Fight Club #18

Featured image

“Jika aku bisa terjaga di tempat yang berbeda, pada waktu yang berbeda, dapatkah aku menjadi orang yang berbeda?”

Entahlah. Sungguh beruntung sekali saya menemukan buku ini di antara tumpukan buku diskon di bazar pesta buku Solo 2009. Buku yang entahlah saya tak tahu harus memulai dari mana. Fight Club jelas salah satu novel terbaik sepanjang masa. Beruntung juga saat membacanya saya ‘agak lupa’ film Fincher yang pernah kutonton di televisi sehingga saat twist diungkap saya masih mendapatkan feel yang sempurna. Kisah nyeleneh, buku unik, dan kata-kata yang disajikan penuh inspirasi. Salut!

Tokoh aku dalam kisah ini mengalami insomnia. Insomnia hanyalah gejala untuk sesuatu yang lebih besar. Segalanya tampak jauh, Salinan dari Salinan dari Salinan. Insomnia membuatmu berjarak dari segalanya, kau tak bisa menyentuh apa pun dan taka da yang bisa menyentuhmu. Inilah kebebasan, kehilangan segalanya adalah kebebasan. Sampai akhirnya dia tertidur di pesawat, tidur nyenyak yang bahkan bayi-pun tak sepulas itu. Dia terjaga di Air Harbor International. Di sinilah segalanya dimulai, saat dirinya ‘bertemu’ Tyler Durden. Sesaat adalah yang terbaik yang dapat kau harapkan dari sebuah kesempurnaan. Jika kau banyak bepergian kau belajar mengepak hal yang sama untuk setiap perjalanan. Enam kemeja putih. Dua celana panjang. Perlengkapan minuman untuk bertahan hidup. Jam alarm untuk bepergian. Pencukur elektrik nirklabel. Sikat gigi. Enam pasang pakaian dalam. Enam pasang kaus kaki hitam.

Orang-orang yang pernah kukenal sering duduk di kamar mandi sambil membaca bacaan porno, sekarang mereka duduk di kamar mandi membaca katalog IKEA. Banyak abak muda tak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Kebosanan itulah yang membuatnya ikut Klub Petarung. Aturan pertama ikut Fight club adalah jangan bicara tentang fight club. Setelah ikut klub petarung, menonton football di televise bagaikan menonton film porno padahal ksu bisa melakukan seks yang hebat.

“Kau tahu, kondom adalah sepatu emas generasi kita. Kau memakainya ketika kau bertemu orang asing. Kau berdansa semalaman, lalu kau membuangny. Kondomnya maksudku, bukan orang asingnya.” (halaman 83)

“Karena semua yang nyata kini hanya tinggal cerita, dan semua setelahnya hanya tinggal cerita.” (halaman 94).

Dia selalu menyiramkan air ke kloset untuk menutupi suara-suara yang mungkin ia hasilkan di kamar mandi. Memperoleh perhatian Tuhan karena berbuat jahat lebih baik daripada tidak memperoleh perhatian sama sekali. Mungkin karena kebencian Tuhan lebih baik daripada ketidakpedulianNya.

Ketika aku dapat pekerjaan dan berusia dua puluh lima tahun, melalui sambungan interlokal, aku bekata, sekarang apa? Ayahku tidak tahu, jadi ia berkata, menikahlah. Menikahlah sebelum seks jadi membosankan, atau kau tak akan pernah menikah.

Ending  Klub Petarung menyajikan nihilitas. Sekali lagi tema sesuatu yang kosong mempesonaku. Disajikan dengan mempesona, tiap lembarnya begitu memikat, saya sampai tak bisa lepas dan penasaran terus. Buku dicetak sederhana lebih besar dari buku saku lebih kecil dari standar buku. Tanpa banyak kata-kata pujian, buku ini lebih layak dipuja seperti Tyler dipuja pengikutnya sebagai legenda. Setelah sampai di puncak, akankah kita masih bisa mencapai tempat yang lebih tinggi lagi?

