ambisi Jojo juara sungguh tinggi. Sayangnya, jiwa pemberaninya diuji dengan bully-an tugas senior untuk membunuh kelinci, gagal. Kelembutan hatinya, tak tega sekadar mematikan binatang. Sejak itulah ia kena panggilan Jojo Rabbit.

Bully yang malah mencipta luka, ketika sang kapten menerangkan taktis melempar bom, Jojo berlari kencang lalu mengambilnya, melemparanya, kena pohon malah mbalik ke dia, dan meletus. Jojo terbangun dari pingsan di rumah sakit, ibunya Rosie (Scarlett Johansson) marah, mendatangi kantor dan ngomel berat karena insiden ini. Wajah Jojo ada bekas luka, dan ia sementara harus menggendong satu tangannya.Di rumah, kejutan kecil terjadi. Sebagai Hitler-holic betapa terkejutnya di rumahnya, ada ruang rahasia tempat sembunyi seorang gadis Yahudi Elsa Korr (Thomasin McKenzie). Membekap mulut Jojo agar tak berteriak dan melarang melaporkan temuannya. Di era itu, menyembunyikan warga Yahudi hukumannya mati. Sebuah dilema besar untuk jiwa remaja yang labil. Tentu saja ibunya tahu, karena memang ini inisiatifnya. Jojo sayang ibunya, maka seorang fanatik Hitler pun terdiam. Masing-masing dari kita, ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. Apa yang bagus buat Jojo harusnya baik pula buat Elsa, ahh… dunia anak-anak yang polos. Tak sejernih itu Nak.

Elsa adalah putri dari teman sekolah Rosie, menjaganya, menyembunyikannya. Jojo dan penampakan Hitler yang lucu (duuh sang sutradara, kamu kocak banget aktingnya) debat keputusan apa yang pantas. Maka diputuskan menginterogasi Elsa, dari Elsa ia mulai paham dunia yang luas dengan melihatnya lebih terbuka. Marah besar pada ibunya, dan merindu ayahnya. Maka makan malam itu, Rosie pun akting sebagai ayahnya dengan kumis lebat palsu bergaya Nazi. “What did they do?” direspon tenang, “Plenty of good.” Di sinilah saya langsung ketawa serius, harusnya Scarlett menang Oscar. Kocak banget, sayangnya (spoilert… maaf) ia keburu dimatikan. Coba bisa konsisten ngelawak sampai akhir, akting ibu yang bimbang ini jauh lebih hebat dari pengacara kapitalis itu.

Free Germany” merebak, suatu hari ada inspeksi mendadak dari kapten Deertz (Stephen Merchant) ke rumahnya. Jojo yang sendirian panik, menyembunyikan surat-surat Elsa, menyembunyikan segala yang memancing kecurigaan keberadaannya. Muncul pula kapten Klezendorf di sana, Elsa yang ada di tangga dalam masalah besar. Dalam kengerian mefet itulah, ia memberanikan muncul dan memperkenalkan sebagai kakaknya. Menunjukkan Kartu Tanda Penduduk, dalam adegan dramatis ia diuji tanggal lahirnya. Elsa menjawab dengan keraguan, Klezendorf yang tahu salah, malah melindunginya dengan bilang tepat dan pasukan inspeksi-pun pergi. Serem banget ini, setidaknya Jojo dan Elsa tahu Kapten Klezendorf memiliki kebaikan di lubuk hatinya. Sebuah moralitas itu bisa diwujudkan di masa depan harus dimulai dengan sesuatu yang disebut amor fati, ‘cinta pada nasib seseorang.’ Bukan sekali, sang kapten melakukannya. Nurani akan kebaikan tergugah di masa-masa yang tak terduga. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi.

Rosie yang keesokan harinya digantung (huhuhu… pengen nangis), dan pecah serangan Sekutu memporakporandakan Jerman. Dengan tank dan pasukan penuh memasuki kota. Dengan kekacauan yang tercipta, sekali lagi Klezendorf menyelamatkan nyawa Jojo yang terancam turut dibinasakan Sekutu. Setiap orang memiliki kemampuan melawan kejahatan. Pengorbanan terakhir untuk Jerman di masa depan. Jojo, remaja Nazi itu pulang dan memberitahu Elsa, Jerman sudah kalah. Ia mencinta (heleh) yang membuat murka Penampakan Hitler, lalu ditendang keluar jendela. Seperti mula, endingnya manis dengan joget artsy yang sungguh memorable. Ditutup dengan puisi Rainer Maria Rilke: Biarkan segalanya terjadi padamu; Kecantikan dan teror; Biarlah mengalir; Tiada rasa yang berakhir. Perang tidak lain adalah ujian duniawi terhadap harapan.

