Pandangan Positif bisa Mengubah Pengalaman Hidup

The Positif Approach by Peter Shepherd

“Empat manifestasi ini menunjukkan mekanisme dasar umat manusia ketika mereka terlibat secara reaktif: kebohongan, delusi, emosi negatif, dan obrolan kompulsif.”

Pelajaran positif adalah wawasan yang kamu temukan saat menyadari bahwa kamu telah memilih satu arah dan bisa berbalik jika mau. Buku self-improvement dengan tema positif thinking sudah banyak, sudah beberapa kubaca. Intinya sama, anjuran untuk memandang hidup lebih optimis, untuk mengapresiasi keadaan, syukur dan sabar, hingga bagaimana respons kita bila sedang terjatuh. Kubaca dengan nada pesimistis sebab buku-buku sejenis ini biasanya hanya berinti pada anjuran hidup bahagia. Namun setelah setengah buku, saya menemukan riak-riak yang bagus dan bermanfaat. Buku ketiga terbitan Bright Publisher yang kubaca, dan ini yang terbaik. Pertama berisi kutipan-kutipan dan itu jadi buku terburuk tahun itu yang kubaca, kedua tentang kekuatan sugesti. Lumayan bagus. Dan ketiga ini, bagus. Keempat dst, feeling skor naik terus nih. Hehe…

Per bab-nya pendek-pendek berisi dua hingga sepuluh lembar. Beberapa ditutup dengan latihan, beberapa ditantang secara nalar. Dan seperti buku tema bahagia lainnya, selalu ada kebaikan di tiap lembarnya.

Sebagai pekerja, rutinitas bisa jadi tekanan. Hidup yang monoton dan terasa membosankan. Tekanan sebenarnya tidak muncul dari keberadaan musuh atau dari pihak luar, tetapi dari seseorang yang memiliki maksud berbeda lalu mengungkapkannya secara persuasif sehingga kita merasa tertekan, depresi, dan stress. Orang menyebutnya suara hati, suara dari dalam diri bisa menjerumuskanmu dalam pelbagai masalah, tetapi juga bisa memunculkan pandangan positif yang mengubah pengalaman hidup.

Kesalahan merupakan bagian esensial dari proses pembelajaran. Pelajaran tentang masa lalu, dan kita semua tentunya punya kesalahan di masa itu. Masa lalu memang tak bisa diulang kembali, tetapi kita dapat mengubah penafsiran atas masa lalu. Dan tentu saja bisa beroleh beberapa pelajaran berharga dari pengalaman itu. Ketika pengalaman masa lalu tersebut distimulasi kembali oleh kondisi serupa di masa kini, keputusan lama pun kembali oleh kondisi serupa di masa kini, keputusan lama pun kembali berfungsi. Rasa bersalah tak boleh dicampuradukkan dengan tanggung jawab atas masa lalu. Tanggung jawab berarti membuat usaha terencana untuk mengubah pola perilaku yang muncul dari kesalahan tindakan. “Saya memang tidak kuasa mengubah masa lalu, tetapi saya mampu mengubah maknanya. Penafsiran saya terhadap peristiwa merupakan pilihan dan tanggung jawab saya sendiri.”

Maka sangat penting untuk meningkatkan penghargaan atas diri sendiri.

Kamu tidak bertanggung jawab atas segala yang terjadi (meski Anda mungkin ikut terlibat), tetapi bertanggung jawab atas reaksi Anda terhadap peristiwa-peristiwa tersebut, bagaimana Anda menjalaninya dan bangkit. Reaksi ada tiga aspek:

#1. Reaksi mental, cara menafsir situasi.

#2, reaksi emosional yang muncul dari penafsiran tersebut dan membuat Anda merasa senang, marah, sedih, atau frsutasi.

#3. Reaksi perilaku, reaksi didasar pada perasaan sehingga Anda memperlihatkan sikap-sikao tertentu.

Prinsip dasar dari ajaran Buddha menegaskan bahwa kepemilikan akan menurunkan pada penderitaan sehingga untuk mendapatkan kebahagiaan sejati dalam hidup, kita harus mengganti rasa takut dengan penerimaan. Dan pangkal paling kuat atas rasa takut ialah kemampuan untuk menerima.

