(review) Big Hero 6: Oscar Lock For Best Animated Feature

Dari adegan pembukanya saja kita sudah dibuat takjub dengan animasinya yang lembut. Sebuah pertarungan robot mini illegal, Hiro (voice by Ryan Potter) yang baru lulus SMU di usia muda memenangkan taruhan adu robot. Polisi datang, arena tarung bubar lalu Hiro kabur dari arena diselamatkan kakaknya Tadashi (Daniel Henney). Sampai di rumah Hiro dinasehati untuk menyalurkan kejeniusan otaknya ke hal yang lebih berarti. Hiro berpendapat kuliah akan membuang waktunya, namun pada suatu ketika dia diajak kakaknya ke kampus. Di sebuah lab penelitian, Hiro dibuat terpukau karena banyak hal canggih tersedia. Bersama teman-teman kuliah Tadashi, memperlihatkan bahwa kuliah tak semembosankan yang dikiranya. Salah satu robot penelitian bernama Baymax (Scott Adsit).

Sepulang dari kampus, Hiro langsung berminat kuliah di sana. Lalu dibuatlah sebuah karya untuk presentasi. Sebuah karya yang memukau Alistair Krei (Alan Tudyk), orang kaya dari Krei enterprise, dan berniat membelinya. Namun ditolaknya, dari hasil presentasi itu professor Robert Callaghan (James Cromwell) memberinya golden ticket masuk universitas. Puas dengan karyanya dua bersaudara ini bersantai di luar gedung. Naas, gedung terbakar berdua mereka segera bergegas berlari kea rah TKP. Api yang meluluhkan sebagi gedung membuat panik orang-orang, sampai ada yang berteriak bahwa professor Callaghan masih terjebak di dalam. Tadashi dengan berani berusaha masuk ke gedung untuk menyelamatkannya. Sayang kemudian gedung meledak menewaskannya, topinya terlempar. Topi tersebutlah yang manjadi kenang-kenangan terakhir kakaknya.

Kejadian menyedihkan ini membuat Hiro patah semangat. Klontrak-klantruk di kamar, hopeless. Sampai akhirnya muncullah Baymax yang ternyata disimpan di kamar. Baymax lalu dengan lucunya menyampaikan keadaan Hiro, oiya kelebihan Baymax salah satunya bisa men-scan tubuh manusia lalu muncul mood 1-10, bagaimana keadaanmu hari ini. Kalau buruk maka Anda perlu pelukan, salah satu scene paling memorable tahun 2014 ya si Baymax meluk Hiro ini. Tentu saja Hiro keadaannya buruk setelah ditinggal meninggal kakaknya. Di adegan ini saya ikut sedih.

Baymax menemukan ada potongan karya Hiro yang bergerak-gerak di dalam box plastik (mengingatkanku pada kompas). Hiro tentu saja ga percaya karena karyanya sudah hancur pas kebakaran. Dia abai, Baymax malah mengikuti arah gerak potongan tersebut. Terpaksa Hiro lalu mengikuti juga, sampai di sebuah gudang gedung terkunci. Penasaran, berdua memanjat dinding dan masuk lewat jendela. Betapa terkejutnya Hiro, karena ternyata karyanya terkumpul di situ dan sedang digunakan oleh seseorang bertopeng. Kabur, dirinya terancam. Dari situ Hiro lalu membentuk tim untuk melawan. Karena mengira manusia bertopeng itu Krei yang mau membeli karyanya, namun merebutnya dengan meledakkan gedung. Terdiri dari 6 pasukan yang kemudian muncul judul Big Hero 6: dirinya, 4 teman kuliah Tadashi dan Baymax. Berhasilkah Hiro membalas dendam kakaknya? Siapa jati diri manusia bertopeng tersebut?

Setelah film selesai saya langsung mem-plot jatah animasi terbaik sudah ketemu. Feel Oscarnya dapat. Saya baru nonton Boxtroll, yang 3 belum tapi saya sudah yakin Big Hero 6 akan menang. Animasi lembut, cerita kuat yah walau ga kuat-kuat amat karena ketebak, tanpa Pixar di daftar dan dramatisasi yang disuguhkan pas. Setting film ada di San Fransico tapi berasa di Jepang. Unik dan cerdas.

Saat kredit title muncul, jangan beranjak dulu. Tonton sampai tuntas karena aka nada scene after credit yang WOW. Bravo Lee!

Big Hero 6 | Directed by: Don Hall, Chris Williams | Written by: Jordan Roberts, Daniel Gerson | Star: Ryan Potter, Daniel Henney, Scottv Adsit, TJ Miller, Jamie Chung | Skor: 4/5

Karawang. 060215

Iklan

(review) The Imitation Game: A Great British Hero

Featured image

Ini film berdasarkan kisah nyata, saya belum tahu kisah Alan Turing sebelum menontonnya jadi ya bener-bener menikmati tiap detail yang disuguhkan. Film dibuka dengan setting tahun 1950an, sebuah laporan dari warga kepada polisi bahwa ada perampokan di rumah Alan Turing (Benedict Cumberbath). Namun setelah sampai di tempat ternyata Alan merasa ga kehilangan. Rumahnya memang diobrak-abrik seseorang tapi ga ada yang hilang jadi polisi diminta kembali saja ke kantor. Sang polisi curiga, pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Lalu judul film muncul dan kisah ditarik ke belakang.

