Hollywood Husbands Book 1 by Jackie Collins

Kehidupan Hollywood yang membara, para suami selingkuh, para istri kelayapan, dan para gembel memuja hedonisme mereka.

“Dulu kita berniat mempertaruhkan segalanya untuk menikmati suasana seperti ini, lucu juga. Sekarang malah tidak menyukainya.”

Dia menyukaiku, dia menyukaiku. Seperti Sally Field kala menang Oscar. “Hi, sayang. Aku sedang duduk melamunkanmu.” Coba banyangkan, seperti apa jadinya bila seseorang kehilangan kecantikan, karier, dan masa depan. Ini adalah pengalaman pertamaku menikmati novel Jackie Collins. Pace-nya cepat, kurang detail sehingga hal-hal kecil tak disentuh, hanya mencerita latar dengan kejadian-kejadian yang bergerak maju. Awalnya membosankan, tapi memasuki bagian dua menemukan klik yang nyaman. Bukunya ada dua, setiap buku dibagi lagi dalam dua bagian utama. Di sini kamu bisa memeroleh apa pun yang kau mau asal ada duit.

Bagian pertama terjadi di bulan April 1985, pengenalan karakter, bagaimana nasib yang satu menggelayut manja di nasib tokoh lainnya. Center kejadian adalah pesta mewah sang artis besar Silver Anderson. Dari pesta itulah merentet efek kejadian selanjutnya. Di bagian kedua setting bulan Juni 1985 dengan titik pusat pesta para gaek di hotel Forum dan nasib cinta Sang Superstar. Semua kejadian utama berpusar di Hollywood, California. Di Hollywood tidak ada yang lebih dari materi dan uang. Dengan uang, wanita secantik apa pun akan memberikan tubuhnya untuk dinikmati.

Suami-suami di sini ada empat tokoh utama. Pertama, Jack Python yang memiliki acara talk show face to face with Python. Kehidupannya mapan bersama artis pemenang Oscar Clarissa Browning, hingga bertemu Jade Johnson. Clarissa sendiri sama rumitnya. Bercinta dengan pasangan main, adalah bagian dari pertunjukan itu sendiri. Hidup adalah resiko dan itu harus dijalani.

Kedua, Mannon Cable, bintang film ternama. Ia berencana menceraikan istrinya Melani-Shania tapi malah terganjal, istrinya hamil. Mannon masih tergila-gila sama mantan istri pertamanya Whitney Valentine. Sang bintang dicerita sedikit di buku satu ini. Whitney hanya mau berpose telanjang, bila imbalannya tidak kurang dari satu juta dollar, dan sejauh ini belum ada yang menawarinya. Ada tiga macam aturan yang harus ditaati Whitney: tersenyum bila wartawan memotret, tampil gaya dan siap untuk tampil televisi, dan pertakukan orang-orang dengan ramah sebab berkat partisipasi merekalah kepopuleran berhasil diraih. Jadi jangan lupakan mereka.

Ketiga, Howard Soloman, kepala studio. Seorang playboy yang sudah menikah empat kali, tapi incaran utama Whitney, mantan istri sahabatnya tak pernah berhasil digaet. Berkepala botak, dan memakai wig untuk bergaya. Memilih film yang akan box-office sama saja dengan memilih seekor anjing dari antara banyak anak anjing yang lain. Seseorang bisa saja keliru memilih yang kerdil, walau kelihatannya punya asal usul yang jelas.

Keempat Zachary K. Klinger, raja Hollywood, pemilik Orpheus Studio bosnya Howard. Kaya raya, hampir semua keinginannya terkabul, tapi tidak untuk sang bintang opera sabun Silver Anderson, yang justru terjebak nafsu sama begundal muda, Wes Money. Zach tak terlalu banyak dikisah ini, mungkin di buku dua. Sebab konflik utama sama Silver tak mengapung dalam, dengan Wes sendiri mencipta bimbang. Ke Las Vegas menikah dengan gembel? “Kota ini penuh dengan orang cantik, tapi kau bellissima, adalah yang istimewa.”

Kisahnya sepusaran itu. Duit menjadi magnet utama karena duit berkuasa. Ketenaran menjadi bumbu yang menyesatkan. Dunia hiburan besar ini memang kejam, melibatkan banyak entitas dan kekuatan siapa kuat akan bertahan. Ada kilas balik dengan huruf miring, itu masa lalu suram korban perkosaan. Amarah sedari remaja. “Justru itu! Kau harus tahu, sumpah serapah tidak membuat orang kelihatan lebih dewasa.”

Sejatinya segala pusat cerita bukan pada para suami, tapi sang artis Silver Anderson. Ia menjadi titik utama kisah, karena mendetail kehidupan dari kecil sampai ending-nya menggantung dilamar telanjang sama budak seks-nya. Masa lalunya hitam, perjuangan mencapai puncak penuh darah dan tetesan air mata. Ini cerita berkutat di situ. “Miss Anderson saya sangat mengagumi permainan Anda yang begitu cemerlang.”

Pesta Silver sejatinya disponsori oleh sebuah studio, hotel, dan promo sponsor. Jadi sekalipun pusat acara, ia mengandalkan nama besar. Nora sang asisten adalah satu-satunya orang yang bisa melontarkan kritik pada Silver tanpa membuatnya marah. Susah dipercaya bahwa Silver menginginkan kehadiran anaknya, karena selama ini ia tak peduli sama anaknya. Silver hidup hanya untuk dirinya sendiri. Nora mengundang anaknya yang terlantar. Dan adiknya ternyata turut serta. Silver sudah berjuang mati-matian berjuang untuk  meraih nama besar sebagai superstar. Dan malam ini seharusnya adalah puncak kejayaannya. Tapi hancur karena kedatangan adik dan anaknya. Melihat mereka saja sudah membuat muak.