“Hai, apa saja yang terjadi? Ceritakan padaku hingga hal-hal terkecil…”

Fight Club #18 | by Chuck Palahniuk | copyright 1996 | Penerjemah Budi Warsita | ISBN: 979-3684-39-9 | 06 07 08 09 10 5 4 3 2 1 | Penerbit Jalasutra  | untuk Carol Meader yang ter;ibat dengan seluruh kebiasan burukku | Skor: 5/5

Karawang, 190615 – Bunga Rose di Taman

#18 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

(review) Dallas Buyers Club: Watch What You Eat And Who You Eat

Gambar

Film dibuka dengan adegan Ron Woodroof (Matthew McConaughey) sedang bercinta, dengan background sebuah pertandingan rodeo, koboi menaklukan banteng dengan menaikinya. Beberapa saat kemudian dia tergeletak di rumah sakit dengan kondisi sekarat, menuju maut. Dr. Sevard (Dennis O’hare) mendiagnosa hidup Ron tinggal 30 hari karena mengidap virus HIV. Marah dan tak percaya dia malah memaki dokter yang asal menganalisa. Sang koboi jagoan dari Texas ga mungkin mengidapnya. Dia menolak dirawat dan kalau benar hidupnya tinggal hitungan hari, dia mau bersenang-senang. Lalu film ini dihitung per hari saat dia divonis. Day 1, dia menghabiskan waktu dengan Tucker (Steve Zahn), temannya yang seorang polisi bersama dua pelacur, mereka pesta narkoba. Namun Ron tak ikut serta dalam hubungan badan, walau marah dengan sang dokter dia merasa ada yang tak beres dalam tubuhnya sehingga secara tak langsung harus mencegah penularan. Hari berikutnya, dia menemui dokter di rumah sakit untuk meminta penjelasan lebih rinci. Namun dia malah ditemui wanita dokter Eve (Jenifer Garner) karena Dr. Sevard sedang tak ada di tempat. Dari situ dia tahu ada obat pengurang rasa sakit, namun obat tersebut ilegal, belum dapat izin edar oleh FDA (Food and Drug Administration). Obat AZT kata dokter tak bisa membuatnya hidup lebih lama, karena berfungsi hanya untuk mengurangi rasa sakit.

Malam harinya dia pesta gila lagi di sebuah klub malam, di sana dia bertemu seorang peminum yang wajahnya familiar. Ternyata dia adalah office boy (OB) di rumah sakit tempat dokter Eve bekerja. Dari perkenalan itulah Ron meminta bantuan untuk mencuri AZT dan menggantinya dengan uang yang layak. Hari demi hari dilalui dengan pesta menuju kematian. Sampai akhirnya di day 29, sang OB memberitahunya bahwa AZT kini terkunci rapat di lemari sehingga transaksi tersebut adalah yang terakhir. Namun dia memberi sebuah alamat dokter yang bisa memberinya AZT melimpah di negara Mexico. Setelah siuman dari pingsannya, dan menuju deadline hari h, dia memegang alamat yang diberi oleh sang OB di dalam mobilnya. Ron menangis sejadi-jadinya. Nah ini scene haru-biru yang membuat Matthew patut dinominasikan best actor tahun ini. Rasanya hopeless belum siap menghadapi kematian. Usaha terakhir pun dicoba, dia ke Mexico untuk mendapatkannya.

Di Mexico saat bertemu Dr. Vass (Griffin Dunne), di rumah prakteknya dia melihat banyak pengidap dan merasakan wajah-wajah sedih senasib. Pulang dari Mexico dia membawa banyak obat ilegal. Melewati perbatasan dengan berbohong sebagai seorang pendeta, namun terdeteksi juga. Di ruang interogasi, dia berbohong bahwa obat-obatan tersebut tak akan diperjualbelikan.

