Sea Fever: Horor Parasite Laut

Sebenarnya alasan utama nonton film ini karena mencoba film non-mainstream, dan ada Hermione Corfield. Setelahnya blank. Hermione seingatku hanya dua film yang tersimpan dalam, jadi peran antah di toko kaset di Mission Impossible 5 dan jadi Syren King Arthur yang absurd. Memang bukan artis besar seperti Jolie atau Kristen Stewart, tapi pesona gadis Inggris dengan akses British-nya memiliki magnet tersendiri. Dengan poster yang mengingatkanku pada Underwater yang kulihat bulan sebelumnya, kurasa Sea Fever malah terjebak ke dalam kebingungannya sendiri.

Kisahnya tentang mahasiswi sains diminta Profesor (Dag Malmberg) guna melakukan penelitian di laut, Siobhan (Hermione Corfield) di kapal pukat pukat ikan di Irlandia Barat yang dinahkodai oleh Gerard (Dougray Scott) dan Freya (Connie Nielsen). Awaknya sendiri ga banyak, hanya lima orang dengan karakteristik unik, demi mencipta konflik/pemecahan masalah yang timbul nantinya. Omid (Ardalan Esmaili), seorang Timur Tengah yang tampak cerdas. Johnny (Jack Hickey) yang obesesif, dan Ciara (Olwen Fouere). Siobhan membawa perlengkapan menyelam, nantinya malah jadi kewajiban paksa ketika sebuah kejanggalan tercipta.

Masalah muncul ketika ada goncangan, dikira gempa atau kena karang, ternyata kapal nyenggol sebuah tentakel berwarna hijau. Tentakel itu malah sampai merembes ke lambung kapal, sehingga beberapa kayu berlubang. Ketakutan sempat menyeruak, apalagi setelah Siobhan terjun dan menemukan makhluk ini sejenis biolumniscent, ada potensi menyebar virus.

Ada sebuah kapal yang terdiam di dekat, tampak aneh karena dikontak radio taka da jawaban, taka da respon sama sekali. Maka bertiga mencoba naik perahu memeriksa. Hasilnya negative, tak ada penumpang hidup. Semua awak meninggal tragis, salah satunya bahkan dengan mata berdarah. Pistol tergeletak di meja, muram sekali. Anehnya, ketika mereka kembali ke kapal, malah berbohong, taka da kendala.

Endingnya agak mengecewakan. Ketika parasite mengepung dan satu-dua korban jatuh, bukannya kompak melakukan tindakan demi keselamatan bersama, malah terjadi sabotase. Tindakan heroik agar wabah tak menular keluar? Agar aneh, juga ketika sang pemilik yang getol menahan kapal, lalu dramatis mengucap ‘hanya kapal’ dengan kru yang seolah abai demi kesemalatan sendiri. Bisa jadi film ini rilis tepat waktunya dengan pandemic Corona, karena Sea Fever memberi opsi, virus bisa ditutup kasus dengan para korban ditiadakan, ketimbang menular. Namun tetap saja terdengar janggal melihat seseorang menyerahkan golok dan berujar, ‘bunuh aku’.

Ini film science fiction sederhana, budget terbatas, dengan eksekusi sederhana pula. Sempat terlintas Triangle ketika mereka menemukan kapal lain yang kosong penumpang, yang setelah diselidiki semua sudah tewas, ada burung camar yang mengoak, yang menakuti penonton karena kalau burung itu tewas, nasib buruk yang ada. Sayangnya Sea Fever berjalan linier tanpa banyak permainan waktu.

Rilis di Festival Film Toronto 2019, April lalu direct to streaming dan VOD. Saya sendiri memutuskan nonton ketika muncul di halaman pertama situs dengan nama Hermione di muka. Dan hasilnya film yang biasa banget. Mungkin bisa jadi pelajaran berharga pula, kalau memilih tontonan jangan subjektif semu. Hermione yang ini masih ga familiar, sehingga memang kurang menjual.

Sea Fever jelas hanya sekadar lewat, tak akan banyak bekas di kepala sepuluh tahun lagi. Bukan horror, bukan thriller, bukan pula fiksi ilmiah yang memerlukan mikir. Permainan nasib akan bahaya menghadang di tengah laut, keterbatasan bantuan, pilihan tindakan guna juang mempertahankan napas. Lalu lupakan…

Sea Fever | Ireland | Year 2020 | Directed by Neasa Hardiman | Screenplay Neasa Hardiman | Cast Hermione Corfield, Connie Nielsen, Dougray Scott, Olwen Fouere, Jack Hickey, Ardalan Esmaili, Elie Bouakaze, Dag Malmberg | Skor: 3/5

Karawang, 060520 – Bill Withers – I Want to Spend the Night

Calista Yumna Hermione

Featured image

Hari ini tepat 4 bulan usia putri keduaku. Saat yang tepat untuk mengikuti jejak teman-teman blogger yang pada posting tentang putra-putrinya, maka hari ini saya ingin bahas Calista.

Sebelum lahir, saat tahu hasil USG bayinya perempuan maka saya sudah menetapkan namanya akan ada kata Hermione. Dari tokoh favorit saya di buku Harry Potter, mungkin kalau cowok bisa jadi akan bernama Potter. 😀

Calista, nama ini diusulkan oleh adik ipar saya yang suka Doraemon. Dia dapat kata itu dari temannya, berhubung dia lulusan kebidanan jadi urusan merawat bayi dia jagonya. Ga serta merta saya Ok kan, sempat browsing juga arti kata Calista. Ternyata artinya adalah most beautiful atau yang paling cantik. Dari Bahasa Yunani, pertama kali dengar kata ini adalah saat saya berkunjung ke rumah saudara ke Purwakarta. Saat itu, Tasya ponakan saya sedang bermain boneka-bonekaan dengan anak tetangga. Memang cantik temannya Tasya ini, terlihat ceria. Iseng saya Tanya namanya dan 6 tahun kemudian saya menpunyai anak bernama sama.

Yumna, nama ini diusulkan oleh ibu mertua. Sebulan sebelum lahir ibu sudah ribut cari nama-nama yang Islami. Ada belasan nama yang disodorkan, mulai dari yang keren sampai susah dieja. Walaupun sedari awal sama istri sudah sepakat ga akan ada intervensi luar pemberian nama, tapi karena ibu ‘memaksa’ ambil andil ya udah saya pilih salah satu. Dan saya ambil Yumna yang berarti diberkati berasal dari Bahasa Arab. Yumna bisa juga berarti beruntung.

Hermione, jelas ini usulan dari saya. Sebagai satu dari tiga tokoh utama dalam cerita Harry Potter, Hermione Granger adalah tokoh sentral yang istimewa (kalau ga boleh dibilang sempurna). Sebagai seorang half-blood, Hermione mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Saya langsung jatuh cinta saat pertama kali baca Batu Bertuah. Kebetulan nama ini pernah dipakai sebagai salah satu nama karakter karya William Shakespeare dalam cerita A Winter’s Tale.

Nama adalah doa. Calista Yumna Hermione, anak perempuan yang cantik dan pintar yang diberkati.

Featured image

Karawang, 101214