Section 375: Drama Pengadilan Mencipta Kerut Kening Berlapis

Zero tolerance policy for sexual misconduct.”

===tulisan ini mungkin mengandung spoilert===

Film India tak hanya menari dan bernyanyi. Film India juga banyak yang slow dan menantang nalar serta edukasi hidup, inilah salah satu produk unggul sinema tentang drama di pengadilan. Mengingatkanku pada novel-novel John Grisham yang solid, perdebatan mendalam di kursi-kursi panas, mengingat pula kegigihan dan kepahlawanan perempuan di novel-novel Sidney Sheldon, terutama Rage of Angels yang dahsyat. Di sini, perempuan tampak lebih hebat, lebih perkasa, dan menangan. Urusan syahwat, lelaki selalu apes berkonotasi. Alurnya khas Sheldon yang upaya membalikkan keadaan dan dramatis-nya dapat. Section 375 merupakan bagian KUHP yang berlaku di India, yang jadi rujukan ayat kasus pelecehan seksual.

Dibuka dengan ditangkapnya seorang sutradara terkenal Rohan Khurana (Rahul Bhat) atas tuduhan pemerkosaan disertai kekerasan terhadap desainer kostum yang membidani filmnya, Anjali Dangle (Meera Chopra). Tampak sangat meyakinkan kasus ini, pendulum salah memberat pada laki-laki kalau mengenai syahwat. Pengacara yang ditunjuk adalah pengacara senior Tarun Saluja (akting hebat Akshay Khanna) berupaya sebaik-baiknya mendampingi, melawan jaksa penuntut umum muda ambisius, mantan anak didiknya Hiral Gandhi (Richa Chadda), bisa jadi ini adalah kasus besar pertamanya yang berarti bisa untuk mendongkrak karier. Segala daya dikerahkan demi kemenangan sang korban. Kemenangan menjadi hal mutlak yang harus diraih walau mengorban kemanusiaan, rasa empati diredam di lumpur terdalam.

Kasus yang tampak mudah ini lalu mengabu, meragu, luruh dengan berjalannya menit, sangat mengingatkan film noir 12 Angry Men di mana, para juri berubah haluan perlahan dengan terungkapnya fakta-fakta baru dalam selidik. Section 375 mengupas perlahan detail perkara, tak lurus bernarasi tapi jelas dipikat dengan gaya menegangkan. Khurana seorang public figure, sehingga mengundang lalat perhatian, ia dicerca dengan dalih menggunakan kuasa sutradara film dengan melaksana pelecehan. Membakar emosi nitizen. Sampai muncul demo berjilid-jilid meminta terdakwa dihukum seberat-beratnya, atau sebijaknya dibilang seadil-adilnya? Sejujurnya adegan demo-nya kelihatan banget palsu. Property massa dan lembar bendanya kaku, tak digarap dengan intens. Khurana ditengah tekanan publik tampak tenang, tak menggebu, tampak sangat bersalah – ya, tampak menyembunyikan poin penting – ya, pertaruhan aib dan mertabat. Aib seorang lelaki, dan martabat pekerja seni. Anjali sebagai korban juga pasif, menampil perempuan lemah yang dirugikan – ya, menjaga emosi tetap tertahan – ya. Yang jelas ada sesuatu yang disembunyi mereka berdua. Menempatkan diri sebagai designer yang tak bernama di kancah Bollywood, tapi ketika menit mula kedatangannya di apartemen diungkap, kita tahu ada yang janggal.

Ia hanya seorang rekomendasi, ia seorang fan, ia seorang posesif akut!

Anjali datang ke apartemen Khurana untuk menunjukkan kostum filmnya. Pembantu diminta keluar, lalu kasus itu terjadi. Kejanggalan pertama muncul, rambut Anjali ada di kasur padahal pertemuan di ruang tengah. Apakah ada paksaan masuk kamar ataukah sukarela? Kejanggalan berikutnya, memar luka di selakangan, andai ada kekerasan fisik, kenapa ada di kedua sisi dengan bekasnya kena benda keras. Tak ada barang bukti ditemu, tak ada benda keras yang ditemukan di TKP. Lalu CCTV dan rekaman coba dibuka, booom! Menarik sekali. Adu cerdik ini menemui titik akhir yang mengejutkan. Menggemaskan. Kasus pemerkosaan ini lebih suram dari yang dikira.

