A Fall From Grace: Jatuh yang Janggal

Kau tiba-tiba ingin menjadi pahlawan dan mengusut kasus?” – Rory

Tentang pengacara muda yang menangani kasus pembunuhan. Anehnya, mayat korban tak ditemukan. Jadi ini seolah menelusur kabut. Kamu melakukan penghajaran, tapi tubuh korban hajar menghilang. Ide absurd macam apa ini? Kalau diibaratkan kurva, A Fall seperti sebuah pendakian gunung dimulai dari bukit, naik-naik sampai puncak adegan pukulan bisbol, lalu menurun, terus turun, dan terjun bebas saat kejutan dibuka, terperosok jurang. Agak konyol, sangat disayangkan endingnya terkesan mengada. Terasa dibuat-buat.

Kisahnya tentang pasangan muda berkulit keling, pengacara hijau Jasmine Bryant (Bresha Webb) bekerja di firma hukum Negara, pasangan polisi Jordan Bryant (Matthew Law). Tinggal di Virginia, sepertinya memiliki masa depan cerah dengan karier dan pasangan yang saling kasih. Film dibuka dengan kasus di sebuah rumah, ada nenek frustasi di puncak mengancam terjun bunuh diri, Jordan sudah di jendela untuk menolong, naas misi itu gagal. Sang nenek yang memiliki persoalan penik tak kuasa menahan, dan ia loncat. Skoring masuk, judul muncul.

Jasmine mendapat tugas dari bosnya Rory (dimainkan langsung sang kreator langsung Tyler Perry) untuk menangani kasus pembunuhan, ia memintanya mendatangi tersangka lalu meminta pengakuan. Terlihat kasus mudah, karena Grace Waters (Crystal Fox) menuju ke keputusan itu, ia hanya meminta dipenjara di dekat domisili anaknya. Saat Jasmine akhirnya bertemu langsung dengan Grace, ternyata tak semudah itu. Pengakuan itu hampir dilakukan, tapi Grace yang faceless malah curhat.

Dari catatan Negara, Grace adalah warga Negara yang ideal, baik hati dan tak sombong, melakukan pelayanan dan bernyayi untuk abdi gereja, menjadi orang tua yang manis, memasak untuk yatim, dst. Hanya kasus dugaan pembunuhan inilah yang mengganjal janggal (entah kenapa kasus bank ga disebut Jasmine). Maka Jasmine mengata akan meminta keringanan 15 tahun dengan pengurangan masa tahanan, kalau siap. Tidak, justru Grace ngoceh akan kasih tuhan. Dan hancurnya masa hidupnya secara instan.

Jasmine lalu menyelidiki, datang ke sobat terdekatnya Sarah (Phylicia Rashad). Darinya kita tahu, awal mula kasus ini. Awal mula sekali kenapa Grace bisa berubah radikal. Grace adalah janda, mantan suaminya menikah lagi dengan gadis muda, hal yang membuatnya patah hati dan pesimis. Sarah lalu mencoba menyelamatkan hari, ia tak bisa menyelamatkan masa lalu, tapi ia bisa menawarkan masa depan, ia memberinya kartu nama/undangan ke pameran fotografi Shannon (Mechad Brooks), sang fotografer menyambutnya, menatap damba, berkenalan, dan memberinya harap. Jadi sarah merasa turut bersalah telah menjadi koneksi pasangan itu. Mengenakan kalung sebuah simbol. Penjelajah Afrika yang mencinta nenek-nenek, well catet yes.

Dari kunjungan berikutnya, Jasmine yang dipaksa bosnya meminta pengakuan, dan nyaris diiyakan malah menentang. Ada yang janggal, entah apa, harus dikorek, harus ditelusur. Maka kepada Grace ia memohon kisah selengkapnya. Yes, kita akan maju ke pengadilan. Alur lalu mundur, di awal mula lagi. Grace yang merasa sudah tua malu akan cinta menggebu khas remaja, pasca kenalan sang fotografer mengajak makan malam, ngobrol kencan menghabiskan waktu hingga larut, datang ke kantor bank-nya membawa bunga, mengucap kata-kata romantis, sungguh segala tindak cinta liar khas anak muda menghantamnya dengan keras. Grace merasa terberkati mendapat Shannon yang lembut dan romantis, sehingga ia bisa move on kilat dan menatap masa depan dengan lebih bersemangat.

