Ke Utara Jauh dalam Misi Penyelamatan

The Silver Chair by C.S. Lewis

Yah! Ini tepat seperti yang kubutuhkan. Kalau makhluk-makhluk ini tidak bisa mengajariku untuk memiliki pandangan hidup yang serius, aku tidak tahu apa lagi yang bisa. Lihatlah makhluk dengan kumis itu – atau yang itu yang memiliki…”

Tugas mereka berdua (plus satu bantuan) adalah menyelamat sang Putra Mahkota yang diculik Penyihir Hijau yang jahat. Tak ada orang-orang Narnia yang tahu, yang jelas ia masih hidup. Mereka harus membawanya kembali ke Narnia dalam keadaan hidup.
Buku keempat Narnia, kubacakan untuk Hermione. Mungkin yang paling seru sebab ada sebuah area di ujung Utara bernama Harfang, tempat nyaman yang dituju dengan antusias karena kenyamanannya. Dijanjikan api hangat, tempat tidur empuk, atas yang melindungi dari badai dan tempaan angin malam. Lalu booom! Mereka musuh, mereka pemakan daging manusia. Mereka raksasa beradab? Kejutan itu mencipta kengerian, trio jagoan: Eustace, Puddleglum, dan Pole berlari keluar dari dapur dengan tunggang langgang ketakutan, mendebarkan sekali mereka nyaris tertangkap, terselamatkan berkat ada lubang di kaki tangga, mungkin bagi para raksasa itu hanya lubang tikus, hanya celah bongkahan di pojok tangga halaman rumah, tapi benar-benar menyelamatkan mereka. Hermione sampai ketakutan, lalu tertawa meriah. Saking senangnya ketika mereka bertiga selamat dari jangkauan raksasa, ia jingkrak-jingkrak di kasur, membal-membal ceria. Walaupun akhir bab itu menggantung, di mana mereka terperosok bermil-mil, Hermione tetap saja mengalami euphoria suka cita. Lihat, betapa efek membaca bisa sedemikian dahsyat. Cara kita baca, dengan siapa kita baca, bagaimana cara membacanya menjadi sangat berpengaruh pada banyak hal, berpengaruh pada setiap individu.

Kisahnya langsung berlanjut dari akhir buku tiga, Eustace Scrub kini menerima tongkat estafet Pevensie Bersaudara sepenuhnya. Ia kini menjadi leader ke Narnia, dibuka di belakang Gimnasium ia bercerita pada gadis yang sedang sedih sebab kena perisak di Sekolah Eksperimen, Jill Pole yang memakai bando. Ia mencerita dunia ajaib yang pernah dikunjungi, lalu saat mendengar para jagoan kelas datang, mereka merayap di kebun menemukan pintu. Bahkan pada satu kejadian pun bisa membuat orang berharap, dan membuka pintu itu, karena kalau saja ternyata tidak dikunci, dan benar saja di balik pintu itu mereka sudah tidak di Inggris lagi. Harapan Eustace untuk kembali ke Narnia terkabul, Pole yang awalnya berharap malah kini gemetar ketakutan. “Apakah kita bakal bisa kembali? Apakah aman?”

Mereka menjelajah hutan asing, tempat penuh suara burung dan gemericik air, dan desir angin lembut. Saat di tepi jurang dalam debat yang aneh, Scrubb yang berdiri tak seimbang terdorong ke jurang, lalu tiba-tiba ada Singa yang meniupnya. Jelas Aslan menyelamatkan Scrubb, menjadikannya terjatuh lembut di suatu tempat. “Pasti ini mimpi, pasti, pasti. Aku akan segera terbangun.” Tapi itu bukan mimpi, dan ia tidak terbangun. Lalu Jill mendengar Sang Singa berbicara, memberinya empat perintah/tugas (Hermione hapal!), yang harus diingat selama dalam petualangan. (1) begitu Eustace, si anak lelaki menginjak Narnia ia akan bertemu dengan teman lama yang baik, dia harus segera menyapanya agar dapat bantuan besar. (2) kau harus berjalan ke Utara, ke luar Narnia sampai menemukan puing-puing kota kuno para raksasa. (3) kau akan menemukan tulisan pada batu di kota tua itu, dan kau harus melakukan apa yang diperintahkan tulisan itu padamu. (4) kau akan mengenali si pangeran yang hilang (kalau kau menemukannya) berdasarkan petunjuk ini, dia akan menjadi orang pertama yang kau temui dalam perjalanan yang akan memintamu melakukan sesuatu dalam namaku, dalam nama Aslan. Pole pun diminta mengulang perintah itu agar ingat, lalu ia ditiup menyusul Scrubb.