Sebagai film kandidat best picture, promonya paling tak gencar. Kalah gegapnya dengan unggulan seperti 1917, Parasite atau Joker jadi wajar peluangnya sangat kecil. Naskah adaptasinya memang sangat keren, saya memang menjago Gerwig, tapi Taika Waititi menang-pun saya tak akan komplain. Semua naskah adaptasi Oscar tahun ini, sejujurnya bagus. Yang disayangkan cuma Little Women dan The Irishman Film Lima Bintang itu, nirgelar Oscar. Hiks, sedih.

Menanamkan ideologis ke anak-anak menjadi tema utama kisah ini, lalu dilontarkan opsi lain. Agama ideologi, harapan dari luar dunia natural. Ideologi merupakan kepercayaan yang dikontruksi secara sosial yang sepenuhnya kita terima berdasar keyakinan belaka. Pada dasarnya perkembangan psikologi kita senantiasa berevolusi untuk menuhankan segala yang tidak kita pahami. Jojo dengan lugunya mengidola Sang Fuhrer, diterima mentah-mentah apa yang diajarkan, lalu seperti di ending, segalanya tampak kontradiksi.

Film ini jelas melebihi harap, entah kenapa cerita sebagus ini ga bisa meledak. Komedi satir tentang Nazi mungkin sudah banyak, mengambil sudut pandang anak-anak juga sudah umum (kisah sedih The Boy in the Pyjamas), begitu juga ending serangan sekutu yang mengakhirinya. Jojo Rabbit menampil kedigdayaan yang lebih luwes. Lebih nyaman, lebih hidup. Sangat komedi, tapi tak komedi.

Beberapa saat setelah Taika Waititi memenangi Oscar, tampak ia duduk dengan senyum dan meletakkan pialanya di bawah kursi depannya. Sebuah ironi sekali lagi tercipta. Jojo Rabbit adalah film sangat komedi, tapi sekaligus tak komedi. Kalian mungkin tertawa, tapi sejatinya menertawakan apa? Seperti tagline-nya jleeb banget: ‘An anti-hate satire.’

Jojo Rabbit | Year 2019 | Directed by Taika Waititi | Screenplay Taika Waititi | Novel Christine Leunens | Cast Scarlett Johansson, Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Sam Rockwell, Archie Yates, Taika Waititi | Skor: 4/5

Karawang, 120520 – Will Withers – Lovely Day

Puasa ke-19, hati yang cerah untuk jiwa yang sepi

#April2020 Baca

Apa pun yang terjadi aku takkan pernah mengingkari imanku…”

Enam buku pinjam dari Titus R. Pradita yang pamit akhir bulan April menjadi prioritas baca ulas (good luck and good bye). Yang lainnya melengkapi. Bulan yang sangat produktif.

#1. Ateisme FreudHan Kung
Bagaimana sang penemu Teori Psikoanalis bertumbuh, seorang pemeluk Yahudi dari kedua orang tua, lalu di sekolah kena bully-an karena mayoritas pemeluk Kristen, kuliah di kedokteran demi kemanusiaan, hingga penemuan tafsir mimpi yang legendaris itu. Kesimpulan ekstrem dalam penelitian, ketika menjadi seorang psikiater yang membuat kontroversi bahwa simbol-simbol dan ritual-ritual agama, dan tentunya juga pemeluk-pemeluknya, sama dengan perilaku pasien-pasien neurotisnya di rumah sakit jiwa. Agama adalah kegilaan, sebagaimana kegilaan yang diidap para penghuni rumah sakit jiwa di tempatnya bekerja. “Seperti yang Anda, saya membangun hubungan agung dengan cinta.”

#2. Dilarang Gondrong!Aria Wiratma Yudhistira
Kalau sampai petinggi Pemerintah yang mengeluarkan statemen berarti ada sesuatu yang memang harus diperhati lebih dalam. Dan itu terkait gaya rambut panjang. Terasa lucu, tapi dengan buku ini menjelma serius. Tanggal 1 Oktober 1973 Senin malam sebuah acara bincang-bincang di TVRI, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro berkata bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi overschilling alias acuh tak acuh. Sebuah pernyataan kontroversi yang menjadi ancaman hingga boikot artis-artis yang tak mau nurut, bahkan pemain sepak bolapun turut dilarang. Maurice Gibbs beretoris, “Aneh, bagaimana mereka dapat mengundang kami, sedang mereka sendiri tidak rambut gondrong seperti kami.”

