Menikahlah! Dan Kau Akan Berubah

Gambar

Menikah merupakan salah satu tanggung jawab besar yang akan banyak mengubah manusia. Saya pernah mendapatkan training ‘leadership’ yang menyinggung hal ini. Saya ingat waktu itu saya sudah setahun menikah dan langsung membenarkan ucapannya. Langkah untuk memutuskan menikah dengan siapa adalah langkah besar yang akan menentukan nasib seseorang di depan. Jodoh, rejeki, mati sudah digariskan. Jodoh memang tak tahu kapan datangnya, dan disinilah seninya hidup.

Saya sudah merasakan betapa banyak kebiasaan saya yang berubah drastis. Lajang adalah merdeka, kalau mau ngapain saja bebas, ga ada yang mengingatkan, ga ada yang melarang. Contoh simple-nya kalau dulu saya bisa main futsal seminggu 2-3 kali, sekarang bisa sekali sebulan saja sudah sebuah prestasi, syukur-syukur bisa continue. Tak heran setelah nikah berat badan saya naik lebih dari 10 kg, selain makan yang tak terkontrol saya jarang olah raga. Ngumpul sama teman untuk nonton bareng film jadi jarang, karena saya termasuk orang yang awal bergabung di komunitas Gila Film (GF) maka saya termasuk aktif. Sekarang sungguh sebuah hal langka. Hanya sesekali saja bisa ke Jakarta. Oiya, saya adalah orang pertama yang menikah dari grup GF ini, jadi sejujurnya saya rada shock juga dengan perubahan ini.

Kegemaran membaca menurun jauh. Selain budget beli buku yang disunat, waktu luang (sendiri) adalah sebuah kenyamanan yang berharga. Tak jarang si May marah-marah merasa dicuekin, padahal saya sudah mencoba membagi waktu untuknya. Nah, ini dia repotnya kalau punya pasangan yang tak sehobi. Berat buat membuat garis sejajar. Saya sudah berkali-kali bilang, “seluruh buku yang ada di rak adalah milikmu juga jadi silakan lahap. Mungkin saya tak kaya harta sehingga tak bisa mewariskan harta berlimpah, tapi saya punya buku yang kelak akan juga saya wariskan untuk anak-anak kita.”

Kebiasaan yang hilang lagi adalah, nangkring di angkringan. Gila saja, si May susahnya gabung sama teman-teman saya buat nangkring malam-malam di pinggir jalan buat makan nasi kucing. Selain harga yang miring, di angringan lebih nikmat dan akrab. Mungkin ini salah satu tempat yang layak disyukuri kita sebagai orang Indonesia. Minum susu jahe hangat, dengan nasi kucing dan gorengan bersama teman-teman lama. Wuih…, sungguh jalinan silaturohmi yang berharga. Sayangnya sekarang lenyap. Tahun 2013 lalu hanya hanya dua kali bisa datang, menukik tajam.

Akhir-akhir ini saya mencoba kembali aktif dengan komunitas bola untuk ikut nonton bareng. Berhubung hilangnya siarang liga Italia dan minimnya siarang Liga Inggris, saya dipaksa keluar rumah. Tahun 2014, baru sebulan berjalan saya ngos-ngosan. Selalu saja May ada alasan untuk melarangku datang. Salah satu solusinya berlangganan tv kabel, sempat saya utarkan tapi pas dia dengar harga pasangnya dia langsung bilang ‘tidak!’. Angka yang sebenarnya saat lajang terasa kecil, tapi saat kita sudah keluarga seluruh pengeluaran harus di-acc bersama dan jadi angka yang besar kalau dikalkulasi bersama.

Jadi kalau kalian yang masih lajang ingin merasakan perubahan besar, menikahlah! Otomatis kalian akan dipaksa mengikuti alur kehidupan. Yang paling nyaman ikuti alur tersebut, karena semua orang nantinya juga akan berubah.

Apakah saya sudah cerita betapa Spongebob itu kini (terasa) menjemukan?

Karawang, 040114

Iklan