Bisik Bintang, Lirih dan Merdu

“Hidup sepanjang ini, semua tenggat masa muda sudah dilewati.”

Luar biasa. Tipis, memukau. Dibaca sekali duduk di malam isoman tengah bulan Juni lalu. Terpesona sama plot yang disajikan tiap cerita, sederhana nan menghibur, beberapa menyakitkan tapi itu nyata, beberapa menggugah hati seperti perkataan gelandangan yang meminta orang kaya korup untuk membersihkan hartanya, beberapa lagi menampar kenyataan yang pahit seprti di permainan usia tua tapi baru merasa diberkahi. Tokoh-tokohnya juga sering sama memakai Kepala Kampung yang mengatur warganya, orang-orang kaya yang kikir, lalu gua di benteng kuno yang mistis, kaum papa yang melawan, sampai lingkup dunia Islam yang moderat.

Nama Najib Mahfuz memang jaminan, ini buku ketiga yang kubaca setelah Karnak Kafe dan Pencopet dan Kelompok Begundal, semuanya memuaskan. Ini kumpulan cerpen pertamanya, walau benar-benar pendek kita langsung klik sama polanya, kejutannya, sampai adegan-adegan absurd-nya. Satu lagi saat ini yang sedang kubaca adalah Zahiya, kumpulan cerpen pula. Dari Peraih Nobel Sastra euy…

#1. Pengusiran

Zakiya yang terusir dan menuntut hak-haknya dengan kembali, ke mana? Ke kampungnya, ke depan toko orang yang menipunya. Juragan Usman dengan tabiat buruknya, Kepala Kampung yang menawarkan solusi tapi tetap, Zakiya keukeh dengan pendiriannya. Juragan Usman mencari solusi lain, dan bah! Yakinlah itu ditolak.

“Aku akan terus menjaga anak inidi depan kedua matanya agar ia selalu ingat akan kejahatannya.”

#.2 Tawhuda

Beethoven, Descartes, maupun Baudelaire tak ada yang mampu merebut hatinya dari wasiat masa lampau yang tertanam di kampung kami. Ia masih percaya akan dupa-dupa, ahli nujum, dan sama sekali tak meragukan jin-jin benteng kuno di atas ruang bawah tanah kampung kami. Penggalan paragraph yang menyatakan kenik nan klasik akan selalu ada di manapun di sunia ini. ini riwayat singkat si cantik Tawhuda yang tinggal di Rumah Putih.

“Bukan salahku jika kau tak mengenaliku.”

#3. Ibnu Hara

Ibnu Hara yang entah siapa yang menghuni ruang bawah tanah di benteng tua. Seorang gelandangan yang naik pangkat sebab suatu hari menyelamatkan nyawa Syekh Asfoury dari tempaan batu. Ibnu Hara menjadi legenda bahkan bak wali karena seolah menyaksikan masa depan. Bisikan yang seolah ramalan itu berlanjut ke orang kaya yang korup, Tuan Zawi. Dalam bisiknya ada kalimat, “Wahai Ibnu Hara, temuilah Tuan Zawi dan katakana kepadanya untuk mengembalikan pundi-pundi haramnya kepada yang berhak…” Saat disampaikan, ia kena bogem mentah, ia kena damprat. Namun tak menyerah dan kembali lagi seolah itu adalah amanat Tuhan.

“Malam yang luar biasa, melebihi anehnya cerita tentang jin benteng kuno.”

#4. Anak Panah

Ini tentang kehebatan benteng kuno lagi, bahwa ada dunia di dimensi lain yang bemain dan bersinggungan dengan dunia kita. Kematian mendadak Tuan Zain al-Baraka mencipta sensasi, tokoh yang banyak tak disukai ini tersungkur di kedai kopi bak kena anak panah. Kepala Kampung lalu menelusuri sebabnya.

“Siapa yang mengeluarkan anak panah dari tempatnya, dan mengapa?”

