(review) The Wolf of Wall Street: A Rich One

Gambar

Film Oscar – nominasi best picture kedua tahun ini yang saya tonton. Berdasarkan buku yang ditulis oleh dirinya sendiri. Tentang Jordan Belfort (Leo DiCaprio) seorang pialang saham di Wall Street yang sukses besar secara finansial, namun akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib karena terlibat pencucian uang.

Ini adalah film kelima duet antara DiCaprio dan Martin Scorsese, empat film sebelumnya adalah Shutter Island, The Departed, Gangs of New York dan The Aviator. Kolaborasi mereka selalu menghasilkan karya yang luar biasa. Puncak dari duet maut ini adalah Oscar untuk tahun 2006 dalam The Departed.

The Wolf durasinya lama, dua setengah jam lebih. Banyak ‘penampakan’ jadi saran saya kalau mau nonton ini film jangan sama orang tua, kalau ga mau dijewer. Apalagi nonton sama anak kecil, lebih berbahaya lagi. Jelas ini film kategori dewasa, yang saya sendiri heran Leo berani tampil gila. Yah, walau ga heran-heran amat sih sebab aktor besar dari sono emang selalu tampil total seperti Michael Fassbender di film Shame, Angelina Jolie di Original Sin atau Ryan Gosling di film Blue Valentine.

Kisah ini tentang seorang pemuda yang nikah muda, Jordan Belfort yang memulai karir di Wall Street. Salah satu adegan memorable adalah saat Jordan dinasehati oleh Mark Hanna (Matthew McMonaughey) di situ dia bilang: “OK, first rule of Wall Street – Nobody – and I don’t care if you’re Warren Buffet or Jimmy Buffet – nobody knows if a stock is going up, down or f-ing sideways, least of all stockbrokers. But we have to pretend we know. “

Saat Jordan sedang semangat-semangatnya, tempatnya bekerja bangkrut sehingga dia pun membuka jalan sendiri dengan bekeja di Perusahaan saham yang lebih kecil, Stratton Oakmont. Pelan tapi pasti, Perusahaannya menjelma jadi raksasa. Dalam sebuah kesempatan, Jordan bertemu dengan Donnie Azoff (Jonah Hill) dan langsung tertarik untuk bergabung. Saat itu juga Donnie keluar dari kerja dan memulai petualangan di Wall Street. Jordan akhirnya cerai karena dia kepergok selingkuh dengan Naomi Lapaglia (Margot Robbie). Di sinilah kegilaan dimulai.

FBI curiga ada tindakan ilegal di sana, sehingga dilakukan investivigasi. Agen Patrick Denham (Kyle Chandler) memimpin penyelidikan. Berbagai cara ditempuh untuk mengamankan duit berlimpahnya, termasuk dengan membuka rekening ke Swiss. Dan menitipkan sebagian uangnya ke saudaranya Leah Belfort (Christine Ebersole). Malang, Leah meninggal dunia. Jordan dipaksa ke Swiss untuk mengurusnya. Ini hanya sebagian kecil cara Jordan sembunyi, akan banyak adegan gila lihat uang berlimpah di layar. Lalu bagaimanakah kisah kucing-kucingan ini berakhir?

Kegilaan akan pesta pora Jordan terkenal kala itu, yang akhirnya membuat Wall Street mengundang banyak para lulusan universitas terkemuka untuk menjadi karyawannya. Judul ‘The Wolf of Wall Street’ sendiri diambil dari sebuah artikel majalah Forbes yang menyebut sebagai “twisted Robin Hood”. Di mana dia merampok dengan cara halus dengan membujuk untuk menginvestasikan uangnya di Stratton lalu memutarnya demi keuntungan golongan. Jordan yang kecanduan narkoba dan seks adalah seorang motivator ulung. Di kantor dia sering membakar semangat anak buahnya untuk kerja keras agar kehidupannya bisa mapan. Saat akhirnya dia akan menyerah pada penyidik, Jordan malah berteriak: “This right here is the land of opportunity. This is America. This is my home! The show goes on!”