#3. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!Ajahn Brahm
Seri ketiga ini ternyata bagus. Seolah pilihan kishanya bebas, lepas, melayang ku melayang jauh. Masih dengan pola lama, di mana Ajahn Brahm menukil beberapa pengalaman, kutipan orang tersohor, petuah klasik, sampai analisis keadaan. Dengan kover monyet, dan menjadi penutup kisah, Si Cacing pamit untuk meditasi. “Semua ungkapan terbaik, semua kata terbaik, semuanya sudah dipakai, tak seorang pun bisa menulis apa pun yang segar lagi.” – Juru Tulis Cendikia Mesir Kuno 4.000 tahun yang lalu.

#4. Ritus-Ritus PemakamanHannah Kent
Ditulis oleh seorang kelahiran Adelaide, Australia, awalnya kukira novel Islandia. Ternyata semasa sekolah Hannah pernah melakukan tukar-siswa ke sana, melakukan penelitian atas kasus Agnes dan menuangkannya dalam novel. Setiap awal bab kita akan disodori surat-surat yang disadur asli dari pihak berwenang. Dari surat pengadilan, surat kepolisian, korespondensi permohonan penangguhan, surat perintah pemindahan tempat penahanan, puisi-puisi penyair Rosa, lagu kematian, sampai surat yang menyatakan perang. Semua terasa nyata, dengan sebagian memakai bahasa asli, yang tampak eksotis. Tentang Agnes yang akan dihukum mati.

#5. AngelologiDanielle Trussoni
Angelologi adalah salah satu dari sekian cabang asli teologi, dikuasai oleh seseorang yang ahli angelologi, yang keahliannya meliputi baik penelitian teoritis atas sistem malaikat maupun perwujudan nubuat mereka sepanjang sejarah manusia. Protagonistnya adalah seorang suster muda, Evangeline yang dibagian pembuka diceritakan bertugas di perpustakaan biara St. Rose, Lembah Sungai Hudson, Milton, New York. Melawan kaum Nefilistik, yaitu kaum malaikat yang bersatu dengan manusia, mereka berebut alat musik yang diturunkan langsung dari surga, sebuah lira yang sakral. Petualangan enam ratus halaman yang melelahkan. “Kau makhluk paling cantik di sini, kau terlihat seperti malaikat.”

#6. Sang Golem dan Sang JinHelena Wecker
Debut yang melelahkan. Bayangkan, enam ratus halaman dan ceritanya hanya gitu. Untung pinjam. Kisahnya golem yang terlahir di kapal bernama Chava dan jin yang setelah ratusan tahun terkurung di guci, terlepas bernama Ahmad. Keduanya lalu bersinggungan, beradaptasi dengan masyarakat Amerika. Dan seteru dengan seorang penyihir abadi. “Berikan padanya rasa ingin tahu, dan kecerdasan. Aku takkan tahan menghadapi perempuan yang konyol, buat dia sopan, tidak cabul. Istri yang pantas untuk pria baik-baik.”

#7. Crystal StopperMaurice LeBlanc
Buku pertama sang pencuri Prancis yang legendaris Arsene Lupin yang kubaca. Tentang sumbat Kristal yang misterius, cenderung gaib. Penelusuran dan adu cerdik untuk memilikinya membawa petaka, ketika dalam perampokan yang gagal, Gilbert diancam dihukum mati. Lupin dan komplotan lalu berjuang menggagalkan eksekusi, tertebak pasti bisa tapi prosesnya sangat dramatis hingga jam-jam terakhir. Kejutan, sang penjahat utama bukan Daubrecq yang menyulitkan sepanjang cerita, ternyata seorang pejabat penting dan bagiaman seni mengelabuhi terus tersaji. ¼ akhir kisah menyelamatkan segalanya. “… Malam ini, cara apa pun yang akan aku gunakan, ia akan buka mulut.”

#8. Cadas TaniosAmin Maalouf
Luar biasa. Ini kisah cinta yang aneh, terlampau aneh. Tanios yang unik, terlahir dari seorang Cheikh? Adalah tanda tanya yang menguar sepanjang halaman, lalu riwayat cintanya pada Asma, anak mantan juru tulis yang bermasalah, sampai seteru agama dan jajahan. Di abad Sembilan belas di Kfaryabda, konflik kekuasaan, cinta, dan dendam meletus. Sebuah batu yang akhirnya diberi nama The Rock of Tanios menjadi saksi perubahan zaman. Termasuk misteri yang terkandung di dalamnya. “Kejadian nyata itu tidak tahan lama, percayalah, hanya dongeng yang tetap hidup, seperti minyak wangi setelah anak gadis yang memakainya lewat.”