Maka suatu malam di kebun bunga penuh kunang-kunang, Shannon berjongkok melamarnya, tak ada kuasa menolak. Romantisnya mengalahkan kisah cinta pujangga yang puitik, tapi justru terlalu romantis malah adalah kejanggalan belaka. Apalah, pada akhirnya menikahlah mereka, pasangan yang tak muda lagi ini memenuhi beranda waktu dengan kebahagiaan. Perkenalan singkat, pacaran singkat, menikah kilat. Mungkin ada sisi positifnya kalau cinta itu murni, tapi di sini enggak. Ada motif terselubung, saya sudah curiga sih dari gerak-geriknya. Ini pasti ada niat jahat, lelaki bejat sudah tampak dari tatapan mata. Seperti kebahagiaan yang datang mendadak, kesedihan menyapa cepat pula.

Benar saja, Grace suatu hari dipanggil bos dan pemangku direksi bank. Ia dipecat dengan tak hormat karena melakukan transaksi transfer ilegal ratusan ribu dollar ke akunnya, konyol sekali sih kalau dengan sadar melakukannya. Ia diminta mengembalikan uangnya atau dituntut penjara. Shock pertama ini berlanjut ketika diusut lebih lanjut, rumah yang dibeli dengan kerja keras dan tabungan ketat itu dihipotek, jadi akan disita. Hah, kok bisa ia merasa tak melakukan, ia merasa tak menandatangani, oh sudah disahkan notaris, dan ketika ke alamat notaris, kantor itu palsu. Surat menumpuk, dan kosong.

Kalut, benar-benar hancur segalanya. Langit runtuh, segala-galanya ambyar. Maka ia meminta pihak bank memutar rekaman cctv kala transaksi terjadi. Bukan kejutanlah, pelakuknya adalah suaminya. Marah, sangat marah. Tak ada cinta ternyata, ia hanya memanfaatkannya. Ketika uang diminta, ga bisa. Ia harus membayar utang, maka hampa sudah rasa itu, jeruji besi siap memantri. Maka ketika suatu hari Shannon membawa gadis lain ke rumah, wikwik dan menggangap Grace sekadar pengganggu, terjadilah kasus yang menghinggapi titik utama film ini. Grace memukul suaminya dengan tongkat bisbol berkali-kali, dengan keras nan mematikan. Grace yang kalut menelpon sahabatnya, bahwa ia telah membunuh suaminya lalu kabur.

Ketika kembali ke masa kini, jadilah ¼ akhir film adalah persidangan. Kurang menggigit karena sejatinya tampak aneh, sungguh aneh, kasus pembunuhan tapi mayatnya tak ditemukan. Jasmine yang pengacara muda tampak menolak nyerah, melawan jaksa pengalaman. Bos Rory akan memecatnya pasca kasus ditutup, memalukan firma, suaminya tetap mendukung karier istrinya. Sampai akhirnya saksi kunci dipanggil, Sarah yang bijak menyatakan kebaikan Grace dan dengan sangat terpaksa meminta maaf, pengakuan telpon pasca kejadian menenggelamkan segalanya. Dan sisa menit kejut, terasa hambar. Sangat hambar, sayang sekali.

