(review) Unbroken: What A Waste Time Of Great Story

Butuh dua kali nonton ini film untuk menyelesaikannya. Pertama saat pulang kerja setelah Isya, saya tonton. Namun gagal, ga ada 30 menit saya tertidur. Kedua saat libur Sabtu kemarin, pagi-pagi bangun tidur langsung coba menikmatinya. Sukses sampai selesai walau dengan perjuangan 2 gelas kopi, durasi 2 jam lebih. Well, Sabtu dan Minggu pagi adalah waktu luang berhargaku dan saya membuangnya sia-sia kali ini. Unbroken adalah film yang membosankan.

Berdasarkan kisah nyata, Louis Zamperini (Jack O’Connel) adalah atlet Olimpiade yang wajib militer di Perang Dunia II. Film dibuka dengan sebuah serangan udara Amerika ke Jepang, lalu adegan kembali ke masa kecilnya. Menyaksikan lomba lari di bawah tribun penuh penonton. Louis dikira mengintip rok wanita, dan kepergok. Ketakutan dia lari terbirit-birit masuk ke lapangan lari dan diluar duga larinya lebih kencang dari pada para atlit cilik. Dari situ, Louis terlihat punya bakat untuk menjadi atlit.

Adegan berikutnya, dalam serangan udara pesawat Louis tertembak dan jatuh di samudra Pasifik. Yang selamat hanya 3 orang, namun terapung-apung di perahu karet. Louis, Mac dan Phil yang terluka di kepala mencoba bertahan hidup dari menangkap ikan, menjerat bangau serta menghemat persediaan air tawar. Hujan adalah berkah sekaligus musibah, air tawarnya menyejukkan dan bisa menambah persediaan namun bersamaan hujan dapat badai. Hari demi hari dilewati tanpa ketidakpastian. Perlu diketahui, sebelum mereka bertiga pernah ada yang bisa bertahan hidup terombang-ambing di atas samudra selama 23 hari. Dan bertiga mereka berhasil melewatinya. Sampai akhirnya salah satu dari mereka akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ini satu-satunya adegan yang membuatku menitikkan air mata.

Suatu hari, sebuah kapal perang Jepang menemukan mereka. Entah harus syukur atau sedih, berdua akhirnya jadi tawanan Jepang. Lalu film menyoroti kekejaman selama ditahan. Bersama tahanan lainnya, mereka mencoba bertahan hidup. Bagaimana akhir kisah Louis Zamperini berikutnya? Bagi masyarakat Amerika tentu tak terkejut akhir kisah ini, Louis ini legendaris sebagai atlit yang terjebak perang.

Dengan cast nyaris tanpa bintang, film ini flop sukses bikin menguap. Awalnya saya mau memberi nilai 1 bintang, namun 5 menit terakhir sungguh menyegarkan bahwa masih ada harapan di tengah keterpurukan. Apalagi saat diperlihatkan foto-foto asli Louis Zamperini sampai akhirnya dia membawa obor Olimpiade di Tokyo. Namun secara keseluruhan Jolie melakukan banyak scene kosong yang membosankan. Padahal screenplay oleh duo Coen bersaudara. Adegan saat di tahanan pun dibuat biasa, padahal Takamasa kabarnya sangat kejam. Dan nilai plusnya adalah O’Connel bermain memikat. Sayangnya hanya itu yang membuatku bertahan. Tagline: If you can take it, you can make it mungkin salah satu tagline terbaik 2014. Sama A moment of pain is worth a lifetime of glory yang catchy dan pas diteriakkan. Terkahir, saying sekali Jolie yang menahkodai film ini. Kisah yang bagus namun salah eksekusi. What a waste of a great story by Jolie, membuat saya berandai-andai sutradara yang lebih pengalaman yang membuatnya. Sayang sekali. Ada yang tahu arti judul unbroken ini? Saksikan sendiri ya, takut spoiler.

Unbroken | Directed by: Angelina Jolie | Screenplay:  Coen Brother | Cast: Jack O’Connel, Domhnall Gleeson, Garrett Hedlund, Jai Courtney, Takamasa Ishihara | Skor: 2/5

A Touch of Majic

Akhirnya saya ganti HP juga. Sony Xperia M dual resmi dalam genggamanku pada tanggal 3 Mei 2014. Setelah pegang BB ganti Andro, rasanya itu seperti turun dari becak ganti naik Ferrari. Really ‘a touch of majic!’

Gambar

(warna putih yang kupilih)

Gambar

(bongkar!)