#9. SilenceShusaku Endo
Kristiani dibawa ke Jepang oleh Francis Xavier, orang Basque yang mendarat di pantai Kagoshima pada tahun 1549 bersama dua rekan Yesuit dan seorang penerjemah Jepang. Tetapi arsitek sesungguhnya atas misi ini adalah Alessandro Valignano yeng berkebangsaan Italia. Dialah yang menggabungkan antusiame Xavier dengan rancangan masa depan yang brilian serta kegigihan yang mengagumkan. Kisah penyebaran agama Kristen di Jepang abad tujuh belas penuh derita dan lelehan air mata untuk mempertahankan keyakinan. Dan seperti laut itu, Tuhan tetap bungkam, tuhan masih tetap mempertahankan keheningannya. “Sungguh melelahkan jalan ceroboh menuju kehancuran, sungguh sepi rawa-rawa yang kita jalani..”

#10. Lengking Burung KasuariNunuk Y. Kusmiana
Keren. Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah selesai baca. Kisah yang mengambil sudut pandang anak-anak, di Timur Indonesia. Asih yang tak paham kehidupan orang dewasa, lika-liku kehidupan militer ayahnya dan ibunya yang berdagang. Teman-temannya yang lebih variasi lagi. jelas ini ditulis dengan ingatan pengalaman pribadi. “Itu burung kasuari. Dia suka marah kalau melihat kita dekat-dekat denganya.”

#11. The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and the WardrobeC.S. Lewis
Saya baca ulang untuk Hermione jelang tidur, dua bab per malam. Saya sudah sangat akrab, tapi sensasinya beda dengan baca sendiri. Ini dongeng anak-anak dengan lemari ajaib yang dimasuki empat Pevensie bersaudara dengan makhluk-makhluk mitologi. Luar biasa antusiasme #Ciprut. Menjadi malam-malam indah memasuki imajinasi. Keputusan membacakan Narnia selepas dua seri Pooh tiba-tiba saja muncul ketika saya pulang kerja, ia sembunyi. Kucari-cari dengan memanggil ‘Ciprut… Ciprut… Ciprut…’ ga ketemu, istri bilang ada kok di kamar. Lha… kok ga ada, ternyata sembunyi dalam lemari. Lalu saya pun bilang, kalau masuk lemari harus ada celah di pintunya, dia nanya kenapa? Karena, ada sebuah dunia di lain dunia kita, dan gegaslah kubacakan seri pertama. Kisahnya sudah sangat terkenalkan, jadi ga perlu saya jelaskan.

#12. Pooh at the CornerA. A. Milne
Melanjutkan petualangan Pooh dkk di Hutan Seratus Ekar, kali ini ada karakter baru yang sangat disuka Tigger, hobinya membal-membal (bounching). Berisi 10 bab, sama dengan yang sebelumnya yang kubacakan dua bab per hari. Sebuah pengalaman mengagumkan bersama Hermione yang karena Pooh, saat ini mencita illustrator, biar seperti Ernest H. Shepard. Ulasan lengkap segera menyusul. “Kau beruang terbaik di seleuruh dunia.”

#13. Sepakbola Tidak Akan PulangMahfud Ikhwan
Ini buku tambahan saja, ga masuk target baca, tiba-tiba malam terakhir bertugas membeli kado Titus ke Gramaedia, iseng nonton buku nemu ini malah kubeli dan kubaca tuntas sehari dalam tiga kali duduk. Yo wes…

Ini semacam rangkuman cerita sepanjang musim 2018/2019 liga top Eropa: Belanda, Prancis, Spanyol, Italia, dan Inggris. Catatan tiap pekan yang dimuat di Geotimes lalu sama Shira Media dibukukan. Jangan tanya gizinya, jangan pula tanya seberapa gereget. Ini sekadar keluh kesah, dan untaian kata dari pengamat yang berceloteh tentang moment-moment unik pekan tersebut. Tak ada data dan statistik (syukurlah), hanya uneg-uneg. Lumayan menghibur, walau tak sampai tergelak. Mematik asa bikin catatan tanding dengan center: Lazio. “Tak ada yang lebih tabah dari pendukung Liverpool.”

Tiga belas buku dibaca sebulan dan mayoritas sudah diulas, luar biasa.