Terlihat sekali ini film budget mini, banyak adegan tampak kasar. Tergesa, seolah editing dilakukan mahasiswi magang. Lihat pembukanya, loncatnya palsu tampak sekali. Lihat sidangnya, hiruk pikuk pengadilan tampak monoton tanpa ketegangan, lihat eksekusi akhir bagaimana para korban dilepas, ya ampun… itu nenek-nenek sangat ketara kesedihannya akting permukaan. Setelah kucek trivia, ternyata shoting film hanya lima hari, dan ini debut film panjang Tyler Perry Studio. Hhhmm…

Bayangkan, dari film yang nyaris wow. Terutama pas Grace yang bahagia menemukan belahan hati, lalu wajah hampa dan melakukan kejahatan, A Fall benar-benar terjatuh di separuh kedua, luluh lantak penuh onak kejanggalan. Apalagi saya habis menikmati film persidangan yang wow, Section 375. Drama India berkelas yang memainkan pikiran, menantang nalar. A Fall jelas sulit mendekati. Orang-orang memang memuakkan, dan hidup ini sungguh sulit dan tidak bisa ditebak. Kebanyakan dari kita menjalani hidup ini asal ngalir aja, dan sebagian malah sungguh-sungguh tersesat.

A fall from grace, terrible acting, a lame script, and predictable. Film dekektif/pengacara/thriller/polisi-polisian ga bisa seperti ini. Anggap saja, ini sekadar tontonan pasca sahur lalu lupakan.

A Fall From Grace | Year 2020 | Directed by Tyler Perry | Screenplay Tyler Perry | Cast Crystal Fox, Phylicia Rashad, Bresha Webb, Mehcad Brooks, Cicely Tyson, Tyler Perry, Donovan Christie Jr., Walter Fauntleroy, Angela Marie Rogsby | Skor: 2.5/5

Karawang, 150520 – Bill Withers – Something That Turns You On

Thx to Rani S.kom

Misteri Dian Yang Padam #25

Sekarang ke mana?” / “Kita terus ke Ngawi.” / “Kaukira kau akan menemukan sesuatu di sana?

Buku yang sangat bagus. Semacam nostalgia. Pertama baca pas masih sekolah di Perpustakaan Kota Solo. Terpesona sama alurnya, detektif dengan kearifan lokal. Yang paling kuingat setelah satu setengah dekade berlalu, adalah susunan plotnya yang rapi, walaupun tertebak siapa pelaku pembunuhan kita masih sangat bisa enjoy. Sama dialog di catatan pembuka, ‘kita terus ke Ngawi.’ Karena waktu itu kakakku baru menikah dan dapat orang Ngawi, kota ini selalu mengingatkan pada dian yang padam. Garis besarnya adalah kisah gadis muda bernama Dian Ambarwati di akhir pekan ditemukan tewas dibunuh. Pembaca ditantang untuk menganalisis dan menebak siapa pelakuknya? Kisah asmaranya coba dikuak, ternyata ia sedang hamil. Pacar terakhirnya Insinyur Drajat diinterogasi dan menjadi target tangkap paling kuat, tapi setelah berlembar-lembar malah makin menjauhkannya dari kemungkinan status tersangka. Lalu muncul dugaan lain dari tunangan sang Insinyur yang bisa saja cemburu, iri akan kecantikannya. Muncul pula kemungkinan lain mantannya dari kampung, yang malam itu ternyata bertemu, sampai kemungkinan rekan-rekan kerja dan atasan dengan berbagai respon.

Cerita awalnya diambil dari sudut pandang seorang istri yang melewatkan hari dengan sepi, seorang gadis keturunan kaya bernama Frida Sumarsono dari Ujung Pandang. Ia menikah dengan Sumarsono dengan kilat, setelah berkenalan. Adegan sedih anjing yang tertabrak dan mencoba melupakan sang mantan Frans yang ambisius. Frida Sumarsono tidak tahu dengan pasti apakah ia mencintai suaminya atau tidak, ia bertekad mensukseskan pernikahan. Kesibukan bisa mengobati luka hatiku dan mengalihkan kesedihanku.

Sumarsono adalah asisten Pak Sugeng pemilik biro periklanan Ramanda, tempat kerja sang korban. lalu sudut pandang berganti-ganti menyesuaikan dengan alur. Dan yang akhirnya kita menjadi detektif.