Jelas ini adalah salah satu film pengadilan terbaik, angka penjualan tiket bioskop mengecewakan – mungkin karena tema drama merenungnya, tapi secara ulasan sangat positif – jelas, ini kisah drama roller coaster. Penampilan terbaik Akshay Khanna, turut gereget, ikut sedih tapi tak sampai nangis. Menampilkan perjuangan hingga titik keringat terakhir, tampak lelah sekaligus semangat membara dalam sorot mata harap. Keyakinan, memang sekalipun benar terkadang menampar umatnya. Simbol pengadilan menampil wanita dengan mata ditutup kain dengan memegang timbangan, yah begitulah. Telaah Section 375 membutuhkan kemampuan Kognitif Elliot yang terdiri atas kecerdasan, ingatan, dan perhatian. Produk hukum tak ada yang sempurna, bisa dimanipulasi dan disalahgunakan. Menikmati jenis film drama semacam ini butuh konsentrasi dan sejumput kesabaran.

Secara naskah juara. Seolah kupas kulit bawang, yang perlahan nan pasti kebenaran adalah inti, selongsong kulit itu diungkap satu per satu, satu per satu, lalu ketika sampai di keputusan ternyata malah menimbulkan air mata kepedihan. Naskah seperti ini sulit dibuat, plot maju-mundur, drama kriminal tanpa tembakan dan ledakan. Mencintai sepi dan kebosanan, laksana perdu puisi. Baca syair melengking nyaring, moral diikat ketat, ruang sidang pengadilan yang menolak gema kebenaran. Simpan argumenmu, jabat tangan di makan malam menjadi fakta pahit ironi kehidupan berikutnya. Lantas, siapa penista pengadilan sesungguhnya?

Endingnya bikin marah penonton. Tak kita kira akhir babak semacam itu. Hakim berkerut kening, penonton berkerut kening, para juri berkerut kening, inilah film yang mencipta kerut kening berlapis-lapis. Pak Pengacara dan Bu Jaksa lalu ngopi bareng. Hahaha… film yang mengajarimu banyak hal. Film yang tak nyaman, mencipta hingar bingar di meja kursi pengadilan.

Contoh nyata, bagaimana sebuah sinema berhasil mengatrol keadaan dan emosi penonton, film tenang yang perlahan nan pasti riaknya menggelombang luapan atensi tinggi. Suatu hari, entah sepuluh atau lima puluh tahun lagi Film Ini akan jadi pembahasan seru para akademisi calon-calon sarjana hukum, dengan dalih yang tampak di permukaan tak seperti yang kamu kira. Beruntung kita sudah mengerutkan kening terlebih dulu. John Grisham bertepuk tangan dengan nyaring di sana. #MeToo

Section 375 | India | Year 2019 | Directed by Ajay Bahl | Screenplay (additional & dialogue) Ajay Bahl | Story and screenplay (dialogue) Manish Gupta | Cast Akshaye Khanna, Richa Chadha, Meera Chopra, Rahul Bhat, Shriwara, Kishore Kadam, Kruttika Desai | Skor: 4/5

Karawang, 130520 – Bill Withers – Lean on Me

Gully Boy: Ideologi Rap dan Konsekuensinya

“… Akan kuubah mimpiku untuk disepadankan dengan realitaku. Aku ingin ubah realitaku agar sepadan dengan mimpiku. Tuhan telah memberiku hadiah, aku takkan mengembalikannya. Keputusanku sudah bulat.”

Selama ada kehidupan, harapan selalu ada untuk mewujudkan mimpi adalah tema film yang sangat umum. Sudah jutaan kali dibuat. Gully Boy hanya gelintir itu. Saya lebih mengenal musik rap dari Amerika, yang umum saja dari Eminem, Kanye West, 50 Cent sampai Puff Daddy, bonus Mike Shinoda demi Linkin Park. Sejarah musik berakhir dengan gairah dan ledakan keberanian. India? Alamak, baru kali ini saya menyaksikan ada yang nge-rap bahasa Hindi. Untung terjemahan filmnya bagus (thx a lot Rafli_Khan), yang bahkan adu rap dialihbahasakan dengan lugas. Banyak kalimat puitis, banyak romantisme, karena ditulis oleh mereka yang langsung bersentuhan dengan jalanan, seakan memang curhat penyanyi kepada pendengarnya, ini lho kehidupan masyarakat kelas bawah, seadanya, mengalir apa adanya. Seru menyaksikan rapper menyatu gitu, great act put together. Bertahun-tahun sejak sekarang, akan ada potongan adegan film ini yang akan dibagikan dan dinyanyikan dalam media sosial. Catat itu. Penampilan pas rap battle bagus sih, natural saling ejek dan cela di atas panggung. Ngalir saja, seolah memang tak ada arahan naskah, karena memang mereka rapper asli.

