The Belly of Paris #12

Lisa: “Orang yang telah menjalani bermacam-macam pengalaman yang amat mengerikan, dan belum mampu membangun keluarga sendiri…, tidak heran dia ingin tembak-tembakan dimulai…”

Kisah panjang berliku, padahal intinya hanya berkutat di sebuah pasar di Paris abad kesembilan belas. Politik, gosip, percintaan, diaduk sampai lumer dalam keseharian orang-orang pasar. Pijakan kisah memang kuat, keluarga yang berbeda karakter itu, dipecah oleh pandangan politik. Acara ngopi tiap pekan malam hari malah jadi ajang diskusi terlarang, orang-orang lurus merasa terusik. Ditambah drama persaingan dua pedagang besar, politik dalam di sini malah seolah jadi tunggangan. Makanya ending-nya seperti itu. Tepuk tangan untuk itu.

Sudut pandang bergantian, tapi jelas ini berpusat pada Florent Quenu. Seorang eks narapidana politik yang diasingkan ke Pulau Setan, di Guyana, Belanda. Setelah berbulan-bulan taka da kabar, ia kembali. Proses kembalinya dramatis, kabur. Padahal orang-orang mengira ia mati, sebab dalam pengasingan penjagaan ketat dan tak manusiawi. Pembuka kisah, ia di tengah jalan hmpri ditabrakoleh kereta kuda Madame Francois. Namun malah diselamatkan, ikut numpang pulang ke satu-satunya saudara yang tersisa. Sejak Madame Francois memungutnya dalam keadaan kelelahan di Avenue de Neuilly, ia berjalan-jalan kebungunagn, dan tak mampu meresapi lingkungan sekeliling.

Di daerah pasar Les Halles Florent tinggal sama adik tirinya yang gendut Quenu. Pasar tradisional pusat makanan yang eksotik. Menikah dengan si cantik La Belle Lisa. Parasnya cantik dan tubuhnya memenuhi ambang pintu. Mereka punya usaha dagang di Pasar tersebut. Usaha modern membutuhkan usaha yang cakap.

Punya nama baik, usaha baik, persahabatan yang baik, kecuali dengan seterunya La Belle Normande. Keduanya punya masalah, dan seringkali saling ejek dan serang. Semua pedagang tahu, ada masalah pribadi di sana. Konon Normande dulu pernah dilamar dan menolak putra seorang pemilik toko yang kaya di kawasan itu pindah ke luar negeri dengan perasaan hancur setelah gagal memenangkan hatinya. Sebab semua orang di Les Halles membicarakannya, dan setiap peristiwa baru mendatangkan komentar-komentar tiada habisnya.

Florent yang kurus kering, terpelajar, dan berpikiran idealis, numpang tinggal, lama-lama membuat jengah jua, Dia mulai didera pikiran-pikiran gelap. Cuma makan tidur, melamun. Padahal yang paling dibutuhkannya adalah kedamaian dan kekosongan pikiran. Maka saat ada peluang kerja, walau pegawai pemerintah. Begitu Florent diangkat menjadi inspektur pasar ikan. Setiap orang, laki-laki maupun perempuan harus bekerja mencari nafkah, setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri, membiarkan orang bermalas-malasan itu jahat, dan sebagian besar ketidakbahagiaan di dunia disebabkan oleh kemalasan.

Lisa memaksa kakak iparnya mengambil kesempatan itu. Florent yang anti pemerintah, berpikir revolusi harus terjadi, membayangkan jadi kaki tangan pemerintah, muak, tapi anehnya tetap diambil. Sisa-sisa daging dari piring sang Kaisar adalah tinja politik, sisa-sisa najis dari semua perbuatan rezim itu. Jadinya ia tak menganggur. Satu-satunya alasan orang harus peduli tentang uang adalah karena kita butuh uang untuk hidup.

Ada warisan uang besar yang oleh Lisa disampaikan, dan niat dibagi. Awalnya Florent menolak, ia bukan materialistis. Uang itu diminta simpan saja, lalu skandal, gosip, isu, dicampur aduk. Florent yang ingin membantu anaknya, yang jelas-jelas seteru Lisa, mendatangkan banyak kabar miring. Padahal niatnya hanya mengajar baca tulis. Fitnah-fitnah makin gencar, menjadi banjir caci-maki, padahal tidak ada seorang pun mengetahui sumbernya.