Alan adalah seorang ahli matematika yang melamar pekerjaan di pemerintahan Inggris sebagai pemecah kode. Terutama kode rahasia dari Negara Jerman, yang saat itu sedang digdaya dengan Hitler-nya. Dalam wawancara yang sepertinya akan gagal karena Alan tak bisa Bahasa Jerman, sambal bilang ini mungkin adalah wawancara tercepat dan memanggil Margaret, sang sekretaris untuk mengusirnya, Alan mengeluarkan kalimat sandi ‘Enigma’ yang membuatnya kaget, sehingga wawancara yang tadinya akan selesai akhirnya dilanjutkan. Enigma, kata ini akan muncul berkali-kali dalam film. Dalam tim pemecah kode menggunakan mesin Enigma, Alan yang terlihat kaku dan aneh memang kurang jiwa sosialnya. Dalam sebuah adegan, saat Alan diajak makan siang bareng dia pengen lanjut kerja, saat sudah pada mau berangkat, dia malah pesan makanan lain. Bener-bener freak..

Sampai akhirnya tim dirombak. Alan mengirim surat kepada PM Inggris, Churchill melalui Stewart Menzies (Mark Strong) sekaligus meminta dana yang lebih besar, yang kebetulan ke London. Alan punya hak penuh untuk menentukan tim, 2 orang dipecatnya. Padahal orang lebih senior, mereka marah. Tim bergejolak, namun Alan bergeming. Dibukanya lowongan di koran dengan sebuah teka-teki silang. Saat sudah berkumpul para kandidat, dan tes akan dimulai muncullah seorang wanita yang datang terlambat, satu-satunya kandidat wanita. Adalah Joan Clarke (Kiera Knightley) yang berhasil memecahkan soal kurang dari 6 menit. Dari sini saya sudah menduga, paling ini akan jadi pasangannya Alan.

Kisah lalu bolak-balik setting waktunya. Salah satunya adalah Alan yang masih SD, dia yang jenius dan unik dari yang lain sering di-bully. Saat tertekan dan sepertinya dia tak punya teman, muncullah Christopher Morcom (Jack Bannon) teman kelasnya. Dari situ mereka akrab. Dengan cerdas film ini ditampilkan hitam-putih untuk masa kecilnya. Christ yang suka kriptograph akhinya menularkan hobinya kepada Alan. Dari situ ada rasa cinta tak terucap, dilihat dari sorot matanya.

Tim pemecah kode setelah beberapa kali gagal, diancam akan dibubarkan karena tak kunjung membuahkan hasil. Alan dan teman-teman meminta tambahan waktu 4 bulan, kalau gagal silakan dihancurkan mesinnya. Stewart Menzies lalu memberinya waktu satu bulan. Dalam adegan romantis, Alan akhirnya melamar Joan (saya langsung teriak, “tuh bener kan”). Mereka tunangan, cicin yang diberikan Alan adalah kawat yang dia temukan di jas nya lalu melipatnya menjadi cincin. Saat waktu menipis, di sebuah pesta dansa Joan bersama teman wanitanya berkenalan dengan teman Alan. Lalu secara tak sengaja ketemu ‘momen ureka’ yang ternyata tepat.

Saya mencatat ada 3 adegan yang menyentuh. Pertama saat Alan dipanggil sang kepala sekolah untuk diberitahu sebuah kabar buruk. Saat itu Alan menampakan wajah kosong, sebuah kesedihan mendalam tak terucap. Kedua saat kode berhasil dipecahkan, saat tahu Jerman akan menyerang sebuah wilayah, rekan Alan berujar bahwa kakaknya ada di kota itu, saat akan dihubungi via telpon Alan melarangnya sampai berkelahi. Alan dianggap monster karena membiarkan saudaranya meninggal, namun dia juga benar karena kalau diberitahu maka nantinya Jerman akan mengubah kodenya. Sunyi dan meyayat hati, sambil mengelap darah yang keluar dari hidung Alan berujar: “Do you know why people like violence? It is because it feels good.” Dan yang ketiga saat pengakuan Alan kepada Joan, itu menyedihkan sekali. “Care for you. I never did. I just needed you to break Enigma. I’ve done that now, so you can go”. Tamparan yang pantas, namun saat narasi tulisan di ending saya turut prihatin atas jalan hidup yang Alan pilih.

Nah kalimat terakhir yang muncul: “Which they said known these days as computers” saya malah teringat pas kuliah di matakul “pengenalan dasar computer” ternyata Alan Turing pernah dibahas, walau sambal lalu. Berarti saya (seharusnya) tahu kisah ini. Duh! Dah tua, mulai pikun. Sama sih pendapat saya dengan pas tahu asal usul computer, rasanya Enigma machine/Turing Machine terasa berlebihan.

Terakhir, film biopic digarap dengan sangat bagus jelas pantas masuk Oscar. Benedict memang main apik, dari pesaing lain yang sudah kutonton, Steve dan Cooper, Benedict kini leading tapi ga tahu ya kalau The Theory of Everything dan Birdman kelahap, persaingan bisa bergeser. Sedang untuk Kiera saya rasa masih kurang. Well, Truly excellent film and definitely Oscar worthy material for both the film and the actors. The entire cast are amazing. We’ll see…

The Imitation Game | Director: Morten Tylum | Screenplay: Graham Moore | Cast: Benedict Cumberbath, Keira Knighley, Matthew GoodeRory Kinnear | Skor: 4/5

Karawang, 300115