(review) American Sniper: Don’t Pick It Up

Jelek. Itu yang terlintas di benak saat akhirnya muncul catatan ending. Bagaimana bisa film seburuk ini ditempatkan nominasi Oscar? Saya berani bertaruh, Cooper ga ada menang best actor.

Dari adegan pembuka saja, saya langsung memberi nilai negative. Seorang anak kecil yang akan melempar granat mortir kea rah pasukan tank, ditembak jatuh oleh sniper. Lalu sang ibu berpekik dan melanjutkan usaha si anak, ditembak juga. Adegan pembuka yang mewakili isi keseluruhan cerita. Ada aturan tak tertulis dalam cerita yang saya nikmati, salah satunya jangan memperlihatkan secara implisit pembunuhan anak-anak dan wanita. Di mataku, rate film American Sniper langsung jatuh.

Chris Kyle (Bradley Cooper) adalah seorang sniper kelas wahid. Bertugas di Timur Tengah untuk melindungi pasukan Amerika dalam operasi militer di sana (dalam film ini di sebut Tur). Saking hebatnya menembak, teman-teman yang bertugas denganya merasa aman. Jadi saat konvoi pasukan untuk menyisir sebuah daerah, Kyle ada di atas gedung untuk mengamati lokasi sekitar perjalanan.

Kyle mendaftar di militer, seperti biasa adegan awal ya pasukan latihan militer yang keras. Berguling di pantai, lari penuh keringat, push up sampai latihan menembak. Kyle berkenalan dengan Tara Renae (Sienna Miller) di sebuah pub. Awalnya Tara menolak berkenalan dengan laki-laki lain, yang terlihat melepas cincin nikah/tunangannya. Lalu datang Kyle, mereka cocok. Sampai akhirnya menikah dan punya anak. Lalu cerita berkutat dari keluarga dan tur ke Timur Tengahnya. Gitu terus berulang-ulang sampai akhir.

Dalam sebuah tur, teman Kyle sesama sniper terluka bagian mata, dia tertembak sniper lawan. Ini sebuah penghinaan untuk seorang penembak, Kyle dan kawan-kawan marah besar dan bersiap membalas dendam. Lalu dalam adegan yang dibuat secara dramatis, sang sniper lawan dalam sasaran Kyle namun daya jangkaunya melebihi batas. Di satu sisi, instruksi dari bos agar menahan tembakan dahulu sebab kalau sniper lawan jatuh maka tempat persembunyian mereka otomatis diserang. Saat dilemma itulah, Kyle harus memutuskan, menarik trigger saat ada kesempatan atau menunggu sang bos memberi perintah. Sampai akhirnya sebuah angin ribut datang tiba-tiba, benar-benar film ala India yang dramatis.

Dalam sebuah adegan Kyle sekeluarga sedang di tempat umum, bertemu dengan eks pasukan yang pernah diselamatkan Kyle dan menganggap Kyle adalah hero. Di sinilah menurut saya, film ini berlebihan. More war propaganda ala Amerika. Kyle dianggap pahlawan di sana, sehingga tak heran dalam sepekan film ini berhasil tembus 100 juta. Angka yang luar biasa untuk sebuah film biopic. Film ini memang berdasarkan kisah nyata, benar-benar feel Oscar dapat. Salah satu kata yang mengena sekali adalah: I’m willing to meet my creator and ask for every shot that I took. Sebuah pekerjaan yang berat.

Secara keseluruhan film ini jelek. Mengagung-agungkan Amerika seolah mereka punya kuasa penuh dalam perang Irak. Mereka jagoan dan setiap tentara yang tewas dalam perang adalah pahlawan. Lalu apakah Kyle akhirnya juga tewas dalam perang?

Ini film Eastwood, tapi ga semua filmnya bagus kan. Kecuali kalau kamu fan beratnya, silakan. Namun nasehat saya buat kalian yang gat ahu Eastwood, hanya satu: Don’t waste your time or money!