Gambar

(Ferrari-ku)

Karawang, 140514

Partick Star: The Real Star OF All Time

Gambar

Catatan: Nostalgia kali ini saya nukil dari catatan bulan Oktober 2010. Tentang karakter idola, Patrick si bintang jenius bodoh. Karakter istimewa di Bikini Bottom.

Spongebob : Apa yang biasanya kamu lakukan saat aku pergi?

Patrick : Menunggu kamu kembali.

Sambil ditemani kopi, mendengarkan theme song pembuka film Spongebob Squarepants seperti mendapat suntikan semangat yang benar-benar baru. Semangat yang belum tentu bisa didapat di pagi hari ketika briefing dengan atasan.

 “who lives in a pineapple under the sea

absorbent and yellow and porous is he

if nautical nonsense be something you wish

then drop on the deck and flop like a fish”

Ini adalah catatan pertamaku tentang Spongebob Squarepants. Kartun ter-favorite-ku sepanjang masa, mengalahkan Dragon Ball yang dulu kupuja-puja. Aku cinta film Spongebob Squarepants, walau semuanya kadang menyebalkan (kecuali Gery Siput tentu saja).

Squidward Tentacle yang selalu sial yang kalau ketawa hidungnya kembang kempis seperti mau runtuh, Spongebob Squarepant yang punya kotak tertawa dan imajinasi hampir tak terbatas, Patrick Star pengangguran yang dungunya tak terselamatkan, Eugene Krab yang matanya membentuk simbol dollar setiap ada makhluk laut yang memesan krabby patty, Sandy mamalia darat bergigi maju yang selalu memakai helm kedap air, Plankton yang ambisius menguasai dunia seekor makhluk bersel satu yang beristrikan sebuah mesin Karen, Gery siput penurut yang tidak memiliki kosakata lain selain “meow”, dan juga karakter yang tergolong ghaib seperti Flying Dutchman, Mindy dan Neptune. Tak lupa pula duo hero Mermaidman & Barnicles Boy.

Untuk kali ini saya ingin mengutip kata-kata Patrick Star yang memorable, unik dan luar biasa (kalian tahu maksudku). Coba tebak petikan dialog berikut ada di episode apa saja…

1. Mr.Krab: Patrick,kamu kupecat!

Patrick:Tapi saya bekerja disini pun tidak

Mr.Krab: Kalo gitu maukah kamu bekerja mulai sekarang?

Patrick: Wah Mauuu

Mr.Krab: Kamu kupecat !!

 

2. Flying Dutchman : Aku beri kau 3 permintaan

Patrick : Aku minta lima

Fying Dutchman : Baik, kuberi kau 4 permintaan

Patrick : 3, ambil atau tidak

Flying Dutchman : Baiklah 3 permintaan

 

3. Mr. Krab : Itu harganya 5 dollar

Patrick : Aku hanya punya 7 dollar

 

4. Sandy: Ucapan gila

Patrick: Itu bukan ucapan gila. ini ucapan gila. !*@&$^!*(@$(*!& (Sandy mukul kepala Patrick)

 

5. Spongebob: Aku tidak akan keluar dari rumah selamanya !

Patrick: Untuk selamanya ?

Spongebob: Untuk selama-lamanya

Patrick: Untuk selama lama lama lama lamanya ?

Spongebob: Untuk selama lama lama lama lama

Patrick: (Patrick nyaut) Untuk selama lama lama lama

Spongebob : Cukup patrick !

 

6. Patrick: Hidup itu enak ..

Patrick: Mudah datang mudah pergi ….

(pensil ajaib , scene si Patrick digambarin kumis ama si Spongebob )

 

7. Spongebob: Selamat tinggal Wormy

Patrick: Mengapa matahari selalu terbenam di hari yang indah ini ?

 

8. Patrick: Apakah kamu Squidward?

Squidward (orang lain mirip Squidward): Tidak

Patrick: Apakah kamu Squidward?

Squidward (orang lain mirip Squidward): TIDAK!

Patrick: Apakah kamu Squidward sekarang?

Pipa Air (………………)

Patrick: Kurasa bukan.

 

9. Patrick: (bersiul ke burung)

Spongebob: Patrick, saya tidak tau kamu bisa bahasa burung.

Patrick: Itu bukan bahasa burung Spongebob, itu bahasa Italy

 

10. Spongebob: Aku benci kau, Patrick.

Patrick: Aku benci juga.

Spongebob: Aku benci kau tak peduli apapun itu!

Patrick: Aku akan membencimu bahkan jika aku tidak membencimu.

Spongebob: Aku akan membencimu bahkan jika itu masuk akal.