Hidup tak bisa terus berlanjut jika kita menyesali masa lalu atau merasa jijik kepada diri sendiri. Hidup merupakan sebuah proses pembelajaraan, dan pelajaran paling berharga berasal dari pengalaman pribadi. Memaafkan diri sendiri akan membuat kita mampu menangkap energi yang selama ini digunakan untuk merasa bersalah dan melawan masa lalu. Proses ini akan membebaskan kita untuk kembali menjadi diri sendiri – seseorang yang baru, lebih bahagia dan lebih bijaksana.

Apabila kita merespons kondisi kesadaran kreatif, berarti kita telah menghargai diri sendiri apa adanya, bukan karena apa yang sedang atau sudah kita lakukan. Dengan kata lain, diri kita akan tetap berharga meski kita tidak bisa melakukan sesuatu atau telah melakukan kesalahan. Gagasan instrinsik mengenai perasaan berharga ini merupakan kekuatan dasar dari harga diri yang sesungguhnya.

Nasehat ini bagus. Pengalaman pertama, atau awal berjumpa dengan kekasih. Maka, ingatlah kembali saat-saat pertama kali kamu bersama sama pasangan, apa yang kamu lihat dalam diri satu sama lain, apa yang dulunya menyenangkan dan menarik. Tumbuhkan perasaan-perasaan yang kamu alami bersama ke masa kini.

Masalah merupakan esensi kehidupan. Kesulitan muncul ketika Anda berkubang dalam efek masalah, yakni ketika masalah menguasaimu, bukan kamu yang menguasai masalah. Ini membuatmu stress dan cemas.

Biarkan masalah menjadi tantangan dan permainan yang dapat kamu nikmati. Sebagian besar masalah mempunyai jalan keluar yang sederhana: kamu dapat mengurangi berat badan dengan melakukan diet sehat, bisa berhenti merokok hanya dengan berhenti merokok. Cukup sedehana, tetapi sulit dilakukan karena jika tidak, pasti sudah melakukannya.

Cara mengatasi perasaan, memusatkan pikiran pada masalah, merasakan dengan sepenuhnya, lalu merelakannya – melepas dan mengeluarkannya. Perelaan membutuhkan penerimaan; penerimaan terjadi ketika kita tak lagi melakukan perlawanan – tidak lagi melihat segala sesuatu secara hitam putih, tidak lagi bersikap menghakimi – dan ketika kita membuka jalan untuk mencintai orang lain tanpa syarat, termasuk diri kita sendiri.

Kesadaran bisa ditingkatkan dengan menanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang kusadari saat ini?”, “Perasaan apa yang kuciptakan saat ini?” Manusia selalu berpura-pura mengetahui banyak hal, tentang diri sendiri, Tuhan, kehidupan dan kematian, alam semesta, evolusi, politik, seks, segalanya. Namun kenyataannya, manusia bahkan tidak tahu siapa dan apa diri mereka yang sebenarnya.

Hidup merupakan sesuatu yang serius, padu, dan berat. Segala sesuatu dalam kehidupan diperbarui setiap kali dialami. Bahkan, mesti itu sesuatu yang hampir tidak didasari sekalipun.

Salah satu trik yang kudapat ini bagus, walau bukan hal baru sebab sudah pernah kudengar dari inspirasi pagi di kantor. Tentang menanamkan kata positif.

“Ketika melakukan penegasan, Anda seharusnya hanya mengunakan bahasa positif, bukan (misalnya) “Aku tidak akan makan secara berlebihan.” Karena pikiran akan menafsirkannya “Secara positif” sehingga hasilnya ialah, “Aku akan makan secara berlebihan”. Namun, mengapa omongan yang negative seperti “Aku tidak akan pernah berhasil” tidak ditafsirkan oleh pikiran menjadi “Aku akan berhasil”? sebab otak kanan yang menjadi penentu perasaan sekaligus motivasi/tindakan yang ditimbulkan (di mana Alam Semesta mencerminkannya melalui kekuatan Jiwa), menafsirkan pikiran sesuai dengan perasaan sesungguhnya yang tak disadari sehingga tidak mampu membedakan antara resistensi dengan penerimaan sadar. Otak kanan mengabaikan kata ‘tidak’ atau ‘tidak pernah’, ini merupakan pengamatan yang sesungguhnya.”