Belum pernah saya se-terbakar-ini.

Karawang, 050520 – 110520 – Bill Withers – Harlem

Pet Sematary: Kematian Orang Terkasih dan Kandungan Duka di Dalamnya

In the woods today, Ellie discovered a charming little landmark.” – Rachel

Cerita horror memang pada umumnya melibatkan kedukaan anggota keluarga, Pet Sematary dimula hewan peliharaan, menyeret anak lalu segala-galanya ambyar. Seperti kata Jud, kadang mati lebih baik. Merelakan, melepaskan, mengiklaskan. Semua upaya mempertahankan kedukaan, apalagi tak mau beranjak melepas duka berakibat buruk. Di sini, sangat buruk karena malah menarik anggota keluarga lain dan booom! Salah satu ending paling menyayat hati film 2019 saya sematkan.

Kisahnya tentang horror di rumah baru, pemakaman binatang yang mistis meneror keluarga. Dimula dengan kepindahan Louis Creed (Jason Clarke) bersama istrinya Rachel (Amy Seimetz), serta dua anak Ellie (Jet Laurence) dan Gage (Hugo/Lucas Lavoie) ke Ludlow, Maine. Perhatikan, banyak sekali novel Stephen King dimulai dengan kepindahan. Menempati rumah baru memberi opsi banyak hal baru sehingga banyak pula yang bisa dicerita. Ellie melihat ada pemakaman binatang di hutan dekat rumah, Pet Sematary (salah ketik, seharusnya ‘Cemetery’). Ada kekumpulan anak mengenakan topeng, membawa alat makam, beriringan mencipta keseraman. Keluarga ini berkenalan dengan tetangga baru Jud Randall (John Lighgow) yang aneh.

Lalu kita mengenal lebih dekat semua anggota keluarga. Di kampus Louis sebagai dokter pengajar mengalami kejadian aneh, saat seorang siswa Victor Pascow (Obssa Ahmed) yang tertabrak mobil mengalami kritis bilang untuk menjauh dari hutan, ‘the barrier must not be broken’, semacam penampakan karena ternyata ia audah tewas. Jadi itu tadi jiwanya? Sementara istrinya mengalami trauma sebab kematian sudarinya Zelda sewaktu masih muda. Cara matinya menjadi klu cerita, perlahan diungkap penyebabnya. Yang pasti, tragis dan Rachel merasa ada yang salah.

Church adalah kucing kesayangan Ellie, suatu ketika tertabrak truk. Ayah dan Jud yang menemukannya merasa sedih sekali, ga tahu bagaimana reaksi putrinya nanti. Mereka menguburkannya di Pet Sematary. Bukan yang umum, tapi lokasi yang lebih tinggi melintas batas, area mistis misterius. Betapa terkejutnya Louis esoknya menemukan Church bangkit dari kubur, hidup tampak kotor, jorok membawa tikus mati, bermain dengan Ellie. Terkuat sebuah misteri, bahwa area pemakaman itu bisa membangkitkan yang tewas, tapi dengan jiwa yang tak utuh. Wendigo.

Ulang tahun Ellie yang meriah berakhir bencana ketika sedang main petak umpet, Ellie mengejar Church Palsu di jalanan dan mengakibatkan kematiannya karena sebuah truk melaju kencang, yang hampir juga menabrak Gage. Sebuah kedukaan besar, kehilangan anak. Masa berkabung, setelah pemakaman ibu dna Gage pergi ke neneknya, dan Louis yang tak kuasa menahan kesedihan bertaruh dengan takdir. Membongkar makam anaknya, membawa mayatnya ke Pet Sematary, untuk dikubur ulang. Apakah cara ini juga bisa bekerja untuk manusia?

Ternyata bisa. Ellie bangkit keesokan harinya, mendatangi keluarga dengan wajah pucat tanpa ekspresi. Inilah masalah utama di sini, seorang ayah yang tak bisa merelakan kepergian orang terkasih. Dan tentu saja, Ellie yang ini bukanlah Ellie yang ia besarkan. Teror datang, saat istri dan Gage balik, makin runyamlah keadaan. Film ini menemui titik akhir yang luar biasa menyedihkan, sangat menyedihkan. Kejutan dan sebuah frasa, ‘suram adalah koentji’ menjelma nyata. Pemakaman binatang menjadi wahana baru seluruh yang melanggarnya, tanpa kecuali.