Setelah kembali bertemu Scrub di pantai, mereka melihat istana yang meriah. Ada kapal yang segera diangkat jangkarnya, dalam lambaian rakyat yang bersedih. Scrub awalnya ragu, tapi saat Pole mengingatkan empat tugas, barulah ia menemukan klik. Orangtua yang akan berlayar itu ternyata adalah Raja Caspian, ia sudah sangat tua, padahal di London baru setahun, di sini sudah puluhan tahun. Waktu berjalan tak linier. Menemui sahabat lamanya, ia merasa khawatir sebab bantuan besar itu bukan Caspian. Saat akhirnya Caspian dkk memulai petualangan ke Timur demi nostalgia, mereka berdua dilayani di istana dengan mewah.

Malam itu, saat jelang tidur ada yang mengetuk jendela, padahal ada di lantai atas. Ada Burung Hantu raksasa. “Kuu-kuu, kuu-kuu!” burung hantu bernama Glimfeather itu lalu ‘menculik’ mereka menuju sebuah reruntuhan istana, di sana sudah banyak burung hantu lainnya, sedang mendiskusikan rencana penyelamatan. Rapat burung hantu itu menghasilkan keputusan, mereka berdua besok pagi akan dibawa ke Rawa Timur menemui Marsh-wiggle bernama Puddleglum yang jangkung. Ia tahu rute ke utara, ia berniat meminta bantuan. Sejauh ini ketemu dua tugas utama: mengenali Caspian tua, mendapat bantuan besar dan itu adalah si jangkung, kedua mereka akan menuju ke Utara. Inilah kisah utama Kursi Perak, bertiga memiliki misi penyelamatan.

Dalam petualang ini perbatasan Narnia ada di sungai yang dangkal menyeberangi Shribble, maka mereka menuju Ettinmore di mana para raksasa bodoh sedang bermain lempar tangkap batu, saling memukul dan tertawa konyol. Beberapa benda nyaris saja menimpa mereka, berlari menghindar malah diketawain. Mungkin bagi para raksasa bodoh itu, kita semacam lalat yang panik tersebab mau dimainkan.

Di jembatan lebar, mereka melihat dua penunggang kuda. Satu Sang Lady, satu lagi adalah ksatria berbaju besi begitu diam. Setelah basa-basi, dari Sang Lady diberitahu bahwa di Utara sana ada pemukiman raksasa bernama Harfang, mereka adalah makhluk cerdas, baik, dan siap membantu para petualang. Bilang saja, dapat salam dari Lady, kalian akan dilayani dengan baik. Ksatria baju besi tetap diam, lalu mereka berpisah. Dalam bayang Pole dkk akan penginapan nyaman membuat gairah semangat, sebab kini mereka memasuki area badai salju.

Perjalanan menjadi sungguh berat, dingin, dan mengerikan. Angan kenyamanan Harfang membayang sepanjang hari, saat Pole terjebak salju lalu terperosok ke lubang lebar, mereka ketakutan. Di bawah sana, ada rute, ada jalan melingkar, tapi antah. Setelah dicek dan dipastikan buntu, mereka melanjutkan ke Utara, sudah tampak cahaya pemukiman, membuat hilang akal, dan keburu ingin sampai.

Benar saja, di Harfang mereka dijamu dengan baik oleh para pelayan. Diberi makan, selimut, dan sambutan luar biasa. Lega, tenang, dan nyaman. Para raksasa itu tertawa dan bahagia, menerima salam Lady dengan senyuman. Malam itu mereka diminta istirahat, pembantunya memainkan Pole laiknya boneka, Scrub sampai muak sebab Pole menangis, Puddleglum bertingkat konyol bak badut yang menari menghibur tuan rumah. Lega? Ya, hanya sementara…

Seperti yang kutulis di awal, Harfang adalah kejutan seru sesungguhnya kisah ini. siang itu para pejabat bersiap berburu, mereka makan dan santai, lalu ke dapur, disambut koki dan pelayan, dibiarkan. Saat agak sepi, mereka bertiga nak ke kursi, bayangkan semut yang merangkak ke meja, seperti itulah mereka bertiga. Dan betapa terkejutnya saat menemukan buku resep. Begidik ngeri!