Fisika kuantum menyatakan, memandang sesuatu akan membuat sesuatu itu terbentuk, dan bahwa material kuantum bisa berada dalam kondisi yang berbeda pasa saat yang bersamaan, yakni benda dan energi. Kita memiliki realitas subjektif yang berbeda, yang saling melengkapi dengan realitas objektif (dan realitas objektif orang lain) pada tingkat yang lebih tinggi atau rendah.

Buku ditutup dengan snagat bagus, dengan tiga kutipan pendekatan positif. Pertama dari Peace Pilgrim, kedua sebuah peribahasa Cina, dan ketiga ini: “Kejahatan (ketidaktahuan) sama seperti bayangan – tak mempunyai substansi nyata, hanya saja tidak memiliki cahaya…” penutup jitu dari Shakti Gawain.

Berkat buku ini, saya jadi kembali semangat mengejar buku-buku Bright (Shira Media) dengan stempel Greatest Self-Improvement Books Series. Membangkitkan aura untuk hidup lebih hidup.

Manfaat Berpikir dan Bersikap Positif | bt Peter Shepherd | Diterjemahkan dari The Positif Approach | Penerjemah Laila Qadria | Penyunting Zilkarnaen Ishak | Penyelaras akhir Puput Alvia | Tata letak Werdiantoro | Ilustrasi sampul Sekar Bestari | Rancang sampul Katalika Project | Cetakan ke II, 2018 | ISBN 978-602-5868-06-1 | 198 hlm.; 13.5 x 20 cm | Penerbit Bright Publisher | Skor: 4/5

Karawang, 150922 – Ella Fitzgerald – Indian Summer (Live)

Thx to Ghatan Torik, Tangerang

Yes to Life #22

“Sesungguhnyalah waktu yang dimanfaatkan dengan baik seolah diawetkan. Inilah bentuk eksistensi paling aman. Eksistensi kebermanfaatan yang tidak akan terancam oleh kefanaan apapun.”

Kebahagiaan sendiri tidak termasuk dalam kategori tujuan hidup. Rilke berteriak, “Seberapa banyak lagi kita harus menderita?” Rilke memahami bahwa pencapaian kita yang bermakna dalam hidup ini setidaknya sama-sama dapat diraih melalui penderitaan sebagaimana dengan bekerja.

Awalnya, kukira ini buku baru dengan penulis yang masih aktif. Beberapa kali dikutip, dan sering kali muncul di beranda sosmed, buku-buku Frankl cetakan baru tampak fresh. Ternyata, beliau hidup di era Perang Dunia Kedua. Ini sejenis memoar, dibumbuhi nasihat kehidupan, dan ya, sebagai orang yang pernah masuk ke kamp konsentrasi NAZI, optimism menghadapi hari esok jadi sangat penting.

Dibuka dengan sangat bagus oleh penulis kenamaan Daniel Goleman, menjelaskan banyak makna dan perjalanan hidup sang penulis. Ungkapan ‘Yes to Life;, Frankl mengingatnya, berasal dari lirik lagu yang dinyayikan secara sotti voce – sepelan mungkin, agar tidak memancing kemarahan sipir penjaga kamp konsentrasi. Apa yang dimimpikan para lelaki di kamp konsentrasi? Selalu sama: selalu roti, rokok, kopi tubruk yang layak, dan terakhir tetapi tak kalah penting, berendam air hangat.

Makin tahu kehidupannya, makin kagum. Pembebasan dari kamp kerja paksa Turkeim. Menurut Frankl, tak ada yang berhak menilai hidup seseorang itu tak berarti, atau menganggap orang lain tidak layak memiliki hak untuk hidup.

Sebenarnya hanya ada tiga bab, penjabaran pembuka dan penjelasannya yang panjang. Tentang Makna dan Nilai Kehidupan I dan II, dan Experimentum Crucis (Eksperimen yang Menentukan). Hanya itu, yang lainnya penambahan edisi baru.

Hitler berpendapat bahwa orang akan percaya pada sesuatu yang sering diulang-ulang, dan jika informasi yang berlawanan denganya terus-menerus disangkal, dibungkam, atau ditolak dengan kebohongan lainnya. Inilah tugas pembawa berita, kebenaran penting. Melawan “kebenaran-semu” yang membahayakan.

Program Eutanasia adalah program pembunuhan massal pertama yang dilakukan Nazi pada 1939, dua tahun sebelum genosida kaum Yahudi di Eropa, dengan sasaran mereka yang menyangdang gangguan mental parah dan “tak tersembuhkan.” Mengerikan bukan?