Tanpa ada bintang besar, ditangani sutradara yang tak terkenal, kisah ini lebih menjual nama sang Penulis yang sudah kadung terkenal. Mungkin yang sudah akrab cerita hantu menganggap biasa, mungkin yang sudah baca novelnya sudah tahu, mungkin pula yang suka menebak plot horror tahu. Namun bagiku ada sesuatu yang laik dipuji. Pertama kisahnya, tragis saja tak cukup untuk menggambarkan kehilangan orang terkasih, di sini malah menyeret yang lain, atas nama cinta tak mau dipisahkan. Bayangkan, kamu hidup, dan diajak memasuki dunia antah setelah kematian, tapi ini jenis kematian yang tak lazim. Jelas tak nyaman, jelas seram sekali. Kedua, saya tak menyangka ini membawa serta semuanya. Dengan berani, Pet Sematary memberi ending kejut. Sedih kuadrat.

Sudah sangat banyak novel King yang diadaptasi ke layar lebar, hasil suskes sama banyaknya dengan hasil busuk, baik box office atau kritikan. Yang jelas bagiku, film ini masuk best film 2019, walaupun ada di urutan buncit. Ini adalah kisah memberi kesedihan maksimal.

Pet Sematary | Year 2019 | Directed by Kevin Kolsch, Dennis Widmyer | Screenplay Jeff Buhler | Based on movel Stephen King | Screen story Matt Greenberg | Cast: Jason Clarke, Amy Seimetz, John Lighgow, Jet Laurence, Hugo Lavoie, Lucas Lavoie, Obssa Ahmed | Skor: 4/5

Karawang, 080520 – Bill Withers – I’ll Be With You

HBD Meiga Ria Rahayu

Sea Fever: Horor Parasite Laut

Sebenarnya alasan utama nonton film ini karena mencoba film non-mainstream, dan ada Hermione Corfield. Setelahnya blank. Hermione seingatku hanya dua film yang tersimpan dalam, jadi peran antah di toko kaset di Mission Impossible 5 dan jadi Syren King Arthur yang absurd. Memang bukan artis besar seperti Jolie atau Kristen Stewart, tapi pesona gadis Inggris dengan akses British-nya memiliki magnet tersendiri. Dengan poster yang mengingatkanku pada Underwater yang kulihat bulan sebelumnya, kurasa Sea Fever malah terjebak ke dalam kebingungannya sendiri.

Kisahnya tentang mahasiswi sains diminta Profesor (Dag Malmberg) guna melakukan penelitian di laut, Siobhan (Hermione Corfield) di kapal pukat pukat ikan di Irlandia Barat yang dinahkodai oleh Gerard (Dougray Scott) dan Freya (Connie Nielsen). Awaknya sendiri ga banyak, hanya lima orang dengan karakteristik unik, demi mencipta konflik/pemecahan masalah yang timbul nantinya. Omid (Ardalan Esmaili), seorang Timur Tengah yang tampak cerdas. Johnny (Jack Hickey) yang obesesif, dan Ciara (Olwen Fouere). Siobhan membawa perlengkapan menyelam, nantinya malah jadi kewajiban paksa ketika sebuah kejanggalan tercipta.

Masalah muncul ketika ada goncangan, dikira gempa atau kena karang, ternyata kapal nyenggol sebuah tentakel berwarna hijau. Tentakel itu malah sampai merembes ke lambung kapal, sehingga beberapa kayu berlubang. Ketakutan sempat menyeruak, apalagi setelah Siobhan terjun dan menemukan makhluk ini sejenis biolumniscent, ada potensi menyebar virus.

Ada sebuah kapal yang terdiam di dekat, tampak aneh karena dikontak radio taka da jawaban, taka da respon sama sekali. Maka bertiga mencoba naik perahu memeriksa. Hasilnya negative, tak ada penumpang hidup. Semua awak meninggal tragis, salah satunya bahkan dengan mata berdarah. Pistol tergeletak di meja, muram sekali. Anehnya, ketika mereka kembali ke kapal, malah berbohong, taka da kendala.

Endingnya agak mengecewakan. Ketika parasite mengepung dan satu-dua korban jatuh, bukannya kompak melakukan tindakan demi keselamatan bersama, malah terjadi sabotase. Tindakan heroik agar wabah tak menular keluar? Agar aneh, juga ketika sang pemilik yang getol menahan kapal, lalu dramatis mengucap ‘hanya kapal’ dengan kru yang seolah abai demi kesemalatan sendiri. Bisa jadi film ini rilis tepat waktunya dengan pandemic Corona, karena Sea Fever memberi opsi, virus bisa ditutup kasus dengan para korban ditiadakan, ketimbang menular. Namun tetap saja terdengar janggal melihat seseorang menyerahkan golok dan berujar, ‘bunuh aku’.