Semua coba dirunut dari awal. Dian yang terlihat polos ternyata memiliki masa lalu yang keras, masalah dengan pacarnya menyeret cerita luka yang mau tak mau harus diungkap. Tidak ada manfaatnya berkorban untuk laki-laki. Mereka tidak tahu menghargai pengorbanan. Kasus bermula saat Bu Firda datang langsung ke kantor suaminya untuk mengundang makan malam di hari Sabtu jam tujuh untuk Pak Sugeng dan beberapa karyawan. Semacam jamuan, sang suami kaget tapi tetap tenang (klu nomor satu).

Sore itu Dian coba dijemput mantannya Insinyur Drajat pakai skuter, sudah sering ditolak tapi tetap saja nekad. Padahal ia sudah tunangan dengan Herlina Subekti yang sering cemburu terhadap Dian. “Kalau di dunia ini setiap orang diizinkan berbuat sesukanya, manusia sudah lama punah.” Hubungan mereka memang terlihat minim cinta, Drajat yang mengharap cinta Dian, Herlina yang bersumpah akan mematahkan lehernya jika berani merebut kekasihnya (simpangan klu nomor dua).

Sementara, mantan Dian yang lain dari Ngawi Purnomo Jalaludin masih memendam cinta setelah Dian pergi dalam rantau. Malam itu ia ke kontrakan Dian, memacu motornya untuk berunding sesuatu ( sampingan klu nomor tiga). Waktu itu akan selalu ada, tidak sekarang bisa besok, luput besok, lusa masih menanti, mengapa harus tergesa-gesa? Sampai pada suatu saat kematian memutuskan segalanya, dan manusia menjadi menyesal. Memang tak ada yang tahu hari esok, rahasia Ilahi. Dian, sabtu pagi tak kelihatan di kantor. Ia ditemukan meninggal dunia. Dua puluh tahun, baru dua bulan di Surabaya. Mati muda.

Maka kapten polisi Kosasih mendapat tugas menuntaskan kasus. Ia meminta narapidana cerdik Gozali membantunya, mereka menjadi satu tim. Duo detektif laiknya Sherlock dan Watson. Mereka melakukan wawancara ke kantor periklanan, ke pemondokan Narti tempat Dian tinggal, demi mencari ujung benang kusut itu.

Drajat yang gugup, tunangannya Herlina yang sinis. Seorang gadis yang benar-benar mencintai seorang laki-laki, tidak akan bersikap sedemikian santainya kalau ia harus melepas orang yang dicintainya. Tidak ada di dunia ini wanita yang demikian acuhnya atas putusnya pertunangan mereka. Rekan kerja yang sedih, tetangga pondok yang shock, mantannya yang sangat kehilangan. Apakah Anda pikir saya mau mempertaruhkan kebebasan saya dan mengambil risiko meringkuk di penjara hanya demi memperebutkan cinta seorang lelaki? Ia membantah sebagai pelaku, straight tanpa ragu (klu penting keempat). Dituduh menghamili adalah satu hal, tetapi kalau dituduh membunuh, sudah hal yang sama sekali lain. Trik-trik dilempar. Kosasih sadar bahwa dirinya telah sengaja berbohong. Nurlita tidak pernah melihat nomor kendaraan Purnomo lagi kalau harus dikonfrontasi.

Benang kusut ini seakan sulit diurai. Sampai akhirnya mereka memutuskan ke Ngawi untuk bertemu keluarga. Yang sudah mendahului kita sebaiknya direlakan saja, yang masih hidup ini yang butuh perhatian. Sebagai anak bungsu yang manja tapi tegar, memang berat sekali rasa kehilangan. Yang paling terpukul jelas ayahnya, Pak Prabowo yang sejatinya ga setuju si bungsu merantau. Dan tak disangka mereka menemukan sebuah potret yang membuka jalan kasus ini diselesaikan. Di Ngawi yang awalnya nyaris hopeless, duo ini malah hampir-hampir tak sengaja mendapat jawab dari ngobrol iseng dengan kakaknya Dian. Dan sesuai segala petunjuk yang ditebar, mereka bergerak cepat meringkus sang pelaku, walau masih ada satu hal yang mengganjal mereka harus cepat bergerak sebelum sang pelaku kabur. “Coba ceritakanlah tentang pesta itu.”