The Wolf setidaknya lebih riuh dan meriah ketimbang Her yang saya tonton sebelumnya. Lebih bagus dalam menampilkan cerita dan bak seorang Mario Teguh, kata-katanya super. Yang saya sayangkan adalah banyaknya adegan vulgar tanpa sensor (saya nonton di dvd). Untuk sebuah film Oscar, The Wolf terlalu terbuka dalam banyak hal. Blak-blakan, hal itu justru malah mengurangi kenikmatan yang diharap. Atau mungkin karena ekspektasiku yang terlalu tinggi? Apalagi saya menontonnya sama si May. Duh! Tontonan yang mengejutkan di saat santai. Menurutku justru si Matthew yang tampil gila, saat di awal cerita walau muncul hanya sekitar lima menit tapi nasehatnya kepada Jordan sungguh membekas. Lihatlah di ending, adegan “hhhmmm…,” sambil tepuk dada itu, saya ketawa sekaligus miris. Lalu penampilan kocak Jonah Hill, yang lugu sekaligus ganas. Mungkin salah satu penampilan terbaiknya, side-kick yang sempurna. Ada juga Jon Favreau yang juga muncul sebentar. Sutradara sekaligus aktor kesukaanku. Dan yang paling gila penampilan Margot Robbie yang berani telanjang di banyak scene untuk mengimbangi kegilaan Leo. Dan tetap saja leading actor nya adalah Leo. Akankah berbuah Oscar untuk sang mega bintang? Kuharap dia pecah telur!

The Wolf of Wall Street

Director: Martin Scorsese – Screenplay: Terence Winter – Cast: Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Margot Robbie, Matthew McMonaughey – Skor: 3/5

Karawang, 210214

Iklan

The Special One #Nostalgia

Gambar

Catatan:Nostalgia berikutnya adalah sambutan jelang kembali bergulirnya Liga Champios setelah jeda panjang pergantian tahun. Memasuki babak 16 besar UCL, Chelsea akan bertemu dengan Galatasaray. Laga ini akan jadi ajang nostalgia Didier Drogba yang akan pulang ke Bridge. seperti kejadian 2010 saat Mourinho pulang ke Bridge untuk melawan Chelsea. Well, walau akhirnya Jose 2014 ini sudah kembali melatih Chelsea. Catatan yang saya pasang tahun 2010 ini masih membuatku tersenyum.

(Jose Mario Dos Santos Mourinho Felix: 2 Juni 2004 – 20 September 2007)

“Tolong jangan katakan saya arogan. Saya telah memenangi Liga Champion dengan Porto. Saya adalah ‘The Special One’”_Mengumumkan kedatangannya di Chelsea

Jose Mourinho datang ke Chelsea pada tanggal 2 Juni 2004 setelah sukses membawa Porto menjuarai Liga Champions. Ketika datang Jose bilang: “I’m the special one”. Dia tidak sesumbar karena faktanya memang hanya orang special yang bisa langsung mengantar ‘The Blues’ meraih rentetan gelar, dari Premiership, FA Cup, hingga piala Carling. Selama di Chelsea Jose meraih gelar back-to-back Liga Inggris 2004/2005 – 2005/2006, 2 piala liga dan 1 piala FA. Prestasi yang luar biasa, kehebatan meraih gelar secara instant. Sayangnya gelar Liga Champion belum menghinggapinya bersama si Biru, coba seandainya dia diberi waktu sedikit lebih lama pasti cerita tropi UCL di tangan Terry menjadi nyata.