Ini film science fiction sederhana, budget terbatas, dengan eksekusi sederhana pula. Sempat terlintas Triangle ketika mereka menemukan kapal lain yang kosong penumpang, yang setelah diselidiki semua sudah tewas, ada burung camar yang mengoak, yang menakuti penonton karena kalau burung itu tewas, nasib buruk yang ada. Sayangnya Sea Fever berjalan linier tanpa banyak permainan waktu.

Rilis di Festival Film Toronto 2019, April lalu direct to streaming dan VOD. Saya sendiri memutuskan nonton ketika muncul di halaman pertama situs dengan nama Hermione di muka. Dan hasilnya film yang biasa banget. Mungkin bisa jadi pelajaran berharga pula, kalau memilih tontonan jangan subjektif semu. Hermione yang ini masih ga familiar, sehingga memang kurang menjual.

Sea Fever jelas hanya sekadar lewat, tak akan banyak bekas di kepala sepuluh tahun lagi. Bukan horror, bukan thriller, bukan pula fiksi ilmiah yang memerlukan mikir. Permainan nasib akan bahaya menghadang di tengah laut, keterbatasan bantuan, pilihan tindakan guna juang mempertahankan napas. Lalu lupakan…

Sea Fever | Ireland | Year 2020 | Directed by Neasa Hardiman | Screenplay Neasa Hardiman | Cast Hermione Corfield, Connie Nielsen, Dougray Scott, Olwen Fouere, Jack Hickey, Ardalan Esmaili, Elie Bouakaze, Dag Malmberg | Skor: 3/5

Karawang, 060520 – Bill Withers – I Want to Spend the Night

1917: Rancang Bangun Kemegahan Sinema

Down to Gehenna, or up to the Throne, He travel the fastest who travels alone.”Rudyard Kipling

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler==

Kisahnya di tanggal 6 April 1917, dan akan berakhir esoknya. Di ladang perang dari New Hendenburg Line ke Devon, Inggris. Dua tentara muda William Schofield (George MacKay) dan Tom Blake (Dean-Charles Chapman) diperintahkan Jenderal Erinmore (Colin Firth) untuk membawa sebuah pesan kepada Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbact), di battalion kedua resimen Devonshire. Surat yang berisi pembatalan serangan demi menyelamatkan nyawa 1.600 pasukan termasuk di dalamnya Joseph Blake, saudara Tom. Makin dalam maknanya, sebab melibat misi penyelamatan anggota keluarga.

Kalau dirangkum dalam satu kalimat: ‘Film tentang kirim surat, dengan berbagai kendala di perjalanan’. Tak banyak yang bisa dicerita, karena setelah menerima tugas, mereka bergegas gerak, waktu tak banyak. Namun karena blog ini mewajib ngoceh panjang kali lebar, maka ada baiknya saya ketik sahaja, beberapa detail ‘kendala’ petualangan. Yang pasti, berdua menemui berbagai masalah yang mematik peri kemanusiaan. Film jenis bom, bang, bang, wuuz…, jenis keseruan tanpa banyak cingcong dan renungan. Dalam sebuah gua bekas tempat duduk pasukan Jerman, mencipta sebuah degub bertalu-talu karena gua itu berisi bom, dan jebakan mematikan. Tikus dan segala kamuflase gelap di dalamnya. Sampai menahan napas saya ketika ledakan terjadi, seolah kisah berhenti bahkan ketika baru beberapa menit. Gilax, bahkan tikus mereka lebih besar!

Sampai pada sejenis rumah pertanian, saat mendapat susu sapi dan air bersih, sebuah pesawat Jerman tertembak dan meluncur jatuh ke arah mereka. Bayangkan, moncong pesawat mengarah kepadamu, kamu menghindar sejadi-jadinya. Dalam keadaan terluka sang pilot keluar dari pesawat yang terbakar, jiwa baik Blake malah menjadi petaka. Ketika ia mencoba menolong, justru kena tikam. Seluruh penonton turut menutup mata ngeri, seterkejut Blake yang akhirnya gugur. Rasanya pengen turutserta menjelma Schofield memberondong peluru ke sang pembunuh. Dalam adegan sunyi nan menyentuh, ia sekarat dan ia berjanji melanjutkan misi, sobatnya pamit dalam pelukan leleh air mata.