Jarang sekali saya membaca kisah detektif lokal, lebih-lebih ini adalah buku lama. Dikemas dengan sederhana, bukunya tipis, dicetak lebih kecil dari buku biasa, sedikit lebih besar dari buku saku. Kovernya tak kalah sederhana, dengan latar coklat, sebuah kertas di atas meja dengan lilin (dian) yang kini sudah padam. Banyak buku-buku S. Mara GD dicetak seperti ini, beberapa cetak ulang dan menanti waktu yang tepat untuk kubaca. Era sekarang memang memungkinkan kita untuk langsung interaksi dengan Penulis. Maka di media sosial, secara kebetulan saya berteman dengan beliau. Menjadi tahu, keseharian sang idola. Semoga panjang umur, dan terus menulis ya Bunda.

Buku ini terbit tahun 1985, saya masih bayi. Dan era-itupun sang Penulis sudah berbilang modern. “Seribu gombal yang mudah diucapkan dan dilupakan oleh pasangan-pasangan modern sekarang.” Setiap era selalu mengklaim terbarukan, seperti kita saat ini yang berujar ada di masa modern, padahal dua puluh tahun lagi kita dilindas zaman dan tahun 2019 akan tampak sangat usang. Begitu juga nanti tahun 2039, mereka jelas akan bilang canggih nan modern, padahal waktu yang kejam akan menggerus mereka juga.

Untuk satu orang koruptor yang tertangkap, ada seratus orang bebas berkeliaran dan bergelimang dalam kekayaan.”

Kejujuran adalah sikap fundamental seseorang.

Misteri Dian Yang Padam | Olrh S. Mara GD | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 401 01 13 0046 | Pertama kali terbit 1985 | Cetakan keenam, Juni 2013 | 248 hlm.; 18 cm | ISBN 978-979-22-9714-0 | Skor: 4/5

Karawang, 260619 – Nikita Willy – Akibat Pernikahan Dini

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day25 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Dekut Burung Kukut #1

Dekut Burung Kukuk #1

Event 30 hari menulis kembali datang, artinya selamat datang kembali bulan Juni. Bulannya review buku, bulannya Sherina, bulan keenam yang selalu istimewa. Dalam 30 hari ke depan saya akan ulas 15 buku lokal 15 buku terjemahan. Mungkin tak akan sehari satu buku, karena bulan ini bertepatan Lebaran yang artinya akan kepangkas seminggu mudik yang artinya pula intensitas di depan laptop akan tergerus demi kumpul keluarga dan saudara, yang pasti tetap 30 buku akan saya pilih pilah acak untuk dapat ulas.

Buku pertama tahun ini adalah dari Penulis favorit JK Rowling, kali ini dengan nama lain.

Partikelir. Terdengar rancu, terdengar agak aneh. Mungkin karena saya terbiasa mendapat terjemahan kata ‘swasta’ untuk lanjutan kata ‘detektif’. Partikelir (/par-ti-ke-lir/), berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah bukan untuk umum; bukan kepunyaan Pemerintah; bukan (milik) dinas; swasta.

Robin: “Ya, memang. Padahal banyak orang datang kemari dan mencerocos tentang apa saja yang mereka suka. Mau tidak mau, kau mendengar banyak hal dari balik ini.”

Informasi. Di era serba instan, modern, dan mudah didapat ini, informasi bukan masalah bagaimana mendapatkannya, tapi lebih mau memilah atau memilih informasi apa yang akan kita serap. Dekut Burung Kukuk menyajikan sebuah kisah di mana informasi masih sangatlah sebuah komoditi berharga, demi harga diri, nama baik dan sebuah pengakuan.

