Biutiful: The Ugly Beauty Of Life

Uxbal: Look in my eyes, look at my face. Remember me, please. Don’t forget me, Anna. Don’t forget my my love, please.  

Film nominasi Oscar 3 tahun lalu ini akhirnya ketonton juga. Ternyata filmnya dark, ga ada cantik-cantiknya. Beberapa scene bahkan menakutkan, jadi ngeri lihat cermin di malam hari. Dengan menggunakan Bahasa Spanyol, film ini ngalir dengan lancar. Opening scene adalah ending-nya. Tenang ini bukan spoiler, kerahasiaan cerita tetap terjaga.

Tentang seorang duda frustasi yang divonis penyakit kanker, hidupnya hanya tinggal beberapa bulan. Uxbal (Javier Bardem) memiliki dua orang anak, Ana (Hanaa Bouchaib) yang penurut dan memimpikan keharmonisan keluarga dan Mateo (Guilermo Estralle) yang masih sering ngompol. Kehidupan Uxbal sudah rumit sedari awal. Bekerja sama dengan pengedar narkoba dari warga Afrika, yang akhirnya dideportasi sampai menerima suap untuk sebuah usaha jahit warga Tionghoa yang diserahkan ke polisi. Namun berakhir tragis.

Sembari bertahan hidup, Uxbal juga sering berselisih paham dengan mantan istrinya Marambra (Maricel Alvarez) yang frustasi kesulitan keuangan. Adik Uxbal semakin memperuncing masalah. Konflik yang dihadirkan sungguh komplek, kumpulan orang-orang frustasi. Eksekusinya pas. Uxbal sendiri akhirnya menerima kenyataan takdir, hanya kedua anaknya yang jadi prioritas seandainya dia pergi selamanya. Sampai kapan Uxbal bertahan hidup?

Kalau Anda memimpikan bakal melihat gambar-gambar yang cantik penuh warna, salah besar. Tak ada indah-indahnya yang ditampilkan, suram dari awal sampai akhir. Kata biutiful yang dijadikan judul sendiri muncul saat Anna menanyakan kepada ayahnya cara mengeja ‘beautiful’. Lalu dijawab, “Like that, like it sounds.” Yang saya maksud serem saat lihat cermin adalah, Uxbal ternyata bisa indra keenam. Bisa melihat orang yang meninggal yang ‘masih’ tinggal di bumi. Beberapa scene tampak menyeramkan, terutama saat bayangan cermin memperlihatkan penampakan wajah tanpa ekspresi.

Judulnya sendiri sangat pas. Dibuat ambigu atas fakta pahit, lalu muncul harapan. Apakah worth it to watch? Jelas. Dua jam lebih yang menghibur. Dari orang yang sudah memukau kita lewat Babel, 21 Grams dan kemudian Birdman yang Februari lalu menang Oscar. Inarritu adalah salah satu sutradara terbaik saat ini. Film-filmnya selalu nyeleh. Bermain-main dengan kematian. Sehingga tak heran akhirnya beliau menang Oscar. Hanya tinggal tunggu waktu. If I’m depressed because I’m depressed. Hurt but true. Bravo Javier!

Biutiful | Directed by: Alejandro Gonzalez Innaritu | Screenplay: Alejandro Gonzalez Innaritu | Star: Javier Bardem, Maricel Alvarez, Hanaa Bouchilab | Skor: 4/5

Karawang, 21042015

Iklan

(review) The Book Thief: Words Are Life

Gambar

Narrator/Death: The only truth that I truly know is that I am haunted by humans.

Film dinarasikan oleh malaikat kematian (disuarakan Roger Allam), dibuka dengan sebuah adegan di sebuah kereta menuju kota fiktif di Jerman di era paling kelam abad 20 tahun 1939. Seorang anak perempuan Liesel Meminger (Sophie Nelisse) – dengan nama panggilan Lisa, yang menjerit atas kematian saudara laki-lakinya, mati kedinginan dan lapar. Pemakamana adiknya yang singkat di tengah hujan salju, Lisa menemukan sebuah buku yang terjatuh dan membawanya pulang, buku berjudul: “The Grave diggers Handbook”. Lisa ditampung dan dijadikan anak angkat oleh Hans Hubermanns (Goeffrey Rush) seorang ayah yang kekanak-kanakan, seorang tukang cat dan Rossa Hubermanns (Emily Watson), ibu yang galak. Di era Hitler di mana malaikat kematian begitu sibuknya. Lisa yang buta huruf, anak yatim piatu, tinggal bersama orang tua angkat. Dia belajar membaca saat usia 11 tahun, namun dari situlah dia mulai menyukai tulisan. Siang hari sekolah sambil membantu Rossa malam harinya bersama Hans belajar membaca. Pada suatu malam Lisa melihat buku-buku dibakar, dia mencuri salah satunya untuk melepas dahaga membacanya.

Rudy: You’re stealing books? Why?

Lisa: When life robs you, sometimes you have to rob it back.

Lisa mempunyai seorang tetangga pirang teman sekolahnya Rudy Steiner (Nico Liersch) yang ayahnya berangkat perang. Lalu keluarga ini menyembunyikan seorang Yahudi bernama Max (Ben Schnetzer) yang sakit-sakitan. Kisah bergulir dalam keseharian yang dilanda kekhawatiran perang. Lisa pada suatu saat mengantarkan sebuah pakaian bersih hasil laudry ke orang kaya, di sana dia melihat sebuah perpustakaan keluarga dengan buku berlimpah. Di sana dia diberi izin meminjamnya. Rasa lapar akan buku akhirnya tersalurkan.

