Magi Perempuan Dan Malam Kunang-Kunang #24

Caraku membutuhkanmu serupa rasa sepi yang tak bisa kutanggung.” – Carson McCullers, The Heart is a Lonely Hunter

Sebagian besar cerita pendek di sini pernah dimuat di surat kabar lokal dan nasional. Cerita pendek yang memang pendek. Awalnya kurang nendang, cerita dari daerah tentang hantu-hantu yang melegenda, lambat laun menjadi seru karena melibatkan banyak tema, sampai sampai keluar negeri, hingga hikayat yang dibelokkan dan misteri dalam buku yang dimodifikasi. Dan inilah 21 cerpen karya Guntur Alam.

#1. Peri Kunang-Kunang
Cerita dari daerah. Kunang-kunang dari kuku orang mati bukan hanya dari Jawa, dari Sumatra legenda itu juga ada. Dul, Padet, Liman dan anak-anak malam itu penasaran dengan cerita bujang lapuk yang suka memanggil peri kunang-kunang. Malam itu mereka sembunyi mengintip ritual di rumah limas tua. Cerita alasan mengapa sang bujang ga kawin-kawin padahal rupawan dan mapan, akhirnya disampaikan. Bagaimana bisa ada orang yang memanggil arwah pujaan hatinya, lalu bercinta? “Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bias menyihir kita.”

#2. Tem Ketetem
Ini kisah terlarang. Kisah yang hanya akan sekali kau dengar. Dari kampung Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, bulan di langit malam memberi pertanda. Jika mengembang serupa jantan bujang isngusan itulah masa yang menyusup cemas, menyekam bala dalam balutan pekat. Mantra pengusir kecemasan, tem ketetem, sape tepi kulambani, sape tengah kukerok ijat mate… cerita lama sang gadis jelita Ketetem yang tersohor dalam memilih suami. Namun semesta mencatatkan takdir bencana. Malam seperti itulah Ketetem akan menuntaskan dendamnya. Cantik itu luka. “Itu rahasia sang Semesta, Bak.”

#3. Malam Hujan Bulan Desember
Malam ketika ayah membunuh ibu, hujan turun dengan deras. Malam dalam Kidung Natal yang bergema di gereja samping kontrakan. Cara membuka kisah yang menarik. Sebut saja nama ayahnya Joe dan ibunya Maria. Sang aku bahkan baru tahu identitas ayahnya, dan bagaimana kisah ‘keluarga kecil’ ini terbentuk lalu ditarik mundur. Maria yang terpesona ketampanan Joe di masa muda. “Kami jatuh cinta pada pandangan pertama.” Cinta yang menggebu mereka menghasilkan janin, Maria mempertahankan, Joe tidak. Sebagai calon dokter masa depannya sangat terancam, malam itu usiaku 4 bulan dan air mata ayah menetes di pipiku.

#4. Maria Berdarah
Ia mengaku bernama Mary. Hanya Mary. Ia datang membawa luka dan kegelapan yang sulit disibak. Pastor muda yang melayani dalam gereja itu kedatangan wanita yang berlumpur dosa. “Bapa, tolong aku. Tolonglah pendosa ini dari api neraka. Aku sudah bersekutu dengan iblis, Bapa. Kegelapan akan selalu hidup dalam diriku, walau berkali-kali aku memotongnya” Guntur ikut menyalak ketika sebuah angin tornado tercipta dalam dada perempuan itu.

#5. Gadis Buruk Rupa dalam Cermin
Kisah klasik gadis yang bertanya kepada cermin. “Cermin ajaib, siapakah gadis tercantik di dunia?” dan jawaban mereka selalu sama, “Ratu Ravenna-lah yang tercantik.” Kisah lama yang dituturkan dengan modifikasi, bagaiaman hikayat Ratu Ravenna menjelma jelita. Pengorbanan dengan ritual darah gadis dan bujang. Dan kisah dibelokkan ke Putri Salju. Ia bosan menjadi istri raja tua, ia ingin yang lebih muda, yang bergairah dan hangat.

#6. Tamu Ketiga Lord Byron
Tak ada yang tahu siapa tamu ketiga tuan Byron pada musim panas 1816 selain Mary Wollstonecraft Golwin dan kekasihnya, penyair Percy Bysshe Shelley di kastil megah Danau Gevena. Ah ini kisah fiktif tentang Penulis legendaris Frankenstein. Sang aku menjadi orang berikutnya yang bertutur, bahwa tamu ketiga sudah bilang kepadanya. Malam itu mereka berlomba menulis kisah mencekam. Tamu ketiga tidak ikut menulis, ia di sana karena penasaran hantu budak tuan Byron yang mati dicambuk. Dan di menara kastil itulah tamu ketiga bercerita rahasi besar sang taun rumah: Lord Byron bergumul dengan adiknya, Augusta Leigh!

#7. Dongeng Nostradamus
Legenda Michael de Nostredame, menulis surat dari abad 16 dari kota kecil St. Remy di Prancis. Kupikir ini lawakan, sempat akan kubuang surat itu tapi rasa penasaran mengalahkannya. Surat itu dari masa lalu, untukku di tahun 2012. Mungkin masa depan akan pincang karena kelancangan yang diperbuat. Durat itu memprediksi bayi tujuh bulan dalam kandungan istriku berjenis kelamin laki-laki. Dan prediksi berikutnya membuat terhenyak, anakmu adalah pembawa rahasia suku Maya yang hilang. Dan kecemasan melanda kami.

#8. Boneka Air Mata Hantu
Boneka yang berasal dari air mata hantu. Terdengar menyeramkan dan tak masuk akal. Seumur hidup aku tak pernah melihat ibu tersenyum, tidakkah itu ganjil? “Aku tidak bisa tertawa lagi karena penjual tawaku sudah diculik oleh hantu perempuan.” Dan inilah kisah lama, sang penjual tawa adalah pemuda tampan. Mereka awalnya bahagia, sampai tragedi origami tercipta.

#9. Tentang Sebatang Pohon yang Tumbuh di Dadaku
Apa kau tahu arti mencintai?

Jika aku mencintaimu apakah itu salah?”

Mencintai adalah kebebasan rasa yang ada dalam hati.”

Pergilah ke neraka dan jangan kembali lagi. Ini kisah terlarang Danu dan Nando.

#10. Dongeng Emak
Dongeng yang dibacakan emak tentang penyihir yang tak pernah tua sedang murka menuntut balas kepada sang guru. Cerita yang tak pernah usai, didongengkan berulang kali namun tak pernah selesai. Hingga suatu malam emak memutuskan menceritakan endingnya. Berhasilkah sang penyihir menuntaskan balas?

#11. Almah Melahirkan Nabi
Gadis bisu delapan belas tahun melahirkan anak-laki, malah tak kelihatan bunting dan belum bersuami. Karena tak bisa mengucapkan siapa laki-laki yang harus bertanggung jawab, ia hanya ah uh bilang dan tak bisa menuliskan nama. Desas-desus merebak. Saat orang-orang menuduhkan si A, si B, si C, dukun beranak Emak Yesaya bilang, “Almah, melahirkan nabi. Dia disetubuhi Jibril.”

#12. Kastil Walpole
Hikayat Tuan Horace Walpole yang malang, kisah cintanya yang tragis dan misterius seperti dalam novel The Castle of Otranto yang ia tulis. Tuan Walpole meninggal tahun 1797, hidupnya laiknya cerita gotik yang ia tulis sendiri. Dan Thomas Gray mencoba menjelaskan.

#13. Hari Tenggelamnya Van der Decken
Kapal dagang VOC yang tenggelam tahun 1641 di Tanjung Harapan dengan rute Batavia ke Holland menyimpan misteri. Karena hantu Flying Dutchman? Karena bencana badai? Sejatinya ada di sini, ternyata instrik keluarga yang menjadi petaka. “Aku akan menaklukkan badai dan melewati semenanjung ini, walau kiamat menghadang.”

#14. Sepasang Kutu, Kursi Rotan, dan Kenangan yang Tumbuh di Atasnya
Ini adalah cerpen yang dipilih jadi sinopsis di kover belakang. Kursi rotan yang penuh kenangan. Kursi warisan ibuku yang paling berharga. Di kursi rotan itulah konon ayahnya menjelma kutu lalu menyusup dalam anyaman. Sejak saat itulah ibunya selalu menjaganya. Kenapa ayah jadi kutu? Untuk menyelamatkan dunia. Kelak bila misi usai ia akan kembali. Mendusta? Mengada-ada? Hinga suatu ketika kursi rotan itu bisa berbicara mengungkap fakta!

#15. Lola
Tentang Lola yang dikenalnya di kafe Ubud, Bali. Lola dari San Francisco, Budi asli Indonesia bertukar kata tentang literasi dan seni. Saling memuja, saling mengenal. Namun ini kisah tak biasa, ini Lola yang istimewa, sebuah perpisahan di Pura Ubud Dalem membuat Budi harus berpikir lebih keras, ada misteri tentang kakek buyutnya.

#16. Kotak Southcott
20 Desember 1814, di London yang dingin William Sharp berjalan di gelap malam dalam guyuran slaju. Apa hal yang membuat sang wanita dalam wahyu memintanya menghadap? “Kedatangan Shiloh akan menjadi awal dari akhir dunia. Ia akan diangkat ke urge (surga) dan akan dikirim kembali ke dunia jadi saksi berkahirnya dunia. Ia sudah ada dan siap lahir dari rahimku 19 Oktober 1814.” Dan Southcott berkata, “Aku wanita yang ada dalam wahyu.” Dan kematian mendadaknya membuat Tanya, kotaknya dibuka dan berisi gulungan kertas, lotere dan tiket kuda-pistol.

#17. Kematian Heartfield
Ini kisah dari novel Haruki Murakami dalam novel Dengarkan Nyanyian Angin. Buku yang luar biasa indah, kali ini dirusak oleh sang Penulis, entah kenapa analisis kematian Heartfield yang bunuh diri loncat drai menara Empire State Building tahun 1938 seakan mengada-ada. Yang pasti, menurutku ini cerpen terburuk.

#18. Tiga Penghuni dalam Kepalaku
Yang pertama seorang laki-laki gagah yang datang kala emak mencekiknya, melawan dan meminta lari. Kedua, bocah penakut yang suka meningkuk dalam gelap. Ia datang saat bang Codet menyeretku ke toilet umum di pelabuhan Merak. Ketiga gadis manis yang menetap di kepalaku, yang datang kala Kang Asep penjual makanan yang suka memberinya makan. Lalu suatu ketika ketiganya melakukan perlawanan.