Patrick: Aku benci kau bahkan jika kau jadi aku. Itulah betapa aku membencimu.

 

11. Spongebob: Saya Marah !

Patrick: Saya juga !

Spongebob: Kenapa kamu marah?

Patrick: Saya ga bisa melihat dahiku sendiri ! kalo kamu?

 

12. Patrick: Taukah kamu apa yg lebih lucu dari 23?

Spongebob: Apa itu?

Patrick: 24

 

13. Spongebob: Patrick, sudah brapa lama kita disini?

Patrick: (melihat jam tangannya yg digambar sendiri pake pen) wah, saya harus menggambar batere baru untuk ini

 

14. Patrick: Spongebob? Psssttttttt, Spongebob?? Pssssssssssssst. Saya mau mengatakan sesesuatu, sesuatu yg sangat penting !!

Spongebob: APA??

Patrick: Hai

 

15. (Spongebob berubah berbentuk negara texas)

Spongebob: Hey, Patrick. Apakah aku?

Patrick: Bodoh?

Spongebob: Bukan, Saya Texas!

Patrick: Apa bedanya?

 

16. Patrick: Saya punya penggumuman !!! (semua org melihat ke Patrick)

Patrick: Saya harus ke WC

 

17. Spongebob: (meniup balon dalam bentuk gajah)

Patrick: (dengan lantang berteriak) JERAPAH !!!

 

18. Spongebob: Apa kamu yakin mau jadi bodoh untuk jadi temanku lagi?

Patrick: Pengetahuan tidak akan bisa menggantikan persahabatan. Aku memilih jadi bodoh!!!

 

19. Patrick berteriak : “AKU JELEK DAN AKU BANGGA!!!”

Gambar

Hidup Patrick Star!

Ruanglain31 – Cikarang, 241010

(Nevermind, I’ve got an idea!)

Karawang, 180314

(review) The Wolf of Wall Street: A Rich One

Gambar

Film Oscar – nominasi best picture kedua tahun ini yang saya tonton. Berdasarkan buku yang ditulis oleh dirinya sendiri. Tentang Jordan Belfort (Leo DiCaprio) seorang pialang saham di Wall Street yang sukses besar secara finansial, namun akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib karena terlibat pencucian uang.

Ini adalah film kelima duet antara DiCaprio dan Martin Scorsese, empat film sebelumnya adalah Shutter Island, The Departed, Gangs of New York dan The Aviator. Kolaborasi mereka selalu menghasilkan karya yang luar biasa. Puncak dari duet maut ini adalah Oscar untuk tahun 2006 dalam The Departed.

The Wolf durasinya lama, dua setengah jam lebih. Banyak ‘penampakan’ jadi saran saya kalau mau nonton ini film jangan sama orang tua, kalau ga mau dijewer. Apalagi nonton sama anak kecil, lebih berbahaya lagi. Jelas ini film kategori dewasa, yang saya sendiri heran Leo berani tampil gila. Yah, walau ga heran-heran amat sih sebab aktor besar dari sono emang selalu tampil total seperti Michael Fassbender di film Shame, Angelina Jolie di Original Sin atau Ryan Gosling di film Blue Valentine.

Kisah ini tentang seorang pemuda yang nikah muda, Jordan Belfort yang memulai karir di Wall Street. Salah satu adegan memorable adalah saat Jordan dinasehati oleh Mark Hanna (Matthew McMonaughey) di situ dia bilang: “OK, first rule of Wall Street – Nobody – and I don’t care if you’re Warren Buffet or Jimmy Buffet – nobody knows if a stock is going up, down or f-ing sideways, least of all stockbrokers. But we have to pretend we know. “

Saat Jordan sedang semangat-semangatnya, tempatnya bekerja bangkrut sehingga dia pun membuka jalan sendiri dengan bekeja di Perusahaan saham yang lebih kecil, Stratton Oakmont. Pelan tapi pasti, Perusahaannya menjelma jadi raksasa. Dalam sebuah kesempatan, Jordan bertemu dengan Donnie Azoff (Jonah Hill) dan langsung tertarik untuk bergabung. Saat itu juga Donnie keluar dari kerja dan memulai petualangan di Wall Street. Jordan akhirnya cerai karena dia kepergok selingkuh dengan Naomi Lapaglia (Margot Robbie). Di sinilah kegilaan dimulai.