#5. Ramalan Namla

Ramalan orang gila Namla yang absurd kepada Harq, “Tidak, ini kabar baik untukmu, pahlawan. Kau akan dikelilingi orang-orang! Dan kau akan ditemui oleh para pembesar.”

Kepala Ka,pung Cuma bisa menangkupkan kedua tangannya, shock.

#6. Akhir Hidup Guru Saqr

Pernikahan beda usia jauh ini menjelma petaka, si tua Bangka Guru Saqr menikahi Hamila yang berusia dua puluhan. Bukan istri pertama, dan keputusan ini menjadi polemic sebab mereka tinggal di lantai atas dengan uang banyak dalam lemari. Namun suatu hari Hamila kabur membawa uang banyak di lemari, Saqr yang kaget pingsan dan koma. Apes betul istri dan anaknya merawat Saqr tua, saat kembali sadar dan mengenali anak istrinya ia bilang, “Di atas kamar mandi…” Kalimat itu tak selesai sebab ia keburu mangkat. Apa yang ditemukan benar-benar tak dinyana.

#7. Si Malang

Hasan al-Dahshan sudah menikah tiga kali dengan wanita dari keluarga di kampung, dan tiap kali istrinya menunggal sebelum sempat melahirkan benih yang tertanam di perutnya. Setelah itu Hasan dikenal dengan nama Hasan Si Malang.

Pembuka cerita yang keren sekali kan?! “Serangga tak usah pongah.”

#8. Usia adalah Sebuah Permainan

Ali Zaidan lima puluh tahun; tua, kere, lajang, mengeluhkan banyak hal atas kegagalan hidupnya. Pejudi yang galau yang tiba-tiba bilang ingin menikah. Ia lelah dan ingin mengubah hidup, tak ada kata terlambat ‘kan? Meski sebagian orang toleran terhadap pencuri, ternyata mereka tetap waswas oleh judi dan penjudi.

“Aku tidak mencari wanita penebar wewangian. Tapi aku ingin seorang gadis muda perawan yang cantik dan tidak buruk pendidikannya.”

#9. Doa Syekh Qaf

Ini keren sekali. Kasus pembunuhan dengan gamblang. Umaira el-Ayek mati, dibunuh dan diakui oleh Hanafi el-Rayek, disaksikan tiga orang Zaini, Kibrita, dan Fayek. Saksi yang sangat cukup. Maka jelas sudah, pengadilan mudah memutuskan. Namun, ada yang janggal.

“Mahasuci alam atas segala sesuatunya.”

#10. Ayah Kami, Ajwa

Ajwa tua yang sepi, teman-teman sebayanya telah tiada. Anak-anaknya juga, tinggal Anwar, 80 tahun. Anaknya sakit dan hari saat ada lelang tanah, tak dinyana Ajwa tetap datang dan memenagkan harganya. Orang-orang yang kesal, pada komplain.

“Sore ini aku ada janji dengan kontraktor bangunan. Tak sampai berlalu aku akan memperoleh manfaatnya dan begitu pula orang-orang lain…”

#11. Bisik Bintang

Cerita yang agak susah klik, melibatkan nenek, penyair, dan potongan Firman Tuhan.

“Allah Maha Mengetahui.”

#12. Rahasia Tengah Malam

Lelaki mudik, sampai di kampung halaman jelang fajar dan membaui harum yang semerbak.

“Ini adalah kelebat seorang perempuan yang lewat… mengapa kau berada dalam kegelapan di malam begini? Kesendirian akan mengarahkanmu pada hati yang berdebar dan akhir yang tak pasti.”

#13. Sheikhoun

Sheikhoun yang pergi dari kampung lama sekali, dan saat ia mudik ia dikenal sebagai manusia pilihan Allah. Melibatkan dunia gaib, segala atribut pengobatan natural. Lalu muncullah fakta.

“Esok sebelum matahari terbenam semua orang akan berdamai dengan kekhawatirannya.”