#19. Hantu Seriman
Hantu yang berasal dari kampung kecil di Kabupaten Penungkal Abab Lematang Ilir, Tanah Abang. Jangan sekali-kali merajuk di petang kelam. Hantu menakutkan yang muncul di kala pergantian terang ke gelap. Hikayatnya, ada seorang gadis jelita bernama Serina (tanpa ‘h’ ya) yang menikah dengan bujang yang biasa, ia meminta talak, dan pantangan sana wanita meminta cerai. Awalnya sang anak bernama Seriman yang magrib belum pulang, dan dicari. Tak kunjung pulang, dan tragedi dicipta.

#20. Anak Pintaan
Tidak semua, hanya anak pintaan yang punya empat tetek.” Anak Pintaan adalah anak yang didapat setelah orang tua bermunajat kepada Tuhan YME agar dikaruniai anak laki-laki, mereka percaya bahwa anak pintaan adalah reinkarnasi leluhur. Ini dongeng dari kajut (nenek) kepada cucunya.

#21. Lima Orang di Meja Makan
Kisah mencekam di meja makan. Renata yang mengeluhkan kehidupan. “Ternyata kematian itu begitu indah. Aku baru menyadarinya.” Drama keluarga yang disajikan dengan daging yang renyah, pisau dan garpu di kedua sisinya, anggur merah yang beriak dan racun yang cukup untuk mengakhiri hidup.

Beberapa kali saya membaca cerpen Guntur Alam di Kompas Minggu, memang sangat produktif. Ini adalah buku pertama beliau yang selesai kubaca, kubeli sehari jelang ulang tahun September lalu, kuselesiakan baca dalam #JanuariBaca2019 dan akhirnya baru sempat kuulas. Paling senang cerita Almah Melahirkan Nabi, ada semacam misteri yang menggantung. Kovernya bagus banget, bis ajadi salah satu daya pikat kenapa kuputuskan beli. Kumpulan cerita yang renyah, dengan ekspetasi biasa saja ternyata berhasil memenuhi harap. Buku kumpulan Cerpen memang tak senikmat dalam satu cerita novel utuh, tapi jelas pendekatan yang berbeda juga harus diapungkan, dan Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang ternyata sukses memikat hati.

Magi Perempuan Dan Malam Kunang-Kunang | Oleh Guntur Alam | 6 15 1 74 001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Ilustrasi sampul Pramoe Aga | Editor Yemima Lintang | ISBN 978-602-03-1939-1 | Skor: 4/5

Karawang, 260619 – Sherina Munaf – Ada

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day24 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami #7

“Ia memang laki-laki aneh. Hampir seharian ia sendirian di taman kota ini. Sebentar bediri, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Pandangannya tajam selalu menatap ke arah depan seperti tidak peduli pada orang di sekitar. Dan tiba-tiba mereka hanya mendnegar tubuhnya ambruk.”

Buku kedua bulan Juni tahun ini sengaja saya membaca buku non mainstream, mencari dari terbitan kecil, setelah lelah dari lebaran, mudik dan rangkaian panjang libur, pengen santai. Ada beberapa pilihan yang ada di rak, beberapa terjemahan, malah ketemu yang penulis lokal. Bacaan terjemahan penulis Dunia sudah sangat banyak, maka buku tipis ini saya pilih. Dua hari selesai, dibaca santai di kala setelah subuh, jelang tidur atau jeda istirahat kerja. Yang paling unik kubaca di teras rumah kala tidak dibukakan pintu di malam Sherina ulang tahun. Tema-tema yang ditawarkan sederhana, sebagai lulusan pesantren sang penulis memang banyak mengambil tema reliji, walau ga semilitan jadi buku agama, cerpen yang lumayan seru. 14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek.

#1. Lelaki Izrail
Tentang Pak Ulak Ulu, lelaki yang bisa (secara tak mengaja) meramalkan kematian. Awalnya njeplak otomatis, menasehati seseorang agar lebih banyak beramal, banyak ibadah karena usia tak ada yang tahu. Ternyata esoknya beneran tewas. Kejadian yang dikira hanya kebetulan itu, terulang lagi, dan lagi sehingga diapun didapuk lelaki peramal kematian.

#2. Matilda
Perempuan hebat di bawah lima tahun, pembaca sastra dunia, rakus melahap buku dan tampak aneh. Tentu saja otomatis kita akan menyebut Matilda, karakter terkenal karya Roald Dahl yang punya daya telekinetis menggerakkan benda ala Profesor X. Di sini lebih sederhana, sebuah keluarga mendapat kunjungan anak asing bernama Picataka setiap Senin-Jumat sore hari untuk numpang baca. Buku-buku tebal dilibas, remaja putri empat tahun yang aneh itu ternyata tak senyata yang terlihat karena suatu hari iseng diikuti, rumah tempatnya tinggal adalah rumah kosong. Lho?

#3. Percintaan Firdaus dan Janneti
Asmara anak pesantren. Sang aku adalah semacam pujangga pondok ‘Raja Kata-kata’, menuliskan surat cinta dengan biaya traktir. Maka Firdaus yang siswa senior suatu hari jatuh hati dengan siswa pondok sebelah ketika beli sayuran. Janneti yang dikirimi surat ‘cinta’ oleh Firdaus menjawab dengan berbunga. Maka disepakati hari untuk bertemu, untuk mengklaim kakak-adik. Sang aku ikut senang, surat buatannya bisa membantu mewujud kisah cinta cinta itu, hingga hari H yang harusnya berbunga menjelma petaka.

#4. Migrasi Para Hantu
Kisah hantu turun temurun dari ayah sang pencerita lalu dituturkan ke anaknya. Kisah hantu yang sudah umum, lazim di kampung halaman dikisah ulang kepada anaknya. Bagaimana hantu-hantu masa silam suka iseng menampakkan diri. Sang anak diluar duga malah antusias, dan meminta izin untuk ke kampung halaman. Untuk mencari bukti? Yah, anak muda zaman sekarang, ajak teman-teman mereka berencana jadi semacam ghost buster. Duh!

#5. Seorang Perempuan di Masjid Kami
Perempuan aneh yang menginap di masjid kita. Tanpa banyak tanya, tanpa basa-basi. Agamanya yang bagus, tingkahnya yang baik membuat warga menerima dengan terbuka. Musafir yang bijak, mengikuti kajian, ibadah bagus, membantu sesama. Lama-lama membuat tanya identitas sesungguhnya. Siapa gerangan yang menebar ilmu dengan teladan ini?

#6. Pa’aliran Caran
Cerita tentang pawang buaya yang legendaris. Adalah Caran yang menjadi penakluk buaya, bisa bertahan berjam di dalam air, bisa mencari hal gaib di air. Sebagai pawang buaya senior, suatu hari ada anak tenggelam gara-gara acara mancing yang awalnya dilarang. Sudah lama Caran tak melakukannya, dan iapun kembali menyelam mencari kebenaran di dasar sungai.

#7. Libur ‘Aisya
Cerita mencari tempat liburan yang tak biasa. ‘Aisyah yang anak kota akan liburan musim panas, beberapa opsi disodorkan. Dari yang umum dari buku panduan wisata sampai kampung desa yang ada di pelosok, tapi apa istimewanya? Maka sang aku pun menawarkan liburan di pesantren, belajar agama? Wuihh… ide bagus. sebulan dua bulan ‘nebeng’ belajar agama, apa respon ‘Aisya?

#8. Perempuan Pembunuh Terang
Tentang perempuan sakti yang mematikan semua cahaya malam, lampu-lampu ditembak, semua cahaya dimatika. Dengan kuda laiknya seorang pengelana, jagoan yang meminta kembali menjaga kekhusukan malam. Warga yang takut bergegas mematikan lampu, dan derap kuda yang menakutkan itu selalu terdengar bagi mereka yang berani menyalakan cahaya. Hingga akhirnya usul menembak bulan agar pekat tercipta itu mewujud.

#9. Oleh-oleh
Seorang cucu yang galau liburan ke Bali, pertentangan reliji. Terlahir dari pasangan agama Islam dan seniman, sang aku tampak bimbang mau ke arah mana kehidupannya. Darah seni menciptanya ingin melukis, Bali jadi detinasi, dapat pertentangan dari kakeknya yang kolot. Hingga akhirnya oleh-oleh baju khas agama Hindu itu diberikan, menjelma baju koko untuk ibadah ke masjid. Lega?!

#10. Teratai Kota
Ini mungkin kisah terbaik, tentang perenungan lelaki yang menyendiri di taman kota. Melihat, terpana, dan berdiskusi dengan bunga teratai kota. Bunga yang tumbuh liar, sebuah anugrah dari Tuhan ataukah makhluk buangan? Hingga kahirnya ia ditemukan di sebuah kamar rumah sakit. Nasehat aneh dari penjual madu.

#11. Rumah di Samping Kuburan
Membangun rumah di samping kuburan. Tentu banyak pertimbangan. Tentu saja ekonomi jadi alasan utama, sang Aku yang masih lajang awalnya ditentang keluarga, tapi ia keukeh membangun rumah dengan jendela menghadap kuburan. Tiap ada prosesi pemakaman, ia menyapa, tiap ada yang ziarah ia ikut berdialog. Hingga suatu hari ia melihat penampakan yang menjadi pertanda. Serigala kenapa tampak jadi ikon korupsi ya?

#12. Perempuan Kafe Senja
Perempuan dengan empat kekasih, kekasih di hari kerja, kekasih di akhir pekan, kekasih di malam hari dan yang satu entahlah. Perempuan tanpa nama itu sering kali nongkrong di kafe sepulang kerja, hingga sang aku menyapa dan memulai menjalin kenangan.

#13. Kubur Penuh Cahaya
Agak aneh bagaimana bisa kubur warga biasa, penjual minyak luar kota bisa memancarkan cahaya? Desa yang awalnya biasa menjelma riuh. Jadi keramat, jadi tempat ziarah, jadi sakral. Mencipta hal-hal gaib, cahayanya memang tak muncul terus, hanya sesekali, tanpa teknologi ya. sampai kapan?

#14. Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin!
Tentang penangkapan terduga teroris. Pak Atin kena ciduk juga, padahal beliau terkenal sebagai orang alim yang tak neko-neko. Maka kisah dirunut bagaimana bisa. Ternyata bermula dari tiga pemuda yang menitipkan jual buku, buku-buku aliran radikal yang menyeret pak Atin jua. Walaupun dalam prosesnya ia kembali bebas, setidaknya benar adanya hidup itu tak mudah.

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami | Oleh Hairus Salim HS | Desain sampul Rahman | Tata letak Gapura Omah Desain | Ilustrasi Rahman | Penerbit Gading | Cetakan satu, September 2012 | x + 130 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-16776-1-5 | Skor: 3.5/5

Karawang, 130619 – James Ingram – I Dont Have The Heart

#Day7 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Kumpulan Budak Setan

Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?