Kisahnya tentang detektif partikelir yang harus menyelidiki kasus pembunuhan seorang model. Cormoran Strike adalah detektif sewa, seorang veteran perang Afganistan yang tinggal di hiruk pikuk kota London. Ia punya masalah kompleks. Terluka batin akan identitasnya, kematian ibunya yang tak wajar (potensial untuk kisah berikutnya), frustasi drop out kuliah yang sebenarnya sangat menjanjikan hingga banting stir masuk militer. Tragedi di medan perang yang membuat luka fisik sehingga kini ia menjadi warga negara yang menyepi, otaknya yang pintar analis dan deduksi mengarahkannya jadi seorang penyelidik sewa. Kisah cintanya juga tak mulus, kekasih kuliahnya dan sampai cerita ini disajikan akhirnya putus. Charlotte yang cantik menjauh, memaksa Strike tinggal di kantor sewanya. Makin parah, tak butuh waktu lama, mantannya tunangan. Banyak jenius di luar sana dicipta nasib sial oleh tangan Tuhan yang kejam. Strike hanya salah satunya, gambaran luar yang masih bisa diselamatkan.

Seorang model ternama Lula Landry mati, diperkira bunuh diri. Setelah tiga bulan sang kakak angkat John Bristow melaporkan kasus ini ke detektif Strike untuk menyelidiki ulang karena tak puas dengan hasil investigasi kepolisian. Sang detektif yang tegap dan sedang murung keuangan dengan senang hati menerima tawaran itu. Di hari saat tawaran datang, sekretaris baru dari outsource datang. Robin yang lulusan psikologi awalnya dipandang sebelah mata, ya karena gaji kecil dan hanya disewa part-time dari Temporery Solution tapi tak dinyana perannya di buku ini justru sangat penting. Bisa jadi buku berikutnya Robin akan jadi seperti ‘Robin’ nya Batman, jadi partner bukan sekedar pembantu di balik meja receptionist.

Lula Landry adalah anak adopsi Sir Alec dan Lady Yvette Bristow. Ia dibesarkan dengan nama Lula Bristow tapi memakai nama Landry saat bergelut di bidang modeling. Kakak Lula, John sendiri adalah pengacara, nah anehnya pengacara ini tampak tak wajar saat meminta tolong ke Strike. Seakan menantang nalar, ‘bisa ga lu pecahkan kasus ini?’

Kasus ditelusur dengan logika pas, menyesuaikan era sekarang tapi tetap dengan hati dan seluk beluk penelitian wajar tanpa gadget wow ala Mission Imposible. Bagaimana Strike harus berlari dengan susah payah, bagaimana kehidupan glamour seleb Inggris dengan segala kemunafikan, bagaimana jua sebuah sapaan dan diskusi selidik dilakukan dengan standar alami dan benar-benar enak diikuti. Tak ada sesuatu yang mistis tak ada sesuatu yang memerlukan sihir, berbanding balik dengan segala Potter itu.

Novel pertama JK Rowling dengan nama pura-pura disamarkan Robert Galbraith, atau novel kedua pasca final hit Potter setelah The Casual Vacancy ini terbilang sukses. Sukses, memuaskan pembaca. Saya berhasil menebak siapa pembunuhnya bahkan sebelum ke bagian dua. Rowling terlalu banyak memberi klu, memberi banyak celah untuk menebak, terlalu mengerucut ke satu pihak. Kalau kita sudah sering menikmati cerita detektif, kita pasti makin hari makin familiar arah dan tujuan para kriminal. Dan alur serta alibi penjahat Dekut Burung Kukuk ini pernah ada dalam serial Agatha Christie. Klu yang disodorkan Rowling terlampau berlimpah di awal sehingga simpanan rapat yang seharusnya jadi esensi utama sudah pudar. Tapi justru hal-hal kecil selain tebak pembunuh yang menyenangkan diikuti. Alangkah baiknya kalian sudah membaca bukunya dulu, baru membaca ulasan ini, tapi ga papa, saya tetap mencoba tak memberi bocoran penting. Hal-hal kecil yang menggelitik itu diantaranya: kita baru tahu bahwa detektif Strike ternyata cacat fisik parah setelah mengarungi seperempat bagian. Walau back cover bilang: ‘… veteran perang yang memiliki luka fisik dan luka batin...’ tapi tak dijelaskan sakitnya apa. Lalu trivia menarik bagaimana Lula memilih nama Landry sebagai nama tenar alih-alih nama belakang keluarga juga bagus sekali, dijelaskan sederhana di tengah cerita dalam penyelidikan. Satu lagi, kematian Charlie. Entah kenapa saya ga kepikiran kematiannya yang jaaaauh hari itu ternyata menyeret sang pembunuh dalam psikologi miring. Jelas, novel detektif ini sukses banget ketimbang Casual yang adem.