Sekarang ini perdebatan eutanasia hanya menyangkut sisi ‘kematian yang baik’ dari istilah tersebut, di mana seorang penderita sakit parah, yang biasanya merasakan sakit yang luar biasam memilih mati demi mengakhiri penderitaannya sendiri.

Pendekatan yang mereka lakukan berasal dari gerakan ‘eugenetika’ Amerika, sebuah bentuk Darwinisme sosial yang membenarkan masyarakat untuk membersihkan kelompoknya sendiri dari mereka yang dianggap ‘tidak layak’, sering kali dengan melakukan sterilisasi paksa.

Menurut Frankl, ada tiga cara utama orang memenuhi makna hidupnya. Pertama, tindakan (aksi), seperti menciptakan sebuah karya, entah itu seni atau kegiatan apa pun yang dicintai. Kedua, makna bisa ditemukan saat kita menghargai alam, karya seni, atau cukup dengan mencintai seseorang. Kierkegaard bilang pintu kebahagiaan selalu membuka ke arah luar. Ketigam orang dapat menemukan makna hidupnya ketika ia beradaptasi dan merespons batas-batas yang tak terhindarkan atas kemungkinan-kemungkinan hidupnya. Hidup kita mendapat makna lewat tindakan-tindakan kita, lewat mencinta, dan lewat pederitaan.

Dia merasa bahwa anak-anak muda yang menyaksikan perang, telah melihat terlalu banyak kekejian, penderitaan yang tak bermakna, dan kegagalan yang menyedihkan untuk sekadar menanamkan pandangan positif, apalagi antusiasme. Samuel Beckett, Menunggu Godot, sebuah ekspresi sinisme dan keputusasaan pada masa-masa itu.

Di tengah kekejian penjaga kamp, pemukulan, penyiksaan, dan ancaman kematian yang terus-menerus, terdapat satu bagian hidup yang tetap bebas: pikiran mereka. Kemampun batin inilah kebebasan sejati manusia.

Persepsi kita atas peristiwa-peristiwa dalam hidup, bagaiamana kita menyikapi mereka, sama atau bahkan lebih penting ketimbang peristiwa itu sendiri. “Nasib” adalah apa yang menimpa kita tanpa bisa kita kendalikan, namun masing-masing kita bertanggung jawab atas cara bagaimana menempatkan peristiwa yang kita alami dengan cara yang lebih bermakna.

Kant bilang segala sesuatu memiliki nilai, tetapi menusia memiliki martabat, seorang manusia tidak seharusnya menjadi sebuah alat untuk suatu tujuan. Sebuah mitos kuno menyebutkan bahwa keberadaan dunia ini hanya bergantung pada tiga puluh enam orang yang sungguh-sungguh adil, yang selalu ada setiap saat. Kant juga bilang, sekarang bukan mempertanyakan. “Apa yang bisa kuharapkan dari hidup.” Melainkan, “Apa yang diharapkan hidup dari saya?”

Apa yang telah kita pelajari dari masa lalu? Dua hal: segala sesuatu bergantung pada individu-individu manusia, terlepas dari seberapa kecil jumlah orang yang berpikiran serupa dan segala sesuatu bergantung pada masing-masing orang melalui tindakannya.

Bunuh diri dengan motif kehidupan tidak pantas dijalani, tidak percaya pada makna hidup itu sendiri, umum disebut ‘bunuh diri neraca (kehidupan)’ atau balance sheet suicide. Orang yang melakukan bunuh diri, bukan hanya tidak memiliki semangat hidup, tapi juga tidak memiliki kerendahan hati terhadap hidup.

Kata Goethe, “Tidak ada kesulitan yang tak dapat dimuliakan, baik itu dengan pencapaian-pencapaian maupun dengan ketahanan dan ketabahan.” Entah kita berusaha mengubah nasib kita, jika mungkin, atau kita bersedia menerimanya bila perlu.

Holderlin bilang, “Kalau aku melangkah dan menapaki kemalanganku, maka aku berdiri lebih tinggi darinya.”

Masa hidup kita tidak akan kembali, ketetapan dari apa pun yang kita lakukan untuk untuk mengisinya, atau tidak mengisinya, yang membuat keberadaan kita penting. Setiap orang harus bertanggungjawab atas eksistensinya sendiri. Penyair Jerman, Christian Friedrich Hebbel mengatakan, hidup bukanlah sesuatu, hidup adalah kesempatan bagi sesuatu.

