Projo & Brojo #21

“Aku bahkan curiga dengan bayanganku sendiri.”

Novel unik. Tukar orang yang dipenjara, dan katanya buku ini merupakan terinspirasi dari pengalaman Arswendo selama dipenjara? Apakah beliau pernah melakukan tukar posisi seperti ini? Ataukah ini pure imajinasi, seandainya punya jabatan penting, bisa seenaknya saja kabur secara tersirat dari jeruji besi? Menarik, walau ditemukan beberapa kejanggalan. Seperti, bagaimana bisa istri tak mengenali suami yang menyamar? Atau perubahan sifat karakter secara tiba-tiba akibat kepergok, seolah materi tak penting? Seakan di otaknya dipasangi rem yang kelewat pakem. Atau bagian, kepolosan perempuan desa yang luar biasa sederhana, polos. apa adanya, dan begitu sabar. Mungkin ada orang-orang seperti itu, di sini diumbar dengan pesonanya sendiri.

Kisahnya tentang Don Projo yang divonis sepuluh tahun penjara, ia ketangkap Badan pengawas Korupsi melakukan tindak korupsi. Karena ia memiliki wewenang dan uang, ia bisa seenaknya kabur. Tukar peran dengan pengangguran Brojo yang baru menikah, bengkel pinggir jalan tempatnya bernaung tutup, dan ia pusing tujuh keliling. Istrinya, Wisuni dikirim ke kampung, ia siap kerja serabutan, asal ada yang bisa dimakan dan bisa bayar kontrakan.

Gayung bersambut, Zul, anak buah Projo menemukan celah dan kesempatan. Mengatur strategi tukar peran, Brojo secara perawakan mirip, didandani sebagai Projo lalu saat jam besuk, diselundupkan masuk penjara, dengan Projo keluar menghirup udara merdeka. Dengan gaji wow, dan kepastian aman keluarga. Tukar peran itu berhasil dilakukan. Penjara yang korup, selalu mengiyakan para bos, dan dengan mudahnya disusupi barang atau uang berpindah tangan.

Kehidupan baru Brojo di penjara, ya nyaman saja sebab Projo memang orang kuasa. Dilayani, dihormati, hingga dijenguk orang-orang penting. Kehidupan baru yang tak terlalu bikin pusing, sebab ia nganggur, sama saja di luar atau di dalam penjara, malah sekarang makan dan tinggal terjamin. Bahkan ia bisa mengirim uang banyak ke istrinya. Itulah, kalau orang miskin pastinya cepat adaptasi. Apalagi adaptasi ke atas. Brojo mabuk kepuasan, dan tenggelam dalam kantuk.

Kehidupan baru Projo di luar penjara. Karena biasa jadi orang sibuk, tentu saja tak berpangkutangan menikmati liburan. Ia melakukan penyelidikan. Dikulik lebih dalam, siapa orang-orang yang mengirimkan ke penjara. Juga menyelidiki istrinya, Iik apakah selingkuh atau lurus saja.

Menyamar sebagai Dewi, perempuan yang mengoleksi lukisan. Bersinggungan dengan Iik bahkan secara instan menjadi sahabat. Menjadi teman curhat, dan hal-hal pribadi-pun ditukar kata. Membingungkan. Rancu. Dan agak kacau balau. Sepintas teringat cerita film Mrs. Doubtfire di mana Robin Williams menyamar sebagai wanita, masuk ke ruang keluarga. Namun ternyata tak seperti itu. Dewi lebih gaul, dan tak terlalu memusingkan renungan.

Kecurigaan sama Syam, sahabat politiknya, apakah gosip kemungkinan selingkuh, dan telusur orang dibalik skenario jahat. Dirinya ditusuk dari luar dan dirobek dari dalam. Sejak itu ia menjadi tawar. Dan melampiaskan dengan segala kemurkaan yang selama ini bagai mau meletus.

Begitu pula dengan Zus Evi, perempuan pengagum Projo ini tampak jahat. Materialistis, menggoda sang Don dengan tubuhnya. Mengejar tandatangan untuk pengalihan tanah dan rumah ke Evi, ia mendesak terus dengan berbagai modus. Patut dicurigai juga. Bagian ini malah fun, seolah sekadar untuk memerangi sepi.