#14. Badai

Saat badai terjadi banyak orang memohon pertolongan pada Allah. Saking lamanya, mereka mengira ini hari kiamat.

“Inilah setan yang keluar dari persembunyiaanya…”

#15. Jeritan

Jeritan tengah malam dari rumah Nyonya Adliya. Tetangga kasak-kusuk ada apa gerangan. Ada yang mengira Kamila, perempuan cantik yang diceraikan  tadi pagi menuangkan minyak ke bajunya dan menyalakan api. Namun siapa yang tahu?

“… Biarlah hukuman berlaku seperti yang seharusnya.”

#16. Nasibmu dalam Hidup

Peristiwa-peristiwa umum yang terjadi di sekeliling kita. Dengan damai dan musibah yang silih berganti. Salah satunya ada yang sakit aneh, mantri dipanggil untuk mengobati. Namun bingung obatnya tak kunjung ketemu.

“Tari sufi… satu-satunya obat adalah tari sufi, wahai Pak Mantri…”

#17. Nabqa si Benteng Kuno

Nabqa si bungu nomor sepuluh yang berhasil selamat dari wabah, semua saudaranya mati. Dan sebagai nazar Adam, ayahnya. Nabqa akan diserahkan ke surau saat umur tujuh tahun untuk melayani ibadah. Hingga suatu hari ia menghilang.

“Sekarang bukan musim ziarah kubur.”

#18. Toko Roti

Uyusha, gadis cantik putri pedagang tekstil kaya-raya yang tampak baik nan anggun suatu hari memutuskan kabur dengan Zenhoum, anak si tukang roti. Paman Jum’a sedih, ia kena cemooh dan belas kasihan sebab Uyusha adalah putri satu-satunya dan akan mewarisi kekayaan keluarga. Walaupun faktanya belum jelas, dan desas-desus beredar nan dirangkai liar.

“Kesalahan terkadang menyeret manusia pada kriminalitas dan itu tetap merugikannya apa pun yang terjadi.”

Kehidupan Mesir tahun 1990-an tak ubahnya Indonesia di masa yang sama. Lihat, kehidupan warga yang percaya klenik, tempat-tempat angker, jin-jin yang murka, sampai skandal kampung yang sering kali terjadi di banyak daerah. Orang-orang rantau yang lama tak kembali lalu saat pulang tampak sangat berbeda dan asing. Rangkaian ini jelas mengingatkanku pada kampung halamanku, waktu memang seolah anak panah yang melesat dan takkan bisa kembali. Ia lurus terus melaju ke masa depan, manusia dan segala nasibnya di dunia. Bisik bintang dari Mesir adalah bisikan syahdu untuk pembaca Indonesia. Cocok dan aduhai.

Untuk jadi keren tak selalu harus tebal, muluk-muluk kisahnya, membuncah liar tak jelas ke mana-mana. Bisa dengan buku tipis efektif dengan banyak pilihan diksi kuat nan indah. Latarnya juga jelas, kehidupan di sekeliling kita sehingga langsung tune ini sama alurnya. Memang tulisan yang dihasilkan oleh orang hebat, kisah sederhana bisa tampak mewah sekali. Bisik Bintang adalh bukti bahwa untuk jadi cerita hebat, ramuan kata harus pas dan mengena. Untuk itu pengalaman menulis menjadi suatu keniscayaan.

Bisik Bintang: Kumpulan Cerita | by Naguib Mahfouz | 1993-1994 | Copyright 2018, Dar al Saqi, Beirut | Diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Muasomah | Penerbit CV. Marjin Kiri | Edisi pertama, Desember 2020 | vi + 78 hlm, 12 x 19 cm | ISBN 978-602-0788-09-8 | Skor: 5/5

Karawang, 050821 – Evanescence – Bring Me to Life

Dilarang Gondrong! By Aria Wiratma Yudhistira

Indonesia dilahirkan setelah sebuah penculikan, dilahirkan kembali dalam kudeta dan dibaptis dengan darah pembantaian.” Brian May (The Indonesian Tragedy)