Pemenuhan makna hidup bagi manusia dilakukan dalam tiga arah, manusia mampu memberikan makna pada eksistensinya, pertama dengan melakukan sesuatu, dengan bertindak, dengan mencipta, kedua dengan mengalami sesuatu, ketiga manusia dapat menemukan makna bahkan ketika tidak memungkinkan bagi mereka untuk menemukannya dengan kedua sisi di atas.

Setelah usai baca, saya malah langsung teringat Mark Manson. Dua bukunya: Sikap Bodo Amat dan Segala-galanya Ambyar terasa banyak mengekor buku buku ini (atau juga buku Frankl lainnya). Tentang penderitaan, tentang positif thinking, tentang optimism, hingga pola menjalani hidup penuh syukur. Pinter juga Mark, Blogger penulis yang memodifikasi banyak gaya, belajar dari para orang hebat, menjadikannya pijakan tulisan.

Buku Frankl banyak diterbitkan Noura, ini yang gres dan malah jadi buku pertama yang kubaca. Suka, dan jelas memasukkan ke daftar antrian ingin mengoleksi. Ilmu psikologi, bagaimanapun turut membangun peradaban, menangani manusia selalu menyesuaikan zaman, tapi tetap spirit utama dalam kehidupan ini, yang utama bertahan hidup. “Apa pun yang masih manusiawi, masih layak dipertahankan.” Katakan YA pada hidup, apa pun yang terjadi. Katakan YA pada kehidupan.

Yes to Life | by Viktor E. Frankl | Diterjemahkan dari Yes to Life | Terbitan Beacon Press, 2019 | Bahasa asli Jerman Uber den Sinn des Lebens | Terbitan Beltz Verlag, Beltz Weinheim Basel | Penebit Noura Books | Penerjemah Pangestuningsih | Penyunting Shera Diva | Penyelaras aksara Nurjaman & Dhiwangkara | Penata aksara Aniza Pujiati | Ilustrator sampul Silmi Sabila | Perancang sampul @platypo | Cetakan ke-1, Juni 2021 | ISBN 978-623-242-218-6 | Skor: 4/5

Untuk mendiang ayahku

Karawang, 220622 – Carly Rae Jepsen – Western Wild

Thx to Toko Gunung Agung Mal Resinda, Karawang

#30HariMenulis #ReviewBuku #22 #Juni2022

Ricuhnya Hidup Bersama Adam by Anne Mather

From London with Love

Saya cuma hendak membuktikan diri sendiri, bahwa saya ini tidak terikat.” – Maria

Tema utama memang mencari jati diri, gadis remaja 18 tahun yang ingin bebas, lepas, ingin membuktikan ia bisa bertahan jauh dari ayahnya. Kuakui kenyataan bahwa kamu menginginkan kebebasan yang agak lebih luas. Tapi tidak semua yang bagus mengandung kehangatan dan berisi.

Cerita cinta yang simpel, tapi menjadi elok bila dibawakan dengan bagus. Kisah klasik percintaan di tanah Inggris. Beberapa tampak tabu dibicarakan, bahkan di dunia Barat tahun 1970an, seperti cara berpakaian Maria yang hanya berbikini berjemur di kebun belakang, laiknya pakaian renang yang hanya harus dikenakan di pantai, bukan di sebuah perumahan elit. “Kecuali itu, aku tidak punya pakaian untuknya.” Beberapa terjemahan terbaca eksotis, karena baku jadul, atau culture di tanah air saat itu. “Masya Allah, Maria kau kira aku ini apa?”

Saya sudah bisa menebak akhirnya, walaupun keputusan hidup bersama adik tiri terasa janggal, atau segala pertentangan yang muncul kemudian, jelas hati yang tertaut karena cinta lebih kuat dan abadi, ketimbang menikah karena materi, profesi, atau sebuah prestise di mata umum. “Meskipun begitu, kedatangan Anda untuk tinggal bersama abang tiri Anda, rasanya agak – bagaimana ya – rasanya agak tak lazim.”