Saya mengenal Abdullah Harahap belum lama, tiga tahun lalu lewat novel mistik Kolam Darah. Cerita peseteruan keluarga terkait warisan dan keturunan yang dibalut kengerian saling serang sihir dan lempar tuah. Andai ga baca tulisan kover belakang yang mengandung inti cerita bisa jadi ceritanya akan lebih resep. Mitisme lokal dengan jimat, dendam, hingga jualan kengerian darah yang membuncah. Status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khasanah sastra. Edisi kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan ini ternyata dipersebahkan untuk beliau. Berisi dua belas cerita, ditulis tiga Pengarang handal tanah air dari komunikasi tiga kota. Eka dan Intan sudah mengenal beberapa karyanya, untuk Ugoran, ini adalah buku pertama beliau yang kunikmati. Saya berstrategi membacanya ga berututan dari halaman satu beriring runut terus sampai akhir buku, tapi satu cerita dari satu penulis, lalu cerpen berikutnya ganti penulis lain, lanjut lagi dan kembali muter. Jadinya gaya bercerita yang kukhawatirkan monoton karena dari tangan yang sama dapat dihindari, dan alhasil sukses. Sungguh bagus kisah-kisah di buku ini. Tema variasi, tapi tetap hal-hal gaib menyelingkupi semuanya.

(1).Eka Kurniawan
#1. Penjaga Malam
Kisah para peronda yang ditikam kesunyian pekat. Bagaimana mereka menjaga kampung, mengawasi segala yang potensial membahayakan warga, badai menambah menakutkan diseling mati listrik dan sesekali mengerjap. Lalu satu per satu menghilang. Sebuah tindakan beresiko yang mengabai keselamatan. Pace-nya memang lambat tapi nikmat diikuti karena memang kekuatan utama ketenangan malam yang disaji. Gelap pekat membuat kita serasa dikubur hidup-hidup.

#2. Taman Patah Hati
Untuk memutuskan kekasih harus sampai ke Jepang. Memang sulit untuk mengakhiri hubungan, lebih mudah memulai. Keputusan berat yang terpaksa diambil itu melibatkan keberanian, mitos dan pengorbanan yang tak sedikit. Kita bertemu lagi dengan karakter bernama Ajo Kawir, tokoh penting di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas. Mia Mia yang dan danau di taman Inokashira.

#3. Riwayat Kesendirian
Salah satu yang terbaik. Seorang ilustrator yang sudah memiliki pacar, mendapat tugas menjaga temannya teman, dititipi untuk numpang tidur di apartemen. Awalnya tak ada rasa, tapi riwayat kesendirian mencipta drama saat kedua insan terpisah. Sang gadis bernama Ina Mia, dari nama perempuan Chairil Anwar, ia dipaksa kawin sama pilihan orang tuanya, dan sebuah telpon untuk janji temu meluluhlantakan bata lego yang disusun. “Bolehkah aku bertemu denganmu?”

#4. Jimat Sero
Menurutku ini yang paling bagus. Pembukanya mengupas kulit bawang paling luar, lalu kupasannya perlahan sekali, menarik minat pembaca sampai akhirnya saat sampai di inti, ternyata kupasan terbaik ada di permukaan! Ga nyangka. Seorang penakut yang kena perisak di sekolah, dibantu Rohmat, seorang anak yang istimewa, siapa saja yang memukulnya akan kena damprat. Sekembali dari kampung melanjutkan hidup, segala takdir berubah lurus dan nyaman berkat jimat sero. “Tak ada yang perlu kamu risaukan.” Benarkah?

(2). Intan Paramaditha
#5. Goyang Penasaran
Tak pernah mabuk judi atau mabuk minuman, tetapi mabuk janda ternyata lebih berbahaya. Kisah yang keras dan berdarah-darah. Jelas kover buku diambil dari cerita ini. Penyanyi dangdut yang mencoba insyaf, terusir dari kampung dan saat kembali sudah mengenakan hijab. Sebuah taktik dendam disusun, kepala desa yang baru sang pengagum itu dituntun dalam goyang penasaran di tepi jalan. Keras. Sadis. Mencekam. Hal hal remeh cenderung meruap dari ingatan. Zina yang sering tak kita sadari wahai kaum muslimin dan muslimat adalah zina mata.

#6. Apel dan Pisau
Kisah nabi jelita Yusuf yang membuat para wanita menggoresi tangan mereka dengan pisau. Pesona gossip, arisan keluarga dan ketamvanan yang haqiqi. Apel yang matang, perempuan-perempuan yang matang, dan Yusuf yang memukau. Sinisme kaum hawa yang pandai bergosip laiknya kena batu. Cik Juli dan magnet sihirnya. “Apelnya memang enak.”

#7. Pintu
Keluarga terpandang, kaya, dan kematian tragis dalam sebuah mobil kutukan, Mercy Tiger merah metalik tahun 1982. Cerita tragis sebuah keluarga pasangan Bambang dan Ratri mencoba kembali menurut fakta saling silang selingkuh. Namun ternyata asmara dan dendam arwah menghantar pada kepahitan lain. “Mari, temani aku jalan-jalan.”

#8. Si Manis dan Lelaki Ketujuh
Ini yang paling aneh. Wanita buruk rupa sedang mencari mangsa, lelaki yang diperbudak seks dengan imingan gaji menggiurkan. Seorang penganggur yang sudah berkeluarga dengan berat hati menerima tawaran, gaya bercinta ala kisah sang putri salju dan tujuh kurcaci di mana drama sandiwara penculikan dicipta, scenario itu berantakan saat titik didih sudah di puncak. “Karena aku menyukai eksperimen.”

(3). Ugoran Prasad
#9. Penjaga Bioskop
Cerita hantu di bioskop yang angker, sang penjaga bioskop Rusdi yang menjadi saksi dari awal sekali gedung dibuat smampai akhirnya esok dirobohkan. Saat film terakhir selesai diputar, sang penjaga mengenakan pakaian terbaiknya dan mengucapkan salam perpisahan. Ternyata tak seperti yang tampak di permukaan. Sebuah rekaman suara memberi kengerian di balik kabar angin kesereman gedung. “Aku datang. Aku di sini terus. Aku menemanimu terus.”

#10. Hantu Nancy
Cerita balas dendam yang tak biasa. Pembunuhan sang gadis salon yang merentet kematian demi kematian semua orang yang terlibat. Hikayat hantu di kampung Kebon Sawah yang menguar kengerian di udara. Zulfikar dan bau rambut terbakar. “Aku mimpi ketemu Nancy. Dia bilang mau balas dendam.”

#11. Topeng Darah
Level kekerasan kelas satu, satu tingkat di atas Goyang Penasaran. Sadis, tragis, dan tak berperi. Sebuah iklan aneh yang menjual barang langka, sebuah topeng abad 19 dengan harga tak masuk akal, Iskandar iseng, berbuntut panjang dan penyesalan. Percobaan demi percobaan itu seperti candu.

#12. Hidung Iblis
Sang lelaki belang yang membantai lelaki belang dengan pemacing hasrat istrinya sendiri, Mirna yang jelita. Berkelit masalah ekonomi, petualang cinta, setia kawan atau pengianat, sampai drama saling ancam dalam penyelesaian proses kriminal. Endingnya twist. “Seberapa sering kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisika?”

Sejatinya semua ini bermula dari Gentayangan. Novel pertama Intan Paramaditha yang masuk lima besar Kusala Sastra 2018 ini membuatku penasaran karya lain, Sihir Perempuan menjadi buku ke 100 yang kubaca tahun lalu. Dan dari komentar teman di sosmed bahwa ada kumpulan cerpen Intan kolaboratif, bilang cerpennya yang paling menawarkan kengerian, maka jadilah kunikmati juga buku ini. Eka Kurniawan jelas adalah salah satu Penulis besar yang masih hidup saat ini. Penghanggaan demi penghargaan internasional adalah bukti, ia memang Penulis jempolan. Terbukti lagi, di sini. Empat cerpennya kurasa yang terbaik. Ketenangan bernarasi menjadi kekuatan utama, menyimpan rapat kejutan masih menjadi andalan, hingga fakta itu dibuka di penghujung. Riwayat Kesendirian itu luar biasa lho, tak ubahnya sebuah lipatan origami yang menghasilkan angsa terbaik. Ina Mia dan kesedihan takdir yang tercipta. Ugoran ternyata jua penulis hebat, empat cerpennya sudah cukup untuk bekal mengarungi cerita-cerita lain beliau.

Kuhirup udara seolah-olah aku ingin memasukkan seluruh udara di dalam ruangan ke dalam tubuhku, dan siapa pun yang bersembunyi di balik udara, akan tersirap dan mendekat ke arahku. Dan sebagaimana budak sejati, kami juga berada di tengah-tengah: antara keinginan untuk merdeka dan kesetiaan yang tak terjelaskan.

Kumpulan Budak Setan | Oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad | GM 616202044 | Desain sampul eMTe | Setting Sukoco | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, 2016 | ISBN 978-602-03-3364-9 | Skor: 5/5

Untuk Abdullah Harahap

Karawang, 070319 – 160319 – Ronan Keating – I Hope You Dance

Nyepi Day – Undian 8 besar UCL – Liga Sparing

White Fang – Jack London

Sekarang meraunglah, sialan. Meraunglah!”

White Fang menjadi buku kedua yang saya baca dari Penulis legendaris Jack London setelah The Call of the Wild yang fenomenal itu. Ini semacam prekuel (atau sekuel ya, entah duluan mana terbitnya), kalau The Call dari anjing rumahan menjadi ganas di alam, White Fang malah dari makhluk liar dan keras menjadi takluk pada manusia, atau di sini disebut dewa. Ia mematuhi kehendak para dewa. Mereka pembuat api, mereka adalah para dewa!

Cerita sama gilanya. Karena entah kenapa peristiwa yang berkaitan dengan makhluk hidup selalu terjadi dengan cara berbeda. Hebat sekali Jack, bisa memasuki dunia binatang seolah ia adalah bagian dari makhluk itu. Merasakan bagaimana kengerian di alam liar, menerornya dalam banyak sergapan. Dan inilah epitaph dari seekor enjing yang mati di jalur Northland – lebih singkat dari epitaph anjing-anjing lainnya, dari epitaph seorang manusia. Pengalamannya di Klondike, Yakon yang dingin jelas adalah inspirasi dari trilogi ini, satu lagi buku Martin Eden jelas dalam pemburuanku. Melihat banyak pemburuan mangsa dan mulai ikut ambil bagian.