FBI curiga ada tindakan ilegal di sana, sehingga dilakukan investivigasi. Agen Patrick Denham (Kyle Chandler) memimpin penyelidikan. Berbagai cara ditempuh untuk mengamankan duit berlimpahnya, termasuk dengan membuka rekening ke Swiss. Dan menitipkan sebagian uangnya ke saudaranya Leah Belfort (Christine Ebersole). Malang, Leah meninggal dunia. Jordan dipaksa ke Swiss untuk mengurusnya. Ini hanya sebagian kecil cara Jordan sembunyi, akan banyak adegan gila lihat uang berlimpah di layar. Lalu bagaimanakah kisah kucing-kucingan ini berakhir?

Kegilaan akan pesta pora Jordan terkenal kala itu, yang akhirnya membuat Wall Street mengundang banyak para lulusan universitas terkemuka untuk menjadi karyawannya. Judul ‘The Wolf of Wall Street’ sendiri diambil dari sebuah artikel majalah Forbes yang menyebut sebagai “twisted Robin Hood”. Di mana dia merampok dengan cara halus dengan membujuk untuk menginvestasikan uangnya di Stratton lalu memutarnya demi keuntungan golongan. Jordan yang kecanduan narkoba dan seks adalah seorang motivator ulung. Di kantor dia sering membakar semangat anak buahnya untuk kerja keras agar kehidupannya bisa mapan. Saat akhirnya dia akan menyerah pada penyidik, Jordan malah berteriak: “This right here is the land of opportunity. This is America. This is my home! The show goes on!”

The Wolf setidaknya lebih riuh dan meriah ketimbang Her yang saya tonton sebelumnya. Lebih bagus dalam menampilkan cerita dan bak seorang Mario Teguh, kata-katanya super. Yang saya sayangkan adalah banyaknya adegan vulgar tanpa sensor (saya nonton di dvd). Untuk sebuah film Oscar, The Wolf terlalu terbuka dalam banyak hal. Blak-blakan, hal itu justru malah mengurangi kenikmatan yang diharap. Atau mungkin karena ekspektasiku yang terlalu tinggi? Apalagi saya menontonnya sama si May. Duh! Tontonan yang mengejutkan di saat santai. Menurutku justru si Matthew yang tampil gila, saat di awal cerita walau muncul hanya sekitar lima menit tapi nasehatnya kepada Jordan sungguh membekas. Lihatlah di ending, adegan “hhhmmm…,” sambil tepuk dada itu, saya ketawa sekaligus miris. Lalu penampilan kocak Jonah Hill, yang lugu sekaligus ganas. Mungkin salah satu penampilan terbaiknya, side-kick yang sempurna. Ada juga Jon Favreau yang juga muncul sebentar. Sutradara sekaligus aktor kesukaanku. Dan yang paling gila penampilan Margot Robbie yang berani telanjang di banyak scene untuk mengimbangi kegilaan Leo. Dan tetap saja leading actor nya adalah Leo. Akankah berbuah Oscar untuk sang mega bintang? Kuharap dia pecah telur!

The Wolf of Wall Street

Director: Martin Scorsese – Screenplay: Terence Winter – Cast: Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Margot Robbie, Matthew McMonaughey – Skor: 3/5

Karawang, 210214

(review) Robocop: This is the future of American justice!

Gambar

Bagi yang menghabiskan masa kecil sampai remaja di tahun 90an, Robocop adalah pahlawan yang layak dikenang. Selain, tentunya Son Goku, Kura-Kura Ninja, Power Ranger, Ksatria Baja Hitam sampai Wiro Sableng. Robocop adalah idola di zaman paling memorable akhir 80an sampai pertengahan 90an, kemunculannya di tv atau di media cetak menjadi sebuah hiburan wajib. Kala itu kita tak semudah sekarang mendapatkan informasi dan hiburan digital tak sebanyak opsi Saya sumringah saat ada komik strip sehalaman bergambar Alex Murphy di majalah Bobo. Sebagian saya gunting dan tempel di dinding. Sebuah kegilaan masa kecil begitu bahagia.

Jadi saat mendengar Robocop akan di-reboot tahun 2014 saya sangat antusias. Seperti saat TMNT rilis tahun 2007, Dragon Ball Evolution tahun 2009, Saya menontonnya di bioskop dengan hati berdebar, takut dirusak. Teaser poster-nya membuatku mengernyitkan dahi, warnanya hitam bukan perak. Penutup wajahnya ada segaris merah menyala. Trailer-nya bagus dengan adegan ikonis tangan Robocop yang ada di samping paha, lalu muncul pistol, ‘jreeet!’. Penantian panjang itu saya tuntaskan pada hari Minggu, 16 Februari 2014 lalu saat ke Mal Lippo Cikarang. Nonton dengan teman STM yang artinya satu generasi, sama-sama menggilai robot ini. Saat layar dibuka lampu biskop dimatikan, muncullah logo Metro-Goldwyn-Mayer (MGM) dengan backsound singa. Eh bukan, ternyata suara Samuel L Jackson yang kocak meniru suara…, apa ya? Hhhmmm…, seisi bioskop tergelak, sinting!