Dan terakhir, kita harus singguh perempuan hebat Wisuni. Polos, sederhana, dan begitu menyenangkan tiap tampil di lembaran buku. Sebagai istri ia khawatir, ke mana suaminya menghilang. Lalu sandiwara, Projo jadi suaminya kelihatan kaku, langsung tahu. Ia menuntut kebenaran, yang akhirnya terseret arus. Tangan tukang las pasti berbeda dengan tangan orang yang kerjanya hanya membuat tandatangan. Wisuni segera mengenalinya bukan Projo, ia akan berusaha berterus terang dan tetap tenang, kalau ternyata tak dikenali, ia akan terus memainkan perannya.

Bagaimana benturan-benturan kepentingan itu disajikan, sejatinya sangat potensial meledak, bila yang pegang kisah Mo Brother bisa jadi cerita thriller penuh darah, sayang sekali endingnya terlampau sederhana. Kelemahan utama Projo & Brojo malah di akhir yang sangat standar, kisah perjalanan hidup manusia yang seolah bilang: positif thinking-lah, optimism-lah, masa depan akan lebih baik. Semacam itulah, padahal hidup ini sejatinya pertaruhan-kan? Pahit di sana-sini, tak bisa sekadar, ok segalanya baik-baik saja.

Ada bagian lucu, menjurus penasaran berat saat Wisuni tinggal di apartemen Projo. Mereka potensial saling singgung asmara, saling mengisi. Gagasan paling gila. Paling astaga. Kepolosan yang diteriaki, “Kenapa sih kamu ini, apa hidup ini urusannya hanya saruuuung melulu. Ini dunia hampir kiamat.” Atau saat ngopi, orang desa kalau bikin kopi emang manis. Projo tahu rasa kopi, yang dibuat Wisuni sungguh tidak keruan “arahnya”. Entah pelajaran dari mana yang membuat Wisuni membuat opi begitu maniiis, begitu pekat.

Dan begitulah, ini bukan genre gore, bukan pula seperti film-film festival yang seringkali vulgar. Segala kekalutan Projo seolah berhasil diredam Wisuni dalam semalam. Ternyata kegelisahannya jungkir balik sebelumnya bisa ditepis begitu saja. Oleh sikap sederhana, sikap biasa-biasa seorang perempuan sederhana.

Ini adalah buku pertama Arswendo Atmowiloto yang kubaca. Setelah berulang kali berpeluang menikmatinya, di rak ada dua lagi, salah satunya hampir selesai baca: Mengarang Novel itu Gampang. Dan dengan dua buku bagus ini, jelas beliau adalah salah satu penulis hebat kita. Apalagi pas baca Mengarang Itu, wah makin kagum bagaimana tata cara mengelola waktu jadi terasa wajar, mengelola kata terasa bisa, dan rasanya menulis novel jadi terasa realistis.

Terakhir, sekalipun ini bisa jadi percobaan adil menjaga status keluarga harmonis. Bisa pula menyinggung tema feminis dimana Iil melawan riak hingga mendiri. Saya tutup catatan ini dengan nasehat Don Projo yang katanya mau tobat itu. “Il, kita boleh mengatakan persamaan apa saja antara laki-laki dan perempuan, tapi pada kenyataannya tetap berbeda. Lelaki memiliki ego yang begitu kuat, keakuan yang tinggi.”

Projo & Brojo | by Arswendo Atmowiloto | 40101090028 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain dan ilustrasi cover Dito Sugito | September 2009 | 368 hlm; 20 cm | ISBN 9789792249507 | Cetakan kedua, Agustus 2017 | Novel ini pernah diterbitkan oleh Penerbit Subertra Citra Pustaka, 1994 | Skor: 4/5

Untuk Modrick dan Mopit dan keluarganya dengan salam.

Karawang, 210622 – Sade – The Sweetest Taboo

Thx to Gramedia Karawang di Bazar Mal Technomart, Karawang

#30HariMenulis #ReviewBuku #21 #Juni2022

(review) Kumpulan Cerita Pendek Karya Tofik Pram: Filosofi Nasgor

Gambar

Romantika itu tak harus lazim.  Apalagi ketika cinta bertemu realita.

Pasca nonton streaming laga replay piala FA antara Manchester City dengan Blackburn Rover kemarin, subuh-subuh saya dapat link kumpulan cerpen karya bung Tofik Pram yang di-upload di dokumen Google. Langsung saja saya unduh dan print out. Kamis ini kebetulan hujan menerpa sepanjang hari jadi waktunya tepat sekali untuk menikmati cerita sambil meresapi kopi.

Ada sepuluh cerpen dan berikut review singkat dari saya.