Silver adalah wanita dengan segerobak kegiatan. Pesta itu juga jadi ajang saling kenalan, tukar kontak dan tebar pesona. Band bernama The Rats dengan Eddie dan Heaven sebagai leading band-nya. Diperkenalkan ke fotografer terkenal. Seorang model baru akan kelihatan pas pada role ketiga. Nora menyalakan rokoknya yang keempat puluh hari ini. “Katanya ada urusan bisnis.”

Ada kejadian aneh sungguh memalukan ketika pelayan Silver, orang Rusia yang gagah nan perkasa, ketika majikan pergi, ia berdandan gemulai mencoba ngonde, apes ketahuan. Selama tiga tahun Vladimir mengabdi pada majikannya penuh pengabdian dan kejujuran, ia tahu apa yang disuka dan dibenci Silver, dan menjaganya tetap tutup mulut terhadap wartawan. Bayangan dipecat muncul, tapi ternyata hanya detensi. Wartawati Cindy Lou yang suka menulis tajam akan sisi hitam Hollywood, tak segan melontarkan kecaman, maka Silver menghindari wawancara dengannya. Karena Lou ternyata menyimpan masa lalu. Seorang artis yang gagal, penyanyi yang gagal, penulis novel yang juga gagal. Akhirnya nasib mengantarnya menjadi kolomis London dan terkenal dengan kecaman pedas pada artis, penyanyi, dan novelist pada setiap kesempatan.

Lalu saat para suami berkumpul di Las Vegas, para istri ngumpul bergosip. Forum Hotel menyambut Jack, Howard, dan Mannon dengan istimewa. Poppy sebagai istri sang kepala studio punya prinsip: jangan terlalu gemuk, jangan berpakaian norak, jangan duduk di tempat biasa di restoran, dan yang utama jangan sampai diremehkan oleh orang-orang tertentu.

Cowok gombal, karena selama ini kebanyakan cowok yang dikenalnya penuh tipu muslihat. “Aku telah melakukan sesuatu yang keliru. Kuharap aku tak kan mengulangi ketololan seperti ini. Aku tak ingin kehilangan kau, apakah kau memaafkanku?”

Dari bu ibu gosip itulah muncul kabar kebejatan masa lalu pasangan masing-masing. “Aku belum terlalu tua untuk mengingat masa itu…” Ya, seperti kita semua saat ngumpul ngopi, mereka bercerita bagaimana awal mula meniti karier. Jangan dekati lelaki beken, dia memiliki ego yang berlebih. Lelaki seperti ini harus dihindari. “Kau seharusnya menulis buku!” Dijawab ketus, “Nanti, kalau saya punya waktu…”

Berkiprah pada ladang show business tak bisa membuat Silver membagi waktunya untuk bergaul. Seperti Dennis Denby, ia bepergian bersama Silver hanya untuk membonceng populeritasnya. Tak ada cinta di antara mereka. “Aku tidak pernah marah, aku hanya bosen saja melihat tampangmu.” Dennis menjadi cowok paling apes, atau bisa juga disebut konyol sekali mengharap cinta yang dicueki. Huh cinta, mungkin yang begitu tidak pernah ada di dunia.

Acara talk show milik Jack bernama Face to Face with Jack Python. Face to face with Python merupakan media yang efektif untuk promosi film, buku, atau peristiwa lain. Mengingatkanku pada acara Empat Mata Tukul Arwana yang pernah booming. “Kau bisa membawa pergi seorang Colorado, tapi kau takkan bisa menghilangkan sifat khas Colorado-nya.”

Tata bahasanya sebenarnya gaul dan asyik. seperti kalimat langsung yang bebas. “Nggak usah ngguruin, entar aku juga balas mengeritik cara hidupmu.” Karena di sana kawin-cerai menjadi kelaziman, ada satu kata yang muncul ke permukaan. ‘Prenup’, adalah surat perjanjian yang dibuat sebelum menikah yang menyatakan bahwa seorang suami/istri tak akan menuntut apa-apa dalam hal harta kekayaan bila mereka bercerai. Bila tidak ada perjanjian semacam itu, ia berhak menuntut pembagian harta bila diceriakan. Mannon Cable dan Melanie-Shanna berniat cerai, tapi ada kehamilan yang menghalangi. Lalu Poppy yang merasa hambar dengan uang melimpah, jelas tahu suaminya berengsek. Bahkan endingnya menawarkan Silver dan Wes menuju ke pelaminan.

Sebuah perjudian, bintang besar akankah menikahi gembel. Silver tak terlalu gila untuk menghentikan sesuatu yang disukai, mumpung masih bisa. “Permainan cinta yang menggebu-gebu lebih bermafaat daripada tidur seharian.” Di Hollywood sekali Anda berkencan dengan wanita, besoknya seluruh penduduk di kota itu tahu apa yang terjadi. Namun lanjut ke jenjang serius?

Lalu Wes yang bermasalah di kosnya, ditagih terus sama induk semang. Tetangganya yang cantik Unity yang menawarkan pelihara anjing bersama. Kegiatannya yang amburadul, menghalalkan segara cara untuk dapat uang, termasuk menerima job menagih uang transaksi narkoba yang ternyata adalah jebakan. Wes Money bukanlah orang alim, tapi dalam keadaan seperti ini, dia baru ingat untuk berdoa. Khusuk.

Inilah kumpulan para pesohor Hollywood dengan segala sisi hitamnya. “Aku penggemar cokelat yang fanatik, lengkap dengan segala akibat sampingnya.”