Buku yang mencerita detail larangan sebuah gaya. Kalau sampai petinggi Pemerintah yang mengeluarkan statemen berarti ada sesuatu yang memang harus diperhati lebih dalam. Dan itu terkait gaya rambut panjang. Terasa lucu, tapi dengan buku ini menjelma serius. Awalnya sebuah skipsi di Departemen Sejarah Universitas Indonesia ini kurang mendapat respons dan dukungan, temanya terdengar sepele dan dianggap kelewat tinggi dengan mengaitkannya pada kondisi sosial politik saat itu. Namun karena instruksi ini menyeluruh pejabat tinggi Pemerintah dari menteri, Kepala Bakin, Jaksa Agung, hingga Pangkopkamtib maka larangan gondrong bagi anak muda jelas bukan hal sepele. Ada kaitannya antara rambut gondrong, gaya hidup, serta pandangan politik dengan tema besar Orde Baru yang gencar dengan kata ‘pembangunan’.

Banyak para penulis sejarah mengabaikan soal-soal sepele yang terjadi di masyarakat. Ong Hok Ham pernah menulis tentang sistem sosial dan politik Hindia-Belanda di Karisidenan Madiun pada abad ke-19 yang dimulai dari kisah pencurian kain tirai (gordijn) di rumah Residen Madiun J.J. Donner. Pencurian tersebut telah menggoncang tatanan sosial karena telah membuat malu sang Residen. Pencurian kain dinilai telah menyingkap isi rumah Donner, suatu yang tabu karena berarti mengungkap rahasia pemimpin, di depan Bupati Raden Mas Adipati Brotodiningrat, dna terutama di hadapan rakyat.

Cerita dibuka dengan tanggal 1 Oktober 1973 Senin malam sebuah acara bincang-bincang di TVRI, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro berkata bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi overschilling alias acuh tak acuh. Sebuah pernyataan kontroversi yang menjadi ancaman hingga boikot artis-artis yang tak mau nurut, bahkan pemain sepak bolapun turut dilarang. Menurut Michel Foucault, kekuasaan dapat didefinisikan sebagai alat untuk menormalisasi individu-individu di dalam masyarakat melalui disiplin dan norma.

Kekuasaan itu senantiasa dapat melahirkan sikap antikekuasaan atau perlawanan yang berasal bukan dari luar melainkan dari dalam kekuasaan itu sendiri – tentunya berasal dari hubunagn sosial yang terjalin (Haryatmoko, 2002: 11). Ada beberapa alasan mengapa periode itu terpilih.

Pertama, Orde Baru mengidentifikasikan dirinya sebagai kebalikan dari Orde Lama, seolah periode ini memberi nuansa-nuansa baru. Kedua munculnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) No. 1/1967 yang menjadi simbol telah dilakukannya kebijakan pintu terbuka yang mempernudah modal asing masuk ke Indonesia, yang secara langsung turut pula masuknya budaya-budaya asing. Peristiwa Malari (11 Januari 1974) merupakan momentum puncak hubungan antara Negara dengan anak muda.

Saya Shiraishi dalam studinya tentang jalinan kekuasaan di Indonesia masa Orde Baru bahwa Indonesia dibangun selayaknya keluarga besar. Di sana ada ‘Bapak’, ‘Ibu’, dan ‘Anak’, dan Soeharto menempatkan dirinya sebagai ‘Bapak Tertinggi’ (Supreme Father) di Indonesia.

Anak muda di sini dibagi dalam dua jenis, mereka yang bersikap apatis terhadap politik di dalam negeri – atau mereka bisa juga disebut apolitis, yang menurut James Siegel disebut sebagai golongan remaja. Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki kesamaan selera, aspirasi, dan gaya hidup yang ingin selalu berubah yang umumnya mengacu pada perkembangan luar negeri (Siegel, 1986: 203-231). Jenis yang lain adalah mereka yang memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan persoalan bangsa – seperti korupsi, sistem politik, dan lain-lain. Sering kali idealis yang bertentangan dengan kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat, disebut sebagai kelompok mahasiswa (lihat Railon, 1989).