Pertemuan rutin, kelompok yang berkumpul di kamar belakang kecil di bar Lebigre, dengan rekan-rekan membahas politik, dan rencana makar malah mencipta ketakutan. Salah satu topik favorit mereka adalah tata ulang Negara begitu kemenangan diraih. Perilaku Gavard terhadap Florent mirip orang yang mengecap kenikmatan terlarang. Terutama Lisa yang cerdas, ia tak setuju, ia tak mau suaminya turut terjerumus. Baginya keluarga jauh lebih penting. Keluarga mereka memang makin makmur. Seringkali Lisa menasehati suaminya, “Carilah uang, jagalah hati nuranimu tetap bersih, dan ingatkan dirimu bahwa Prancis akan menangani masalahnya sendiri.”

Orang harus hidup tenang dan stabil, membahayakan nyawa dengan bermain politik tidak mengenyangkan perut. “Dia boleh makan dan tidur di sini dan merepotkan kita kalau mau; kita bisa menghadapi itu, tetapi yang tidak akan kutoleransi adalah kalau dia membuat kita terlibat urusan politik… Kita memerlukan tiga belas tahun agar tabungan kita cukup untuk mandiri, kita tidak pernah terlibat politik, kita hanya ingin membesarkan anak kita dengan baik dan memastikan usaha kita lancar. Kita orang baik dan jujur!”

Anaknya, dan masa depan yang cerah harus dilindungi dari pengaruh buruk, dan dijauhkan dari efek politik praktis, maka ia harus bertindak, sebelum terlambat. Apalagi saat secara sembunyi-sembunti menemukan pamflet terlarang di lacinya. Membaca selembar kertas yang separoh berisi tulisan, di mana ‘revolusi’ muncul dua kali. Setelah Lisa membaca sekilas-sekilas catatan ini tanpa memahami semuanya, dia duduk gemetaran, tidak berani menyentuh kertas-kertas itu lagi karena takut melihatnya akan meledak di depan wajahnya, seperti bom rakitan sendiri. “Aku bersyukur kepada pemerintah kalau usaha lancar, kalau aku bisa makan dengan tenang, bisa tidur tanpa dibangunkan bunyi tembakan.” Tindakan yang menjadi eksekusi akhir perjalanan panjang di Pasar Paris.

Suka sekali sama karakter Lisa. Lisa selalu berkata agama penting bagi sebagian besar orang; dia menganggap agama semacam polisi yang membantu menjaga ketertiban, tanpa agama tak mungkin ada pemerintahan yang berfungsi. Sebagai wanita berpinsip, berkenaan dengan kakak iparnya, apakah dia berhak mengawasi kakak iparnya itu supaya tidak membahayakan suaminya. Orang-orang baik punya bakat alami untuk tahu bagaimana melaksanakan hal yang benar.

Politik, saya tak mau menampik selalu kotor, saya hanya bilang, riskan. Di zaman manapun, sungguh riskan. Apalagi di masyarakat yang majemuk, lebih tinggi peluang untuk mencipta kebencian. Tak seperti makanan, tak semua orang doyan politik, tak bisa serta merta kita cerita dan mengaku berhaluan apa. Namun yang jelas, saya sepakat sama Lisa. Jangan membawanya ke keluarga, apalagi sampai membahayakan masa depan anak.

Ini adalah novel kedua Zola yang kubaca setelah Therese Raquin yang luar biasa indah dan biadap itu. Jelas, Zola adalah penulis favorit dan semua karyanya patut ditunggu. Di rak perpus keluarga sudah menanti novel Germinal yang super tebal. Pasti kubaca, hanya mencari momentum saja. Buku ini kubaca dalam tiga hari 12, 13, 14 Mei 2022 saat cuti tahunan #DirumahAja dan catatan ini kudu kututup dengan kalimat akhir yang nampol habis, “Orang-orang terhormat… dasar bedebah!”