Bersambung…

Suami-Suami Hollywood 1 | By Jackie Collins | Diterjemahkan dari Hollywood Husbands | Copyright 1986 | Alih bahasa Carl Chairul | GM 402.91.050 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Pertama terbit, Januari 1991 | Cetakan kedua, Juni 1991 | 440 hlm.; 18 cm | ISBN 979-511-049-7 (no. Jilid lengkap) | ISBN 979-511-050-0 (jilid.1 ) | Skor: 3.5/5

Karawang, 200720-210720 – None (tidak mendengarkan lagu)

HP Mi4ku rusak, huhuhu…

Thx to Anita Damayanti, enam dari Sembilan

A Fall From Grace: Jatuh yang Janggal

Kau tiba-tiba ingin menjadi pahlawan dan mengusut kasus?” – Rory

Tentang pengacara muda yang menangani kasus pembunuhan. Anehnya, mayat korban tak ditemukan. Jadi ini seolah menelusur kabut. Kamu melakukan penghajaran, tapi tubuh korban hajar menghilang. Ide absurd macam apa ini? Kalau diibaratkan kurva, A Fall seperti sebuah pendakian gunung dimulai dari bukit, naik-naik sampai puncak adegan pukulan bisbol, lalu menurun, terus turun, dan terjun bebas saat kejutan dibuka, terperosok jurang. Agak konyol, sangat disayangkan endingnya terkesan mengada. Terasa dibuat-buat.

Kisahnya tentang pasangan muda berkulit keling, pengacara hijau Jasmine Bryant (Bresha Webb) bekerja di firma hukum Negara, pasangan polisi Jordan Bryant (Matthew Law). Tinggal di Virginia, sepertinya memiliki masa depan cerah dengan karier dan pasangan yang saling kasih. Film dibuka dengan kasus di sebuah rumah, ada nenek frustasi di puncak mengancam terjun bunuh diri, Jordan sudah di jendela untuk menolong, naas misi itu gagal. Sang nenek yang memiliki persoalan penik tak kuasa menahan, dan ia loncat. Skoring masuk, judul muncul.

Jasmine mendapat tugas dari bosnya Rory (dimainkan langsung sang kreator langsung Tyler Perry) untuk menangani kasus pembunuhan, ia memintanya mendatangi tersangka lalu meminta pengakuan. Terlihat kasus mudah, karena Grace Waters (Crystal Fox) menuju ke keputusan itu, ia hanya meminta dipenjara di dekat domisili anaknya. Saat Jasmine akhirnya bertemu langsung dengan Grace, ternyata tak semudah itu. Pengakuan itu hampir dilakukan, tapi Grace yang faceless malah curhat.

Dari catatan Negara, Grace adalah warga Negara yang ideal, baik hati dan tak sombong, melakukan pelayanan dan bernyayi untuk abdi gereja, menjadi orang tua yang manis, memasak untuk yatim, dst. Hanya kasus dugaan pembunuhan inilah yang mengganjal janggal (entah kenapa kasus bank ga disebut Jasmine). Maka Jasmine mengata akan meminta keringanan 15 tahun dengan pengurangan masa tahanan, kalau siap. Tidak, justru Grace ngoceh akan kasih tuhan. Dan hancurnya masa hidupnya secara instan.

Jasmine lalu menyelidiki, datang ke sobat terdekatnya Sarah (Phylicia Rashad). Darinya kita tahu, awal mula kasus ini. Awal mula sekali kenapa Grace bisa berubah radikal. Grace adalah janda, mantan suaminya menikah lagi dengan gadis muda, hal yang membuatnya patah hati dan pesimis. Sarah lalu mencoba menyelamatkan hari, ia tak bisa menyelamatkan masa lalu, tapi ia bisa menawarkan masa depan, ia memberinya kartu nama/undangan ke pameran fotografi Shannon (Mechad Brooks), sang fotografer menyambutnya, menatap damba, berkenalan, dan memberinya harap. Jadi sarah merasa turut bersalah telah menjadi koneksi pasangan itu. Mengenakan kalung sebuah simbol. Penjelajah Afrika yang mencinta nenek-nenek, well catet yes.

Dari kunjungan berikutnya, Jasmine yang dipaksa bosnya meminta pengakuan, dan nyaris diiyakan malah menentang. Ada yang janggal, entah apa, harus dikorek, harus ditelusur. Maka kepada Grace ia memohon kisah selengkapnya. Yes, kita akan maju ke pengadilan. Alur lalu mundur, di awal mula lagi. Grace yang merasa sudah tua malu akan cinta menggebu khas remaja, pasca kenalan sang fotografer mengajak makan malam, ngobrol kencan menghabiskan waktu hingga larut, datang ke kantor bank-nya membawa bunga, mengucap kata-kata romantis, sungguh segala tindak cinta liar khas anak muda menghantamnya dengan keras. Grace merasa terberkati mendapat Shannon yang lembut dan romantis, sehingga ia bisa move on kilat dan menatap masa depan dengan lebih bersemangat.

Maka suatu malam di kebun bunga penuh kunang-kunang, Shannon berjongkok melamarnya, tak ada kuasa menolak. Romantisnya mengalahkan kisah cinta pujangga yang puitik, tapi justru terlalu romantis malah adalah kejanggalan belaka. Apalah, pada akhirnya menikahlah mereka, pasangan yang tak muda lagi ini memenuhi beranda waktu dengan kebahagiaan. Perkenalan singkat, pacaran singkat, menikah kilat. Mungkin ada sisi positifnya kalau cinta itu murni, tapi di sini enggak. Ada motif terselubung, saya sudah curiga sih dari gerak-geriknya. Ini pasti ada niat jahat, lelaki bejat sudah tampak dari tatapan mata. Seperti kebahagiaan yang datang mendadak, kesedihan menyapa cepat pula.