Kisahnya mengambil sudut pandang gadis lulus SMA dari Kilcarney, Irlandia yang memutuskan ikut abang tirinya ke London untuk kursus sekretaris atau perkantoran. Maria yang beranjak dewasa, menuntut kebebasan, ingin merantau jauh dari ayahnya Patrick Sheridan yang kolot, untungnya ibu tirinya Giraldine Massey, ibu Adam mendukung rencana itu. Orangnya memang sangat praktis pada umumnya, lebih mementingkan kegunaan ketimbang segi keindahan. Betapa picik kehidupan, orang-orang cuma tahu nikah, punya anak dan membesarkannya. Lain tidak. Ayahnya menjodohkan sama anak tetangga yang punya banyak lahan, sehingga dari pernikahan akan menyatukan kedua juragan pertanian ini. Maria memilih kabur, maka Adam, abang tirinya di London diminta menampung. Kau yang mula-mulanya bosan terkukung oleh empat tembok sempit. London ini, tidak cuma terdiri dari hal yang indah, megah, dan mulia.

Dr. Adam Massey, titel dokter diperolah di Cambridge untuk dokter umum dan bedah, temannya meninggal karena leukemia, sejak itu ia memutuskan membuka praktek umum. Adam idealis, ia melakukan segalanya untuk membantu kalangan kurang mampu. Di sini sang abang memang tampak sempurna, eh nyaris sempurna saking hebat dan baiknya. Contoh kasus, ia merawat Nyoya Ainsley, sebatang kara setelah satu-satunya putri merantau ke Australia. Atau keputusannya yang hebat. Praktik di kawasan Islington yang umum, ketimbang Kawasan mewah West End bergabung dengan klinik praktek dokter di Harley Street. Prinsip, di mana tenaganya dibutuhkan. Perkampungan kumuh, bangunan lembab, merupakan sumber penyakit. Di sana banyak penduduknya yang sudah tua. Adam ingin bekerja, menolong orang, mestinya ada kepuasan, membantu orang yang tak mampu. Luar biasa! “Karena selalu ada saja orang yang nantinya akan menyalahgunakan kebaikan hati.”

Ketika menerima surat rencana kedatangan Maria, jelas ia menolak keberatan. Namun sebelum membalas atau memberitahukan keluarga, Maria keesokan harinya sudah tiba di rumahnya. Tunangan Adam, seorang artis Miss Loren Griffiths, sebagai manusia terkenal dengan kesibukan luar biasa. Di hari pertamanya di London, langsung menancapkan permusuhan. Maria merasa tak kenal sang artis, sang artis merasa kedatangan adik tiri akan membuat gaduh. Rasa tidak senang pada Loren yang memang sudah ada, semakin bertambah saja melihat ketimangan hubungan Adam dengan sang artis, bahwa rasa tidak senang itu untuk sebagian disebabkan karena cemburu?

Ya karena sudah di rumah abangnya, maka Maria menyibukkan diri sebelum daftar kursus. Ada pelayan Alice Lacey, yang ikut sejak Adam kecil, rencana mundur setelah Adam menikah, sampai sekarang bertahan. Drama ini akan berkutat di sini. Keseharian Maria yang labil, maklumlah masa peralihan. Masa remaja yang mencari jati diri. Ricuh terus. Mau aktif ke sekitar, salah. Karena pernah jalan-jalan di Hyde Park, kejauhan semacam tersesat, padahal ingin santai menyaksi Pemandangan London di kala senja yang menarik, jalan-jalan penuh wisatawan dari pelbagai bangsa. Mau berdiam diri di rumah juga serba salah karena Adam sudah punya pelayan, maka ngapain coba? Malah pernah berjemur di kebun belakang pakai bikini bikin geger orang-orang. Salah satunya teman Adam yang datang berkunjung, menyaksi keseksiannya. Larry Hadley malah lalu menelpon dan mengajak jalan. Kena omel juga karena ia orang ga benar. Berkenalan dengan David Hallam, anak sang pengacara umum Victor Hallam. Juga serba salah, sebab Adam malah melarang kluyuran. Keremajaan dan keringannya memikat para anggota pria. Bikin repot. Menekankan bibir, menekuri ufuk. Manikmati tetirah di pantai.

