(review) The Grand Budapest Hotel: A brilliantly entertaining fantasy outing

Featured image

Film kandidat best picture Oscar 2015 pertama yang saya tonton. Banyak daya Tarik dari film ini bagiku, jauh sebelum masuk nominasi. Saoirse, Wes, review bagus, bintang-bintang besar (nyaris semuanya bermain apik)  sampai judul yang sedap didengar. Namun baru sempat ketonton minggu lalu. Kita kupas satu-satu. Saoirse Ronan, semua filmnya saya coba tonton. Walau mayoritas subjektif dalam menilai, pertama kali lihat di film Atonement. Sejak itu saya tandai ini actress, terakhir saya lihat di film the Host yang kata teman-teman so so, tapi bagiku tetap memukau. Nama putri pertamaku Najwa Saoirse. Lalu Wes Anderson, semua filmnya bagus. Pertama lihat di Royal Tenenbaum yang gila, superb sekali. Terakhir film Moonrise Kingdom tentang pramuka yang memukauku. Lalu rata-rata teman bilang ini film bagus, dan benar saja akhirnya Wes masuk Oscar.

Film dibuka dengan sebauh adegan anak perempuan yang memberi karangan bunga di sebuah memorial Mr. Gustave, dibukanya sebuah buku berjudul The Grand Budapest Hotel, dan sang narrator mulai bersuara. Kisah bergulir mundur mempertemukan Zero tua (Tom Wilkinson) dengan seorang penulis muda (Jude Law) dengan background lucu Bill Murray yang cuek sebagai M. Ivan. Lalu kisah berjalan mundur lagi, dan kita sampai di sebuah hotel bergensi yang jadi judul film ini. Adalah Mr. Gustave (Ralph Fiennes) yang sedang mengantar pulang seorang janda kaya raya, Madame D (Tilda Swinton) pulang dari tempat menginapnya, didamping sang lobby boy Zero (Toni Revoloni), sampai di mobil sang lady berfirasat bahwa mungkin ini pertemuan terakhirnya, dia takut akan ada apa-apa. Namun Mr Gustave meyakinkannya. Setelah mobil keluar, kita diperkenalkan lebih detail dengan bintang utama Zero, bagaimana dia sampai terdampar di hotel ini. Setelah masa magang selesai dan interview singkat dia resmi jadi lobby boy.

Pada suatu pagi Zero yang mengambil koran untuk dibawa ke hotel terkejut saat dibacanya headline hari ini, Madame D meninggal dunia. Segera dia memberitahu Mr. Gustave. Bergegas berdua mereka ke rumah almarhum, di perjalanan kereta saat melewati perbatasan ada razia (di titik ini Wes dengan cerdas menarik benang merah di ending-nya). Saat penggeledahan, Zero dinyatakan illegal karena seorang imigran tak berijin yang bekerja di Negara tersebut. Sempat melawan, namun akhirnya Mr. Gustave terselamatkan oleh kepala polisi Henckels (Edward Norton) yang sudah dikenal dekat. Perjalanan dilanjutkan, sampai di rumah alm. Madame D sedang ada pembacaan surat wasiat oleh Deputy Kovacs (, dan mengejutkan Mr. Gustave karena sebuah lukisan tak ternilai harganya yang bergambar ‘seorang laki-laki remaja memegang apel / Boy with apple’ itu diwariskan kepadanya. Sang anak Dmitri (Adrien Brody) tak terima, terjadi baku hantam yang membuat gaduh ruang sidang melibatkan anak tangan Dmitri, Jopling (William Dafoe). Malamnya Mr. Gustave menjelaskan bahwa lukisan itu sangat mahal kepada Zero, dia penasaran pengen lihat. Ke lantai atas, setelah scene sunyi menatap keindahan lukisan, mereka memutuskan mencurinya. Dibantu Serge X (Mathieu Amalric) mereka kabur kembali ke hotel.