Benar saja, Grace suatu hari dipanggil bos dan pemangku direksi bank. Ia dipecat dengan tak hormat karena melakukan transaksi transfer ilegal ratusan ribu dollar ke akunnya, konyol sekali sih kalau dengan sadar melakukannya. Ia diminta mengembalikan uangnya atau dituntut penjara. Shock pertama ini berlanjut ketika diusut lebih lanjut, rumah yang dibeli dengan kerja keras dan tabungan ketat itu dihipotek, jadi akan disita. Hah, kok bisa ia merasa tak melakukan, ia merasa tak menandatangani, oh sudah disahkan notaris, dan ketika ke alamat notaris, kantor itu palsu. Surat menumpuk, dan kosong.

Kalut, benar-benar hancur segalanya. Langit runtuh, segala-galanya ambyar. Maka ia meminta pihak bank memutar rekaman cctv kala transaksi terjadi. Bukan kejutanlah, pelakuknya adalah suaminya. Marah, sangat marah. Tak ada cinta ternyata, ia hanya memanfaatkannya. Ketika uang diminta, ga bisa. Ia harus membayar utang, maka hampa sudah rasa itu, jeruji besi siap memantri. Maka ketika suatu hari Shannon membawa gadis lain ke rumah, wikwik dan menggangap Grace sekadar pengganggu, terjadilah kasus yang menghinggapi titik utama film ini. Grace memukul suaminya dengan tongkat bisbol berkali-kali, dengan keras nan mematikan. Grace yang kalut menelpon sahabatnya, bahwa ia telah membunuh suaminya lalu kabur.

Ketika kembali ke masa kini, jadilah ¼ akhir film adalah persidangan. Kurang menggigit karena sejatinya tampak aneh, sungguh aneh, kasus pembunuhan tapi mayatnya tak ditemukan. Jasmine yang pengacara muda tampak menolak nyerah, melawan jaksa pengalaman. Bos Rory akan memecatnya pasca kasus ditutup, memalukan firma, suaminya tetap mendukung karier istrinya. Sampai akhirnya saksi kunci dipanggil, Sarah yang bijak menyatakan kebaikan Grace dan dengan sangat terpaksa meminta maaf, pengakuan telpon pasca kejadian menenggelamkan segalanya. Dan sisa menit kejut, terasa hambar. Sangat hambar, sayang sekali.

Terlihat sekali ini film budget mini, banyak adegan tampak kasar. Tergesa, seolah editing dilakukan mahasiswi magang. Lihat pembukanya, loncatnya palsu tampak sekali. Lihat sidangnya, hiruk pikuk pengadilan tampak monoton tanpa ketegangan, lihat eksekusi akhir bagaimana para korban dilepas, ya ampun… itu nenek-nenek sangat ketara kesedihannya akting permukaan. Setelah kucek trivia, ternyata shoting film hanya lima hari, dan ini debut film panjang Tyler Perry Studio. Hhhmm…

Bayangkan, dari film yang nyaris wow. Terutama pas Grace yang bahagia menemukan belahan hati, lalu wajah hampa dan melakukan kejahatan, A Fall benar-benar terjatuh di separuh kedua, luluh lantak penuh onak kejanggalan. Apalagi saya habis menikmati film persidangan yang wow, Section 375. Drama India berkelas yang memainkan pikiran, menantang nalar. A Fall jelas sulit mendekati. Orang-orang memang memuakkan, dan hidup ini sungguh sulit dan tidak bisa ditebak. Kebanyakan dari kita menjalani hidup ini asal ngalir aja, dan sebagian malah sungguh-sungguh tersesat.

A fall from grace, terrible acting, a lame script, and predictable. Film dekektif/pengacara/thriller/polisi-polisian ga bisa seperti ini. Anggap saja, ini sekadar tontonan pasca sahur lalu lupakan.

A Fall From Grace | Year 2020 | Directed by Tyler Perry | Screenplay Tyler Perry | Cast Crystal Fox, Phylicia Rashad, Bresha Webb, Mehcad Brooks, Cicely Tyson, Tyler Perry, Donovan Christie Jr., Walter Fauntleroy, Angela Marie Rogsby | Skor: 2.5/5

Karawang, 150520 – Bill Withers – Something That Turns You On

Thx to Rani S.kom

Okja: Cinta Kasih Gajah Babi

Well, former CEO Nancy is my sister, but uuh… we’re very different people. We have very different ways of being. We have very different business ethics…” – Lucy

Jenis film fantasi yang tak biasa. Babi sebesar gajah, menjadi komoditi pasar tapi sang babi seperti memiliki jiwa, persahabatan dengan remaja itu kuat, memiliki cinta kasih, dan menuntut perjuangan melangkah jauh. Lihat posternya, babi dengan pabrik mengepul di punggungnya. Ada sesuatu yang bernilai di sana, artinya Anda masih memiliki harapan. Mengundang komunitas pecinta binatang turut serta memerjuangkan. Dari pegunungan desa ke Seoul, dari Seoul ke New York, dan di sebuah pabrik jagal titik akhir juang.