Pasar-pasar Kota Paris | by Emile Zola | Diterjemahkan dari The Belly of Paris | GM 617189004 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Lulu Wijaya | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-7189-4 | 504 hlm; 20 cm | Skor: 5/5

Karawang, 27-280522– 120622 – Debbie Davis (Manhattan Jazz Quartett) – Isn’t She Lovely

Thx to Ari Naicher (Rindang Buku), Klaten

#30HariMenulis #ReviewBuku #12 #Juni2022

Le Bal Des Folles: Alangkah Hebatnya Mereka yang Berani Bermimpi, dan yang Berani Berbuat

“Orang mendatangiku dengan kepercayaan dan melimpahiku cinta setiap hari. Kubayangkan kau duduk dan membaca, tetapi aku tak biarkan kau memutuskan. Kita berjalan sebentar. Anginnya segar dan asin. Cakrawala begitu jauh. Kau bisa merasakan? Jiwa kita menari di laut dan rasa sakit kita pergi, berputar dan menghilang dalam awan.kita terus-menerus menari…” – Surat Eugene kepada Genevieve

Bagaimana mengelola cerita orang gila yang bisa melihat arwah? Dipadukan dengan klenik perempuan penyihir dan impian kabur dari kekangan, kisah digulirkan dengan tenang. Yang menonjol dalam Le Bal Des Folles justru iringan musiknya, skoring yang menyayat dengan gesek biola memadukan dari adegan pahit satu ke berikutnya. Ini kisah getir, ini cerita kehilangan anggota keluarga yang terpaksa dikirim ke rumah sakit jiwa, ini tentang merespon keadaan buruk. Dan saat muncul impian disertai rencana matang dan perbuatan baik, semua berkolaborasi, para perempuan itu mewujudkan harap: pesta menari para wanita gila di ujung kisah.

Kisahnya tentang Eugenie Clery (Lou de Laage), gadis ningrat yang memiliki masa depan cerah. Seorang cantik dan keras kepala, dua ciri yang biasanya selalu bertautan. Diperkenalkan dengan para bangsawan, ia memiliki kecenderungan bebas. Aturan kaku kalangan atas sering didobrak, itulah yang membuat orangtuanya marah, gampangnya bapaknya bilang, ‘Jaga sopan santunmu, Nak.’. Pembicaraan di meja makan dalam jamuan sering kali merupakan lobi, perbincangan sambil lalu saat pesta kebun dengan lingkaran pejabat adalah kekuatan nyata untuk diskusi bisnis yang pas. 

Grand-Mere Clery (Martine Chevallier), sebagai kakak yang baik sering kali menasehati. Namun emang dasarnya gitu, dalam perjalanan kereta kuda ke kelas debat, Eugenie nebeng kabur dari rumah demi ke perpustakaan kota, untuk baca buku dan merokok. Duh, rasanya meleleh hati abang lihat cewek cantik khusyu’ wal khudu’ baca buku. Ah hampir saja film ini menjadi ajang romantisme saat pria di seberang meja menghampiri, menyapa dengan kutipan puisi, mencoba mendekati. Namun Eugenie malah menjawab, ia tak memperhatikannya. Ia melihat bukunya. Maka ia dipinjami, judulnya The Book of Spirits. Mengagumkan, komentar kakaknya. Sampai sini kukira bakal jadi film cemen, di mana ia jatuh hati sama warga biasa, kakaknya mendukung, dan orangtua memaksa. Bukankah kisah-kisah zaman itu tipikal sejenis? Oh bukan, ini film tentang tarian orang gila.

Bergulirnya waktu, Eugenie sering melihat penampakan. Arwah-arwah orang yang sudah meninggal, menghampirinya, menyapa dan mengajak berdialog. Keadaan ini makin mencemaskan keluarga. Dan akhirnya terpaksa mengirimnya ke rumah sakit jiwa Paris. Semuda itu, secantik itu, segila itu.

Di sana ia mencoba beradaptasi, berkenalan dengan para pasien, mengakrabkan diri dengan para perawat. Dan dengan gamblang kita menyaksi proses pengobatan yang mengerikan. Salah satunya sember penuh air es, pasien dipaksa masuk telanjang, ditutup rapat hanya kepalanya menyembul, manyaksi dinginnya keadaan. Pengobatan karya Prof Charcot yang sungguh termasyur di kala itu.