Kisahnya tentang rapper India yang tumbuh dari keluarga kelas bawah di Mumbai. Murad Ahmed alias Gully Boy – yang berarti Remaja Jalanan (diperankan dengan menawan oleh Ranveer Singh). Ia adalah mahasiswa tingkat akhir, seorang muslim dalam keluarga kolot. Ayahnya poligami, dengan membawa istri barunya ke dalam rumah sempit mereka. Ayahnya hanya seorang sopir pribadi yang berjuang mencari uang untuk menghidupi banyak anggota keluarga. Ibu Murad seorang pembantu, istri pertama yang sering cekcok, nenek Murad dan adik Murad. Hidup dalam rumah sederhana sekali, kurang petak karena sempit, kumuh dan berisik.

Pacar Murad adalah mahasiswi kedokteran dari keluarga terpandang, ayahnya dokter, Safeena dipaksa jadi dokter bedah. Walau terlahir dan besar dalam Islam yang taat, terlihat Safeena Firdaus (diperankan badass oleh Alia Bhatt) ingin bebas dari kungkungan ketat. Aturan dasar moral itu sederhana: hasrat menginginkan, agama melarang. Berdua, melawan dunia. Adegan saat di bus, Murad duduk dengan earphone santai, lalu Safeena setelah ibunya turun dari bus, ia menyusul duduk berdampingan, berbagi penyumbat telinga musik dengan tangan saling meremas, ikonik sekali.

Hasrat Murad adalah musik, berkenalan dengan rapper lokal kenamaan, MC Sher (Siddhant Chaturvedi). Ia ingin mengubah masa lalu menjadi puisi. Karena ini menyangkut tentang dirinya, di bagian dalam – hati, maka itu patut ditulis. Inilah yang patut dibaca banyak orang, patut didengar banyak orang. Mencipta musik dengan tulisan aslinya, unggah di Youtube, dengan nama samaran Gully Boy. Respon penonton positif, dan mengundang seorang produser India berpendidikan Amerika, Sky (Kalki Koechlin). Terjadi intrik, karena Sky yang mengenal seks bebas, merasuki kehidupan rendah hati Murad. Kolaborasi mereka bertiga and the genk menuntun kepada kompetisi Rap untuk jadi penyanyi pembuka konser rapper terkenal, berhadiah satu juta rupee. Tak perlu mengenal Naezy dan Devine untuk tahu siapa pemenangnya.

Sayang tema yang diusung terlalu banyak, ga fokus, durasi dua jam setengah ga akan cukup untuk menampung masalah yang meluap: isu agama, bagaimana taaruf dalam Islam ketika akan menikah, dengan memperkenalkan calon pasangan dengan melihat foto dan biodata, tanpa pacaran. Tema mewujudkan mimpi, bahwa seorang kere bisa mencapai kasta tinggi kala berjuang menekan limit kemampuan tertinggi. Tema perjuangan perampok mobil demi bertahan hidup, menghalalkan segala cara. Tema pasangan yang keras kepala, posesif dengan segala daya akan kuperjuangkan cintaku padamu, walau badai menghadang, walau harus mendaki gunung, walau harus menampar gadis lain, meremukkan botol bir ke kepalanya, walaupun harus menentang orang tua. Dan memang gadis macam gini ada. Banyak. Sampai tema musikalitas itu sendiri, ideologi rap dan konsekuensinya.

Menonton film biopik sejatinya perkara titik pandang. Melihat takdir seseorang dari ‘atas’ mengamati nasib dari menit ke menit. Di sini, kita tahu ada yang istimewa pada sang protagonis: bakat dan keinginan keras mengubah jalan hidup. Di antara kegiatan bersama manusia yang paling sulit diorganisasi adalah kekerasan, pada dasarnya manusia baik. Kegiatan paling mudah dalam sosialisasi, bisa jadi adalah bermusik hip-hop. Kasih salah seorang lead sebuah mik, kepalkan tangan dan mari nge-rap!

Adegan saat jelang klimaks, debat sama bapaknya tentang pilihan karier bukan hal baru, sesuatu yang umum. Kewajiban seorang bapak adalah membantu anaknya membuat keputusan-keputusan jitu dan mencegah munculnya keputusan yang salah akan masa depan. Tetapi bagaimana kalau selama ini bapaknya memegang prinsip yang salah, prinsip dusta? Bahwa selama ini ayah mempercayai sebuah falsafah kolot? Bahwa inilah nasib kita, bahwa nasib kita adalah seonggok sampah. Yah, usia tua bukan jaminan pengarah nasib yang baik. “Aku melihat matahari terbit lebih banyak darimu, yang kuajarkan kepadamu hanyalah apa yang aku ketahui.” Nah!