Kabar mengejutkan didengar pada Kamis (20/9/07) Mourinho dipecat Roman Abramovich. Sontak Inggris raya geger. Ada apa gerangan hingga sang suksesor Stamford Bridge keluar? Bukan rahasia lagi Roman bersitegang dengan Jose, bukan rahasia pula Hartawan Rusia tersebut mengidam-idamkan gelar Champions, gelar yang luput dari genggaman Mourinho selama di Chelsea, tapi bukan itu permasalahnya. Fakta bahwa Roman menginginkan permainan atraktif dan entertaining yang membuat Roman ngotot ingin memboyong Ronaldinho. Jose lebih memilih permainan kolektif dengan memprioritaskan hasil akhir daripada entertaining football. Kedatangan Shevchenko yang diharap mampu mewujudkan mimpi itu ternyata malah jadi bumerang yang menyakitkan. Roman memproteksi Sheva dari segala hujatan gagal beradaptasi, apalagi sang pemilik selalu mendesak untuk menurunkan Sheva lebih banyak. Jose meradang, mestinya manager yang meracik tim bukan owner.

Selasa, 25 September 2007 tabloid ‘Bola’ menulis judul yang ironis ‘SPECIAL GONE’ dengan huruf ‘G’ cetak tebal dan warna kontas merah. Kepergian Jose adalah episode paling dramatis di dunia sepakbola. Nyaris tak ada kejadian yang paling mencengangkan dibanding kisah kepergian Mou. Pasca memeluk seluruh pemain the Blues (kecuali Terry dan Lampard yang absen) Jose berkaca-kaca, saat itu tak ada kata yang keluar dan tak satupun pemain sadar dengan perubahan bahasa tubuh sang pelatih yang langsung menghilang dan meluncurkan mobilnya ke Bridge.

Di sana ia bertemu dengan Peter Kenyon, CEO Chelsea. Setelah menyepakati beberapa detail, termasuk pelunasan sisa kontrak yang harusnya berakhir 2010, Jose pulang ke rumahnya yang asri di Chelsea Harbour. Tepat pukul 21.30 Mourinho mengontak dan meng-SMS beberapa pemain. Sosok pertama yang dihubungi adalah Lampard, lalu Terry, Drogba, Cech dan Carvalho.

Pada saat yang nyaris bersamaan di Stamford Bridge, manajemen mengadakan rapat dadakan terdiri dari jajaran staff termasuk Peter Kenyon, Bruce Buck, Avrant Grant dan Eugene Tenembaum. Memutuskan bahwa Avrant (mantan arsitek timnas Israel) ditunjuk menggantikannya. Kamis dini hari pukul 02.00 kabar tersebut dipampang di situs resmi Chelsea: chelseafc.com

Kepergian Jose meninggalkan luka, sebagian besar pemain menangis bahkan secara emosional Didier Drogba megumumkan hengkang mengikuti sang mentor. Hal tersebut dipatahkan pihak manajemen bahwa dengan atau tanpa Jose kapal Chelsea harus tetap berlayar mengarungi kompetisi. Sejak saat itu ada perjanjian bahwa Mourinho dilarang melatih klub Inggris (konon waktu yang disepakati 10 tahun) dan diharamkan merekrut pemain Chelsea di klub barunya nanti. Jadi jangan harap Lamp, Terry, Drogba dkk hijrah ke Inter atau Jose melatih di BPL sampai dengan 2017, jika terjadi Jose diwajibkan bayar denda yang tak sedikit.

Jose Mourinho adalah aktor intelektual dari beberapa komentar “tergila” di dunia sepakbola. Berikut beberapa Kata-kata mutiara (diambil dari berbagai sumber) sang Special one selama di Chelsea:

“Tekanan? Tak ada tekanan. Flu burung adalah tekanan (para wartwan tertawa). Tidak, anda tertawa tapi saya serius. Saya lebih memikirkan tentang unggas-unggas itu daripada sepak bola”_saat ditanya wartawan ketika Chelsea tertekan di musim 2005/2006.

“Seperti orang Portugal bilang, mereka membawa bus dan memarkirnya di depan gawang”_setelah ditahan 0-0 melawan Totenham.

“Saya tidak meminta untuk diajarkan kalah 4-0 di final Champions karena saya tidak ingin belajar itu”_kepada Johan Cryuff yang mengkritiknya. Mengacu pada kekalahan Barca di LC 93/94 kontra Milan.