Salah seorang perawat Genevieve Glaizes (Melanie Laurent) akhirnya memiliki tautan dengannya. Secara tiba-tiba ia melihat almarhum ibunya Gene, meminta segera pulang sebab ayahnya sakit, ada kecelakaan di dapur. Gene yang diambang percaya tak percaya, gegas pulang, berlari ngos-ngosan. Dan benar saja, ayahnya terluka. Keadaan yang sulit untuk dicerna akal sehat, saat bapaknya terbaring diobati dan diceritakan ke bapaknya, eh ia malah marah. Di era modern, sihir dan segala gaib sudah terasa urang. Hal-hal yang tak bisa dijangkau mata. Ini zaman kemajuan dengan obat dan logika. Nah, faktanya masih ada yang bisa melihat arwah ‘kan?

Akibat kejadian itu, tercipta hubungan baik. Maka saat Eugenie makin parah dan berulah, dikucilkan dalam ruang terpisah di gedung belakang, ada rasa simpati. Ada rasa ingin membantu, dan ketertarikan berkomunikasi dengan arwah ibunya dilanjutkan telaah. Bagaimana ia pernah menghuni rumah sakit yang sama, kamar yang sama, dan Gene juga yang merawatnya. Bagaimana koneksi itu terjalin dan saling melengkapi. Keinginan Eugenie untuk bebas, kabur akhirnya dibantu dalam sebuah pesta dansa dengan topeng dan segala gaya bak opera Phantom, berhasilkah? Musiknya yang berhasil menghibur.

Terasa dipanjang-panjangkan. Dua kali tertidur akibat plotnya yang terasa lambat dan kurang menarik. Akting gilanya juga tak natural, terlihat mereka hanya bergaya, mengikuti naskah. Yang juara memang skoringnya, kisah para orang gila yang mendamba kebebasan juga bukan barang baru. Hanya di sini terlihat klasik dan feminism sebab di era Victor Hugo akhir abad ke-19 dan yang bermasalah mentalnya adalah sekumpulan perempuan, cantik.

Ide untuk berwisata ke pesta dansa bagi orang gila, untuk merekam dan menyajikan keceriaan asli sekaligus kelembutan di tengah kepeningan keadaan– ini terdengar liar. Maka diciptalah adegan panas yang mengelabui, untuk memancing para penjaga dan perawat. Demi kebebasan, apa saja akan dilakukan. Pernah baca di mana sebuah pepatah yang bilang, “Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan, tapi kita harus memperjuangkannya agar bisa menikmati dengan layak.” Sangat cocok untuk hikmah film ini.

Di tengah perjalanan hidup, ia terbangun di sebuah hutan lebat, mendapati bahwa hidupnya berjalan di jalur yang salah, dan memang selayaknya diluruskan. Kita semua memasuki hutan lebat itu dua kali. Sekali dalam hidup kita, dan kemudian sekali lagi ketika kita menoleh ke belakang melihat masa lalu. Puisi di akhir kisah di pantai yang tenang dan nyaman itu, tak kurang daripada pencariannya akan makna kebebasan. Alangkah hebatnya mereka yang berani bermimpi, dan yang berani berbuat. Oh betapa dahsyatnya puisi ini.

Le Bal Des Folles | Year 2021 | The Mad Woman’s Bal | based on novel Le Bal Des Folles  by Victoria Mas | France | Directed by Melanie Laurent | Screenplay Melanie Laurent , Julien Decoin, Christopher Deslandes | Cast Lou de Laage, Melanie Laurent, Emmanuelle Bercot | Skor: 3/5

Karawang, 200921 – Michael Fanks – Now That the Summer’s Here

Le Bal Des Folles tayang di TIFF dan tersedia streaming di Amazon Studio

Portrait of a Lady on Fire: Barisan Puisi di Atas Kanvas

When you asked if I know love. I could tell the answer was yes. And that it was now.” – Marianne

Art and sisterhood. Pelukis mencipta seni, melakukan seni, dan memamerkannya. Ruang dan waktu bukanlah konstanta universal, semakin kita mendekati kecepatan cahaya, semakin ‘melambat’ gerak waktu, dan ruang pun semakin mengerut. Di abad 18 Prancis masih melarang perempuan melukis tubuh laki-laki secara terbuka. Larangan itu bukan karena moral atau kepatutan, tetapi lebih mencegah agar perempuan tidak menjadi hebat, anatomi tubuh lelaki adalah subjek besar yang tak terjangkau perempuan. Ini adalah film feminis yang mempresentasikan persamaan gender.