Max menghadiahinya sebuah buku kosong agar Lisa mengisinya dengan kisah-kisah yang menawan. Words are life, Liesel. All those pages, they’re for you to fill. Namun kenyataan hidup memang pahit. Hans wajib militer, Rudy sedih karena rindu pada ayahnya dan nantinya saat menginjak usia 14 tahun dia akan wajib militer, Max adalah buronan dan barang siapa yang menyembunyikannya hukumannya sama. Cerita anak-anak di sebuah setting yang kelam. Bagaimanakah akhir dari perjalanan ini? Sang malaikat maut melalui narasinya berujar, “tak ada manusia yang hidup abadi”.

Pondasi cerita yang sangat bagus dari awal sampai tengah ini sayangnya ditutup dengan anti-klimak. Berdasarkan buku best seller karya Markus Zusak yang menawan, harusnya sang sutradara Brian Percival sudah mempunyai bahan yang bagus, sayangnya dia tersandung dengan ending yang rapuh. Dengan akting cast nya istimewa. Rush tampil prima dengan alat musiknya, orang tua yang nrimo akan keadaan hidup, Watson tampil lugas sebagai ibu yang galak namun di sisi lain feminim, dan tentu saja akting menawan Sophie, sebagai pusat cerita dia yang saat syuting berusia 13 tahun tampil solid. Dengan wajah cantik dan bilingua-nya yang meyakinkan, sinarnya akan terang di masa depan.

Gambar

The Book Thief

Director: Brian Percival – Screenplay: Michael Petroni – Cast: Roger Allam, Sophie Nelisse, Goeffrey Rush, Emily Watson – Skor: 3,5/5

Karawang, 200314

Football Is Life

Gambar

(menyaksikan permainan Chelsea kita lebih jarang)

Fanboy!

Sebagai penggemar sepak bola, saya sempat kecewa ketika mendengar kabar bahwa hak siar EPL (English Premier League) dilepas pihak MNC. Kontrak 3 tahun dari musim 2010/2011 sampai 2012/2013 tak diperpanjang. Nilai kontrak yang awalnya USD 39 juta kita menjadi USD 90 juta. Dua kali lipat. Nilai yang fantastis untuk sebuah hak siaran sepak bola. Menurut pemilik MNC, Hary Tanoesoedibjo (HT) keuntungan menyiarkan liga Inggris tak seberapa.

“Kami tidak mendapat hak siar Liga Inggris tidak apa-apa. Sebab kami masih memiliki tayangan yang lebih menguntungkan. Pangsa pasar kami saat menayangaknnya hanya 7-23 persen. Naum saat pertandingan sepak bola lokal, share  kita bisa sampai 90 persen. Itu artinya dari 10 orang yang disurvey, pasti 9 orang menonton siaran kami. Ini yang lebih menguntungkan”.

HT pun menilai Orange tv dan Nexmedia terlalu berani mengambil hak siar liga Inggris. Grup MNC sebenarnya masih ada dana berlimpah. Namun sepertinya HT lebih menatap proyek yang lebih besar yaitu Piala Dunia 2014. seperti yang kita tahu, hak siar Piala Dunia tahun depan untuk Indonesia ada di Grup Bakrie yaitu TV1 dan Antv. Namun seperti gossip yang beredar, Bakrie sedang diterpa badai keruntuhan. Sehingga sahamnya kini mulai memuai ke seteru. Konon, target HT tahun depan mengakusisi mayoritas saham TV milik Bakrie.

Dengan kerumitan hitungan uang tersebut, muncullah TV kabel bernama TV Orange (teman-teman Football On Chat lebih suka menyebutnya TV Jeruk) yang dengan berani membeli hak siarnya. TV berbayar tersebut mulai gencar berpromosi sejak liga belum mulai. Ga usah melihat survey, analisa rumit ataupun hitungan yang memusingkan. Banyak teman-teman saya yang berbondong-bondong kini mau merogoh kocek-nya guna berlangganan. Dengan hitungan kasar, pasang parabola Rp 800 ribu dan biaya berlangganan Rp 99 ribu/bulan. Angka tersebut rasanya masih wajar, Cuma bagi saya menonton bola secara gratis terlanjur melenakan.

TV swasta lokal, Indosiar dan SCTV hanya mendapat siaran langsung pertandingan di hari Sabtu dan Minggu. Semua pertandingan yang akan disiarkan hanya yang kick-off antara jam 9 pm s/d 10 pm WIB. Intinya jika ada live bola EPL bukan di akhir pekan di jam segitu maka bisa dipastikan tak akan ada siaran live! Weleh-weleh. Jadi mid-week ini silakan gigit jari.

Kalau saya pribadi, nyerah sajalah. Masih ada La Liga, Serie A, Bundesliga, Ligue 1 atau bahkan ISL sekalipun. Kalau ga live ya sesekali mending streaming seperti yang saya lakukan saat ini, menonton laga City vs Newcastle. Via vipboxonline.eu atau wiziwig.tv

Ya, Football is life (common England). Magnetnya luar biasa.

Karawang, 200813