Lucy Mirando (Tilda Swinton) mengepalai perusahaan warisan ayahnya, ingin menghapus image sang bapak dan saudara kembarnya Nancy Mirando (diperankan juga oleh Tilda Swinton), ia memiliki proyek ambisius tentang pengembangan binatang guna mendukung industri makanan. PT. Mirando melakukan percobaan mencipta babi super, dengan sample 26 babi yang beda mengirimkannya ke berbagai Negara agar dirawat oleh petani lokal, proyek itu akan memakan waktu 10 tahun. Sebuah penantian yang lama… tapi ia pede dengan mengatakan, ‘rasanya sangat lezat’

Di Korea Selatan, sepuluh tahun berselang. Remaja 14 tahun. Mija (diperankan imut sekali oleh Seo-Hyun Ahn) sedang angon babi super (baiklah, saya menyebutnya gajah babi sahaja karena penampilannya mirip gajah) bernama Okja. Mereka hidup di pegunungan bersama kakeknya, hidup damai nan asri. Agar tampak dramatis, Mija mengalami meusibah terperosok di jurang, Okja seolah adalah hewan yang bisa berpikir. Melakukan penyelamatan dengan heroik. Jelas ada ikatan special di antara mereka, bukan sekadar tuan dan binatang peliharaan. Rasanya gemes sekalia meluk gajah imut.

Suatu hari datanglah utusan Mundo, seorang host tv terkenal channel Zoologist, Dr. Johnny Wilcox (dimainkan gilax oleh Jake Gyllenhaal), dengan krunya melakukan rekaman. Perjalanan ke gunung yang melelahkan, dan hasil monitor rasanya Okja adalah babi favorit untuk menang kontes. Untuk mengalihkan perhatian Mija, kakeknya mengajak ke makam orang tua dan menunjukkan babi emas, dan bilang Okja akan dibawa ke New York. Tentu saja marah, saat sudah kembali ke rumah, sang gajah babi sudah ga ada. Pengejaran rasanya percuma, maka malam itu iapun memecah celengan, membawa bekal seadanya, dan nekat berangkat mengejar binatang kesayangan. Inti kisah adalah ini, menyelamatkan binatang peliharaan istimewa dari penjagalan menjadi santapan.

Di Seoul, di kantor cabang Mundo ia datang dengan keren. Setelah dicuekin, ia memecah kaca kantor, berteriak mencari Okja, dikejar petuga, adegan kucingan, sampai ke truk yang bersiap berangkat. Bak seorang jagoan, Mija bergelayut di truk yang melaju ke bandara. Ternyata ia tak sendirian dalam misi penyelamatan ini. Sebuah organisasi penyayang binatang, muncul truk lain yang mefet dan seperti misi-misi mustahil Fast and Furious, Okja coba dibajak. Mengacaukan banyak sekali hal-hal di depannya, masuk mal dengan derap, menghancurkan segala yang menghadang.

Organisasi itu ALF (Animal Liberation Front) yang dipimpin oleh Jay (diperankan unik – seperti biasa – oleh Paul Dano). Genk terdiri dari Red (Lily Collins), Blond (Daniel Henshall), Silver (Devon Bostick), dan K (Steven Yeun). K adalah orang Korea jadi sekaligus menjadi penerjemah. Ada adegan bagus ketika Mija ditanya mereka, dan diterjemahkan ya. Padahal K memodifikasi. “Menerjemahkan adalah sakral.” Walau akhirnya gagal, Okja tetap dikirim ke New York, seantero negeri tahu, ada sebuah kekejaman memisahkan remaja imut dengan binatang imut. Fakta ini membuat gusar Lucy sehingga malah berencana membuat acara reuni temu dalam festival yang disiarkan live.

Kita tahu para anggota organiasasi akan mengacaukannya. Perjuangan melawan kekejaman terhadap binatang, itu berjalan dengan intesitas aksi pas ‘sungguh hollywood’ walaupun sineas-nya Korea. Dramatisasi penyelamatan Okja, berlarut-lari dan penampilan saudari kembar Lucy, Nancy (Tilda juga) di London yang lebih berpengalaman demi menyelamatkan Perusahaan turun tangan. Dan di area penjagalan gajah babi, klimaks kisah terjadi. Dengan bonus piglet yang imut, kisah ini happy ending. Dan sedikit merusak keseruan jargon, suram adalah tjoenci. Ada scene after credit di ujung film, kenakan maskermu kawan, perjuangan belum berakhir.

Pasca kegemparan Parasite, film-film Bong Joon Ho sebelumnya diburu. Walau sudah nonton Snowpiercer yang membingungkan karena bertema politik dalam kereta, Okja justru malah menampilkan keanehan. Bagaimana mencipta makhluk babi sebesar gajah? Menaburkan drama di dalamnya, dan akhir yang bahagia malah tak terlampau wow, tetap bagus tapi terasa ada yang janggal. Para organisasi penentang benaran ada, entah kalian setelah menyaksi apakah langgung jadi vegan atau tetap lahap makan daging, bukan hanya babi yang tampak menggemaskan; ayam, bebek, sapi, dst segala hewan ternak yang menggiurkan di meja makan itu juga menggemaskan kalau dirawat dengan cinta. Seolah memang tujuan utama Okja dibuat untuk perjuangan kaum vegetarian.

Suka Tilda sejak jadi Penyihir Putih di Narnia, suka Paul Dano sejak membisu Little Miss Sunshine, suka Jake sejak mendekam di Brokeback Mountain. Dan tentu saja mulai suka Jeong-eun Lee sejak bersahabat dengan Okja.

Translation are sacred.

