Laptop

Gambar

Saya kurang suka dengan laptop. Saya lebih suka Personal Computer (PC) dengan monitor flat yang selalu ada di atas meja. Tak mobile, tak kemana-mana. PC saya masih Pentium 4 yang saya beli tahun 2005 saat kuliah semester satu. Jadul tapi penuh memori. Sudah puluhan kali install ulang, semuanya pakai Windows XP. Ga kuat ganti ke Windows 7. Walau sekarang rada lemot saya tak akan ‘membuangnya’, saya tetap pakai walau DVD drive nya sudah KO tak bisa memutar disc. Namun dalam setahun terakhir ini PC saya sudah terasa tua dan tinggal tunggu waktu buat diistirahatkan penuh.

Di rumah ada laptop kepunyaan istri, merk Acer dengan baterai yang rusak. Laptop hanya bertahan tak kurang dari setengah jam apabila colokan dilepas. Ini kesalahan perawatan. Laptop kan computer berjalan, jadi harusnya kalau tanda baterai di kanan bawah sudah penuh harusnya tak di-charge terus, harus dilepas. Laptop seharusnya hanya di-charge ketika ada warning baterai mau habis. Sayang saya terlambat untuk menyelamatkannya. Apalagi istri sering kali main laptop sampai ketiduran dan hingga pagi tetap tersambung, gmana ga ‘hamil’ itu baterai.

Di kantor computer ‘jatah’ saya kebetulan laptop bukan PC seperti staff kebanyakan. Jadi kalau saya bete di ruang kerja saya bisa saja main game di ruang meeting sambil menenteng laptop. Oh enggak, becanda. Jatah laptop karena untuk mengisi training di ruangan lain makanya sering dijinjing ke mana-mana. Ini gambar ava yang kupasang di blog adalah laptop kantor yang sejatinya sudah banyak membantu saya setiap hari. Password-nya adalah ‘harrypotter’, salah satu novel fiksi favorite saya. Kalau ada orang HR yang mau pinjam dan menanyakan password maka secara otomatis mereka akan men-judge saya penyihir berkaca mata tersebut. Well, siapa sih yang ga suka Harry Potter?

Saya orangnya ga bisa rapi. Setiap kali memakai laptop, baik di rumah ataupun di kantor pasti di sekelilingnya berserakan kertas, kopi ataupun ATK. Berantakan. Begitu juga file di dalam laptop, pembagian file harusnya sesuai dengan kebutuhan. Contohnya file meeting yang harusnya dibagi tiap waktu, maka dibuatkan folder tiap tahun lalu folder bulan dan di dalamnya file meeting. Saya tak bisa seperti itu. File saya campur aduk. Ada satu folder, namanya ‘kumpulan pdf’ di sana awalnya buat saya isi file pdf download-an dari internet yang akan saya baca (hello detik, apa kabar?). Nyatanya di dalamnya banyak file ga jelas berserakan. Termasuk draft tulisan blog yang akan saya posting tiap hari. Kacau.

Makanya saya salut sama Windows 7 yang menaruh search ‘programs and files’ di klik start. Hebatnya ini search adalah mereka bisa membaca tulisan dalam file. Jadi kalau saya lupa di mana saya taruh file-nya maka saya akan ketik nama file, kalau nama file lupa saya bisa ketik salah satu kata yang ada dalam file. Jadi kalau saya lupa naruh di mana file tulisan ini maka saya tinggal ketik ‘laptop’, kalau saya lupa nama filenya ketik ‘harrypotter’ pun maka file ini akan muncul di daftar hasil cari. Memang gaptek saya ini, search sepele gini saja saya anggap hebat. Setidaknya ini salah satu continue improvement dari XP ke 7 yang sangat bermanfaat, menurut saya.

Kemarin saya diajak teman untuk mengantar beli latop. Budget-nya 4 juta kurang lebih. Sebenarnya saya punya toko langganan computer di Cikarang yang saya percaya baik harga maupun kualitas barangnya. Namun karena sekarang tidak di Cikarang lagi maka saya cari toko computer yang punya nama di sini. Setelah sampai di sana, maka hal pertama yang saya utarkan adalah spesifikasi dalamnya yang sesuai dengan kantong. Harga laptop berkisar dari 3 juta sampai 9 juta. Karena laptop saya merk Acer dan puas penggunaannya maka saya bidik, minimal sama. Teman saya nurut saja. Padahal dia yang beli, palingan saya cek dalamnya dengan ketik ‘dxdiag’ di ‘run’ maka akan timbul spesifikasinya. Lalu saya terangkan ke temanku artinya. Setelah OK, kita kasih DP lalu petuganya kasih waktu dua jam untuk install. Ketika install mereka ga berani pakai program bajagan karena akan menyeret brand mereka, apalagi sebelumnya ada sidak ke toko mereka sehingga harus install CD Windows 7 asli yang harganya sekitar sejuta. Gila aja, laptop cuma buat di rumah dan kuliah. Dengan sedikit merajuk dan basa-basi saya minta install bajagan dan saya jamin untuk tak menuntut mereka jika di kemudian hari kita tertangkap pihak berwenang (bahasanya rek!), akhirnya mau. Yaiya, kalau mereka tak mau bantu install awal mereka tak akan laku. Pembeli jelas minta praktis. Programnya pun sederhana yang standar sekali macam Ms Office, Corel, Winzip, Winamp, Clasic player, Avast sampai Mozilla. Walaupun sebenarnya saya punya mentahnya, tapi di pembelian pertama kita minta siap pakai. Selama menanti kelar install, dua jam ke toko buku ga kerasa. Dapat novel ‘Intensity’-nya Dean Koontz. Lihat sampulnya, minimalis dan terlihat cool. Di era digital sekarang ini minimalis lebih memikat dan kesederhanaan gambar bercerita.

Gambar

Jadi inti tulisan ini apa? Ga ada, pengen curhat saja kalau laptop sebenarnya saya kurang suka. Saya bukan orang yang suka wara-wiri keluar rumah, nongkrong di café dengan menyeruput capucino dan berdiskusi sama teman-teman di tempat terbuka dengan gaya anak zaman sekarang, saya lebih senang ndeprok di kamar dengan suasana santai tanpa gangguan. Setidaknya adegan di film ‘The Social Network’ saat Saverine melempar laptop di depan Mark tak akan akan menimpaku, paling adegan Wesley di Film ‘Wanted’ saat keyboard melayang. Ough! Dan saya berani jamin, itu sangat langka. Eh tunggu dulu, kamu belum tanya harga laptopnya berapa?

Karawang, 041113

Iklan