Film dibuka dengan penjelasan seorang presenter kocak Pat Novak bahwa Amerika membutuhkan robot untuk menyelesaikan masalah, salah satunya masalah terorisme. Kecepatan dan ketangkasan robot tak bisa disamai oleh manusia. Namun manusia masih punya nurani, masih punya hati sehingga dalam misi selalu berfikir dua kali. Adalah Dr Dennett Norton (diperankan dengan keren oleh Gary Oldman) yang mendapat tugas untuk menyatukan manusia dengan robot. Dengan didanai organisasi milik Raymond Sellars (Michael Keaton) mereka memilah tubuh siapakah yang akan dijadikan pioneer.

Saat memilah dan memilih itulah secara bersamaan, seorang detektif bernama Alex Murphy mengalami serangan teror. Saat bersama rekannya Jack Lewis (Michael K. Williams) mengurai kejahatan senjata illegal, Jack kena tembak dan tak sadarkan diri. Sang antagonis Antoine Vallon (Patrick Garrow) merasa perlu menyingkirkan Alex yang sudah tahu jati dirinya. Dengan memasang bom di mobilnya. Naas bagi Alex, dalam sebuah adegan romantis tiba-tiba alarm mobilnya berbunyi. Merasa keheranan karena ada kejanggalan, Alex mencoba mematikan alarm. Saat tangan kirinya menyentuh pintu mobil, Boom! Lalu secara cepat keputusan harus diambil, dengan kondisi separuh tubuh cacat, untuk menjaga agar Alex tetap hidup mereka menawarkan opsi untuk menjadikan Alex percobaan manusia-robot.

Saat melihat dalam kaca tubuh Alex, tiga bulan kemudian, saya ngilu. Serem sekali, saya ga berani menatap layar beberapa saat. Saat akhirnya baju robot dipasang semuanya saya sempat berujar. ‘Lho kok tetap seperti versi original dengan warna perak?’ Ga seperti di poster yang berwarna hitam. Namun ternyata itu tak lama, karena segera berubah setelah teriakan: “Make him more tactical. Let’s go with black.”

Saat publik menanti pengenalan sang manusia robot, Robocop gagal saat uploading data kejahatan. Otaknya error dan jati diri Alex sedikit terenggut. Namun ternyata dari situlah akhirnya dia berubah jadi Robocop yang kita kenal. Jiwanya sudah tak sepenuhnya ada dikendali Alex, namun sudah secanggih komputer, sehingga saat menatap kerumunan semua orang terdeteksi: Threat or No Threat. Kemudian dendamnya muncul untuk memburu Vallon. Ketika semuanya sepertinya berjalan lancar, ada penghianat dari dalam. Siapakah dia? Tonton segera di bioskop kesayangan Anda!

Saat kita disuguhi drama yang memikat dengan tensi yang terjaga sampai menjelang klimak, harusnya Alex meledak dan menghancurkan layar. Namun sayang, Jose Padilha tak melakukannya. Ending-nya anti klimak. Susunan bagus dari awal serasa berantakan saat suara baling-baling helikopter mendekat. Seperti ada yang hilang ketika credit title muncul.

Secara keseluruhan saya suka. Dramanya bagus, dan saya memang suka film drama. Aksinya memang minim tapi tetap nikmat disaksikan. Ikon pistol di paha, motor gedenya, penutup wajah, sampai deteksi pengelihatan muncul. Dan itu sudah cukup membuatku sumringah. Kura-kura Ninja gagal, villainnya kurang gahar. Dragon Ball Evolution lebih buruk lagi. Berantakan, sungguh buruk, plot hole di mana-mana. Robocop yang ini lumayan, setidaknya Jose tak merusak idola kita. Jadi bagi yang pengen nostalgia masa kecil, film ini bisa jadi salah satu obat mujarap. Mumpung masih hangat dan seru-serunya.

Robocop

Director: Jose Padilha – Screenplay: Joshua Zetumer – Cast: Joel Kinnaman, Gary Oldman, Michael Keaton, Samuel L Jackson, Abby Cornish – Skor: 3/5

Karawang, 190214

Game of the year #Nostalgia

Gambar

Catatan: Yuhui.., sudah sampai nomor delapan saja nih catatan #nostalgia. Kali ini posting-an tahun 2011, saat ada momen #30HariMenulis di bulan Juni. Sebagai informasi, Tahun 2013 kemarin versi kedua dari game Plants Vs. Zombies sudah dirilis.