Sampai di hotel, berita kejutan datang. Alm Madame D ternyata setelah penyelidikan, dia dibunuh dengan racun. Berita buruknya, Mr Gustave jadi tersangka. Henckels yang memimpin penangkapan, saat adegan ini Edward Norton ekpresinya dapet banget. Di penjara, Mr Gustave punya banyak teman karena terkenal baik dan jujur. Grand Budapest Hotel tetap berjalan, Lobby Boy yang menjenguk Mr Gustave memberitahukan bahwa tersangka kini mengarah ke Serge X. Wah Mr Gustave kaget, dan yakin ini pasti ada konspirasi. Akhirnya bersama para napi pilihan, direncanakanlah sebuah pelarian dari penjara. Berhasilkah? Di mana posisi Saoirse Ronan dalam cerita ini? Bagaimana nasib Grand Budapest Hotel? Lukisan yang dicuri akhirnya ke siapa? Tonton sendiri ya…

Well, saat film akhirnya berakhir saya langsung berteriak bravo! Wes Anderson kembali memukau saya. Moonrise Kingdom yang tema nya ‘hanya’ pramuka saja saya kasih nilai 5/5 maka bisa jadi ini film klimax x to the max. Keren sekali. Khas Wes dimana kita disajikan cerita layaknya membaca buku, per bab. Tapi ini tingkatanya lebih tinggi, sangat tinggi, ya mungkin inilah saatnya Wes meraih Oscar. Sebelum menonton film pesaing saya langsung memutuskan inilah Film yang akan menang penghargaan tertinggi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Inilah waktu yang tepat. Boy With Apple, Angkat topi semuanya teman-teman.

Oiya setting film ini adalah sebuah Negara fiktif Zubrowka mengingatkanku pada Negara di Eropa Timur yang bergolak di pertengahan abad 20. Salah satu momen yang membuat trenyuh adalah alasan Zero sampai di hotel tersebut. Pengen nangis rasanya, betapa perang begitu meluluhlantakan sendi-sendi kehidupan, termasuk pengaruh besar di ending cerita ini. Come on, give Mr Wes Oscar, please…

The Grand Budapest Hotel | Director: Wes Anderson |Written by: Wes Anderson, Stefan Zweig | Cast: Ralph Fiennes, F Murray Abraham, Mattheiu Amalric, Adrien Brody, Williem Dafoe, Jude Law, Saoise Ronan, Bill Murray, Edward Norton, Tida Swinton, Tom Wilkinson | Skor: 5/5

Karawang, 210115

Iklan

(review) The Amulet Samarkand – Buku Satu Trilogy Bartimaeus: Runs Wild Your Fantasy!

Gambar

Catatan: Ini adalah tulisan pertama dari tiga review yang akan saya posting. Tentang sebuah cerita fantasi yang luar biasa.

Inilah buku yang selama ini saya cari. Setelah tergila-gila dengan Harry Potter yang berakhir sudah kisahnya tahun 2007, belum ada lagi novel yang bisa mengisi hatiku sampai sekarang selain The Hobbit yang kubaca tahun 2009 dan novel Jonathan Stroud ini. Kisahnya gila, luar biasa imajinasinya. Dunia ini memang terbagi banyak dimensi (dalam kisah ini disebut plane), dan saya percaya itu. Kalau Anda pun sepakat maka buku ini sangat layak Anda sikat!

Saya sudah mengetahui ini novel (katanya) bagus sejak tahun 2007 saat booming Harry Potter mencapai puncaknya dari seorang teman yang juga suka fantasi. Saat itu dia merekomendasikannya. Sayangnya di kota pinggiran Cikarang tak ada toko buku Gramedia jadi sulit dicari sampai akhirnya nyaris lupa. Tahun 2009 baru saya menemukannya ditumpukan buku diskon di Mal Lippo Cikarang, namun hanya ada satu seri yaitu yang Golem’s Eye. Seri dua yang saat kubaca membuat pening. Yaiyalah, saya ga tahu awal mula perjalanan Bartimaeus tiba-tiba saya sudah dihadapkan perang di kota Praha abad ke-19. Jadinya novel tersebut ikut numpuk dengan buku-berat-belum-baca-lainnya. Baru awal tahun 2014 ini saya berhasil memikikinya via beli online sama teman di Tangerang/Klaten. Setelah dua hari pasca konfirmasi kirim, novel seri satu dan tiga tanggal 26 Januari 2014 lalu sudah di tangan. Dan mulailah saya berpetualang.