Kisahnya tentang anjing blesteran serigala. Ayahnya seekor serigala, memang, ibunya seekor anjing, tapi bukankah abang White Fang mengikatnya di hutan selama tiga malam pada musim kawin? Ya, ceritanya panjang berliku. Kita dirunut dari orang tua White Fang, masa kecilnya hingga akhirnya nanti berkeluarga. Runut, tenang, lalu mengganas tak terkendali. Bermula dari perjalanan dua manusia di tengah hutan bersalju dalam kereta yang ditarik enam anjing. Mereka ada perjalanan membawa mayat dalam peti Lord Alfred, perjalanan sulit itu berakhir bencana. “Pemakaman jarak jauh adalah sesuatu yang tak sanggup kita dapatkan.” Satu persatu anjing penariknya tewas diterkam, serigala liar. Pertama Fatty, lalu Frog, berikutnya Spanker, lalu Bill bersumpah. “Terkutuklah jika aku melakukannya. Aku sudah bilang tak akan minum kopi kalau ada satu ekor anjing yang menghilang lagi, dan aku tak akan melakukannya.” Apakah terhenti? Tidak, perjalanan ke Fort McGurry masih panjang. Anjing keempat dan pada akhirnya pada kedua manusia itu terhempas, tersudut menanti maut. “Aku pernah dengar para pelaut membicarakan ikan hiu yang mengitari sebuah kapal. Serigala adalah hiu darat. Mereka lebih memahami urusan mereka dan mereka bukan mengikuti kita demi alasan kesehatan. Mereka akan membunuh kita. Mereka pasti akan membunuh kita.”

Berikutnya kita fokus pada binatang penarik segala bencana ini, serigala betina penggoda. Kalau ini digambarkan manusia, pastinya sangat cantik sampai menjadikan pertarungan pertaruhan demi menjadi pasangannya. Serigala liar itu saling bunuh dan bantai demi cinta serigala jelita ini, dari kawanan ini pada akhirnya yang tersisa hanya empat ekor, serigala betina, pemimpin muda, si mata satu dan serigala berumur tiga tahun yang ambisius. Saya sempat meprediksi bakalan menjadi pasangan muda, tapi ternyata tidak. Jack dengan berani mematikan mereka yang ambisius dan kokoh, yang menjadi pemenang adalah One Eye yang tua dan terluka. Karena ini adalah pencitraan alam liar, tragedi seks dunia alami yang hanya menjadi tragedi bagi mereka yang mati. Bagi mereka yang tidak mati, ini bukan tragedi, melainkan kesadaran dna pencapaian. Mereka menjalin cinta di tepian Mackenzie River, memadu kasih dan memiliki lima bayi serigala yang dirawat di gua. Nah disinilah sisi hebat buku ini, filosofis dan sungguh hebat kata demi kata yang disaji. Bukan pertama kalinya hal semacam ini terjadi dalam hidupnya yang panjang dan sukses. Ini sudah sering kali terjadi, tapi setiap kali selalu terasa mengejutkan baginya.

Jack dengan jeli menanamkan diri dalam bayi abu-abu serigala, bagaimana ia membuka mata, kelaparan menanti ibunya untuk memberi susu atau gumpalan daging lembut. Sisi manusiawi yang tersentuh dalam kaca mata bayi binatang. Menghilang di balik dinding merupakan keistimewaan ayahnya, seperti susu dan daging setengah cerna yang menjadi keistimewaan ibunya. Cahaya menarik mereka seakan-akan mereka tanaman, reaksi kimia kehidupan yang membentuk mereka menuntut cahaya sebagai sebuah kebutuhan hidup, dan secara kimiawi tubuh kecil mereka merangkak tanpa melihat. Yang terkuatlah yang bisa bertahan di kerasnya hidup, empat saudara abu-abu meninggal. Ia mendapati populasi dunianya sudah berkurang. Hanya tersisa satu saudara perempuannya. Saudarinya terus tidur, jerangkong kurus berbalut kulit yang nyala apinya semakin lemah, lemah dan akhirnya padam. Dan bayi serigala ini mencoba mencari jawab terhadap ‘sebuah dinding putih’ yang di sini adalah pintu tempat tinggalnya. Ia tidak tahu apapun mengenai konsep pintu. Ia tidak mengenal tempat lain, apalagi cara mencapainya. Jadi baginya pintu masuk gua adalah sebuah dinding – dinding cahaya. Dinding melompat di depan matanya. Ia menduga dirinya dalam dinding.

Bayi abu-abu belajar di dunia luar sendirian setelah lapar menyergap dan orang tua mereka tak kunjung datang. Menyaksikan arti bertahan hidup di sekeliling. Lynx dan landak sama-sama menunggu, masing-masing bertekad untuk hidup. Dan itulah sisi menarik dari permainan ini, jalan hidup satu makhluk bergantung memakan makhluk lain, dan jalan hidup makhluk satunya bergantung dengan tidak dimakan. Rasa takut! Tahukah kau, mereka sudah yakin mengenai kita. Sementara itu, mereka bersedia memakan apa pun yang bisa mereka temukan dan makan. Warisan alam liar yang tidak bisa dihindari maupun ditukar dengan makanan oleh hewan mana pun. Ada adegan unik, saat sang serigala muda ketakutan akan serangan elang. Dan tahulah kalian secara harfiah, ini adalah derby Roma. Elang memang terlalu perkasa, mengintai di udara, menerkam segala yang bisa dimakan di darat, serigala terbirit-birit. Ia tidak pernah merasakan sakit terjatuh, ia tak tahu apa itu jatuh. “Hewan itu tahu lebih banyak dari yang seharusnya diketahui oleh seekor serigala penuh harga diri.”

Didikan alam liar menjadikan bayi abu-abu kuat, adaptifnya yang cepat juga menempanya menjadi serigala pemburu yang tak kenal ampun. Ia menjadi kuat karena pernah tahu dirinya terancam hewan lain sehingga tahu apa itu mangsa. Tubuhnya yang mengagumkan ini, kulit yang hidup ini tidak lebih dari seonggok daging, sebuah pemburuan hewan-hewan lapar, yang akan dicabik dan disayat oleh taring-taring lapar, dijadikan makanan bagaikan rusa dan kelinci yang sering kali menjadi makanan mereka. Ia memiliki kekuatan alam. Rasa takut luar biasa menderanya, ini dunia asing yang mengerikan. Karena sesuatu yang asing merupakan elemen utama yang menyebabkan rasa takut. Pertumbuhan adalah kehidupan, kehidupan selamanya ditakdirkan untuk cahaya. Cahaya ya cahaya itu adalah kehidupan di luar gua, di alam liar, di dunia ini. Ia juga dibuat pening oleh perluasan ruang yang mendadak dan luar biasa ini. Sehingga ia mengenal rasa sakit, dan yang paling penting, ia belajar cara menghindari rasa sakit, pertama-tama dengan tidak megambil risiko akan sesuatu yang sakit. Ia mendapati dirinya menjadi seorang petualang di sebuah dunia yang benar-benar baru.

Di dunia ini tidak semuanya bebas, bahwa di dalam hidup ada batasan dan kekangan. Seluruh batasan dan kekangan ini merupakan aturan, mematuhi aturan itu merupakan jalan untuk menghindari rasa sakit dan jalan untuk mendapat kebebasan.

Bayi abu-abu tahu rasanya sakit saat ayahnya tak terlihat lagi beberapa lagi, tak kembali memberinya makan. Di tepi sungai dan sekelilingnya menjadi tempat bermain dan mencari mangsa. Alam liar tetaplah alam liar, dan ibu adalah ibu, selalu sangat protektif, entah di alam liar atau bukan. Ibunya tetap menjaga, tapi sampai kapan? Karena musim berganti, masa sulit datang dan pergi. Maka bayi abu-abu belajar mandiri. Ia baru saja menghancurkan beberapa makhluk hidup kecil. Sekarang ia akan memusnahkan makhluk hidup besar. Waktu demi waktu menjadikan pengalaman berharga. Ia terlalu sibuk dan bahagia untuk menyadari ia bahagia. Tujuan kehidupan adalah daging, kehidupan itu sendiri adalah daging. Kehidupan hidup dari kehidupan. Ada pemangsa dan mangsa, aturan adalah makan atau dimakan. Baginya kematian adalah rasa sakit yang paling hebat. Kematian adalah inti dunia asing gabungan seluruh teror dunia asing, satu-satunya bencana tak terduga dan tertinggi yang terjadi padanya. Hantu penasaran dari kebaikan dan kekuasaan yang diimpikan, potongan jiwa ke alam arwah.

Benar-benar filosofis kehidupan. Apa bedanya dengan manusia? Mencoba bertahan hidup di tengah pencakar langit yang sombong menjulang. Nah, sehalanya berubah ketika si abu-abu beranjak dewasa dan menemukan manusia. Rombongan manusia, asing dan tampak sangat berbeda dengan makhluk lain. Kekuasaan mereka akan benda-benda mati, kemampuan mereka untuk mengubah wajah dunia. Abu-abu lalu takluk oleh mereka, mengikuti hidup dalam perkemahan, merelakan kebebasannya dengan mau diikat.

Dan disinilah akhirnya kita tahu asal judul buku ini. White Fang – taring putih, bos pertama mereka memberi nama. Perubahan besar ini membuatnya dilema. Rasa penasaran pertumbuhan yang menyemangatinya – kebutuhan untuk belajar, hidup, dan melakukan sesuatu yang menghasilkan pengalaman. Dan dalam perkumpulan perkemahan ini, ia mengenal anjing lain. Lip-lip yang sombong dan seolah pemimpin binatang warga. Ini adalah perkelahian pertama dari banyak perkelahian yang dilakukan dnegan Lip-Lip, karena mereka musuh sejak awal, terlahir seperti itu, dengan sifat-sifat yang ditakdirkan untuk saling selalu bertentangan. White Fang sempat ingin kabur. Ia rindu pada rumah. Berlari kencang, menyongsong gua tepi sungai tapi ternyata sifat alami tunduk pada dewa mengantarnya mengikuti jejak langkah perkemahan. Desakan insting-insting sama yang membuatnya melolong pada bulan dan bintang di malam hari, dan membuatnya takut pada kematian dan dunia asing.

Begitu banyak hewan-manusia, pria, wanita, dan anak-anak semuanya mengeluarkan suara dan mengesalkan. Tidak dibutuhkan keimanan besar untuk mempercayai dewa semacam itu, tidak ada tekad kuat yang sanggup menyebabkan keingkaran terhadap dewa semacam itu. Tidak ada cara menghindarinya. Saat mengetahui ibunya sudah berubah, saat itu juga White Fang harus kuat. Hidupnya kini di tangan para dewa, dari satu tangan ke tangan lain, dari perkelahian satu ke perkelahian lain. Seekor anjing lengah, yang pundaknya tercabik atau telinganya robek sebelum ia menyadari apa yang terjadi, adalah anjing yang sudah separuh terkalahkan. Sebelum mengenal para dewa, Kiche adalah pusat semesta baginya. Dan sifat-sifat manusia yang berbeda tipa individu menghasilkan cinta benci yang tarik ulur. Sebenarnya ini merupakan kompensasi, karena selalu lebih mudah untuk bergantung kepada orang lain daripada berdiri sendiri.

Lempung White Fang sudah dibentuk hingga ia menjadi dirinya yang sekarang, pemurung dan kesepian, tidak penyayang dan galak, musuh bagi semua kaumnya. Sekolah kehidupannya lebih tangguh dan ia sendiri lebih tangguh. Vitalitasnya terlalu besar, cengkramannya pada kehidupan terlalu kuat. Dan pada akhirnya White Fang menemukan cinta, seorang manusia memberinya perlindungan, memberikan pelukan sayang dan makanan yang mencipta timbal balik. Endingnya seolah adalah cerita awal The Call, terlalu manis dan sempurna. Apa yang kamu tanam ya kamu tuai. Hidup serigala yang keras dan liar kini tenang dalam peluk dekap para dewa yang mencintainya.

Dengan resiko apapun harus tetap bergerak, terus bergerak, karena gerakan adalah ekspresi dari keberatan. Ia berlari sepanjang hari. Ia tidak beristirahat seakan-akan ia diciptakan untuk berlari selamanya. “Aku menyerahkan diriku di tanganmu, ketahuilah aku di bawah kehendakmu.

White Fang | By Jack London | Diterjemahkan dari The Project Ebook of White Fang, by Jack London | Release date: March 16, 2005 [ebook #910] | [Last update: March 2, 2011] | Penerjemah Harisa Permatasari | Penyunting Jia Effendie | Proofreader Bernard Batubara | Desain sampul Amanta Nathania | Penataletak Landi A. Handwiko | Penerbit GagasMedia | Cetakan pertama, 2014 | vi + 330 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 979-780-700-2 | Skor: 5/5

Karawang, 120319 – Nikita Willy – Ku Tetap Menanti

*) Dibaca dalam sekali waktu dari siang sampai malam minggu pada tanggal 23 Feb 19 di lantai satu Blok H-279 bersama dua cangkir kopi serta deretan Jazz, menikmati hidup. Hanya tersela ibadah dan panggilan pulang Hermione untuk bergegas keburu es krim di rumah meleleh.

Bajak Laut Popcorn – Alexander McCall Smith

“Kita bisa melemparkan sebuah botol yang berisi pesan di dalamnya. Mungkin akan ada seseorang yang menemukan dan mengambilnya, lalu datang menyelamatkan kita.”

Cerita anak-anak memang selalu menyenangkan saat kamu menempatkan diri juga ke posisi sudut pandang anak-anak. Dari Penerbit Buah Hati yang memang melabeli diri sebagai childre’s book, kisahnya jelas sangat ringan, renyah bak popcorn yang meletup riang di lidah dan ternyata asyik jua. Bajak laut, popcorn, petualangan, serta terutama nama duo karakter Hermione dan Lucy. Buku mungil ini jelas nikmat dilahap. Kubaca Januari tahun lalu, dalam sekali duduk di Bus Taka Taman Kota Galuh Mas, Karawang saat menemani Hermione main ayunan, prosotan, bersama segelas es teh dingin dalam udara sore yang sejuk.

Kisahnya imajinaf, bahwa dalam peta Jamaika ada empat titik pulau di sebelah selatannya. Mereka terlalu kecil untuk dinamai, tapi sebenarnya titik-titik ini adalah kepulauan popcorn. Tak ada yang tinggal di sana, kalaupun ada kapal-kapal yang tersesat, terdampar, maka itu hanya sementara, karena kapal penyelamat akan datang dan membawa mereka keluar. Kakek Lucy mengubahnya.

Kakek Lucy melakukan penemuan hebat, menanam jagung (popcorn) di pulau itu dan sukses besar sehingga mereka kini menjadi keluarga petani popcorn. Awalnya nama pulau itu adalah Pulau Besar, Sedang, Kecil dan Mungil. Ini kisah tentang Lucy, saudaranya Sam dan temannya Hermione dalam mengarungi lautan melawan para perompak. Saat musim panen, kapal pengangkut datang. Sang kapten bernama Foster dengan anjing penjaga Biscuit. Sehari setelah kapal bermuatan popcorn diisi mereka berangkat.

Lucy dan Hermione yang bertetangga suka main lampu sorot untuk komunikasi, mereka akan saling kasih kode dari kedua jendela saat malam tiba. Dan esoknya kabar buruk tiba, kapal kapten Foster dirampok bajak laut. Dari sang kapten kita tahu, para bajak laut sungguh lihai. Kejadian pertama ini pastinya bukan pula yang terakhir. Besok mereka akan melakukan pelayaran lagi, kekhawatiran perampokan terulang kini membayangi.

Hermione memiliki ide bagus, mereka akan ikut berlayar esok. Lucy dan Sam juga turut serta, perjalanan beresiko tapi orang tua mereka mengizinkan. Pelayaran dimulai, “Kuharap kita takkan bertemu dengan bajak laut. Aku merasa sedikit ketakutan.” Namun demi keseruan cerita, tentu saja hal itu tak terwujud. Mereka berangkat sore harinya, saat malam menjelang laut begitu tenang, dan mereka berjaga bergantian.

Malam terlangsung damai, tak ada hal-hal yang mencurigakan terjadi.

Setelah sarapan mereka berpapasan dengan kapal pengangkut pisang dari Florida menuju Kepulauan Cayman. Kirain akan ada hal penting terjadi dengan kapal lain ini, ternyata bukan cuma selingan. Yang ditakutkan terjadi setelah siang harinya, ada kapal dari samping yang dicurigai kapal bajak laut. Dan benar saja mereka mendekat, rencana pun dijalankan. Anak-anak serta Biscuit lalu masuk ke dalam karung, untuk diam. Sang Kapten menyambut para perampok. Bajak laut itu bernama Bert dan Stinger. Saat penggeledahan, karung-karung yang bermula disampaikan kosong, mereka percaya sampai akhirnya Biscuit menggonggong. Mereka kini menjadi tawanan, Kapten Foster diikat dan kapal kembali melaju.

Mereka mempekerjakan Hermione dan Lucy di dapur menjadi asisten Miss Bert, Sam menjadi petugas galangan kapal, memanjat tiang, menjadi petugas cleaning sampai menjaga arah layar. Empat bajak laut lainnya kini kerjanya malas-malasan: Charlie, Bill, Ed dan Tommy. Jangan berharap ketegangan disampaikan, walau kini mereka jadi tawanan tapi kisah disampaikan dengan jenaka. Bagaimana Sam mengelabuhi para perampok dengan adanya kapal yang mendekat, tapi nyataya tak ada.

Rencana sesungguhnyapun dijalankan. Lucy yang tahu para penjahat itu malas dan serakah, memberi usul agar besok siang mereka memasak pocorn dan dengan tanpa curiga mereka setuju. Besok paginya kompor ditaruh di tengah dapur, berkarung-karung bahan disiapkan. Setelah minyak dipanaskan, popcorn-pun ditaruh. Tepat tengah hari, butiran popcorn-pun mulai melakukan tugasnya. Awalnya sedikit yang mengembang, menjalar dan kemudian ‘pop’ banjir popcorn terjadi. Begitu banyak popcorn yang mengembang, meletup, meledak bagiakan ratusan kembang api kecil, hingga luber ke tepian bak mandi aluminium sampai memenuhi kapal! Para bajak laut tertawa, dapur penuh popcorn, tapi saat akhirnya membludak, meluber hingga melewati batas, mereka terjebak dalam kepungan makanan! Lalu dengan mudahnya penjahat ini balik ditangkap.

Selesai.

Sederhana sekali bukan? Ya. Petualangan anak-anak melawan bajak laut, menang dan mereka kembali. Kapal bajak laut, menjadi milik para penyelamat. Para perompak, dipenjara lalu tobat. Menjalani hidup lurus, dan kisah ini ditutup dengan kejadian biasa. Segalanya kembali normal di pulau popcorn. Oh indahnya hidup. Semua penuh hati yang baik, masyarakat pemaaf dan damailah dunia.

Alexander McCall Smith lahir di Zimbabwe pada tanggal 24 Agustus 1948. Penulis cerita anak yang produktif, sudah mencipta lebih dari 50 buku termasuk serial Ladies Detective agency yang laris di banyak Negara. Tahun 2004, Alexander McCall Smith meraih British Book Awards dan Bestseller Association Author. Alexander McCall Smith tinggal di Inggris bersama istri, memiliki dua anak bernama Lucy dan Emily. Beliau ternyata juga seorang musisi pemain bass yang tergabung dalam RTO ( Really Terrible Orchestra).

Bajak Laut Popcorn adalah serial buku anak, kisah lainnya juga sudah diterjemahkan Lentera Hati. Buku anak-anak, dibaca orang dewasa yang cocoknya memang untuk didongengkan kepada anak-anak. Sepakat.

Bajak Laut Popcorn | By Alexander McCall Smith | Diterjemahkan dari The Popcorm Pirates | Copyright 1991 | Penerbit Buah Hati | imprint dari Penerbit Lentera Hati | Penerjemah Harisa Permatasari | Penyunting Herlina Sitorus | Penata letak Lulu Triardhian Helmy | Desain kover Farid Noor Fadillah | Ilustrasi isi Farid Noor Fadillah | Cetakan pertama, April 2010 | ISBN 978-979-18832-8-3 | 140 hlm.; 19 cm | Skor: 3/5

Karawang, 250219 – Helen Merril – Baby Ain’t I Good To You

Oscar Day 2019 – Thx to Bustaka Taman Kota Galuh Mas

14 Buku Terbaik 2018

Musik ini bukan untuk Anda, ini untuk zaman mendatang.” – Beethoven

Tahun ini saya menyelesaikan baca 110 buku. Fiksi masih sangat mendominasi, novel masih menjadi golongan terdepan. Setelah beberapa tahun terakhir saya tak membuat daftar buku terbaik, maka inilah saatnya saya kembali menyusunnya. Aturan sederhana, bila ada Penulis yang tercantum lebih dari satu karya maka akan diambil satu saja yang terbaik, tak ada batasan tahun terbit, tak ada garis fiksi-non-fiksi serta hilangkan garis Penulis lokal atau terjemahan. Awalnya ketika saya sarikan muncul 27 buku, maka terpaksa saya pangkas, pangkas, pangkas, padat. Dari Summer, Kass, Never Let Me Go, The English Patient, Misteri Dian Yang Padam, Lacasa de Papel, Gentayangan, sampai Fathers and Sons dengan segala hormat kena coret satu senti garis finish hingga di daftar pendek. Tahun ini benar-benar banyak buku lima bintang – sempurna, maka daftar ini adalah jaminan puas menikmati. Berikut susunan 14 buku terbaik yang kubaca selama tahun 2018:

#14. A Man Called Ove – Fredrik Backman | Penerbit Noura | Tahun Terbit 2016

Buku si tua penggerutu yang kocak, awalnya ikut sebal dan merasakan apa yang Ove rasakan lantas teriak lantang, “Benar juga” karena Negara Swedia yang makmur itu juga jiwa sosialnya ga jauh beda dengan lingkungan kita sekitar, sebagian kecil tentunya dari sudut pandang seorang kakek. Kisah menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga kita merasa dekat dengan sang protagonis. Dengan alur satu bab maju, satu bab mundur lalu dipertemukan jelang akhir, kita menemui banyak sekali drama dan keterkaitan orang sekeliling Ove. “Semua orang bilang begitu. Namun mayoritas tidak selalu benar.

#13. Harimau Harimau – Mochtar Lubis | Yayasan Obor | 1975

Penebusan dosa, pengakuan rasa bersalah. Sekumpulan pencari damar terjebak di hutan, di mana ada harimau lapar yang mengintai. Saat salah seorang diterkam dan sang harimau mengejar, semua diminta meminta maaf pada Tuhan atas dosa mereka. Rahasia-rahasia dibongkar, dan semua cuit nyali saat kematian begitu dekat.

#12. Ratu Sekop – Iksaka Banu | Marjin Kiri | 2017

Kumpulan cerita pendek yang bergizi. Bagus sekali, padat, satir dan menggugah. Total 13 cerita dengan tiga varian baru. Cetakan mungil, dengan kover aneh sang Ratu Sekop. Film Noir sebagai pembuka sudah membawa Pembaca ke dunia fantasi, plot tak lazim bagaimana pembunuhan adalah seni takdir. Kemana perginya superstar setelah meninggal?

#11. Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup | Banana | 2018

Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa tahun ini. Ketebalannya menantang kesabaran. Kisahnya dibagi tiga bagian, merentang jauh ke abad 17 di Bandar Lamuri, ujung Barat Indonesia hingga era kolonial di pergantian abad ke 20. Kura-kura Berjanggut adalah buku panduan membunuh sang sultan. “Kalau kalian tidak bisa membunuhku hari ini, kalian tidak akan pernah bisa membunuhku selamanya.”

#10. Timeline – Michael Crichton | Gramedia Pustaka Utama | 1999

Sekumpulan mahasiswa 1990an yang mendapatkan kesempatan untuk melintasi waktu kembali ke abad 14 di Prancis yang keras karena sedang bertempur dengan Inggris. Hanya punya waktu terbatas untuk menolong sang profesor yang tersesat. Kejar-kejaran, pamer teknologi, serta kemungkinan manusia bisa melakukan teleport. 150 tahun lalu ada orang bilang, suatu saat orang bisa bicara dengan benda tanpa kabel di seberang benua, pasti pada ketawa dikira orang gila. Sekarang? Lihatlah! Bagaimana kalau saat ini kita bilang bahwa manusia akan bisa dikirim ke masa lalu? Apakah kalian masih akan tertawa?

#9. Big Little Lies – Liane Moriarty | Gramedia Pustaka Utama | 2014

Gosip yang memakan korban. Dusta-dusta kecil yang menguar di udara oleh para orang tua itu menyeset kepekaan dan harga diri para pengantar anak-anak sekolah. Twist, bagaimana bisa sang pelaku kekerasan seksual yang sudah digaris itu ternyata tak seperti yang kita kira, mengingatkanku pada film Posesif yang rilis tahun lalu. “Biar kuperjelas. Ini bukan sirkus. Ini penyelidikan kasus pembunuhan.”

#8. Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom | Banana | 2017

Kumpulan cerpen dengan kover yang sedap dipandang, warna kuning sebagai latar dengan seekor musang di dalam cangkir di antara dua lainnya. Kover bak poster film art, film festival. Catchy nan mewah. Kisahnya ada di sekeliling kita, banyak mengambil setting warung kopi (atau agar lebih kelihatan mewah kita sebut saja kafe) sehingga menyeret kita dalam obrolan santai sekaligus menegangkan. “Ketimbang bikin agama baru, bikin Komunitas Hati Remuk Karena Sebab-Sebab Tak Tertangguhkan saja, Mas.”

#7. Matinya Penulis Besar – Mario Vargas Llosa | Immotal Publising dan Octopus | 2018

Kumpulan esai yang luar biasa indah. Menghantam nalar, menggelitik pikiran. Proses kreatif tulisan yang rumit. Andai banyak kumpulan pemikiran bisa semegah ini, saya akan lebih sering membaca esai. Pada dasarnya saya menyukai proses kreatif di balik karya. Llosa melimpahruahkannya dengan tikaman tanpa henti. Dalam Benarnya Kebohongan (1989), kalian akan terpukul bahwasanya cerita-cerita based on true story itu omong kosong. “Keadaan adalah bukan seperti apa kita melihatnya, tetapi seperti apa kita mengingatnya.”

#6. Ford County – John Grisham | Gramedia Pustaka Utama | 2012

A Short Story yang seperti kumpulan novelet. Cerita pendek namun sungguh panjang. Semua kisah bermuara di daerah Ford County, dan seperti biasa Grisham membumbui cerita bersinggungan dengan kebusukan pengadilan. Yang paling hebat adalah Kamar Michael, di mana seorang pengacara diadili di rumah kosong dengan intensitas ketegangan tinggi. “Wah, pekerjaanmu busuk Wade, karena melibatkan berbohong, menggertak, mengganggu, menutup-nutupi, tidak menunjukkan belas kasihan sedikitpun untuk orang yang terluka. Aku membenci pekerjaanmu Wade, hampir sebanyak kebencianku padamu.”

#5. 1Q84 Book 1 – Haruki Murakami | Kepustakaan Populer Gramedia | 2013

Kisahnya tak tuntas karena ini jilid pertama dari tiga. Khas Murakami yang memang jagonya meramu bualan imajiner. Dua karakter utama: Aomame dan Tengo, keduanya hidup di tahun pararelnya 1984. Seorang pembunuh berdarah dingin dengan jarum suntik dan satunya editor buku yang melakukan kejahatan terstruktur atas buku remaja: Kepompong Udara yang fenomenal. “Dalam rahasia ada satu prinsip penting. Yaitu semakin sedikit orang yang mengetahui rahasia itu, semakin baik. Sejauh ini di dunia hanya kita bertiga yang tahu rencana ini. Kamu, aku dan Fuka-Eri. Kalau bisa, aku tidak ingin menambah jumlah itu.”

#4. The 100: A Ranking of the Influential Persons in History – Michael H. Hart | Noura | 2012 | Catatan 3 | Catatan 1 | Catatan 2

Buku non-fiksi terbaik tahun ini. “Bila kita membandingkan matematika dari awal dunia ini sampai masa ketika Newton hidup, apa yang dia lakukan jauh lebih baik.” Berisi 100 manusia hebat yang pernah ada, ditambah 10 lagi di edisi revisi dengan 90 nama tercantum berikutnya. Nomor satu jelas Nabi Muhammad SAW. “Maka kita lihat, betapa monumen-monemun akal dan pembelajaran jauh lebih bertahan daripada monumen-monumen kekuatan atau karya tangan. Karena bukankah bait-bait Homer bertahan dua ribu lima ratus tahun atau lebih, tanpa kehilangan satu patah kata atau huruf pun. Dalam kurun waktu itu tak terkira banyaknya istana, kuil, benteng, kota yang telah membusuk dan hancur.” Yang mengejutkan, Penulis fiksi hanya satu, ada yang bisa menebak?

#3. Trilogi Insiden – Seno Gumira Ajidarma | Bentang | 2010

Tiga buku dalam satu bundel. #1. Saksi Mata, kumpulan cerpen. #2. Jazz, Parfum dan Insiden, novel dan #3. Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, kumpulan esai. Satu benang yang menyatukannya adalah tragedi di Dili tahun 1990an. Keberanian Bung Seno menulis kisah ini memberi konsekuensi berat karena di era Orde Baru, banyak fakta disulap seolah dongeng. “Kemerdekaan adalah impian terkutuk.”

#2. The Ocean at the End of the Lane – Neil Gaiman | Gramedia Pustaka Utama | 2013

Tahun ini saya membaca dua buku Gaiman, American Gods juga sangat bagus sayangnya terlampau mewah, dan menurutku kisah klasik sederhana yang bersetting di Inggris ini lebih berkelas. Sihir yang tak terduga, bagaimana ranting bisa menjadi kompas dan batasan-batasan dunia lain begitu nyata terlihat. Sungguh hebat, konsep ruang dan waktu yang dituturkan Neil. Salut. Saat akhirnya epilog kunikmati, seakan saya usai melahap puding-dan-pai-yang-manis, kau dalam masalah besar. Damn it! Saya jatuh hati sama karakter Lettie Hempstock. “Kau hanya perlu tumbuh dewasa dan berusaha untuk layak. Hidup ini memang tidak adil.”

#1. The Trial – Franz Kafka | Gramedia Pustaka Utama | 2016

Book of the year kita adalah karya lawas yang menghantui, diterjemahkan langsung dari Der Prozes. Bagaimana seorang pekerja dengan rutinitas kerja normal, yang menganggap dunia ini ya dinikmati suatu hari tiba-tiba ditahan polisi karena alasan tak jelas. Merasa tak bersalah, Joseph K dengan sabar dan tenang mengikuti persidangan demi persidangan hingga akhirnya kita tahu, masalahnya tak sesederhana yang kita kira. Kita seolah menaiki rollercoaster yang memusingkan, dan proses itu berujung sebuah tragedi. “Anda semua ternyata pegawai, sekarang saya tahu, Anda semua gerombolan tukang korup yang tadi saya bicarakan, Anda semua di sini berdesak-desakan sebagai pendengar dan pengintai, Anda semua berpura-pura tergabung dalam kelompok-kelompok, dan tampaknya tepuk tangan tadi dimaksudkan untuk menguji saya; rupanya Anda semua belajar cara menyesatkan dan membodohi orang yang tidak bersalah!”

