Divortiare #25

Novel kedua Ika yang saya baca setelah ‘A Very Yuppy Wedding’.  Ada penurunan kualitas dari yang pertama. Kalau yang pertama kelemahan ada di judul, karena ya memang akan jadi pernikahan bahagia, yang kedua ini kelemahan utama ada di cerita. Pertengahan sampai akhir kurasa kurang greget. Ketebak dan sepertinya Ika kurang berani mengambil resiko ‘Bad Ending’. Dibaca 6 tahun lalu saat jomblo dan jobless, tertanda di sampulnya: Sunday – 310808 @ MLC Book Store: Kawan datang dan berlalu. Saat lagu-lagu Sherina Munaf masih sering berkumandang di kos Ruanglain_31. Ditinggalkan kenangan…

Diceritakan Alexandra telah bercerai dengan Beno Wicaksono. Alex ini workaholic, wanita karir sebagai seorang banker, sedang Beno adalah dokter bedah jantung. Pernikahan mereka hanya seumur jagung. Hanya keegoisan Alex dan kecuekan Beno-lah penyebab utama mereka pisah. Beno is a fool for letting me go? Padahal kalau dilihat dari segi kecocokan, ekomoni (yang biasanya menjadi kendala utama) dan cinta mereka tak ada masalah. Sungguh skenario yang kurang bagus, konflik yang disajikan jelas kurang menarik. Walau sudah cerai mereka masih sering kontak, karena Beno telah menyelamatkan ibu Alex, keadaan mereka berdua membaik. Dalam kisah ini kita disajikan dari sudut pandang Alex yang berusaha melupakan mantan suami. Lika-liku wanita karir yang benar-benar mencoba mandiri.

Dalam perjalanannya, Alex yang gagal move on namun akhirnya mendapat kenalan cowok keren bernama Denny. Pria tajir dan mapan ini mencintai janda Alex, mengajaknya melangkah lebih jauh. Sementara hubungannya dengan mantan suami mulai membaik. Pilihan kini ada di Alex, rujuk apa memulai kehidupan baru dengan Denny ke New York? Kisah klise, toh mau pilih siapapun Alex dapat pria mapan. Kecuali pilihannya seorang penganggur atau tampang pas-pasan baru pening. Jelas sekali Divortiare bukan novel di genre saya.

Aku ingat dulu Ryan pernah bilang, “Nadine pakai daster tetaplah Nadine. Kate Beckinsale pakai sarung tetaplah KateBeckinsale. Omas pakai Victoria’s secret juga ga berubah jadi Heidi Klum, kan? (halaman 88)

“Alexandra, I hate to sound like cheesy romantic novels, just because he hurt you, doesn’t mean it’s gonna happen again when you open your heart again to the next gu, right?” (halaman 79)

It was a good day in our marriage, salah satu hari baik dari sekian ratus hari yang penuh dengan pertengkaran. We laughed, we talked, we kissed, and then we fought again. (halaman 147)

Masih mending A very yang lebih mengena konfliknya. Sebagai anak kos – dulunya – novel-novel Ika tak cocok dilahap saat kantong kosong nunggu gajian, dia jelas kelas atas sedang saya jelata yang jangankan memikirkan fashion, besok bisa makan di Warteg tanpa hutang saja sudah Alhamdulillah. Fakta lho, dulu pas kos saya pernah bon makan saking kere-nya. Bandingkan dengan novel Jombless yang beberapa hari lalu saya review, jauh banget. Bagian positif Divortiare adalah kisahnya ditulis dengan baik sehingga masih enak diikuti, lalu kutipan dari luar yang menambah wawasan dan English-nya enak dinukil. Sisanya lupakan! – or tattooed on your mind!

Divortiare | oleh Ika Natassa | GM 401 08.016 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Jakarta, Juni 2008 | 288 hlm; 20 cm | ISBN-10: 979-22-3846-8 | ISBN-13: 978-979-22-3846-4 | Skor: 2.5/5

Karawang, 260615 – Gajian day

#25 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan