Semesta Murakami: The Art of Fiction Issue


Semesta Murakami by John Wray, dkk

“Aku suka membuat orang tertawa setiap sepuluh halaman.”

Terdiri atas tujuh cerita, plus satu pengantar dari Cep Subhan KM. menyenangkan sekali menyaksi Penulis favorit menjalani hari-harinya, ditulis dengan gaya santai dalam bentuk esai dan wawancara. Sebagian besar mungkin sudah sungguh familiar, atau karena berkali-kali dibaca, sekadar pengulangan, tapi mayoritas memang hal-hal asyik. Seperti proses kreatif menulisnya, sudah sering kubaca; bagaimana ia menulis dalam bermimpi, dan dalam daya imaji, itu adalah kegiatan mimpi yang bisa dilanjutkan. Atau bagaimana adegan drama yang memberinya ilham di lapangan olahraga dalam momen ‘eureka’ Aku bisa menulis, atau di bagian familiar hampir semua jagoannya menderita.

Sebuah Pengantar: Tenung Murakami oleh Cep Subhan KM

Bagus, isinya meringkas dan menjelaskan hal-hal yang memang harus dijelaskan. Sebagian buku yang disebutkan sudah dibaca, jadi nyaman sahaja, langsung klik. 1984 jelas rujukan utama 1Q84, keduanya sudah baca maka apa yang disampaikan mana yang lebih baik/penilaian secara keseluruhan mungkin berkebalikan bisa dengan jitu diserap. Aku sendiri sangat suka keduanya. Pengantar ditutup dengan apik dengan kalimat, “Tampaknya kekaguman kita terhadap Murakami, sedikit atau banyak, dipengaruhi oleh kekaguman kita terhadap dia sebagai subjek yang tak menyerah…” Amat langka menemukan penulis dengan keseimbangan menerapkan pola hidup sehat, dan mampu ikut marathon rutin! Hanya Murakami yang bisa.

#1. Menjadi Orang Asing di Negeri Sendiri oleh Laura Miller

Wawancara ini pertama terbit di salon.com pada 16 Desembr 1997. Bagaimana Raymond Carver memengaruhinya, adegan sumur terutama bagaimana ia terilhami anak yang terjatuh ke dalamnya seharian. Kalau kalian sudah baca, misalkan Kronik Burung Pegas; sumur menjadil simbol masuk ke dimensi lain. Menjadi tempat merenungkan kejadian antah yang merasuk ke sumsum. Termasuk adegan memilukan di Pembantaian Nanking dipindahkan ke panel Manchuria, di novel ada penggambaran prajurit yang tertangkap dikuliti hidup-hidup, atau membunuh dengan tongkat bisbol hanya untuk menghemat peluru. Lihat, imajinasi berhasil mencipta kengerian.

#2. The Art of Fiction Issue – Haruki Murakami oleh John Wray

Wawancara ini terbit pertama di tahun 2004 di The Paris Review. Tak salah penulis ini yang dipilih muncul di kover, sebab memang yang paling bagus. Panjang dan detail. Menjelaskan proses kreatif bagaimana inpirasi muncul. Jelas terpengaruh sama novel-novel lawas yang bagus. Dari The Great Gatsby, The Little Prince, buku-buku Kurt Vennegut, hingga bantahan bahwa novel-novelnya yang absurd apakah diilhami film The Spirited Away. Justru beliau sebut nama sutradara yang tak kukenal dari Finlandia: Aku Kaurismaki. Bakalan kuburu nih.

#3. Raja Kegelapan dari Dunia Mimpi oleh Stephan Phelan

Pertama terbit di harian The Age pada 5 Februari 2005. Satu dari dua yang ditulis bukan dalam bentuk wawancara. Esai tentang kekagumannya sama Murakami, menjelaskan beberapa poin yang mungkin sudah familiar. Riwayat hidup Murakami dari orang pemilik kafe, menulis, dan menjalani keseharian. Murakami pernah menyebut kisah-kisahnya sebagai ‘misteri tanpa solusi’, yang bisa kit abaca sebagai metafora dari kehidupan itu sendiri.

#4. Penangkap Mimpi oleh Sally Blundell

Dibandingkan dengan penulis pemenang Booker Prize (nantinya menang Nobel Sastra) Kazuo Ishiguro, yang bilang novelnya bernada surreal-yang berubah-menjadi-absurd; keinginan membelokkan keadaan. Namun Murakami tak setuju sebab baginya semua sangat natural.

#5. Dunia Bawah Tanah Murakami oleh Deborah Treisman.

Ada satu pembuka yang lucu. Sebelum wawancara, Murakami menjelaskan. “Menjadi novelis sejati: pertama ia tak akan membicarakan pajak penghasilan yang ia bayarkan; kedua, ia tidak menulis tentang mantan pacar atau mantan istrinya; ketiga ia tidak memikirkan soal hadiah Nobel Sastra.” Maka ia meminta tak menanyakan tiga hal itu. Hehe…

Pertama terbit di The New Yorker pada 10 Februari 2019, ini juga tulisan yang luar bias bervitamin. Aku kutip sahaja salah duanya, “Aku menulis sambil mendengarkan musik, jadi secara alami musik akan meresap ke dalam tulisan-tulisanku… ia memberi energi untuk menulis. Jadi aku sering menulis tentang musik, dan seringnya aku menulis tentang musik yang aku sukai. Ini bagus untuk kesehatanku. Ya, musik dan kucing. Mereka banyak membantuku.”

Gene Quill, musisi saksofon tahun lima puluhan hingga enam puluhan yang terinspirasi Charlie Parker pernah menjawab kritik di bar seusai tampil. Seorang pria berujar, “Hei yang Anda lakukan hanyalah bermain seperti Charlie Parker.” Gene mengulurkan saksofonnya dan berkata, “Ini. Bermainlah seperti Charlie Parker.” Dari kejadian ini, ada tiga anekdot. Pertama, mengkritik itu mudah. Kedua, menciptakan yang original itu sulit. Ketiga, seseorang tetap harus melakukannya. Begitulah, sama seperti di dunia tulis-menulis.

#6. Haruki Murakami: Melihat Kembali 40 Tahun Kerja Penulisannya oleh Kyodo News

Terbit pada 5 Juni 2019. Ini sudah diwarning berisi spoiler novel Killing Commendatore, tapi tetap kulibas habis juga walau aku belum baca, dan baru tahun ini diterjemahkan oleh KPG. Dan jelas sekali, aku pasti mengoleksinya. Tak masalah.
Sama, aku kutip sahaja dua bagian yang menurutku bagus. “Secara alami, tema dari cerita-ceritaku adalah perkara menjelajahi alam bawah sadar dan lubuk hati terdalam… bagian terdalam dari pikiran sadar. Ketika kita menggali alam pikiran sadar sedalam mungkin, kita akan menemukan makhluk-makhluk kegelapan dari dunia yang paling aneh.”

“Kekerasan di media sosial muncul secara terfragmentasi, tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Aku pribadi pecaya, semakin panjang suatu cerita maka semakin baik. Karena ia tidak terfragmentasi. Harus ada poros nilai yang konsisten di keseluruhan cerita. Dna ia harus bertahan dalam ujian waktu.”

#7. Akhir yang Bahagia untuk Sang Pelukis dan Penulis

Berisi percakapan antara Haruki Murakami dan pelukis dan penulis sahabatnya Mizumaru Ansei.

Murakami: Sebenarnya, setiap kali meminta bantuan, aku sudah memiliki ide di kepala. Hanya saja, aku selalu gagal menyampaikannya dengan kata-kata. Begitu juga ketika aku meminta bantuanmu.

Ini buku special untuk penggemar Haruki Murakami. Tipis, kecil, tapi sungguh berbobot. Nyaman sekali bila kita membaca orang yang sudah kita kenal, bagiku penulis terbaik yang masih hidup saat ini adalah beliau. Setiap tahun berdoa dan berharap menang Nobel Sastra, entah sampai kapan. Semoga Haruki Murakami berumur panjang dan terus menulis hingga akhir hayat. Catatan ini kututup dengan nasehatnya tentang dunia kepenulisan tentang kesabaran:

“Untuk menulis novel yang panjang, diperlukan setidaknya satu tahun dengan tingkat konsentrasi dan semangat tinggi.”

Semesta Murakami | by John Wray, dkk | Penerbit Odise | Cetakan pertama, Februari 2021 | ISBN 978-623-95462-4-3 | Penerjemah Dewi Martina | Penyunting Agata DS | Tata letak The Naked! Lab | Perancang sampul The Naked! Lab | Skor: 5/5

Karawang, 251021 – Michael Franks – Samba Do Soho

Thx to 7 teman dalam 700k untuk Juventus-nya Tuan Pirlo. Thx to Sentaro Books, Bekasi.

Di Kota Kucing, Manusia adalah Pengunjung

“Aku sangat menyukainya. Dia memiliki kebanyakan kualitas yang luar biasa. Tetapi terkadang sulit bagiku untuk mengikuti cara berpikirnya yang ekstrem…”

Memang jaminan mutu, penulis idola, pengarang terbaik modern yang masih hidup hingga saat ini. Setiap tahun kujago menang Nobel Sastra, maka semua buku terjemahannya coba saya nikmati. Kota Kucing dan Kisah-kisah Lainnya diterjemahkan entah dari mana, sebab di identitas tidak dicantumkan. Diambil dari berbagai sumber? Ya sepertinya, satu cerita adalah nukilan novel 1Q84, awalnya sudah familier. Kisah Tengo terbaca alurnya bahkan di halaman pertama. Saya baru baca books one, belum finish di seri tiga, tapi pijakannya sama. Apakah ini sejenis cerpen yang dikembangkan menjadi novel? Atau kumpulan cerpen ini adalah versi padat sebuah buku besar? Kreatif sekali kalian, kalau segitunya. Hanya kalian yang sudah baca riwayat Tengo, atau orang dibalik Penerbit Odyssee yang tahu.

Ada enam cerita, dan semuanya keren.

#1. Samsa Jatuh Cinta

Dia terbangun dan menemukan dirinya telah bermetamorfosis menjadi Gregor Samsa. Pembuka kisah yang to the point. Pijakannya jelas dari novelet Franz Kafka dimana Samsa terbangun suatu pagi menjadi seekor kecoa. Kali ini dibalik, seekor kecoa menjadi manusia. Kok bisa? Biasanya saya kurang suka cerita terkenal yang sudah menjadi ikon, lalu diburai dan dikembangkan oleh penulis lain. Namun kali ini jelas pengecualian, sebab jadinya malah terlena, terbuai akan nasib Samsa.

Samsa terbangun dalam kebingungan, dan memertanya kenapa jadi manusia? Dia tidak berubah menjadi ikan saja? Atau bunga matahari? Setidaknya, menjadi ikan atau bunga matahari lebih masuk akal daripada menjadi manusia – menjadi Gregor Samsa. Seandainya aku berubah menjadi ikan atau bunga matahari, aku bisa menjalani hidupku dengan damai, tanpa harus berjuang untuk naik atau turun tangga seperti ini. dalam keadaan lapar, ia turun ke halaman rumah yang terbentang meja penuh makanan. Saking laparnya, dia tidak peduli dengan ras. Hambar atau lezat, pedas atau asam, baginya semua rasa sama.

Samsa tidak tahu dari mana pengetahuan berasal. Mungkin terkait dengan ingatan berputar yang ia miliki. Setelah kenyang ia lalu menyusun kepingan info. Saat itulah muncul gadis panggilan, yang bertugas membetulkan kaca. “Gregor Samsa, kamu adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Kosa katamu kaya, dan selalu sampai ke intinya…”

Mereka ada di masa perang, era asli kisah ini. Praha yang bergolak, di mana-mana banyak tentara yang berjaga. Penjelasan sang gadis, untuk sampai rumahnya butuh perjuangan ekstra. Ia bukan ahli kunci, tetapi sebagai tenaga pengganti sementara. “Segalanya berantakan akibat bom di sekitar kita, tetapi masih ada yang peduli dengan lubang kunci yang rusak… mungkin mengerjakan hal-hal kecil dengan patuh dan jujur adalah cara untuk menjaga kewarasan di tengah dunia yang sedang kacau.”

Lubang kunci yang rusak ada di lantai atas, dan setelah banyak kecanggungan, basa-basi, sampai fakta aneh bahwa di masa itu, masih ada yang peduli kunci yang rusak terdengar janggal. Yang pasti Samsa jatuh hati padanya. “Jika kamu memikirkan seseorang dengan sungguh-sungguh, kamu akan bertemu dengannya lagi.”

Segalanya gelap: masa depan, saat ini, dan masa lalu. Mana yang benar dan mana yang salah? Samsa yang baru saja jadi manusia, memertanya banyak hal. Dunia sedang menunggu untuk dipelajari. “Aku tidak bermaksud kasar. Aku tidak sehat, ada banyak hal yang tidak kumengerti.”

#2. Pisau Berburu

Waktu berlalu dalam diam. Mungkin yang paling lemah sebab endingnya paling biasa, kalau tak mau dibilang datar. Narasinya panjang nan berbelit. Jadi suami istri yang sedang melakukan liburan, menginap di hotel dekat pantai, memperhatikan sekitar. Termasuk tetangga mereka yang unik.

Rutinitas sebagai sesama tamu, walau tanpa saling sapa mencipta keakraban tanggung. Dan di hari terakhir sebelum check-out, ia bertemu dengan sang pemuda Amerika tersebut. Di dini hari yang sunyi di dekat kolam hotel. Terjadi diskusi menarik. “Ketika Debussy tidak mendapatkan tempat di dalam opera yang ia susun, dia mengatakan ini: ‘Aku menghabiskan hari-hariku untuk mengejar ketiadaan yang tercipta – rien.’ Tugasku adalah menciptakan kekosoangan itu, rien-ku.”

Pisau berburu yang tajam yang berbahaya untuk seorang yang sakit fisik. Apakah itu semua hanya ilusi? Atau, aku adalah ilusi itu sendiri? Mungkin itu bukan masalah. Datanglah besok, dan aku tidak lagi ada di sini.

#3. Kota Kucing

Ini yang saya maksud nukilan novel 1Q84. Tengo yang unik, karakter istimewa ini mengunjungi ayahnya yang sudah tua di sebuah panti jompo, naik kereta dan menikmati sebuah buku dari Jerman tentang kota kucing, di mana seorang pemuda turun di sebuah stasiun, tak ada penghuni manusia, adanya kucing, banyak kucing, banyak sekali. Di sebuah menara, ia mendengar bahwa para kucing curiga ada manusia di kota ini, dan ia diburu. Saat ia kembali ke stasiun, kereta tak mau berhenti, maka ia kembali bersembunyi di menara lonceng. Stack, takut, prihatin dalam sepi. Fantasinya semakin jauh dan kompleks. Mereka mengikuti satu pola, tetapi variasinya tak terbatas.

Tengo, bernarasi selama perjalanan tentang masa kecilnya yang menjadi teman menarik iuran TV stasiun NHK, oleh ayahnya. Kabarnya ibunya meninggal saat kecil dan menghabiskan masa kecilnya menjadi teman jalan ayahnya tiap hari Minggu yang seharusnya merupakan hari libur.

Menyebalkan, dan sungguh ia muak. Maka hubungan ayah-anak ini jadi renggang dan janggal. Mereka adalah dua manusia terpisah yang berasal dari – dan sedang menuju –  tempat yang sepenuhnya berbeda. Bahkan memori masa kecilnya, melihat ibunya berselingkuh dengan lelaki lain menjadi alibi bagus untuk menanyakan, apakah ia anak kandung? Apakah ibunya masih hidup? Dst. Kalian takkan menemukan jawabnya, sebab khas Murakami, banyak hal menggantung, semakin banyak semakin penasaran, semakin bagus. Jika hidup dapat diukur dengan warna dan ragam episodenya, kehidupan ayah ayah Tengo begitu kaya dengan caranya sendiri, mungkin.