“Kupikir ia tipe pengintip. Ia punya teleskop besar untuk mengamat-amati isi rumah orang. Ia selalu bicara tentang Chelsea”_tentang Arsene Wenger.

“Barcelona adalah klub hebat. Namun, dalam 200 tahun sejarahnya mereka hanya memenangi piala eropa sekali. Saya baru melatih beberapa tahun dan telah memenangi jumlah title yang sama”_tentang Barca musim 2005/2006. Pada akhir kompetisi mereka lalu menjadi juara LC.

“Jika ingin pekerjaan yang gampang, saya akan tetap tinggal di Porto. Ada kursi biru yang cantik, trophy Liga Champions, Tuhan, dan setelah Tuhan, saya”

“Barcelona adalah kota budaya dengan banyak teater. Lionel Messi telah belajar banyak, ia menguasai acting”_tentang Messi yang membuat Del Horno dikartu merah Feb 2006.

“Kami berada di puncak bukan karena kekuatan financial klub. Kami selalu berada di jalur juara karena kerja keras saya”

“Mustahil Man U dijatuhi hukuman pinalti dan tak mendapat pinalti yang menguntungkan Chelsea. Itu bukan konspirasi, itu kenyataan. Saya bicara fakta. Jiak tidak saya butuh kaca mata”_Chelsea yang seharusnya dapat pinalti ketika melawan Newcastle, padahal sehari sebelumnya Man U dapat pinalti controversial melawan Boro di akhir musim.

“Jika ia membantuku di sesi latihan maka kami akan jadi juru kunci di liga dan jika saya harus kerja di perusahaannya, maka kami akan bangkrut”_tentang Roman Abramovich

“Asisten wasit yang mencetak gol itu, tak ada yang tahu apakah tembakanya melewati garis dan anda harus 100% yakin”_Gol kontroversial Luis Garcia LC 2005 melawan Liverpool.

“Tekanan? Tekanan apa? Tekanan adalah orang-orang miskin di dunia yang berusaha menafkahi keluarga mereka dengan kerja keras dari pagi sampai malam. Tak ada tekanan dalam sepakbolal”

“Kami tidak entertaining? Saya tak peduli: kami menang!”

“Saya hanya punya 2 cara untuk meninggalkan Chelsea. Yang pertama pada Juni 2010 kalau kontrak tak diperpanjang. Kedua, jika Chelsea memecatku. Saya takkan melenggang begitu saja. Saya takkan berbuat itu kepada suporter Chelsea”

Well, badai dan kenangan indah itu telah berlalu. Kini Jose Mourinho melatih Inter Milan di Italia dan Chelsea ditukangi pelatih Italia, Carlo Ancelotti. Tak ada yang tahu bahwa dua setengah tahun setelah adegan dramatis tersebut Chelsea bersua Inter. Dini hari ini (25/02/10) pukul 02.45 WIB Jose akan bertemu dengan mantan anak buahnya. Menarik ditunggu apa yang kan terjadi. Apapun itu, kami (fan Chelsea) selalu mencintaimu. Merindukan komentar-komentar mu. Dan berharap suatu saat kau kan bersama kami lagi, bersama Chelsea memenangkan banyak gelar. Kami tunggu kedatanganmu di 2nd leg nanti di Stamford Bridge dengan sambutan yang meriah layaknya kepulangan ksatria.

Gambar

Ruanglain 31, Cikarang 25 Februari 2010.

Pukul 00.55 AM (1 jam 50 menit menjelang duel UCL 1st leg Int v Che) Keep the Blues Flying Flag High!!!

Karawang, 170214

all in one

Gambar

Teman saya seorang maniak fotografi dan karikatur mengabadikan sebuah momen di lift baseman Mal Gandaria City. Saya ga tahu berapa tepatnya yang masuk lift yang jelas gambar ini saya suka. all in one!

taken picture by: Arief Noor Iffandi