Dikisahkan seorang penyihir muda bernama Nathaniel diam-diam memanggil jin berusia 5000 tahun bernama Bartimaeus. Tugas untuk Bartimaeus sungguh berat, ia harus mencuri Amulet Samarkand yang berkekuatan dahsyat dari penyihir culas Simon Lovelace. Adegan dibuka dengan kedatangan Bartimaeus dalam sebuah ruangan gelap yang dipenuhi asap belerang kuning menyesakkan. Bartimaues, jin senior itu dipanggil oleh penyihir muda untuk melakukan sebuah tugas. Butuh mantra yang tepat, tindakan tepat, nama yang tepat untuk bisa memanggil jin level empat. Anak yang berumur 12 tahun tak semuanya bisa memanggilnya, bahkan penyihir dewasa sekalipun. Jadi saat Bartimaues tahu anak kecil yang memanggilnya, dia menyepelekan dan menganggap remeh Nathaniel. Agar terdengar keren Barty memperkenalkan dirinya dengan lengkap: “Aku Bartimaues! Aku Sakhr al-Jinni, N’gorso yang hebat dan sang ular dari Silver Plumes! Aku membangun kembali tembok-tembok Uruk, Karnak, dan Praha. Aku berbicara dengan Solomon. Aku pernah berlari dengan nenek moyang kerbau-kerbau di padang rumput. Aku menjaga Zimbabwae tua hingga hujan batu menghancurkannya dan anjing-anjing memakan tuan-tuan mereka. Aku Bartimaues. Aku tak bertuan maka aku memerintahkan untuk menjawab bocah. Siapa kau yang berani memanggilku?”

Dari situ saja saya sudah terkesima. Ini jin sombong banget, dan kocak. Namun tak disangka dia kena getahnya, Nathaniel ternyata penyihir muda yang istimewa. Gertakkan Barty tak membuat gentar Nat, sehingga dengan lantang dia menjawab: “Dengan lingkaran pembatas, ujung-ujung pentacle, dan rangkaian tulisan kuno, aku tuanmu! Kau akan mematuhi perintahku!”

Barty terkesan dengan jawabannya, dan lebih kaget lagi saat tahu tugas yang menantinya. Sempat berprasangka bahwa penyihir cilik ini dimanfaatkan masternya untuk melakukan kejahatan namun akhirnya dalam perjalanan waktu Barty menyadari ada yang tak beres dalam misi tersebut. Mereka akhirnya terlibat dalam persekongkolan penuh darah, intrik untuk mengkudeta pemerintahan Inggris sampai ancaman kemunculan demon besar.

Misi pertama Barty sukses, walau dalam pencuriannya dia harus berjuang keras karena ternyata Simon adalah orang yang berpengaruh dalam pemerintahan Inggris. Tak disangka olehnya, setelah berhasil membawa pulang Amulet Samarkand, dia diberi perintah kedua untuk menaruhnya di ruang master Nathaniel: “Bartimaeus, aku memerintahkanmu membawa Amulet Samarkand dan menyembunyikannya dalam ruang penyimpanan benda-benda sihir milik Arthur Underwood, menyembunyikannya sehingga dia tak dapat menemukan, dan melakukan hal ini dengan amat sangat lihai sehingga tak seorang pun, baik manusia maupun makhluk halus, dalam plane ini atau plane-plane lain, dapat melihatmu masuk atau keluar; aku kemudian memerintahkanmu segera kembali kepadaku, diam-diam tak terlihat, untuk menunggu perintah selanjutnya”.

Jeder! Permulaan yang bagus untuk sebuah cerita fantasi. Alurnya lalu maju-mundur antara masa lalu Nat dan masa sekarang. Terungkap alasan kenapa Nat mencuri Amulet tersebut dari tangan Simon, yang ternyata benda tersebut menyimpan kekuatan sihir yang besar yang fungsinya dapat untuk menghalau serangan sihir. Dalam sebuah penuturan panjang, terungkap pula asal usul Amulet yang sebenarnya milik pemerintahan Inggris. Perpindahan tangan yang berdarah, sampai akhirnya kita tahu ini semua tentang perebutan kekuasaan. Sebuah misi kudeta menggulingkan Perdana Menteri Inggris. Benar sekali kata Barty bahwa manusia adalah tempatnya ambisi akan kekuasaan, menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri dan pengemis hormat. Hal ini sudah terjadi ribuan tahun sebelum Masehi. Perebutan kekuasaan selalu berputar secara periodik demon-penyihir-manusia. Dalam cerita ini Inggris pemerintahannya diatur oleh penyihir. Manusia ada di bawah untuk mengabdi. Kalau dalam Harry Potter manusia tanpa kekuatan sihir disebut Muggle, maka dalam kisah ini mereka menyebutnya Commoner. Kalau dalam seri Dark Material, kata daemon (atau demon) adalah makhluk yang bisa berubah wujud yang menemani setiap manusia, di mana berubahan wujud akan terhenti saat dewasa. Sedangkan dalam kisah ini kata demon lebih diartikan luas. Demon adalah makluk di dunia lain yang terdiri dari lima tingkatan, dari yang terendah sampai tertinggi: imp, foliot, jin, afrit, dan marid. Lalu terpecah dalam tiap kelas sesuai dengan kekuatannya. Selain kelima tingkatan ada dunia lainnya lagi yang belum terdeteksi. Dalam kisah pertama ini akan muncul salah satu makhluk bernama Ramuthra. Karena sudut pandang kita adalah seorang jin kelas empat, maka diapun tak bisa menuturkan plane yang lain. Commoner hanya bisa melihat plane pertama. Penyihir bisa plane yang lebih tinggi, sedang jagoan kita Barty bisa melihat sampai plane ketujuh. Dan makhluk dunia lain dari dunia lain tersebut ada dalam plane yang lebih tinggi. Rumit? Saya juga bingung mau menjelaskannya. Intinya adalah ada dunia lain di dunia lain.