Ketika ditanya apa game favorite-mu? Jawaban ku ga pernah sama. Ya, saya bukan maniak game. Saya hanya akan main untuk mengisi waktu luang. Dulu ketika masih SD sering kali main game ding-dong. Dengan sepeda onthel, pulang sekolah menjelajah kota. Dengan koin cepek, kita udah bisa berfantasi. Game favorite-ku dulu adalah Gun Bird. Game ini terdiri dari 5 awak pesawat terdiri dari Ash, Marion, Valnus, Yuan Nang dan Tetsu. Semua karakternya saya suka. Paling sering pilih pake Valnus, sebuah robot besar yang firepower paling keren. Salah satu hal yang kusuka dalam game ini adalah untuk mengeluarkan secret weapon, tekan lama tombol peluru hingga keluar bunyi “cethink” lalu lepaskan. Valnus akan mengeluarkan sebuah yoyo yang menghajar pesawat lawan. Dengan koin cepek saya bisa sampai level yang lumayan jauh, sayangnya ga pernah tamat karena peluru lawan yang bejibun dan jarang ada teman dalam satu misi. Kalaupun ada selalu terjatuh lebih dini.

Game ding-dong lainnya adalah X-men. Kalau yang ini dengan satu koin saya sering tamat sampai di final mengalahkan Magneto. Karakter X-men, kalian sudah tahu semua tentunya ga usah saya sebut satu-satu, nah favorite-ku adalah wolverine dengan cakar dan Godex mautnya. Makanya saya pelihara ini rambut samping kuping sepanjang mungkin biar mirip. Dalam game ini Storm paling keren, dengan angin dan petirnya. Magneto pun sering klepek-klepek karena bisa diserang jarak jauh dan defence-nya bagus. Oh iya jangan lupakan si raksasa Juggernuth. Hantamannya luar biasa. *cakar-cakar tembok

Untuk game Nintendo, siapa yang tak kenal Mario bross? Tukang ledeng yang ber-partner dengan Luigi ini game klasik yang paling memorable. Misi menyelamatkan putri, berpetualang menghancurkan batu-bata. Tanda Tanya berarti bantuan, bisa berisi jamur, uang, bintang, atau bunga. Banyak sekali secret brick. Jadi pecahkan saja, siapa tahu ada sesuatu di dalamnya. Di setiap akhir level Mario akan melompat menurunkan bendera dalam istana, kalau bisa dapat tarikan tertinggi nilianya 5000 dan diberi sambutan kembang api. Karena game rumah, jelas ini selalu tamat. Final chapter-nya melawan monster adalah level “gada geni”. Wuihh keren!

Sedang game paling simple dulu adalah tetris. Menyusun batu bata dalam berbagai bentuk. Ada 2 option untuk tantangan, yaitu speed dan level. Makin tinggi makin seru dan berat. Sering berebut main dengan saudara. Dulu game-nya masih hitam putih, tiap kali di pause keluar gambar kopi. Kecepatan tangan jadi kekuatan utama. Paling seneng pas numpuk bata yg tinggi, trus muncul bata baru yang susun 4 lurus. Bonus nilainya tinggi. Sekarang tetris udah bervariasi, berwarna dan jenisnya banyak. Malah menghilangkan mood.

Play station (PS), pulang sekolah (kali ini udah STM) sewa di rental. Game sejuta umat: Winning eleven. Tak usah ditanya pakai tim mana, jelas selalu warna biru. Dalam rantau ada teman yang punya PS, jadi pulang kerja sering main sampai lupa waktu. Paling seru PS 1, karena operan dan gocekannya lebih mudah dikendalikan. Speed Sheva paling mengerikan, tiap dapat bola selalu tekan run dari sisi (biasanya) kiri dan jarang ada yang bisa kejar, lalu shoot! Persentase goalnya tinggi. Ketika PS 2 akhirnya rilis, saya susah adaptasi, bola oper sering mantul dan tak senyaman PS 1. Apalagi tim yang saya mainkan sering kali bukan tim dengan nilai skil tinggi macam MU, Barca, Madrid, atau Inter. Sampai saat ini saya belum pernah pegang PS 3, atau karena tak ada niat juga. Sometimes, classic is so good.