Aku tidak selalu ingin tahu akan kebenaran tentang siapa diriku dan dari mana aku berasal. Termasuk saat di masa tuanya, Tengo kembali menanyakannya, walaupun ujungnya tak ketemu juga.

Pengetahuan adalah modal sosial berharga. Itu adalah modal yang harus dikumpulkan hingga berlimpah dan digunakan kepada generasi berikutnya dengan sangat hati-hati. Itu juga harus diwarsikan kepada generasi berikutnya dalam bentuk yang bermanfaat…”

#4. Kino

Luar biasa. Tentang suami yang dikhianati dan bagaimana menghadapi kenyataan pahit. Saat kenyataan menghantam keras padamu, maka hantamlah dengan keras sebagai balasan. Seperti tanah kering yang menyambut hujan, ia membiarkan kesendirian, kesunyian, dan kesepian meresap dalam. Kino adalah pekerja kantor biasa, memiliki istri dan belum punya anak. Suatu hari saat ia ditugaskan keluar kota, dan balik tanpa info lebih cepat sehari sebelum jadwal, ia menemukan istrinya selingkuh. Ia marah, pergi tanpa menengok ke belakang. Tanpa membawa apapun, ia membangun ulang kehidupan. Ada yang salah di antara mereka sejak awal, seolah mereka telah menekan tombol yang salah. Aku harus belajar bukan hanya melupakan tetapi memaafkan. “Aku harus belajar bukan hanya melupakan tetapi memaafkan.”

Membuka bar dengan jazz dan arsesoris aduhai. “Mendengarnya, membawa kembali begitu banyak kenangan.” Bar milik bibinya yang kini sudah ia sulap menjadi tempat nongkrong yang menyenangkan. Ia bayar per bulan, ia sanggupi syarat itu. Berjuang dari awal lagi, mencipta idealismenya sendiri. Lalu seorang pengunjung aneh bernama Kamita, yang tiba setelah Magrib dengan buku tebal dan pesanan yang sama membuatnya penasaran. “Maksudmu beberapa masalah serius telah terjadi, bukan karena aku melakukan kesalahan, tetapi karena aku tidak melakukan hal benar? Ada masalah dengan bar ini, atau aku?”

Dari situ pula kita tahu, ada sesuatu yang aneh di kedai itu. Sesuatu yang janggal, ia bukan pengunjung biasa. Kino biasanya selalu berhati-hati dan menjaga jarak dari segala macam keterikatan. Tidak ada yang lebih buruk dari kecemburuan dan kebanggaan, dan Kino memilki sejumlah pengalaman yang mengerikan karena keduanya.

Sementara hujan tak kunjung reda, membasahi dunia dalam dingin yang menggigil.

#5. U.F.O. di Kushiro

Ini juga tentang suami yang kehilangan istrinya, Komura ditinggal istrinya setelah gempa yang menimpa Kobe. Semua akibat dari gempa itu seperti gema monoton yang jauh darinya. Menjelaskan secara sederhana tetapi jelas mengapa dia tidak ingin hidup dengan Komura lagi. Tanpa kejelasan kenapa ia cabut, teman sekerjanya Sasaki lalu menyarankan liburan ke Hokkaido. Sekalian menitipkan benda aneh untuk diberikan kepada adiknya.

Di bandara, ia disambut Keiko Sasaki dan temannya, Shimao. Dari sana mereka mengakrabkan diri, dan khas Murakami persahabatan sesaat ini menjelma liar. Cerita mereka berhenti pada titik itu. Dia berhenti sejenak untuk membiarkan ceritanya meresap. Dan yang terjadi, terjadilah. Shimao menggambarkan suatu pola rumit di dada Komura dengan ujung jarinya, seolah sedang melemparkan mantar sihir.