Bagaimana dengan tahun 2019? See ya…

Karawang, 31 Desember 2018 – Sherina Munaf – Better Than Love

Christ The Lord: Out Of Egypt – Anne Rice

Saat Tuhan menciptakan dunia, Pengetahuan Tertinggi ada di sana seperti tukang kayu yang ahli dan kalau Pengetahuan Tertinggi bukan Tuhan, apakah Pengetahuan Tertinggi itu? “Yerusalem, tempat Tuhan berdiam di Bait Allah.” Tuhan ada di mana-mana dan Tuhan ada di Bait Allah.

Ini adalah kesempatan pertama saya menikmati karya Anne Rice, saya sudah jadi penggemarnya semenjak Sherinaku bilang menyukai An Interview With Vampire di web sherina-online.com tahun 2006 (jangan dibuka ya, web wajib doeleo tiap buka kompuer di warnet). Buku yang bervitamin. Baca dengan kepala jernih dalam tiga hari ini, pada dasarnya saya adalah pembaca segala rupa. Tahun ini saya tahu sejarah Sidartha Gautama karya Herman Hesse yang mengejutkanku. Tahun lalu saya tahu sejarah Nabi, istri dan sahabat Nabi yang beberapa juga mengejutkanku. Hari ini saya selesai baca Yesus Muda, yang tentu saja banyak hal baru kuketahui, dan juga mengejutkanku. Yesus memiliki kekuatan supernatural di usia muda. Menghidupi dan mematikan, menyembuhkan orang buta hingga mencipta burung layang-layang dari tanah liat. Sedari awal ia tahu, seorang malaikat telah mendatangi ibunya. Malaikat. Yesus bukan putra Yusuf.

Kisahnya dibuka di Alexandria, Mesir. Yesus bin Yusuf berusia tujuh tahun. Saat bermain sama anak-anak sebaya, tak sengaja ia menewaskan temannya Eleazar, Yesus yang ketakutan karena tak tahu mengapa, dilindungi keluarga, massa merangsek dan marah-marah menuntut. Lalu dalam ketenangan yang membuncah, ia menghidupkan kembali temannya. Kejadian itu membuat geger warga, Filo dan para guru yang tahu Yesus punya sesuatu yang istimewa memintanya untuk bertahan di Mesir dan menjadi muridnya, tapi tidak. Yusuf sudah memutuskan, semua keluarga pulang kampung ke Nazaret. Ada sesuatu yang disembunyikan, maka dengan kapal mereka meninggalkan Mesir. Ibuku dan Yusuf melindungiku dari sesuatu, tapi aku tak mau dilindungi terus. Jangan pernah bicara ini pada orang lain. Kau tak boleh bicara tentang kita dari mana saja dan mengapa, dan simpanlah semua pertanyaanmu dalam hatimu, dan pada saat kau sudah cukup dewasa nanti, aku akan menceritakan apa yang seharusnya kamu ketahui. “Rumah kita di Nazaret, kau punya banyak sepupu di Nazaret. Sarah menunggu kita di sana, dan Yustus. Mereka kerabat kita. Kita akan pulang.”

Tak usah khawatir tentang rahasia. Kami menuju Yerusalem. Pada hari Sabat semua orang Yahudi menjadi filsuf dan orang terpelajar. Begitu juga di Nazaret. Perjalanan berhari-hari itu berlabuh di Dermaga Jamnia lalu melanjutkan naik keledai setelah bermalam di penginapan. Mereka menuju Yerusalem dulu untuk berdoa, “peziarah, semua orang menuju Yerusalem. Seluruh dunia”. Pada hari ketiga, untuk pertama kalinya kami bisa melihat Kota Suci dari lereng perbukitan tempat kami berada. Kami anak-anak melompat-lompat senang. Kami bisa melihat semuanya, tempat suci yang selalu ada dalam doa kami, hati kami, lagu-lagu kami sejak kami lahir. Di sana sedang dalam kondisi kacau karena raja lalim, tapi mengapa Herodes membakar hidup-hidup dua guru Taurat? “Karena mereka menurunkan patung elang emas yang dipasang Herodes di atas Bait Allah, itulah sebabnya. Kitab Taurat mengatakan bahwa tak boleh ada gambaran makhluk hidup di Bait Allah kita.” Setelah memanjatkan doa, mereka pun menuju kampung halaman. “Tak seorangpun kecuali Tuhan yang berhak memerintah kami! Katakan itu pada Herodes, katakan itu pada kaisar.”

Cerita bergolak Yesus muda yang bertanya-tanya banyak hal. Kegelisahannya, memikirkan keganjilan. Lebih baik aku tidur sebab semua orang tidur, lebih baik hanyut oleh rasa kantuk seperti mereka terhanyut kantuk mereka. Lebih baik percaya mereka percaya. Aku berhenti mencoba untuk tetap bangun dan memikirkan semua itu. Aku mengantuk, sangat mengantuk, sehingga aku tak bisa berpikir lagi. “Kau jauh lebih bijak dari usiamu.
Di Nazaret, Yesus menemukan hal-hal baru. “Semuanya mungkin dilakukan Tuhan. Tuhan menciptakan Adam dari debu, Adam bahkan tak punya ibu. Tuhan juga bisa menciptakan anak tanpa ayah.” Sekolah, belajar kepada tiga rabi: Rabi Berekhaiah bin Fineas, Rabi Sherebiah, Rabi Yasimis. Ketiganya memiliki keunggulan yang meletakkan dasar-dasar ajaran Taurat. Yohanes telah dipersembahkan pada Tuhan sejak lahir. Dia tidak akan pernah memotong rambutnya, dan tak akan pernah membagi anggur makan malam. “Ya Rabi, seorang tukang kayu akan membangun rumah sang Raja. Selalu ada seorang tukang kayu. Bahkan Tuhan sendiripun sekarang dan dulu adalah tukang kayu.

Orang-orang bilang begitu. Malaikat datang ke Nazaret? Apakah benar-benar terjadi?” | “Tidak, orang-orang tidak mengatakan itu, tapi aku tahu.” Tanya itu satu per satu terjawab, walau dengan cara tersembunyi. Pada usia dua belas tahun, anak sudah dianggap dewasa untuk bertanggung jawab menurut Taurat.

Bagian ketika di Yerusalem memang rawan diskusi, sebagai kota suci tiga agama semua mengklaim sebagai yang berhak. Baca dengan jernih, semua dalam kasih. Gadis-gadis itu dipilih untuk membuat cadar Bait Allah karena semua hal di Bait Allah harus dibuat oleh mereka yang berada dalam kondisi suci. Dan hanya gadis-gadis di bawah usia dua belas tahun yang benar-benar suci; mereka dipilih dibawah tradisi, dan keluarga ibuku adalah bagian dari tradisi itu. “Bukankah mereka juga keturunan Abraham? Bukankah mereka juga keturunan Daud, keturunan Harun, keturunan suku-suku Israel? Bukankah mereka juga orang-orang saleh? Taat pada Taurat. Kukatakan padamu, mereka akan membawanya ke pedalaman dan di sana mereka akan mendidiknya dan mengasuhnya. Dan dia anakku sendiri, memang menginginkan ini dan dia punya alasan.” Yesus selalu dilindungi dari pengetahuan luar yang mencoba disusupkan. “Tak seorangpun mencarimu di sini. Kau tersembunyi dan akan terus begitu.” Alasan keluar dari Mesir pun terungkap. “Malaikat mengatakan padaku bahwa kekuatan Tuhan akan melingkupiku, lalu bayangan Tuhan akan menghampiriku – aku merasakannya – kemudian pada saatnya muncullah kehidupan dalam diriku, dan itu adalah kau.”

Kau harus tumbuh seperti anak-anak lain ataukah Daud kecil kembali ke kaumnya hingga mereka memanggilnya? Jangan biarkan ibumu sedih. Ya, bagian Yesus harus tetap tumbuh seperti anak-anak lain terus disampaikan. Segala tanya kelak akan terjawab. “Simpan apa yang akan kukatakan ini dalam hatimu, akan tiba saat kaulah yang akan memberi jawabannya pada kami.” Yesus malah tambah penasaran, kenapa ia bertanya malah nantinya ia yang memberi jawab? Dia sendiri tak mengerti beberapa hal, dan saat orang tak mengerti, dia tak bisa menjelaskan. Aku belum merasa takut. Aku masih terpaku, mati rasa. Ketakutan baru akan datang kemudian.

Ini Bait Allah kami, dan ini Rumah Tuhan; sangat mengagumkan karena kami bisa memasukinya dan sangat dekat dengan keberadaan Tuhan. Selama masih ada orang Yahudi di dunia maka akan ada Paskah saat Paskah! Gejolak di sana memang sudah terjadi sangat lama. Seperti ada masyarakat yang menentang. “Mengapa orang itu melemparkan batu, padahal dia tahu tentara itu akan membunuhnya?” dan pertanyaan itu dijawab ibunya, “Itu saat yang bagus untuk mati. Mungkin itu saat yang sempurna untuknya untuk mati.” Terdengar familiar di era sekarang? Ya.

Kenapa hal itu terus terjadi hingga kini? “Kita diasingkan di tanah sendiri. Itulah kebenarannya, karena itulah kita melawan. Mereka ingin mengusir keluarga raja yang menyedihkan ini yang membangun kuil-kuil berhala dna hidup seperti tiran memuja berhala.” Dan dalam sebuah riwayat. “Tuhan menepati janjinya pada Israel tapi bagaimana dan kapan dan dengan cara apa kita tidak tahu.” Terdengar familiar lagi? Ya. Di satu sisi, perang berlangsung dan keluarga Yusuf menggangap. Kita sudah keluar dari Yerusalem, kita sudah keluar dari masalah. “Bagaimana kita bisa tahu? Ada orang Farisi, juga imam, juga Essene. Semua mengucapkan doa, ‘Dengarlah anak Israel, Anak Allah, kita adalah satu.’”