Berkat film ini saya jadi parno-noid sama buku halaman 28, mewanti-wanti ada ga gambar telanjang gadis cantik di sana. Beberapa novel beneran saya buka dan cek, yah memang saat ini belum ada. Nantinya siapa tahu muncul. Atau kita munculkan saja, kita gambar saja wajah sang mantan di sana? Eh…

Filmnya minimalis, dengan setting utama sebuah pulau yang sunyi, plot digulirkan dengan nyaman dan tenang, setenang ayunan kuas lukis. Alurnya slow, terlampau slow malah tapi dari alur yang lambat itulah potongan adegan menjadi frame-frame lukis indah. Pengambilan gambar yang menyorot jauh nan lama dengan tampilan ciamik deburan ombak. Deburan ombak, keretak api, angin malah menjelma skoring alamiah. Banyak adegan terlihat murni dan nyata. Tamparan ombak di karang itu menjadi saksi ciuman panas yang seolah melepas belenggu. Inilah kisah cinta terlarang pelukis dan sang putri, lesbian dengan pusat pusaran Vivaldi.

Di sebuah pulau Britania, Prancis tahun 1760an. Seorang putri aristrokrat Prancis, Heloise (Adele Haenel) akan menikah dengan lelaki bangsawan Milan, menyepi di pulau terpencil berencana membuat potret pernikahan. Sang pelukis muda Marianne (Noemie Merlant) yang disewa datang dengan kepolosan gadis lugu. Permulaan perkenalan sang model dan pelukisnya memang tak langsung klik, terlihat sekali sang Lady tak nyaman dan malesi ga mau dilukis sebab ia sejatinya tak mau menikah. Dibujuk untuk berpose dan dalam bujuk itu ada hasrat lain yang tersimpan. Bayangkan, gadis pencipta seni bergulat dengan gadis yang mencari jati diri, telanjang. Ini seolah perwujudan visual rangkaian sajak berima. Setiap detail tubuh, entah itu mata, telinga, hidung meletupkan tekstur baris-baris indah penuh kekaguman. Interpersonal sepenuhnya adalah tentang kelekatan emosional. Dan cara terbaik untuk membangun kelekatan tersebut, adalah dengan saling menyentuh, memikat.

Karena waktu juga mereka yang sering bertemu dan saling mengenal akan saling mengisi. Rada absurd membayangkan dua perempuan muda ini tersenyum saling tatap. Lukisan yang sudah jadi malah dihancurkan karena tak sesuai gambaran ideal, ibunya marah kemudian pergi ke Italia, memberi waktu tambah untuk mencipta ulang. Di sinilah ikatan Marianne dan Heloise perlahan menguat. Suatu malam mereka membaca cerita Orpheus and Eurydice, mendebat alasan kenapa Orpheus kembali ke istrinya. Kemudian membantu Sophie (Luana Bajrami), seorang pelayan melakukan aborsi dengan manual, di sini gambaran perempuan yang kesakitan ditampilkan implisit, termasuk tamu bulanan yang datang rutin dan bagaimana mengatasinya.

Dalam adegan renung, para perempuan ini benyanyi dan menari, ketika pakaian pengantin Heloise terbakar. Syairnya adalah bahasa latin ‘fugere non possum’ yang artinya datang untuk terbang. Menurut Nietzsche, ‘semakin tinggi kami terbang semakin kecil kami terlihat bagi mereka yang tak bisa terbang.’ Sebuah pesan anarkisme terselubung, para perempuan yang berkumpul digambarkan mampu menggapai cita kemerdekaan dan kebebasan berkehendak.