Harfang adalah neraka, sambutan hangat hanyalah kamuflase. Dengan siasat tepat dan dramatis mereka kabur kembali ke Selatan, terjatuh di lubang tangga, terperosok jauh sekali ke bawah tanah, kelegaan kabur dari Harfang disambut makhluk antah lain di dasar bumi. Petualangan menakjubkan dan mendebarkan sebab mereka langsung disapa Muluguterum, “Siapa itu?” tanya mereka, dijawab, “Aku penjaga gerbang Perbatasan Dunia Bawah, dan bersamaku ada seratus earthman bersenjata…” yah, mereka menjadi tawanan, dibawa dalam gelap menuju kastil bawah tanah, area tanpa matahari yang asing dan misterius.

Dan tak dinyana, justru di situlah tujuan utama petualangan ini. petunjuk ketiga sudah ada, Pole sempat meleset lupa, tapi akhirnya bisa diperbaiki, petunjuk keempat, mereka sadar di sinilah pangeran itu ditawan. Dengan Penyihir Hijau yang memiliki kekuatan dahsyat, berhasilkah mereka membawa Sang Pangeran kembali ke Narnia?

Secara cerita memang aman, jelas buat anak-anak. Secara keseluruhan, ini salah satu yang terbaik dari respon Hermione. Ia benar-benar masuk ke dunia ajaib itu, ketakutan, nama-nama yang mudah dihapal, sampai bisa buat peta perjalanan ke Utara, lalu terjatuh di bawah tanah, melalui perjalanan ia bisa menyimpulkan sendiri berarti perjalanan di bawah itu ke Selatan sehingga tembus di tanah Narnia lagi, saya bilang ‘Ya’. Seperti itulah.
Sebenarnya sudah tak sabar memulai petualangan Kuda dan Anak Manusia. Namun kebiasaan setelah baca buku, lalu nonton film terhenti Hermionekzl’. Dan bulan ini malah memulai buku Harry Potter, baru dapat dua bab. Masih dari tanah Britania.

Kursi Perak | by C.S. Lewis | #6 | Diterjemahkan dari The Chronicle of Narnia: The Silver Chair | Ilustrasi Pauline Baynes | Alih bahasa Donna Widjajanto | GM 106 05.015 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Oktober 2005 | Cetakan kedua: Desember 2005 | 320 hlm; ilustrasi; 18 cm | ISBN 979-22-1719-3 | Skor: 5/5

Untuk Nicholas Hardie

Karawang, 130421 – Boyzone – Words

Novel Berbahasa Inggris

Setelah selesai sahur perdana di Ramadhan tahun 2013 ini, saya mau curhat masalah penguasaan English. Harus saya akui, bahasa Inggris saya lemah. Saya suka musik luar terutama Amrik dan Eropa terutama Irlandia yang memakai English dalam liriknya, tapi tetap ngomong Inggris ga lancar. Saya belajar English sejak SD sampai kuliah, tapi ya belajar dasarnya saja. Saya punya 5 kamus bahasa Inggris mulai yang setipis note sampai setebal novel Harry Potter. Itu semua tak cukup untuk cas cis cus. Bahkan saya punya assisten bernama google. 😀

Sehingga rasanya lucu kalau saya punya buku novel berbahasa Inggris. Di rak buku ada 4 novel, keempatnya belum saya baca. Atau suatu saat nanti akan saya baca. Yaitu:

#1. The Great Gatsby

Gambar

Saya membeli ini novel pas ada bazar di Senayan pada tanggal 10-10-10. Waktu itu saya dan teman-teman dari komunitas pecinta film lagi jalan-jalan cari buku murah. Saya lebih banyak membeli novel terjemahan terbitan Atria yang tipis. Tapi di sela-sela buku tipis yang saya beli ada satu novel asing berjudul the Graet Gatsby. Harganya sungguh bersahabat, hanya Rp 12 ribu. Padahal novel terjemahan bahasa Indonesia nya dibandrol Rp 40 ribu. Ini kebalikan dari biasanya. Kalau pada umumnya novel asli luar sangat mahal dan terjemahannya yang berharga miring, yang ini tidak. Waktu itu saya beli untuk belajar English, rencananya mau saya terjemahkan pelan-pelan sambil untuk memperkaya kosa kata. Faktanya itu buku ga tersentuh sampai sekarang. Tidak ada satu bulan, saya mempunyai novel The Great Gatsby berbahasa Indonesia yang dalam seminggu sudah saya checkread. Duh!