Di mana tanah Israel berawal dan berakhir? Di sana, di mana orang Yahudi berkumpul dan mentaati Taurat. Aku juga melihat transformasi dari dunia kuno karena kemandekan ekonomi dan pengaruh nilai-nilai monoteisme, nilai-nilai Yahudi yang melebur nilai-nilai Kristiani. Dan aku tahu para pria mandi dan memakai baju baru sesuai dengan hukum Taurat, dan mereka tak akan lebih bersih hingga matahari terbenam. Karena itulah mereka tak langsung pulang ke Nazaret hari ini. Mereka ingin bersih saat sampai di rumah.
Seperti kalian satu-satunya yang tinggal di Nazaret. Seluruh kota ini menjadi milik kalian, dan seluruh populasi kota ini berkumpul di halaman satu rumah. Bukankah itu bagus?” Nazaret digambarkan desa yang tenang. “Kita akan segera sampai di perbukitan, jauh dari semua ini. Kau bersama kami. Dan kita akan pergi ke tempat yang damai. Di sana tak ada perang.” Jalanan berbatu dan tak rata, tapi angin bertiup sejuk. Aku melihat pohon yang dipenuhi bunga, dan menara-menara kecil di ladang, tapi tak terlihat seorang pun. Tak ada orang di mana-mana. Tak ada domba yang merumput, tak ada ternak. Hobinya memang menyendiri, menyatu dengan alam, menyepi. Aku berdiri dan keluar, senja mulai turun dan menyusuri jalan menuju perbukitan, dan mendaki tempat yang rumputnya lembut tak terganggu. Ini tempat favoritku, tak jauh dari pepohonan yang sering kudatangi untuk istirahat. Rasanya damai saat Yesus merenungi hidup di bukit dalam kesunyiannya. Aku berbaring di rumput meraba bunga-bunga liar dengan tanganku. Aku memandang di sela-sela ranting pohon zaitun. Aku ingin seperti itu – melihat langit dalam kepingan. Aku bahagia.

Ingatlah jangan pernah mengangkat tanganmu untuk mempertahankan diri atau memukul. Bersabarlah. Kalau kau harus bicara, bicaralah sederhana.” Ajaran-ajaran tanpa kekerasan juga muncul di banyak bagian. Kalau manusia ingin berperang, mereka akan mudah mencari alasan. Tidak ada yang bekerja, semua orang menghormati Sabat, tapi mereka berjalan pelan. Kegelapan mencoba menelan cahaya, dan kegelapan tak pernah bisa menelan cahaya. Dalam setiap diri kita, ada kisah menyeluruh tentang siapa kita. Kita pernah tinggal di Mesir seperti bangsa kita dulu, dan seperti mereka kita akan pulang juga.
Bukan masjid, bukan pula gereja atau pura. Tempat ibadah mereka adalah sinagoga. Air suci ini dibuat dari abu sapi betina merah yang disembelih dan dibakar di Bait Allah sesuai aturan Taurat untuk diambil abunya, dicampur dengan air hidup dari sungai di dekat sinagoga di ujung desa. Diberkatilah semua yang takut pada Tuhan, mereka yang taat padaNya. Aku akan keluar ke dunia dan melakukan apa yang menjadi takdirku.

Ada bagian yang membuatku tersenyum saat sepintas lewat menyebut “Eli sang imam”, menelusur imajiku ke film The Book of Eli yang berkisah tentang perjalanan menyelamatkan buku (kitab) dibintangi Denzel Washington. “Malaikat datang di mana saja, ke mana saja, kapanpun mereka mau.” Film itu adalah misi penyelamatan Injil, dan twist-nya adalah bukan buku fisik yang dibawa, tapi si Eli sendiri! “Aku datang ke sini dan berpikir, dan pikiranku berubah menjadi doa.” Hebat. Saya sampai terkejut, saat Eli terluka tapi dia dengan damai mendikte kitab untuk diarungi agar tak punah. “Aku tak mau tidur, aku akan melihat mereka kalau bermimpi.” Hal terpenting yang dilakukan Imam Besar adalah memasuki Ruang Maha Kudus di Bait Allah, tempat Tuhan menunjukkan beberadaan-Nya; tempat yang hanya boleh dimasuki Imam Besar. Apakah ending kisah di perahu itu Eli ada di Timur Tengah?

Dan sebuah ramalan bahwa akan lahir raja baru di Betlehem membuat raja Herodes berang, maka orang-orang majusi yang melihat bintang turun. Raja memerintahkan mencari anak itu, tapi Yesus sudah diselamatkan, pergi jauh ke Afrika. Kaukira mukjizat-mukjizat kecilmu itu akan membantu orang-orang bodoh ini? Kukatakan padamu, kekacauanlah yang berkuasa. Dan aku adalah Pengeran Kekacauan. Raja berang dan melakukan tindakan biadab, sekitar dua ratus anak dibunuh dalam kegelapan malam menjelang fajar, anak-anak dibawah dua tahun. Demi mencegah ramalan terwujud. Seram, sadis, kejam. Sepertinya seluruh dunia memelukku. Mengapa aku pernah berpikir aku sendirian? Aku ada dalam pelukan bumi, pelukan mereka yang mencintaiku, tak peduli yang mereka pikirkan atau pahami, pelukan bintang-bintang. “Wahai Tuhan seluruh alam, pencipta anggur yang kami minum, pencipta gandum untuk roti yang kami makan. Kami bersyukur karena kami akhirnya tiba di rumah dengan selamat, dan jauhkan kami dari marahabaya. Amin.”

Bagian kilas balik cerita ibunya juga bagus sekali dituturkan. Kamar itu dipenuhi cahaya begitu saja, terjadi tanpa suara. Cahaya itu ada di mana-mana. Semua benda-benda di ruangan masih ada, tapi dipenuhi cahaya. Cahaya yang tidak menyakiti mataku, tapi sangat terang benderang. Kalau kau bisa membayangkan matahari dan matahari tak melukai matamu, maka kau bisa membayangkan cahaya itu. Dia mengirimkanmu kepada Yusuf bin Yakub, si tukang kayu dan tunangannya Maria dari keturunan suku Daud di Nazaret bersama kami.

Endingnya bagus sekali. Bab terakhir itu sungguh lezat diikuti, menjawab tanya Jesus memberi detail hari di mana ia lahir. Yah, walaupun mungkin untuk sebagian besar umat itu bukanlah hal baru. “Kota itu sangat penuh malam itu, Betlehem, dan kami tidak bisa menemukan tempat menginap – kami berempat, Kleopas, Yusuf, Yakobus, dan aku… dan akhirnya penjaga penginapan mengizinkan kami bermalam di kandang. Kandangnya berupa gua yang terletak di sebelah penginapan. Sangat nyaman menginap di sana, karena hangat dan Tuhan menurunkan salju.”

Seluruh tubuhku sakit – bahu, pinggang, lutut – tapi aku bisa tidur. Aku bermimpi. Untuk pertama kalinya bagiku, tidur seperti sebuah tempat yang bisa dituju. Dan dari mimpi-mimpi itulah terjadi komunikasi dengan malaikat. “Kau berdoa agar turun salju, nah kau punya salju sekarang. Berhati-hatilah akan apa yang kau inginkan.”

Anne Rice terinspirasi buku karya Fredsiksen yang dengan indah menggambarkan kembali suasana Yahudi tempat Yesus kemungkinan tumbuh di Nazaret, dan kemungkinan Yesus pergi merayakan Paskah ke Bait Allah di Yerusalem bersama keluarganya. Fredriksen menekankan bahwa Yesus adalah orang Yahudi. Maka kisah ini utamanya ya saat-saat Yesus muda di sana. Bagian Mesir cuma tiga bab awal, setelahnya kita terus disuguhi petualang di kampung halaman dan sesekali ke Yerusalem.

Di bagian akhir Anne Rice memberi catatan bagaimana buku ini terwujud. Beliau adalah Kristiani taat, di sekolahkan dengan ajaran agama yang ketat. Sampai usia 18 tahun di masa kuliah ia berubah. Dipenuhi orang-orang baik dan orang-orang yang membaca buku terlarang untukku. Aku membaca Kiekergaard, Sartre dan Camus. Menikah dengan ateis Stan Rice yang berpedoman tulisan kami adalah hidup kami. Menikah empat puluh satu tahun, terpisah karena maut tahun 2005. Stan mendorong Rice untuk menulis kisah ini setelah ia terserang tumor otak. Lalu di New Orleans tempat lahirnya, Anne Rice kembali menemukan jalan. Bahwa buku berikutnya adalah tentang Yesus, maka riset dilakukan dengan berbagai cara bertahun tahun. Bibliografi tak ada akhirnya, perdebatan kadang menimbulkan dendam. Aku tak menyarankan adanya sensor, tapi aku menyarankan adanya sensitivitas, terutama bagi mereka yang membaca buku-buku religi. Aku beruntung hidup dalam lingkupan kasih sayang mereka, aku benar-benar diberkati. Dan jadilah Chist The Lord yang kita nikmati.

Apa yang kudapat seusai menikmati Young Messiah ini? Dengan sepenuh hati, ayolah baca karya-karyanya. Masih ada jutaan halaman dari seluruh buku-buku karya para Penulis yang harus kubaca, dan kubaca lagi. Masih banyak sekali bahasan tentang Josephus, Filo, Tacikus, Cicerio, Santo Paulus sampai Julius Cesar yang harus kubaca. Dari dulu saya ingin memulai Sartre, hiks mungkin tahun 2019 terwujud. Banyak sekali pemenang Nobel Sastra yang belum kulahap, banyak sekali karya klasik yang seakan tiba-tiba mengantre untuk kukejar. Banyak sekali buku-buku agama lain yang juga pengen kupelajari. Sungguh dunia ini maha luas, ilmu pengetahuan begitu banyaknya, kita beruntung di era digital karena buku-buku itu kini lebih terjangkau.

Aku terus belajar, aku terus membaca siang dan malam. Aku membaca, membaca dan membaca. Kadang aku pikir aku sedang di Lembah Kematian, saat aku membaca. Tapi aku terus membaca, siap mempertaruhkan segalanya. Semakin saya banyak membaca buku, semakin merasa bodoh. Banyak sekali hal-hal di luar sana, buaaanyaaak sekali ilmu pengetahuan yang tersebar di semesta buku, kita hanya tinggal menikmatinya, memilahnya, melahapnya. 100 buku per tahun takkan cukup hingga usia 100 tahun!

Jadi, “berdoalah!”, mari mengangkat tangan dan berdoa untuk kemakmuran bangsa, untuk saling menghormati kemajemukan Indonesia dan selalu dalam lindunganNya.

Terima kasih Sherina Munaf yang telah merekomendasikan, Terima kasih Anne Rice atas segala yang dicurahkan dan terima kasih Gramedia Karawang yang memberiku kesempatan menikmati karya ini. Aku belajar sesuatu dari setiap buku yang aku baca.

Kristus Tuhan: Meninggalkan Mesir | By Anne Rice | Diterjemahkan dari Christ The Lord: Out Of Egypt | Copyright 2005 | 6 16 86 005 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2006 | Alih bahasa Esti Ayu Budihapsari | Desain sampul Satya | Cetakan kedua, April 2016 | ISBN 978-602-03-2732-7 | 392 hlm.; 20 cm | Skor: 3.5/5
Untuk Christopher

Karawang, 251218 – Nikita Willy – Surat Kecil Untuk Tuhan