Saat senja menjelang, Schofield mencapai jembatan roboh dekat Ecoust Saint Mein, melintasi dalam rentetan tembak. Ia mamasuki reruntuhan kota setelah berjibau dengan sang sniper. Malam itu ia melintas dengan dingin, menemukan seorang ibu dan anaknya yang kepalaran, memberi botol susu, dan walaupun dia ada di pihak musuh, ia menggunakan nurani. Ini bisa jadi adegan menyentuh, bagaimanapun perang bisa merenggut beberapa hal, tapi nuranimu tetaplah ada. Adegan mengharu juga tersaji dalam tembakan suar di area no man’s land (medan di antara dua kubu).

Bagian yang mendebarkan tersaji ketika ia terjepit dalam kejaran, dan desingan peluru yang memaksanya terjun ke sungai. Menuruti aliran, menghanyutkan jiwa, lelahnya menyusup ke sumsum, seolah tulang itu turut menjerit capek. Sehingga ketika ia berhasil menepi, memasuki hutan dengan jalan gontai seolah pasrah. Pagi fajar menyingsung itu, diiringi untaian lagu pasukan D Company di Devons II, wow dikira kelar justru ia malah menemukan dituju. Sehingga kelesuan itu menjadi secercah semangat dan gegas mencari Kolonel Mackenzie. Agak terlambat, karena serangan sudah dimulai. Dalam deru tembakan dan serbuan, ia berlari sekuat tenaga untuk menyampaikan surat.

Banyak adegan bagus yang laik dibahas dan dibicarakan, yang pasti sinematografi juara. Sesuai prediksi, Deakin lock Oscar. Saya juga menyematkan best picture, yang sayangnya direnggut Parasite. Kalau Birdman yang menampil one take beberapa menit, dengan celana kolor bergaya ke panggung saja menang Oscar, bagaimana bisa yang sepanjang ini gagal? Akan sulit menandingi konsisten penonton menjelma mata kamera. Film yang nyaman sekali ketika dinikmati di layar lebar. Salah satu pengalaman cinema langka, di mana kita menyaksikan film dari awal sampai akhir seolah hanya satu kali pengambilan gambar. Klik, dan sepanjang 119 menit kita menyatu dengan desingan peluru, seolah kejadian ada di depan kita!

Secara cerita memang biasa, lha premis isinya cuma misi menyampaikan surat pembatalan serangan. Kalau kalian berharap ada semacam kejutan di akhir, semisal isi suratnya bersama bingkisan bunga ya ga akan nemu, atau surat 4×4, sempat ga sempat, jelas ga ada. Pesan itu hanya dibaca sekilas, lalu serangan yang terlanjur dimulai, akhirnya harus ditarik kembali, lalu mentari pagi menyoroti jiwa yang lega. Selesai. Strategi Jerman dengan pasukan yang seolah mundur, lalu menyerang balik musuh benar-benar ada, namanya Operation Alberich. Strategi itu dilakukan tanggal 9 Februari sampai 20 Maret 1917, yang juga nyata berdasarkan Kejadian Pertempuran Passchendaele atau Pertempuran Ypres III (31 Juli – 10 November 1917). Karena setting waktu di film ini justru adalah hari pertama Amerika turut Perang Dunia I.

Sam Mendes melakukan gebrakan sinema yang menakjubkan secara teknis. Sebuah achievement yang seharusnya bisa lebih dihargai di Oscar, sensasi layar lebar, senikmat Gravity yang memberi efek layang, atau Avatar yang biru membuncah memberi gambaran terbang di dalam gedung bioskop. Masterpiece visual, teknologi memang sudah sangat maju, tapi ga semua bisa semegah ‘one take’ ini. Ga usah mengerutkan kening. Ini jenis film yang memanjakan indera pengelihatan, pendengar, dan asupan pengecap. Sebuah Rancang Bangun Kemegahan Sinema.

I hope today would be a good day. Hope is a dangerous thing.”

1917 | Year 2019 | Directed by Sam Mendes | Screenplay Sam Mendes, Krysty Wilson-Cairns | Cast Dean-Charles Chapman, George MacKay, Daniel Mays, Colin Firth, Mark Strong, Benedict Cumberbatch | Skor: 4/5

Karawang, 050520 – Bill Withers – Family Table

*) Film ini kutonton di hari pertama tayang di Blitz Karawang bersama Titus Pradita

**) RIP Lord of Godfather of broken heart: Didi Kempot 1966-2020, Sad news. Kabar duka ini kutahui ketika mengantre di Samsat Karawang untuk ganti pelat SiBiru lewat lini masa sosmed. Tindak kundor, Legend. #Ambyar