Okja | South Correa | Year 2017 | Directed by Bong Joon Ho | Screenplay Bong Joon Ho, Jon Ronson | Story Bong Joon Ho | Cast Tilda Swinton, Jake Gyllenhaal, Seo-hyun Ahn, Jeong-eun Lee, Steven Yeun, Paul Dano, Daniel Henshall, Lily Collins, Devon Bostick | Skor: 4/5

Karawang, 130520 – Bill Withers – I’II Be With You

Jojo Rabbit: Komedi Satir di Era Nazi

Nothing makes sense anymore.” – Jojo

===tulisan ini mungkin mengandung spoilert===

Idenya gila. Kekejaman dibalut keimutan. Adegan gantung-nya terlihat walau sepintas. Kematian, ditutur bagaimanapun, tetaplah kematian. Cerita anak-anak yang dididik mencintai Nazi sejak dini, mengajarkan Swastika dengan segala keimutannya. Mencipta Hitler khayal yang menemaninya sepanjang tumbuh kembang – lalu menghilang, sehingga seolah pelindung. Setting-nya di era Perang Dunia Kedua, Nazi sedang tinggi-tingginya, sekolah di Jerman mewajibkan kurikulum itu, sampai serangan Sekutu yang mengakhiri segalanya. Film dibuka dengan manis, betapa Jojo di usia imut begitu mendewakan Hitler, ditutup dengan lebih imut lagi, Elsa dan Jojo yang ‘merdeka’ melakukan tari tik-tok artsy. Sejatinya memang ini film anti-perang, dibuat komedi, berton-ton komedi malah yang menikam. Komedi gelap. Lantas kepahlawanan jenis apa yang bisa dipeluk semua umat?

Jojo Betzler (diperankan imut sekali oleh Roman Griffin Davis) adalah remaja sepuluh tahun yang tumbuh di masa kejayaan Nazi, ia begitu mengidola Hitler yang patriotik dan keren. Dalam pendidikan yang ketat dan nasionalis, ketika Jojo membutuhkan pertolongan serta teman ngobrol, muncullah Penampakan Hitler (Taika Watiti) menjelma teman curhat, jadi supporter yang menggelorakan semangat. Bersama teman karibnya yang ndut Yoki (Archie Yates) menjalani kamp pelatihan di sekolah alam. Dikepalai pelatih yang tak kalah aneh, Kapten Klezendorf (Sam Rockwell). Di training kamp tersebut, ambisi Jojo juara sungguh tinggi. Sayangnya, jiwa pemberaninya diuji dengan bully-an tugas senior untuk membunuh kelinci, gagal. Kelembutan hatinya, tak tega sekadar mematikan binatang. Sejak itulah ia kena panggilan Jojo Rabbit.

Bully yang malah mencipta luka, ketika sang kapten menerangkan taktis melempar bom, Jojo berlari kencang lalu mengambilnya, melemparanya, kena pohon malah mbalik ke dia, dan meletus. Jojo terbangun dari pingsan di rumah sakit, ibunya Rosie (Scarlett Johansson) marah, mendatangi kantor dan ngomel berat karena insiden ini. Wajah Jojo ada bekas luka, dan ia sementara harus menggendong satu tangannya.Di rumah, kejutan kecil terjadi. Sebagai Hitler-holic betapa terkejutnya di rumahnya, ada ruang rahasia tempat sembunyi seorang gadis Yahudi Elsa Korr (Thomasin McKenzie). Membekap mulut Jojo agar tak berteriak dan melarang melaporkan temuannya. Di era itu, menyembunyikan warga Yahudi hukumannya mati. Sebuah dilema besar untuk jiwa remaja yang labil. Tentu saja ibunya tahu, karena memang ini inisiatifnya. Jojo sayang ibunya, maka seorang fanatik Hitler pun terdiam. Masing-masing dari kita, ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. Apa yang bagus buat Jojo harusnya baik pula buat Elsa, ahh… dunia anak-anak yang polos. Tak sejernih itu Nak.

Elsa adalah putri dari teman sekolah Rosie, menjaganya, menyembunyikannya. Jojo dan penampakan Hitler yang lucu (duuh sang sutradara, kamu kocak banget aktingnya) debat keputusan apa yang pantas. Maka diputuskan menginterogasi Elsa, dari Elsa ia mulai paham dunia yang luas dengan melihatnya lebih terbuka. Marah besar pada ibunya, dan merindu ayahnya. Maka makan malam itu, Rosie pun akting sebagai ayahnya dengan kumis lebat palsu bergaya Nazi. “What did they do?” direspon tenang, “Plenty of good.” Di sinilah saya langsung ketawa serius, harusnya Scarlett menang Oscar. Kocak banget, sayangnya (spoilert… maaf) ia keburu dimatikan. Coba bisa konsisten ngelawak sampai akhir, akting ibu yang bimbang ini jauh lebih hebat dari pengacara kapitalis itu.

Free Germany” merebak, suatu hari ada inspeksi mendadak dari kapten Deertz (Stephen Merchant) ke rumahnya. Jojo yang sendirian panik, menyembunyikan surat-surat Elsa, menyembunyikan segala yang memancing kecurigaan keberadaannya. Muncul pula kapten Klezendorf di sana, Elsa yang ada di tangga dalam masalah besar. Dalam kengerian mefet itulah, ia memberanikan muncul dan memperkenalkan sebagai kakaknya. Menunjukkan Kartu Tanda Penduduk, dalam adegan dramatis ia diuji tanggal lahirnya. Elsa menjawab dengan keraguan, Klezendorf yang tahu salah, malah melindunginya dengan bilang tepat dan pasukan inspeksi-pun pergi. Serem banget ini, setidaknya Jojo dan Elsa tahu Kapten Klezendorf memiliki kebaikan di lubuk hatinya. Sebuah moralitas itu bisa diwujudkan di masa depan harus dimulai dengan sesuatu yang disebut amor fati, ‘cinta pada nasib seseorang.’ Bukan sekali, sang kapten melakukannya. Nurani akan kebaikan tergugah di masa-masa yang tak terduga. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi.