HP paling keren yang pernah ku miliki adalah N-GAGE QD. Walau tanpa kamera HP ini luar biasa menyenangkan. Para gamer seperti di-ujo untuk melepas hasrat. Luar biasa, HP ini menawarkan sesuatu yang tak ada sebelumnya buat pecinta game. Game yang nyaman dalam mobile, mulai dari bentuk fisik sampai aplikasinya. Game paling sering kumainkan adalah Fifa, Sonic, Sky force, Pilot. Saya pernah berjanji tak akan menjualnya, akan kupakai HP ini sampai kapan-pun. Sayang niat tinggal niat, pada januari 2007 ketika pulang dari Mal Lippo dengan menenteng Novel Harry Potter 7 seharga 200-an ribu, setelah nonton film Golden Compass (Hello Lyra!!) dan dengan keceriaan yang membuncah. N-gage ku hilang di kos Ruanglain_31. Dua hari menangis, ga makan ga tidur, ga mau hidup (heleh lebay!). Sampai keluar kutukan, siapapun yang mencuri semoga busuk di neraka! tiga hari kemudian kutukan kucabut, legowo dan hidup terus berjalan. Sialnya HP pengganti adalah 7610, HP clurit yang mengherankan!

Era komputer, game semakin menggila dan sangat amat banyak sekali (aku bolt, garis bawah, italic). Kalian tak kan bisa memainkan semua walau semua sisa hudupmu kau kerahkan. Sedikit saja yang kusinggung. Zuma, lempar bola, samakan warna dan merdeka! Beach head 2002, one man shooter. Tentara yang menyerang di sekeliling, kita habisi semua. Insaniquarium, pelihara ikan dalam akuarium. Dari kecil sampai penuh. Gold Miner, menambang emas.

Nah yang terakhir ini yang (mungkin) paling seru. Size-nya kecil tapi sangat addicted. Keluaran PopCap. Di tempat kerja saya sampai lupa waktu, rela pulang telat guna lanjut terus. Set! Plant! Addicted game yang ku maksud adalah game Plants vs Zombies. Game-nya simple, aturannya sederhana. Tanam tanaman di kebun dan di atap guna mencegah serangan Zombie yang mau masuk ke rumah kamu, mereka mengincar otak Anda. Game tower defence teraneh yang pernah saya mainkan. Cuman rada beda ama tower defence dan klon-klon-nya yang pernah dibikin. Kalo kebanyakan game tower defence kan tower-nya dipasang dipinggir jalan yg dilalui monster, tapi ini justru dipasang dijalannya.

Disini yg berfungsi sebagai tower itu tanaman dan moster-nya zombie. Karena tanamannya ditanam di jalan yg dilalui sama zombie, jadi bisa aja dimakan sama zombie-nya. Game yang unik, karena kita dituntut untuk menjaga rumah tetep aman dari serangan zombie. Dengan system single player, kita cukup menggunakan mouse. Setelah big boss dikalahkan semua zombie bernyanyi dan berdansa, so tertawalah! Get ready to soil your plants! All Hail Crazy Dave!

Ini adalah sebagian kecil game yang pernah kumainkan. Di atas saya belum menyebut pac-man, jewel mania, Street fighter, final fantasy, god of wars, sniper elite, alien shooter, hamster ball dan masih banyak lagi. Oke, Cuma mau tegaskan. Saya bukan maniak game, saya hanya mau sharing bahwa jika ditanya apa game favorite-mu? Tiap waktu selalu berubah sesuai kondisi terkini. Yang pasti untuk saat ini Game of the year pilihanku adalah Plants vs. Zombies. There’s zombies on your lawn! Bagaimana dengan Anda?

Ruang TLP06 – Cikarang, 170611

Warning: PvZ is funny, crazy and ridiculous! So addicted.

Karawang, 050114

(review) A Cup of Tea For Writer: Curhatan Penulis Merangkai Karya

Gambar

Sabtu, 11 Januari 2014 saat ada ajakan dari CISC Karawang untuk nonton bareng sepak bola EPL antara Chelsea vs. Hull City di Karawang Central Plaza saya iseng ke toko buku ketika jeda pertandingan. Sebenarnya sih sedang mencari bukunya JK Rowling (pakai nama samaran si Richard itu tuh) yang baru, tapi berhubung belum ada maka penjelajahanku mengantar pada sebuah buku motivasi buat nulis, terbitan Stiletto. Yang menjadi magnet untuk membelinya adalah cover yang simple dan tulisan back cover yang mengintimidasi. “Belakangan ini, menulis terdengar sangat seksi. Begitu banyak orang yang ingin menjadi penulis. Motivasi mereka pun beragam. Dari mengisi waktu senggang, ingin terkenal, hingga mencari nafkah. Impian untuk menjadi seterkenal JK Rowling pun melambung. Terkenal, royalty melimpah, tulisan difilmkan, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan seterusnya. A cup of tea for Writer membagi semangat itu pada para pembaca. Semangat itu akan menyala di hati, menerangi. Menghangatkan. Selamat membaca sambil menikmati secangkir teh Anda.”