1. Filosofi Nargor

Dari kalimat pembuka cerita ini pasti komedi, karena berisi kalimat gombal dimana seorang lelaki merayu pacarnya di sebuah pos kampling. Adalah Salman si tukang kibul yang berhasil menaklukkan hati Ratri. Melalui acara first date yang sederhana mereka yang hanya makan nasi goreng keliling seperti menjadi pasangan paling bahagia sedunia. Hati Ratri leleh dengan kata-kata penuh filsuf Salman, rasanya hidup sederhana dengan cinta sepenuh hati akan bisa meruntuhkan dunia sampai akhirnya satu kata penutup dari Ratri (yang mungkin) akan membuat kita tertawa merobohkan segalanya. Haha.., cerita pembuka yang bagus.

2. Dua Pekan Aroma Kenanga

Rarasati divonis akan meninggal dunia karena sakit leukemia yang dideritanya. Pasangannya pergi setelah mendengar dan dalam duka itulah muncul seorang pecinta sejati bernama dokter Sena yang menyukai bunga kenanga. Rarasati yang menyukai bunga kenanga juga akhirnya pasrah mendekati maut. Namun dalam dua pekan itulah dia bisa merasakan cinta yang sebenarnya. Sepekan raga sepekan jiwa. Bunga kenanga menyatukan cinta mereka, maut takkan bisa memisahkan cinta ini.

3. Di Lapak Bawang

Siapa tak kenal Bambang? Seorang preman bertato bunga mawar (lebih terlihat seperti kol) itu selalu menarik iuran kepada para pedagang yang ada di pasar sebesar dua ribu setiap lapak. Bambang menerima warisan daerah kekuasaan dari bapaknya yang juga preman, yang juga bernama Bambang di usia yang relative muda, 18 tahun. Bambang adalah anak angkat yang nyaris mewarisi semua sifat kejam bapaknya. Sampai pada suatu hari datang seorang janda bernama Sri yang menempati lapak bawang yang membuatnya jatuh hati. Sebuah flash back akan membuat kita terharu asal usul Bambang. Akankah cinta Bambang akan bersambut? Tunggu dulu…

4. Hegemoni

Ratna takut suaminya, Idris yang membuat tato burung Phoenix di lengannya akan kenapa-kenapa karena seorang yang ber-tato di negeri ini berkonotasi negatif. Padahal berdasarkan histori tato dicipta bukan untuk itu, sejak ribuan tahun lalu tato sudah ada. Tujuan tato akhirnya bergeser karena di Indonesia sejak tahun 80-an kekuatan media membuat tato jadi teror dan bermakna sangar. Untuk itulah Idris yang lulusan sarjana seni rupa berusaha meruntuhkan hegemoni tersebut, namun di subuh itulah sebuah kekhawatiran yang selama ini menghantui Ratna terjadi. Secangkir teh hangat dan letupan meruntuhkan segalanya.

5. Bisma Termakan Sumpah

Bisma adalah maniak bakso, sejak kecil dia sudah jadi bakso addict. Bakso tak membuatnya gendut, tak membuatnya bodoh dan tak membuatnya sakit. Tak ada kata bosan untuknya untuk selalu melahap bakso. Selalu ada tapi dalam kehidupan ini. Bisma tumbuh cemerlang dan jadi orang yang pintar dalam pendidikan. Sampai keluar sumpah: “Hanya maut yang bisa memisahkan aku dengan bakso”. Pada suatu hari dia jatuh cinta pada seorang mahasiswi tempatnya kuliah. Akhirnya ada cinta yang bisa dibagi dengan bakso. Namun sebuah penuturan lembut tapi meyakitkan mengubah hidupnya sampai bertahun-tahun kemudian, cintanya ditolak sebelum diucap. Dan sebuah ending yang akan membuat kita trenyuh bertuliskan: “Bakso Urat Super Spesial Kartika“. Bisma termakan sumpah.

6. Demi Waktu

Bhre, seorang mahasiswa kere saat ini sudah di semester enam. Di dini hari yang sibuk dia dikejar deadline mengumpulkan makalah jam tujuh. Namun di kos-nya yang pengap berukuran 2×3 meter tersebut dia gagal menyelesaikan makalah Komunikasi Politik sesuai waktu. Dengan kondisi belum membayar kos dua bulan, dia dikejar pemiliknya agar segera melunasi kalau tidak dia terusir. Di rental komputer dia-pun hutang dan pagi ini dia menambah daftar kasbon-nya. Adalah Bram yang selalu jadi sahabat yang membantu finansialnya. Seorang yang kaya namun berotak dangkal. Akankah dia akan lulus sesuai target kuliah? Demi waktu! Eh wait…, ini bukan tentang itu. Ini cerita tentang cinta jadi harus ada wanitanya. Adalah Gendari yang akan menjadi konflik dengan sang waktu. Berjuta detik telah dimubazirkannya secara sadar.