Dengan keterbatasan akses, sepi menjadikan bahan bakar asmara. Api pemanas meluapkan gairah. Dan bagaimana pertanggungjawaban sang pelukis ketika produksi lukis ini usai? Marianne bisa memandang potret Heloise untuk melepaskan kerinduan, setidaknya sedikit mengobati rindu. Bagaimana dengan Sang Lady? Baiklah saya ciptakan saja, potret diriku untuk kau simpan. Dan muncullah adegan paling berkesan tahun ini, wanita telanjang di atas kasur dengan cermin yang ditaruh tepat di depan kemaluan, mengambil buku, dan Marianne lalu mencipta sketsa Marianne. Barisan puisi ini untuk kau simpan dank au kenang. Saya lebih suka menyebutnya ‘Obsesi Halaman 28’ dengan pulasan pualam.

Kebanyakan kita mengenal meditasi sebagai buah teknik relaksasi diri. Senandung Potret mengiringi goresan dasar atas kesadaran kisah, ini adalah film dengan plot gambar yang bercerita, dan sketsanya lebih keras berteriak ketimbang suara. Kalian bisa lihat, dengan apa yang harus kalian tahu. Kalian diminta untuk terus merenung sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu, cintailah kebosanan itu. Bagaimana Heloise melepaskan beban terasa sekali, seolah inilah tujuan hidup, inilah yang ia tunggu-tunggu. Rebel with a cause.

Menurut Kant, nilai tertinggi dalam semesta adalah sesuatu yang dipandang sebagai nilai itu sendiri. Satu-satunya hal terpenting adalah suatu hal yang menentukan kepentingannya. Tanpa rasionalitas, semesta akan menjadi sia-sia, hampa, dan tidak memiliki tujuan. Tanggung jawab moral yang paling fundamental adalah kelestarian dan kemajuan kesadaran, baik untuk diri sendiri atau orang lain.

Endingnya mirip dengan Call Me by Your Name, lagu Concerto No. 2 for violin in G minor, Op. 8, Rv 315 L’Estate gubahan Antonio Vivaldi yang dimainkan La Serenissima, Adrian Chandler berkumandang dengan lembut menjelang tutup layar. Yang membedakan Call Me berkonsep MvM, yang ini FvF.

Dan ini jauh lebih jleb.. dengan lelehan air mata pula, karena orkestranya sempurna. Ayooo kita bikin gif-nya. Film yang berhasil membakar hasrat. Tak diragukan lagi, Portrait of a Lady on Fire adalah salah satu film terbaik dekade ini. Sinematografi keren. Akting keren. Cerita keren. Minimalis terkesan. Masterpiece, emotions and artistically running high!

Portrait of a Lady on Fire | France | Judul Asli Portrait de la Jeune Fille en Feu | Year 2019 | Directed by Celine Sciamma | Screenplay Celine Sciamma | Cast Noemie Merlant, Adele Haenel, Luana Bajrami, Valeria Golino, Amanda Boulanger | Skor: 5/5

Karawang, 210420 – 290420 – Bill Withers – Heartbreak Road

Thx to rekomendasi William Loew

Les Miserables – Victor Hugo

Les Miserables – Victor Hugo

Akhirnya kesampaian juga menyelesaikan salah satu buku yang kuidam-idamkan ini. Kisahnya panjang sekali, dipecah dalam delapan buku (bab). Novel yang sangat keren, dituturkan dengan ketelitian dan akurasi kata yang sedap dilahap. Buku yang menampilkan ketidakadilan menuju keadilan, dari kepalsuan menuju kebenaran dan dari kegelapan menuju cahaya terang. Materi adalah titik mulanya, kedalaman jiwa adalah akhirnya.

Tentang uskup berhati mulia, sangat mulia bak nabi. Tak ada dendam, tak ada marah, tak ada nafsu dunia. Tuan Myriel, uskup dari kota D. Berjuluk Monsieur Welcome. Tak ada rasa takut akan segala ancaman nafas, semua mengalir apa adanya. “Altar yang paling indah adalah tempat melihat makhluk yang tidak bahagia menjadi terhibur dan bersyukur pada Tuhan.” Mengajak warga untuk taat padaNya tanpa kekerasan tanpa paksaan.