Apalagi ketika kursus ternyata sudah berjalan sebulan, jadi opsinya mau tetap masuk berarti menyusul ketinggalan atau menunggu gelombang berikutnya sekitar dua bulan lagi? Memutuskan sekarang sahaja join, ketimbang makin lama manyun. Maka minimal ia sudah ada aktivitas. Hubungan yang buruk dengan sang artis, dan waktu sempit Adam sebagai dokter menjadi keseharian. Kesibukan seorang dokter tidak mungkin dapat diatur terlebih dulu. Selalu tergantung dari para pasien. Bersama mobil Rover-nya Adam bertugas di lalu lintas London yang padat. Mereka terlalu sibuk mencari nafkah, agar dapat menyangingi tetangga. Mereka tidak sadar, pada suatu waktu mereka juga tua.

Dan muncullah benih cinta. Orang biasanya mengenang hal-hal yang dulu-dulu saja, tanpa mempertimbangkan proses kematanganya yang sewajarnya menyusul. Adam mungkin mengagap Mari masih kecil, tapi ia bisa buktikan sudah dewasa. Berjalannya waktu untuk pertama kalinya ia bertanya pada diri sendiri, apakah kepergiaannya ke London merupakan dorongan keinginan membebaskan diri dari kesempitan Kilcarney, atau mungkin secara tak sadar karena kerinduan kepada Adam?

Ada rasa lima tahun sebelumnya saat abangnya ke Irlandia, waktu itu jelas Maria masih anak sekolah yang manja. Ada semacam percikan cinta di remaja 12 tahun itu kepada abang tirinya. Rasa itu ternyata malah menghebat. Ia mengkhawatirkan datangnya saat, apabila Adam menyadari kehadirannya, bukan sebagai adik tiri melainkan sebagai wanita. Maria selalu kikuk saat ada Adam di dekatnya. Menggigil karena udara yang agak dingin di luar, tetapi juga disebabkan oleh bakaran semangat. Dengan tiba-tiba saja kehidupan menjadi menarik. Semakin lama ia tinggal di Inggris dan hidup di rumah Adam, semakin terlibat pula dalam jeratan perasaan. Ia tak boleh memberikan dorongan terhadap perasaan yang ada pada dirinya.

Novel menemui titik akhir di pesta malam di rumah Miss Loren Griffiths. Malam itu Adam berangkat bersama Maria, pesta kalangan elit itu awalnya dikira bakal membosankan. Justru Maria bertemu dengan Victor Hallam, pengacara tua itu menjadi teman ngobrol asyik. Dan Adam yang diam-diam bertengkar dengan tuan rumah. Malam jelang tengah malam, terjadi sebuah ciuman terlarang. Hubungan kakak-adik tiri ini menjadi dramatis ketika sang ibu datang ke London memergoki. Kalutlah segala suasana. Bagi sebagian orang tertentu, bergunjing merupakan kesibukan yang asyik.

Esoknya, harus diputuskan ke arah mana semua ini? Sang tunangan yang mendesak Maria untuk pergi? Yang penting, kau sendiri merasa bahagia denganya. Adam yang mencinta memilih siapa? Aku cukup angkuh untuk menuntut kesucian dari wanita yang tidak akan menjadi istriku, juga aku sendiri tidak begitu. Bab terakhir menjadi eksekusi manis menutup ‘Ricuhnya Hidup Bersama Adam’. Aku senang mendengar kebenaran, daripada pemutarbalikan persoalan.

Kisah semacam ini mungkin ketika dibaca sekarang tampak sangat klise, terasa klasik cinta dari London. Menurutku masih sangat nyaman melahap masa buku-buku seperti ini. Bulan Juli 2020 kucanangkan menuntaskan baca-ulas jadul. Kovernya bagus banget. Dengan warna orange kelabu, yang duduk jelas Adam. Stylist berkaca mata dengan ‘v-neck’ nya, sementara Maria berpose kalem bersama segelas wine. Keremajaannya dipulas tjakep. Buku kedua ini jelas lebih bagus.

Maria pergi untuk sementara waktu, ia berhasil melarikan diri dari realitas.

Ricuhnya Hidup Bersama Adam | by Anne Mather | Diterjemahkan dari Living with Adam | Copyright Mills & Boon Ltd., Anne Mather 1972 | Alih bahasa A. Setiadi | Penerbit PT Gramedia | GM 77 109 | Pertama terbit 1977 | Desain sampul Sriyanto | Skor: 3.5/5

Karawang, 090720 – Louis Armstrong & His Hot Five – St. James Infirmary Blues (1929)

Thx to Anita Damayanti, dua dari Sembilan.