Ben Anderson menyatakan bahwa pemudalah yang memainkan peran sentral dalam revolusi Indonesia, bukan kaum intelegensia atau kelompok-kelompok kelas yang teraliensi dalam kancah perpolitikan dalam kancah politik saat itu. (Hadiz, 1989: 32). Menurut William H. Frederick (1997: 227-229) menolak identifikasi gambaran Anderson, istilah pemuda serta gagasan mengenai generasi muda sebagai kekuatan politik dalam dirunut dari sejarah Indonesia yang panjang, dari Budi Utomo. Seseorang tidak serta merta menjadi remaja karena berusia muda, akan tetapi mereka menjadi remaja karena memiliki selera dan aspirasi yang menandakan dirinya remaja, dengan kata lain menjadi remaja adalah sebuah gaya hidup.

Orde Baru adalah sebuah koalisi yang menginginkan berakhirnya Demokrasi Terpimpin a la Sukarno yang menghendadi persatuan tiga kekuatan politik Indonesia: Nasionalis, Agama, dan Komunis (Nasakom). Koalisi terdiri dari kelompok muslim NU, dan Masyumi; Partai Sosialis Indonesia (PSI); kaum birokrat konservatif (PNI Osa-Usep); Partai kiri anti-komunis (Murba); kelompok mahasiswa dan pemuda anti komunis yang dipimpin oleh KAMI; serta tokoh militer (Cribb dan Brown, 1995: 106-107) merupakan kelompok yang tak sejalan dengan Sukarno yang mengingin PKI turur dalam Indoneisa raya, maka PKI disingkirkan. Jelas, gerakan mahasiswa untuk menyingkirkan

Orde Lama tak lepas dari campur tangan Angkatan Darat (AD).

Krisis di Indonesia tahun 1965 para menteri mencoba mengeluarkan kebijakan yang tak populer. Tanggal 13 Desember 1965 dikeluarkan kebijakan antara lain melakukan sanering dengan memotong nilai Rupiah dari Rp 1.000,00 menjadi Rp 1,00 serta mencabut subsidi atas kebutuhan pokok, sehingga meningkatkan biaya kebutuhan hidup masyarakat kebanyakan (Wibisono, 1970: 10’ Anwar, 1981: 1; McDonald, 1980:70). Efeknya mencipta demo di mana-mana yang akhirnya memunculkan Tritura (tiga tuntutan rakyat) yaitu: Pembubaran PKI, Perombakan Kabinet Dwikora, serta penurunan harga.

Penyair antikomunis Taufiq Ismail dalam puisinya ‘Merdeka Utara’:
Dua buah panser Saladin / Dengan roda-roda berat / Rintangan-rintangan djalan / Selebihnya kesenyapan // Dua buah tikungan yang bisa / Seseorang memegang bren / Langit pagi yang biru / Menjadi ungu, menjadi ungu. Puisi yang menggambarkan demo suruh Januari-Februari 1966 yang menewaskan Arief Rahman Hakim, mahasiswa kedokteran UI dan Zubaedah, pelajar SMA.

Orde Lama punya jargon ‘politik sebagai panglima’ maka Orde Baru menyatakan ‘ekonomi sebagai panglima’. Untuk memenuhi program stabilisasi dan rehabilisasi kepercayaan masyarakat luar dan dalam negeri. PMA No. 1/1967 menjadi kerangka dasar diterapkannya politik pintu terbuka, bukan hanya modal asing yang masuk tapi para ahli perekonomian asing yang berpendidikan Barat turut masuk, yang otomatis membawa sistem kapitalis bersama segala persoalan ekonomi dan sosial yang terkandung di dalamnya (Sasono, 1980: 78; Lombard, 2000: 88). Bila Sukarno dikenal dengan ‘ekonomi terpimpin’ maka Soeharto disebut ‘kapitalisme terpimpin’.