Deadline hidup 30 hari terlewati, dia masih bisa bernafas karena obat tersebut ternyata mujarab dan mampu membuatnya bisa bertahan. Akhirnya dia pun mencoba mendistribusikannya kepada orang-orang yang mengidap AIDS. Dari situ dia berkenalan dengan seorang transgender bernama Rayon (diperankan dengan luar biasa oleh Jared Leto). Mereka membuat perjanjian bagi hasil atas usaha penjualan AZT. Berawal dari kecil dan kenalan terdekat, komunitas mereka menjadi booming, obat yang oleh FDA dianggap ilegal dan tak memenuhi persyaratan layak secara medis tersebut banyak peminat sehingga Ron dan Rayon kewalahan. Impor ilegal tersebut juga membuat saham Perusahaan yang memproduksinya melonjak naik. Saking sulitnya Ron sampai harus terbang ke Jepang.

Perjuangan untuk melegalkan AZT akhirnya berbuah manis. Walau masih dilarang, FDA akhirnya mengumumkan bahwa para penderita AIDS dibebaskan untuk memilih apakah mau mengambil resiko dengan mengkonsumsinya karena obat AZT masih dalam tahap percobaan. Sebuah kemenangan yang membuat Ron diberi applause oleh member-nya. Dan diantara orang-orang tersebut dokter Eve salah satu yang mengucapkan selamat, Ron layak disebut pahlawan.

Well, film ini lebih bagus dari perkiraan saya. Ceritanya masuk dan mencerahkan, tema bertahan hidup, perjuangan pengakuan publik, sampai kepedulian antar sesama. Akting para bintangnya juga mantab. Matthew bisa jadi menang best actor atas totalitasnya memerankan Ron. Dia menguruskan tubuhnya sampai kerempeng, mengingatkanku pada Christian Bale di film The Fighter, tapi yang paling mencuri perhatianku adalah Jared Leto yang dengan luwes memainkan seorang waria. Jared saya jagokan menang. Aksi sebagai waria yang meyakinkan begitu sulit, dia bermain cantik. Jenifer Garner bukan hanya sebagai pemanis di antara para pesakitan. Dia juga main bagus, respon saat dia diminta mundur dari rumah sakit, namun menolak sangat membekas, scene ini favorite saya, dia membalas permintaan bosnya dengan berkata: “aku tak akan mundur, silakan pecat aku!” lalu keluar ruangan. Begitulah cara keluar dari tempat kerja yang gentle.

Di akhir film dijelaskan nasib Ron dalam epilog singkat. Komunitas yang diburu kepolisian namun bermanfaat bagi warga penderita AIDS tersebut tersebut diberi nama ‘Dallas Buyers Club’.

Dallas Buyers Club

Director: Jean-Marc Valle – Screenplay: Craig Berton, Mellisa Wallack – Cast: Matthew McConaughey, Jared Leto, Jenifer Garner, – Skor: 4/5

Karawang, 270214

Club 100

Image

Akhirnya saya posting di WordPress (WP) tembus di angka 100. Ini adalah kiriman ke seratus. Dari pertama kali bergabung di bulan Maret 2013 saya awalnya belum begitu aktif dengan WP, masih cari-cari blog apa yang bagus dan (semoga) bisa berumur panjang. Setelah Multiply yang akhirnya tumbang saya sempat mau kembali ke Blogspot, saya pernah registrasi empat tahun yang lalu di sana namun jarang diisi, dan mengingat di sana tulisannya bolong-blong serta tak jelas maka lebih baik memulai dari awal lagi. Di bulan Maret saya daftar WP.

Beberapa tulisan memang tulisan lama. Saya tak punya target muluk-muluk dengan WP. Pada dasarnya bisa aktif dengan publish tulisan rata-rata sepuluh per bulan saja sudah syukur. Apalagi nyaris semua tulisan tersebut ditulis di kantor di jam kerja.

Setelah mencapai Club 100 apa target berikutnya? Tetap eksis yang utama, mungkin kualitas tulisan (moga) bisa meningkat. Ah itu hanya bonus saja, yang utama tetap bisa eksis di sini. Dan berdoalah Perusahaan tetap berbaik hati membebaskan saya untuk terus terkoneksi dengan blog. 🙂

Karawang, 181213