Tentang mantan narapidana Jean Valjean yang dihukum 19 tahun kerja paksa di kapal. Padahal kesalahannya tak wah, mencuri roti karena kelaparan tapi yang membuatnya lama justru alasan usaha kabur berulang kali. Setiap jelang habis masa tahanan ia malah berbuat konyol seolah jagoan yang mencoba kabur, ketangkep lagi hingga makin berat. Saat akhirnya hukuman selesai ia tak mendapat tempat bernaung. Nah sebagai residivis ia ga diterima masyarakat, tak mendapat makan di restoran manapun karena namanya sudah dicekal. Sampai akhirnya ia terdampar di rumah sang uskup.

Tentang gadis lugu yang terjebak cinta, Fantine. Mempunyai anak tanpa ikatan pernikahan karena sang pujaan hati berangkat perang menunaikan tugas negara dan hilang ditelan rimba kehidupan. Sang anak Cossette terpaksa dititipkan kepada keluarga kejam saat ia harus bekerja keluar kota, setiap bulan mengirim uang untuk mengurusnya. Segalanya dikerjakan demi buah hati. Gigi dijual, rambut dipangkas untuk diuangkan, bahkan harga diri dipertaruhkan. Luar biasa perjuangan seorang ibu, single parent single fighter. Dari gadis cantik menjadi jelek, sangat jelek demi anak. Namun anaknya ternyata tak urus layak, pedih. Sangat pedih.

Tentang pengungkapan identis bangsawan yang luar biasa baik. Masa lalunya yang tak tercatat yang datang ke M. Sur M. tanpa bekal memadai namun menjelma jadi orang penting. Mendirikan pabrik bidang perhiasan kaca gelas dari nol dan menjadi raksasa ekomoni kota. Tuan Madeleine yang sangat berjasa dipaksa menjabat wali kota, hingga akhirnya suatu ketika ia bertemu pelacur yang berani meludai wajahnya di depan polisi Javert. Heran, aneh dan begitu absurb. Hakim berbicara atas nama keadilan, pendeta berbicara atas nama belas kasihan, yang merupakan keadilan yang lebih mulia. Petir tidak akan melakukan kesalahan.

Semua kepingan karakter itu disatukan dalam Les Miserables – Orang-Orang Malang karya Victor Hugo yang saat pertama terbit mendapat kritik pedas, dicela kritikus. Penulis legendaris novel Madam Bovary, Gustave Flaubert berujar, “Tidak berisi kebenaran, juga tidak hebat.” Barbey d’Aurevilly menyebut berselera rendah dan mengeluhkan kevulgaran. Nyatanya saat terbit di Perancis respon pasar sebaliknya, antrian mengular dan buku ludes dalam hitungan jam. Hugo memang fenomenal. Dicekal di negerinya sendiri, bersinggungan politik sehingga kabur ke Belgia. Hidup di zaman Napoleon dan menjadi saksi kekalahannya dari Inggris tahun 1915 di Waterloo. Era Restorasi Bourbon di mana gereja ikut berperan dalam politik, tak heran buku ini kental sekali dengan ajaran agama. Kebaikan tidak boleh dilakukan tanpa keimanan. Dia yang merupakan seorang ateis adalah pemimpin yang buruk bagi perabadan manusia. Masa perjuangan revolusi menyingkirkan republik dan gejolak sosial, Les Miserables tumbuh dalam sejarah itu. Ditempa zaman, bertahan hingga kini.

Kutipan-Kutipan

Layaknya laki-laki yang sudah tua dan sebagaimana kebanyakan pemikir, dia hanya tidur sebentar. – halaman 29

Anda salah. Sesuatu yang yang indah sama bergunanya dengan sesuatu yang berguna. – 37

Yang perlu kita takuti adalah diri kita sendiri. Prasangka adalah perampok sesungguhnya, sifat buruk adalah pembunuh sebenarnya. Bahaya terbesar ada dalam diri sendiri. Tak peduli yang mengancam kepala atau dompet kita. Mari hanya berfikir tentang apa yang dapat mengancam jiwa kita. – 43-44

Kematian adalah hal sederhana. Orang tidak membutuhkan cahaya untuk itu. Jadi baiklah. Saya akan mati pada malam hari. – 58