Dalam pemilu dikenalkan konsepsi baru the floating mass, massa mengambang yang artinya masyarakat dibiarkan ‘mengambang’ tidak berafiliasi pada salah satu partai atau kelompok ideologi, sehingga pemerintah bisa lebih berkonsentrasi pada pembangunan. Rakyat hanya boleh menyalurkan aspirasi politik lima tahun sekali.

Generasi ‘Baby Boomer’ anak-anak muda 1960-an hidup di tengah-tengah pengaruh berkembangnya budaya konsumsi dan televisi (Tindall dan Shi, 1992: 1370). Dalam counter-culture, generasi terpecah jadi dua, pertama orang yang anti perang berslogan ‘make love not war’ dan kaum hippies yang memiliki cara pandang hidup berbeda saat itu, hippies merupakan gerakan gerakan tanpa kartu anggota, tidak dibatasi umur, maupun Negara (Wethues, 1972: 74). Etika hippies disebut ‘hang-loose’. Kaum hippies menyebut mereka generasi bunga atau anak-anak bunga (flower generation). Bunga adalah simbol, sebagai lambang kedamaian dan tidak membuat orang lain terluka. Mereka adalah anak-anak muda idealis, mau berpikir, yang percaya cinta, keindahan, kebebasan, kebersamaan, saling membantu. Hippies menawarkan kebebasan dalam hidup.

Di Indonesia sama Pemerintah, kaum hippies dianggap persoalan karena mengganggu ketertiban, dan salah satu cirinya berambut gondrong. Makanya dilarang!

Novel Cross Mama karya Montinggo Boesje menggambarkan bagaimana kehidupan keluarga-keluarha ‘high society’, kehidupan keluarga umumnya tinggal di perumahan mewah seperti Menteng atau Kebayoran Baru. Kebudayaan kami bukanlah kebudayaan Indonesia atau Barat, tapi kebudayaan International.
Pencitraan Belanda terhadap orang-orang yang berambut gondrong sebagai pelaku criminal tak lepas dari pengalaman mereka pada masa Hindia-Belanda. Mereka yang tumbuh kurang ajar oleh Belanda disebut ‘teroris’ atau ‘ekstrimis’ yang merupakan produk salah asuhan Jepang (Onghokham, 1977: 21).

Pencitraan antagonis berambut gondrong mudah dijadikan sasaran dan kambing hitam oleh penguasa, termasuk setelah merdeka. Razia rambut gondrong dilakukan dibanyak kota besar. Sebuah ironi terjadi tahun 25 September 1973 ketika band The Bee Gees manggung di Medan, Maurice Gibbs beretoris, “Aneh, bagaimana mereka dapat mengundang kami, sedang mereka sendiri tidak rambut gondrong seperti kami.”

Bukunya banyak menukil surat kabar lampau, berita tv, kutipan para figure, dokumentasi sastra H.B. Jasin, PDII-LIPI, Perpustakaan Idayu sampai Pusat Informasi Kompas. Penelitian ini mengikuti cara umum dalam setiap penelitian sejarah yaitu dengan tahapan pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi atau kritik atas sumber, interpretasi, dan penulisan (Kuntowijoyo, 1999: 89). Setelah dilakukan interpretasi, dapat diperoleh suatu fakta yang dapat dituangkan dalam tulisan. Fakta di sini tentu saja bersifat subjektif karena merupakan hasil dari apresiasi atau interpretasi subjektif atas data yang ada di Penulis.

Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an | By Aria Wiratma Yudhistira | Copyright 2010 | Pengantar Andi Achdian, 2010 | Cetakan pertama, April 2010 | ISBN 978-979-1260-07-7 | 161 hlm; i-xxii, 140 x 203 mm | Penerbit Marjin Kiri | Skor: 4.5/5

Karawang, 280420 – Bill Withers – We Could be Sweet Lovers

Thx to Titus Pradita