#2. The Game of Thrones 3: A storm of Swords Part 1: Steel and Snow

Gambar

Kalau yang ini baru saja saya dapat dari mengikuti kuis yang diadakan majalah Total Film Indonesia (TFI). Saya sudah puluhan kali ikut kuis dari majalah ini tidak pernah menang. Tapi akhirnya pecah telur juga pas kemarin saya ditelpon sama TFI bahwa saya menang kuis yang hadiahnya dikirim hari itu juga. Siang tadi sudah sampai dan langsung saya buka. Wow, novel tebal The Game of Thrones sudah di tangan. Novel yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini memang sudah jadi incaran saya. Film-nya sudah tayang series di HBO dan ceritanya benar-benar luar biasa. Tiap karakter mempunyai sifat yang tak bisa ditebak. Karakter baik dan jahat terasa absurb. Walau punya novel English-nya saya tetap berharap suatu saat diterjemahkan. Dan saya yakin itu. Ayo Mizan Fantasi, ayo Gramedia percayalah novel tebal ini sudah punya fan base yang besar. Pasti laris manis. Film series-nya sukses besar jadi suatu saat pasti diangkat di layar lebar, jangan nunggu mau diadaptasi baru rebutan hak terjemahan. Bukunya sendiri ada banyak, yang saya pegang adalah seri ke 3 bagian pertama yang tebalnya melebihi seri Harry Potter awal.

#3. Victorian Ghost Stories

Gambar

Ini novel punya kakak saya. Sewaktu lajang kakak saya termasuk orang yang loyal beli buku. Bukunya kebanyakan adalah buku agama, maklumlah dia memang rajin ibadah. Nah diantara buku agama tersebut terselip buku cerita berbahasa Inggris. Bukunya dilunsurkan ke saya. Buku tersebut sudah tercorat-coret memakai pensil dimana coretannya kebanyakan adalah arti per kata. Ini mungkin salah satu cara kakak saya mempelajari English. Dan saya sesekali menikmatinya, tapi belum selesai. Cerita horror (mungkin) menakutkan. Kumpulan cerita pendek yang sudah melegenda di era Victorian yang sudah banyak dikenal (di Eropa).

#4. The Fires of Spring

Gambar

Sewaktu saya bekerja di sebuah Perusahaan furniture 6 tahun lalu, ada seorang rekan kerja yang sangat akrab. Dia duduk di sebelah saya. Dia sering main ke kos saya, dan heran sama koleksi buku saya yang banyak (menurut dia). Kebanyakan novel fiksi. Dia bercerita masa lajangnya dulu bahwa dia diberi hadiah oleh seorang perempuan berupa novel romantis berbahasa Inggris. Dia yang tak tertarik fiksi akhirnya memberikan itu novel ke saya. Katanya, biar benda itu ada pada tempat yang tepat. Dan itu novel masuk koleksi saya di rak, walau belum terbaca. Judulnya the Fires of Spring, di bawahnya ada embel-embel pemenang Pulitzer Prize. Pasti novel bagus, sayangnya belum kelahap selembarpun.

Bahasa Inggris saya memang masih lemah, tapi saya sangat ingin bisa menguasainya. Saya tiap hari masih belajar per kata. Saya catat di HP kata demi kata beserta artinya. Tiap kali saya menemui kata baru langsung saya masukkan daftar wajib hapal. Sistem ini efektif, sayangnya saya yang kurang konsisten. Jadi yang seharusnya 5 kata per hari malah bisa saja 5 kata seminggu atau bahkan sebulan. Butuh kerja keras nih untuk cas cis cus atau menikmati novel English. Wish me luck!

Selamat Menjalankan ibadah puasa.

Karawang, 090713