Uskup menundukkan kepala sambil menjawab, “Vermis sum – saya adalah seekor cacing.” – 64

Saya meringkas. Saya berhenti, selain itu saya sekarat. – 67

Mari kita tegaskan bahwa kebencian terhadap kemewahan bukanlah kebencian yang baik. Kebencian ini melibatkan kebencian terhadap seni. – 72

Tidak ada kekuasaan yang tidak memiliki tanggungan. Tidak ada nasib yang tidak memiliki pengadilannya. Para pemburu masa depan berputar mengelilingi masa kini yang luar biasa. – 77

Nalurinya mengatakan ‘Lari!’, akalnya akan mengatakan, ‘Tinggal’. Namun di hadapan godaan yang begitu hebat, akalpun menghilang, yang tersisa hanyalah naluri. – 142-143

Ketika banyak masalah yang memenuhi pikiran, seseorang dapat tertidur satu kali, tetapi tidak untuk kedua kalinya. – 152

Bahagia adalah dia yang ketika saatnya tiba mengambil keputusan dengan gagah berani dan turun tahta seperti Sylla atau Origenes. – 209

Perempuan cantik adalah penyebab peperangan, perempuan cantik adalah pelanggaran yang dahsyat. Seluruh invasi yang tercatat dalam sejarah disebabkan oleh perempuan. Perempuan adalah hak laki-laki. – 213

“Diskusi adalah hal yang baik.” Kata Tholomyes. “Perselisihan lebih baik lagi.” – 215

Dibalik perselisihan yang jelas ini masih ada hal yang lebih besar dan bermakna, Revolusi Perancis. – 241

Buku adalah teman yang dingin, tetapi aman. – 256

Melepaskan diri dari ikatan suram masa lalu adalah tugas yang menyedihkan. – 281

Pada masa itu kumis menunjukkan kaum borjuis dan taji menandakan pejalan kaki. – 299

Kau lihat, neraka yang baru kamu lewati adalah bentuk pertama surga. Memang harus dimulai dari sana. – 318

Ya Tuhan, sungguh mudah menjadi baik, yang sulit adalah untuk menjadi adil. – 333

Ada pemandangan yang lebih megah dari lautan yaitu langit, ada pemandangan yang lebih megah dari langit yaitu lubuk hati yang paling dalam dan tersembunyi pada manusia. – 348

Para pelaut menyebutnya air pasang, orang bersalah menyebutnya penyesalan. Tuhan mengaduk jiwa manusia sebagai mana Dia mengaduk lautan. – 356

Ini adalah krisis yang sangat menakjubkan. Kebahagiaan besar telah terbukti menahan penyakit. – 404

Tuhan tidak hadir ketika dia sedang diadili. – 414

Overall

Buku yang sanng padat, panjang dan sungguh melelahkan. Butuh waktu seminggu lebih untuk menyelesaikannya. Butuh tidak kali waktu duduk untuk mengulasnya, tapi ketunda terus. Buku yang sangat bagus, hanya sayangnya endingnya anti-klimak. Ibarat setelah berjuang berlari berkilo-kilo maraton eh ternyata garis finish itu sudah penuh sesak dengan pelari lain dari garis start lain sehingga seakan sia-sia tak juara. Walaupun gitu, jelas buku ini sangat rekomendasi lahap. Petualangan memaafkan manusia, hati yang mulia dan lautan cinta untuk umat. Sungguh indah bak kutipan alkitab yang diperaga kehidupan sehari-hari. Masterpiece.

Les Miserables | by Victor Hugo | pertama terbit dalam bahasa Perancis tahun 1862 oleh Lacroix and Verboeckhoven, Belgia | Penerjemah Reyvita Mutiara Andryani | Penyunting Muthia Esfand | Proof reader Tim Redaksi Visimedia | Desain sampul dan tata letak Nuruli Khotimah | Gambar sampul Aminudin Hadinugroho | Penerbit Visi Media | Cetakan kedua, Januari 2013 | xiv + 482 hlm; 140 x 210 mm | ISBN 979-065-135-x | Skor: 5/5

Karawang, 240817-090917-101017 – Homogenic – Seringan Awan – BSB – Helpless When She Smiles