American Sniper | Director: Clint Eastwood | Story: John Hall | Cast: Bradley Cooper, Sienna Miller, Kyle Gallner, Cole Konis | Skor: 1.5/5

Karawang, 280115

Iklan

(review) Saving Mr. Banks: Don’t You Ever Stop Dreaming

Gambar

Walt Disney: Well, there’s buses, mailboxes, guard’s uniforms, the English flag…

Ini adalah film kenangan untuk penulis Pamela Lyndon Travers (diperankan dengan brilian oleh Emma Thompson) atau lebih dikenal dengan P.L Travers, salah satu karya besarnya ‘Mary Poppins’ adalah sebuah buku yang sangat personal olehnya. Jadi saat bukunya akan diadaptasi film, dia mengawasi dengan ketat. Takut maha karyanya dirusak Hollywood, dia terbang langsung dari London ke New York untuk memantau langsung proses pembuatan filmnya.  Mrs Travers  adalah seorang yang perfeksionis jadi adaptasi filmnya harus sesuai keinginannya. Alurnya maju mundur antara masa kecil P.L Travers dengan masa proses pembuatan film tahun 1960an.

Diceritakan Pamela masa kecilnya begitu sulit. Ayahnya Travers Goff (Colin Farrel) adalah seorang bankir yang memperjuangkan keluarga karena kesulitan keuangan. Mr. Goff jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia membuat Pamela kecil histeris karena belum siap kehilangan sosok seorang ayah. Dari pengalaman hidupnya tersebut dan dibalut fantasi itulah lahir buku yang kita kenal: ‘Mary Poppins’. Sehingga saat Mr. Disney (Tom Hanks) akan mengadapasinya P.L Travers galau, takut dirusak.

Film ‘Mary Poppins’ sendiri sukses besar yang rilis tahun 1964, sayangnya Walt Disney sudah meninggal. Mendapatkan 13 nominasi Oscar dan pendapatakn lebih dari 100 juta Dollars. Masuk dalam salah satu film yang paling menguntungkan. Termasuk dalam koleksi Film Disney Masterpiece. Lagu-lagunya memorable, dan sering sekali diputar di Amerika.

Penampilan Tom Hanks sebagus biasanya. Mengherankanku dia tak masuk nominasi Oscar di tahun ini. Padahal penampilan yang brilian juga ditampilkan saat menjadi kapten Phillips. Sedang Emma dengan luar biasa bisa menampilkan sosok penulis yang melihat detail-detail kecil sehingga sulit dipuaskan. Ini mungkin adalah satu akting terbaik Emma. Dan ada satu lagi aktor yang tampil memukau, sebagai sopir bernama Ralph, Paul Giamatti yang low tapi sangat antusias terhadap cerita Mary Poppins. Di sebuah adegan dia minta tanda tangan yang dipersembahkan untuk anaknya. Salah satu adegan yang paling menawan tahun 2013 tentu saja saat Mr. Disney mengalah pergi ke London. Itu scene masterpiece yang menggugah semangat. Sayangnya penampilan kaku Colin Farrel sedikit mengendurkannya.

Butuh kesabaran menikmati ‘Saving Mr. Banks’. Satu jam pertama mungkin sedikit membosankan karena akan dipenuhi drama. Namun alurnya tetap terjaga. Ibaratnya membangun susunan cerita, mulai dipertengahan dan sampai akhirnya meledak marah Travers itu kita seperti disuguhi sepiring coklat, terasa manis. Mengingat cv sang sineas yang telah membuat film ‘the Blind Side’ yang mengantar Sandra Bullock akhirnya menerima Oscar pertamanya maka ‘Saving Mr. Banks’ termasuk sebuah pencapaian manis John Lee Hancock.

‘Mary Poppins’ bercerita tentang seorang pengasuh yang…, hei memang ada yang tak tahu cerita legenda ini? Well, ini salah satu karya klasik literature cerita anak-anak wajib baca dan koleksi. Jadi rasanya kurang pas saya cerita tentang Penguin di review film pembuatannya. Oiya satu lagi, saat muncul credit title jangan beranjak dulu dari tempat duduk. Ada kado indah, sebuah rekaman asli P.L Travers. Apa isinya? Nikmatilah sendiri agar terasa lebih syahdu!

Saving Mr. Banks

Director: John Lee Hancock – Screenplay: Kelly Marcel, Sue Smith – Stars: Emma Thompson, Tom Hanks, Colin Farrel, Annie Rose Buckley, Paul Giammati – Skor: 4/5