Lalu ada satu aturan lagi dalam kisah ini. Penyihir harus menyembunyikan identitas nama lahir dari siapapun, karena kalau sampai nama lahirnya bocor diketahui musuh maka habis sudah kariernya. Karena akan digunakan untuk menyerang dia, sihir akan bisa ditangkis dan berbalik menyerang dengan meyebut namanya. Penyihir akan diberi nama resmi saat usianya 12 tahun. Nathaniel resmi memakai nama John Mandrake, nama yang pernah dipakai dua kali sebelum dirinya. Lalu terdaftar secara resmi di pemerintah. Namun sial bagi Nat, saat dalam misi Barty tak sengaja mendengar nama asli Nathaniel sehingga kedudukan master dan pelayan seimbang. Dalam perjalanan mereka berdua malah saling mengisi. Bahkan Barty sempat memuji bahwa Nat ternyata tidak seperti penyihir yang lain, istilahnya masih ‘punya hati’. Namun siapa yang tahu saat usia makin dewasa kan? Bukankah anak kecil yang terlihat imut saat dewasa bisa sebengis singa kelaparan? Menambah kerumitan, ada kelompok Resistan yang bisa anti sihir atau menemukan kekuatan sihir padahal bukan penyihir. Nantinya di seri dua akan lebih dominan dalam perebutan tahta.

Benang merah cerita Amulet Samarkand adalah percobaan kudeta. Perebutan kekuasaan sesama penyihir. Inggris dikisahkan menjadi penguasa Eropa, dan sedang menginvasi Amerika. Namun tak dijelaskan secara pasti apakah terjadi di masa kini (saat novel terbit tahun 2005) atau masa perang dunia kedua. Karena tekhnologi sudah maju, email, pesawat terbang dan telepon sudah ada. Cerita fantasi dipadukan dengan sejarah dunia. Kisah 1001 malam, Willian Glasstone, Romawi, zaman Cina, sejarah panjang Mesir sampai kisah nabi Sulaiman (Solomon) dipadukan dan tampak megah. Yang jelas Stroud sukses membuat kita percaya bahwa ini bisa saja terjadi di dimensi lain di dunia ini.

Satu lagi yang istimewa dalam kisah ini adalah, penuturannya yang mengambil sudut pandang dua karakter. Secara bergantian kita akan ditempatkan pada karakter Nat dan Barty. Bagaimana perasaan mereka dalam menjalankan misi. Menurut saya ini diluar kebiasaan kisah fantasi yang biasanya mengambil sudut pandang orang pertama. Nantinya di seri dua dan tiga bahkan sudut pandang akan lebih variatif bukan hanya Nat dan Barty.

Saya menyelesaikan baca novel 500 halaman ini dalam seminggu di tengah rutinitas kerja. Sebuah prestasi untuk ukuran orang yang (pura-pura) sibuk ini. Saya setuju sama pendapat kebanyakan orang, ini novel bagus. Eh ralat, ini novel yang sangaaaaaaaaaaat bagus. Karena genre favorite saya di fantasi maka melahap Amulet Samarkand itu ibarat anak kecil yang baru saja menemukan sekotak coklat. Nikmat sampai tetes terakhir.

Jadi berhasilkah kudeta Simon? “Hapuskan cengiran konyol itu dari wajahmu!” dan lalu kita (para pembaca) tertawa terbahak-bahak.

Karawang, 150214