Buku ini hanya tinggal tunggu waktu untuk diadaptasi ke layar lebar. Apalagi novel lanjutannya sudah tersedia pula, sangat menggiurkan produser Hollywood. Casual sendiri sudah diadaptasi ke mini seri TV, namun gaungnya redup. Mending ke layar lebar sih. Karena memang, kualitas Casual terjerebab pasca Potter. Pemilihan kisah detektif kurasa sudah sangat pas untuk keluar pakem sihir, hanya aneh saja kenapa pakai nama lain. Kalau niat disamarkan, harusnya rapat. Absurd-lah, Penulis besar mencipta kisah penyelidikan, memilih nama lain sebagai Penulis namun identitasnya terbuka. Kalau benar-benar berniat berjudi untuk respon jual, harusnya memang ditutup. Tapi kalau niat laku, Rowling menintakan kata apapun juga pasti diburu. Ahh andai identitas Robert baru diumumkan di kemudian hari, novel ini akan jadi begitu menarik sekali 20, 30, 100 tahun lagi.

Semoga seri-seri berikutnya lebih keren dan saya diberi kesempatan menikmati segalanya. #PotterFreak

Prolog – “Kenapa kau lahir saat salju membuat langit bungkuk? Andai saja kau tiba ketika dekut burung kukuk, atau saat buah-buah anggur di tandan meranum hijau, atau, setidaknya saat kawanan burung camar berkicau, sehabis menempuh perjalanan jauh yang ganas menyelamatkan diri dari serangan musim panas.

Kenapa kau mati saat bulu-bulu domba dipangkas? Andai saja kau pergi ketika buah-buah apel ranggas, atau saat gerombolan belalang berubah jadi masalah, dan lahan gandum semata hamparan jerami basah, dan napas angin berembun sangat berat sebab semua hal indah tiba-tiba sekarat.” – Christina G. Rossetti, A Dirge – Sebuah Ratapan.

1-Sungguh celaka orang yang cacat celanya menjadi ikut terkenal karena ketenarannya. – Lucius Accius, Telephus.

2-Tak asing dengan berbagai kemalangan, aku belajar meringangankan penderitaan orang lain. – Virgil, Buku 1.

3-Barangkali akan membantu kalau mengingat kembali hal-hal yang akan lampau. – Virgil, Buku 1

4-Dan yang oaling baik, sebagaimana kata pepatah adalah mengambil untung dari kegilaan orang lain. – Pliny Tua, Naturalis

5-Berbahagialah orang yang memahami sebab musabab segala sesuatu. – Virgil Georgics, Buku 2

Epilog – Tak ada sesuatu yang sempurna dalam segala-galanya. – Horace Odes, Buku 2

Dekut Burung Kukuk| by Robert Galbraith | copyright 2013, first published in Great Britain by Sphere | cover images: street scene and design by LBBG – Sian wilson | diterjemahkan dari The Cuckoo’s Calling | GM 402 01 14 0002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Siska Yuanita | alih bahasa puisi hlm 7 & 517: M. Aan Mansyur | design sampul Marcel A.W. | cetakan keempat, Agustus 2016 | ISBN 978-602-03-0062-7 | 520 halaman; 20|Skor: 4/5

Untuk Deeby yang sesungguhnya dengan ucapan terima kasih.

Karawang, 241217-010618 – Sherina Munaf – Singing Pixie
#1 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Thx to Widy Satiti untuk pinjamannya. #Laz4-0Cro