7. Jatuh Cinta Berjuta Rasanya

Demi Zeus, Neptunus dan Pluto. Ini adalah kisah narsis seorang pemuda yang memiliki kisah cinta dengan wanita-wanita cantik. Total ada dua belas wanita telah menjadi pengisi hatinya, semuanya cantik dan menjadi dambaan kaum Adam. Walau tak tampan dan tak berdada bidang, seorang playboy ini akhirnya jatuh cinta juga. Cinta yang sebenarnya, bukan cinta pepesan kosong, celakanya wanita ini secara fisik biasa saja namun tetap menawan. Biasanya dia berhasil meluluhkan hati wanita, karena dia percaya kalau kita punya keyakinan maka kita pasti bisa. Namun kali ini dia ragu, dengan semangat siap gagal dia mendatangi rumah pujaan hati. Dengan cuaca hujan, hanya berdua karena penghuni kos pada pulang, eh bertiga kalau pemilik kos dihitung dan pulang sampai larut malam. Apa yang sebenarnya terjadi? Itulah rasanya orang sedang jatuh cinta. Jadi apa yang menahannya bisa selama itu mereka berduaan di sana? Jadi cintanya diterima dong? Haha, dia berbisik.

8. Untuk Hujan Pada Sepenggal Sabtu

Kuperingkatkan kalian, ini adalah kisah sedih, tentang sepasang kekasih yang akan berpisah. Jadi siapkan tisu kalian sekarang! Hujan di akhir pekan harusnya menjadi hal yang romantis, perjalanan Jakarta – Bogor ditempuh dengan motor matik-nya. Besok pujaan hatinya akan melanjutkan studi ke Belanda demi mewujudkan cita-citanya. Jadi malam ini adalah malam perpisahan sampai enam bulan ke depan. Malam yang panjang namun terasa singkat untuk sepasang kekasih. Larut malam memisahkan mereka, dia harus pulang. Sebuah adegan di bawah jembatan Cawang akan menuntaskan cerita ini, mungkinkah juga cinta mereka?

9. Foto Dalam Dompet Ruth

“Jika menyimpan secuil masa lalu itu adalah dosa, kelak surga akan sepi!”. Ruth kepergok pacarnya, dalam dompetnya ada foto lelaki lain. Dalam resto makan itulah sepasang kasih ini bertengkar hebat. Bima marah karena mereka sudah sepakat bahwa masa lalu harusnya dikubur dan dilupakan selamanya demi masa depan bersama. Dengan diiringi lagu Nat King Cole, Ruth dipaksa menjelaskan identitas foto lelaki di dompetnya. Miris, foto tersebut mirip Ruth. Saat kekecewaan besar melanda Bima akan kenyataan tersebut, dia juga harusnya sadar ini semua cerita tentang batang. Tak ada yang lain.

10. Malam Pertama

Asmana seorang pecinta seks tanpa cinta adalah petualang penikmat kupu-kupu malam. Baginya bersetubuh adalah kebutuhan pokok. Seorang kaya dan berfisik bagus serta kepiawaiannya bergombal ria berhasil menaklukkan banyak wanita. Namun ketakutannya akan penyakit kelamin membuatnya ingin tobat. Dia ingin menikah, apalagi ayahnya sudah berpesan, ibumu adalah seorang perempuan juga jadi jangan kau sakiti perempuan. Akhirnya niat menikah itu kesampaian, seorang sekretaris baru Perusahaan bernama Laksmi yang terlihat kiyis-kiyis dan berpenampilan sopan itu berhasil dipikatnya. Singkat cerita di malam pertama itu kebiasaan membayar setelah bercinta reflek terjadi. Mati aku! Namun ‘malam pertama’  ini seperti membaca cerita versi panjang situs ketawa.com di kategori dewasa. Bukan Laksmi yang terkejut, tapi Bima yang (harusnya) shock.

Well, kumpulan cerpen berjumlah 180 halaman ini selesai juga kulahap cepat dalam sehari. Saya yakin bung Tofik Pram tak secepat ini membuatnya. Hehe… Sub-judul: ‘Kumpulan Cerita Cinta Tak Biasa’ ini memang tak bohong. Terima kasih telah berbagi. Yang mau ikut melahap silakan, saya rekomendasikan!

Link untuk ‘Silaken Koplak Sejenak’: http://tofikpr.wordpress.com/2014/01/15/silaken-koplak-sejenak/

Karawang, 170114