Saya punya tiga alternatif ending yang bisa mengubah penilaian secara menyeluruh. Pertama, laiknya kisah Romeo + Juliet, ending sedih itu menjadi terkenang selamanya. Coba ketika Murad mencapai garis final, buat ending tragis: dia atau Safeena tewas kena geledek kek, tertabrak odong-odong kek, tertembak polisi yang mengejarnya, atau safeena minum racun karena dipaksa nikah dengan pria pilihan ibunya. Saya ga suka mereka semua bahagia, semua karakter utama tersenyum di akhir. Bahkan sang penjual narkoba-pun tampak dijemput pulang, semu lepas bak kelebihan hormon endorfin. Selamalamalamalamalamalamanya… bah!

Alternatif kedua adalah tak tahu siapa pemenang kompetisi, biarkan menggantung. Ketika memasuki final, sang mc mengumumkan acara puncak dimulai dan musik rap mengalun merdu masuk lalu credit title muncul. Biarkan penonton memutuskan sendiri, bagaimana akhir yang diminta. Bukankah yang begini tampak seksi?

Alternatif terakhir dibikin dramatis, ketika Murad semisal sedang di panggung, pengumuman pemenang dan polisi sudah berkerumun di bawah siap menyeret ke penjara. Ingat ya, ada adegan rekan rampok ditangkap, ditengok di sel dan komit menjaga rahasia. Masak secanggih ini, masak serapi itu, Murad tetap tak tersentuh polisi, polisi India kan pintar-pintar bro. dengan mic di tangan polisi berteriak, Murad ditahan sebagai penjahat! Wah ucapan itu akan lebih jleb ketimbang seluruh isi lirik lagu yang dinyanyikan. Hanya karena polisi tidak menangkapmu, bukan berarti kau tak bersalah.

Mungkin karena film berdasarkan kisah hidup rapper asli Naved Shaikh (Naezy) dan Vivian Fernandes (Devine) sehingga endingnya ga diledakkan. Ga dibuat boom! Devine sendiri muncul di akhir film sebagai comeo dalam lagu Apna Time Aega.

Menurut undang-undang Hammurabi tatanan sosial Babilonia berakar di asas keadilan yang universal dan abadi, dititahkan oleh dewa-dewi. Asas hierarki amat penting, menurut kode tersebut manusia terbagi menjadi dua jenis kelamin dan tiga kelas: orang-orang kelas atas, rakyat jelata, dan budak. Dalam Islam, agama yang dianut dua keluarga karakter utama, bahwa semua manusia diciptakan setara, dikarunia Allah hak-hak tertentu yang tak bisa dicabut, antara lain mencakup kehidupan, kemerdekaan dan pencarian kemerdekaan. Sementara menurut sains, manusia bukan ‘diciptakan’ melainkan berevolusi. Dan manusia jelas tidak berevolusi hingga bisa ‘setara’. Gagasan kesetaraan terjalin erat dengan gagasan penciptaan. Ada ironi sebenarnya ketika bapaknya meminta tetap rendah diri, sementara ajaran agama menyatakan kita terlahir sama. Sebagian besar pilihan yang kita buat dalam hidup memang menyakitkan, Pak, maaf saja. Dan Murad menampar orang tuanya tanpa gerak tangan. Di manakah letak optimisme? Di dalam takdir atau kekacauan? Jika ingin menjadi seorang istimewa di tengah sesak banyak orang, kita harus membuat diri kita fantastis. Gully Boy mewujudkannya seolah berbisik, “Bertahun-tahun lalu kita berjanji dengan takdir; dan sekarang tiba waktunya kita akan menebus janji kita, secara substansial…” selanjutnya adalah adegan di atas panggung dengan gemuruh penonton di ending.

Apapun yang terjadi selanjutnya tidak bermakna bagi kita.

Gully Boy | Year 2019 | Directed by Zoya Akhtar | Screenplay Zora Akhtar, Reema Kagti, Vijay Maurya | Cast Ranveer Siggh, Alia Bratt, Siddhant Chaturvedi, Vijay Raaz, Kalki Koechlin | Skor: 3.5/5

Karawang, 081119 – Fourplay (Feat. El Debarge) – After The Dance