Rosie yang keesokan harinya digantung (huhuhu… pengen nangis), dan pecah serangan Sekutu memporakporandakan Jerman. Dengan tank dan pasukan penuh memasuki kota. Dengan kekacauan yang tercipta, sekali lagi Klezendorf menyelamatkan nyawa Jojo yang terancam turut dibinasakan Sekutu. Setiap orang memiliki kemampuan melawan kejahatan. Pengorbanan terakhir untuk Jerman di masa depan. Jojo, remaja Nazi itu pulang dan memberitahu Elsa, Jerman sudah kalah. Ia mencinta (heleh) yang membuat murka Penampakan Hitler, lalu ditendang keluar jendela. Seperti mula, endingnya manis dengan joget artsy yang sungguh memorable. Ditutup dengan puisi Rainer Maria Rilke: Biarkan segalanya terjadi padamu; Kecantikan dan teror; Biarlah mengalir; Tiada rasa yang berakhir. Perang tidak lain adalah ujian duniawi terhadap harapan.

Sebagai film kandidat best picture, promonya paling tak gencar. Kalah gegapnya dengan unggulan seperti 1917, Parasite atau Joker jadi wajar peluangnya sangat kecil. Naskah adaptasinya memang sangat keren, saya memang menjago Gerwig, tapi Taika Waititi menang-pun saya tak akan komplain. Semua naskah adaptasi Oscar tahun ini, sejujurnya bagus. Yang disayangkan cuma Little Women dan The Irishman Film Lima Bintang itu, nirgelar Oscar. Hiks, sedih.

Menanamkan ideologis ke anak-anak menjadi tema utama kisah ini, lalu dilontarkan opsi lain. Agama ideologi, harapan dari luar dunia natural. Ideologi merupakan kepercayaan yang dikontruksi secara sosial yang sepenuhnya kita terima berdasar keyakinan belaka. Pada dasarnya perkembangan psikologi kita senantiasa berevolusi untuk menuhankan segala yang tidak kita pahami. Jojo dengan lugunya mengidola Sang Fuhrer, diterima mentah-mentah apa yang diajarkan, lalu seperti di ending, segalanya tampak kontradiksi.

Film ini jelas melebihi harap, entah kenapa cerita sebagus ini ga bisa meledak. Komedi satir tentang Nazi mungkin sudah banyak, mengambil sudut pandang anak-anak juga sudah umum (kisah sedih The Boy in the Pyjamas), begitu juga ending serangan sekutu yang mengakhirinya. Jojo Rabbit menampil kedigdayaan yang lebih luwes. Lebih nyaman, lebih hidup. Sangat komedi, tapi tak komedi.

Beberapa saat setelah Taika Waititi memenangi Oscar, tampak ia duduk dengan senyum dan meletakkan pialanya di bawah kursi depannya. Sebuah ironi sekali lagi tercipta. Jojo Rabbit adalah film sangat komedi, tapi sekaligus tak komedi. Kalian mungkin tertawa, tapi sejatinya menertawakan apa? Seperti tagline-nya jleeb banget: ‘An anti-hate satire.’

Jojo Rabbit | Year 2019 | Directed by Taika Waititi | Screenplay Taika Waititi | Novel Christine Leunens | Cast Scarlett Johansson, Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Sam Rockwell, Archie Yates, Taika Waititi | Skor: 4/5

Karawang, 120520 – Will Withers – Lovely Day

Puasa ke-19, hati yang cerah untuk jiwa yang sepi

Flipped: Alur Rasional Ciuman Pertama

Somehow the silence seemed to connect us in a way like words never could.” – Juli Baker

Ini kisah cinta remaja yang jatuh hati sama tetangganya, teman sekelas, teman bermain. Ini tentang cinta yang serba pertama. Pandangan pertama, getaran pertama, hingga detak degubnya mendorong jungkir balik hati remaja yang dilanda gairah. Alurnya sangat rasional, proses menuju ciuman pertama yang berliku selama satu setengah jam.

Kisahnya bersetting mulai tahun 1957 sampai 1960an, dimula dengan kepindahan keluarga Loski ke Ann Arbor, Michigan. Setelah adegan syahdu dalam tatapan mata dengan slo-mo, Juli Baker kecil (Morgan Lily) berinisiatif membantu memindahkan barang dari mobil ke rumah, Bryce Loski kecil (Ryan Ketzner) kecil yang kaget menolak dengan kode ayahnya untuk membantu ibu dalam rumah, kabur yang malah menjadi pegangan tangan tak sengaja, tatapan mata biru Bryce membuat hati kecil Juli berdesir jatuh hati. Apalagi esoknya tahu mereka satu kelas, menjadikan bully-an pacar. Dengan sudut pandang Bryce kita tahu, ia merasa dasar cewek aneh!

Sudut pandang lalu berganti ke Juli Baker remaja (Madeline Carroll) yang menuturkan tetangganya Bryce Loski remaja (Callan McAuliffe) bagaimana perkenalan dan rasa yang tertinggal, mencipta kesan. Berikutnya film akan gantian sudut pandang mereka berdua. Jungkir balik rasa, proses menuju saling melengkapi. Awalnya Juli yang jatuh hati, berjuang demi mendapat respon positif, nantinya gantian Bryce yang kesemsem sementara Juli muak. Tumpang tindih rasa, karena definisi rasa ada di dalam kepala, kita tak bisa mengetahui isi setiap orang. Dari sinilah, momen dibolak-balik. Dengan adegan yang sama, penonton melihat sudut pandang yang berbeda.