#6. Kemarin

Pikiranku seperti diselimuti kabut. Ini yang terbaik, sangat bagus. Di tempatkan di paling akhir pula. Tanimura memiliki teman aneh bernama Kitaru, orang Tokyo yang belajar dialek Kansai dan mempraktekkannya. Bukan hanya mempraktekkan, juga mendalami dan benar-benar menjelma orang Kansai. Hajar mereka tepat di depan dengan memberikan fakta bahwa aku berasal dari De-nen-cho-fu. Bayangkan, ada orang Jakarte, belajar logat Tegal dan benar-benar menyusupinya dengan sungguh. Mereka berkawan di kedai kopi dekat gerbang Universitas. Sama-sama aneh memang, tapi Kitaru terlampau kreatif. Tes masuk perguruan tinggi Waseda (tempat kuliah Murakami) dua kali gagal, sementara Tanimura langsung kuliah. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, akan sulit untuk menemukannya.

Maka saat ia berkunjung ke kampung halaman di Denenchofu, berceritalah ia bahwa ia memiliki pacar sejak sejak sekolah. Teman akrab sejak kecil, Erika yang cantik sekali. Mereka terlihat cocok, dan saling melengkapi, tapi memang Aki (panggilan sayang Kitaru) lebih ekstrem. Muncul ide gila, bahwa Tanimura diminta kencan sama pacarnya. Awalnya ga mau, tapi karena Tanimura sahabatnya sendiri, dan percaya sekali, maka kencan itu terwujud. “Tetapi, pengalaman yang sulit dan rasa kesepian, adalah sesuatu yang kamu perlukan ketika masih muda. Bagian dari proses kedewasaan.”

Diskusi suatu akhir pekan itu di Shibuya dan menonton film Woody Allen, menjadi kejadian yang absurd untuk dikenang. Menjadi penghubung banyak hal, sebab setting cerita lalu dilempar ke masa depan dengan nasib berbeda untuk ketiganya. Dia menelusuri halaman-halaman buku ingatannya. Merenungi bagaimana hal-hal pada akhirnya berakhir – setelah semuanya telah diputuskan – adalah masalah kronis lainnya. Kimura di Amerika, Tanimura yang sudah menikah tanpa anak, dan Erika yang menjadi sales juga belum menikah. “Kamu terlalu cantik untuknya.”

Pertemuan tak sengaja di hotel itu mengungkap hal-hal masa lalu yang terpendam. Betapa kemarin, walau sudah lewat masihlah sangat berharga. Yang bisa kita lakukan supaya kedua mataku tetap terbuka ketika angina yang kuat menerjang adalah menarik napas, dan terus maju.

Lakukan apa yang kamu inginkan dan lupakan apa yang orang lain pikirkan. Aku terkesan denganya. Yang masih tersisa dalam ingatanku hanyalah fragmen-fragmen, yang bahkan aku tidak yakin apa benar begitu yang dinyanyikan Kitaru. Seiring berjalannya waktu, ingatan, tanpa bisa dihindari, menyusun kembali dirinya sendiri.

Memang istimewa penulis yang satu ini, segala pujian rasanya tak akan selesai dikumandangkan untuk cara bercerita yang keren. Kota Kucing adalah kumpulan cerpen pertama yang kubaca, setelah novel-novelnya dan memoar asyik tentang lari. Dan jelas buku-buku keren lainnya pasti kususul baca. Kucing, jazz, absurditas narasi, cinta yang tenggelam, lari… inilah semesta Murakami.

Kota Kucing dan Kisah-kisah Lainnya | by Haruki Murakami | Copyright Odyssee Publishing, 2019 | Cetakan pertama, Mei 2019 | Alih bahasa Dewi Martina | Penyunting A.D. Saputra | Tata letak The Naked! Lab | Perancang sampul The Naked! Lab | Ilustrasi sampul Louis Wain Paintings, 1886 – 1936 | Skor: 5/5

Karawang, 240821 – Louis Armstrong feat. Ella Fitzgelard – Isn’t This a Lovely Day (To Be Caught in the Rain)

Thx to Sentaro books, Bekasi