Nasehatnya kujalakan, dengan segelas teh porsi  besar akhirnya saya menikmati buku kumpulan kisah inspiratif para penulis Indonesia. Dengan cuaca hujan yang saat ini lebih sering menyapa, saya membaca kisah-kisahnya dengan tempo cepat. Saya ingat, waktu itu saya iseng twit sebelum membacanya. Seperti biasanya saya selalu sharing sama teman-teman di media social bacaan apa yang sedang kunikmati. Tak ada sehari saya kelar membacanya.

Buku ini berisi 20 kisah (curhat) para penulis baik senior ataupun yunior, mulai dari awal mereka membangun karya. Dengan rincian: 14 penulis terpilih sebagai kontributor, 4 penulis tamu (Reda Gaudiamo, Ika Natasah, Ollie, dan Dian Kristiani) serta 2 penulis editor Stiletto (Triani Retno A dan Herlina P Dewi). Benar-benar perjuangan (mayoritas) meraka dari awal. Kisahnya ditarik dari basic bahkan ada beberapa cerita yang menariknya sampai saat masih Sekolah Dasar. Senang susahnya menerbitkan karya perdana, pertentangan dengan keluarga akan profesi yang tak menjanjikan sebagai penulis, teror calon penulis yang tak lolos seleksi, sampai nasehat harus bermental baja karena akrab dengan kata penolakan dari penerbit. Banyak bertebaran kata-kata mutiara sebagai penyemangat bagi yang berniat menjadi penulis.

Beberapa kalimat yang menembak hati saya adalah:

“Aku berusaha mempertahankan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Yang kuyakini hingga saat ini adalah jika aku mengejar kekayaan, aku akan hancur. Namun jika aku menjalani semuanya dengan ikhlas dan mensyukuri sekecil apapun yang kudapatkan, aku akan memperoleh lebih banyak hal besar untuk kusyukuri. Hidup adalah rangkaian proses yang tak ada habisnya. Begitu pula dengan dunia menulis. Ada proses yang harus kulalui. Di sinilah aku pada akhirnya. Aku bukanlah penulis. Aku hanya seseorang yang merangkai impian melalui jalinan kata indah yang tak akan ada habisnya. Aku mencandu kata-kata, aku akan terus berada di dalam dunia kata hingga kelak aku berkata pada dunia bahwa aku pernah ada.” (Monica Anggen)

“Ketika kau tak bisa mengucapkan sesuatu, tidak usah takut karena kau masih bisa menulisnya. Lakukan sekarang dan kau akan merasa lega.” (M. A. Sitanggang)

“Touching lives with words. Sounds superficial and cheesy, but sometimes it’s happen, and when it’s does, I’m flattered” (Ika Natasha)

“Pada akhirnya hidup adalah memilih dan memilah. Meniatkannya dengan kuat, meyakininya sepenuh hati, lantas memperjuangkannya sekuat tenaga. Selebihnya, terserah Tuhan hendak menggiring ke mana.” (Lalu Abdul Fatah)

“Begitulah. Bersama buku, aku bermimpi dan hidup. I do really love my job.” (Herlina P Dewi)

“Akhirnya aku bangkit. Jika satu pintu tertutup, aku harus membuka pintu yang lain. Banyak kesempatan di luar sana yang bisa kuraih. Menerbitkan buku tadinya hanya sebuah impian yang ingin kuwujudkan tanpa tahu kapan waktunya. Aku bersyukur karena masih ada celah untukku.” (Juliana Wina Rome)

“Hal paling mendasar yang bisa kita dapatkan dari menulis adalah bahwa menulis itu menyenangkan. Sangat menyenangkan. Dengan menulis kita bisa menciptakan sebuah dunia baru lalu melakukan apa saja di dunia itu.” (Whianyu Sanko)

Dan tak kusangka, twit saya mendapat retwit dari Stiletto pada tanggal 16 Januari 2014. Review ini sekaligus menjawab bahwa saya juga menikmati kegiatan menulis, yah walau hanya sekedar ulasan di blog. Ehemm…

Gambar

Karawang, 300114