Juli yang hobi manjat pohon, sampai masuk Koran lokal suatu hari menangis karena pohon di dekat halte bus sekolah itu ditebang demi pembangunan. Dalam tugas sekolah, ia mengambil proyek penetasan telur ayam, hingga memeliharanya di kebun belakang menghasilkan banyak telur. Tetangganya membeli, tapi untuk keluarga Bryce free, tapi karena alasan salmonella dan betapa joroknya kandang ayam, langsung dibuang. Hiks, kejam. Perbuatan ini akhirnya kepergok, melukainya. Berjalannya waktu, hanya kakek Chet Duncan (film terakhir alm. John Mahoney) yang bisa menyentuh hatinya karena suatu ketika Juli mencipta kebun bunga di halaman depan, dibantu sang kakek sehingga ada koneksi istimewa. Kelakuan unik Juli mengingatkannya pada almarhum istrinya.

Lalu kita tahu ada masalah apa di keluarga Baker. Seorang pelukis yang miskin, rumah saja nyewa. Berniat sementara, ternyata tak tahu sampai kapan. Paman Juli, mengidap penyakit mental yang selalu bersikap anak-anak. Juli suatu ketika di hari Minggu yang cerah, ikut bapaknya mengunjungi dan setelah hari itu semua tak sama lagi. Konsep populer mengenai ‘cinta yang keras’ adalah Anda membiarkan anak untuk mengalami penderitaan karena dengan menyadari hal-hal yang penting di saat berhadapan duka, anak akan meraih nilai yang lebih tinggi dan berkembang. Es krim dan gejolak itulah yang membuka mata, hidup ini keras Lur.

Di sekolah, Bryce demi menghindar Juli sampai kencan dengan Shelly Stalls, walau menurut temannya Garrett itu bukan cinta. Hubungan ini timbul tenggelam pula, dan betapa demi makan siang bersama untuk amal, Bryce menjadi yang tertinggi rasanya belumlah cukup sehingga Juli walau dag-dig-dug bukan memilihnya, alasannya? Laiknya sinetron Indonesia yang sering bergumam dalam hati tapi teks dibacakan ke pemirsa, adalah Eddie Trulock, nomor 8 yang aneh mencipta karya. Kasihan. Lantas akankah Juli dan Bryce akhirnya bersatu? Kita memang suka bertikai untuk hal-hal kecil, Nak.

Tanpa tahu ini film tentang apa, tak ada aktor besar yang benar-benar hadir di jajaran cast, berdasarkan novel, bahkan judulnya rancu, flipped – dibalik. Rekomendasi Bung HandaBank Movie, akhirnya Senin pagi pasca sahur kutuntaskan sebagai nutrisi sebelum berangkat kerja. Seolah ini adalah versi remaja (500) Days of Summer dengan akhir manis. Kisah cinta remaja yang menyentuh hati, membayangkan hari-hari remaja SD jatuh hati, mematik pikir masa lalu, bagaimana perjalanan hidup saya dulu. Beberapa relate seperti hobi panjat pohon, beternak ayam, cinta monyet, dunia anak-anak yang merdeka pikir dan materi. Cinta hanyalah wadah terjadinya pertukaran perasaan, di mana masing-masing diri kalian membawa apa pun yang dipunyai untuk ditawarkan dan saling menjajakannya hingga mendapat keuntungan transaksi masuk akal.

Flipped menjadi film romansa yang asyik karena cinta itu masih hijau, saling raba perasaan disertai tebak sikap. Ending-nya sendiri lebih manis lagi, walaupun adegan cium yang dinanti tak kunjung muncul. Masa-masa yang menyenangkan karena tak ada beban cicilan, haha…

Adegan makan malamnya sendiri walau sederhana malah yang paling nyaman diikuti. Sebuah presentasi basa-basi dengan tetangga, manis di mulut, pahir di hati. Bagaimana kedua kakak Juli yang berjuang untuk rekaman, malah menohok bapaknya Bryce yang seorang sukses materi tapi seolah kehilangan cita menjadi pemain saxophone. Dari makan malam itu pula kita tahu, betapa hubungan harmonis dalam keluarga jauh lebih penting ketimbang kesuksesan individu. Komitmen yang lebih besar mendatangkan kedalaman yang lebih berkualitas. Semakin membingungan kehidupan ini, bersikap rendah hati menjadi semakin berharga. Turut senang memandang hangatnya hati Juli ketika melangkah pulang.

Represi Sigmund Freud bahwa hidup ini kita jalani dengan menekan ingatan-ingatan masa kecil yang menyakitkan, dan dengan mengangkatnya lagi ke dalam kesadaran, kita membebaskan emosi-emosi negatif yang terpendalam di dalam diri kita. Akhir yang menyenangkan dan lagu klasik berkumandang menutup layar.

Kalian tak kan pernah lupa perasaan dan sensasi ciuman pertama, itu. Tangan yang mendekap dalam menabur tanah saat menanam, waktu seolah membeku. Dunia ini berputar mengelilingi satu hal: perasaan.

Beautiful teenage romance.

Flipped | Year 2010 | Directed by Rob Reiner | Screenplay Rob Reiner, Andrew Scheinman | based on a novel Wendelin van Draanen | Cast Madeline Carroll, Callan McAuliffe, Rebecca De Mornay, Anthony Edwars, John Mahoney, Penelope Ann Miller, Aidan Quinn, Kevin Weisman, Morgan Lily | Skor: 4/5

Karawang, 270420 – Bill Withers – Friend of Mine (Live)

Thx to Bung Handa Lesmana dan Bung Huang atas rekomendasinya.